Category: Detik.com Kesehatan

  • Cerita Wanita Surabaya Kena Kanker Payudara Stadium 4 di Usia 26, Ini Gejala Awalnya

    Cerita Wanita Surabaya Kena Kanker Payudara Stadium 4 di Usia 26, Ini Gejala Awalnya

    Jakarta

    Bukti kanker dapat menyerang usia muda semakin banyak dilaporkan. Belum lama ini, pemilik akun Instagram @ciacialee ramai disorot pasca membagikan pengalaman dan kesehariannya berjuang melawan kanker payudara stadium 4.

    Ia pertama kali mendapatkan diagnosis tersebut pada Juni 2023. Claudia yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur, kala itu mengeluhkan benjolan di payudara kiri yang semakin membesar.

    “Benjolan di payudara kiri ini teksturnya padat dan tidak bergerak, kadang terasa nyeri, kadang tidak. Ketahuan saat aku memutuskan untuk check up ke dokter bedah langganan keluarga-nya di Singapore,” tutur Claudia, dalam unggahan di akun pribadinya, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan, Senin (17/2/2025).

    “Harapannya cuma benjolan biasa dan dioperasi kelar, tapi dokter mencurigai kalau itu cancer jadi dilakukan pemeriksaan biopsi, mamografi, USG, PET Scan, periksa tanggal 20, hasil diagnosis keluar 22 Juni, official diagnosa aku kena cancer,”

    Kanker yang diidap Claudia tidak disangka sudah menyebar ke bagian tubuh lain seperti kelenjar getah bening, paru-paru, hingga bagian tulang, sehingga dinyatakan termasuk stadium 4. Claudia langsung dirujuk ke dokter spesialis onkologi yang umumnya menangani kanker dan langsung menjalani kemoterapi.

    Gejala awal lain yang dirasakan Claudia adalah rasa nyeri mulai semakin terasa, tepatnya sebulan sebelum ia memutuskan menjalani pemeriksaan. Ia mengimbau masyarakat khususnya wanita untuk rutin mengecek kondisi payudara, demi melihat kemungkinan benjolan.

    Ia mengaku terlambat mengetahui benjolan saat bentuknya sudah relatif besar. Selain benjolan, nyaris tidak ada keluhan lain yang dirasakan wanita yang kini berusia 27 tahun itu.

    “Nggak pernah terasa mudah capek, aktivitas masih full layaknya orang normal. Apalagi aku tipe yang jarang sakit jadi nggak merasa gimana-gimana gitu,” sambung dia.

    Kini, Claudia masih rutin menjalani perawatan dan menghindari sejumlah makanan termasuk daging merah, kandungan tinggi gula, makanan processed food, dan makanan tinggi tepung.

    Tidak mudah bagi Claudia menerima diagnosis kanker di usianya yang masih relatif muda. Terlebih, semasa hidup, ia juga merasa kerap menjaga pola makan dan rutin berolahraga.

    “Jujur hari itu nggak sempat mikir, kita yang nggak ngerti dan nggak siap apa-apa cuman ngikutin semua arahan dokter dan tim medis di sana. Diajarin ini itu, banyak banget, tapi setelah dijalani ternyata nggak seburuk itu,” beber Claudia.

    “Aku sudah melewati 9 cycle chemo selama 6 bulan pada 2023. Rambut rontok parah tapi nggak sampai botak, masih bisa beraktivitas normal dan terlihat layaknya orang sehat,” cerita dia.

    (naf/kna)

  • Alasan Ilmiah Laki-laki Kerap Lebay dan Lebih Manja Kalau Sakit Demam

    Alasan Ilmiah Laki-laki Kerap Lebay dan Lebih Manja Kalau Sakit Demam

    Jakarta

    Salah satu anggapan yang sering muncul di tengah masyarakat adalah laki-laki dianggap lebay atau berlebihan ketika mengalami demam. Laki-laki bisa tampak lebih lemah dari biasanya bahkan cenderung manja dengan orang yang merawatnya.

