Category: Detik.com Kesehatan

  • Jalan Cepat Vs Jalan Lambat, Mana yang Lebih Efektif Bakar Lemak-Turunkan BB?

    Jalan Cepat Vs Jalan Lambat, Mana yang Lebih Efektif Bakar Lemak-Turunkan BB?

    Jakarta

    Jalan kaki adalah salah satu bentuk olahraga yang populer dan mudah diakses semua orang. Tak jarang, jalan kaki dipilih sebagai olahraga atau latihan untuk menurunkan berat badan.

    Saat berbicara tentang penurunan berat badan, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas pembakaran kalori. Salah satunya yakni kecepatan berjalan. Baik berjalan cepat maupun berjalan lambat, sama-sama membantu pembakaran kalori dalam tubuh. Tetapi, banyak yang bertanya-tanya, mana yang lebih baik antara jalan cepat atau lambat untuk membakar kalori?

    Kalori yang dibakar saat jalan kaki berkisar antara 5,60 hingga 7,00 kalori per menit. Artinya, dalam waktu 30 menit, seseorang bisa membakar sekitar 168 hingga 210 kalori, tergantung pada kecepatan dan intensitas jalan kaki.

    Dikutip dari Times of India, jalan cepat dan jalan lambat tentunya memiliki manfaat uniknya masing-masing, sehingga untuk tujuan menurunkan berat badan haruslah disesuaikan dengan kemampuan setiap orang.

    Berikut adalah manfaat dari jalan kaki cepat dan jalan kaki lambat terkait pembakaran kalori.

    Manfaat Jalan Kaki Cepat

    Berjalan kaki cepat merupakan aktivitas fisik dengan intensitas sedang. Olahraga dengan intensitas sedang biasanya ditandai dengan seseorang yang berkeringat dan detak jantung meningkat.

    Dalam talk test, olahraga dengan intensitas ringan juga bisa ditandai dengan seseorang yang yang dapat berbicara, namun tidak bisa dapat bernyanyi. Berikut manfaat dari jalan kaki cepat.

    Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

    Manfaat dari jalan kaki cepat antara lain menurunkan risiko penyakit jantung karena dapat meningkatkan sirkulasi dan mengurangi tekanan darah, serta kolesterol.

    Sebuah studi dari Harvard TH Chan School of Public Health menemukan bahwa berjalan cepat dapat membantu mengelola berat badan secara lebih efektif. Berjalan cepat dapat membakar lebih banyak kalori daripada jalan lambat.

    Saat dilakukan dengan teratur, jalan kaki cepat dapat meningkatkan metabolisme, sehingga membantu mengurangi berat badan. Untuk mendapatkannya, disarankan melakukan jalan cepat selama 30 menit setiap hari.

    Berjalan cepat juga dapat membantu menguatkan otot-otot tubuh bagian bawah. Selain itu, aktivitas fisik ini juga dapat meningkatkan stamina tubuh secara keseluruhan.

    Manfaat Jalan Kaki Lambat

    Durasi dalam berjalan kaki ternyata juga dapat memberikan manfaat kesehatan yang berbeda. Berjalan kaki sekitar 1-2 jam dapat meningkatkan fungsi paru-paru.

    Meningkatkan Kesehatan Jantung

    Sama seperti jalan kaki cepat, jalan kaki lambat atau jauh juga dapat meningkatkan kesehatan sistem kardiovaskular. Ini dapat memperkuat otot jantung dan meningkatkan sirkulasi darah.

    Meningkatkan Fungsi Paru-paru

    Berjalan kaki juga dapat meningkatkan fungsi paru-paru dalam menyerap oksigen. Saat aktif secara fisik, jantung dan paru-paru akan bekerja lebih keras untuk memasok oksigen tambahan yang dibutuhkan otot.

    Meningkatkan Kolesterol Baik

    Berjalan jauh dapat membantu tubuh untuk meningkatkan kadar kolesterol baik atau high-density lipoprotein (HDL). Para peneliti dari Duke University Medical Center menemukan bahwa olahraga dapat meningkatkan jumlah dan ukuran partikel yang membawa kolesterol ke seluruh tubuh.

