Category: Detik.com Kesehatan

  • 1 dari 5 Anak di RI Kena Anemia, DKI Catat Kasus Paling Tinggi! Capai 40 Persen

    1 dari 5 Anak di RI Kena Anemia, DKI Catat Kasus Paling Tinggi! Capai 40 Persen

    Jakarta

    Satu dari lima anak di Indonesia teridentifikasi mengidap anemia. Meski secara nasional prevalensi kasus anemia pada anak menurun di bawah 20 persen, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan sejumlah wilayah masih mencatat 50 hingga 70 persen kasus anemia.

    Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi menyebut DKI Jakarta menjadi provinsi dengan peningkatan kasus anemia tertinggi. Dalam satu tahun terakhir, sekitar 40 persen anak ditemukan mengidap anemia berdasarkan pemeriksaan di sekolah dasar kelas 5 dan sekolah menengah pertama kelas 7.

    “Semua ini terjadi karena ada perubahan pola makan, saat ini banyak iklan-iklan tandingan pola makan yang sehat, sehingga keluarga rentan sulit memilih makanan yang lebih bergizi,” tutur Maria dalam diskusi bersama Selasa (21/1/2025).

    Pemerintah juga mengupayakan pemberian suplemen penambah darah yang rutin dilakukan satu kali dalam sepekan. Kemenkes RI juga melakukan pemeriksaan hemoglobin pada siswa 1 SMP dan 1 SMA.

    Hasilnya, beberapa wilayah menunjukkan penurunan, dan beberapa lainnya mengalami tren sebaliknya.

    Tren gizi pada remaja juga relatif mengkhawatirkan. Ada 32 persen remaja yang mengonsumsi makanan tinggi garam, 78 persen mengonsumsi makanan berpenyedap tinggi, bahkan 65 persen anak dilaporkan tidak sarapan.

    Minimnya gizi pada anak memicu kondisi anemia. Salah satu sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) juga dilaporkan mencatat 70 persen siswanya terkena anemia, akibat kekurangan sumber pangan di tengah situasi kesulitan ekonomi.

    (naf/kna)

  • RI Bakal Batasi Usia Main Medsos, Harus Gimana Jika Anak Sudah Kecanduan?

    RI Bakal Batasi Usia Main Medsos, Harus Gimana Jika Anak Sudah Kecanduan?

    Jakarta

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) mengatakan pemerintah akan membuat Undang-Undang yang akan mengatur pembatasan media sosial bagi anak-anak. Hal itu dibahas Menkomidigi Meutya Hafid saat bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (13/1/2025).

    Namun, sembari menunggu UU tersebut dirancang dan disahkan, pemerintah akan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP)-nya terlebih dahulu.

    “Pada prinsipnya gini, sambil menjembatani aturan yang lebih ajeg, pemerintah akan mengeluarkan aturan pemerintah terlebih dahulu (mengenai batas usia mengakses medsos),” kata Meutya.

    Adapun aturan ini bertujuan untuk melindungi anak-anak di ruang digital. Pasalnya, media sosial dapat memberikan dampak negatif terhadap tumbuh kembang fisik, kognitif, dan emosional seorang anak, terutama pada anak-anak yang sudah kecanduan.

    Lantas, bagaimana cara mengatasi anak yang sudah kecanduan media sosial?

    Psikolog anak Anastasia & Associate, Wilma Maharani, M Psi, mengatakan terdapat sejumlah cara bagi orang tua untuk mengatasi anak yang ketergantungan dengan media sosial. Cara pertama, orang tua perlu mengidentifikasi pola penggunaan atau observasi sejauh mana anak bergantung pada media sosial.

    “Kemudian kita dapat mengatur juga batas waktunya atau akhirnya timeline penggunaan handphone, tablet, atau apapun itu. Jadi kita terapkan waktu yang konsisten,” katanya saat dihubungi detikcom, Selasa (21/1/2025).