    “Sesangar-sangarnya laki-laki kenapa kalau demam kaya bayi?” tulis seorang pengguna X.

    “Laki-laki kalo udah demam, dunia rasanya kek mau berakhir wkwkwk,” beber pengguna X lainnya.

    Hal ini menjadi aneh lantaran kebanyakan laki-laki biasanya justru tampak biasa saja apabila mengalami luka atau cedera fisik yang mungkin terlihat lebih parah. Ternyata ada penjelasan secara medisnya lho.

    Ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa pria lebih mungkin mengalami infeksi parah daripada wanita ketika mereka sakit. Hal ini terlihat pada awal-awal pandemi COVID-19 ketika angka rawat inap dan kematian didominasi oleh laki-laki.

    Hal yang sama terjadi selama pandemi flu 1918, ketika lebih banyak pria yang meninggal dibandingkan wanita.

    Peneliti National Institute of Allergy and Infectious Diseases Dr Matthew Memoli mengatakan dalam sebuah penelitian, pria memang mengambil lebih sedikit tindakan pencegahan untuk menghindari sakit, seperti lebih jarang menggunakan masker atau cuci tangan. Pria juga cenderung melakukan lebih banyak perilaku tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, dan enggan mencari perawatan medis.

    Hal tersebut yang akhirnya membuat laki-laki memiliki kondisi lebih buruk ketika sedang sakit.

    Penelitian lain juga menemukan adanya perbedaan biologis dalam hal sistem kekebalan pria dan wanita. Penelitian ini dilakukan pada hewan dan manusia.

    Profesor mikrobiologi molekuler dan imunologi Johns Hopkins University, Sabra Klein menuturkan bahwa wanita seringkali menghasilkan respons imun yang lebih besar bila dibandingkan pria. Sel imun wanita lebih cepat dalam mendeteksi penyerang asing, seperti virus dan bakteri.

    Ketika ancaman teridentifikasi, sistem imun wanita melepaskan lebih banyak protein inflamasi yang disebut sitokin. Sistem imun wanita juga menghasilkan lebih banyak antibodi sebagai respons terhadap virus dan vaksin yang membantu melawan infeksi.

    “Tentu saja ada faktor perbedaan individu, tapi wanita cenderung memulai jenis respons tersebut jauh lebih cepat dan kita mendapatkan aktivasi dan produksi protein imun yang lebih besar,” kata Klein dikutip dari NY Times, Senin (17/2/2025).

    NEXT: Bisa dipicu faktor genetik

    Faktor genetik diduga memainkan peranan penting dalam hal ini. Beberapa gen yang terlibat dalam sistem kekebalan tubuh berada di kromosom X. Seperti yang diketahui, wanita memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya satu.

    Selain itu, hormon testosteron pada laki-laki diduga juga menekan fungsi kekebalan tubuh, seperti produksi antibodi. Sedangkan, estrogen yang lebih dominan pada perempuan cenderung memperkuat sistem kekebalan tubuh dan membantu produksi antibodi lebih baik.

    Meski begitu, penelitian lanjutan masih perlu dilakukan untuk mengetahui lebih dalam. Terlebih dalam penelitian lain, sistem imun yang lebih kuat justru juga dikaitkan dengan gejala yang lebih parah.

    Banyak hal yang dirasakan seperti demam, kelelahan, dan hidung tersumbat muncul sebagai respons tubuh terhadap infeksi.

    “Anda ingin memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat karena membantu melindungi Anda dari penyakit dan membantu menyembuhkan penyakit. Tetapi sistem kekebalan tubuh Anda, jika terlalu aktif, sebenarnya dapat menyakiti Anda,” ujar Memoli.

  • CKG Mencakup Skrining Gangguan Mental, Warga RI Diharapkan Sehat Jasmani-Rohani

    CKG Mencakup Skrining Gangguan Mental, Warga RI Diharapkan Sehat Jasmani-Rohani

    Jakarta

    Cek kesehatan gratis (CKG) untuk seluruh masyarakat Indonesia sebagai bagian dari Program Presiden Prabowo Subianto sudah mulai dilaksanakan sejak Senin, (10/2), di seluruh Puskesmas di Indonesia.

