Category: Detik.com Kesehatan

  • Viral Nanas Disebut Bisa Bersihkan Paru-paru Perokok, Begini Kata Dokter

    Viral Nanas Disebut Bisa Bersihkan Paru-paru Perokok, Begini Kata Dokter

    Jakarta

    Baru-baru ini beredar video yang bernarasikan sejumlah manfaat makan nanas untuk kesehatan paru-paru perokok. Melalui video tersebut, pengunggah menuliskan alasan mengapa perokok wajib makan nanas. Di antaranya:

    membantu membuang kotoran dan detoksifikasi secara alaminanas mengandung bromelanin yang dapat membersihkan paru-parumembantu mengurangi peradangan pada saluran pernapasanmembantu membersihkan paru-paru dari nikotin akibat merokokmembantu berbagai macam masalah paru-paru kotormembantu mengencerkan lendir yang terperangkap di saluran pernapasan akibat flu maupun pilek.

    “Perokok wajib makan nanas. Ini alasannya,” tutur pengunggah akun tersebut.

    Lantas, bagaimana faktanya?

    Spesialis pulmonologi, dr Erlang Samoedro, SpP(K) menjelaskan narasi yang menyebut nanas membersihkan paru-paru perokok adalah tidak benar dan menyesatkan.

    Meski demikian, lanjut dr Erlang, buah-buahan termasuk nanas memang memiliki manfaat untuk kesehatan paru lantaran mengandung antioksidan dan vitamin yang membantu mengurangi peradangan.

    “Yang dimaksud membersihkan itu nggak jelas apa, sehingga konotasinya bikin bingung dan menyesatkan,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (12/2/2025).

    “Statement yang membersihkan paru-paru itu yang mislead (menyesatkan),” sambungnya lagi.

    Selain itu, nanas juga disebutnya memiliki manfaat dalam membantu sistem tubuh untuk mengeliminasi racun.

    “Kalau vitamin yang terkandung dalam buah-buahan dan sayuran sifatnya membantu untuk eliminasi dan bersifat supporting,” katanya lagi.

    (suc/kna)

  • Studi Baru Ungkap Makan Telur Bisa Cegah Mati Muda, Segini Batas Konsumsinya

    Studi Baru Ungkap Makan Telur Bisa Cegah Mati Muda, Segini Batas Konsumsinya

    Jakarta

    Studi baru yang dilakukan oleh tim peneliti Monash University mengungkapkan bahwa mengonsumsi telur dikaitkan dengan risiko kematian lebih rendah pada orang dewasa tua yang sehat dibandingkan mereka yang tak pernah mengonsumsi atau jarang makan telur.

    Penelitian ini melibatkan 8.756 orang dewasa berusia 70 tahun atau lebih, yang melaporkan sendiri frekuensi total asupan telur mereka: tidak pernah/jarang (jarang/tidak pernah, atau 1-2 kali/bulan), mingguan (1-6 kali/minggu), dan harian (setiap hari/beberapa kali per hari).

    Penulis pertama sekaligus dosen di Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan Monash University, mengatakan dibandingkan dengan orang dewasa tua yang tidak pernah atau jarang makan telur (hingga dua kali sebulan), mereka yang makan telur 1-6 kali seminggu memiliki risiko kematian 15 persen lebih rendah akibat penyebab apapun, dan risiko kematian 29 persen lebih rendah terkait penyakit kardiovaskular.

    Menurutnya, telur merupakan makanan yang padat nutrisi, sumber protein yang kaya, dan sumber nutrisi penting seperti vitamin B, folat, asam lemak tak jenuh, vitamin yang larut dalam lemak (E, D, A, dan K), kolin, serta berbagai mineral dan elemen lainnya.

    “Telur juga merupakan sumber protein dan nutrisi yang mudah diperoleh bagi orang dewasa yang lebih tua, dengan penelitian menunjukkan bahwa telur merupakan sumber protein pilihan bagi orang dewasa yang lebih tua yang mungkin mengalami penurunan fisik dan sensorik terkait usia,” katanya seperti dikutip di laman resmi Monash University ,Rabu (12/2/2025).

    Pedoman Diet Australia saat ini dan American Heart Association (AHA merekomendasikan agar orang dewasa dengan kadar kolesterol normal dapat mengonsumsi hingga tujuh butir telur per minggu, sementara beberapa negara Eropa menyarankan untuk membatasinya hingga 3-4 butir telur per minggu.

    AHA juga mendukung hingga dua butir telur per hari untuk orang dewasa yang lebih tua dengan kadar kolesterol normal.

