Category: Detik.com Kesehatan

  • Video Mitos atau Fakta: Anak Tengah Sering Merasa Diabaikan Orang Tua

    Video Mitos atau Fakta: Anak Tengah Sering Merasa Diabaikan Orang Tua

    Jakarta – Menurut teori middle child syndrome-nya Alfred di 1964 menyatakan bahwa urutan kelahiran anak berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Jika anak pertama lebih mandiri, anak terakhir dimanja, lalu pernah notice nggak kalau anak kedua merasa terabaikan? Apakah semua anak kedua pasti merasakan hal ini? Simak selengkapnya di sini ya!

    (/)

  • Sering Lelah dan Mengantuk Tanda Penyakit Apa? Ini 7 Kemungkinan Penyebabnya

    Sering Lelah dan Mengantuk Tanda Penyakit Apa? Ini 7 Kemungkinan Penyebabnya

    Jakarta

    Tidur merupakan salah satu cara untuk mengembalikan energi tubuh. Namun terkadang, seseorang yang sudah cukup tidur masih bisa merasa lelah dan mengantuk. Apa penyebabnya?

    Selain kurang istirahat, kelelahan yang berkepanjangan juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Seringkali, penyakit-penyakit tersebut menimbulkan gejala yang memengaruhi kualitas dan waktu istirahat.

    Dikutip dari WebMD, berikut sederet penyebab kantuk dan kelelahan kronis.

    1. Anemia

    Anemia adalah kondisi yang membuat darah sulit mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Ini kerap terjadi pada anemia defisiensi besi.

    Ketua perhimpunan kedokteran dari Charles R Drew University of Medicine di Los Angeles, Theodore Friedman, MD, PhD, menjelaskan zat besi berfungsi seperti “gerbong kereta” yang mengangkut oksigen dalam darah.

    “Orang dengan zat besi rendah tidak memiliki cukup gerbong di kereta mereka. Mereka lelah, mereka pusing saat berdiri, mereka mengalami kabut otak , mereka mengalami palpitasi jantung,” kata Friedman.

    2. Diabetes

    Belum diketahui secara pasti hubungan antara diabetes dan kelelahan. Namun, para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan bagaimana tubuh menggunakan banyak energi untuk mengatasi perubahan kadar gula darah yang sering terjadi.

    Yang jelas, dokter sepakat kelelahan merupakan salah satu gejala diabetes. Kondisi ini juga disertai gejala lain, seperti sering harus dan buang air kecil.

    3. Gangguan Tiroid

    Kelenjar tiroid adalah kelenjar kecil yang terletak di leher. Kelenjar ini menghasilkan hormon yang membantu mengendalikan penggunaan energi tubuh.

    Jika kelenjar tiroid tidak berfungsi dengan baik, tubuh akan kesulitan menjalankan fungsinya.

    “Orang dengan tiroid yang kurang aktif akan merasa lelah. Sel-sel mereka tidak berfungsi dengan baik, mereka lamban, dan refleks mereka lambat,” ujar Friedman.

    4. Penyakit Jantung

    Kelelahan ekstrem juga menjadi salah satu gejala umum gagal jantung kongestif. Kondisi ini terjadi ketika jantung tidak bisa memompa darah sebagaimana mestinya.

    Kelelahan biasanya bertambah parah saat berolahraga. Orang dengan kondisi ini juga dapat mengalami pembengkakan di lengan atau kaki, serta sesak napas.

    5. Sleep Apnea

    Kondisi ini membuat tubuh tidak bisa memperoleh cukup oksigen saat tidur. Akibatnya, waktu dan kualitas istirahat akan terganggu, sehingga menyebabkan kelelahan.

    “Otak menyadari bahwa Anda tidak mengeluarkan CO2, dan otak terbangun sebentar dalam keadaan waspada,” kata direktur Sleep Medicine Center dari Fakultas Kedokteran di California University, Lisa Shives, MD.

    “Anda tidak memasuki REM, tidur yang membuat Anda merasa paling baik,” sambungnya.

    6. Menopause

    Pada wanita, kelelahan kronis juga bisa dipicu oleh menopause. Pada masa ini, hormon tubuh banyak berubah, yang kemudian memicu gejala seperti gerah dan berkeringat di malam hari.

    Hal inilah yang dapat merusak waktu dan kualitas istirahat, dan menyebabkan kelelahan di siang hari.

    7. Depresi

    Depresi dapat mengurangi jumlah zat kimia yang dibutuhkan otak untuk bekerja secara optimal. Salah satunya adalah serotonin, hormon yang mengatur jam tubuh internal.

    Depresi juga dapat menurunkan tingkat energi dan memicu kelelahan di siang hari. Orang dengan depresi dapat merasa sulit untuk tertidur di malam hari, atau mungkin bangun lebih awal dari waktu yang diinginkan.

