Category: Detik.com Kesehatan

  • Video: Pemerintah Batasi 30 Orang Per Hari untuk Cek Kesehatan Gratis

    Video: Pemerintah Batasi 30 Orang Per Hari untuk Cek Kesehatan Gratis

    Video: Pemerintah Batasi 30 Orang Per Hari untuk Cek Kesehatan Gratis

  • Cek Kesehatan Gratis Pas Lagi Mudik, Boleh di Luar Puskesmas Domisili?

    Cek Kesehatan Gratis Pas Lagi Mudik, Boleh di Luar Puskesmas Domisili?

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan RI memastikan program cek kesehatan gratis (CKG) akan terus berjalan di bulan Ramadan. Bagi mereka yang sedang mudik dan pulang kampung menjelang Hari Raya Idul Fitri, disarankan untuk melakukan CKG sepulang mudik di puskesmas domisili masing-masing.

    Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes RI, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan alasannya adalah untuk menjaga manajemen pelayanan. Mengingat, setiap puskesmas sudah diberikan masing-masing stok bahan medis habis pakai.

    “Ini untuk memudahkan manajemen pelayanan sebaiknya bapak ibu tetap di domisili masing-masing, supaya load bahan medis habis pakai untuk periksa tidak terganggu,”

    “Dan ini memudahkan puskesmas,” sambungnya.

    Khusus mereka dengan hari ulang tahun di Januari, Februari, hingga Maret, pemerintah membuka kesempatan untuk melakukan CKG selambatnya hingga April. Sebab, proses pendaftaran dan administrasi juga baru dibuka Senin (10/2).

    Hal ini ditekankan Endang agar memperluas kesempatan pada mereka yang sedang berhalangan di tengah mudik dan libur panjang. Sementara mereka yang berulang tahun setelah Maret, diberikan batas waktu mengikuti cek kesehatan gratis hingga 30 hari setelah ulang tahun.

    “Jadi, Bapak, Ibu, punya kesempatan sampai lebih dari 30 hari. Untuk yang Januari, Februari, Maret, boleh sampai dengan April, untuk mengantisipasi Ramadan, jadi nanti boleh sampai dengan April,” pungkas dia.

    (naf/kna)

  • Stok Vaksin di Taiwan Menipis, Diborong Warga pasca Kematian Barbie Hsu

    Stok Vaksin di Taiwan Menipis, Diborong Warga pasca Kematian Barbie Hsu

    Jakarta

    Sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Taiwan melaporkan lonjakan permintaan vaksin flu setelah aktris Taiwan Barbie Hsu meninggal di Jepang akibat pneumonia terkait influenza.

    Diberitakan VN Express, di Kota Tainan, lebih dari 7.400 dosis vaksin flu gratis awalnya tersedia, tetapi semuanya ludes dalam kurun waktu tiga jam setelah kabar meninggalnya Barbie Hsu.

    Departemen Kedokteran Keluarga di Rumah Sakit Taichung, di bawah Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, juga melaporkan peningkatan tajam jumlah pasien pada sore itu. Lonjakan permintaan bahkan membanjiri situs web CDC Taiwan.

    Banyak orang memutuskan untuk divaksinasi setelah mengetahui kematian Hsu. Keluarganya mengonfirmasi bahwa dia meninggal karena pneumonia terkait influenza, dengan mencatat dia telah menunjukkan tanda-tanda peringatan kesehatan yang parah sebelum kematiannya.

    Hung Wei-chieh, Direktur Departemen Kedokteran Keluarga di Rumah Sakit E-Da, mengatakan kepada Taiwan News pada Selasa bahwa sebelum Tahun Baru Imlek, hanya ada sedikit minat untuk vaksinasi flu. Namun, dalam dua hari terakhir, banyak orang yang sebelumnya ragu-ragu telah secara proaktif mencari lokasi vaksinasi.

    Dalam konferensi pers darurat pada hari Senin (3/1), CDC Taiwan merilis statistik flu terbaru. Dari tanggal 19 hingga 25 Januari, terdapat 162.352 kunjungan rawat jalan dan gawat darurat untuk penyakit mirip flu, jumlah tertinggi untuk periode tersebut dalam 10 tahun terakhir.

    Pemerintah Taiwan juga akan membeli 100.000 dosis tambahan vaksin flu, yang diperuntukkan bagi kelompok berisiko tinggi, untuk memenuhi permintaan yang meningkat pada musim flu ini.

    Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) pada hari Kamis menyetujui pembelian 100.000 dosis tambahan vaksin yang didanai publik. Vaksin tersebut akan diberikan kepada kelompok berisiko tinggi, khususnya mereka yang berusia di atas 65 tahun, balita di atas 6 bulan, anak-anak prasekolah, dan individu lain yang ditetapkan CDC sebagai berisiko tinggi terkena influenza.

    (kna/naf)

  • Dimulai 10 Februari, Kuota Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas 30 Orang Per Hari

    Dimulai 10 Februari, Kuota Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas 30 Orang Per Hari

    Jakarta

    Program cek kesehatan gratis bakal serentak dilakukan mulai Senin (10/2/2025) di seluruh puskesmas Indonesia, terkecuali pada kelompok anak yang akan dimulai berbarengan dengan jadwal masuk sekolah, Juli mendatang.

    Setiap puskesmas diberikan masing-masing 30 kuota, untuk menyiasati ‘overload’ antrean pemeriksaan. “Kita tetapkan kuota maksimal pendaftaran digital 30 per hari, melalui SATUSEHAT mobile,” tandas Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes RI Maria Endang Sumiwi dalam konferensi pers Jumat (7/2/2025).

    Peserta bisa mengetahui nomor antrean di aplikasi SATUSEHAT mobile, yang sudah tertera jam pemeriksaan masing-masing orang. Sebagai catatan, tidak semua puskesmas sudah terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT.

    Karenanya, bagi beberapa wilayah dengan hambatan ketersediaan internet, pemeriksaan atau cek kesehatan gratis dilakukan dengan pendaftaran manual.

    Chief of Digital Transformation Office (DTO) Kemenkes RI, Setiaji, juga memastikan kemungkinan akan memberikan bantuan internet tambahan di wilayah-wilayah tersebut.

    “Kurang lebih di Kalimantan Timur ada 6 puskesmas dengan internet yang belum memadai, tetapi secara keseluruhan ada 400 puskesmas di Indonesia. Ini akan kita support juga dengan bantuan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), untuk bisa membantu menyiapkan beberapa akses internet tadi,” lanjutnya.

    “Nanti juga kita siapkan yang belum internetnya memadai, untuk penginputan secara database di sistem kita, dilakukan secara manual dan tetap diberikan pelayanan,” pungkasnya.

    Saksikan juga Blak-blakan, Zulhas: Swasembada Pangan Bukan Angan-angan

    (naf/kna)

  • Kata Dermatolog soal Viral Kaki Wanita Melepuh usai Perawatan IPL Bulu Kaki

    Kata Dermatolog soal Viral Kaki Wanita Melepuh usai Perawatan IPL Bulu Kaki

    Jakarta

    Belum lama ini viral wanita yang mengeluhkan sejumlah luka seperti bekas terbakar atau melepuh pasca menjalani perawatan dengan intense pulse light (IPL) hair removal untuk menghilangkan bulu kaki. IPL memang dikenal sebagai teknologi cahaya berintensitas tinggi, untuk membantu mencegah pertumbuhan rambut atau bulu di tubuh termasuk area ketiak hingga bulu kaki.

    Irene Septaria mengunggah foto kondisi kakinya tiga hari pasca menjalani IPL. Tampak seluruh kakinya dipenuhi dengan bekas luka berwarna hitam kecokelatan. Luka tersebut diikuti keluhan gatal hingga perih. Bekas luka yang dialami Irene diakuinya bertahan selama berbulan-bulan.

    “Keluhan aku muncul ini 3 hari setelah IPL. Awalnya langsung warna kecokelatan, gatal, dan perih,” cerita dia kepada detikcom Jumat (7/2/2025).

    Spesialis kulit dr Ruri Diah Pamela, SpKK membenarkan hal tersebut memang bisa terjadi. Karenanya, wajib melakukan konsultasi terlebih dulu dengan dokter untuk memastikan kondisi kulit masing-masing. Salah satunya, kulit harus dalam keadaan sehat tanpa iritasi, luka terbuka, infeksi, mapun dermatitis aktif sebelum melalukan IPL.

    Di sisi lain, masyarakat juga perlu menghindari paparan sinar matahari langsung atau tanning dalam dua hingga empat pekan sebelum melakukan prosedur IPL.