    Program ini menyasar seluruh kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir, balita, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof dr Dante Saksono Harbuwono menegaskan program ini tak hanya untuk pemeriksaan kesehatan, tetapi juga bertujuan mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya deteksi dini penyakit dan perubahan gaya hidup sehat.

    “Banyak penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan jantung yang bisa dicegah jika diketahui sejak dini. Melalui cek kesehatan gratis ini, masyarakat dapat memahami kondisi tubuhnya lebih awal, sehingga langkah-langkah pencegahan bisa segera dilakukan,” jelas Wamenkes, dikutip dari laman Kemenkes RI.

    dr Dante juga mengingatkan bahwa pemeriksaan ini tidak hanya untuk fisik, tetapi juga kesehatan mental. Berdasarkan evaluasi Kementerian Kesehatan, 34,6 persen remaja mengalami penurunan kesehatan mental, sehingga skrining kesehatan mental turut dimasukkan dalam layanan ini.

    “Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kita ingin memastikan masyarakat Indonesia sehat secara jasmani dan rohani,” tambahnya.

    Ia juga menambahkan Masyarakat yang berulang tahun pada Januari dan Februari masih bisa mendapatkan layanan ini hingga 30 April 2025, dengan kemudahan pendaftaran melalui SATUSEHAT Mobile.

    “Dengan pemeriksaan gratis ini, kita tidak hanya membantu masyarakat menjaga kesehatan, tetapi juga mengurangi angka perawatan di rumah sakit dan menurunkan beban pembiayaan kesehatan oleh BPJS. Semakin dini penyakit terdeteksi, semakin mudah ditangani,” jelas Wamenkes.

    Merujuk pada data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, secara nasional, prevalensi depresi di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 1,4 persen. Adapun prevalensi depresi paling tinggi ada pada kelompok anak muda berusia 15-24 tahun, yaitu sekitar 2 persen.

    (suc/kna)

  • Kasus Campak di AS Meningkat, Vaksinasi Rendah Jadi Biang Keroknya

    Kasus Campak di AS Meningkat, Vaksinasi Rendah Jadi Biang Keroknya

    Jakarta

    Kasus campak meningkat di AS dengan infeksi yang dikonfirmasi di sedikitnya lima negara bagian. Wabah campak telah dilaporkan di Alaska, Georgia, New York City, Rhode Island, dan Texas, sebagian besar terjadi pada orang yang tidak divaksinasi campak.

    Departemen Layanan Kesehatan Negara Bagian Texas melaporkan wabah campak yang pertama kali dilaporkan di Gaines County, Texas, telah berlipat ganda menjadi 48 kasus sejak kasus pertama dicatat awal Februari 2025. Departemen kesehatan negara bagian ini mengatakan mereka memperkirakan lebih banyak kasus akan dilaporkan di Gaines County dan daerah sekitarnya.

    Di antara 48 kasus, 13 telah dirawat di rumah sakit.

    Diberitakan CNN, semua kasus terjadi pada orang yang tidak divaksinasi yang tinggal di Gaines County, yang berbatasan dengan New Mexico. Dua kasus terjadi pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas, sedangkan kasus yang tersisa terjadi pada anak-anak dan remaja.

    Ada 285 kasus campak yang dilaporkan di AS tahun lalu, yang merupakan jumlah terbanyak sejak 2019, demikian catatan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS. Tahun ini, kasus campak telah diidentifikasi di Texas, Alaska, New Mexico, Georgia, Rhode Island, dan New York City.

    Pejabat kesehatan telah mendesak para orang tua untuk memvaksinasi anak-anak yang belum menerima suntikan campak, gondongan, rubella (MMR). CDC merekomendasikan agar anak-anak mendapatkan dua dosis dengan dosis pertama pada usia 12 hingga 15 bulan dan dosis kedua antara usia 4 dan 6 tahun. Satu dosis efektif 93 persen dan dua dosis efektif 97 persen mencegah penyakit tersebut.