    (ath/kna)

  • Lily Collins Sambut Anak Pertama, Lahir dari Ibu Pengganti

    Lily Collins Sambut Anak Pertama, Lahir dari Ibu Pengganti

    Jakarta

    Lily Collins, bintang Emily in Paris, menyambut kelahiran anak pertamanya melalui ibu pengganti. Collins, 35 tahun, berbagi berita tersebut di Instagram bersama suaminya, Charlie McDowell, seorang pembuat film Inggris-Amerika.

    “Selamat datang di dunia kami, Tove Jane McDowell. Kata-kata tidak akan pernah bisa mengungkapkan rasa terima kasih kami yang tak terhingga kepada ibu pengganti kami yang luar biasa dan semua orang yang telah membantu kami selama ini,” tulis pasangan itu.

    Metode persalinan dengan ibu pengganti atau surrogate mother belakangan menjadi pilihan selebriti untuk mendapatkan buah hati. Beberapa selebriti mulai dari Priyanka Chopra, Kim Kardashian, Paris Hilton sampai Lucy Liu menggunakan surrogate mother untuk melahirkan anaknya.

    Di beberapa negara, ibu pengganti atau surrogate mother dikomersialisasikan dan memiliki agen khusus berbayar ratusan juta untuk menggunakan jasanya.

    Metode surrogate atau surogasi adalah proses ‘menitipkan’ anak di dalam rahim wanita lain. Penitipan itu dilakukan dengan cara menyatukan sel sperma dan sel telur dari pasangan ke dalam rahim wanita lain alias ibu titipan.

    Dikutip dari WebMD, calon ibu yang dititipkan sel telur dan sperma pada metode surrogate harus memenuhi beberapa syarat dan kriteria, di antaranya:

    Usia minimal 21 tahunTelah melahirkan setidaknya satu bayi dengan kondisi sehatLulus pemeriksaan psikologis oleh profesional kesehatan mentalMenandatangani kontrak tentang peran dan tanggung jawab mereka dalam kehamilan

    (kna/kna)

  • Apakah Batu Empedu Bisa Disembuhkan Tanpa Operasi? Ini Caranya

    Apakah Batu Empedu Bisa Disembuhkan Tanpa Operasi? Ini Caranya

    Jakarta – Batu empedu (Cholelithiasis) adalah potongan-potongan bahan empedu yang terkonsentrasi seperti kerikil. Secara umum, batu empedu terdiri dari kolesterol atau bilirubin yang terkumpul di dasar kantong empedu, kemudian mengeras menjadi ‘batu’.

    Salah satu cara pengobatan batu empedu adalah dengan melakukan pembedahan untuk mengangkat kantong empedu (kolesistektomi). Namun setelah operasi, pasien tidak memiliki kantung empedu lagi di dalam tubuhnya.

    Lantas, apakah batu empedu bisa disembuhkan tanpa dilakukan kolesistektomi? Simak penjelasannya dalam artikel ini.

    Apakah Batu Empedu Bisa Disembuhkan Tanpa Operasi?

    Mengutip situs Cleveland Clinic, kebanyakan orang yang mengalami batu empedu tidak membutuhkan pengobatan. Sebab, dalam banyak kasus seseorang dapat mengeluarkan batu empedu dari dalam tubuh tanpa disadari.

    Selain itu, kebanyakan orang yang mengalami batu empedu tanpa gejala tidak memerlukan pengobatan dengan cara kolesistektomi. Cara lain untuk mengobati batu empedu adalah menggunakan sejumlah obat alami.

    Namun, sangat disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum mencoba mengobati batu empedu secara alami. Dilansir situs Healthline, nantinya dokter akan membantu diagnosis dan pemilihan obat yang tepat untuk pasien batu empedu.

    Akan tetapi, jika kamu merasakan sejumlah gejala batu empedu seperti:

    Nyeri yang tiba-tiba dan meningkat dengan cepat di bagian kanan atas perut dan tengah perut tepat di bawah tulang dadaNyeri punggung di antara tulang belikatNyeri di bahu kananMual atau muntahMata menguningDemamMenggigilNyeri batu empedu dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam.

    Disarankan segera pergi ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Jika skala batu empedu sudah cukup parah, maka salah satu cara pengobatannya adalah dengan kolesistektomi.

    Jadi, keputusan apakah batu empedu bisa disembuhkan tanpa operasi akan ditentukan kembali oleh dokter. Misalnya, batu empedu dinilai kecil dan tidak menghambat saluran empedu, maka kemungkinan diperbolehkan dengan pilihan pengobatan lainnya.

    Selama proses pengobatan, pasien juga disarankan agar tetap berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui perkembangan batu empedu.

