Category: Detik.com Kesehatan

  • Kisah Nahas Remaja 14 Tahun yang Harus Cuci Darah Akibat Gagal Ginjal

    Kisah Nahas Remaja 14 Tahun yang Harus Cuci Darah Akibat Gagal Ginjal

    Jakarta

    Usia remaja seharusnya bisa menjadi masa menikmati bangku sekolah dan bermain bersama teman sebaya. Namun, kenyataan pahit harus dihadapi Lilly, gadis berusia 14 tahun yang mengalami gagal ginjal.

    Dia pun harus menjalani cuci darah, sebuah kondisi serius yang umumnya dilakukan oleh orang yang lebih tua. Hal ini meningkatkan kesadaran bahwa penyakit gagal ginjal bisa dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa.

    Kisah Remaja 14 Tahun yang Cuci Darah Akibat Gagal Ginjal

    Lily didiagnosis mengidap gagal ginjal stadium akhir pada bulan Juni 2024. Dikutip dari laman BBC, dia dibawa ke ruang intensif pediatric (PICU) di Rumah Sakit Anak Bristol dalam keadaan koma buatan setelah mengidap gejala flu selama 3 bulan.

    Dia mengatakan agak lega saat diberi tahu akan dimasukkan dalam kondisi koma, sebab dirinya merasa sangat kesakitan.

    Sang ayah, Christopher, mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan mimpi terburuk bagi setiap orang tua. Hasil biopsi menunjukkan bahwa Lilly harus menjalani dialisis atau cuci darah dan membutuhkan transplantasi ginjal dari donor.

    Ketika itu, dia menjalani dialisis atau cuci darah beberapa kali dalam seminggu untuk mencegah kondisinya semakin memburuk. Lily diberitahu bahwa waktu tunggu transplantasi ginjalnya bisa memakan waktu hingga 10 tahun.

    Namun, pada bulan Maret 2025, ginjal yang cocok ditemukan. Saat ayahnya memberitahu kabar tersebut, dia mengira hal tersebut adalah mimpi.

    “Saya benar-benar terkejut karena saya tidak menyangka akan memakan waktu sesingkat itu,” kata Lilly.

    Lilly menerima ginjalnya dari donor yang telah meninggal. Setelah menjalani transplantasi ginjal, Lily bisa menjalani kehidupan semi-normal dengan satu ginjal. Bersama ayahnya, dia menyelesaikan berbagai tantangan.

    “Ayah saya mengikuti acara Brave The Shave, kamu juga mengadakan malam undan Bingo dan setelah transplantasi, kami melakukan abseiling,” katanya.

    Lily ingin membantu orang lain yang berada dalam situasi yang sama dengannya. Dia ingin memastikan anak-anak yang mengalami kondisi sama tidak merasa sendirian.

    “di kemudian hari dia ingin menjadi konsultan ginjal untuk membantu anak-anak yang berada dalam posisi yang sama,” kata Christhoper.

    Pada Agustus 2025, dia menggalang dana untuk mesin cuci darah baru untuk Rumah Sakit Anak Bristol. Dia juga mau meningkatkan kesadaran kondisi yang dialaminya di kalangan anak muda.

    (elk/kna)

  • Kasus Kanker Diprediksi Bakal Meroket, Apa Pemicunya?

    Kasus Kanker Diprediksi Bakal Meroket, Apa Pemicunya?

    Jakarta

    Sebuah peringatan serius muncul dari laporan terbaru Global Burden of Disease yang dipublikasikan jurnal The Lancet. Kasus kanker di seluruh dunia tercatat meningkat dua kali lipat sejak tahun 1990, dan diprediksi akan terus melonjak hingga menembus angka 30 juta kasus baru per tahun pada 2050.

    Data menunjukkan sebuah fakta yang mengejutkan. Sekitar 42 persen kematian akibat kanker (atau sekitar 4,3 juta jiwa pada tahun 2023) ternyata berkaitan erat dengan faktor risiko yang sebenarnya bisa kita ubah.