    Tingkat vaksinasi telah tertinggal di AS. Baru 93 persen anak usia TK menerima vaksin rutin tertentu, termasuk vaksin MMR, untuk tahun ajaran 2022-23.

    Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS telah menetapkan target bahwa setidaknya 95% anak TK mendapatkan dua dosis vaksin MMR, ambang batas yang diperlukan untuk membantu mencegah wabah penyakit yang sangat menular ini. AS kini gagal mencapai ambang batas tersebut selama empat tahun berturut-turut.

    (kna/kna)

  • Perjuangan Bidan Puskesmas Beri Vitamin A kepada Anak Suku Badui

    Perjuangan Bidan Puskesmas Beri Vitamin A kepada Anak Suku Badui

    Foto Health

    ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas – detikHealth

    Senin, 17 Feb 2025 09:30 WIB

    Badui – Sebanyak 119 anak balita Suku Badui usia 6-59 bulan di 4 perkampungan di pedalaman Badui mendapat vitamin A. Begini proses pemberian vitamin ke anak Suku Badui.

  • Ternyata Ini Waktu Terbaik Minum Kopi, Bikin Umur Panjang-Hidup Sehat

    Ternyata Ini Waktu Terbaik Minum Kopi, Bikin Umur Panjang-Hidup Sehat

    Jakarta

    Seorang pakar terkemuka di bidang umur panjang mengungkapkan kebiasaan sederhana di pagi hari yang dapat memberikan dampak besar pada umur panjang.

    Dan Buettner, seorang peneliti yang dikenal karena studinya tentang Blue Zone atau “Zona Biru” , kawasan tempat orang sering hidup hingga berusia lebih dari 100 tahun, mengklaim bahwa waktu konsumsi kopi yang tepat dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

    Buettner, yang telah mendedikasikan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari komunitas dengan rentang hidup yang sangat panjang, berbagi wawasannya di media sosial, dengan menekankan manfaat mengonsumsi kopi di pagi hari daripada di sore hari.

    “Menurut saya, salah satu minuman yang paling ampuh untuk memperpanjang umur adalah kopi,” jelasnya dalam video TikTok baru-baru ini, dikutip dari Daily Express.

    “Tetapi saya pikir salah satu rahasia terpenting untuk meminumnya dan hidup lebih lama adalah meminumnya sebelum tengah hari. Jika Anda minum satu atau dua cangkir kopi sebelum tengah hari, itu sebenarnya menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Sedangkan jika Anda minum kopi [di] sore atau malam hari, hal itu tampaknya tidak terjadi,” katanya lagi.

    Rekomendasinya selaras dengan temuan terbaru yang diterbitkan dalam European Heart Journal, yang meneliti efek kesehatan dari konsumsi kopi pada waktu yang berbeda dalam sehari.

    Studi ini menganalisis data dari lebih dari 40.000 orang dewasa. Hasilnya, mereka yang minum kopi di pagi hari memiliki kemungkinan 31 persen lebih rendah untuk meninggal akibat penyakit kardiovaskular dan 16 persen lebih rendah untuk meninggal akibat penyebab apa pun, dibandingkan dengan mereka yang minum kopi sepanjang hari atau tidak minum sama sekali.

    Dr Lu Qi, penulis utama studi dari Universitas Tulane, menyoroti pentingnya waktu minum kopi. “Ini adalah studi pertama yang menguji pola waktu minum kopi dan hasil kesehatan,” ungkapnya.

    “Temuan kami menunjukkan bahwa yang penting bukan hanya apakah Anda minum kopi atau seberapa banyak Anda minum, tetapi waktu Anda minum kopi juga penting.Kami biasanya tidak memberikan saran tentang waktu dalam panduan diet kami, tetapi mungkin kami harus mempertimbangkan hal ini di masa mendatang,” imbuhnya.