    “Misal, waktu penggunaannya setiap hari hanya boleh 2 jam. Nah, itu perlu kita awasi,” imbuhnya lagi.

    Selain itu, orang tua juga perlu mencari alternatif aktivitas pengganti untuk anak. Misalnya, seperti aktivitas fisik, atau kegiatan yang mengharuskan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

    Orang tua juga bisa memberikan alternatif kegiatan menarik untuk anak, seperti mengikuti klub sesuai hobi anak. Cara-cara ini, lanjut Wilma, berguna untuk mengalihkan perhatian mereka ke hal-hal lebih positif dibandingkan terpapar screen time atau media sosial.

    “Kita juga bisa mengkomunikasikan sama anak untuk membuat anak lebih paham konsekuensi dari penggunaan media sosial berlebihan. Kalau perlu kita memberikan edukasi sama anak, kita tonton bareng-bareng, misalnya kita cari dulu di Youtube banyak pasti video-video edukasi terkait penggunaan media sosial yang berlebihan,” katanya.

    “Nah, penting juga akhirnya kita menggunakan pendekatan-pendekatan psikologis seperti pendekatan behavioristik misalnya, saat kita menggunakan penguatan positif nih, seperti pujian atau penghargaan misalnya ketika anak sudah berhasil mengurangi penggunaan media sosial Dan akhirnya perlu juga mungkin diterapkan intervensi kepada anak jika akhirnya dia menggunakan media sosial secara berlebihan,” katanya lagi.

    Senada, psikolog anak Samanta Elsener M Psi, Psikolog & Parenting Expert juga mengatakan apabila anak sudah kecanduan media sosial, diperlukan upaya pemulihan secara rutin. Seperti mengikuti sesi yang diberikan oleh psikolog atau terapis, serta diperbanyak kegiatan dengan aktivitas fisik dan olahraga.

    “Serta pemberian pendampingan untuk meningkatkan psikososial & emosional anak,” katanya dihubungi terpisah, Selasa (21/1/2025).

    (suc/naf)

  • Ahli Gizi Soal Tantangan Diet 30 Hari Tanpa Gula, Aman Nggak?

    Ahli Gizi Soal Tantangan Diet 30 Hari Tanpa Gula, Aman Nggak?

    Jakarta – Tantangan diet 30 hari tanpa gula sempat menjadi tren kesehatan. Pola diet ini sebetulnya tidak masalah namun ada beberapa hal yang patut diperhatikan.

    Menurut ahli gizi klinik, dr Davie Muhamad, SpGK, tantangan diet 30 hari tanpa gula bisa dikatakan aman. Namun sebaiknya dilakukan pengecekan kondisi gula darah masing-masing untuk mengetahui kebutuhan tubuh terhadap gula.

    Namun secara umum, membatasi konsumsi gula memang menjadi cara hidup agar lebih sehat. Mengonsumsi banyak gula,terlebih dengan pemanis buatan, bisa berdampak buruk pada tubuh.

    “Kalau tujuannya untuk sehat, asupan gulanya harus dibatasi per hari. Tapi, kalau tujuannya untuk diet, itu sebenarnya masih bisa juga, karena sebenarnya gula itu isinya glukosa. Glukosa itu adalah bentuk sederhana dari karbohidrat,” kata dr Davie seperti dikutip detikHealth.

    Menurutnya, tanpa mengonsumsi minuman gula pun sebetulnya tubuh sudah mendapat asupan glukosa dari makanan berkarbohidrat seperti nasi, ubi, dan kentang. Hal yang perlu dikhawatirkan adalah glukosa yang terkandung dari gula pasir, sirup dan minuman kemasan mengandung fruktosa, karena bisa berubah menjadi lemak.

    “Itu yang menyebabkan peningkatan berat badan atau peningkatan massa lemak,” ujarnya.