    Cara Mengobati Batu Empedu Tanpa Operasi

    Jika dokter mengizinkan penyembuhan batu empedu tanpa perlu operasi, maka ada sejumlah cara yang bisa dipilih oleh pasien. Berikut pilihannya:

    1. Terapi Disolusi Oral

    Terapi ini biasanya meliputi penggunaan obat ursodiol dan chenodiol untuk memecah batu empedu. Obat-obatan ini mengandung asam empedu yang bekerja untuk memecah batu.

    Sebagai informasi, perawatan terapi disolusi oral dapat memakan waktu yang cukup lama. Mungkin dapat membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

    2. Shock Wave Lithotripsy

    Dilansir laman Brown Health, lithotripsy atau pemecahan batu empedu dengan gelombang kejut merupakan teknik baru untuk mengobati batu empedu. Gelombang kejut tersebut dapat memecah batu empedu menjadi potongan-potongan kecil, sehingga dapat melalui duktus sistikus (cystic duct) dan keluar ke usus.

    3. Pembersihan Kantong Empedu

    Cara ini dilakukan dengan menempatkan jarum steril ke dalam kantong empedu untuk menyedot empedu. Prosedur ini biasanya menjadi pilihan terakhir untuk orang yang tidak cocok dengan prosedur lainnya.

    Beberapa orang mengklaim bahwa metode pembersihan kantong empedu dapat membantu memecah batu empedu. Namun, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

    Demikian informasi mengenai cara mengobati batu empedu tanpa perlu tindakan operasi. Semoga bermanfaat!

    (ilf/fds)

  • Viral di Medsos, Perlukah Cuci Pembalut Sebelum Dibuang? Gini Kata Dokter    
        Viral di Medsos, Perlukah Cuci Pembalut Sebelum Dibuang? Gini Kata Dokter

    Viral di Medsos, Perlukah Cuci Pembalut Sebelum Dibuang? Gini Kata Dokter Viral di Medsos, Perlukah Cuci Pembalut Sebelum Dibuang? Gini Kata Dokter

    Jakarta

    Ramai netizen di media sosial X membahas soal pembalut bekas sebaiknya dicuci dulu atau tidak sebelum akhirnya dibuang. Sebagian orang menganggap pembalut bekas sebaiknya dicuci dulu sebelum dibuang untuk mencegah bau.

    Namun, ada juga sebagian netizen lain yang beranggapan pembalut bekas tidak perlu dicuci sebelum dibuang, selama dibungkus dengan rapi.

    “Girls udah sejak October aku gk pernah nyuci pembalut lagi, jd lega soalnya gk perlu kelamaan di toilet nya. btw sebelumnya aku selalu cuci sampe bersih pake sabun, soalnya sama ibu dan sodara2ku diajarinnya gitu. Skrg udah enggak, tinggal dilipet dan dibungkus rapet terus buang,” kata pemilik akun @q*b**r.

    “aku tim cuci, biasanya aku lebih suka pake yang full kapas/minim gel jd dia lebih mudah dicuci dan kering besokannya jd minim bau dan bisa dibakar juga,” kata netizen lain yang mengaku lebih memilih untuk mencuci pembalut bekas sebelum akhirnya dibuang.

    Sebenarnya mana sih yang sebaiknya dilakukan oleh para wanita?

    Keduanya Tidak Ada yang Masalah

    Spesialis obstetri dan ginekologi dr Muhammad Fadli, SpOG menururkan bahwa secara umum tidak ada yang salah dari kedua cara tersebut. Ia berpendapat cara membuang pembalut bisa dilakukan dengan preferensi masing-masing.

    Kebiasaan mencuci pembalut bekas umumnya muncul karena adanya kekhawatiran bau yang muncul dari pembalut bekas hingga adanya mitos-mitos tertentu terkait pembalut bekas. Hingga saat ini tidak ada anjuran pasti bagaimana penangan pembalut bekas yang lebih ‘benar’.

    dr Fadli menuturkan edukasi tetap diperlukan agar mitos-mitos yang tidak tepat soal pembalut tidak semakin tertanam di pemahaman masyarakat.

    “Mau dicuci mau, tidak dicuci sih, tidak ada masalah tetapi ya harus diluruskan tentang tentang apa tentang mitosnya itu, kalau nggak (dicuci) katanya bisa di-haunted by ghost. Kalau menurut saya dua-duanya sih oke, mau dicuci boleh, mau tidak dicuci juga boleh,” kata dr Fadli ketika dihubungi detikcom, Jumat (31/1/2025).

    Cara Penanganan Pembalut Bekas

    Apabila ingin membuang pembalut bekas secara langsung, dr Fadli menganjurkan masyarakat untuk membungkusnya secara rapi. Jika tidak dibungkus dengan baik, dikhawatirkan pembalut bekas itu dapat menjadi media kuman untuk tumbuh dengan cepat.

    “Kalau memang seandainya ini adalah pad yang digunakan sekali pakai atau pembalut sekali pakai itu tidak ada salahnya untuk langsung dibuang saja ya. Jadi biasanya dimasukin ke plastik ya langsung dibuang saja itu tidak ada masalah,” ujarnya.