    “Penelitian sebelumnya telah mengamati risiko kematian yang lebih tinggi akibat konsumsi telur bagi mereka yang memiliki kolesterol tinggi. Karena alasan ini, kami juga meneliti hubungan antara konsumsi telur dan kematian pada orang dengan dan tanpa dislipidemia (kolesterol tinggi yang didiagnosis secara klinis),” ucapnya.

    “Kami menemukan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 27 persen lebih rendah pada peserta dengan dislipidemia yang mengonsumsi telur setiap minggu, dibandingkan dengan peserta yang jarang atau tidak pernah mengonsumsi telur. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kelompok studi ini, keberadaan dislipidemia tidak memengaruhi risiko yang terkait dengan konsumsi telur,” kata Wild.

    Tak hanya itu, studi ini juga meneliti hubungan antara konsumsi telur dengan kematian pada berbagai tingkat kualitas makanan (rendah, sedang, tinggi).

    “Studi ini menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua dengan kualitas makanan sedang hingga tinggi melaporkan risiko kematian terkait penyakit kardiovaskular sebesar 33 persen dan 44 persen lebih rendah, yang menunjukkan bahwa penambahan telur ke dalam makanan berkualitas sedang dan tinggi dapat meningkatkan umur panjang,” tulis para peneliti.

    “Temuan ini dapat bermanfaat dalam pengembangan pedoman diet berbasis bukti untuk orang dewasa yang lebih tua.”

    (suc/suc)

  • AS Temukan Kasus Mpox Varian Baru, 3 Orang Terpapar

    AS Temukan Kasus Mpox Varian Baru, 3 Orang Terpapar

    Jakarta

    Mpox varian baru ditemukan di Amerika Serikat. Departemen Kesehatan New York mengonfirmasi tiga kasus pertama strain Mpox baru, yang otomatis memicu kekhawatiran penularan meluas.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebut tiga kasus tersebut teridentifikasi di California, Georgia, dan New Hampshire. Setelah dilakukan pelacakan, ketiganya disimpulkan tidak berkaitan erat, masing-masing memiliki sumber penularan berbeda.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan mpox sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat global untuk kedua kalinya. Teranyar pada bulan Agustus 2024, sebagai respons infeksi virus di Republik Demokratik Kongo yang telah menyebar ke negara-negara tetangga.

    Departemen Kesehatan Negara Bagian New York menolak memberikan informasi lebih lanjut tentang kasus tersebut.

    Seberapa Bahaya Varian Baru Mpox?

    Mpox varian baru sedikitnya sudah ditemukan di beberapa negara luar Afrika termasuk Jerman, Swedia, Pakistan, Thailand, hingga Filipina.

    Mpox memicu gejala demam, nyeri tubuh, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam yang membentuk lepuh, memiliki dua subtipe utama, klade 1b an klade 2b.

    Mpox klade 1b cenderung menyebabkan lebih banyak infeksi parah dan tingkat kematian lebih tinggi daripada mpox klade 2b, menurut pejabat kesehatan AS.

    Sejak Mei 2022, klade 2b menyebar ke 115 negara non-endemik di seluruh dunia, sebagian besar menyerang pria gay dan biseksual di Eropa dan Amerika Serikat.

    Vaksinasi dan upaya peningkatan kesadaran di banyak negara membantu membendung jumlah kasus di seluruh dunia dan WHO mencabut keadaan darurat pada Mei 2023 setelah melaporkan 140 kematian dari sekitar 87.400 kasus.

    Strain klade 1b muncul di DRC tahun lalu. Strain ini tampaknya menyebar lebih mudah melalui kontak dekat rutin, termasuk kontak seksual.

    (naf/kna)

  • Tren Kesepian di Singapura Makin Nyata, Seserius Ini Efeknya pada Lansia

    Tren Kesepian di Singapura Makin Nyata, Seserius Ini Efeknya pada Lansia

    Jakarta

    Di tengah fenomena aging population atau populasi Singapura yang menua, depresi di kelompok usia tersebut menjadi masalah yang kerap terabaikan. Menurut studi Kesejahteraan Lansia Singapura (WiSE) yang dilakukan Institut Kesehatan Mental, depresi setidaknya dialami 5,5 persen lansia Singapura.

    Meski banyak orang mengaitkan depresi dengan kesedihan, gejalanya tidak selalu nampak atau terlihat, terutama pada lansia.

