Category: Detik.com Kesehatan

  • Pelari Wajib Tahu, Begini Cara CPR Sederhana yang Bisa Dilakukan saat Darurat

    Pelari Wajib Tahu, Begini Cara CPR Sederhana yang Bisa Dilakukan saat Darurat

    Jakarta

    Cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru menjadi pertolongan pertama yang bisa dilakukan siapa saja. Terutama untuk menolong seseorang yang mengalami henti jantung.

    Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara jelas cara melakukan CPR dengan benar. Padahal, tindakan cepat dalam hitungan menit dapat memberikan peluang seseorang untuk bertahan hidup.

    Terkait ini, spesialis olahraga dr Andhika Raspati, SpKO mengungkapkan di negara maju CPR memang dapat dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya tenaga medis atau orang-orang yang tersertifikasi.

    “Masyarakat itu kalau bisa CPR, karena CPR itu kalau ada yang henti jantung bisa dilakukan,” kata dia dalam acara detikSore, Selasa (9/12/2025).

    “Intinya, kita berharap sebenarnya kalau bisa CPR masuk kurikulum, paling make sense adalah penjaskes (PJOK). Perlu diubah (CPR) menjadi sesuatu yang sifatnya memang harus dipelajari secara skill,” tambahnya.

    Cara CPR Sederhana yang Bisa Dilakukan

    Menurut dr Andhika, CPR saat ini lebih mudah dilakukan. Sejak COVID-19, ada yang namanya hands only CPR atau CPR menggunakan tangan tanpa harus memberikan napas buatan.

    “Jadi, kompresinya terus dadanya nonstop, sampai bantuan medis datang,” ujarnya.

    Untuk melakukannya, tempatkan tangan pada tulang yang ada di tengah dada. Ketinggiannya kurang lebih tiga jari di atas ulu hati.

    Press atau tekanan yang diberikan kurang lebih 100 sampai 120 pressure per menit. Hal itu perlu dilakukan hingga ambulans datang.

    “Jika ada orang pingsan terus kita kasih rangsang, mau kita panggil-panggil, tepuk-tepuk, tidak memberikan respons dalam bentuk apapun, kita bisa anggap dia henti jantung. Mulai CPR, tapi sebelumnya cari bantuan medis dulu,” jelas dr Andhika.

    dr Andhika juga menegaskan untuk tetap posisikan orang yang mengalami henti jantung lying flat atau berbaring datar. Sebab, tujuan memberikan CPR agar darah yang berhenti ke otak kembali mengalir.

    “Kalau kita bikin dia diberikan sandaran atau nanjak, darah akan susah nanjaknya (ke otak) dong,” bebernya.

    (sao/up)

  • Video: 8 Penyakit yang Mengancam Hewan Terdampak Bencana

    Video: 8 Penyakit yang Mengancam Hewan Terdampak Bencana

    Video: 8 Penyakit yang Mengancam Hewan Terdampak Bencana

  • Olahraga Ekstrem Punya Risiko Tinggi, Dokter Soroti Gampangnya Dapat Surat Sehat

    Olahraga Ekstrem Punya Risiko Tinggi, Dokter Soroti Gampangnya Dapat Surat Sehat

    Jakarta

    Dua pelari meninggal dunia diduga serangan jantung saat mengikuti ajang Siksorogo Lawu Ultra 2025. Insiden tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan olahraga ekstrem dan kesiapan fisik peserta sebelum mengikuti lomba.

    Spesialis kedokteran olahraga dr Andhika Raspati, SpKO, menilai kasus ini menjadi pengingat pentingnya pemeriksaan kesehatan yang memadai sebelum peserta mengikuti kegiatan fisik berat.

    “Ya peserta harus tahu fisiknya tuh gimana, sehat apa enggak gitu,” ucapnya dalam tayangan detikSore, Selasa (9/12/2025).

    Ia juga menyoroti penerbitan surat keterangan sehat yang selama ini dijadikan syarat lomba lari, termasuk event kota hingga trail run. Menurutnya, surat sehat seringkali hanya menjadi formalitas dan tidak mencerminkan kondisi fisik peserta yang sebenarnya.