    Sedangkan untuk masyarakat yang memilih untuk mencuci terlebih dahulu, disarankan untuk memerhatikan kebersihan lokasi pencucian. Pastikan tempat pencucian juga sudah dibersihkan dengan baik sebelum ditinggalkan. Setelahnya, pembalut bekas bisa langsung dibuang.

    “Setelah dicuci langsung dibuang juga jangan malah disimpan ditunggu kering juga gitu ya. Langsung dibuang saja secepatnya,” tambah dr Fadli.

    NEXT: Dokter ingatkan pentingnya mengganti pembalut secara berkala

    Ganti Pembalut Secara Berkala Itu Penting

    dr Fadli menuturkan hal lebih penting yang harus diperhatikan adalah mengganti pembalut secara berkala ketika menstruasi. Ia menuturkan pergantian pembalut perlu dilakukan setidaknya 3 kali sehari atau 6-8 jam sekali.

    Ia mengatakan akan lebih baik penggantian pembalut dilakukan sebanyak 4 jam sekali, khususnya di waktu-waktu ketika darah keluar lebih banyak. Pembalut harus diganti secara berkala untuk mencegah infeksi dan iritasi akibat penumpukan darah menstruasi dan bakteri.

    “Yang tidak boleh adalah kalau menggunakannya kelamaan. Ini malah bisa bikin kuman tumbuh dan bisa menjadikan infeksi,” tandasnya.

    Simak Video “Video: Viral Anak di Bawah Umur Diajari Nyetir Mobil, Ini Kata Psikolog”
    [Gambas:Video 20detik]

  • 5 Penyebab Sakit di Bagian Belakang Kepala, Bisa Pertanda Kolesterol Tinggi

    5 Penyebab Sakit di Bagian Belakang Kepala, Bisa Pertanda Kolesterol Tinggi

    Jakarta – Sakit di bagian belakang kepala cukup umum terjadi di masyarakat. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan untuk sekadar istirahat saja jadi terasa tidak nyaman.

    Apabila detikers sering mengalami sakit di bagian belakang kepala, jangan anggap remeh hal tersebut. Sebab, sakit kepala belakang bisa menandakan adanya risiko penyakit tertentu.

    Lantas, apa penyebab sakit di bagian belakang kepala? Simak pembahasannya dalam artikel ini.

    Penyebab Sakit di Bagian Belakang Kepala

    Ada sejumlah faktor yang membuat seseorang dapat mengalami sakit di bagian belakang kepala. Apa saja? Berikut sejumlah penyebabnya:

    1. Tubuh Tegang

    Pada umumnya, sakit di bagian belakang kepala disebabkan karena tubuh yang tegang. Hal ini terjadi karena otot-otot di kulit kepala, wajah, rahang, dan leher menegang karena stres mental atau emosional.

    Selain itu, ada sejumlah gejala lain yang dirasakan saat tubuh tegang, seperti:

    Nyeri ringan hingga sedangMerasakan tekanan konstan di bagian depan wajah, kepala, atau leherSensitif terhadap cahaya dan suara.

    Mengutip Web MD, ada dua bentuk sakit kepala karena tegang, yakni episodik dan kronis. Apa bedanya?

    Sakit kepala tegang yang bersifat episodik akan dialami antara 10-15 hari dalam sebulan. Setiap sakit kepala akan berlangsung selama 30 menit hingga beberapa hari.

    Sementara itu, sakit kepala tegang kronis cenderung lebih parah. Kemungkinan seseorang dapat mengalaminya lebih dari 15 hari dalam sebulan. Bahkan, rasa sakit yang ditimbulkan akan konstan selama berhari-hari atau berbulan-bulan.

    2. Postur Tubuh yang Buruk

    Postur tubuh yang buruk saat duduk, bekerja, berkendara, atau tidur dapat memicu sakit di bagian belakang kepala. Kondisi itu dapat menegangkan otot-otot di bagian belakang karena memberikan tekanan pada bahu dan leher.

    Sebaiknya, ubah tempat duduk di tempat kerja atau atur posisi duduk saat berkendara agar bahu dan leher tidak tegang. Ketika tidur, pastikan posisi tempat tidur dan bantal diatur secara baik agar merasa nyaman.

    3. Kolesterol Tinggi

    Saat kolesterol tinggi, molekul lemak dapat menempel pada dinding bagian dalam arteri dan menyebabkan sumbatan. Ketika arteri menyempit akan muncul rasa sakit yang mengganggu di bagian belakang kepala.

    Kondisi ini akan membuat aliran darah yang kaya oksigen tersumbat dan tidak dapat mencapai organ-organ yang membutuhkannya. Menurut badan perawatan kesehatan Medicover Hospitals, sakit kepala yang sering terjadi di bagian belakang kepala mungkin merupakan indikasi kolesterol tinggi.