    Para peneliti mengidentifikasi 44 faktor risiko yang dapat dimodifikasi, dengan beberapa pemicu utama sebagai berikut:

    Penggunaan Tembakau: Masih menjadi musuh nomor satu, menyumbang 21 persen dari total kematian kanker global.Pola Makan Tidak Sehat dan Gula Darah Tinggi: Menjadi pemicu dominan di negara-negara dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.Obesitas dan Polusi Udara: Dua faktor yang terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup modern dan urbanisasi.Perilaku Seks Tidak Aman: Menjadi faktor risiko utama di negara-negara berpenghasilan rendah, terutama terkait penularan virus pemicu kanker seperti HPV.

    Kanker Payudara dan Paru-paru Mendominasi

    Hingga tahun 2023, kanker payudara tercatat sebagai jenis yang paling sering didiagnosis. Sementara itu, kanker saluran pernapasan (trakea, bronkus, dan paru-paru) tetap menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.

    Hal ini memperkuat bukti bahwa faktor lingkungan dan kebiasaan merokok masih memiliki dampak yang sangat mematikan.

    Dr Lisa Force dari University of Washington menekankan bahwa data ini harus menjadi alarm bagi pemerintah di seluruh dunia. Mengandalkan pengobatan saja tidak akan cukup untuk membendung “tsunami” kanker di masa depan.

    Walau pertumbuhan populasi dan penuaan menjadi faktor alami kenaikan kasus, gaya hidup tetap memegang peran krusial. Dengan memperbaiki pola makan, menjaga berat badan, dan menjauhi rokok, kita sebenarnya sedang membangun benteng pertahanan paling kuat untuk melawan ancaman kanker di masa depan.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Pria Push-up 100 Kali Tiap Hari selama Setahun, Begini Perubahan pada Tubuhnya

    Pria Push-up 100 Kali Tiap Hari selama Setahun, Begini Perubahan pada Tubuhnya

    Jakarta

    Seorang pria membagikan pengalamannya menjalani tantangan kebugaran dengan melakukan 100 kali push-up setiap hari selama satu tahun penuh. Rutinitas sederhana tersebut ternyata memberikan dampak nyata pada kondisi tubuhnya.

    Kisah ini muncul di tengah momen awal tahun, saat banyak orang menetapkan resolusi kesehatan dan kebugaran. Mulai dari mengikuti Dry January, Veganuary, hingga berkomitmen rutin berolahraga, Januari kerap dijadikan titik awal perubahan gaya hidup.

    Namun, tidak sedikit resolusi kebugaran yang berakhir hanya menjadi wacana. Berbeda dengan James Stewart Whyte, yang berhasil mempertahankan komitmennya.

    James menetapkan target sederhana, yakni melakukan 100 push-up setiap selama setahun, dan benar-benar menjalankan hingga tuntas. Pengalamannya ini ia bagikan melalui YouTube miliknya.

    Ia mengaku memilih push-up karena latihan ini tidak membutuhkan keanggotaan gym, perjalanan khusus, atau perlengkapan olahraga tertentu, sehingga mudah dilakukan secara konsisten.

    “Saya tidak meminta diri saya untuk melakukan sesuatu setiap hari yang harus saya jadwalkan dan persiapkan secara eksplisit sebelumnya,” terangnya, dikutip dari Unilad.

    Perubahan yang Dirasakan

    James menekankan bahwa tujuan utamanya bukanlah perubahan fisik instan, melainkan membangun kebiasaan jangka panjang. Karena itu, ia tidak terkejut saat hasilnya tidak langsung terlihat.

    “Kemajuan yang saya capai lambat,” kata James.

    “Setelah beberapa bulan pertama tahun ini, saya melihat perubahan yang hampir tidak terlihat, kemajuan mulai terlihat memasuki musim panas,” sambungnya.

    Seiring dengan kebiasaannya itu, orang lain mulai memperhatikan perkembangan James. Ototnya terlihat lebih kuat dan latihan harian menjadi terasa lebih muda.

    Meski tidak menghasilkan perubahan fisik yang ekstrem dalam waktu singkat, dampak rutinitas tersebut tetap terasa signifikan. James menilai hasilnya justru menguatkan pentingnya konsistensi.

    “Di pertengahan tahun saya memeriksa kemajuan yang terlihat, meskipun hasilnya sederhana, tetapi ada,” beber James.