    @detikhealth_official Trail Run memang bukan ajang biasa. Kejadian ini merupakan pengingat agar kita selalu aware sama tubuh kita kalau mau ikut event lari khususnya Trail Run. Simak penjelasan Dokter @Andhika Raspati untuk tips yang perlu lo siapin untuk ikut Trail Run berikut ya😉 #siksorogolawuultra #trailrunning #pelarikonten #kalcer #olahraga #detikhealth ♬ suara asli – detikHealth

    “Jadi di beberapa event-event kayak termasuk kota, trail apapun itu ya. Itu tuh bisa dibilang ada tuh persyaratannya melampirkan surat sehat. Dan dengan adanya keterangan sehat dari dokter. Seolah-olah oh orangnya aman buat lari,” ucapnya.

    “Padahal nih, with all respect dengan teman-teman sejawat ya. Tapi sering kali kalau kita misalnya ke fasilitas kesehatan, dateng minta surat sehat cuma ditimbang sama ditensi,” katanya lagi.

    Ia menegaskan pemeriksaan bagi peserta lomba olahraga tidak bisa disamakan dengan pemeriksaan singkat untuk kebutuhan umum. Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) seharusnya dilakukan sebagai pemeriksaan dasar untuk menilai fungsi dan irama jantung peserta.

    “Artinya orang bikin surat keterangan sehat. buat ngelamar jadi misalnya kasir toko cupang lah gitu ya. Itu sama dengan orang yang mau lari ultra,” ucapnya.

    dr Andhika berharap dengan adanya insiden seperti itu dapat mendorong perbaikan sistem surat sehat dan standar pemeriksaan medis, termasuk peningkatan kompetensi dokter umum yang sering menerbitkannya.

    Menurutnya, langkah ini penting untuk menekan risiko kejadian henti jantung mendadak pada event-event olahraga berat.

    “Ya tapi tadi. Padahal kalau kita bicara kita mau olahraga tuh. Apalagi yang challenging. Yang bener-bener emang berat ya. Let say tadi lah trail apa segala macam ultra. Ya enggak bisa standar kan pemeriksaannya,” sambungnya lagi.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/up)

    Lagi-lagi Kolaps saat Lari

    13 Konten

    Anjuran ‘listen to your body’ saat lari tak selalu gampang diterapkan. Ego untuk ‘push the limit’ dan mendapatkan progres tertentu sesuai target, dapat mengaburkan batas-batas kemampuan fisik. Risiko jantung kolaps mengintai para pelari.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Menkes Terima 100 Ribu Aduan Gangguan Jiwa, Anak-anak 5 Kali Lebih Rentan Alami Anxiety

    Menkes Terima 100 Ribu Aduan Gangguan Jiwa, Anak-anak 5 Kali Lebih Rentan Alami Anxiety

    Jakarta

    Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap tingginya temuan kasus masalah mental pada anak-anak. Ia menyebut usia anak lima kali lebih rentan mengalami kecemasan (anxiety) dan depresi dibandingkan orang dewasa.

    Menkes menyoroti paparan gawai yang makin intens sebagai salah satu faktor pendorong meningkatnya risiko gangguan mental pada anak.

    Merujuk hasil cek kesehatan gratis (CKG) yang kini juga mencakup skrining kesehatan jiwa, Menkes memaparkan gangguan mental pada usia dewasa ditemukan hanya pada 0,8 hingga 0,9 persen, atau di bawah 1 persen. Namun pada anak di bawah 18 tahun, angkanya mencapai 5 persen.

    “Berdasarkan hasil skrining di CKG, dewasa yang ditemukan gangguan mental hanya 0,8 hingga 0,9 persen, tetapi anak-anak itu 5 persen,” beber Budi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) 2025, Senin (8/12/2025).

    Ia menambahkan, perubahan pola interaksi sosial sejak dini akibat penggunaan gawai membuat anak lebih rentan mengalami gangguan kejiwaan.

    Menurut Budi, penggunaan gawai yang berlebihan membuat banyak anak terpapar konten dan interaksi digital yang tidak selalu sehat bagi perkembangan psikologis mereka.

    “Banyak anak mengalami gangguan kejiwaan, terutama dengan adanya teknologi baru seperti gawai yang mereka pakai terus-menerus,” katanya.

    Selama ini, mayoritas temuan gangguan jiwa berasal dari kecemasan (anxiety) dan depresi.

    Aduan yang diterima Kemenkes melalui layanan 119 terkait masalah mental, juga relatif masih tinggi.

    “Kita sudah menerima hampir 100 ribu aduan, sebagian besar terkait kecemasan atau anxiety,” kata Budi.

    Sebagai catatan, secara global, WHO mencatat 1 dari 8 orang mengalami gangguan mental. Di Indonesia, angkanya diperkirakan mencapai lebih dari 35 juta orang. Namun banyak yang tidak terdiagnosis karena minimnya skrining dan stigma yang masih kuat.