    Pesan Ahli Gizi untuk Pelaku Diet Gula

    Dokter Davie menambahkan, pelaku diet gula tetap diminta untuk memperhatikan pola makannya. Hal ini mencakup wajib sarapan, hingga mengatur komposisi makanan agar tetap mendapatkan gizi seimbang.

    “Saya lebih menekankan ke sarapan itu wajib. Jadi kalau kita misalnya tipikal orang yang suka makan gula yang manis-manis, tiba-tiba mau diet tanpa gula, perbaiki dulu makanan utamanya atau makan besarnya,” ujar dr Davie.

    “Makan pagi, siang, malamnya diperbaiki dulu dari komposisinya, jumlahnya, dari jenisnya. Kalau sudah diperbaiki, nggak ada itu rasa ingin makan gula-gula, nafsu makannya bisa terkontrol. Jadi diet gizi seimbang itu bisa menjadi tips untuk membantu diet tanpa gula tadi,” katanya.

    Efek Diet 30 Hari Tanpa Gula

    Inti dari tantangan 30 hari tanpa gula adalah menjaga konsistensi terhadap komitmen berdiet. Dengan membiasakan diri selama sebulan, diharapkan tubuh akan terbiasa nyaman tanpa memerlukan gula tambahan.

    Berikut ini 6 efek dari diet 30 hari tanpa gula yang dilansir dari Healthline:

    Diet tanpa gula akan memberikan dampak penurunan pada tingkat gula darah dan insulin. Hal ini dapat mencegah risiko diabetes tipe-2 yang bisa menyebabkan sejumlah penyakit, seperti demensia, penyakit ginjal kronis, sindrom ovarium polikistik, penyakit hati dan jantung.

    2. Berat Badan Turun

    Makanan dan minuman dengan tambahan gula cenderung mengandung kalori yang tinggi dan nutrisi yang rendah, tanpa memberikan serat yang baik. Hal ini akan dengan mudah meningkatkan berat badan dan obesitas. Sebaliknya, mengurangi konsumsi gula bisa membantu menurunkan berat badan.

    3. Jantung Lebih Sehat

    Diet 30 hari tanpa gula dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan kematian akibat penyakit jantung. Ini termasuk tekanan darah tinggi, peningkatan trigliserida, dan kolesterol tinggi.

    4. Kesehatan Hati

    Diet gula, terutama diet fruktosa, dapat mengurangi risiko penumpukan lemak di hati atau NAFLD (Nonalcoholic Fatty Liver Disease). Hasil studi pada 2021 menunjukkan 29 remaja laki-laki dengan NAFLD mengalami penurunan 10,5 persen lemak di hati. Hal ini tentu akan meningkatkan kesehatan hati.

    5. Kesehatan Mulut

    Tingginya asupan gula tambahan dari minuman manis sangat mempengaruhi kesehatan mulut. Hal ini bisa meningkatkan risiko gigi berlubang dan kerusakan gigi karena bakteri di dalam mulut memecah gula dan menghasilkan asam yang dapat merusak gigi.

    6. Manfaat Potensial Lain

    Selain itu, terdapat beberapa potensi manfaat lain dari diet gula, antara lain mengurangi kecemasan dan gejala depresi, menyehatkan kulit, serta mencegah penuaan kulit secara dini.

    Jadi, detikers boleh-boleh saja ikut tantangan diet 30 hari tanpa gula, karena banyak manfaatnya buat kesehatan. Tapi sebaiknya cek dulu kondisi gula darah kamu dan jangan segan berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai diet.

    (bai/row)

  • Orang Tua Lebih Sayang Anak Bungsu atau Anak Sulung? Begini Hasil Studinya

    Orang Tua Lebih Sayang Anak Bungsu atau Anak Sulung? Begini Hasil Studinya

    Jakarta

    Saudara kandung memiliki ikatan unik yang dibangun dari kenangan bersama, ritual keluarga, dan pertengkaran kecil yang terjadi sesekali. Namun, tanyakan kepada hampir semua orang yang punya saudara laki-laki atau perempuan: siapa anak kesayangan?