    “Dan itu membuktikan bahwa setelah Anda membangun kebiasaan baru, Anda harus memberi waktu pada kebiasaan itu untuk bekerja sebelum Anda melihat hasilnya,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Video: Jumlah Kasus Keracunan MBG Alami Penurunan di Akhir 2025

    Video: Jumlah Kasus Keracunan MBG Alami Penurunan di Akhir 2025

    Video: Jumlah Kasus Keracunan MBG Alami Penurunan di Akhir 2025

  • Belajar dari Kasus Love Scamming Sleman, Begini Biar Tak Terjebak ‘Cinta Online’

    Belajar dari Kasus Love Scamming Sleman, Begini Biar Tak Terjebak ‘Cinta Online’

    Jakarta

    Polresta Yogyakarta menetapkan enam orang menjadi tersangka pada perusahaan sindikat love scamming di Sleman. Perusahaan itu merupakan penyedia jasa outsourcing untuk sindikat scamming yang berpusat di China.

    Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian menjelaskan para tersangka bekerja menggunakan aplikasi kencan atau dating apps untuk merayu korban yang ujung-ujungnya menjual konten pornografi dengan pembayaran sistem koin.

    Para pekerja disebut telah disediakan perangkat dengan aplikasi bernama WOW. Aplikasi ini memiliki server di China dan didatangkan juga dari China. Para pekerja menggaet korban yang rata-rata dari Amerika, Inggris, Kanada, dan Australia.

    Pentingnya Self-Awareness

    Psikolog klinis Arnoldo Lukito mengatakan setiap orang sebaiknya memperkuat self-awareness atau kesadaran diri agar tidak mudah terjebak dalam segala bentuk penipuan, termasuk love scamming.

    “Namanya kan love scamming, itu kan sudah dirancang sedemikian rupa untuk menipu atau mengecoh mengelabui seseorang,” kata Arnoldo kepada detikcom beberapa waktu lalu.

    “Jadi dia sudah dilakukan dengan sangat terstruktur dan sangat sistematis biasanya,” sambungnya.

    Arnoldo menambahkan pelaku love scam biasanya suka mengontrol dalam sebuah ‘hubungan’ online tersebut seperti arah pembicaraan dan lain sebagainya.

    Ini yang menjadi celah bagi siapapun yang ingin membuktikan apakah dirinya sedang dalam lingkaran love scamming atau tidak.

    “Kalau itu bukan scam, biasanya ketika di-confront, bahkan sesimpel bertanya ‘kok kita kayaknya cepat sekali sih? Kan kita belum cukup kenal, yuk kenalan dulu, ketemu orang tuamu’ misalnya,” katanya.

    “Kalau itu scam, kadang nggak suka tuh. Dan reaksinya bisa sangat terlihat mungkin marah, ‘kok kamu nggak percaya sama saya?’ gitu ya,” tutupnya.

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/kna)

  • Video Respons BGN soal Viral SPPG di Sragen Dibangun Dekat Kandang Babi

    Video Respons BGN soal Viral SPPG di Sragen Dibangun Dekat Kandang Babi

    Jakarta

    Ramai di media sosial Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Dukuh Kedungbanteng, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dibangun berdekatan dengan peternakan babi. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut pihaknya masih berusaha menyelesaikan polemik ini.

    “(Mediasinya) sedang dilakukan, tapi yang jelas mitra pada saat mengajukan ke kami itu sudah membuat pernyataan bahwa lokasi tersebut tidak berdekatan dengan tempat sampah dan juga kandang hewan,” jelas Kepala BGN Dadan Hindayana saat ditemui pada Kamis (8/1).

    “Jadi ini masih dalam tahap pengajuan, belum operasional. Kalau ternyata kandang hewannya tidak pindah, dipastikan SPPG itu tidak akan beroperasi,” tambahnya.

    Klik di sini untuk video lainnya!

    (/)

    sppg bgn mbg makan bergizi gratis sppg sragen sragen

  • Benarkah ‘Super Flu’ H3N2 Mengancam? Ini Penjelasan Wamenkes Soal Temuan Kasusnya

    Benarkah ‘Super Flu’ H3N2 Mengancam? Ini Penjelasan Wamenkes Soal Temuan Kasusnya

    Jakarta

    Indonesia mengidentifikasi 62 kasus ‘super flu’ atau influenza A (H3N2) hingga akhir Desember 2025. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr Benjamin Paulus Octavianus menyebut, angka tersebut kemungkinan belum menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.

