Category: Detik.com Kesehatan

  • Menkes Ungkap 2 Penyakit yang Bikin 1,5 Juta Warga RI Meninggal Tiap Tahun

    Menkes Ungkap 2 Penyakit yang Bikin 1,5 Juta Warga RI Meninggal Tiap Tahun

    Jakarta

    Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan ada dua penyakit yang paling tinggi kasus kematiannya di Indonesia. Diperkirakan, ada 1,5 juta warga Indonesia yang meninggal setiap tahun akibat stroke dan jantung.

    “Pasti ibu-ibu punya saudara, adik, kakak, tante, ibu, mama yang meninggal karena stroke dan jantung. Itu paling banyak membunuh di Indonesia,” katanya pada saat diskusi di Jakarta, Kamis (16/1/2025).

    Karena itu, Menkes mengimbau agar masyarakat tak meremehkan kedua kondisi tersebut. Menurutnya, ada empat tolak ukur stroke dan jantung perlu dijaga. Salah satunya adalah tekanan darah yang harus di bawah 130/90 setiap hari.

    “Jangan anggap remeh. Kalau sudah lebih, didiemin, ini 3,4,5 tahun bisa stroke dan jantung. Tapi ada 3,4,5 tahun nggak langsung kena. Tapi selama 3,4,5 tahun itu bisa diobati. Obatnya ada di puskesmas, gratis. Diminum setiap hari,” katanya.

    Selain tekanan darah, kadar gula darah di dalam tubuh juga harus di bawah 200. Menkes mengatakan, apabila kadar gula di dalam tubuh seseorang melebihi angka tersebut, bisa berisiko memicu komplikasi hingga mati muda.

    Begitu juga dengan kadar kolesterol secara keseluruhan harus di bawah 100 untuk mencegah terjadinya serangan stroke dan jantung 3 hingga 4 tahun kemudian.

    “Yang penting (low-density lipoprotein/kolesterol ‘jahat’) LDLnya jangan di atas 100 atau total kolesterol jangan di atas 200. Lebih penting LDL sebenarnya,” kata Menkes.

    “Keempat, lingkaran perut ini bukan fisik ya tapi kesehatan. Laki-laki di bawah 90 cm, celana ukuran jeans 33-32 lah, kalau perempuan di bawah 80 kalau ukuran jeans 30-31. Ini bukan fisik, tapi kesehatan. Karena terbukti kalau di atas itu, risiko terkena serangan stroke dan jantung tinggi, wafatnya lebih cepat,” lanjutnya lagi.

    (suc/naf)

  • Bukti Nyata Jalan Kaki Satu Jam Sehari Bisa Perpanjang Umur hingga 6 Tahun

    Bukti Nyata Jalan Kaki Satu Jam Sehari Bisa Perpanjang Umur hingga 6 Tahun

    Jakarta

    Ternyata kebiasaan berjalan kaki memiliki manfaat yang luar biasa untuk kehidupan manusia. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine, menunjukkan bahwa rutin jalan kaki satu jam sehari dapat meningkatkan harapan hidup hingga enam tahun lebih panjang.

    Temuan ini didapatkan dari data pelacak kebugaran yang dikumpulkan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh peneliti dari Griffith University di Australia pada November 2024.

    Untuk penelitian ini, mereka mengumpulkan data dari 25 persen orang paling tidak aktif di Amerika Serikat.

    “Peningkatan terbesar dalam harapan hidup per jam berjalan kaki terlihat pada individu dalam kuartil aktivitas terendah, satu jam tambahan berjalan kaki dapat menambah harapan hidup selama 376,3 menit atau sekitar 6,3 jam,” tulis para peneliti, dikutip dari Science Alert.

    Tim menganalisis data aktivitas yang dapat dikenakan dari survei pemeriksaan kesehatan dan gizi nasional di Amerika Serikat (NHANES). Dalam studi khusus ini, data dari 824 peserta dikecualikan karena tidak menggunakan pelacak kebugaran cukup lama.

    Untuk menghitung bagaimana perubahan tingkat aktivitas dapat mempengaruhi risiko kematian, para peneliti merujuk hasil NHANES terhadap model tabel kehidupan, di mana tingkat kematian dilacak pada titik usia tertentu. Selain itu juga dari penelitian sebelumnya tentang olahraga dan rentang hidup.