    Associate Professor Ng Chong Jin yang juga Kepala dan Konsultan Senior Departemen Kedokteran Geriatri di Rumah Sakit Khoo Teck Puat menerima rujukan dari layanan primer terkait wanita yang diduga mengidap demensia.

    Pihak keluarga menggambarkannya sebagai wanita yang menjadi lebih pelupa di rumah, lebih pendiam dari sebelumnya, dan kurang terlibat dalam aktivitas. Ia dulunya senang jalan-jalan pagi atau mengobrol dengan tetangga di pasar, tetapi selama enam bulan terakhir lebih banyak tinggal di rumah atau jarang keluar rumah.

    “Selama percakapan kami, ia berkata, ‘Saya tidak ingin keluar. Saya sudah tua sekarang, tidak bisa berjalan dengan baik, dan semua teman saya sudah pergi. Tidak ada yang mengingat saya,’” bebernya.

    Seiring berjalannya konsultasi, lansia tersebut mulai menitikkan air mata, mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap hidup dan perasaan kesepian. Ia merasa banyak lansia lain lebih baik darinya. Setelah penilaian menyeluruh, ia didiagnosis dengan depresi di usia lanjut.

    Kasus pasien ini sama sekali bukan kasus yang terisolasi. Depresi di usia lanjut sering kali tidak terdiagnosis karena gejalanya seperti kelelahan, kurang konsentrasi, dan gangguan tidur. Ketiganya mudah disalahartikan sebagai penuaan normal atau penyakit fisik.

    Selain itu, ketika orang tua mengonsumsi banyak obat, beberapa obat dapat menimbulkan gejala seperti depresi, sehingga mempersulit diagnosis dan pengobatan.

    Tren Kesepian di Singapura

    Di Singapura, kesepian sebetulnya merupakan masalah utama untuk semua usia, tetapi memang lebih banyak terjadi untuk lansia. Sebuah studi 2015 yang dilakukan Centre for Ageing Research and Education (CARE) di Duke-NUS Medical School menemukan kesepian meningkatkan risiko kematian lansia hingga 7 persen jika memperhitungkan kondisi kesehatan yang ada.

    Hal ini mengkhawatirkan mengingat 39 persen warga Singapura yang berusia 62 tahun ke atas melaporkan kesepian dalam sebuah studi representatif nasional oleh CARE.

    Studi menunjukkan kesepian memiliki efek yang sama terkait risiko kematian seperti akibat merokok, penyakit kardiovaskular, dan penurunan kekebalan tubuh.

    Para ahli juga mengukur, untuk pertama kalinya, dampak kesepian pada harapan hidup di antara orang dewasa yang lebih tua, menggunakan data dari Singapura.

    Mereka menemukan orang berusia 60 tahun, yang menganggap diri mereka kesepian, hidup tiga hingga lima tahun lebih sedikit, secara rata-rata, dibandingkan dengan rekan-rekan yang menganggap diri mereka tidak kesepian.

    Demikian pula, pada usia 70 dan 80 tahun, orang tua yang kesepian, rata-rata, dapat berharap untuk hidup tiga hingga empat dan dua hingga tiga tahun lebih sedikit, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang tidak kesepian.

    (naf/naf)

  • Pria Kolaps karena Serangan Jantung, Sempat Tolak ke RS karena Harus Kerja

    Pria Kolaps karena Serangan Jantung, Sempat Tolak ke RS karena Harus Kerja

    Jakarta

    Seorang pria di China bikin kaget karena penuturannya pasca ‘bangkit dari kematian’ membuat banyak orang terheran-heran. Meski sempat kolaps karena serangan jantung, dia sempat menolak dirawat di rumah sakit karena harus bergegas ke kantor.

    Diberitakan SCMP, kejadian itu terjadi di salah satu stasiun kereta di China. Seorang pria berusia 40an tahun tiba-tiba pingsan di peron kereta api Changsa, provinsi Hunan, saat mengantre naik kereta. Dalam tangkapan layar yang beredar, para dokter berusaha menyelamatkannya dengan defibrilator.

    Beberapa staf stasiun kereta api dan seorang dokter dari pusat kesehatan lokal datang untuk menyelamatkannya. Dia berhasil diselamatkan dan sadar setelah 20 menit.

    Namun ucapan yang dia sebutkan ketika siuman bikin bingung petugas kesehatan.

    “Saya harus naik kereta cepat untuk berangkat kerja,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia tidak merasa perlu pergi ke rumah sakit.

    Dokter di tempat kejadian memberi tahu pria itu bahwa ia mungkin mengalami cedera akibat jatuh, yang berarti sangat penting baginya untuk menjalani pemeriksaan fisik di rumah sakit.