    Menkes menekankan masalah kesehatan mental tidak bisa dibiarkan tanpa penanganan. Dibutuhkan intervensi pemerintah mulai dari deteksi dini, konseling, hingga pengobatan kasus berat.

    “Gangguan mental membutuhkan intervensi dari yang ringan sampai berat, mulai dari konseling sampai pengobatannya.”

    Halaman 2 dari 2

    (naf/up)

  • Strain Baru ‘Cacar Monyet’ Mpox Ditemukan di Inggris, Gabungan Dua Tipe Virus

    Strain Baru ‘Cacar Monyet’ Mpox Ditemukan di Inggris, Gabungan Dua Tipe Virus

    Jakarta

    Otoritas kesehatan Inggris (UK Health Security Agency/UKHSA) mendeteksi adanya strain virus mpox atau monkeypox pada seorang individu di Inggris yang baru kembali dari perjalanan di Asia.

    Penemuan ini memicu perhatian global karena virus baru tersebut merupakan hasil pencampuran (rekombinasi) genetik dari dua jenis utama virus mpox.

    Dikutip dari BBC, strain baru yang belum memiliki nama resmi ini mengandung elemen dari dua tipe mpox utama, yaitu Clade Ib dan Clade IIb. Clade IIb adalah strain yang bertanggung jawab atas wabah global mpox pada tahun 2022. Sementara Clade Ib baru-baru ini menunjukkan tanda-tanda penyebaran lokal di beberapa negara Eropa.

    Risiko Rekombinasi yang Dikhawatirkan

    Para pejabat kesehatan Inggris masih menilai signifikansi dari strain baru ini. Namun, Dr Boghuma Titanji, asisten profesor kedokteran di Emory University, menyatakan bahwa strain baru ini adalah hal yang dikhawatirkan para ahli jika virus mpox terus menyebar di seluruh dunia.

    “Semakin banyak sirkulasi mpox yang kita izinkan, semakin banyak peluang virus untuk melakukan rekombinasi dan beradaptasi, yang semakin menguatkan virus mpox sebagai patogen manusia yang tidak akan hilang,” kata Dr Titanji.

    Meskipun virus memiliki sifat alami untuk berevolusi, UKHSA menekankan bahwa vaksinasi tetap menjadi cara terbaik untuk melindungi diri dari penyakit parah, meskipun infeksi mpox umumnya bersifat ringan bagi kebanyakan orang.

    Virus berevolusi

    Dr Katy Sinka, kepala infeksi menular seksual di UKHSA, mengatakan bahwa penemuan ini dimungkinkan berkat pengujian genomik yang canggih.

    “Adalah hal yang normal bagi virus untuk berevolusi, dan analisis lebih lanjut akan membantu kami memahami lebih banyak tentang bagaimana mpox berubah,” ujarnya.

    Meskipun belum ada studi khusus mengenai seberapa efektif vaksin yang ada terhadap strain gabungan terbaru ini, para ahli meyakini bahwa tingkat perlindungan akan tetap tinggi.

    Secara global, mpox masih menjadi ancaman. Tercatat hampir 48.000 kasus mpox terkonfirmasi secara global pada tahun 2025, dengan 2.500 kasus terjadi dalam sebulan terakhir, dan mayoritas terjadi di Afrika tengah.

    Mpox umumnya menyebar melalui kontak fisik yang sangat dekat, batuk, bersin, atau menyentuh pakaian/tempat tidur yang terkontaminasi. Gejala umum termasuk lesi atau ruam kulit yang dapat berlangsung selama dua hingga empat minggu, disertai demam, sakit kepala, dan nyeri otot.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: WHO Cabut Status Darurat Cacar Monyet”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/sao)

  • Tak Setuju Wacana 300 Dokter Magang ke Aceh, IDI Usulkan Ini

    Tak Setuju Wacana 300 Dokter Magang ke Aceh, IDI Usulkan Ini

    Jakarta

    Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai rencana pemerintah mengerahkan sekitar 300 dokter magang ke lokasi bencana di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya sebenarnya tidak perlu dilakukan. Ketua Umum IDI, Slamet Budiarto, menegaskan tenaga dokter yang sudah kompeten dan tidak berstatus magang justru lebih dari cukup untuk dimobilisasi ke daerah terdampak.

    Slamet mengatakan dokter magang dikhawatirkan belum dapat bekerja secara mandiri di lapangan, terutama dalam situasi bencana yang membutuhkan respons cepat dan penanganan medis yang optimal.