    Melalui studi ini, tim ingin meningkatkan kesadaran tentang berapa banyak manfaat kesehatan yang didapat dengan olahraga tambahan, seperti jalan kaki.

    “Ini bukan prospek yang tidak masuk akal, karena 25 persen populasi sudah melakukannya,” kata Lennert Veerman, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Griffith.

    “Bisa berupa jenis olahraga apapun untuk mencapai kuartil teratas, tetapi kira-kira setara dengan berjalan kaki kurang dari tiga jam per hari,” sambungnya.

    Manfaat rutin berolahraga dapat memperpanjang umur bukanlah hal yang baru. Tetapi, mengukur dan menyederhanakan manfaatnya dapat menarik perhatian. Entah itu hanya dilakukan lima menit sehari untuk menurunkan tekanan darah atau sembilan detik seminggu untuk menumbuhkan otot.

    Kini, target baru untuk kesehatan tubuh adalah berjalan kaki satu jam ekstra sehari. Namun, jika merasa terlalu berat, ingatlah bahwa olahraga dalam jumlah berapa saja dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan.

    “Jika ada sesuatu yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko kematian hingga setengahnya, aktivitas fisik sangatlah ampuh,” kata Veerman.

    “Jika kita dapat meningkatkan investasi dalam mempromosikan aktivitas fisik dan menciptakan lingkungan hidup yang mendukungnya, seperti lingkungan yang dapat dilalui dengan berjalan kaki atau bersepeda serta sistem transportasi umum yang nyaman dan terjangkau, kita tidak hanya dapat meningkatkan umur panjang tetapi juga mengurangi tekanan pada sistem kesehatan dan lingkungan kita,” jelasnya.

    (sao/naf)

  • Menyoal Emfisema, Kondisi Diidap Sutradara Dune David Lynch Sebelum Meninggal

    Menyoal Emfisema, Kondisi Diidap Sutradara Dune David Lynch Sebelum Meninggal

    Jakarta

    Sutradara legendaris David Lynch meninggal dunia di usia 78 tahun pada Kamis (16/1/2025) waktu setempat. Pria yang menyutradarai film Dune (1984) itu meninggal dunia setelah mengidap emfisema yang memengaruhi kondisi parunya.

    Hal tersebut diduga disebabkan karena pria kelahiran 1946 itu memang menjadi perokok berat selama bertahun-tahun.

    “Dengan sangat menyesal kami, keluarganya, mengumumkan meninggalnya seorang pria dan seniman David Lynch. Kami sangat mengapresiasi privasi untuk saat ini. Ada sebuah lubang besar di dunia ini karena dia tidak lagi bersama kita. Namun, seperti yang dia katakan, ‘Tetaplah melihat donat dan jangan melihat lubangnya’,” demikian pernyataan dari pihak David Lynch dikutip dari The Guardian, Jumat (17/1/2025).

    Pada Agustus tahun lalu, Lynch pertama kali buka-bukaan soal kondisi emfisema yang diidapnya. Lalu pada sebuah kesempatan bulan November, Lynch menuturkan kondisi tersebut semakin memburuk, bahkan membuatnya sulit bernapas.

    “Saya hampir tidak bisa berjalan melalui ruangan. Rasanya seperti Anda berjalan dengan kantong plastik di kepala Anda,” kata Lynch saat itu.

    Dikutip dari Cleveland Clinic, emfisema merupakan penyakit paru-paru yang terjadi akibat kerusakan dinding alveoli di paru-paru. Penyumbatan atau obstruksi dapat terjadi yang akhirnya memerangkap udara dalam paru-paru.

    Jika terlalu banyak udara yang terperangkap, dada menjadi terasa penuh. Lebih sedikit alveoli membuat oksigen yang mengalir di aliran darah menjadi lebih sedikit.

    Kondisi emfisema biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok bertahun-tahun. Namun, kondisi ini juga dapat dipicu hal lain seperti polusi udara di rumah atau tempat kerja, faktor genetik, hingga adanya infeksi pernapasan.