    “Jangan melakukan waxing, mencabut bulu dengan pinset, atau threading dalam 4 minggu sebelum IPL, karena IPL menargetkan folikel rambut yang harus tetap utuh,” beber dr Ruri kepada detikcom Jumat (7/2).

    dr Ruri juga menyarankan untuk mencukur area yang akan dilakukan perawatan IPL sehari sebelum dilakukan tindakan. Demi menghindari energi panas berlebih di permukaan kulit. Hal yang juga tidak kalah penting diperhatikan adalah menyetop sementara penggunaaan produk skincare mengandung retinoid.

    “Produk skincare yang mengandung retinoid, AHA/BHA, atau hidrokuinon selama beberapa hari sebelum prosedur,” sorotnya.

    Di tengah menjamurnya klinik kecantikan, kompetensi klinik dan tenaga kesehatan yang melakukan tindakan perlu menjadi bahan dasar utama pertimbangan masyarakat saat memilih tempat perawatan.

    “Pastikan prosedur dilakukan oleh tenaga profesional berpengalaman. Gunakan teknologi IPL berkualitas dengan panjang gelombang yang sesuai dengan jenis kulit dan warna rambut,” pungkas dr Ruri.

    (naf/kna)

  • Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis, Bisa Lewat SatuSehat Mobile-WA

    Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis, Bisa Lewat SatuSehat Mobile-WA

    Jakarta

    Cek Kesehatan Gratis (CKG) akan dimulai pada 10 Februari 2025. Cek kesehatan ini akan dilakukan di 10 ribu puskesmas dan 15 ribu klinik yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

    Program ini dirancang agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, mulai dari bayi hingga lansia. Namun, pemeriksaan akan dilakukan secara bertahap berdasarkan kelompok usia.

    Salah satu pemeriksaan baru yang diperkenalkan adalah skrining kesehatan jiwa. Skrining ini mulai diterapkan sejak usia sekolah dasar (SD), mengingat hasil survei kesehatan menunjukkan bahwa 1 dari 10 anak mengalami gangguan kecemasan atau depresi.

    Selain itu, program ini juga mencakup skrining kanker bagi masyarakat berusia di atas 40 tahun. Fokus utama adalah deteksi kanker payudara dan serviks pada perempuan, serta kanker paru dan kolorektal pada laki-laki.

    Berikut cara mendaftarkan Cek Kesehatan Gratis (CKG), bisa melalui WhatsApp dan SatuSehat Mobile.

    1. Cara Daftar Cek Kesehatan Gratis Melalui SatuSehat Mobile

    Mengunduh aplikasi SatuSehat Mobile melalui Play Store atau App StoreBuka Aplikasi dan cari ikon ‘Periksa Kesehatan Gratis’Mengisi data diri, seperti nama Nomor Induk Kependudukan (NIK), nomor telepon, dan lainnyaPilih tanggal dan lokasi fasilitas layanan kesehatanSetelah mengisi, tiket Cek Kesehatan Gratis akan terbit. Klik untuk ‘Lihat Detail’Geser ke Bawah, tekan ‘Isi Skrining’ untuk mulai skrining mandiri

    “Pendaftaran ini baru bisa dilakukan apabila yang bersangkutan ulang tahun H-7. Kemudian kalau untuk Januari sampai sekarang, kita sudah buka, tapi untuk berikutnya hari berikutnya, H-7,” ucap Chief of Digital Transformation Office (DTO) Kemenkes RI, Setiaji, dalam ‘Konferensi Pers Persiapan Peluncuran Cek Kesehatan Gratis’, Jumat (7/2/2025).

    2. Cara Daftar Melalui WhatsApp Cek Kesehatan Gratis

    Selain melalui aplikasi SatuSehat Mobile, masyarakat juga bisa mendaftarkan diri Cek Kesehatan Gratis (CKG) melalui WhatsApp. Berikut Caranya.
    Kirim pesan ke WhatsApp Kemenkes RI di Nomor 0811-1050-0567

    Pilih menu ‘Cek Kesehatan Gratis’Mengisi data diri, seperti nama Nomor Induk Kependudukan (NIK), nomor telepon, dan lainnyaPilih tanggal dan lokasi fasilitas layanan kesehatanSetelah mengisi, tiket Cek Kesehatan Gratis akan terbit.

    “Itu nanti di situ ada chatbot untuk melakukan pendaftaran. Kurang lebih yang diisi sama, seperti nama, NIK, pilih lokasi puskesmas, dan di ujung terakhir akan menghasilkan tiket pemeriksaan yang bisa ditunjukkan melakukan pemeriksaan tadi,” sambungnya.

