Category: Detik.com Kesehatan

  • BPOM RI Terbitkan Kebijakan Baru Dukung Pelaksanaan Uji Klinik Vaksin

    BPOM RI Terbitkan Kebijakan Baru Dukung Pelaksanaan Uji Klinik Vaksin

    Jakarta

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) menerbitkan kebijakan baru untuk mendukung percepatan proses pelaksanaan uji klinik vaksin di Indonesia dengan mengikuti ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Hal ini tercantum pada Peraturan BPOM Nomor 2 Tahun 2025 (PerBPOM 2/2025) tentang Pedoman Sertifikasi Pelulusan Batch/Lot Vaksin. Peraturan ini telah ditetapkan pada 9 Januari 2025 oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar serta telah diundangkan oleh Kementerian Hukum pada 20 Januari 2025.

    Dengan mempertimbangkan penyelarasan dalam mendukung ekosistem perkembangan uji klinik di Indonesia, BPOM tidak lagi mempersyaratkan pelulusan batch/lot untuk tujuan uji klinik.

    Sebelumnya, Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2023 tentang Sertifikasi Pelulusan Batch/Lot Vaksin, masih mempersyaratkan ketentuan pelulusan batch/lot vaksin untuk tujuan uji klinik, khususnya untuk uji klinik fase III.

    Dengan dilakukannya pembaharuan pada PerBPOM 2/2025, setiap vaksin yang diperuntukan pada uji klinik vaksin tidak diperlukan lagi sertifikat pelulusan batch/lot vaksin.

    “Peraturan ini dapat mempercepat proses pengembangan dan ketersediaan obat baru khususnya vaksin. Ini akan mempercepat akses terhadap obat esensial ke depannya,” papar Taruna Ikrar di Kantor BPOM pada Jumat (7/2/2025).

    Taruna Ikrar juga menjelaskan lebih lanjut bahwa hal ini juga sejalan dengan aturan beberapa organisasi Internasional dan otoritas pengawas obat di dunia, seperti WHO, US-FDA, Uni Eropa, Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia, dan National Medical Products Administration (NMPA) China. Institusi tersebut tidak mempersyaratkan sertifikat pelulusan batch/lot vaksin pada uji klinik.

    PerBPOM 2/2025 ini mengatur tentang prosedur pelaksanaan pelulusan batch/lot vaksin untuk memperoleh sertifikat pelulusan batch/lot vaksin. Batch adalah sejumlah vaksin yang mempunyai sifat dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan atas suatu perintah pembuatan tertentu.

    Sementara lot adalah bagian tertentu dari suatu batch yang memiliki sifat dan mutu yang seragam dalam batas yang telah ditetapkan.

    Sertifikat pelulusan vaksin tersebut merupakan dokumen yang memastikan bahwa vaksin telah memenuhi spesifikasi serta persyaratan keamanan dan mutu yang telah ditetapkan oleh BPOM sehingga vaksin tersebut dapat diedarkan di wilayah Indonesia.

    “Dengan perubahan ini maka dalam pelaksanaan uji klinik, sertifikat pelulusan batch/lot vaksin tidak lagi diperlukan,” ujar Taruna Ikrar.

    Proses penyusunan PerBPOM ini telah dilakukan sejak Februari 2024, dimulai dari proses pembahasan rapat internal, konsultasi publik, hingga harmonisasi dengan Kementerian Hukum.

    Semua tahapan telah dilalui dengan baik sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan serta PerBPOM Nomor 25 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan.

    PerBPOM 2/2025 terdiri dari 12 Pasal dan 1 Lampiran yang merupakan pedoman. Secara garis besar PerBPOM ini mengatur administrasi permohonan dan prosedur teknis penerbitan sertifikat pelulusan batch/lot vaksin, ketentuan alih metode pengujian vaksin, reliance sertifikat pelulusan batch/lot vaksin dari negara lain, serta pelulusan batch/lot vaksin pada kondisi kedaruratan nasional di Indonesia. Peraturan dan Pedoman tersebut dapat diakses melalui www.jdih.pom.go.id.

    Kepala BPOM berharap dengan diterbitkannya peraturan ini dapat mempercepat proses pelaksanaan uji klinik sehingga mendorong berbagai inovasi pengembangan vaksin baru. Belajar dari masa pandemi, saat ketersediaan dan akses terhadap vaksin sangat dibutuhkan dengan cepat dan segera. Peraturan ini mengakomodir hal tersebut dengan tetap mengedepankan aspek keamanan, khasiat, dan mutu.