    Seseorang yang memiliki masalah emfisema memiliki risiko pneumonia, bronkitis, dan infeksi paru-paru yang lebih besar.

    Orang dengan emfisema seringkali tidak menyadari penyakit tersebut telah memengaruhi jaringan paru-paru sebanyak 50 persen atau lebih, sampai akhirnya gejala itu muncul. Gejala emfisema meliputi:

    Batuk jangka panjang (batuk perokok).Mengi.Sesak napas, terutama saat berolahraga ringan seperti menaiki tangga.Perasaan terus-menerus tidak bisa mendapatkan cukup udara.Sesak di dada.Peningkatan produksi lendir.Warna lendir yang tidak normal seperti kuning atau hijau.Kelelahan yang berkelanjutan.

    (avk/suc)

  • Menkes Sebut BPJS Tak Mampu Cover Semua Biaya Berobat, Sarankan Asuransi Tambahan

    Menkes Sebut BPJS Tak Mampu Cover Semua Biaya Berobat, Sarankan Asuransi Tambahan

    Jakarta

    Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengakui BPJS Kesehatan saat ini tidak dapat menanggung atau meng-cover seratus persen atau seluruh pembiayaan untuk semua jenis penyakit, khususnya penyakit yang membutuhkan biaya dengan jumlah besar.

    Karena hal tersebut, Menkes mengatakan masyarakat bisa memanfaatkan asuransi swasta guna menutupi selisih biaya pengobatan yang tak dapat dijangkau oleh BPJS Kesehatan. Ia juga menyebut pemerintah tengah memperbaiki mekanisme agar masyarakat memiliki perlindungan tambahan melalui asuransi swasta.

    “Ini yang sedang diperbaiki oleh pemerintah agar masyarakat tidak terbebani biaya besar saat sakit. Idealnya, jika BPJS tidak bisa menanggung semua, sisanya dapat di-cover oleh asuransi tambahan di atas BPJS,” ungkap Menkes Budi Gunadi dalam sesi diskusi di Jakarta, Kamis (16/1/2025).

    Menkes menjelaskan bahwa terdapat beberapa penyakit berat yang memerlukan biaya pengobatan tinggi. Di sisi lain, BPJS Kesehatan hanya menetapkan iuran sebesar Rp 48.000 per bulan per kepala, yang dianggap tidak memadai untuk menanggung seluruh biaya pengobatan.

    Meskipun ada keterbatasan, Menkes menegaskan bahwa BPJS tetap memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat.

    “Bayangkan setiap treatmentnya tinggi-tinggi, itu bisa ratusan juta sampai puluhan juta, jadi nggak semua bisa dicover. Apa yang terjadi untuk tidak bisa dicover? Itu idealnya dicover oleh asuransi di atasnya,” sambungnya lagi.

    “Jadi jangan begitu sakit kita harus bayar ratusan juta. Yasudah, ada dong asuransi swasta yang bayarnya mungkin nggak 48 ribu, mungkin 100-150 ribu sebulan. Tapi nanti kalau dia kena, ini nggak dicover BPJS atasnya, yang puluhan juta bisa dicover dengan asuransi atasnya,” kata Menkes.

    (suc/naf)

  • Jangan Asal Latah Ikut Tren Viral Tutorial Skincare, Ini Catatan Dermatolog

    Jangan Asal Latah Ikut Tren Viral Tutorial Skincare, Ini Catatan Dermatolog

    Jakarta

    Warganet media sosial X menyoroti seorang pembuat konten TikTok yang membuat sebuah video ‘tutorial skincare’ menggunakan obat nyeri otot oles, detergen, hingga pewangi pakaian. Meski diduga konten tersebut hanya ‘bait’ untuk mendapatkan banyak penonton, tak sedikit warganet yang mengkhawatirkan hal tersebut benar-benar diikuti masyarakat.

    Khususnya oleh anak-anak dan orang-orang yang memang memiliki pemahaman baik tentang kesehatan kulit.