    “Dokter magang itu kan belum optimal, belum bisa mandiri, harus ada pendamping. Orang dokter yang nggak magang saja sudah melimpah, bisa dimobilisasi,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (9/12/2025).

    Menurut Slamet, Kementerian Kesehatan memiliki sumber daya dokter yang besar dan dapat langsung dikerahkan tanpa harus mengandalkan tenaga magang.

    IDI menilai Kemenkes sebenarnya sangat mampu mengirim ratusan hingga ribuan dokter bila diperlukan. Salah satu sumbernya adalah jaringan 30 rumah sakit vertikal yang tersebar di berbagai daerah.

    “Di bawah Kementerian Kesehatan itu dokter banyak. Rumah sakit vertikal ada 30. Kalau satu rumah sakit kirim 10 orang, ya sudah 300. Belum termasuk relawan,” ujarnya.

    Mulai dari RSCM Jakarta, RSUP, hingga rumah sakit di Sumatera, seluruhnya memiliki tenaga medis yang cukup besar dan dapat digerakkan ke daerah bencana bila ada instruksi dan dukungan pembiayaan dari pemerintah.

    Saat ini, IDI juga disebutnya memiliki banyak dokter yang siap menjadi relawan, tetapi organisasi tersebut terkendala biaya untuk memberangkatkan mereka ke lokasi bencana.

    “IDI banyak dokter, tapi karena tidak mampu memberangkatkan jadi nggak bisa banyak. Tapi kalau ada pembiayaan, itu bisa,” kata Slamet.

    Karena itu, IDI berharap Kemenkes dapat membuka skema kerja sama, terutama dalam dukungan transportasi dan akomodasi bagi dokter-dokter yang bersedia turun ke lapangan.

    Slamet menyebut ada dua usulan yang disiapkan IDI untuk kementerian:

    Pertama, Menteri Kesehatan bisa memobilisasi dokter dari lingkungan rumah sakit vertikal Kemenkes untuk segera diperbantukan ke Aceh dan daerah bencana lainnya.

    Jika tenaga tambahan diperlukan, Kemenkes dapat bekerja sama dengan IDI, dengan menyiapkan fasilitas transportasi dan akomodasi untuk relawan dokter.

    “Kalau Menkes menyediakan transportasi dan akomodasi, beres. Kami siap.”

    Meski IDI sudah menyusun usulan dan menyatakan kesiapan mobilisasi dokter, sejauh ini belum ada komunikasi resmi dengan Kemenkes.

    “Belum. Tapi kami sudah siap,” tegas Slamet.

    IDI kembali menekankan penggunaan dokter internship atau magang sebaiknya tidak menjadi prioritas, mengingat kemampuan mereka belum sepenuhnya matang untuk menangani situasi krisis kesehatan di lapangan.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/up)

  • Tak Ada Larangan Konsumsi Buah Sebelum Makan Utama, Justru Ini Manfaatnya

    Tak Ada Larangan Konsumsi Buah Sebelum Makan Utama, Justru Ini Manfaatnya

    Jakarta

    Sering dikenal sebagai makanan pencuci mulut yang baik setelah makan berat, buah ternyata punya khasiat ketika dimakan sebelum makan berat. Selain kaya kandungan serat, vitamin, dan antioksidan lainnya yang membantu memelihara kesehatan dan mendukung daya tahan tubuh, penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi buah sebelum makan berat dapat membuat gula darah tetap stabil.

    Buah adalah sumber serat pangan, vitamin, mineral, dan komponen fitonutrien yang mendukung metabolisme glukosa. Serat dalam buah memperlambat pencernaan sehingga pelepasan glukosa ke dalam darah berlangsung lebih bertahap. Beberapa buah seperti apel, pir, jeruk, beri, dan kiwi memiliki indeks glikemik rendah hingga sedang. Inilah alasan bahwa konsumsi buah sebelum makan dapat membantu tubuh merespons glukosa lebih stabil.

    Penelitian dari jurnal Nutrients tahun 2019 menunjukkan bahwa asupan serat, glukosa, dan fruktosa alami ketika makan apel sekitar 30 menit sebelum menyantap nasi putih menurunkan lonjakan gula darah setelah makan secara signifikan lebih rendah hingga 50% dibandingkan makan nasi saja.