    Dibandingkan dengan waktu berjalan, ternyata jarak berjalan kaki pada wanita dikaitkan dengan pengurangan 1,7 kali lipat lebih besar pada obesitas. Para peneliti jalan kaki untuk jarak yang lebih jauh mungkin menawarkan pengeluaran kalori yang lebih banyak.

    Terkait penurunan berat badan yang berkelanjutan, penting untuk berjalan lebih jauh atau lambat. Di sisi lain, untuk mendapatkan manfaat keseluruhan dalam berjalan, cobalah untuk mempercepat langkah.

    Berjalan jauh dapat menyebabkan pengurangan yang lebih signifikan pada berat badan yang tidak sehat, terutama bagi wanita.

    (dpy/suc)

  • Melakukan Satu Kebiasaan Ini Tiap Minggu Bisa Cegah Penuaan Biologis, Mau Coba?

    Melakukan Satu Kebiasaan Ini Tiap Minggu Bisa Cegah Penuaan Biologis, Mau Coba?

    Jakarta

    Sebuah penelitian terbaru menemukan aktivitas mingguan yang dapat membantu seseorang hidup lebih lama dan sehat.

    Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science & Medicine edisi Januari 2024 itu menemukan bahwa menjadi sukarelawan, bahkan hanya satu jam dalam seminggu, dikaitkan dengan penuaan biologis yang lebih lambat, yang mencerminkan seberapa tua sel dan jaringan terlihat dibandingkan dengan usia yang sebenarnya.

    Penelitian tersebut menganalisis data yang dilaporkan sendiri dari 2.605 orang Amerika yang berusia 62 tahun ke atas. Mereka meneliti seberapa sering para partisipan menjadi relawan, mencatat apakah mereka bekerja atau pensiun, dan menentukan usia biologis mereka menggunakan alat canggih untuk mengukur penuaan pada tingkat seluler.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang menjadi sukarelawan selama satu hingga empat jam per minggu mengalami penuaan biologis yang lebih lambat dibandingkan dengan mereka yang tidak menjadi sukarelawan sama sekali.

    Para pensiunan tampaknya memperoleh manfaat paling banyak, dengan kaitan yang lebih kuat antara kesukarelaan dan perlambatan penuaan dibandingkan dengan anggota angkatan kerja saat ini, bahkan dengan hanya satu jam kesukarelaan seminggu.

    Selain itu, semakin sering seseorang menjadi relawan, semakin terasa dampaknya terhadap kesehatan. Menjadi relawan lebih dari empat jam seminggu dikaitkan dengan penurunan terbesar dalam percepatan usia biologis, terlepas dari status pekerjaan seseorang.

    Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa menjadi sukarelawan dapat mengurangi angka kematian di kalangan orang lanjut usia.

    Sebuah studi tahun 2023 menggunakan metode serupa untuk melihat dampak kesukarelaan pada penuaan biologis, dan menemukan bahwa kesukarelaan dikaitkan dengan penuaan biologis yang lebih lambat.

    Studi baru menemukan perbedaan tambahan antara individu yang sudah pensiun dan yang bekerja.

    Meski demikian, penelitian baru ini bukannya tanpa keterbatasan. “Menjadi relawan bukanlah tindakan yang berdiri sendiri,” kata Sajad Zalzala, MD, dokter spesialis umur panjang dan direktur medis AgelessRx, kepada Health, dikutip Minggu (25/1/2025).

    “Untuk menjadi relawan, Anda harus dalam kondisi kesehatan yang baik. Anda harus optimis terhadap sesama. Anda harus memiliki cukup waktu luang dan penghasilan,” kata Zalzala. “Para peneliti berusaha mengimbangi semua variabel lain yang diketahui dapat meningkatkan kesehatan, tetapi sangat sulit untuk melakukannya.”

    Mengapa Menjadi Sukarelawan dapat Memperlambat Penuaan Biologis?

    Para ahli menyimpulkan hal ini berkaitan dengan kombinasi antara manfaat fisik, sosial, dan psikologis menjadi sukarelawan.

    Pertama, menjadi sukarelawan seringkali melibatkan aktivitas fisik, seperti berjalan kaki, yang berkontribusi pada penuaan yang lebih sehat. Koneksi sosial juga memainkan peran penting.