    Penelitian terbaru dari Brigham Young University mengungkap bagaimana orang tua mungkin secara tidak sadar menunjukkan favoritisme berdasarkan urutan kelahiran, kepribadian, dan jenis kelamin.

    Penelitian yang dilakukan oleh BYU School of Family Life professor Alex Jensen menemukan bahwa anak bungsu umumnya menerima perlakuan yang lebih baik dari orang tua. Sementara itu, anak sulung sering kali diberi lebih banyak otonomi, dan orang tua tidak terlalu mengontrol mereka saat mereka tumbuh dewasa.

    “Sangat membantu untuk mengambil temuan dari penelitian ini dan menyadari pola yang mungkin terjadi dalam keluarga Anda,” kata Jensen kepada Science Daily dikutip Selasa (21/1/2025). “Jika orang tua menyadarinya, mereka dapat membuat penyesuaian kecil yang menguntungkan semua orang.”

    Penelitian tersebut menemukan bahwa orang tua cenderung lebih menyukai anak perempuan daripada anak laki-laki, meskipun hanya orang tua yang cenderung menyadari bias tersebut, anak-anak tidak.

    Kepribadian juga memainkan peran besar. Anak-anak yang menyenangkan dan bertanggung jawab, terlepas dari urutan kelahiran atau jenis kelamin, umumnya juga menerima perlakuan yang lebih baik.

    “Kebanyakan orang tua mungkin lebih mudah terhubung dengan satu anak daripada yang lain, entah itu karena kepribadian, urutan kelahiran, jenis kelamin, atau hal-hal lain seperti minat yang sama,” ucap Jensen.

    Jensen mengatakan penting untuk memahami bahwa dinamika ini tidak hanya tentang persaingan antarsaudara, ini tentang kesejahteraan. Penelitiannya yang lain menunjukkan bahwa anak-anak yang merasa kurang disukai oleh orang tua mereka lebih mungkin mengalami kesehatan mental yang buruk dan terlibat dalam perilaku bermasalah di rumah atau sekolah.

    Untuk melakukan penelitian tersebut, Jensen dan rekan-rekannya memeriksa data dari lebih dari 19.000 individu, yang diambil dari berbagai sumber yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan. Penelitian tersebut memberikan pandangan luas tentang bagaimana preferensi orang tua terwujud dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi anak-anak sepanjang hidup mereka.

    Jensen mengatakan dia berharap penelitian tersebut menjelaskan dinamika keluarga yang sering dirasakan tetapi jarang dibahas. Favoritisme, baik yang disengaja maupun tidak, dapat membentuk hubungan antarsaudara dan kesejahteraan individu. Dengan mengenali pola-pola ini, orang tua dapat membina ikatan keluarga yang lebih kuat dengan cara yang bermakna

    “Jawaban sederhana mungkin adalah yang terbaik. Bersabarlah dengan diri sendiri dan anak-anak Anda,” beber Jensen.

    “Luangkan waktu bersama. Lakukan hal-hal yang Anda sukai bersama. Lakukan hal-hal yang disukai anak-anak Anda bersama. Bekerja bersama, melayani orang lain bersama, beribadah bersama. Hubungan membutuhkan waktu dan waktu bersama untuk melakukan berbagai hal yang akan memberikan banyak manfaat positif,” tandas dia.

    (kna/kna)

  • Youtuber Mukbang Nikocado Avocado Oplas Rahang usai Sukses Pangkas 113 Kg

    Youtuber Mukbang Nikocado Avocado Oplas Rahang usai Sukses Pangkas 113 Kg

    Jakarta

    Youtuber mukbang Nikocado Avocado kembali mengejutkan publik dengan transformasinya. Pada 6 September 2024, ia sukses menurunkan berat badannya sebanyak 113 kg hingga membuat publik takjub.

