Category: Detik.com Kesehatan

  • Dear Pasutri, Ini 6 Hal yang Terjadi Pada Tubuh saat Lama Tak Bercinta

    Dear Pasutri, Ini 6 Hal yang Terjadi Pada Tubuh saat Lama Tak Bercinta

    Jakarta

    Bagi pasangan suami istri, hubungan seksual merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga. Tak ayal, bagi pasutri, sesi bercinta kerap dinanti-nanti datangnya.

    Namun, aktivitas seksual bisa saja terhenti. Banyak faktor yang memengaruhi, seperti gangguan kesehatan hingga kesibukan. Padahal, terlalu lama melewatkan sesi bercinta, bisa berdampak kurang baik ke tubuh.

    Dikutip dari WebMD dan Medical News Today, mereka yang hasrat seksualnya tidak terpenuhi biasanya akan menjadi mudah marah dan gampang cemas.

    Sebuah studi pada tahun 2020 menunjukkan bahwa frustasi seksual berhubungan dengan gejala depresi. Selain itu, sebuah studi pada tahun 2021 menunjukkan bahwa kondisi ini juga bisa menyebabkan seseorang menjadi kurang fokus di tempat kerja.

    Lalu, apa saja yang terjadi pada tubuh ketika seseorang lama tak melakukan aktivitas seksual?

    1. Stres dan Mudah Cemas

    Saat berhenti melakukan hubungan seksual, dapat membuat seseorang menjadi kurang terhubung dengan pasangannya. Hal ini juga berarti berkurangnya dorongan untuk mengelola stres sehari-hari.

    2. Sistem Imun Melemah

    Seks secara teratur dapat membantu tubuh melawan penyakit, sehingga tidak akan mudah terserang flu atau sejenisnya. Melalui penelitian, mereka yang rutin berhubungan seks memiliki kadar antibodi imunoglobulin A yang lebih tinggi.

    3. Hubungan Kurang Harmonis

    Pasangan yang memiliki jadwal seksual kurang teratur dapat membuat hubungan menjadi renggang dan kurang harmonis. Pasalnya, seks yang teratur dapat membantu merasa dekat secara emosional dengan pasangan, yang membuka peluang untuk komunikasi yang lebih baik.

    4. Lebih Berisiko Kanker Prostat

    Hubungan antara seks dan kanker prostat masih pro dan kontra. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang jarang ejakulasi memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker prostat.

    Sebuah penelitian besar yang dilakukan pada 30.000 pria menemukan mereka yang mengalami lebih dari 21 kali ejakulasi dalam sebulan memiliki risiko kanker prostat yang lebih rendah dibanding mereka yang hanya ejakulasi empat hingga tujuh kali sebulan.

    Pasangan yang frekuensi berhubungan seksualnya menurun atau bahkan berhenti, dapat menurunkan daya ingat. Seseorang mungkin akan menjadi lebih pelupa.

    Seks teratur dapat membantu meningkatkan daya ingat, terlebih bagi mereka yang berusia antara 50-89 tahun.

    6. Sulit Tidur

    Seks sendiri diketahui dapat melepaskan hormon untuk membantu tidur nyenyak. Hormon seperti prolaktin dan oksitosin diketahui berperan untuk itu.

    (dpy/suc)

  • Video: Ribka Tjiptaning Kritisi Rumah Sakit yang Makin Berorientasi ke Komersialitas

    Video: Ribka Tjiptaning Kritisi Rumah Sakit yang Makin Berorientasi ke Komersialitas

    Video: Ribka Tjiptaning Kritisi Rumah Sakit yang Makin Berorientasi ke Komersialitas

  • Duh! Jarang Gosok Gigi Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Seseorang Kena Pikun

    Duh! Jarang Gosok Gigi Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Seseorang Kena Pikun

    Jakarta

    Mengabaikan rutinitas kebersihan yang penting di kamar mandi, seperti sikat gigi dapat meningkatkan risiko demensia. Sebuah studi baru telah mengungkapkan bahwa menyikat gigi dan membersihkan gigi dengan benang gigi tidak hanya dapat membantu mencegah gigi berlubang dan penyakit gusi, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kesehatan kognitif.