    “Kita hidup dalam masyarakat yang cenderung tidak terhubung sebagaimana mestinya. Menjadi sukarelawan dapat menyediakan jaringan sosial tersebut,” ujar dokter umum sekaligus direktur medis AgelessRx, Sajad Zalzala, MD.

    Peneliti juga menemukan menjadi sukarelawan dapat menciptakan rasa memiliki tujuan, meningkatkan kesehatan mental, dan meringankan segala bentuk kehilangan, seperti pasangan atau orang tua, seiring bertambahnya usia.

    “Menjadi sukarelawan dapat memberikan sedikit dorongan psikologis dan membuat seseorang merasa seperti mereka tengah berusaha melakukan sesuatu untuk membuat dunia menjadi lebih baik,” pungkas Zalzala.

    (ath/suc)

  • Normalkah Jika Berhubungan Intim Setiap Hari? Ini Penjelasannya

    Normalkah Jika Berhubungan Intim Setiap Hari? Ini Penjelasannya

    Jakarta

    Hubungan seksual bagi pasangan suami istri diyakini sebagai salah satu ‘obat’ mujarab untuk melepaskan stres. Hal ini karena salah satu manfaat dari bercinta adalah membuat tubuh lebih rileks dan meredakan stres.

    Disebut-sebut frekuensi normal dari berhubungan seks yakni sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu. Lantas bagaimana jika berhubungan intim setiap hari?

    Dikutip MedicineNet dan Everyday Health, berhubungan seksual setiap hari merupakan hal yang wajar. Hal ini karena seks sendiri merupakan aktivitas menyehatkan. Namun, bercinta setiap hari bukanlah sesuatu yang umum dalam pasangan.

    Menurut survei tahun 2017, hanya sekitar 4 persen orang dewasa yang mengatakan mereka berhubungan seks setiap hari. Biasanya, frekuensi seks akan lebih sering pada saat pasangan masih merasakan fase bulan madu.

    Hal ini juga terjadi ketika pasangan berencana untuk memiliki bayi dan ingin meningkatkan peluang mereka untuk hamil. Lalu apa saja manfaat dari rutin berhubungan seksual?

    1. Mengurangi Stres

    Seks dan orgasme terbukti dapat mengurangi stres dan kecemasan pada manusia. Hal ini karena seks dapat mengurangi hormon stres kortisol dan adrenalin. Seks juga dapat melepaskan endorfin dan oksitosin, yang memiliki efek menenangkan dan menghilangkan stres.

    2. Tidur Lebih Nyenyak

    Sebuah penelitian tahun 2019 menemukan bahwa melakukan hubungan seks dengan pasangan sebelum tidur dapat membantu seseorang tertidur lebih cepat dan lebih nyenyak.

    3. Meredakan Nyeri

    Endorfin dan zat kimia lain yang dilepaskan selama gairah dan orgasme adalah pereda nyeri alami yang bekerja seperti opioid. Hal ini dapat menjelaskan mengapa seks dan orgasme memberikan kelegaan cepat dari kram menstruasi, migrain , dan sakit kepala bagi sebagian orang.

    4. Meningkatkan Kesehatan Jantung

    Sebuah studi berbasis populasi longitudinal yang diterbitkan dalam American Journal of Cardiology menemukan pria yang berhubungan seks setidaknya dua kali seminggu memiliki risiko lebih kecil terkena penyakit kardiovaskular seperti stroke atau serangan jantung dibandingkan mereka yang berhubungan seks sebulan sekali atau kurang.

    5. Mengurangi Risiko Kanker Prostat

    Sebuah studi yang melibatkan 32.000 pria di Amerika Serikat menemukan fakta bahwa mereka yang mengalami ejakulasi lebih dari 21 kali per bulan, dibandingkan mereka yang melakukannya hanya empat sampai tujuh kali per bulan memiliki kemungkinan 20 persen lebih kecil terkena kanker prostat.