    “Super flu itu H3N2. Itu sudah ada kasusnya di Indonesia, tapi sangat sedikit dan cenderung turun. Flu itu kan setiap tahun memang ada musimnya, vaksinnya juga ganti tiap tahun, jadi bukan sesuatu yang luar biasa, biasa saja,” kata Benjamin saat ditemui di SMKN 1 Jakarta, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

    Menurut dia, bukan tidak mungkin jumlah kasus di masyarakat lebih banyak dari 62 yang tercatat. Namun, angka itu merupakan jumlah yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.

    “Kemungkinan lebih dari 62 kasus, yang diperiksa dan ditemukan baru 62,” ujarnya.

    Meski begitu, Benjamin menegaskan tren kasus flu saat ini justru menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Ia menyebut, dalam dua bulan terakhir, terutama dua pekan terakhir, jumlah kasus flu terus merosot.

    “Harus diingat, hari ini kasus flu sudah turun jauh. Dua bulan, dua minggu terakhir sudah makin turun. Jadi flu itu selalu memuncak di awal musim hujan,” jelasnya.

    Ia menerangkan, pola musiman flu di Indonesia relatif konsisten setiap tahun. Biasanya, peningkatan kasus mulai terlihat pada Agustus dan September, lalu naik lagi pada Oktober, sebelum perlahan menurun memasuki akhir tahun hingga awal tahun berikutnya.

    “Perhatikan saja, Agustus, September naik, Oktober naik. Sekarang kan Desember ke Januari mulai reda. Lihat saja orang flu sekarang kan berkurang jauh,” kata Benjamin.

    Karena itu, ia meminta masyarakat tidak panik berlebihan menyikapi ‘super flu’. Pemerintah, kata dia, tetap melakukan pemantauan dan surveilans, tetapi kondisi saat ini masih dalam kendali dan tidak menunjukkan lonjakan kasus yang mengkhawatirkan.

    (naf/kna)

  • Kemenkes Belum Wajibkan Vaksinasi Lawan ‘Super Flu’, Ini Alasannya

    Kemenkes Belum Wajibkan Vaksinasi Lawan ‘Super Flu’, Ini Alasannya

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) menegaskan saat ini belum mewajibkan adanya vaksinasi massal untuk melawan Influenza A H3N2 subclade K atau yang populer dijuluki ‘super flu’.

    “Vaksin itu boleh-boleh saja, tapi sifatnya opsional. Jadi nggak wajib, boleh untuk kelompok rentan lansia, anak-anak, tenaga kesehatan gitu ya,” kata Kepala Biro Komunikasi Kemenkes Aji Muhawarman, saat ditemui di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/1/2026).

    Menurut Kemenkes saat ini yang terpenting adalah bagaimana menjaga imunitas tubuh menjadi lebih baik, sehingga subclade K tersebut bisa dikalahkan.

    “Menurut kami, pertahanan terbaik adalah imunitas tubuh yang harus diperkuat. Jadi anak-anak atau siapapun itu, dewasa, lansia, perkuatlah pertahanan tubuh dengan imunitas tubuh yang baik. Makan bergizi dan istirahat cukup,” kata Aji.

    Namun, untuk mereka yang mengalami gejala-gejala seperti flu, yakni batuk-batuk, bersin, dan sebagainya untuk sebisa mungkin membatasi bersosialisasi.

    “Stay dulu di rumah, pakai masker, terapkan etiket batuk bersin segala macam. Kalau sudah berat sakitnya, lebih dari 2-3 hari, segera saja ke dokter atau fasilitas kesehatan,” tegas Aji.

    Masyarakat Jangan Panik

    Senada, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk tidak panik dalam menghadapi serangan super flu saat ini.

    “Dia penularannya cepet, tapi kematiannya sangat rendah. Dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin. Di Indonesia kita juga sudah identifikasi, terkahir jumlahnya puluhan. Nggak parah sih, artinya bisa dengan pengobatan biasa,” kata Menkes Budi.