    Tidak cuma itu, baru-baru ini pria bernama asli Nicholas Perry itu mengungkapkan soal bentuk rahangnya yang aneh. Turunnya berat badan Perry membuat kulit di area tersebut kendur.

    “Menjelang akhir perjalanan penurunan berat badan, profil samping saya sangat buruk. Saya sama sekali tidak punya dagu,” ungkap Perry yang dikutip dari laman People.

    “Yang ada hanya leher kalkun besar yang menonjol di bawa wajah saya. Dan itulah mengapa saya berpikir harus mengatasinya,” sambungnya.

    Pria 32 tahun itu mengatakan selalu memiliki masalah dengan dagu berlipatnya, bahkan sebelum berat badannya turun. Hingga pada Desember 2024, Perry meminta bantuan seorang ahli bedah plastik di Beverly Hills Center for Plastic Surgery, Dr Ben Talei.

    Dr Talei menjelaskan bahwa Perry memiliki semeter otot dan kulit ekstra yang telah meregang seiring waktu, dan kemudian mengempis. Satu-satunya cara untuk menghilangkannya adalah dengan operasi.

    Meski ingin operasi, Perry tidak ingin prosedur tersebut membuat orang-orang tidak mengenalinya atau terlihat seperti orang lain.

    “Saya melakukan ini untuk diri saya sendiri, dan saya melakukan ini untuk para pembenci saya,” katanya.

    Proses Operasi

    Pada hari operasi, Perry bersiap untuk melakukan operasi pengencangan wajah khas Dr Talei dengan AuraLyft dan ‘pengencangan leher akhir pekan’. Proses ini membuat Perry sangat bersemangat.

    “Saya sangat yakin operasi ini akan terlihat bagus. Yang saya khawatirkan adalah rasa sakitnya,” ungkap Perry.

    Dr Talei menjelaskan penurunan berat badan Perry yang drastis membuat kelenturan kulitnya menjadi sangat parah. Jika ia mengangkat leher, lehernya akan sangat kendur sehingga akan terdorong ke wajah dan akan ada banyak jaringan wajah berlebih.

    “Saya harus mengangkat alisnya. Dan itulah yang kami lakukan untuk mengembalikan garis rahang Niko,” beber Dr Talei.

    Pasca Operasi

    Pasca operasi, Perry mengungkapkan rasa sakitnya lebih ringan dari pencabutan gigi. Perban yang membalut wajahnya terasa sangat kuat, padat, seperti ada implan.

    Setelah membuka perbannya, Perry merasa senang dan terkejut dengan hasilnya. Ia benar-benar bisa melihat bentuk rahangnya.

    “Saya benar-benar menangis, dua kali. Air mata kebahagiaan. Saya senang dengan apa yang saya lakukan saat ini,”

    Dalam video yang diunggahnya di akun YouTube miliknya, Perry juga mengungkapkan rencana ke depan soal konten-kontennya pasca penurunan berat badan ini.

    “Daripada makan lima burger keju, saya mungkin akan membuat rebusan makanan laut. Daripada makan setumpuk bacon dan ayam goreng keju. Saya akan makan steak dan brokoli yang enak,” pungkasnya.

    (sao/kna)

  • Video Trump Tarik AS Keluar dari WHO-Perjanjian Iklim Paris

    Video Trump Tarik AS Keluar dari WHO-Perjanjian Iklim Paris

    Video Trump Tarik AS Keluar dari WHO-Perjanjian Iklim Paris

  • Jenis Minuman Ini Bisa Berbahaya Bagi Tubuh, Wajib Dibatasi Konsumsinya    
        Jenis Minuman Ini Bisa Berbahaya Bagi Tubuh, Wajib Dibatasi Konsumsinya

    Jenis Minuman Ini Bisa Berbahaya Bagi Tubuh, Wajib Dibatasi Konsumsinya Jenis Minuman Ini Bisa Berbahaya Bagi Tubuh, Wajib Dibatasi Konsumsinya

    Jakarta

    Setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi akan membawa pengaruh yang cukup esensial untuk kinerja sistem tubuh. Ada beberapa asupan yang baik untuk tubuh dan berdampak dalam kesehatan jangka panjang.