    Menariknya, efek penurunan lonjakan gula darah ini jauh lebih kuat dibandingkan ketika apel dan nasi dimakan bersamaan. Karena dalam penelitian tersebut juga membandingkan beberapa kondisi: makan nasi saja, makan nasi dan apel bersamaan, preload apel baru nasi setelahnya, dan preload larutan gula dengan komposisi karbohidrat setara apel. Hasilnya menunjukkan efek paling kuat ketika apel dikonsumsi sebagai preload, bukan hanya dimakan bersamaan. Ini menunjukkan peran waktu konsumsi buah dalam memengaruhi respons glukosa.

    Strategi Sederhana yang Sangat Bermanfaat

    Efek menurunkan lonjakan glukosa cenderung terasa lebih jelas ketika makanan utama kaya pati halus atau memiliki indeks glikemik tinggi seperti nasi putih, roti putih, atau mie instan. Untuk orang sehat yang ingin mengurangi lonjakan gula darah sesaat setelah makan utama, makan buah sebelum makan utama bisa menjadi strategi sederhana yang mudah dicoba.

    Namun efeknya tidak otomatis sama pada semua kelompok. Faktor seperti kondisi metabolik (misalnya diabetes), usia, komposisi makan secara keseluruhan, dan aktivitas fisik juga ikut berperan dalam stabilitas gula darah harian.

    Manfaat Lain Konsumsi Buah Sebelum Makan Utama

    Selain membantu meredam lonjakan gula darah, beberapa penelitian menunjukkan bahwa makan buah sebelum makan utama juga dapat mendukung respons insulin yang lebih terkendali. Ketika glukosa naik dalam tempo lebih lembut, tubuh tidak perlu menghasilkan insulin dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat pola pelepasan insulin lebih rapi dan tidak fluktuatif sehingga tubuh terasa lebih nyaman setelah makan.

    Respons insulin yang lebih stabil ini juga berpengaruh pada cara tubuh mengelola energi sepanjang beberapa jam setelah makan. Banyak orang merasakan lemas, mengantuk, atau tiba tiba kurang fokus setelah menyantap makanan tinggi karbohidrat. Fenomena ini sering disebut sebagai sugar crash atau post meal slump. Preload buah dapat membantu mengurangi kondisi tersebut karena fluktuasi glukosa yang lebih halus mencegah terjadinya penurunan energi yang tiba tiba.

    Ketika energi lebih stabil, tubuh cenderung terasa lebih ringan setelah makan. Aktivitas setelah makan menjadi lebih nyaman karena tidak ada rasa mengantuk berlebihan. Bagi sebagian orang, strategi sederhana seperti makan buah sebelum makan utama juga dapat membantu mengurangi dorongan makan berlebih karena serat dalam buah membuat sensasi kenyang hadir lebih awal. Kombinasi efek ini menghasilkan pengalaman makan yang lebih seimbang dari awal hingga beberapa jam setelahnya.

    Jika diterapkan secara konsisten, preload buah dapat menjadi bagian kecil yang mendukung manajemen energi harian terutama pada individu yang sensitif terhadap lonjakan glukosa. Meskipun bukan solusi tunggal, pendekatan ini mudah dilakukan dan aman bagi kebanyakan orang yang ingin menjaga ritme energi dan kenyamanan setelah makan.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video Apoteker: Kekurangan Mikronutrien Jadi Akar Kasus Stunting di Indonesia”
    [Gambas:Video 20detik]
    (mal/up)

  • Tak Ada Larangan Konsumsi Buah Sebelum Makan Utama, Justru Ini Manfaatnya

    Tak Ada Larangan Konsumsi Buah Sebelum Makan Utama, Justru Ini Manfaatnya

    Jakarta

    Sering dikenal sebagai makanan pencuci mulut yang baik setelah makan berat, buah ternyata punya khasiat ketika dimakan sebelum makan berat. Selain kaya kandungan serat, vitamin, dan antioksidan lainnya yang membantu memelihara kesehatan dan mendukung daya tahan tubuh, penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi buah sebelum makan berat dapat membuat gula darah tetap stabil.

    Buah adalah sumber serat pangan, vitamin, mineral, dan komponen fitonutrien yang mendukung metabolisme glukosa. Serat dalam buah memperlambat pencernaan sehingga pelepasan glukosa ke dalam darah berlangsung lebih bertahap. Beberapa buah seperti apel, pir, jeruk, beri, dan kiwi memiliki indeks glikemik rendah hingga sedang. Inilah alasan bahwa konsumsi buah sebelum makan dapat membantu tubuh merespons glukosa lebih stabil.