    Hal ini merujuk pada studi terbaru yang mengungkap adanya hubungan antara bakteri di mulut dan kesehatan kognitif. Untuk penelitian ini, para ilmuwan di University of Exeter mempelajari bakteri mulut dari 120 orang dewasa tua atau lansia.

    Separuh dari peserta ini mengalami gangguan kognitif ringan atau mild cognitive impairment (MCI), suatu kondisi yang dapat memengaruhi daya ingat dan keterampilan berpikir serta dapat meningkatkan risiko terkena demensia. Separuh lainnya adalah individu sehat dengan usia yang sama.

    Dikutip dari Study Finds, penelitian yang dipublikasikan di PNAS Nexus itu menunjukkan pola tertentu pada sekumpulan bakteri yang hidup di mulut peserta. Dua jenis bakteri, Neisseria dan Haemophilus, dikaitkan dengan kinerja yang lebih baik pada tes daya ingat dan berpikir. Sebaliknya, keberadaan bakteri lain, khususnya Prevotella, dikaitkan dengan skor yang lebih rendah pada tes ini.

    Temuan menarik lainnya adalah hubungan antara gen APOE4, yang diketahui meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer. Orang yang memiliki gen ini cenderung memiliki kadar bakteri jenis tertentu yang disebut Prevotella intermedia yang lebih tinggi di mulut mereka. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik mungkin terkait dengan variasi komposisi bakteri oral, meskipun studi tersebut tidak menetapkan hubungan kausal langsung.

    Para peneliti juga menganalisa bagaimana bakteri mulut berhubungan dengan proses biokimia dalam tubuh. Beberapa bakteri membantu mengolah nitrat dari makanan seperti bit dan sayuran hijau, mengubahnya menjadi molekul yang berperan dalam sirkulasi darah dan otak.

    Hasilnya, ditemukan bahwa orang dengan lebih banyak bakteri Neisseria dan Haemophilus memiliki komunitas mikroba yang berhubungan dengan jalur biokimia nitrat. Namun belum dipastikan apakah bakteri ini benar-benar meningkatkan pemrosesan nitrat dalam tubuh.

    Temuan penting lainnya melibatkan jenis bakteri yang disebut Porphyromonas gingivalis, yang diketahui menyebabkan penyakit gusi. Peserta dengan gangguan kognitif ringan memiliki kadar bakteri ini lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki masalah kognitif. Hal ini menambah bukti yang berkembang yang menghubungkan kesehatan mulut dan kesehatan otak.

    Tim peneliti juga menemukan bahwa kombinasi bakteri tertentu tampak sangat penting. Kombinasi Neisseria-Haemophilus menunjukkan hubungan statistik terkuat dengan kinerja tes kognitif, terutama pada peserta dengan gangguan kognitif ringan.

    Meski begitu, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini hanya mengidentifikasi hubungan. penelitian ini tidak membuktikan bahwa bakteri ini secara langsung memengaruhi fungsi kognitif.

    Temuan ini mungkin relevan khususnya bagi orang yang membawa gen APOE4. Karena orang-orang ini cenderung memiliki pola bakteri yang berbeda di mulut mereka, memberikan perhatian ekstra pada kesehatan mulut mungkin bermanfaat. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah strategi perawatan gigi tertentu dapat membantu mengurangi risiko penurunan kognitif.

    (suc/naf)

  • Heboh Data Medis Barbie Hsu Diduga Bocor, Ungkap Peluang Selamat dari Pneumonia

    Heboh Data Medis Barbie Hsu Diduga Bocor, Ungkap Peluang Selamat dari Pneumonia

    Jakarta

    Bintang drama televisi Meteor Garden, Barbie Hsu meninggal dunia di usia 48 tahun setelah tertular influenza. Kini beredar rumor terkait kesehatan di saat-saat terakhirnya. Data ini diduga dari catatan medis rumah sakit di Jepang yang bocor.