    “Mungkin sebagian orang bisa menganggap hanya sekedar konten dan tidak untuk ditiru, tapi beberapa orang menganggap ini sebuah tips (dilihat dari komentar ada yang tiru). Bbrapa orang udah kasih tau buat ngga bikin konten kaya gini, tapi kontennya masih lanjut dengan hal serupa,” ucap akun @r*y_**_ di media sosial X.

    Ketika banyak video tutorial kecantikan banyak beredar di masyarakat, spesialis kulit dr Ruri Diah Pamela, SpKK menuturkan penting untuk masyarakat memilah milih sumber yang dipercaya. Sebaiknya, ikuti konten-konten dari orang yang memang kompeten di bidang kecantikan, misalnya tenaga medis atas dokter spesialis kulit.

    Selain itu, dr Ruri juga meminta masyarakat untuk selalu memeriksa fakta sebelum benar-benar mencoba tips atau tutorial kecantikan dari media sosial.

    “Jangan langsung mempraktikkan apa yang dilihat. Cari tahu lebih dalam, termasuk memahami bahan-bahan yang direkomendasikan dan efeknya pada kulit,” kata dr Ruri, ketika dihubungi detikcom, Kamis (16/1/2025).

    Ia menuturkan masyarakat juga harus berhati-hati dengan ‘produk rumahan’. Gunakan produk-produk perawatan yang memang dirancang untuk kesehatan kulit.

    Produk-produk non-kosmetik seperti detergen atau pewangi pakaian tentu tidak dirancang untuk kulit, sehingga tidak boleh digunakan sebagai alternatif dari skincare. Hal yang terpenting juga menurut dr Ruri adalah masyarakat tidak boleh gampang kemakan tren dari media sosial.

    “Jika ragu, konsultasikan dengan dokter kulit sebelum mencoba metode atau produk yang belum pernah digunakan,” ucap dr Ruri.

    “Tidak semua konten yang viral itu benar atau aman untuk diikuti. Penting untuk mendahulukan kesehatan dan keselamatan dibandingkan mencoba sesuatu hanya karena sedang populer,” tandasnya.

    (avk/naf)

  • Viral ‘Tutorial Skincare’ Pakai Obat Nyeri Otot Oles, Efeknya Bisa Seserius Ini

    Viral ‘Tutorial Skincare’ Pakai Obat Nyeri Otot Oles, Efeknya Bisa Seserius Ini

    Jakarta

    Viral di media sosial X, warganet menyoroti pembuat konten ‘tutorial skincare’ menggunakan obat nyeri otot oles di media sosial X. Tidak hanya obat nyeri otot oles, pembuat konten tersebut juga membuat video mengoleskan detergen hingga pewangi pakaian ke kulit wajahnya.

    Meski video ini diduga hanya content bait untuk mendapatkan banyak penonton, tak sedikit pengguna media sosial yang menyayangkan aksi tersebut. Dikhawatirkan aksi video ini tetap diikuti orang-orang yang tidak memahami konteks video atau tidak memiliki pemahaman baik terkait kesehatan kulit.

    “Mungkin sebagian orang bisa menganggap hanya sekedar konten dan tidak untuk ditiru, tapi beberapa orang menganggap ini sebuah tips (dilihat dari komentar ada yang tiru). Bbrapa orang udah kasih tau buat ngga bikin konten kaya gini, tapi kontennya masih lanjut dengan hal serupa,” ucap pemilik akun X @r*y_**_.

    “menurutku konten gini bahaya bgt si. Selain takut ditiru anak-anak yang blm tahu, bisa jg ditiru sm orang yg udh hopeless sm problem mukanya. Soalnya temenku pernah cuci muka pakai sabun cuci piring beneran cm gara-gara kemakan omongan ‘jerawat kan minyak, jd bisa ilang pake sabun cuci piring’,” kata netizen lain.

    Berkaitan dengan kejadian tersebut, spesialis kulit dr Ruri Diah Pamela, SpKK mengatakan konten semacam itu bisa berbahaya. Menurutnya, informasi salah atau menyesatkan dapat memicu kerusakan kulit, bahkan masalah serius.

    “Media sosial memiliki jangkauan luas di masyarakat, dan meskipun konten tersebut mungkin dibuat untuk lelucon atau “bait,” tetap ada risiko besar jika tidak semua penonton memahami konteksnya,” ucap dr Ruri ketika dihubungi oleh detikcom, Kamis (16/1/2025).