    “Penyumbatan pembuluh darah di area sekitar kepala, dapat menyebabkan sakit kepala di bagian belakang kepala,” kata badan kesehatan tersebut yang dikutip dari Express UK.

    “Hal ini terjadi ketika pembuluh darah tersumbat oleh plak kolesterol. Jika ini tidak diatasi, pembuluh darah akan pecah dan menyebabkan stroke,” lanjutnya.

    4. Tekanan Rendah

    Penyebab berikutnya karena cairan serebrospinal dari otak dan sumsum tulang belakang bocor. Kondisi ini disebut juga sebagai sakit kepala tekanan rendah atau spontaneous intracranial hypotension.

    Cairan tulang belakang berfungsi untuk mengisi kantung cairan (meninges) yang melindungi dan menyokong otak. Jika terjadi kebocoran kecil pada meninges dapat menyebabkan penurunan tekanan secara tiba-tiba, sehingga meregangkan saraf pada lapisan di sekitar otak dan menyebabkan nyeri.

    Gejala yang ditimbulkan adalah rasa sakit di bagian belakang kepala yang sangat hebat, terutama saat duduk atau berdiri. Dalam sejumlah kasus, pengidapnya dapat merasakan gejala seperti leher kaku dan sakit, mual, serta muntah.

    Sakit kepala akibat tekanan rendah dapat memburuk saat batuk, bersin, atau berolahraga. Biasanya rasa sakit akan hilang dalam waktu 20-30 menit setelah berbaring di kasur.

    5. Aktivitas Fisik Berat

    Sakit di bagian belakang kepala juga bisa disebabkan karena kelelahan setelah berolahraga atau dikenal sebagai exertion headaches. Kondisi ini disebabkan karena melakukan aktivitas fisik yang cukup berat.

    Mengutip laman Very Well Health, sakit kepala ini termasuk dalam kategori primer yang diduga disebabkan oleh pembuluh darah yang melebar dengan cepat untuk mengalirkan lebih banyak darah ke kepala. Beberapa gejala yang kerap dialami di antaranya mual, muntah, dan sensitif terhadap cahaya.

    Sakit kepala akibat aktivitas fisik dapat berlangsung selama beberapa menit, jam, dan terkadang hari. Sakit kepala ini cenderung menyerang pria berusia sekitar 40 tahun yang berolahraga terlalu keras.

    Penyebab utama sakit kepala akibat aktivitas fisik berat diduga karena insufisiensi vena, yakni suatu kondisi saat vena mengalami masalah dalam mengalirkan darah kembali ke jantung. Penyebab umum insufisiensi vena karena terdapat masalah di katup jantung.

    Maka dari itu, sakit kepala akibat aktivitas fisik yang terus-menerus mungkin menjadi pertanda bahwa kamu harus menemui dokter jantung untuk konsultasi lebih lanjut.

    Itu dia lima penyebab sakit di bagian belakang kepala yang bisa mengindikasikan penyakit tertentu. Semoga bermanfaat!

    (ilf/fds)

  • Cerita Wanita Idap Kanker Stadium 3 di Usia 31, Ini Gejala yang Dialami

    Cerita Wanita Idap Kanker Stadium 3 di Usia 31, Ini Gejala yang Dialami

    Jakarta

    Kanker kolorektal merupakan salah satu penyakit yang kerap menyerang orang lanjut usia. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan penyakit ini menyerang mereka yang berusia lebih muda.

    Seperti halnya yang dialami oleh Bri Mahon, seorang wanita di Newport Beach, California, Amerika Serikat. Di usianya yang baru 31 tahun, dia divonis mengidap kanker kolorektal stadium 3. Dia pun membagikan gejala yang membuatnya tergerak untuk melakukan pemeriksaan kolonoskopi.

    Ibu dua orang anak itu mengungkapkan dirinya selalu mengalami masalah pencernaan yang umum, seperti perut kembung.

    “Beberapa tahun terakhir, saya hanya mengalami masalah pencernaan secara umum, banyak perut kembung, banyak tanda-tanda yang lebih mengarah ke IBS (Irritated Bowel Syndrome/Sindrom Iritasi Usus),” ujarnya dikutip dari New York Post, Sabtu (1/2/2025).

    Mahon pun menjalani pola makan sehat yang bebas gluten, susu, dan kedelai untuk meredakan iritasi serta melakukan serangkaian tes alergi dan darah. Namun, tidak ditemukan sumber pasti penyebab gejala yang dialaminya.

    Pada 2023, dia menyadari adanya penurunan tajam pada tingkat energi dan peningkatan ansietas.

    “Saya benar-benar harus berhenti dari pekerjaan yang sedang saya lakukan. Saya mengalami serangan panik, dan saya pikir itu hanya karena tubuh saya sangat, sangat, sangat lelah,” ungkapnya.