    Dikutip dari VN Express dan Dimsum Daily HK Sebelum kematiannya, Barbie Hsu sebenarnya telah menunjukkan tanda-tanda peringatan kesehatan yang serius.

    Menurut sebuah catatan yang diduga berasal dari rumah sakit di Tokyo, saturasi oksigen darah Hsu telah turun hingga 89 persen. Selain itu, paru-paru aktris asal Taiwan ini juga terdapat cairan.

    Tenaga medis memberikannya obat penurun demam, Hsu lalu bersikeras untuk kembali ke hotelnya. Dengan kondisi yang kurang baik tersebut, staf medis sebenarnya telah merekomendasikan untuk memindahkan Hsu ke Rumah Sakit Umum di Tokyo.

    Namun, Hsu dan keluarganya menolak. Pada saat perjalanan ke hotel, Hsu tiba-tiba mengalami henti napas dan dilarikan ke klinik terdekat. Hasil CT scan menunjukkan kedua paru-parunya telah memutih, menandakan sebuah kondisi yang serius.

    Sebelumnya, pemandu wisata yang menemani Hsu dan keluarganya buka suara terkait kondisi kesehatan wanita 48 tahun tersebut. Pada tanggal 1 Februari, pemandu wisata tersebut membawa Hsu dan keluarganya kembali ke Tokyo.

    Padahal, Hsu sendiri memiliki janji temu dengan dokter di sebuah rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatannya. Sayangnya, Hsu tidak hadir untuk itu. Beberapa orang berspekulasi bahwa ini menjadi faktor penting yang memperparah kondisi sang aktris.

    Barbie Hsu meninggalkan suaminya yang berkebangsaan Korea Selatan, serta putrinya yang berusia 10 tahun dan putranya yang berusia 8 tahun, yang ia miliki bersama mantan suaminya dan pengusaha China Wang Xiaofei.

    (dpy/up)

  • BPA di Galon Guna Ulang seperti Polusi, Tidak Terlihat Tapi Berisiko Kesehatan

    BPA di Galon Guna Ulang seperti Polusi, Tidak Terlihat Tapi Berisiko Kesehatan

    Jakarta – Bahaya Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang berbahan polikarbonat mulai menjadi perhatian banyak masyarakat. Paparan BPA di dalam tubuh seperti bom waktu, yang dapat ‘meledak’ di kemudian hari, saat seseorang terlalu sering terpapar.

    Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati pada apa-apa saja yang mereka konsumsi, termasuk soal BPA di galon guna ulang. Hal ini karena pilihan yang kurang tepat bisa saja merugikan di masa depan.

    “Banyak studi yang menunjukkan risiko BPA itu macam-macam. Saya selalu ingatkan, BPA itu kayak polusi, tapi nggak terlihat. Dikonsumsi aja, menimbun-menimbun dan bisa menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang,” kata Nia di acara detikcom Leaders Forum, di Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2025).

    Nia yang juga seorang konsumen mendorong pemerintah untuk segera menerapkan aturan terkait pelabelan BPA pada galon guna ulang. Hal ini sesuai dengan Peraturan ini tertuang pada Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018.

    “Karena yang dirugikan adalah orang-orang yang rentan, yang tidak paham. Konsumennya biasanya kan ibu-ibu. Tidak banyak ibu-ibu yang aware (sadar), risiko BPA ini apa, bahkan BPA saja mungkin mereka nggak paham benda apa itu,” kata Nia.

    Terkait implementasi peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) merekomendasikan aturan ini bisa diterapkan pada tahun 2026 mendatang atau dua tahun setelah dicetuskan di April 2024.