    (suc/up)

  • Transformasi Prodia Group Bangun Ekosistem Faskes yang Holistik di RI

    Transformasi Prodia Group Bangun Ekosistem Faskes yang Holistik di RI

    Jakarta – Prodia Group melalui ketiga anak usahanya PT Prodia Widyahusada Tbk (Prodia/PRDA), PT Prodia Diagnostic Line (Proline), dan PT Prodia StemCell Indonesia (ProSTEM) terus berupaya untuk membangun ekosistem fasilitas kesehatan yang holistik di Indonesia. Pada 2024, Prodia mencatatkan berbagai pencapaian yang menunjukkan pertumbuhan dan inovasi berkelanjutan. Salah satunya mengembangkan aplikasi digital ‘U by Prodia’ yang dilengkapi dengan fitur terbaru.

    Di antaranya fitur Smart Report 2.0 dan Health Plan yang dirancang untuk dipersonalisasi serta berbasis bukti ilmiah kepada para pelanggan. Dituturkan Founder & Komisaris Utama Prodia Andi Widjaja, digitalisasi merupakan salah satu janji sejak PRDA melantai di bursa saham pada 2016 lalu.

    “Dulu, waktu kita IPO pada 2016 saya katakan rulesnya Prodia ingin menyongsong next generation medicine,” kata Andi, dalam acara ‘Prodia Connect: Insight and Networking’ di The Grand Mansion, Jakarta Pusat, Selasa (18/2/2025).

    Aplikasi ‘U by Prodia’ memberikan pengalaman kesehatan digital yang lebih baik. Dirilis sejak Maret 2023, platform ini sudah menarik 1,4 juta pengunduh.

    Di samping itu, Prodia juga mengakuisisi 39% saham produsen alat kesehatan diagnostik in vitro yang telah dikenal luas di Indonesia, ProLine. Akuisisi ini semakin mempererat hubungan dan sinergi antara kedua entitas dalam mendukung ekosistem kesehatan di Indonesia.

    “Waktu itu PRDA membeli saham ProLine, uangnya dipakai untuk membeli mesin ini. Dengan demikian kapasitasnya menjadi jauh lebih besar,” kata Andi.

    ProLine sendiri telah memproduksi berbagai produk Alat Kesehatan Dalam Negeri (AKD) termasuk reagen kimia klinik, urine strip, produk molekuler, imunologi, instrumen, rapid diagnostic test, serta instrumen IVD (in vitro diagnostic) dan sparepart untuk IV yang memberikan solusi lengkap bagi industri kesehatan. Apalagi, skor Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ProLine sebesar 40% yang mendukung visi pemerintah.

    “Kualitasnya sudah teruji dan ketersediaannya dengan harga terjangkau,” tutur Andi.

    Tak hanya itu, setelah akuisisi dengan Prodia, ProLine membangun pabrik keduanya di area seluas 5.500m2 dan luas bangunan 9.690m2 yang akan meningkatkan kapasitas produksi hingga tiga kali lipat. Rencananya, pabrik kedua yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat ini akan diresmikan pada April 2025.

    “ProLine juga sudah bisa melayani 4.800 dari 10.416 puskesmas yang diharapkan akses layanan kesehatan berkualitas semakin merata,” jelas Andi.

    Inovasi lainnya yang dikembangkan oleh Prodia Group yaitu ProSTEM. ProSTEM merupakan laboratorium penyimpanan, pengolahan, dan pengembangan aplikasi klinis stem cell (sel punca) sel, dan metabolitnya.

    “Dan kita kerja sama dengan perguruan tinggi dan juga BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) mulai mengembangkan produk-produk. Dan ProSTEM memiliki izin dari pemerintah (Kemenkes RI), sertifikasi CPOB (Cara Pembuatan Obat/Bahan Obat yang Baik) dari Badan POM, dan jaminan mutu ISO 9001:2015),” kata Andi.

    Hingga tahun 2024, ProSTEM berhasil mengembangkan terapi sel untuk pengobatan yang sulit diobati. Andi berharap sinergi ini bisa mendukung pengembangan ekosistem dalam industri kesehatan Tanah Air.

    “Dengan adanya sinergi ini, Prodia juga berkomitmen untuk memperluas jaringan distribusi ProLine, menjalin lebih banyak kerja sama dengan rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan instansi terkait, serta mendukung pengembangan teknologi terbaru dalam industri kesehatan,” jelas Andi.

    Sebagai informasi, acara Prodia Connect: Insight and Networking mengusung tema ‘Menyongsong Inovasi Kesehatan Masa Depan: Potensi Industri Alat Kesehatan, Pengobatan Regeneratif, dan Diagnostik Laboratorium di Indonesia’. Selain Andi, hadir sebagai narasumber Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty dan Direktur ProSTEM Cynthia Retna Sartika.