    Penelitian dari jurnal Nutrients tahun 2019 menunjukkan bahwa asupan serat, glukosa, dan fruktosa alami ketika makan apel sekitar 30 menit sebelum menyantap nasi putih menurunkan lonjakan gula darah setelah makan secara signifikan lebih rendah hingga 50% dibandingkan makan nasi saja.

    Menariknya, efek penurunan lonjakan gula darah ini jauh lebih kuat dibandingkan ketika apel dan nasi dimakan bersamaan. Karena dalam penelitian tersebut juga membandingkan beberapa kondisi: makan nasi saja, makan nasi dan apel bersamaan, preload apel baru nasi setelahnya, dan preload larutan gula dengan komposisi karbohidrat setara apel. Hasilnya menunjukkan efek paling kuat ketika apel dikonsumsi sebagai preload, bukan hanya dimakan bersamaan. Ini menunjukkan peran waktu konsumsi buah dalam memengaruhi respons glukosa.

    Strategi Sederhana yang Sangat Bermanfaat

    Efek menurunkan lonjakan glukosa cenderung terasa lebih jelas ketika makanan utama kaya pati halus atau memiliki indeks glikemik tinggi seperti nasi putih, roti putih, atau mie instan. Untuk orang sehat yang ingin mengurangi lonjakan gula darah sesaat setelah makan utama, makan buah sebelum makan utama bisa menjadi strategi sederhana yang mudah dicoba.

    Namun efeknya tidak otomatis sama pada semua kelompok. Faktor seperti kondisi metabolik (misalnya diabetes), usia, komposisi makan secara keseluruhan, dan aktivitas fisik juga ikut berperan dalam stabilitas gula darah harian.

    Manfaat Lain Konsumsi Buah Sebelum Makan Utama

    Selain membantu meredam lonjakan gula darah, beberapa penelitian menunjukkan bahwa makan buah sebelum makan utama juga dapat mendukung respons insulin yang lebih terkendali. Ketika glukosa naik dalam tempo lebih lembut, tubuh tidak perlu menghasilkan insulin dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat pola pelepasan insulin lebih rapi dan tidak fluktuatif sehingga tubuh terasa lebih nyaman setelah makan.

    Respons insulin yang lebih stabil ini juga berpengaruh pada cara tubuh mengelola energi sepanjang beberapa jam setelah makan. Banyak orang merasakan lemas, mengantuk, atau tiba tiba kurang fokus setelah menyantap makanan tinggi karbohidrat. Fenomena ini sering disebut sebagai sugar crash atau post meal slump. Preload buah dapat membantu mengurangi kondisi tersebut karena fluktuasi glukosa yang lebih halus mencegah terjadinya penurunan energi yang tiba tiba.

    Ketika energi lebih stabil, tubuh cenderung terasa lebih ringan setelah makan. Aktivitas setelah makan menjadi lebih nyaman karena tidak ada rasa mengantuk berlebihan. Bagi sebagian orang, strategi sederhana seperti makan buah sebelum makan utama juga dapat membantu mengurangi dorongan makan berlebih karena serat dalam buah membuat sensasi kenyang hadir lebih awal. Kombinasi efek ini menghasilkan pengalaman makan yang lebih seimbang dari awal hingga beberapa jam setelahnya.

    Jika diterapkan secara konsisten, preload buah dapat menjadi bagian kecil yang mendukung manajemen energi harian terutama pada individu yang sensitif terhadap lonjakan glukosa. Meskipun bukan solusi tunggal, pendekatan ini mudah dilakukan dan aman bagi kebanyakan orang yang ingin menjaga ritme energi dan kenyamanan setelah makan.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video Apoteker: Kekurangan Mikronutrien Jadi Akar Kasus Stunting di Indonesia”
    [Gambas:Video 20detik]
    (mal/up)

  • Awal Mula Wanita Tangerang Kena Gagal Ginjal Stadium 5 di Usia 14, Jarang Minum Air Putih

    Awal Mula Wanita Tangerang Kena Gagal Ginjal Stadium 5 di Usia 14, Jarang Minum Air Putih

    Jakarta

    Seorang wanita berusia 18 tahun asal Tangerang, Sulistia, mengungkap perjalanan kesehatannya ketika pertama kali terdiagnosis gagal ginjal stadium 5 pada 2021, di usia 14 tahun.

    Pada awalnya, Sulistia mengalami pembengkakan di seluruh tubuh, disertai mual, muntah, dan sesak napas. Ia menuturkan keluhan tersebut berlangsung sekitar dua bulan. Selama periode itu, ia sudah berulang kali memeriksakan diri ke klinik, tetapi diagnosis yang diberikan selalu mengarah pada asam lambung, bahkan sempat diduga mengalami flek paru.