    Setiaji juga mengatakan seseorang bisa menambahkan keluarga, seperti anak dan orang tua ke dalam SatuSehat Mobile untuk mendaftarkan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

    “Di sini kita bisa pilih masuk ke profile, tentunya daftar kita individu sendiri dulu. Baru nanti kemudian baru bisa menambahkan yang kita sebut profil tertaut, atau anggota keluarga kita. di isi nama, NIK, identitas, tanggal lahir, dan sebagainya, dan relasinya apakah orang tua ataupun anak,” katanya.

    Kemudian kita bisa nanti melihat siapa saja profile yang ada di sana. Nah ini lah yang kita daftarkan pada saat ulang tahun, melakukan pemeriksaan kesehatan tadi,” ucapnya.

    (suc/up)

  • Cek Kesehatan Gratis Dimulai 10 Februari! Ini Jenis Pemeriksaan yang Tersedia

    Cek Kesehatan Gratis Dimulai 10 Februari! Ini Jenis Pemeriksaan yang Tersedia

    Jakarta

    Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Ulang Tahun dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) akan mulai dilaksanakan serentak pada Senin (10/2) di puskesmas dan klinik. Namun, CKG Ulang Tahun ini tidak diperuntukkan bagi anak-anak sekolah berusia 7-17 tahun.

    Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes RI Maria Endang Sumiwi mengatakan CKG Ulang Tahun ini dikhususkan untuk anak-anak berusia 0-6 tahun dan 18 tahun ke atas. Sementara, anak sekolah berusia 7-17 tahun, pemeriksaan kesehatan akan dilakukan di sekolah.

    “Kenapa kami bagi? Ini untuk mengantisipasi kemampuan layanan kita. Jadi yang kesehatan ulang tahun itu selain yang usia SD, SMP, dan SMA. Ini akan kita mulai besok hari Senin. Seluruh puskesmas kita sudah siap,” kata dr Maria Endang di kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Jumat (7/2/2025).

    “Untuk yang ulang tahun Januari sesuai tanggalnya plus 30 hari, itu bisa mengakses pemeriksaan kesehatan ulang tahun,” lanjutnya.

    Terkait cek kesehatan gratis di sekolah, Maria Endang mengatakan akan dilaksanakan pada bulan Juli 2025. Ini bertepatan dengan tahun ajaran baru. Kemenkes saat ini sedang menyiapkan program tersebut.

    Selain CKG Ulang Tahun dan CKG sekolah, Kemenkes juga menyediakan CKG Khusus yang diperuntukkan untuk ibu hamil dan balita.

    Berikut adalah jenis-jenis pemeriksaan yang ada di CKG Ulang Tahun.

    Bayi Baru Lahir

    Kekurangan hormon tiroid bawaanKekurangan enzim pelindung sel darah merah (G6PD)Kekurangan hormon adrenal bawaanPenyakit jantung bawaan kritisKelainan saluran empeduPertumbuhan (berat badan)

    Balita dan Anak Prasekolah

    PertumbuhanPerkembanganTuberkulosisTelingaMataGigiTalasemia (pemeriksaan darah pada usia 2 tahun saja)Gula darah (pemeriksaan darah pada usia 2 tahun saja)

    Dewasa dan Lansia

    MerokokTingkat aktivitas fisikStatus giziGigiTekanan darahGula darahRisiko stroke, risiko jantung (usia 40 tahun atau lebih)Fungsi ginjal (usia 40 tahun atau lebih)TuberkulosisPenyakit paru obstruktif kronis (PPOK)Kanker payudara (usia 30 tahun atau lebih)Kanker leher rahim (usia 30 tahun atau lebih)Kanker paru (usia 45 tahun atau lebih)Kanker usus besar (usia 50 tahun atau lebih)MataTelingaJiwaHati (Hepatitis B, C, dan sirosis)Calon pengantin (anemia, sifilis, HiV)Geriatri (usia 60 tahun atau lebih)

    (dpy/up)

  • Sempat Dialami Meriam Bellina, Kenali Faktor Pemicu Serangan Jantung

    Sempat Dialami Meriam Bellina, Kenali Faktor Pemicu Serangan Jantung

    Jakarta

    Akrtis Meriam Bellina menceritakan soal serangan jantung yang pernah dialaminya. Kondisi tersebut terjadi pada 25 November 2024.

    “Iya itu 25 November 2024 kemarin kenanya. Jadi, awal mulanya itu kayak gerd sih, aku pikir kan lambung ya. Terus, kok tahu-tahu muntah, nggak enak banget badannya,” jelasnya dalam acara Rumpi di TransTV, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2025).