    (prf/ega)

  • Mayapada Hospital Sukses Tangani Jantung Koroner dengan Operasi Bypass

    Mayapada Hospital Sukses Tangani Jantung Koroner dengan Operasi Bypass

    Jakarta – Penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi penyebab utama kematian di dunia, menyumbang 85 persen dari total kasus menurut World Health Organization (WHO). Penyakit ini berisiko tinggi menyerang pria di atas usia 45 tahun dan wanita di atas usia 50 tahun.

    Untuk mengatasi penyakit tersebut, dibutuhkan penanganan yang serius dan canggih, seperti kasus yang berhasil ditangani di Cardiovascular Center Mayapada Hospital.

    Mayapada Hospital sukses menangani kasus PJK pada pasien laki-laki berusia 54 tahun yang mengalami gejala seperti sesak napas yang tak tertahankan. Pasien tersebut juga sempat bekerja di China.

    Saat berobat di sana, pasien tersebut dinyatakan mengalami penyumbatan pada jantungnya dan harus dilakukan pemasangan ring jantung. Pasien pun disarankan kembali ke Indonesia untuk melakukan operasi Bypass Jantung atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG).

    Setelah sampai di Indonesia, pasien memutuskan datang ke Mayapada Hospital untuk pergi ke Cardiovascular Center, layanan yang berfokus pada penanganan berbagai kasus jantung. Pasien tersebut kemudian ditangani oleh Dr.dr. Ismail Dilawar, Sp. BTKV, Subsp. JD (K)., Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular dan Konsultan Bedah Jantung Dewasa Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

    Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan bahwa pasien telah mengalami penyumbatan mencapai 70 persen, sehingga diputuskan untuk melakukan operasi bypass jantung dengan membuat saluran baru di sekitar pembuluh darah jantung.

    “CABG dilakukan untuk membuat “jalan baru” di sekitar pembuluh darah jantung yang menyempit atau tersumbat, agar aliran darah lancar sehingga otot jantung tetap mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi. Pembuluh darah lain bisa diambil dari tubuh pasien, misalnya dari kaki, tangan, atau dada bagian belakang.” jelas dr. Ismail dalam keterangannya, Selasa (18/2/2025).

    Dokter Ismail sukses melakukan operasi CABG dengan mengambil pembuluh darah vena dari paha kanan dan kiri, serta pembuluh darah arteri di dada, kemudian dihubungkan dengan bagian luar pembuluh darah arteri yang tersumbat di jantung. Pasca-tindakan, keluhan pasien sudah hilang bahkan dapat kembali bekerja seperti semula.

    Keberhasilan tindakan ini tidak lepas dari peran Cardiovascular Center Mayapada Hospital bersama tim dokter multidisiplinnya yang kompeten, serta dukungan fasilitas medis yang canggih.

    Melalui kasus tersebut, dr. Ismail menekankan pentingnya menjaga kesehatan jantung dan menyadari faktor-faktor risiko yang memicu PJK, seperti faktor keturunan, merokok, obesitas, tingkat kolestrol yang tinggi (Hiperkolesterolemia), diabetes, hipertensi, dan lainnya.

    Oleh karena itu, dr. Ismail mengimbau untuk menerapkan pola hidup yang sehat, seperti menghentikan kebiasaan merokok dan rutin melakukan skrining jantung untuk memastikan kondisi jantung dalam keadaan sehat.

    Dr. Ismail juga mengimbau untuk waspada terhadap gejala-gejala penyakit jantung koroner yang timbul, seperti rasa nyeri pada bagian dada, sesak napas, mudah lelah, dan keringat dingin.

    “Perlu diwaspadai pula beberapa gejala-gejala PJKseperti rasa nyeri pada bagian dadayang dapat menjalar ke lengan, leher, dan rahang bisa disertai gejala lainnya yaitu sesak napas, merasa mudah lelah, keringat dingin. Gejala-gejala tersebut yang sering kali diremehkan karena dirasa sama seperti gejala penyakit ringan yang lain,” imbuh dr. Ismail.

    Ketika gejala-gejala tersebut terjadi, segera bawa ke layanan khusus jantung seperti Cardiovascular Center Mayapada Hospital yang dikenal memiliki pelayanan komprehensif mulai dari deteksi dini, diagnosis, penanganan dengan tindakanadvancedsalah satunya CABG, hingga rehabilitasi jantung.