    (dpy/suc)

  • Payudara Kiri Wanita Ini Membesar Secara Tak Normal, Beratnya Lebih dari 3 Kg

    Payudara Kiri Wanita Ini Membesar Secara Tak Normal, Beratnya Lebih dari 3 Kg

    Jakarta

    Seorang wanita di Campania, Italia, yang tidak disebutkan namanya mengalami kondisi langka ketika payudara kirinya membesar secara tidak abnormal. Ukuran payudara kiri wanita berusia 40 tahun itu membesar hingga empat kali lipat dan seberat lebih dari 7 pon atau sekitar 3 kg. Kok bisa?

    Setelah diperiksa lebih lanjut, wanita tersebut ternyata mengalami gigantomastia unilateral, kondisi saat salah satu payudara yang tumbuh secara tidak normal. Ketika melihat kejadian tersebut, dokter menuturkan apa yang dialami pasien itu menjadi salah satu kasus ekstrem.

    “Salah satu contoh gigantomastia paling ekstrem yang pernah kami temui dalam pengalaman bedah kami,” kata tim dokter dikutip dari Daily Mail, Selasa (21/1/2025).

    Hingga saat ini, penyebab secara pasti mengapa pasien mengalami hal itu belum diketahui. Dugaan yang paling mendekati adalah perawatan kesuburan yang dilakukan pasien sebelum kondisi tersebut terjadi.

    Wanita itu sempat melakukan perawatan hormon untuk membantunya bisa hamil.

    Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam Journal of Surgery Case Reports, payudara tersebut tumbuh secara bertahap selama 3 tahun pasca kehamilan. Ia mengalami sakit punggung parah, sulit berjalan, serta tekanan psikologis akibat kondisi tersebut.

    Dari serangkaian tes yang dilakukan, kondisi yang dialami pasien tersebut berkaitan dengan hiperplasia duktal difus, sebuah kondisi ketika sel-sel dalam saluran susu payudara tumbuh pada tingkat tidak normal. Meski tidak bersifat kanker, orang dengan kondisi ini memiliki risiko kanker payudara yang lebih besar.

    Wanita tersebut akhirnya menjalani operasi pengangkatan jaringan payudara sebanyak 3 kg. Hal itu dilakukan untuk meredakan gejala yang dialami pasien dan memberikan bentuk yang seimbang.

    Setahun berlalu, pasien tersebut merasa puas dengan operasi yang dilakukan. Kondisinya sudah membaik dan bisa beraktivitas dengan sediakala.

    Para peneliti masih meneliti apa penyebab pasti gigantomastia, baik pada satu payudara atau keduanya. Ketidakseimbangan hormon, reaksi obat, kondisi autoimun, dan faktor genetika diyakini menjadi beberapa faktor terkuat yang memicu kondisi tersebut.

    (avk/suc)

  • Terungkap! Ini Sederet Makanan yang Bikin Umur Panjang hingga 100 Menurut Centenarian

    Terungkap! Ini Sederet Makanan yang Bikin Umur Panjang hingga 100 Menurut Centenarian

    Jakarta

    Pola makan memiliki peran yang cukup vital terhadap kesehatan manusia, khususnya menjaga kesempatan untuk mendapatkan umur yang panjang. Bahkan, para centenarian atau sebutan untuk seseorang yang berusia 100 tahun bahkan lebih memiliki makanan dan pola makannya sendiri, yang bisa ditiru oleh banyak orang.

    Dikutip dari CNBC Make It, mereka yang berumur panjang memiliki kesamaan dalam hal pola makan, yakni memperbanyak mengonsumsi makanan berbahan dasar tumbuhan, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan kacang-kacangan.

    Berikut adalah makanan yang selalu dimakan empat orang berusia 100 tahun ke atas, serta makanan yang tidak pernah mereka makan.

    1. Elizabeth Francis

    Elizabeth Francis menjadi orang tertua di Amerika Serikat yang berhasil menyentuh usia 115 tahun. Ketika ditanya soal makanan, dirinya mengaku sebenarnya tidak terlalu memusingkan pilihan makanan dan mengonsumsi makanan apapun yang ada.

    Demi menjaga kesehatannya, Elizabeth selalu menanam makanannya sendiri di halaman belakang rumah. Sang cucu yang bernama Ethel Harrison juga menambahkan bahwa neneknya itu tidak pernah merokok ataupun minum alkohol.

    “Dia makan semuanya. Tapi Francis selalu menanam sayuran di halaman belakang. Saya tidak pernah melihatnya pergi ke restoran cepat saji dan semua tempat yang saya suka kunjungi,” kata Harrison.