    (dpy/up)

  • Ahli Ungkap Prediksi Kapan Jepang Bisa Berakhir ‘Punah’ Imbas Krisis Populasi

    Ahli Ungkap Prediksi Kapan Jepang Bisa Berakhir ‘Punah’ Imbas Krisis Populasi

    Jakarta – Angka kelahiran Jepang menurun drastis dalam beberapa waktu terakhir. Apabila terus berlanjut, negara ini disebut bisa ‘punah’ imbas krisis populasi.

    Pakar sekaligus profesor dari research Center for Aged Economy and Society di universitas Tohoku, Hiroshi Yoshida membeberkan perkiraan waktu Jepang punah. Yoshida menduga pada 5 Januari 2720 Jepang hanya akan memiliki satu anak di bawah usia 14 tahun. Ia menghitung perkiraan ini setiap April sejak 2012.

    Yoshida menggunakan perhitungan simulasi tingkat tahunan penurunan populasi anak-anak berdasarkan perbedaan jumlah pada April tahun ini dan tahun sebelumnya. Dikutip dari Japan Times, prakiraan terbaru, yang mengasumsikan tingkat penurunan tahunan sebesar 2,3 persen pada April 2024, mempercepat waktu lebih dari 100 tahun dibandingkan dengan prediksi pada tahun 2023.

    Sebelumnya, angka kelahiran di Jepang terus mengalami penurunan yang cepat. Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan setempat menunjukkan angka tersebut turun menjadi 1,20 pada tahun 2023, yang merupakan angka terendah sepanjang sejarah.

    Di Tokyo, angka tersebut-yang merujuk pada jumlah rata-rata anak yang diharapkan dimiliki perempuan selama hidup mereka- mencapai 0,99, menjadikannya kota pertama di negara tersebut yang memiliki angka di bawah 1.

    baca juga

    Salah satu alasan penurunan ini diduga karena semakin sedikitnya orang yang menikah. Menurut laporan sensus tahun 2020, sekitar 28 persen pria berusia 50 tahun belum pernah menikah, sedangkan persentasenya sekitar 17,8 persen untuk wanita.

    Angka ini merupakan penurunan yang signifikan jika dibandingkan dengan masa lalu. Pada tahun 1990, angkanya hanya sekitar 5,6 persen untuk pria dan 4,3 persen untuk wanita.

    Untuk mengatasi penurunan angka kelahiran di Jepang, para pembuat kebijakan tengah mempertimbangkan berbagai langkah guna mendorong kaum muda untuk menikah.

    Aplikasi kencan dipandang sebagai kemungkinan bantuan bagi individu yang kesulitan bertemu pasangan potensial, dengan survei tahun lalu menunjukkan bahwa 1 dari 4 pasangan di bawah usia 40 tahun yang menikah dalam satu tahun terakhir telah bertemu pasangan mereka melalui aplikasi tersebut .

    Tahun lalu, Pemerintah Metropolitan Tokyo bahkan meluncurkan aplikasi kencannya sendiri dengan harapan dapat menawarkan alat bagi warga Tokyo untuk membawa mereka selangkah lebih dekat menuju pernikahan.

    baca juga

    (suc/suc)

  • Trump Bakal Tutup USAID, Seluruh Pegawai Mulai Tinggalkan Kantor 7 Februari

    Trump Bakal Tutup USAID, Seluruh Pegawai Mulai Tinggalkan Kantor 7 Februari

    Jakarta – Presiden AS Donald Trump berencana menutup United States Agency for International Development (USAID), lembaga yang dikenal selama ini membantu pendanaan banyak negara miskin. USAID konon akan digabungkan dengan Departemen Luar Negeri AS.

    Hubungan yang selama ini sudah berkembang ke banyak negara termasuk Indonesia otomatis terhenti. Langkah tersebut juga akan mengurangi secara signifikan tenaga kerja dan dana USAID.

    Satu penasihat utamanya, miliarder Elon Musk, dinilai sangat kritis terhadap USAID. Ada sejumlah tuduhan yang kerap dilayangkan Elon Musk pada lembaga tersebut.