    Ia mengungkapkan dadanya terasa berat seperti diinjak gajah. Melihat kondisi itu, Meriam langsung dilarikan ke rumah sakit.

    Setelah diperiksa di IGD, gejala yang dialami Meriam masih diduga karena masalah lambung. Namun, setelah diberikan obat lambung, keluhannya malah semakin parah.

    “Terus makin nggak enak, dada rasanya kayak diinjak gajah, berat banget. Akhirnya EKG dan benar serangan jantung,” tutur wanita 59 tahun itu.

    Dikutip dari Mayo Clinic, serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung berkurang atau tersumbat secara drastis. Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain di arteri jantung (koroner).

    Endapan lemak yang mengandung kolesterol disebut plak. Terkadang, plak dapat pecah dan membentuk gumpalan yang menghalangi aliran darah. Kurangnya aliran darah dapat merusak atau menghancurkan sebagian otot jantung.

    Selain itu, ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung. Berikut penjelasannya.

    Faktor risiko serangan jantung

    1. Usia

    Pria berusia 45 tahun ke atas dan wanita berusia 55 tahun ke atas lebih mungkin mengalami serangan jantung dibandingkan pria dan wanita yang lebih muda.

    2. Penggunaan tembakau

    Penggunaan tembakau ini termasuk merokok dan paparan asap rokok dalam jangka panjang.

    3. Hipertensi atau tekanan darah tinggi

    Seiring berjalannya waktu, tekanan darah tinggi dapat merusak arteri yang menuju ke jantung. Tekanan darah tinggi yang terjadi bersamaan dengan kondisi lain, seperti obesitas, kolesterol tinggi, atau diabetes, semakin meningkatkan risikonya.

    4. Kolesterol tinggi atau trigliserida

    Kadar kolesterolow-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol “jahat” yang tinggi di dalam tubuh kemungkinan besar akan mempersempit arteri. Kadar lemak darah tertentu yang disebut trigliserida juga meningkatkan risiko serangan jantung. Risiko serangan jantung dapat menurun jika kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol “baik” berada dalam kisaran normal.

    5. Kegemukan

    Kegemukan dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, diabetes, kadar trigliserida dan kolesterol jahat yang tinggi, serta kadar kolesterol baik yang rendah. Semua faktor tersebut berisiko meningkatkan seseorang terkena serangan jantung.

    6. Diabetes

    Kadar gula darah meningkat ketika tubuh tidak memproduksi hormon insulin atau tidak dapat menggunakannya dengan benar. Kadar gula darah yang tinggi meningkatkan risiko serangan jantung.

    7. Riwayat keluarga

    Jika saudara laki-laki, saudara perempuan, orang tua, atau kakek-nenek pernah mengalami serangan jantung dini pada usia 55 tahun untuk pria dan pada usia 65 tahun untuk wanita, seseorang mungkin memiliki risiko lebih tinggi.

    8. Kurang berolahraga

    Kurangnya aktivitas fisik dikaitkan dengan risiko serangan jantung yang lebih tinggi. Olahraga teratur meningkatkan kesehatan jantung.

    9. Pola makan yang tidak sehat

    Pola makan yang mengandung banyak gula, lemak hewani, makanan olahan, lemak trans, dan garam meningkatkan risiko serangan jantung. Makanlah banyak buah, sayur, serat, dan minyak sehat.

    10. Stres

    Stres emosional, seperti kemarahan yang berlebihan, dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

    (sao/kna)

  • Vatikan Umumkan Paus Fransiskus Sakit, Idap Bronkitis

    Vatikan Umumkan Paus Fransiskus Sakit, Idap Bronkitis

    Jakarta

    Vatikan mengumumkan Paus Fransiskus sakit bronkitis. Audiensi dan beberapa agenda lainnya akan dilakukan di kediamannya menyusul kabar tersebut.

    “Karena bronkitis yang dia alami akhir-akhir ini, dan untuk melanjutkan kegiatannya, pada hari Jumat, 7 Februari, dan Sabtu, 8 Februari, audiensi Paus Fransiskus akan diadakan di Casa Santa Marta,” tulis pengumuman Vatikan dikutip dari Catholic News Agency, Jumat (7/2/2025).

    Paus Fransiskus telah menghadapi beberapa tantangan kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk masalah lutut yang membuat dia membutuhkan kursi roda, infeksi pernapasan, dan riwayat jatuh yang mengakibatkan memar lengan bawahnya.