    2. Deborah Szekely

    Deborah Szekely merupakan seorang nenek berusia 102 tahun yang memiliki julukan ‘Godmother of Wellness’. Deborah mengaku, pola makan berbasis tanaman menjadi diet yang dirinya jalani sejak kecil.

    Di pagi hari, Deborah biasa mengonsumsi yogurt, pisang, dan biji-bijian utuh. Ketika makan siang, dirinya mengonsumsi salad di rumah atau makan siang di restoran. Sedangkan, ketika malam, Deborah biasanya akan mengonsumsi hidangan dari ikan hingga kentang panggang.

    Pola makan yang dijalani Deborah sangat mirip dengan diet mediterania. Pola makan tersebut mencakup ikan, biji-bijian utuh, buah, serta sayuran.

    “Saya seorang pescatarian dan saya sebenarnya beruntung tidak pernah makan daging karena orang tua saya,” ucapnya.

    3. Shirley Hodes

    Melalui sebuah perbincangan dengan CNBC Make It, Shirley mengaku membatasi lemak hewani yang dikonsumsinya. Nenek berusia 107 tahun itu hanya mengonsumsi susu skim.

    Shirley mengaku senang mengonsumsi berbagai jenis makanan. Terpenting menurutnya adalah menjaga asupan gula agar tidak berlebihan. Dia juga mengikuti pedoman dalam kursus nutrisi ‘Palang Merah’ yang diikutinya selama Perang Dunia Kedua.

    “Saya memang suka makan makanan yang seimbang tanpa terlalu banyak makanan manis,” ucap Hodes.

    4. Daisy McFadden

    Pada tahun 2010 ketika Daisy berusia 99 tahun, dirinya pernah mengungkapkan berbagai jenis makanan yang dikonsumsi setiap hari. Makanan tersebut meliputi buah, sayur, hingga protein.

    Ketika sarapan, Daisy biasanya mengonsumsi oatmeal, jus cranberry, serta buah pisang. Sedangkan ketika makan siang dirinya biasanya mengonsumsi salad dengan isi bit, timun, tomat, ayam atau ikan sebagai tambahan protein.

    Daging tanpa lemak dan sayuran kukus menjadi makanan favoritnya ketika makan malam. Untuk hidangan pencuci mulut, Daisy hanya mengonsumsi buah segar.

    “Saya tidak minum soda sama sekali, dan tidak pernah,” ujar Daisy pada saat itu.

    (dpy/suc)

  • Pantas Body Goals, Ternyata Begini Rahasia Tubuh Langsing ala Warga Jepang

    Pantas Body Goals, Ternyata Begini Rahasia Tubuh Langsing ala Warga Jepang

    Jakarta

    Dalam hal menjaga berat badan dan tetap bugar, orang Jepang tampaknya menjadi salah satu yang bisa dikatakan cukup sukses. Masyarakat Jepang sendiri ternyata memiliki ‘budaya’ atau kebiasaan yang dapat membantu mereka tidak menjadi gemuk.

    Dikutip dari Times of India, budaya ini mendukung gaya hidup seimbang. Bukan hanya tentang makanan, tetapi bagaimana juga mereka menjalani hidup. Berikut adalah sederet kebiasaan orang Jepang yang bisa ditiru agar terhindar dari obesitas.

    1. Makan Perlahan

    Salah satu kebiasaan orang Jepang adalah menikmati setiap makanan yang masuk ke dalam mulut. Di Jepang, makanan biasanya dinikmati secara perlahan, selain untuk menikmati rasanya, hal ini bisa mendorong pencernaan menjadi lebih baik.

    Makan secara perlahan dapat memberikan waktu ke tubuh untuk mencerna makanan. Selain itu, memberikan waktu pada perut untuk terkoneksi ke otak terkait sinyal rasa kenyang, sehingga mengurangi makan berlebihan.

    2. Mengontrol Porsi Makanan

    Mengontrol porsi makanan merupakan keunggulan yang dimiliki warga Jepang. Makanan biasanya disajikan dalam porsi yang kecil dengan menu yang bervariasi, sehingga mendorong seseorang untuk menikmati banyak makanan tanpa makan berlebihan.