    Musk menuding USAID sebagai sarang ular berbisa kaum Marxis kiri radikal yang membenci AS dan telah bersumpah sebelumnya, untuk menutupnya. ‘Lampu hijau’ dari Trump membuat Musk juga menutup markas besar USAID di Washington.

    Kritik tak berdasar lain dari Musk adalah klaim USAID membantu pekerjaan CIA yang mendanai penelitian senjata biologis, termasuk COVID-19.

    Kini, penutupan USAID dikhawatirkan berdampak besar pada program kemanusiaan seluruh dunia.

    Pada Selasa (4/2/2025), seluruh pegawai USAID diberikan cuti administratif, baik pada karyawan di AS maupun seluruh dunia.

    Dalam sebuah pernyataan di situs resmi USAID, cuti staf akan resmi dimulai sesaat sebelum tengah malam pada Jumat (7/2). Berlaku untuk semua personel yang direkrut langsung oleh USAID, kecuali personel yang ditunjuk untuk bertanggung jawab atas fungsi-fungsi penting, kepemimpinan inti, dan program-program yang ditunjuk secara khusus.

    Pegawai yang berada di luar negeri diminta kembali ke AS dan mengakhiri kontrak yang dinilai tidak perlu.

    “Terima kasih atas pengabdian Anda,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

    Hal ini dinilai telah mengejutkan Washington dan menyebabkan protes besar-besaran dari Demokrat dan komunitas hak asasi manusia.

    Sebagai badan bantuan kebijakan luar negeri AS, USAID mendanai program kesehatan dan darurat di sekitar 120 negara, termasuk wilayah-wilayah termiskin di dunia.

    CEO SpaceX dan Tesla, yang memiliki kontrak besar dengan pemerintah AS, juga pendukung finansial terbesar kampanye Trump, mengatakan dirinya secara pribadi telah menyetujui langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya tersebut dengan presiden.

    Serangan terhadap USAID terjadi dalam konteks narasi yang sudah berlangsung lama di sayap konservatif garis keras dan libertarian Partai Republik, bahwa AS disebut membuang-buang uang untuk orang asing sambil mengabaikan orang Amerika.

    Badan tersebut menggambarkan dirinya sebagai badan yang bekerja untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem dan mempromosikan masyarakat yang tangguh dan demokratis sambil memajukan keamanan dan kemakmuran negara.

    Anggarannya yang lebih dari US$40 miliar merupakan penurunan kecil dalam keseluruhan pengeluaran tahunan pemerintah AS yang hampir mencapai US$7 triliun.

    (naf/kna)

  • Awal Mula Pria 25 Tahun Kena Kanker Limfoma Hodgkin Stadium 4, Dikira Cuma Kelelahan

    Awal Mula Pria 25 Tahun Kena Kanker Limfoma Hodgkin Stadium 4, Dikira Cuma Kelelahan

    Jakarta

    Seorang pria bernama Dilan Patel mengaku telah mengabaikan gejala tak biasa yang ternyata merupakan tanda kanker ganas. Ia selalu mengaitkan gejala tersebut dengan hal lain, seperti kelelahan akibat bekerja atau terlalu memaksakan diri untuk berolahraga.

    Pria dari Inggris itu mengaku mengalami gejala berkeringat di malam hari selama dua tahun. Awalnya ia tak mempermasalahkan gejala itu, tetapi lama-kelamaan gejala yang dirasakan semakin memburuk.

    Dirinya juga mengalami kelelahan sepanjang waktu yang sempat dikira hanya efek dari bekerja selama berjam-jam.

    “Saya terbangun tengah malam dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh,” lanjutnya. “Maksud saya, BASAH BANGET. Pakaian saya, tempat tidur saya – semuanya basah. Itu terjadi 2-3 kali setiap malam. Awalnya, saya hanya berpikir, ‘Mungkin saya kepanasan di balik selimut?’ Jadi saya menepisnya,” katanya dikutip Unilad.