    “Tapi nggak usah panik, karena sama seperti flu biasa bukan seperti COVID-19 yang dulu-dulu,” tutupnya.

    (dpy/up)

  • Serangan Jantung Mulai Hantui Usia Muda, Wanita Umur 24 Ini Mengalaminya

    Serangan Jantung Mulai Hantui Usia Muda, Wanita Umur 24 Ini Mengalaminya

    Jakarta

    Seorang influencer di Inggris harus menjalani transplantasi jantung akibat masalah kesehatan yang dialaminya. Wanita bernama Faye Greenwood ini sebelumnya mengalami serangan jantung saat berlibur di Paris, Prancis.

    Dalam unggahan di media sosialnya, wanita 24 tahun itu mengungkapkan petugas medis awalnya mengira dirinya hanya mabuk. Sesampainya di rumah sakit, ia harus menahan rasa sakit yang hebat sambil menunggu penanganan selama berjam-jam.

    “Aku sudah tidak tahan lagi, jadi aku pergi dan berpikir mungkin terlalu berlebihan dan pulang untuk mencoba tidur. Bangun dengan perasaan yang lebih buruk hingga muntah darah,” tulis Greenwood, dikutip dari People.

    Tunangannya, Ailbhe Lower, kembali memanggil bantuan hingga Greenwood dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi. Dalam sebuah wawancara, Greenwood tidak pernah membayangkan kejadian serius tersebut bisa menimpanya.

    “Aku tidak percaya bahwa sesuatu yang seserius itu akan terjadi,” beber Greenwood.

    Gejala yang Dialami Greenwood

    Ia menceritakan gejala yang dialaminya sebelum kondisi memburuk. Greenwood mengalami nyeri dada dan muntah.

    Lower mengatakan bahwa penanganan Greenwood sempat terhambat. Ia menyebut adanya kendala bahasa serta anggapan tenaga medis yang tidak langsung mencurigai serangan jantung karena Greenwood masih muda.

    Akibatnya, dibutuhkan waktu sekitar enam setengah jam sebelum Greenwood benar-benar dirawat. Sebelumnya, ia pernah didiagnosis mengidap kardiomiopati dilatasi.

    Namun, menurutnya kondisi tersebut belum tentu menjadi penyebab langsung serangan jantung yang dialaminya tahun lalu. Kardiomiopati dilatasi adalah kondisi yang menyebabkan jaringan ruang pemompaan utama jantung mengembang dan menipis, yang membuatnya tidak mampu memompa sekuat yang seharusnya.

    Greenwood kembali ke Inggris dan berhasil mendapatkan donor jantung. Ia menjalani transplantasi dan keluar dari rumah sakit hanya dalam waktu empat bulan.

    “Sungguh masa yang gila! Sudah lima bulan sejak serangan jantung saya dan beberapa bulan sejak transplantasi jantung saya. Ya, saya memiliki jantung baru yang indah, saya benar-benar tidak percaya,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Peneliti Jepang Teliti Kemungkinan Manusia Bisa Bernapas Lewat Anus

    Peneliti Jepang Teliti Kemungkinan Manusia Bisa Bernapas Lewat Anus

    Jakarta

    Seorang peneliti asal Jepang tengah meneliti kemungkinan manusia dapat menyerap oksigen melalui saluran pencernaan, tepatnya lewat anus. Penelitian ini dipimpin oleh Takanori Takebe, seorang dokter sekaligus ahli biologi sel punca.

    Dalam kesehariannya, Takebe dikenal sebagai peneliti yang mengembangkan organ hati buatan di laboratorium untuk menangani gagal organ. Namun, ketertarikannya pada konsep “pernapasan alternatif” ini bermula beberapa tahun lalu, ketika ayahnya terserang pneumonia dan harus menggunakan ventilator.

    “Saya benar-benar terkejut betapa invasifnya prosedur ini,” kata Takabe, dari dari Cincinnati Children’s Hospital Medical Center di Ohio dan Osaka University di Jepang, dikutip dari Science News.