    Menurut penelitian pada tahun 2019, orang cenderung makan lebih sedikit ketika mereka disajikan makanan dengan porsi kecil.

    3. Rutin Berolahraga

    Berolahraga merupakan budaya yang telah mengakar di Jepang. Aktivitas fisik ini tidak selalu pergi ke tempat kebugaran, banyak dari masyarakat di sana yang memasukkan gerakan ke dalam rutinitas harian mereka.

    Mereka cenderung memilih untuk berjalan kaki atau bersepeda untuk berpindah tempat. Aktivitas rutin dengan intensitas rendah seperti berjalan kaki ini dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan menjaga tubuh tetap aktif tanpa perlu olahraga berat.

    4. Makan Tak Sampai Kenyang

    Di Jepang, ada prinsip yang sudah ada sejak berabad-abad lalu, yakni ‘Hara Hachi Bu’ atau berarti ‘makan sampai merasa 80 persen kenyang’. Praktik ini mendorong seseorang untuk berhenti sebelum perut benar-benar terisi penuh.

    Menurut penelitian di tahun 2015, makan sampai merasa 80 persen kenyang ini dapat membantu menurunkan berat badan yang signifikan, karena mencegah tubuh menyimpan kalori berlebih sebagai lemak.

    5. Mengurangi Konsumsi Gula

    Orang Jepang dikenal sangat sedikit dalam mengonsumsi gula. Sebaliknya, mereka lebih memilih teh hijau yang kaya akan antioksidan dan meningkatkan metabolisme.

    Teh hijau sendiri mengandung katekin, diketahui dapat membantu melancarkan proses pencernaan dan pembakaran lemak.

    (dpy/suc)

  • Sederet Manfaat Konsumsi Petai, Termasuk Bantu Turunkan Kadar Gula Darah

    Sederet Manfaat Konsumsi Petai, Termasuk Bantu Turunkan Kadar Gula Darah

    Jakarta

    Petai atau yang memiliki nama latin Parkia speciosa merupakan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Banyak yang memercayai bahwa petai dapat memberikan manfaat untuk kesehatan.

    Petai dinilai kaya akan nutrisi seperti vitamin C, kalium, dan serat yang bagus untuk tubuh, sehingga rutin mengonsumsinya dapat membantu mencegah dan mengobati beberapa penyakit tertentu.

    Namun, mengonsumsi petai juga memiliki batasannya alias tak berlebihan. Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr Inggrid Tania mengatakan mengonsumsi petai secara berlebih dapat menimbulkan masalah kesehatan, sehingga wajib dibatasi.

    “Batas maksimal konsumsi orang bisa makan petai itu tiga sendok makan penuh, itu sudah maksimal dalam sehari,” kata dr Inggrid saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

    “Mengkonsumsi berlebihan sampai tiap hari dalam jangka waktu lama itu berbahaya. Jadi kalau mau sering, seminggu tiga kali, itu tidak akan memicu kerusakan ginjal,” lanjutnya.

    Lalu apa saja manfaat petai untuk kesehatan?

    Petai kaya akan zat-zat aktif, polifenol, dan antikoksidan, sehingga membantu tubuh untuk mengontrol kadar gula darah. Orang-orang dengan diabetes melitus bisa mendapatkan manfaat dari petai, karena bisa mendapatkan efek misalnya menurunkan enzim alfa glukosidase.

    2. Melancarkan Sistem Pencernaan

    Menurut dr Inggrid, kandungan-kandungan nutrisi pada petai juga diketahui dapat membantu melancarkan sistem pencernaan. Namun, setiap orang wajib melihat reaksi tubuh ketika mengonsumsi petai.

    “Petai juga kaya akan kandungan serat, dan membantu memperlancar sistem pencernaan,” kata dr Inggrid.

    3. Sebagai Antioksidan

    Sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Biomedical Science & Research pada tahun 2019, membuktikan bahwa petai memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi tubuh.

    Sifat antioksidan ini disebabkan karena adanya kandungan fenol, flavonoid, hidrogen sulfida, dan tanin.