    “Kulit saya sangat gatal. Sampai-sampai saya membawa lotion ke mana-mana, yakin itu hanya kulit kering. Saya bahkan melihat benjolan di leher saya, tetapi saya pikir itu adalah otot saya yang tumbuh karena semua latihan di pusat kebugaran,” sambungnya lagi.

    Patel akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter. Pada saat itu, dokter mendiagnosisnya mengidap kanker limfoma hodgkin, sejenis kanker yang berkembang dalam sistem limfatik Kanker yang diidapnya bahkan sudah masuk stadium akhir atau 4B.

    “Pada usia 25 tahun, saya didiagnosis menderita Limfoma Hodgkin Stadium 4B. Lima tumor. Bahkan sudah menyebar ke paru-paru. Saya tidak percaya. Saya sudah lama mengabaikan gejala-gejala saya, meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan masalah besar,” katanya lagi.

    Diagnosisnya mendorong Patel untuk mengendalikan nutrisi, kebugaran, dan kebiasaan sehari-harinya. Kini, sembilan tahun kemudian dan setelah menjalani rangkaian kemoterapi, ia dinyatakan terbebas dari kanker alias remisi.

    Setelah mengambil langkah-langkah untuk membangun kembali kesehatannya, Patel meninggalkan pekerjaan korporatnya yang bergaji tinggi untuk membangun pusat kebugaran DNA Fitness, sebuah bisnis untuk membantu para wanita juga meningkatkan kesehatan dan kebugaran mereka.

    “Tanda-tanda dan gejala-gejala kecil itu? Ada alasannya. Jangan menunggu sampai terlambat,” pungkasnya.

    (suc/naf)

  • Leukemia Jadi Jenis Kanker Terbanyak pada Anak RI, IDAI Bicara Pemicunya

    Leukemia Jadi Jenis Kanker Terbanyak pada Anak RI, IDAI Bicara Pemicunya

    Jakarta

    Kisah Devin Nur Faeyza yang belakangan viral karena mengidap leukemia atau kanker darah di usia 6 tahun merupakan satu dari sekian banyak anak yang berjuang dengan kondisi yang sama. Data Global Burden of Cancer (Globocan) pada 2008 hingga 2022 menunjukkan kenaikan kanker anak bahkan mencapai 40 persen.

    Jenis kanker yang paling banyak ditemui pada anak adalah kanker darah. Berikut daftarnya di Indonesia, mengacu pada Globocan 2022:

    Leukemia Limfoblastik: 2.963 kasusLeukemia Myeloblastik Akut: 694 kasusRetinoblastoma: 523 kasusOsteosarkoma: 427 kasusLimfoma maligna Non-hodgkin (kecuali Burkitt Limfoma): 337 kasusNefroblastoma dan tumor ginjal nonepitel lainnya: 310 kasusNeuroblastoma ganglioneuroblastoma: 274 kasusRabdomiosarkoma: 272 kasusLeukemia Myeloblastik kronis: 243 kasusTumor ganas sel geminal gonad ganas: 233 kasusApa Pemicunya?

    Pemicu kanker pada anak belum benar-benar bisa dipastikan, tetapi ada beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah obesitas yang menyebabkan anak mengalami inflamasi atau peradangan kronis.

    Hal ini diutarakan Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Airlangga Prof Dr dr I Dewa Gede Ugrasena SpA (K).

    “Jadi obesitas itu diidentifikasi sebagai faktor risiko. Kita tahu bahwa obesitas itu banyak lemak, itu peradangan kronis. Jadi kelebihan jaringan lemak pada tubuh dapat menyebabkan kronik inflamasi, peradangan kronis ya,” kata pria yang akrab disapa Prof Ugra dalam diskusi daring, Selasa (4/2/2025).

    Peradangan pada anak disebutnya dapat mendukung pertumbuhan sel abnormal yang menjadi bibit kanker. Terlebih, anak dengan kondisi obesitas juga umumnya mengalami gangguan keseimbangan hormon serta metabolisme.