    Setelah melahirkan anak laki-laki kembar di usia kehamilan 23 minggu, Mahon mendapati darah dalam tinjanya, dan merasakan kelelahan yang luar biasa. Awalnya, dia mengira gejala tersebut akibat proses persalinan.

    “Saya pikir pendarahan itu hanya wasir karena kehamilan. Anak-anak saya dirawat di NICU selama empat bulan. Saya pikir itu stres. Saya pikir itu depresi. Saya pikir itu kecemasan. Saya membenarkannya dalam pikiran saya,” tuturnya.

    Namun ketika warna darah dalam tinjanya berubah menjadi lebih gelap, Mahon menyadari ada yang salah pada dirinya dan segera memeriksakan diri ke dokter.

    “Begitu saya menjalani kolonoskopi, dokter mengatakan bahwa dia cukup yakin itu kanker. Kami melakukan 10 biopsi selama kolonoskopi, dan kemudian menemukan bahwa itu kanker stadium 3,” ucapnya.

    Penelitian terkini menunjukkan salah satu tanda bahaya paling umum untuk kanker kolorektal pada orang muda adalah pendarahan rektal. Pasalnya, hampir setengah dari pasien yang didiagnosis melaporkan adanya darah di tisu toilet atau saat buang air besar.

    Darah akibat kanker usus cenderung berwarna merah tua atau hampir hitam karena berasal dari bagian yang lebih tinggi di saluran pencernaan. Akibatnya, darah memiliki lebih banyak waktu untuk teroksidasi dan berubah menjadi gelap.

    Salah satu penyebab kanker kolorektal pada orang muda disebabkan oleh perubahan pada DNA, yang dapat diwariskan dari orang tua atau diperoleh dari kebiasaan mengonsumsi makanan yang rendah serat dan tinggi lemak. Gaya hidup sedentary, merokok, dan minum minuman beralkohol juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal.

    Mahon kini sudah bebas dari kanker setelah proses penyembuhan yang mencakup beberapa kemoterapi, kolektomi dengan ileostomi, dan terapi hormon.

    (ath/kna)

  • 5 Kebiasaan yang Tanpa Disadari Bisa Merusak Jantung, Jangan Disepelekan!

    5 Kebiasaan yang Tanpa Disadari Bisa Merusak Jantung, Jangan Disepelekan!

    Jakarta

    Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk Indonesia. Ada banyak faktor yang memengaruhi risiko penyakit jantung, termasuk dari kebiasaan buruk yang dilakukan sehari-hari.

    Konsultan kardiologi dari Nuffield Health Brighton Hospital, dr Christopher Broyd mengungkapkan ada sejumlah kebiasaan “sepele” yang sebenarnya memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan jantung. Di antaranya, terdapat lima kebiasaan yang masih kerap dilakukan banyak orang.

    Dikutip dari The Independent, berikut lima kebiasaan merusak jantung yang dibeberkan oleh Broyd.

    1. Jarang Beraktivitas Fisik

    Broyd menegaskan gaya hidup yang tak banyak bergerak (sedentary) berpotensi memicu penyakit jantung dengan meningkatkan sejumlah faktor risiko, seperti kenaikan berat badan, kolesterol, dan tekanan darah tinggi.

    “Gaya hidup yang tidak banyak bergerak dapat menyebabkan penambahan berat badan, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi, yang semuanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” ujarnya.

    Broyd sangat menyarankan setiap orang untuk berolahraga secara teratur. Tidak perlu pergi ke pusat kebugaran setiap hari, tetapi mulailah dengan langkah-langkah kecil.

    “Mulailah dengan aktivitas sederhana seperti berjalan, melakukan peregangan, atau menggunakan sepeda statis. Bahkan aktivitas singkat, seperti berjalan selama 10 menit, dapat bertambah seiring waktu dan secara bertahap meningkatkan stamina Anda,” katanya.

    2. Sering Stres

    Stres kronis, seperti yang disebabkan masalah pekerjaan atau keluarga, merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Broyd menjelaskan stres berkepanjangan dapat memicu peningkatan tekanan darah, sehingga meningkatkan risiko serangan jantung hingga stroke.

    “Stres juga mendorong mekanisme penanganan yang tidak sehat, seperti makan berlebihan atau merokok,” imbuhnya.

    “Aktivitas fisik yang teratur, seperti berjalan, yoga, atau berolahraga, dapat membantu melepaskan ketegangan yang terpendam dan meningkatkan suasana hati dengan meningkatkan endorfin,” sambung Broyd.

    3. Tidak Memprioritaskan Tidur

    Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Jika seseorang kurang tidur, risiko beragam penyakit pun akan ikut mengintai.

    “Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan tekanan darah, menyebabkan obesitas, dan mengganggu proses perbaikan alami tubuh,” kata Broyd.

    Untuk membantu tidur alami dan nyenyak, Broyd menyarankan menetapkan jadwal tidur yang konsisten.