    Namun, ada juga beberapa asupan yang bisa berbahaya jika dikonsumsi berlebihan, seperti makanan dan minuman manis. Meski asupan tersebut bisa merangsang pusat kenikmatan di otak yang memunculkan rasa bahagia, ada bahaya tersembunyi di baliknya.

    Dikutip dari Science Alert, mengonsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kesehatan seperti obesitas, kerusakan gigi, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung. Hal ini dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Tufts University Amerika Serikat.

    Dalam studi yang dipublikasikan di Nature Medicine, sekitar 1,2 juta kasus penyakit kardiovaskular dan 2,2 juta kasus diabetes tipe 2 bertambah setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar adalah orang-orang yang rutin mengkonsumsi minuman manis.

    Selain itu, studi menunjukkan bahwa minuman manis menyebabkan sekitar 80.000 kematian akibat diabetes tipe 2. Hal ini juga menjadi penyebab 258.000 kematian akibat penyakit kardiovaskular di setiap tahunnya.

    Para peneliti memperoleh data studi lewat 450 survei dari Global Dietary Database berupa data konsumsi minuman manis, yang mewakili total 2,9 juta orang dari 118 negara di dunia.

    Dari situ, ditemukan juga demografi orang yang paling terpengaruh oleh efek dari minuman manis. Mereka adalah pria dewasa muda dengan pendidikan tinggi di daerah perkotaan.

    Penelitian ini berfokus pada minuman manis yang mengandung gula tambahan, sedikitnya 50 kkal per sajian 220 gram. Minuman ini termasuk minuman ringan komersial atau buatan sendiri, minuman berenergi, minuman buah, limun, dan agua fresca.

    Sementara minuman yang tidak masuk dalam kategori ini antara lain susu manis, jus buah dan sayur murni tanpa gula, dan minuman pemanis buatan non kalori.

    NEXT: Dampak jangka panjang minuman manis

  • Trump Perintahkan AS Keluar dari Keanggotaan WHO, Bisa Seperti Ini Dampaknya

    Trump Perintahkan AS Keluar dari Keanggotaan WHO, Bisa Seperti Ini Dampaknya

    Jakarta

    Amerika Serikat menarik diri dari keanggotaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Presiden AS Donald Trump menyebut kecewa pada WHO, dan telah menyampaikan kritik beberapa kali, terlebih di masa pandemi COVID-19. Trump menuding WHO lambat menangani pandemi atau wabah SARS-CoV-2 yang pertama kali merebak di China. Hingga kini belum diketahui asal muasalnya.

    “Selain itu, WHO terus menuntut pembayaran yang sangat memberatkan Amerika Serikat, jauh dari proporsi pembayaran yang ditetapkan oleh negara-negara lain. China, dengan populasi 1,4 miliar, memiliki 300 persen populasi Amerika Serikat, tetapi memberikan kontribusi hampir 90 persen lebih sedikit kepada WHO,” beber Trump dalam pernyataan resmi Gedung Putih, dikutip Selasa (21/1/2025).

    Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menilai banyak dampak yang bisa terjadi di balik keputusan AS keluar dari keanggotaan WHO. Terlebih, tidak sedikit pakar AS terlibat dalam kerja sama langsung dengan WHO, termasuk pada sejumlah kajian internasional.

    Prof Tjandra khawatir hal ini otomatis berpengaruh pada sistem kesehatan internasional. “Amerika Serikat mempunyai berbagai pusat kajian kesehatan yang juga punya cakupan global, katakanlah misalnya Center of Diseases Control and Prevention (CDC), National Institute of Health (NIH) dan lain-lain,” bebernya dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Selasa (21/1).