    Para ahli berpendapat bahwa mengonsumsi kopi di sore hari dapat mengganggu pola tidur, yang menyebabkan dampak kesehatan yang negatif.

    “Penjelasan yang mungkin adalah bahwa mengonsumsi kopi di sore atau malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian dan kadar hormon seperti melatonin. Hal ini pada gilirannya menyebabkan perubahan faktor risiko kardiovaskular seperti peradangan dan tekanan darah,” kata dr Qi.

    (suc/kna)

  • Menteri Kesehatan Soroti Krisis Dokter Spesialis, Ini Buktinya

    Menteri Kesehatan Soroti Krisis Dokter Spesialis, Ini Buktinya

    Jakarta

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti masih kurangnya dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular. Dokter spesialis ini berfokus pada menangani penyakit di organ dalam rongga dada, khususnya pada jantung dan paru-paru.

    Menkes Budi menuturkan bahwa Indonesia sampai 10 tahun ke depan membutuhkan setidaknya 1.300 spesialis bedah toraks dan kardiovaskular. Namun, hingga saat ini jumlah yang dimiliki oleh Indonesia hanya berjumlah 270 dokter.

    Hal ini tentu harus menjadi perhatian lantaran masalah kesehatan jantung dan paru menjadi beberapa contoh masalah kesehatan dengan kasus terbanyak di Indonesia.

    “Indonesia itu butuh sampai 10 tahun ke depan butuh 1300 spesialis bedah toraks dan kardiovaskular, karena usia kan menua, yang sakit jantung paru banyak, yang tidak terdeteksi juga banyak, ya hitung-hitung 1300,” kata Menkes Budi ketika ditemui awak media di Jakarta Selatan, Minggu (16/2/2025).

    “Kita sekarang itu 270 dokter, itu yang dokter yang kayak gini masih kerja itu, yang 84 dan 70 (tahun), karena mereka kan harusnya sudah tinggal mengajari saja,” sambungnya sambil berkelakar.

    Disebutkan bahwa hingga saat ini tercatat baru ada enam perguruan tinggi yang menghasilkan spesialis bedah toraks dan kardiovaskular dengan jumlah lulusan 50-an dokter setiap tahun. Menkes Budi menceritakan, bahkan ketika awal ia menjabat, jumlah perguruan tinggi yang menghasilkan spesialis bedah toraks dan kardiovaskular hanya berjumlah dua di seluruh Indonesia.

    Menkes Budi menuturkan hal inilah yang membuat pihaknya mendorong program pendidikan dokter spesialis (PPDS) Hospital Based. Diharapkan nantinya akan ada lebih banyak spesialis bedah toraks dan kardiovaskular yang bisa dihasilkan.

    “Nah, itu sebabnya kami mau bikin yang hospital based, untuk mempercepat centernya. Misalnya sudah bagus, nanti dibikin murah, rumah sakit-rumah sakit bikin, untuk banyakin spesialis bedah toraks dan kardiovaskular,” sambungnya.

    Hingga saat ini, ada 24 provinsi yang memiliki spesialis bedah toraks dan kardiovaskular. Diharapkan nantinya jumlah spesialis tersebut bisa terus meningkat menjadi satu dokter per provinsi, meski jumlah tersebut menurut Menkes Budi masih belum ideal.

    Menkes Budi menuturkan bahwa idealnya Indonesia memiliki 3-5 dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular di setiap kabupaten atau kota.

    Ketua Himpunan Bedah Toraks dan Kardiovaskular Indonesia (HBTKVI) Dr dr Prasetyo Edi, SpBTKV menjelaskan bahwa distribusi dokter spesialis juga menjadi tantangan yang besar. Hal ini menjadi sesuatu yang rumit karena di saat bersamaan, jumlah dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular juga masih kurang.

    “Sebetulnya kita butuh SDM atau problem di titik distribusi. Diskusinya di situ, jadi sebetulnya, kalau SpBTKV jumlahnya juga belum optimal, ditambah dengan distribusinya itu belum maksimal dua-duanya. Jadi kita tetap perlu produksi, tapi penempatan itu juga lebih penting dari produksi,” tandas dr Prasetyo dalam kesempatan yang sama.