    Terlebih, Cardiovascular Center Mayapada Hospital menerapkan pelayanan berstandar internasional. Hal itu dibuktikan dengan akreditasiJoint Commission International(JCI) yang dimiliki unit Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

    Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Fiktorius Kuludong MMmengungkapkan, Cardiovascular Center Mayapada Hospital Jakarta Selatan tidak hanya mampu melakukan tindakan CABG, namun juga mampu melakukan berbagai prosedur canggih lainnya.

    “Cardiovascular Center Mayapada Hospital Jakarta Selatan tidak hanya mampu melakukan tindakan CABG, namun juga mampu melakukan berbagai proseduradvancedlain seperti penggantian katup jantung (mitral dan aorta), tindakan ablasi jantung, pemasangan alat pacu jantung (pacemaker), pemasangan ring jantung, penanganan gangguan pembuluh darah aorta dengan prosedur TEVAR dan Bentall, hingga bedah jantung untuk penyakit bawaan pada anak seperti Tetralogi of Fallot, ASD, dan VSD,” ucap dr. Fiktorus.

    “Layanan kami juga didukung oleh tim dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berkolaborasi dalam Cardiology Meeting yang telah dilakukan di Mayapada Hospital Jakarta Selatan. Cardiovascular Center Mayapada Hospital Jakarta Selatan juga dilengkapi dengan Cardiac Emergency yang siaga 24 jam untuk menangani kegawatdaruratan jantung sesuai standar protokol internasional Door to Balloon kurang dari 90 menit,” lanjutnya.

    Cardiovascular Center Mayapada Hospital dapat diakses dengan mudah melalui aplikasi MyCare. Melalui aplikasi ini, pasien dapat menjadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis jantung, pemeriksaan, hingga memesan layanan skrining jantung dengan cepat. Berkat integrasi MyCare dengan berbagai sistem pembayaran, nomor antrean pun dapat diperoleh lebih awal sehingga pengalaman berobat menjadi lebih efisien dan praktis.

    Sedangkan layanan Cardiac Emergency Mayapada Hospital dapat diakses melalui hotline 150990 atau fitur Emergency Call di aplikasi MyCare, untuk mendapat penanganan cepat dan tepat.

    Berbagai informasi menarik seputar success story pasien jantung, informasi kesehatan, serta tips dari dokter terangkum dalam fitur Health Articles & Tip di aplikasi MyCare. Aplikasi ini juga dapat memantau kesehatan jantung melalui Personal Health yang terhubung ke Health Access dan Google Fit untuk menghitung detak jantung, jumlah kalori terbakar, jumlah langkah kaki, dan body mass index (BMI).

    Oleh karena itu, dapatkan kemudahan akses layanan Mayapada Hospital dengan mengunduh MyCare di Google Play Store dan App Store untuk mendapat reward point saat pertama kali registrasi. Nantinya, reward point tersebut bisa dipakai untuk mendapat potongan harga layanan di Mayapada Hospital.

    (prf/ega)

  • 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Bikin Liver Rusak, Nomor 1 dan 5 Sering Dilakukan

    6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Bikin Liver Rusak, Nomor 1 dan 5 Sering Dilakukan

    Jakarta

    Liver atau hati adalah salah satu organ yang bekerja paling keras dalam tubuh kita. Organ ini menyaring racun, membantu mencerna makanan, dan mengatur metabolisme. Dikutip dari Times of India, masalah di liver menyebabkan dua juta kematian per tahun, yang berarti empat persen dari semua kematian (1 dari setiap 25 kematian di seluruh dunia).

    Banyak orang tanpa sadar melakukan aktivitas sehari-hari yang membahayakan organ hati atau liver. Berikut enam kebiasaan sehari-hari yang cukup umum, dapat merusak organ liver dalam jangka panjang.

    1. Makan Terlalu Banyak Gula

    Makan gula berlebih tidak hanya merusak gigi atau menyebabkan penambahan berat badan, tetapi juga dapat membebani hati. Bila mengonsumsi terlalu banyak gula olahan (terutama fruktosa), hati akan mengubahnya menjadi lemak.

    Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), yang kini menjadi penyebab utama kerusakan hati di seluruh dunia.

    2. Kurang Minum Air Putih

    Dehidrasi membuat hati lebih sulit mengeluarkan racun dari tubuh. Bila tidak minum cukup air, racun akan terkumpul dan membebani hati. Karena itu, biasakan minum air putih minimal 8 gelas setiap hari.