    “Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, bahkan di akhir pekan. Ini membantu mengatur jam internal tubuh Anda dan mendorong pola tidur yang lebih konsisten,” terangnya.

    Selain itu, cobalah untuk menghindari mengonsumsi terlalu banyak kafein, nikotin atau alkohol di malam hari.

    “Mengonsumsi kafein atau nikotin di sore dan malam hari dapat mengganggu tidur,” tegas Broyd.

    4. Tidak Mendapatkan Cukup Sinar Matahari

    Broyd mengatakan mereka yang jarang keluar dan mendapatkan paparan sinar matahari berisiko mengalami defisiensi vitamin D. Kekurangan vitamin D sendiri kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

    “Paparan sinar matahari yang aman atau suplementasi dapat membantu menjaga kesehatan jantung,” ujarnya.

    Broyd menyarankan untuk sedikitnya keluar ruangan selama 15-30 menit setiap hari, khususnya saat matahari tidak terlalu terik.

    5. Jarang Bersosialisasi

    Broyd mengungkapkan orang-orang yang terisolasi secara sosial memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung.

    “Studi telah menunjukkan bahwa kesepian dapat memicu stres, meningkatkan tekanan darah, dan berdampak negatif pada fungsi kekebalan tubuh, yang semuanya dapat membahayakan kesehatan jantung,” paparnya.

    Hubungi teman atau anggota keluarga jika Anda merasa kesepian, atau pertimbangkan untuk bergabung dengan klub baru.

    “Memperbaiki isolasi sosial memerlukan waktu dan usaha, tetapi dengan melakukan upaya yang disengaja untuk terhubung dengan orang lain dan membangun hubungan, Anda dapat meningkatkan jaringan dukungan sosial dan kesejahteraan Anda secara keseluruhan dan pada akhirnya meningkatkan kesehatan jantung Anda,” pungkas Broyd.

    (ath/kna)

  • Dokter Ungkap 5 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Bikin Panjang Umur

    Dokter Ungkap 5 Kebiasaan Sederhana yang Bisa Bikin Panjang Umur

    Jakarta

    Rahasia hidup sehat dan panjang umur tidak selalu sesulit yang dibayangkan banyak orang. Percaya atau tidak, kebiasaan sederhana yang dilakukan sehari-hari dapat memengaruhi peluang seseorang untuk bisa panjang umur.

    Darshan Shah, seorang dokter sekaligus ahli bedah bersertifikat yang telah mempelajari tentang kiat panjang umur. Lewat podcastnya “Extend”, Shah mewawancarai banyak pakar tentang cara menjalani hidup panjang dan sehat.

    “Saya akan mengatakan hal terpenting yang saya lakukan adalah mendidik diri sendiri tentang ilmu membentuk kebiasaan dan membuatnya melekat. Dan di situlah saya benar-benar dapat menambahkan banyak praktik ke dalam hidup saya untuk meningkatkan umur panjang dan rentang kesehatan saya,” ujarnya dikutip dari CNBC Make It, Sabtu (1/2/2025).

    Berikut beberapa kebiasaan yang dilakukan Shah setiap hari agar bisa hidup lebih sehat dan panjang umur.

    Shah mengungkapkan dia selalu memulai hari dengan secangkir kopi dan menulis jurnal. Jurnal tersebut berisikan apa yang dia alami pada hari sebelumnya, apa yang dia rasakan, dan pelajaran yang bisa diambil dari kejadian tersebut.

    “Apa yang saya inginkan untuk masa depan saya, dan apa yang saya syukuri? Saya melakukannya (di) buku dengan pena (dan) kertas, bukan di perangkat elektronik,” ungkapnya.

    Shah juga mengatakan dia tidak pernah mengawali paginya dengan membuka ponsel.

    “Hal pertama yang saya lakukan di pagi hari adalah memastikan ponsel berada di ruangan lain. Saya meletakkan ponsel di dekat mesin pembuat kopi, karena saya tidak ingin mengambil ponsel sampai kopi saya dibuat,” tuturnya.

    2. Latihan Beban

    Setelah menenangkan pikirannya, Shah melanjutkan pagi dengan berolahraga selama 10 menit.

    “Saya bangun pagi-pagi sekali. Sekitar pukul 5:00, 5:30 pagi, dan matahari baru saja terbit. Saya mengekspos diri saya ke lingkungan luar dan sinar matahari. Kemudian saya melakukan latihan beban cepat, dan itu membuat tubuh saya bergerak,” katanya.

    Dia menekankan sangat penting untuk menggerakkan tubuh di pagi hari dan melakukan latihan kekuatan.

    3. Mengonsumsi Banyak Sayur dan Protein

    Berbicara tentang pola makan, Shah mengaku mengonsumsi banyak makanan tinggi protein dan sayuran.