    (avk/kna)

  • Pemilik Golongan Darah B Disebut Lebih Panjang Umur dan Lambat Menua

    Pemilik Golongan Darah B Disebut Lebih Panjang Umur dan Lambat Menua

    Jakarta

    Penelitian menunjukkan bahwa golongan darah dapat memengaruhi proses penuaan dan harapan hidup seseorang. Salah satu temuan menarik adalah bahwa individu dengan golongan darah B mungkin mengalami penuaan yang lebih lambat dibandingkan dengan golongan darah lainnya.

    Puluhan tahun lalu, para ilmuwan mulai menyelidiki hubungan antara golongan darah dan angka harapan hidup seseorang. Dalam studi berjudul Blood type B might imply longevity, peneliti Jepang Kenichiro Shimizu dan rekannya menyelidiki hubungan antara golongan darah dan harapan hidup.

    Mereka membandingkan frekuensi golongan darah ABO pada 269 centenarian (orang berusia di atas 100 tahun) yang tinggal di Tokyo dan mereka yang berada dalam kelompok kontrol yang cocok secara regional. Temuan mereka menunjukkan bahwa golongan darah B mungkin terkait dengan umur panjang yang luar biasa.

    “Temuan kami menunjukkan bahwa golongan darah B mungkin terkait dengan umur panjang ,” ungkap Shimizu dan rekan-rekannya, dari Tokyo, pada tahun 2004. Para ahli telah meneliti lebih dalam mengapa kelompok ini mungkin bertahan lebih lama daripada yang lain.

    Sebagian menunjukkan mekanisme perbaikan dan regenerasi sel yang lebih baik. Yang lain menunjukkan bahwa tubuh mereka menangani stres metabolik dengan lebih lancar, yang mungkin melindungi mereka dari masalah kesehatan terkait usia tertentu.

    Namun penting untuk dicatat bahwa orang dengan golongan darah B tidak kebal terhadap risiko kesehatan. Kebiasaan makan yang baik, olahraga teratur, dan manajemen stres dapat menurunkan kerentanan ini.

    Next: cara sederhana hidup sehat dan panjang umur

    Di samping penelitian tersebut, ada beragam cara yang bisa dilakukan agar hidup sehat dan panjang umur. Berikut beberapa di antaranya dikutip dari NBC News.

    Pola makan sehat: Makanan bergizi dan seimbang dapat memperlambat penuaan sel. Mengurangi konsumsi gula dan makanan olahan sangat disarankan.

    Olahraga teratur: Latihan fisik yang rutin terbukti membantu mengurangi penuaan biologis. Aktivitas fisik meningkatkan kesehatan jantung, otot, dan sistem kekebalan tubuh.

    Tidur yang cukup: Tidur yang berkualitas memiliki peran penting dalam pemulihan tubuh dan memperlambat penuaan.

    Manajemen stres: Stres kronis dapat mempercepat penuaan biologis, jadi penting untuk mengelola stres dengan teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga.

    Tidak merokok dan moderasi dalam konsumsi alkohol: Kebiasaan buruk ini dapat mempercepat penuaan dan merusak organ tubuh.

    Simak Video “Memahami Definisi Penuaan Dini”
    [Gambas:Video 20detik]

  • Waspadai 8 Tanda Ginjal Bermasalah, Jangan Sampai Terlambat Ditangani

    Waspadai 8 Tanda Ginjal Bermasalah, Jangan Sampai Terlambat Ditangani

    Jakarta

    Ginjal merupakan salah satu organ vital yang yang memiliki fungsi untuk menyaring darah, membuang limbah dan kelebihan cairan melalui urine, serta menjaga keseimbangan elektrolit. Ketika ginjal mengalami masalah, tentu ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, misal penumpuan racun dalam tubuh, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, hingga hipertensi.