    Hal ini juga kerap diikuti dengan peningkatan kadar insulin. Saat kedua gangguan tersebut terjadi, risiko munculnya sel abnormal yang berkembang menjadi kanker sulit dihindari.

    “Jadi yang kita tahu bahwa insulin dan insulin growth factor ini, keduanya berperan di dalam pertumbuhan sel. Jadi gangguan ini bisa meningkatkan risiko terjadinya mutasi atau proliberasi yang tidak terkendali nanti yang bisa menyebabkan timbulnya kanker,” beber dia.

    Meski begitu, Prof Ugra menilai perlu penelitian lebih lanjut untuk benar-benar memastikan keterkaitan keduanya.

    Senada, Ketua UKK Hemato Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Eddy Supriyadi SpA (K) PhD menyebut Indonesia perlu memiliki studi yang bisa melihat keseluruhan antara hubungan obesitas dengan kanker anak.

    Sebagai data awal, bisa terlihat dari perbandingan data proporsi kanker pada anak yang mengalami obesitas dengan tidak obesitas.

    “Kita perlu studi, nah untuk itu kita akan perlu pentingnya registrasi secara nasional. Termasuk kalau status gizi yang normal, underweight, atau obesity, itu seberapa besar yang kita temui pada populasi kanker,” kata Eddy.

    dr Eddy menekankan kanker pada anak dan dewasa secara profil biologis sangatlah berbeda.

    “Biasanya kanker dewasa terjadi karena pola makanan dan lingkungan, tapi di anak-anak lebih pada faktor genetik, dan banyak kejadian yang akut atau mendadak,” ungkapnya.

    (naf/naf)

  • Barbie Hsu Meninggal Komplikasi Flu, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Vaksin Influenza

    Barbie Hsu Meninggal Komplikasi Flu, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Vaksin Influenza

    Jakarta

    Kematian aktris Barbie Hsu memicu kekhawatiran publik terkait influenza yang bisa berujung fatal karena komplikasi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Taiwan (CDC) baru-baru ini juga mengingatkan warganya untuk segera mengikuti vaksinasi flu.

    Mengingat, jumlah pasien Taiwan yang berkunjung ke rumah sakit karena influenza bahkan mencetak rekor tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Catatan otoritas setempat di periode 19 hingga 25 Januari mencapai 162.352 pasien.

    Sebagai kehati-hatian, Kementerian Kesehatan RI ikut menyampaikan imbauan senada. Perlu diingat, influenza bersirkulasi sepanjang tahun pada daerah iklim tropis seperti Indonesia.

    “Berdasarkan data beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan kasus pada akhir ke awal tahun, pada musim hujan,” ungkap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI dr Ina Agustina Isturini, MKM saat dihubungi detikcom Selasa (4/2/2025).

    Vaksin influenza disebutnya bisa meningkatkan kekebalan tubuh untuk membantu mencegah gejala berat hingga risiko pasien mengalami komplikasi. Vaksin ini bahkan seharusnya diprioritaskan untuk kelompok rentan seperti berikut:

    LansiaAnak-anak di bawah 5 tahunKomorbid hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan riwayat penyakit penyerta lainIbu hamilTenaga kesehatan

    Risiko Kematian Bila Tak Divaksin

    Risiko kematian karena influenza saat sudah divaksinasi bisa ditekan, efek dari kekebalan tubuh yang meningkat. Influenza bisa berujung fatal saat pasien mengalami komplikasi pneumonia hingga sepsis.

    Mereka yang rentan mengalami komplikasi disarankan untuk sebisa mungkin menghindari penularan. Menutupi batuk dan bersin dengan tisu atau siku yang ditekuk, mencuci tangan secara teratur, memakai masker di tempat ramai atau ruangan dengan ventilasi yang buruk, serta vaksinasi untuk penyakit pernapasan yang tersedia seperti vaksin influenza dan vaksin PCV.

    (naf/naf)