    Pria itu akhirnya setuju untuk naik ambulans.

    Kejadian tersebut menyoroti tingginya beban kerja karyawan di China. Kasus kematian mendadak karyawan akibat bekerja yang terlalu lama kerap menjadi berita utama di Negeri Tirai Bambu itu.

    (kna/kna)

  • Dirut BPJS Kesehatan Ungkap Ada 50 Juta Peserta JKN Nonaktif

    Dirut BPJS Kesehatan Ungkap Ada 50 Juta Peserta JKN Nonaktif

    Jakarta

    Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengungkapkan jumlah peserta jaminan kesehatan nasional yang tidak aktif mencapai lebih dari 50 juta orang. Meskipun demikian, tak semua peserta yang tak aktif itu menunggak iuran.

    Adapun jumlah peserta BPJS yang menunggak iuran tercatat sebanyak 17 juta peserta. Dari jumlah tersebut, sekitar 14,8 juta orang tergolong peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).

    “Untuk yang nunggak-nunggak. Tapi yang jelas dari 50-an lebih juta orang yang tidak aktif, tidak semuanya itu nunggak,” ujar Ghufron dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Jakarta, Selasa (11/2/2025).

    Ia menambahkan, sebanyak 18,6 juta jiwa Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) yang dinonaktifkan berdasarkan Surat Keputusan dari Menteri Sosial (Mensos).

    “Dalam hal ini, BPJS itu pengguna juga, jadi tidak menentukan seseorang ini miskin bukan miskin terus diaktifkan, tidak. Artinya bukan BPJS jadi itu Kemensos yang tidak diaktifkan atau dinonaktifkan itu 18,6 juta, memang banyak tuh di lapangan segitu. Nah ini menjadi persoalan tersendiri,”ungkapnya.

    Berbagai upaya telah dilakukan BPJS Kesehatan untuk mengatasi masalah ini, mulai dari memberikan informasi kepada lebih dari 48 juta peserta melalui WhatsApp dan berbagai kanal komunikasi lainnya.

    “Nah dari sini lalu BPJS berusaha kalau dia tidak aktif, kasih tahu, yang kita kasih tahu cukup banyak ya, lebih dari 48 juta, kita WA gitu, jadi kita kasih tahu,” ucapnya.

    Masalah lainnya, lanjut Ghufron, muncul dari peserta PBPU yang terdaftar di pemerintah daerah (pemda), dengan jumlah yang dinonaktifkan mencapai 11 juta orang. Hal ini disebabkan oleh kesulitan anggaran yang dialami beberapa daerah.

    “PBPU Pemda yang dinonaktifkan itu 11 juta, jadi kan ada beberapa gitu apa dari pemotongan anggaran kesulitan gitu. Nah ini tentu yang PPU non aktif, bekerja atau anak di usia di luar tanggungan itu sekitar 10 juta. Jadi itu ya,” jelas Ghufron.

    Di sisi lain, Ghufron menegaskan meski lebih dari 50 juta orang tercatat kepesertaannya tidak aktif, mereka tetap memiliki akses.

    Peserta dengan status nonaktif juga dapat segera mengaktifkan kembali keanggotaan mereka dengan melaporkan kepada BPJS Kesehatan atau pemerintah daerah setempat.

    (suc/kna)

  • Video: KPAI Berharap Cek Kesehatan Gratis Ramah Disabilitas

    Video: KPAI Berharap Cek Kesehatan Gratis Ramah Disabilitas

    Video: KPAI Berharap Cek Kesehatan Gratis Ramah Disabilitas

  • Video: Dirut BPJS Kesehatan soal Dampak Kebijakan Efisiensi Anggaran

    Video: Dirut BPJS Kesehatan soal Dampak Kebijakan Efisiensi Anggaran

    Video: Dirut BPJS Kesehatan soal Dampak Kebijakan Efisiensi Anggaran

  • Video: Mulai Juni 2025, RS Akan Terapkan KRIS BPJS Kesehatan

    Video: Mulai Juni 2025, RS Akan Terapkan KRIS BPJS Kesehatan

    Video: Mulai Juni 2025, RS Akan Terapkan KRIS BPJS Kesehatan

  • Video Menkes Budi Beberkan Alasan Ingin Revisi Tarif BPJS Kesehatan

    Video Menkes Budi Beberkan Alasan Ingin Revisi Tarif BPJS Kesehatan

    Video Menkes Budi Beberkan Alasan Ingin Revisi Tarif BPJS Kesehatan