    Sebelum sempat mengambil obat dari jadwal kontrol berikutnya, kondisi Sulistia tiba-tiba memburuk hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Ia kemudian dilarikan ke IGD salah satu rumah sakit yang ada di Tangerang.

    “Ternyata aku sudah gagal ginjal stadium 5,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Senin (8/12/2025).

    Karena saat itu masih berusia 14 tahun, Sulistia dirujuk ke rumah sakit lainnya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Sesampainya di sana, kondisinya dinilai kritis sehingga harus dirawat di ICU selama dua minggu dalam keadaan koma. Selama menjalani perawatan intensif tersebut, ia juga mulai melakukan cuci darah secara rutin.

    Setelah stabil, Sulistia kemudian dipindahkan lagi ke rumah sakit lain agar perjalanan perawatan lebih dekat. Hingga kini, ia sudah menjalani hemodialisis atau cuci darah selama empat tahun dengan frekuensi dua kali seminggu, tepatnya setiap Rabu dan Sabtu.

    Pemicu Gagal Ginjal Stadium 5

    Sulistia mengatakan dokter yang memeriksanya menyebut penyakit tersebut akibat kebiasaan mengonsumsi minuman berwarna, seperti minuman kemasan, serta makanan siap saji diduga turut mempercepat penurunan fungsi ginjal.

    Sulistia mengakui bahwa sebelumnya ia juga sangat jarang mengonsumsi air putih dan memiliki riwayat keluarga hipertensi atau tekanan darah tinggi.

    “Oo iyaa hipertensi juga kak turunan dari mamah, kalo gagal ginjal hanya aku, ” sambungnya lagi.

    Kondisi Sulistia saat Ini

    Saat ini, kondisinya terbilang stabil, meski ia harus menjalani pembatasan cairan yang ketat. Total cairan yang diperbolehkan hanya sekitar 600 ml per hari, termasuk cairan dari makanan berkuah. Jika melebihi batas tersebut, ia kerap mengalami sesak napas.

    Terkait pola makan, Sulistia harus menghindari makanan tinggi kalium seperti umbi-umbian, sayur nangka, makanan bersantan, serta beberapa buah. Pepaya, apel, dan salak masih diperbolehkan dalam porsi kecil.

    “Sayur nangka sangat dipantang, ketan juga, tapi kadang aku masih makan hanya sebatas cobain jika kepengen bngt,untuk cairan 600 ml itu sudah termasuk makanan berkuah,” ucapnya.

    “Umbi-umbian juga gak boleh ya kak soalnya kaliumnya tinggi,” lanjutnya lagi.

    Jarang Minum Air Putih Bikin Gagal Ginjal?

    Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) dr Pringgodigdo Nugroho beberapa waktu lalu mengatakan jarang minum air putih dalam jangka panjang memang bisa berdampak buruk pada ginjal, tetapi bukan penyebab langsung gagal ginjal.

    “Ya bisa tapi bukan dengan langsung, secara langsung ya, karena setelah jangka panjang lagi, jangka panjang biasanya melalui kekurangan cairan yang kronik gitu kan namanya,” katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu (12/3/2025).

    Menurutnya, kekurangan cairan dalam waktu lama dapat mengganggu fungsi ginjal secara bertahap dan meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya. Misalnya terjadi penyakit ginjal yang berkaitan dengan kekurangan cairan tubuh dikarenakan adanya infeksi yang menyebabkan peradangan dan batu ginjal.

    Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat memperburuk fungsi ginjal dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk menjaga asupan cairan tubuh dengan rutin minum air putih agar ginjal tetap berfungsi dengan baik.

    Senada, spesialis penyakit dalam Yunita Indah Dewi, SpPD mengatakan air putih memang wajib dikonsumsi oleh setiap orang. Namun kekurangan konsumsi air putih tidak langsung serta merta membuat kerusakan organ dan mengharuskan seseorang harus cuci darah.

    dr Yunita mengatakan, selain jarang meminum air putih, sering mengonsumsi minuman-minuman manis ini akan membuat tugas dari ginjal semakin berat. Organ tersebut memiliki tugas penting untuk ‘mencuci’ kandungan gula dalam tubuh.

    “Jadi tidak murni orang yang kurang minum air putih terus bisa jadi gagal ginjal, pasti ada faktor yang memperberat lainnya,” tuturnya saat dihubungi detikcom, Kamis (9/5/2024).