    Berikut ini sederet tanda ginjal bermasalah yang harus diwaspadai dikutip dari National Kidney Foundation:

    1. Kekurangan Energi dan Sulit Konsentrasi

    Penurunan fungsi ginjal yang parah dapat menyebabkan penumpukan racun dan kotoran dalam darah. Hal ini dapat menyebabkan rasa lelah, lemah, hingga kesulitan berkonsentrasi.

    Komplikasi lain yang dapat muncul adalah anemia, yang juga dapat memicu masalah kelemahan dan kelelahan.

    2. Kesulitan Tidur

    Ketika ginjal tidak dapat bekerja dengan baik, racun yang seharusnya dikeluarkan melalui urine justru tetap berada di dalam darah. Kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi lebih sulit tidur.

    Selain itu, ditemukan masalah sleep apnea juga lebih umum terjadi pada mereka yang mengidap masalah ginjal, dibandingkan dengan populasi masyarakat umum.

    3. Kulit Kering dan Gatal

    Ginjal berperan penting untuk membuang limbah dan cairan ekstra dari dalam tubuh. Hal tersebut penting untuk membantu pembuatan sel darah merah, menjaga tulang kuat, hingga mempertahankan kadar mineral dalam darah.

    Kulit kering dan gatal dapat menjadi tanda adanya masalah pada tulang dan kadar mineral tubuh yang sering menyertai penyakit ginjal tingkat lanjut. Ini terjadi ketika ginjal tidak mampu lagi menjaga keseimbangan mineral dan nutrisi yang tepat dalam darah.

    4. Buang Air Kecil Lebih Sering

    Buang air kecil lebih sering, khususnya malam hari dapat menjadi pertanda adanya masalah pada ginjal. Ketika filter ginjal rusak, keinginan untuk buang air kecil dapat meningkat.

    Kondisi ini terkadang juga bisa menjadi pertanda infeksi saluran kemih atau pembesaran prostat pada pria.

    NEXT: Adanya darah dalam urine

    5. Adanya Darah dalam Urine

    Ginjal yang sehat biasanya dapat menahan sel darah di dalam tubuh saat menyaring limbah dari darah untuk membuat urine. Ketika filter ginjal rusak, sel darah ini bisa masuk ke dalam urine.

    Selain menandakan adanya masalah penyakit ginjal, darah dalam urine bisa menjadi pertanda tumor, batu ginjal, atau adanya infeksi.

    6. Urine Berbusa

    Urine yang berbusa menandakan adanya protein berlebih di dalam urine. Ketika ginjal bermasalah, protein dapat masuk ke dalam urine dan menyebabkan busa yang lebih banyak dan bertahan lama.

    Kondisi ini biasanya berkaitan dengan penyakit ginjal kronis, diabetes, hingga hipertensi.

    7. Bengkak di Area Mata

    Bengkak di area mata ini dapat terjadi ketika protein yang ada di dalam tubuh dikeluarkan melalui urine, alih-alih menyimpannya dalam tubuh. Kondisi ini terjadi ketika filter di dalam ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik.

    8. Pergelangan dan Telapak Kaki Bengkak

    Fungsi ginjal yang menurun dapat menyebabkan retensi natrium yang menyebabkan pembengkakan pada telapak dan pergelangan kaki. Pembengkakan ini juga dapat berkaitan dengan masalah jantung dan penyakit hati.

    Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan berbagai gejala tersebut ke dokter untuk memastikan apakah itu berkaitan dengan masalah penurunan fungsi ginjal atau tidak.

  • Penjelasan Dokter di Balik Kejadian Pria Bandung Meninggal gegara Gigi Berlubang

    Penjelasan Dokter di Balik Kejadian Pria Bandung Meninggal gegara Gigi Berlubang

    Jakarta

    Viral belum lama ini curahan hati seorang wanita di Bandung bernama Amanda Prawiria di TikTok, menceritakan kisah suaminya yang meninggal dunia usai mengalami gigi berlubang. Dokter yang memeriksa menemukan adanya infeksi hingga abses di gigi pasien.