    Bronkitis seperti yang diidap Paus Fransiskus terjadi ketika tabung bronkial, yang membawa udara ke paru-paru, menjadi meradang dan bengkak. Hal ini menyebabkan batuk dan lendir yang mengganggu.

    Dikutip dari WebMD, ada dua jenis bronkitis, yakni akut dan kronis. Bronkitis akut juga dikenal sebagai pilek dada, adalah bronkitis jangka pendek. Gejala yang paling umum adalah batuk. Gejala lainnya termasuk batuk lendir, mengi, sesak napas, demam, dan ketidaknyamanan dada. Infeksi dapat berlangsung dari beberapa hingga sepuluh hari.

    Sementara bronkitis kronis merupakan kondisi yang lebih serius. Gejalanya terus muncul atau tidak hilang dan menyebabkan iritasi yang sedang berlangsung atau peradangan pada lapisan tabung bronkial. Bronkitis kronis adalah bagian dari kondisi yang disebut penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Dengan bronkitis kronis, batuk akan berlangsung setidaknya 3 bulan dan kembali setidaknya 2 tahun berturut-turut.

    (kna/up)

  • Studi Terbaru Ungkap ‘Alumni’ COVID-19 Lebih Berisiko Kena Serangan Jantung

    Studi Terbaru Ungkap ‘Alumni’ COVID-19 Lebih Berisiko Kena Serangan Jantung

    Jakarta

    COVID-19 ternyata masih meninggalkan ketakutan bagi para alumninya. Studi terbaru menyebut, mereka yang pernah terpapar COVID-19 lebih berisiko terkena serangan jantung, bahkan setelah pemulihan.

    Penelitian ini dipublikasikan dalam Radiological Society of North America (RSNA). Studi ini menemukan bukti bahwa ‘serangan’ SARS-CoV-2 dikaitkan dengan percepatan penumpukan plak di arteri koroner, sehingga meningkatkan komplikasi terkait jantung.

    “COVID-19 yang disebabkan SARS-CoV-2 awalnya ditandai dengan cedera paru-paru akut dan gagal napas,” kata penulis senior di studi tersebut, Junbo Ge MD.

    Junbo yang Direktur Departemen Kardiologi di Rumah Sakit Zhongshan, Tiongkok ini menambahkan bahwa COVID-19 juga melibatkan respons peradangan ekstrem dan dapat memengaruhi kesehatan sistem kardiovaskular.

    Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

    Para peneliti memeriksa perubahan pada jaringan di sekitar arteri koroner menggunakan Coronary Computed Tomography Angiography (CCTA). Tanda-tanda peradangan, penumpukan plak, dan risiko tinggi penyumbatan arteri menjadi fokus yang diperiksa.

    Studi ini mengamati 803 pasien yang menjalani CCTA, antara September 2018 dan Oktober 2023 dengan usia rata-rata 63,9 tahun. Tim peneliti menganalisis 2.588 lesi arteri koroner dari 2.108 pasien terinfeksi dan 480 pasien tidak terinfeksi.

    Mereka membandingkan terkait volume plak, risiko plak tinggi, peradangan, dan masalah jantung seperti serangan jantung atau prosedur revaskularisasi.

    Paparan virus tersebut ternyata diketahui dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Pada pasien dengan SARS-CoV-2, volume plak meningkat lebih cepat daripada mereka yang tidak terinfeksi.

    Lesi pada pasien yang terinfeksi memiliki peluang untuk menjadi plak berisiko tinggi (20,1 persen vs 15,8 persen) dan menunjukkan lebih banyak peradangan koroner (27 persen vs 19,9 persen).

    Selain itu, pasien yang terpapar COVID-19 juga menunjukkan risiko lebih tinggi kegagalan lesi target (10,4 persen vs 3,1 persen), yang menandakan adanya peningkatan risiko serangan jantung atau stroke.

    “Peradangan setelah COVID-19 dapat menyebabkan pertumbuhan plak berkelanjutan, terutama pada plak berisiko tinggi yang tidak mengalami kalsifikasi,” kata Junbo Ge.

    “Pasien dengan infeksi SARS-CoV-2 berisiko lebih tinggi mengalami infark miokard, sindrom koroner akut, dan stroke hingga satu tahun,” sambungnya.

    Junbo Ge menambahkan efek ini dapat bertahan lama setelah infeksi, terlepas dari penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, bahkan usia pasien.

    (dpy/kna)