    (dpy/suc)

  • 6 Minuman Ini Efektif Turunkan Kadar Gula Darah, Nomor 1 Paling Mudah Ditemukan

    6 Minuman Ini Efektif Turunkan Kadar Gula Darah, Nomor 1 Paling Mudah Ditemukan

    Jakarta

    Kadar gula darah yang tinggi pada tubuh tentu berisiko mendatangkan beberapa masalah kesehatan seperti sakit kepala, mudah lelah, penglihatan buram, hingga penyakit diabetes. Hal ini membuat perlunya untuk mengontrol kadar gula darah, salah satu caranya dengan mengonsumsi minuman tertentu.

    Dikutip dari GoodRx dan EatingWell, ada banyak minuman yang bisa dikonsumsi untuk tetap menjaga gula darah dalam posisi normal. Sederet minuman ini tidak perlu ditambahkan gula tambahan untuk tetap mendapatkan manfaatnya.

    Lantas, apa saja minuman-minuman yang dapat mengontrol kadar gula darah dalam tubuh?

    1. Air Putih

    Air putih merupakan pilihan terbaik untuk setiap orang yang ingin mengontrol kadar gula darah dalam tubuh tetap seimbang. Hal ini karena air putih bebas karbohidrat dan kalori.

    Terkait jumlah air yang harus diminum seseorang setiap harinya bergantung pada usia, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatannya. Namun, Kementerian Kesehatan memberikan rekomendasi untuk minum air putih sedikitnya 2 liter per hari.

    2. Infused Water

    Air infus adalah minuman yang dibuat dengan merendam buah-buahan, sayuran, atau rempah-rempah dalam air putih. Beberapa buah yang mungkin bisa digunakan adalah anggur, apel, belimbing, jeruk nipis, kiwi, lemon, nanas, mangga, hingga jeruk.

    3. Teh Hijau

    Menurut sebuah studi, teh hijau atau ekstrak teh hijau dapat membantu menurunkan kadar gula darah, hingga berperan membantu mencegah diabetes tipe 2 dan obesitas. Mereka yang minum teh hijau lebih dari 10 tahun diketahui memiliki lemak tubuh dan lingkar pinggang yang lebih kecil daripada mereka yang tidak rutin mengonsumsinya.

    4. Kopi Hitam

    Kopi tanpa gula tambahan atau pemanis juga bisa dipilih sebagai minuman terbaik membantu mengontrol kadar gula darah.

    Dikutip dari Mayoclinic, Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minum kopi, baik yang mengandung kafein atau tanpa kafein sebenarnya dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2.

    5. Susu

    Protein dalam susu dapat membantu menurunkan respons glukosa darah setelah makan pada orang yang mengidap diabetes dan mereka yang tidak.

    Menurut penelitian pada 2018 protein kasein dan whey bisa memperlambat pencernaan dan meningkatkan respons insulin, sehingga memiliki efek positif pada kadar gula darah. American Diabetes Association merekomendasikan untuk memilih susu tanpa lemak atau rendah lemak.

    6. Teh Hitam

    Teh hitam juga dikenal sebagai teman bagi mereka yang mengidap diabetes. Sebuah studi pada tahun 2019 mencatat bahwa meminum teh hitam, teh hijau, atau oolong dapat mengurangi risiko terkena diabetes. Teh hitam juga berperan dalam meningkatkan resistensi insulin, memainkan peran seperti insulin, serta meredakan peradangan.

    (dpy/suc)

  • Emilia Contessa Meninggal Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

    Emilia Contessa Meninggal Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

    Jakarta

    Gagal jantung adalah suatu masalah kesehatan jantung yang dapat menyebabkan kematian. Penyakit tersebut juga dialami oleh Emilia Contessa sebelum meninggal dunia. Diketahui, ibu Denada itu mengembuskan napas terakhir di usia 67 tahun akibat gagal jantung akut.

    “Dilakukan penanganan oleh dokter Nelly Mulyaningsih, dokter spesialis jantung kami dan dinyatakan pasien tengah mengalami gagal jantung akut dan diberikan obat-obatan emergency. Kondisinya sempat membaik namun beberapa saat kemudian kembali memberat. Keluhannya sesaknya,” kata Ayyub, dikutip dari detikJatim.

    Lantas, apa bedanya dengan gagal jantung kronis?