    Menggunakan obat nyeri otot, detergen, atau pewangi pakaian bisa memberikan dampak buruk pada kulit. Zat-zat tersebut memang tidak dirancang sebagai bagian dari bahan merawat kulit dan bisa menimbulkan iritasi parah.

    Selain iritasi parah, penggunaan zat-zat tersebut juga dapat memicu keluhan berikut:

    Kemerahan.Gatal.Luka erosif.Reaksi alergi.Ruam.Dermatitis.

    Berdasarkan pemantauan terakhir, konten tersebut akhirnya dihapus oleh pemilik akun.

    (avk/kna)

  • BRIN Bicara Jenis Varian HMPV yang Beredar di RI, Bisa Picu Gejala Berat?

    BRIN Bicara Jenis Varian HMPV yang Beredar di RI, Bisa Picu Gejala Berat?

    Jakarta

    Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) menyebut ada dua tipe Human Metapneumovirus (hMPV) yang beredar di dunia, yaitu subtipe A dan B. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa varian atau subtipe hMPV yang ada di Indonesia.

    Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN Dr dr Telly Purnamasari Agus, MEpid, mengatakan Indonesia memerlukan penelitian genetik hMPV untuk mengetahui secara pasti subtipe apa yang beredar di Indonesia. Ini juga penting untuk menentukan langkah pencegahan dan tatalaksana penanganan pasien hMPV yang ada di Indonesia.

    “Belum ada laporan sepanjang yang saya tahu (terkait subtipe hMPV yang ada di Indonesia),” kata dr Telly ketika ditemui awak media di Jakarta Pusat, Kamis (16/1/2025).

    Selain itu, dr Telly menuturkan subtipe A dan B memiliki sub-grup yang berbeda masing-masing. Karakteristik dari keduanya juga berbeda. Salah satu perbedaan yang paling terlihat muncul dari dampak kesehatan yang ditimbulkan dari kedua subtipe hMPV tersebut.

    dr Telly berkata hMPV untuk subtipe A memiliki gejala klinis yang cenderung lebih parah. Varian ini juga yang biasanya lebih sering dikaitkan dengan keberadaan wabah.

    “Subtipe A berbeda dengan B. Subtipe yang A itu lebih dampaknya pada gejala klinis itu lebih menunjukkan gangguan pernapasan yang lebih berat dan sering dikaitkan wabah, berbeda dengan subtipe B,” ujarnya.

    Sedangkan untuk subtipe B menurut dr Telly, varian ini biasanya memiliki kecenderungan prevalensi yang lebih tinggi. Namun, kemunculan varian ini biasanya pada musim-musim tertentu seperti musim dingin atau musim gugur.

    Secara umum, infeksi hMPV memiliki gejala infeksi yang sama dengan masalah kesehatan akibat infeksi virus lainnya. Biasanya meliputi demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, mengi, hingga terkadang disertai dengan sesak napas.

    Tingkat keparahan infeksi yang ditimbulkan dari hMPV juga bisa beragam. Hal ini akan sangat tergantung dengan bagaimana sistem kekebalan tubuh seseorang, hingga kecepatan penanganan medis setelah infeksi terjadi.

    “Kembali lagi dari daya tahan tubuh kita, bagaimana imun kita untuk menangkal virus yang masuk. Jadi pada kondisi awal, baru saluran pernapasan atas, itu masih bisa diberikan obat sesuai gejala,” ujar dr Telly.

    “Tapi apabila telat penanganannya, bukan tidak mungkin akhirnya turun ke (saluran pernapasan) bawah. Ini bisa bermanifestasi menjadi yang berat, seperti pneumonia, sesak, atau peradangan, jadi bervariasi,” tandasnya.

    (avk/naf)

  • Soal Aturan Rokok di Turunan UU, Kemenkes RI Masih Tampung Masukan

    Soal Aturan Rokok di Turunan UU, Kemenkes RI Masih Tampung Masukan

    Jakarta

    Aturan turunan terkait pembatasan penjualan dan iklan rokok di Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024, sebagai tindak lanjut dari Undang Undang No. 17 Tahun 2023, belum juga ‘diresmikan’. Kementerian Kesehatan RI menyebut sebetulnya sejumlah poin sudah rampung disusun dan masuk dalam tahap public hearing atau diskusi publik, demi melibatkan semua pihak.