    “Perlu dikaji tentang bagaimana peran berbagai organisasi ini sesudah Amerika Serikat menarik diri dari WHO,” lanjutnya.

    Ia juga menyoroti aspek pendanaan yang otomatis terhenti dari AS. Mengingat, banyak bantuan ke wilayah atau negara berkembang dengan sejumlah wabah, dibantu melalui dana fund WHO dari banyak negara lain, termasuk AS.

    Dalam hal ini, Prof Tjandra menilai, WHO perlu melalukan upaya rekayasa finansial. Semata-mata demi menjaga kesehatan global tetap terlaksana dengan baik. “Anggaran WHO akan terkena dampak cukup bermakna kalau kontribusi dari Amerika Serikat dihentikan,” sorotnya.

    Meski begitu, menurutnya publik masih harus menunggu keputusan resmi dan eksekusi keputusan terkait. Mengacu beberapa informasi, Prof Tjandra menekankan prosesnya akan memakan waktu hingga satu tahun atau mungkin lebih cepat berdasarkan situasi.

    Situasi kesehatan dunia ke depan juga disebutnya akan menjadi perhatian penting, mengingat besarnya jumlah penduduk AS. Hal ini berdampak dalam pengawasan perjalanan kesehatan internasonal.

    “Selain organisasi resmi pemerintah maka juga cukup banyak pakar warga Amerika Serikat yang aktif dalam kesehatan global, termasuk bekerja di World Health Organization (WHO).”

    “Selain itu juga ada berbagai Universitas ternama di Amerika Serikat yang bergerak dalam kesehatan global pula. Tentu patut di telusuri bagaimana peran para pakar ini di kesehatan global kelak, sehubungan Executive Order Presiden Trump di hari pertama kerjanya ini,” pungkasnya.

    (naf/kna)

  • Ada 860 Ribu Kasus TBC di Indonesia, Ini Daerah yang Catat Temuan Terbanyak

    Ada 860 Ribu Kasus TBC di Indonesia, Ini Daerah yang Catat Temuan Terbanyak

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan adanya kenaikan kasus TBC pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun 2023. Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Ina Agustina Isturini, MKM menuturkan hingga Januari 2025 ada 860.100 kasus TBC di Indonesia.

    Pada tahun sebelumnya, kasus TBC berjumlah sekitar 821.200. Meski ada peningkatan, dr Ina menuturkan jumlah tersebut masih di bawah estimasi temuan yaitu 1.092.000 kasus. dr Ani menuturkan pencatatan kasus tahun 2024 akan dilakukan sampai Februari 2025.

    “Jadi tahun 2024 angkanya sudah lebih tinggi daripada 2023, kita sampai 10 Januari ini sudah 79 persen (860.100) penemuan kasus dan dari 79 persen itu, sebesar 89 persen (751.574) mendapatkan pengobatan. Tapi kalau dibandingkan target, ini masih kita harus bekerja keras, karena berdasarkan target ini belum mencapai,” kata dr Ani dalam acara temu media, Selasa (21/1/2025).

    Untuk target pemberian obat, diharapkan pengobatan nantinya bisa didapatkan oleh seluruh pasien TBC, baik pasien sensitif obat dan resisten obat.

    Berdasarkan temuan kasus TBC tahun 2024, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah menjadi tiga provinsi dengan temuan kasus TBC terbanyak. Jawa Barat sebanyak 234.710 kasus, Jawa Timur 116.752 kasus, dan Jawa Tengah 107.685 kasus.

    Dari seluruh temuan kasus TBC di Indonesia, baru Banten dan Jawa Barat yang berhasil memenuhi target 90 persen temuan estimasi kasus. Untuk Provinsi Banten jumlah kasus yang ditemukan saat ini mencapai 50.391 kasus.