    Spesialis jantung dr Vito A Damay, SpJP(K) menyebut tak sedikit masyarakat umum yang salah mengartikan gagal jantung akut dan kronis. Padahal kedua kondisi ini berbeda dari segi progresnya.

    “Ini sering kebalik pada orang pada umumnya, soal istilah. Akut itu mendadak, kronis itu lama dan tahunan,” imbuhnya saat dihubungi detikcom, Selasa (28/1/2025).

    dr Vito menjelaskan gagal jantung akut adalah kondisi saat fungsi jantung menurun secara tiba-tiba atau mendadak, sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

    Ini bisa terjadi mendadak pada orang tanpa riwayat gagal jantung sebelumnya, atau sebagai perburukan dari gagal jantung kronis. Orang dengan gagal jantung akut harus mendapatkan penanganan darurat.

    Sementara gagal jantung kronis, lanjut dr Vito, berkembang perlahan-lahan dalam jangka waktu lama, sering kali karena kerusakan jantung yang sudah terjadi, seperti akibat hipertensi atau penyakit jantung koroner.

    Bagaimana bedanya dengan serangan jantung?

    dr Vito mengatakan serangan jantung terjadi karena aliran darah koroner ke otot jantung tersumbat, biasanya akibat sumbatan di pembuluh darah koroner.

    “Sementara gagal jantung akut adalah kegagalan fungsi jantung sebagai pompa, yang bisa disebabkan oleh serangan jantung atau kondisi lainnya,” katanya lagi.

    Kapan harus ke dokter?

    dr Vito mengimbau apabila mengalami gejala awal seperti cepat lelah, sesak napas mendadak, bengkak di kaki perut, kelelahan, atau nyeri dada yang menetap untuk segera ke dokter.

    “Jangan tunggu gejala memburuk, segera ke IGD jika ada tanda-tanda darurat seperti sesak napas berat atau penurunan kesadaran,” imbuhnya.

    (suc/suc)

  • Dokter Ungkap Dampak pada Tubuh Jika Terlalu Lama Duduk di Kendaraan saat Macet

    Dokter Ungkap Dampak pada Tubuh Jika Terlalu Lama Duduk di Kendaraan saat Macet

    Jakarta

    Libur panjang Isra Miraj dan Imlek selama 25-29 Januari 2025 membuat masyarakat ramai-ramai bepergian ke luar kota atau ke tempat wisata bersama keluarga. Imbasnya, sejumlah titik lalu lintas menjadi lebih ramai dibandingkan hari biasanya.

    Berkendara dan kemudian terjebak macet hingga berjam-jam tentu ‘memaksa’ tubuh untuk terus duduk di kendaraan, baik mobil maupun motor. Hal ini tentunya bisa memicu risiko kesehatan, salah satunya kaki bengkak.

    Spesialis jantung dr Vito A Damay, SpJP(K) mengatakan duduk terlalu lama karena macet bisa membuat aliran darah ikut ‘macet’. Hal ini terjadi lantaran pembuluh darah kaki lebih rendah dari jantung dalam waktu lama dan diam posisi saja tanpa gerakan.

    “Dalam Phlebology ( ilmu vena yang mempelajari varises) kita tahu Pembuluh darah vena kaki, sebenarnya berbeda dengan pembuluh arteri, tidak berdenyut jika tidak ada gerakan kaki,” kata dr Vito melalui videonya di Instagram, dikutip atas izin bersangkutan, Selasa (28/1/2025).

    Singkatnya, lanjut dr Vito, tekanan yang tinggi di kaki karena aliran darah ke jantung tidak bersirkulasi dengan baik imbas duduk terlalu lama. Misalnya, seperti terjebak macet yang membuat cairan tubuh terdesak keluar pembuluh darah dan membuat kaki bengkak.

    Lantas bagaimana cara mengatasinya?

    dr Vito menyarankan untuk menggerakan kaki seperti gerakan pompa betis sesering mungkin. Gerakan ini dapat membantu aliran darah dari kaki kembali ke jantung dengan lancar.

    “Begerak ujung kaki di depan (ke atas dan ke bawah), tumit tetap posisinya,” katanya saat dihubungi detikcom.

    (suc/suc)