    Masyarakat juga bisa berpartisipasi aktif dalam website partisipasi sehat. Targetnya, pertengahan Februari 2025 konsultasi publik sudah selesai, dan dilanjutkan ke tahap selanjutnya yakni harmonisasi antar kementerian dan lembaga.

    “Karena memang ini tembakau cukup banyak yang memberi masukan, jadi kita memberikan waktu yang cukup untuk para stakeholder, baik dari sisi pemerintah, maupun masyarakat,” beber Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, dalam diskusi publik, di Perpusnas Jakarta Pusat, Kamis (16/1/2025).

    “Ada banyak juga yang nanti kita akan atur, turunan-turunannya, termasuk batas nikotin, batas tar, dan zat-zat apa saja yang tidak boleh ditambahkan,” sebut dr Nadia.

    Urgensi penerapan PP berkaitan dengan semakin banyak kelompok anak menjadi perokok aktif. dr Nadia bahkan menyebut usia pertama kali merokok di Indonesia meningkat menjadi 9 hingga 12 tahun.

    “Indonesia ini darurat perokok anak, permasalahannya juga tidak hanya di perokok aktif, tetapi perokok pasif. Pada rumah tangga, 60 persen rata-rata anak terpapar asap rokok di rumahnya,” tandas dr Nadia.

    Rokok menjadi salah satu pemicu terbanyak penyakit tidak menular, seperti stroke, jantung, hingga kanker. Tren kasus tersebut disebut dr Nadia meningkat signifikan. Sejalan dengan data global, empat penyakit paling banyak menyumbang negara adalah penyakit tidak menular.

    “Empat penyakit ini bila kita lihat dari sisi pembiayaan, menjadi penyakit yang paling banyak membutuhkan biaya, data BPJS menunjukkan ratusan juta dikeluarkan untuk penyakit ini, merokok itu faktor risiko nomor dua yang menyebabkan penyakit tidak menular,” bebernya.

    (naf/up)

  • Sederet Kondisi yang Bisa Diatasi dengan Makan Rambutan, Termasuk Pangkas BB

    Sederet Kondisi yang Bisa Diatasi dengan Makan Rambutan, Termasuk Pangkas BB

    Jakarta

    Rambutan atau nephelium lappaceum adalah tanaman asli Asia Tenggara. Buah rambutan tumbuh di pohon dengan tinggi yang mencapai 27 meter dan subur di daerah beriklim tropis termasuk Indonesia dan Malaysia.

    Buah rambutan masih berkerabat dengan buah leci juga lengkeng. Memiliki penampilan yang mirip saat dikupas. Daging buahnya yang berwarna putih bening memiliki rasa manis tetapi lembut, mengandung biji di bagian tengahnya.

    Rambutan kaya gizi dan bermanfaat untuk kesehatan, mulai dari penurunan berat badan dan pencernaan yang lebih baik hingga peningkatan daya tahan terhadap infeksi.

    Berikut beberapa kondisi yang bisa diatasi dengan memakan buah rambutan, dikutip dari Healthline:

    Kaya Nutrisi dan Antioksidan

    Buah rambutan kaya akan banyak vitamin, mineral, dan senyawa tanaman yang bermanfaat.

    Daging buahnya menyediakan sekitar 1,3-2 gram serat total per 3,5 ons atau 100 gram, mirip dengan yang ditemukan dalam jumlah yang sama pada apel, jeruk, atau pir.

    Buah ini juga kaya akan vitamin C, nutrisi yang membantu tubuh menyerap zat besi dari makanan dengan lebih mudah. Vitamin ini juga bertindak sebagai antioksidan, melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan. Mengonsumsi 5 sampai 6 buah rambutan akan memenuhi 50 persen kebutuhan vitamin C harian.

    Rambutan juga mengandung sejumlah besar tembaga, yang berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan berbagai sel yang tepat, termasuk sel-sel tulang, otak, dan jantung.