    “Tapi besoknya hari keempat dokter bilang obat penenang sudah di stop seharusnya abis sadar, tapi abi tidak sadar dan koma. Tensi drop, oksigen sudah 100 persen dari ventilator. Qadarullah hari keempat di ICU Abi menghembuskan napas terakhirnya di depan mataku kayak mimpi kayak kaki nggak napak,” cerita Amanda dalam salah satu konten TikTok-nya.

    Gigi Berlubang Jangan Dianggap Sepele

    Anggota Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Dr Paulus Januar, drg, MSi, CMC menjelaskan abses gigi adalah kondisi munculnya nanah dari infeksi bakteri yang terjadi pada gigi berlubang. Infeksi itu dapat disebabkan oleh bakteri-bakteri dalam mulut seperti streptokokus, stafilokokus, aktinomises, dan sebagainya.

    “Abses gigi dapat menjalar ke organ tubuh lainnya dan dapat berakibat serius, serta tidak mustahil berakhir dengan kematian,” kata drg Paulus ketika dihubungi detikcom, Sabtu (15/2/2025).

    drg Paulus mengatakan kasus semacam ini sebenarnya jarang terjadi. Meski begitu, ia menegaskan masalah gigi berlubang sebaiknya tidak dianggap sepele.

    Jangan Tunggu Gigi Berlubang Parah

    drg Paulus menuturkan masalah gigi berlubang harus ditangani sedini mungkin. Ini bertujuan untuk mencegah komplikasi lanjutan hingga dampak fatal yang mungkin muncul.

    Ia lantas menyarankan pemeriksaan kesehatan gigi dilakukan setidaknya 6 bulan sekali. Pemeriksaan juga dapat dilakukan apabila masyarakat menemukan adanya rasa tidak nyaman atau kelainan pada mulut dan gigi.

    “Jangan sampai gigi telah berlubang cukup besar dan sudah timbul keluhan, baru mencari pengobatan ke dokter gigi. Mengatasi gigi berlubang pada tahap awal jauh lebih mudah dibanding kalau sudah lanjut,” tambahnya.

    Tak Cukup Pakai Pereda Nyeri

    Ia menambahkan obat pereda nyeri tidak cukup untuk mengatasi masalah sakit gigi berlubang. drg Paulus mengingatkan obat pereda nyeri atau painkiller hanya mengatasi gejalanya saja, bukan penyebabnya.

    Selama penyebab utamanya belum diatasi, maka rasa sakit akan terus muncul setelah efek dari obat pereda nyeri hilang.

    “Memang seringkali rasa sakit mereda namun obat tersebut hanya mengatasi gejalanya saja, dan tidak menghilangkan penyakit penyebabnya. Selama penyakit penyebabnya tidak diatasi, maka manifestasi akibatnya dalam bentuk rasa sakit akan selalu muncul kembali,” ujar drg Paulus.

    NEXT: Pencegahan gigi berlubang

    Pencegahan Gigi Berlubang

    Selain melakukan pemeriksaan secara rutin minimal enam bulan sekali, drg Paulus mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan gigi. Menjaga kebersihan gigi bisa dilakukan dengan cara rajin sikat gigi, menggunakan benang gigi, serta berkumur dengan obat kumur.

    Ia menyarankan masyarakat menggunakan pasta gigi menggunakan fluoride yang baik untuk meningkatkan kekuatan email gigi. Email gigi menjadi lebih resisten terhadap masalah karies gigi.

    “Dianjurkan menyikat gigi paling tidak dilakukan pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. Terhadap sela-sela gigi dapat dilakukan pembersihan dengan menggunakan benang gigi (dental floss),” ucap drg Paulus.

    “Hindari juga atau batasi makanan dan minuman yang berisiko dapat menimbulkan karies gigi terutama yang mengandung gula dalam kadar tinggi, bersifat asam, dan juga makanan mudah melekat pada gigi dari jenis karbohidrat olahan atau refined carbohydrate,” tandasnya.

    Simak Video “Daging di Gigi Berlubang”
    [Gambas:Video 20detik]