    Kekhawatiran itu semakin besar karena ayahnya sebelumnya pernah menjalani pengangkatan sebagian paru-paru akibat infeksi. Kondisi tersebut membuat Takebe bertanya-tanya apakah ada cara lain untuk membantu pasien mendapatkan oksigen tanpa sepenuhnya bergantung pada paru-paru.

    Inspirasi muncul ketika seorang mahasiswa pascasarjana membawa sebuah buku ke laboratorium Takebe yang menjelaskan bagaimana berbagai hewan mendapatkan oksigen melalui kulit, alat kelamin, atau usus mereka. Beberapa jenis ikan air tawar, seperti loach, diketahui dapat menelan udara untuk bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah.

    Dengan latar belakang gastroenterologi, Takebe memahami bahwa usus manusia kaya akan pembuluh darah. Hal ini pula yang memungkinkan obat diberikan lewat enema dan langsung masuk ke aliran darah. Dari situ, ia menduga oksigen mungkin juga dapat diserap melalui jalur yang sama.

    Takebe dan timnya mengembangkan perawatan mirip enema yang mengirimkan cairan bernama perfluorodecalin ke dalam rektum. Cairan ini, yang sudah digunakan dalam beberapa prosedur medis, dapat diisi dengan oksigen. Saat melepaskan oksigen ke dalam tubuh, ruang dalam struktur kimia cairan tersebut terbuka untuk menyerap karbon dioksida yang ‘dihembuskan’.

    Dalam uji coba pada tikus dan babi, enema berisi cairan kaya oksigen ini membantu hewan bertahan hidup dalam kondisi kekurangan oksigen. Pada babi, setiap dosis 400 mililiter mampu meningkatkan kadar oksigen darah selama sekitar 19 menit. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Med pada 2021, dan uji lanjutan pada 2023 menunjukkan efeknya bisa bertahan hingga sekitar 30 menit.

    Takebe mengingat dengan jelas momen ketika darah babi yang awalnya tampak gelap berubah menjadi merah cerah setelah terapi. Perubahan itu menjadi tanda kuat bahwa ide yang terdengar tak lazim ini mungkin memang bekerja.

    “Itu adalah momen pencerahan saya,” katanya lagi.

    Pada 2024, penelitian tersebut meraih Ig Nobel Prize, penghargaan yang diberikan untuk riset yang awalnya mengundang tawa, namun kemudian memicu pemikiran serius.

    “Terima kasih banyak karena telah percaya pada potensi anus,” kata Takebe pada upacara penghargaan sambil mengenakan topi berbentuk ikan loach.

    Tahap berikutnya, tim peneliti menguji keamanan metode ini pada manusia. Sebanyak 27 pria sehat di Jepang diberikan perfluorodecalin tanpa oksigen melalui rektum dan diminta menahannya selama satu jam. Dosis terendah adalah 25 mililiter, sementara dosis tertinggi mencapai 1,5 liter, batas maksimum cairan kontras yang diizinkan untuk pemeriksaan saluran cerna.

    Empat dari enam peserta yang menerima dosis 1,5 liter terpaksa menghentikan prosedur lebih awal karena nyeri perut. Namun, sebagian besar peserta yang menerima hingga 1 liter hanya mengalami kembung dan ketidaknyamanan ringan. Temuan ini dilaporkan dalam edisi 12 Desember jurnal Med. Penelitian tersebut didanai oleh EVA Therapeutics, perusahaan rintisan yang ikut didirikan Takebe.

    Uji klinis selanjutnya akan menilai apakah perfluorodecalin yang diperkaya oksigen benar-benar mampu meningkatkan kadar oksigen darah manusia. Meski demikian, pendekatan ini menuai respons beragam dari kalangan medis.

    Salah satu pihak yang skeptis adalah John Laffey, dokter dan peneliti gangguan pernapasan akut dari University of Galway, Irlandia. Menurutnya, upaya seharusnya difokuskan pada pengobatan yang mendukung paru-paru daripada melibatkan bagian tubuh lain untuk melakukan pekerjaan paru-paru.

    “Paru-paru, bahkan paru-paru yang cedera, akan selalu melakukan pertukaran gas jauh lebih baik daripada organ lain mana pun, karena memang itulah fungsinya.”

    Halaman 2 dari 2

    (suc/kna)