    Buah ini juga menawarkan jumlah mangan, fosfor, kalium, magnesium, zat besi, dan seng yang lebih sedikit. Mengonsumsi 3,5 ons atau 100 graam, sekitar empat buah, akan memenuhi 20 persen kebutuhan tembaga harian dan 2-6 persen dari jumlah nutrisi lain yang direkomendasikan setiap hari.

    Memperbaiki Pencernaan

    Rambutan dapat berkontribusi pada pencernaan karena kandungan seratnya. Sekitar setengah dari serat dalam dagingnya tidak larut, hal ini menandakan serat tersebut melewati usus tanpa dicerna.

    Serat yang tidak larut menambah jumlah tinja dan membantu mempercepat transit usus, sehingga mengurangi kemungkinan sembelit.

    Setengah serat lainnya larut. Serat larut menyediakan makanan bagi bakteri usus yang bermanfaat. Bakteri baik ini kemudian menghasilkan asam lemak rantai pendek, seperti asetat, propionat, dan butirat, yang memberi makan sel-sel usus.

    Memangkas Berat Badan

    Sama seperti kebanyakan buah, rambutan dapat mencegah penambahan berat badan dan mendorong penurunan berat badan seiring berjalannya waktu.

    Dengan sekitar 75 kalori dan 1,3-2 gram serat per 3,5 ons atau 100 gram, buah ini relatif rendah kalori untuk jumlah serat yang tersedia. Hal ini tentu membantu merasa kenyang lebih lama. Walhasil, mengurangi kemungkinan makan berlebihan dan mendorong penurunan berat badan seiring berjalannya waktu.

    Terlebih lagi, serat larut dalam rambutan dapat larut dalam air dan membentuk zat seperti gel di usus, yang membantu memperlambat pencernaan dan penyerapan nutrisi. Hal ini juga dapat menyebabkan berkurangnya nafsu makan dan rasa kenyang yang lebih besar.

    Selain itu, rambutan mengandung banyak air dan dapat membantu tetap terhidrasi, yang selanjutnya dapat mencegah makan berlebihan dan membantu penurunan berat badan.

    Melawan Infeksi

    Buah rambutan dapat berkontribusi pada sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dalam beberapa cara. Sebagai permulaan, buah ini kaya akan vitamin C, yang dapat mendorong produksi sel darah putih yang dibutuhkan tubuh, untuk melawan infeksi.

    Mengonsumsi terlalu sedikit vitamin C dalam makanan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat lebih rentan terhadap infeksi.

    Terlebih lagi, kulit rambutan telah digunakan selama berabad-abad untuk melawan infeksi. Studi tabung reaksi menunjukkan rambutan mengandung senyawa yang dapat melindungi tubuh dari virus dan infeksi bakteri.

    Sejumlah kondisi lain yang yang dapat diatasi dengan mengonsumsi rambutan:

    Mengurangi risiko kanker: beberapa penelitian sel dan hewan menemukan senyawa dalam rambutan dapat membantu mencegah pertumbuhan dan penyebaran sel kanker.

    Mencegah penyakit jantung: satu penelitian pada hewan menunjukkan ekstrak yang terbuat dari kulit rambutan mengurangi kadar kolesterol total dan trigliserida pada tikus pengidap diabetes.

    Dapat mencegah diabetes: penelitian sel dan hewan melaporkan bahwa ekstrak kulit rambutan meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi kadar gula darah puasa dan resistensi insulin.

    Perlu dicatat, ketiga manfaat tambahan ini umumnya terkait dengan senyawa yang ditemukan dalam kulit atau biji rambutan, keduanya biasanya tidak dikonsumsi oleh manusia.

    Terlebih lagi, sebagian besar manfaat ini hanya diamati dalam penelitian sel dan hewan. Diperlukan lebih banyak penelitian pada manusia.

    (naf/kna)

  • Video: Menkes Minta Para Ibu Jadi Dokter di Keluarga

    Video: Menkes Minta Para Ibu Jadi Dokter di Keluarga

    Video: Menkes Minta Para Ibu Jadi Dokter di Keluarga