    “Jika memungkinkan, saya mencoba membeli produk organik. Saya berbuka puasa dengan protein, biasanya telur, dan sayur di pagi hari. Tidak mengonsumsi karbohidrat, karena keluarga saya punya masalah diabetes,” terangnya.

    Saat makan siang, Shah kerap menyantap salad dengan potongan daging besar. Untuk makan malam, Shah biasanya mengonsumsi hidangan yang terdiri dari sayuran dan daging.

    “Kombinasinya selalu ada, entah itu daging merah, makanan laut, atau ayam. Selama sumbernya bagus, saya akan memakannya. Saya mencoba membuatnya sesederhana mungkin,” ujarnya.

    Dia juga berusaha sebisa mungkin untuk menghindari makanan olahan dengan cara apapun.

    4. Menjalin Hubungan Sosial dengan Orang Lain

    Beragam penelitian telah menunjukkan pentingnya interaksi sosial bagi umur yang panjang.

    Shah mengaku dirinya suka bergaul dan supel. Dia juga sangat berfokus pada komunitas lokal.

    “Saya rasa ini adalah sesuatu yang sayangnya, selama 50 tahun terakhir, kita telah kehilangan fokus. Banyak orang bahkan tidak tahu siapa tetangga mereka, dan itu karena media sosial menyita banyak waktu kita, dan kita merasa bersosialisasi dengan menggunakan media sosial. Kenyataannya, Anda tidak benar-benar terhubung secara pribadi dengan orang-orang itu,” jelasnya.

    Shah dan keluarganya selalu berusaha untuk bertemu dengan para tetangga, orang-orang di sekolah anaknya, serta orang-orang yang mengelola bisnis lokal. Dia juga kerap mengundang para kenalan untuk makan malam di rumahnya.

    “Saya pikir itu juga penting, berbagi rumah dengan seseorang, dengan orang lain,” katanya.

    5. Rutin Membaca

    Shah mengungkapkan salah satu aktivitas favoritnya adalah membaca. Setiap pagi, dia selalu menyempatkan 20 hingga 30 menit untuk membaca buku.

    “Saya rasa itu sangat penting, karena salah satu hal yang benar-benar akan melindungi otak Anda seiring bertambahnya usia adalah terus-menerus mempelajari sesuatu yang baru,” ungkapnya.

    Shah mengatakan dengan membaca, otak akan terus mempelajari hal-hal baru dan mengaktifkan kembali neuron-neuron untuk saling terhubung.

    (ath/kna)

  • Waspadai Gejala Diabetes yang Bisa Muncul di Mata, Sudah Tahu Belum?

    Waspadai Gejala Diabetes yang Bisa Muncul di Mata, Sudah Tahu Belum?

    Jakarta

    Diabetes merupakan masalah kesehatan yang berkaitan dengan kondisi tingginya gula darah hingga berisiko memicu berbagai komplikasi. Meskipun hingga saat ini belum diketahui secara pasti pemicu diabetes tipe satu, diabetes tipe dua lebih sering dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat seperti kelebihan berat badan dan kurang berolahraga.

    Mengetahui gejala diabetes secara dini merupakan hal yang penting untuk penanganan. Semakin cepat mencari pertolongan medis, maka semakin cepat juga perawatan bisa dilakukan.

    Tak banyak yang tahu, rupanya ada salah satu gejala diabetes yang dapat muncul di mata. National Health Service (NHS) Inggris menuturkan penglihatan yang kabur bisa menjadi salah satu tanda diabetes.

    Kondisi tersebut dikenal dengan retinopati diabetik dan bila tidak ditangani dengan tepat dapat mengakibatkan kebutaan.

    “Retinopati diabetik adalah komplikasi diabetes, yang disebabkan oleh kadar gula darah tinggi yang merusak bagian belakang mata (retina). Kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan jika tidak terdiagnosis dan tidak diobati,” ucap NHS dikutip dari Express, Sabtu (1/2/2025).

    Selain penglihatan menjadi kabur, retinopati diabetik biasanya ditandai dengan penglihatan memburuk secara bertahap, hilangnya penglihatan secara tiba-tiba, muncul floaters, penglihatan kabur tidak merata, muncul rasa nyeri dan kemerahan pada mata, hingga kesulitan melihat dalam gelap.

    Perlu digarisbawahi, retinopati diabetik biasanya memerlukan waktu beberapa tahun untuk akhirnya mengancam penglihatan. Oleh karena itu, pemeriksaan secara dini diperlukan untuk mengetahui secara pasti apakah gangguan penglihatan tersebut berkaitan dengan diabetes atau tidak.

    Berikut ini sederet gejala umum diabetes yang juga penting untuk diketahui masyarakat:

    Buang air kecil lebih sering.Sering merasa haus.Mudah merasa lelah.Berat badan turun tanpa alasan jelas.Gatal di area intim.Luka yang lebih lama untuk sembuh.

    (avk/kna)