    “Jadi hingga data terakhir yang mencapai target (90 persen) temuan kasus itu baru Banten dan Jabar. Provinsi lain belum mencapai,” tandasnya.

    Indonesia pada saat ini menjadi negara kedua dengan kasus TBC di dunia. Pada tahun 2023, diperkirakan ada 1.090.000 temuan kasus dengan 125 ribu kasus kematian.

    Indonesia berada di bawah India dengan 2,8 juta temuan kasus dan 315 ribu kasus kematian. Sedangkan di bawah Indonesia ada China dengan 741 ribu temuan kasus dan 25 ribu kasus kematian.

    (avk/kna)

  • Bukti Jepang Terancam Punah gegara Banyak Warganya Ogah Nikah-Punya Anak

    Bukti Jepang Terancam Punah gegara Banyak Warganya Ogah Nikah-Punya Anak

    Jakarta

    Krisis populasi di Jepang terjadi karena angka kelahiran terus menurun setiap tahun. Seorang pakar demografi memperingatkan jika kelahiran terus anjlok, Jepang benar-benar akan punah.

    Profesor di Pusat Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Lansia Universitas Tohoku Hiroshi Yoshida mempredksi dalam 695 tahun yang akan datang, Jepang hanya akan memiliki satu anak jika angka kelahirannya terus berlanjut seperti saat ini. Dia memperkirakan pada 5 Januari 2720, negara itu hanya akan memiliki satu anak berusia 14 tahun ke bawah.

    Diberitakan The Japan Times, Yoshida, yang mengelola penghitung yang memberikan perkiraan tanggal kapan jumlah anak di negara itu berkurang menjadi hanya satu, telah merilis perkiraan setiap bulan April sejak 2012.

    Simulasi dihitung menggunakan tingkat penurunan populasi tahunan di antara anak-anak, berdasarkan perbedaan antara jumlah pada bulan April dari tahun sebelumnya dan jumlah saat ini.

    Ramalan terbaru, yang mengasumsikan tingkat penurunan tahunan 2,3 persen pada bulan April lalu, mempercepat waktu lebih dari 100 tahun dibandingkan dengan prediksi pada tahun 2023.

    Angka kelahiran Jepang terus mengalami penurunan yang cepat. Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan angka tersebut turun menjadi 1,20 pada tahun 2023, yang merupakan angka terendah yang pernah ada.

    Di Tokyo, angka tersebut, yang merujuk pada jumlah rata-rata anak yang diharapkan dimiliki perempuan seumur hidup mereka, mencapai 0,99, menjadikannya kota pertama di negara tersebut yang memiliki angka di bawah 1.

    Sebagian alasan penurunan tersebut diduga karena semakin sedikitnya orang yang menikah. Menurut laporan sensus tahun 2020, sekitar 28 persen pria berusia 50 tahun belum pernah menikah, sedangkan persentasenya sekitar 17,8 persenuntuk perempuan.

    Ini merupakan penurunan yang signifikan jika dibandingkan dengan masa lalu. Pada tahun 1990, angka tersebut serendah sekitar 5,6 persen untuk pria dan 4,3 persen untuk perempuan.

    Untuk mengatasi penurunan angka kelahiran di Jepang, para pembuat kebijakan tengah mempertimbangkan berbagai langkah untuk mendorong kaum muda menikah.

    Aplikasi kencan dipandang sebagai alat bantu yang mungkin bagi individu yang kesulitan bertemu calon pasangan, dengan survei tahun lalu menunjukkan bahwa 1 dari 4 pasangan di bawah usia 40 tahun yang menikah dalam setahun terakhir telah bertemu pasangan mereka melalui aplikasi tersebut.

    Tahun lalu, Pemerintah Metropolitan Tokyo bahkan meluncurkan aplikasi kencannya sendiri dengan harapan menawarkan warga Tokyo alat untuk membawa mereka selangkah lebih dekat menuju pernikahan.

    (kna/kna)