    Adapun gagal ginjal merupakan kondisi ketika ginjal kehilangan kemampuannya untuk membuang racun dan menyeimbangkan cairan dalam tubuh. Jika dulu penyakit gagal ginjal kerap dikaitkan dengan usia lanjut, saat ini banyak anak muda yang sudah mengidap penyakit tersebut akibat dari gaya hidup.

    Halaman 2 dari 3

    (suc/suc)

    Gagal Ginjal di Usia Belasan

    4 Konten

    Seorang wanita berusia 18 tahun asal Tangerang, Sulistia, mengungkap perjalanan kesehatannya ketika pertama kali terdiagnosis gagal ginjal stadium 5 pada 2021, di usia 14 tahun.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Eks Petinggi WHO Soroti Potensi KLB Penyakit Tidak Menular Pasca Bencana Sumatera

    Eks Petinggi WHO Soroti Potensi KLB Penyakit Tidak Menular Pasca Bencana Sumatera

    Jakarta

    Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan kemungkinan munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular pasca banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat dalam dua pekan terakhir.

    Menurutnya, fase setelah bencana adalah periode krusial karena berbagai penyakit infeksi berpotensi meningkat cepat bila tidak diantisipasi sejak awal. Mengutip laporan Journal Microbiology edisi Oktober 2025, ia menekankan sejumlah pola wabah penyakit terkait banjir di Asia Tenggara.

    Prof Tjandra menekankan pentingnya mengetahui jenis penyakit yang secara ilmiah terbukti sering meningkat pasca banjir bandang. Berdasarkan kajian ilmiah tersebut, penyakit yang perlu diwaspadai antara lain:

    LeptospirosisTifoid (Salmonella Typhi)Kolera (Vibrio cholerae)Hepatitis AInfeksi parasit penyebab diare

    “Laporan kasus infeksi dari wilayah bencana sudah mulai muncul. Akan sangat baik jika segera dilaporkan pula mikroorganisme apa yang beredar agar dapat ditangani lebih tepat,” ujarnya.

    Kontaminasi Air Banjir Jadi Sumber Patogen

    Air banjir di daerah terdampak berpotensi membawa feses manusia, limbah lingkungan, serta patogen dari hewan. Ketiganya disebut Prof Tjandra mudah berkontak dengan masyarakat yang masih berada di wilayah banjir maupun pengungsian.

    “Kontaminasi seperti ini meningkatkan risiko munculnya penyakit berbasis air. Ini harus menjadi perhatian utama,” kata Prof Tjandra.

    Setelah air mulai surut, genangan kerap menjadi sarang baru nyamuk. Kondisi ini dapat memicu kenaikan kasus penyakit yang ditularkan vektor, seperti:

    Demam Berdarah Dengue (DBD)

    Malaria

    Menurut Prof Tjandra, kegiatan pengendalian vektor harus digiatkan lebih awal untuk mencegah lonjakan kasus.

    Dalam kondisi bencana besar, ada lima aspek yang dapat memperparah risiko penyebaran penyakit:

    Terganggunya layanan air bersih, sanitasi, dan kebersihan (WASH)Meningkatnya resistensi antimikroba (AMR)Gangguan fisik dan psikis para pengungsiKepadatan di tempat pengungsianTerbatasnya pelayanan kesehatan akibat kerusakan fasilitas dan kurangnya tenaga

    “Kelima faktor ini bisa membuat penyakit menular menyebar lebih cepat bila tidak ditangani dengan koordinasi kuat antar sektor,” ujarnya.

    Artikel ilmiah yang menjadi rujukannya mencatat enam kejadian peningkatan penyakit menular akibat banjir dan hujan ekstrem di Asia Tenggara dalam dua tahun terakhir. Tiga di antaranya terjadi di Indonesia.

    Penyakit yang dominan dilaporkan antara lain leptospirosis, dengue, diare, dan bahkan kolera.

    “Data ini menunjukkan bahwa risiko KLB pasca banjir bukan hal teoritis, tetapi benar-benar telah terjadi di kawasan kita,” tegas Prof Tjandra.

    Prof Tjandra menegaskan bahwa upaya pencegahan KLB harus dilakukan secepat mungkin. Ia menilai pemerintah perlu memberi perhatian besar pada aspek surveilans, penyediaan air bersih, sanitasi, pengendalian vektor, serta pemulihan layanan kesehatan.

    “Kita tentu berharap tidak terjadi KLB pada bencana besar ini. Namun harapan saja tidak cukup, kesiapsiagaan adalah kunci,” ujarnya.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/kna)