    4. Konsumsi Alkohol Berlebihan

    Alkohol merupakan salah satu zat yang paling merusak hati. Minum alkohol terlalu banyak, meskipun sesekali, dapat menyebabkan perlemakan hati, peradangan, dan sirosis atau kondisi saat jaringan hati mengalami luka permanen.

    5. Makan Olahan dan Gorengan

    Makanan cepat saji, camilan yang digoreng, dan makanan olahan mengandung banyak lemak trans dan bahan pengawet, yang membebani hati. Lemak tidak sehat ini menyebabkan penumpukan lemak dan peradangan, sehingga meningkatkan risiko penyakit perlemakan hati.

    Cobalah untuk mengonsumsi makanan yang mengandung lemak sehat seperti minyak zaitun, kacang-kacangan, dan alpukat. Batasi konsumsi makanan cepat saji dan fokus pada makanan yang padat nutrisi.

    6. Kurang Tidur

    Kurang tidur kronis meningkatkan stres oksidatif dan peradangan, yang dapat menyebabkan penyakit hati. Usahakan untuk tidur berkualitas selama 7-8 jam setiap malam. Pertahankan rutinitas waktu tidur dan batasi waktu menonton layar gadget sebelum tidur.

    (suc/naf)

  • Video: Kesepian Ternyata Tingkatkan Risiko Pikun

    Video: Kesepian Ternyata Tingkatkan Risiko Pikun

    Video: Kesepian Ternyata Tingkatkan Risiko Pikun

  • Peneliti Harvard Ungkap Kuku Seperti Ini Tanda Seseorang Berumur Panjang

    Peneliti Harvard Ungkap Kuku Seperti Ini Tanda Seseorang Berumur Panjang

    Jakarta

    Kuku jari ternyata menyimpan petunjuk terkait usia biologis manusia. Bahkan pertumbuhan kuku dapat memberi tahu terkait panjang atau tidaknya umur seseorang.

    Dikutip dari Times of India, seorang profesor genetika Harvard Medical School Dr David Sinclair menemukan bukti bahwa kecepatan pertumbuhan kuku jari dapat memperkirakan berapa lama seseorang diharapkan hidup dan seberapa baik kondisi penuaannya.

    Ini karena pertumbuhan kuku adalah indikator utama seberapa efisien tubuh dalam meregenerasi sel-sel sehat. Kuku yang tumbuh lebih cepat mungkin menunjukkan tingkat penuaan yang lebih lambat.

    Seperti yang diketahui, penuaan biologis berbeda dengan penuaan kronologis. Penuaan biologis merupakan istilah ilmiah untuk menggambarkan seberapa tua sel-sel dan jaringan tubuh muncul, ini tergantung dengan seberapa baik mereka berfungsi.

    “Laju pertumbuhan kuku merupakan indikator yang sangat baik tentang seberapa cepat Anda menua atau tidak,” kata Sinclair.

    Sebuah penelitian di tahun 1979 menemukan bukti bahwa laju pertumbuhan kuku mingguan menurun sekitar 0,5 persen per tahun sejak usia 30 tahun. Mereka dengan pertumbuhan kuku yang cepat, menunjukkan penuaan yang lebih lambat.

    “Saya juga memerhatikan apakah kuku saya melambat pertumbuhannya atau tidak. Setiap kali saya harus memotong kuku, saya berpikir sudah berapa lama saya memotong kuku?” kata Sinclair.

    Bagaimana Kuku Bisa Berhubungan dengan Usia?

    Kuku berubah seiring bertambahnya usia terutama karena sirkulasi darah yang melambat, sehingga nutrisi yang sampai ke kuku berkurang. Penampilan kuku juga dapat berubah karena kuku menjadi kusam dan rapuh seiring bertambahnya usia. Mereka juga bisa menguning dan buram.

    Usia bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi penampilan kuku, hal itu juga bisa disebabkan oleh kekurangan nutrisi serta kadar hormon. Seseorang mungkin mengalami peningkatan pertumbuhan kuku selama masa pubertas dan kehamilan.

    Lubang, tonjolan, garis, perubahan bentuk, atau perubahan lain selanjutnya dapat menunjukkan adanya kekurangan zat besi, penyakit ginjal, dan kekurangan nutrisi.

    (dpy/kna)

  • 6 Mitos Seputar Kemoterapi, Ini Kata Dokter Onkologi Mayapada Hospital

    6 Mitos Seputar Kemoterapi, Ini Kata Dokter Onkologi Mayapada Hospital

    Jakarta – Mengidap kanker pasti menjadi pengalaman yang berat dan emosional bagi siapapun, apalagi saat harus menjalani kemoterapi.

    Rasa takut sering kali dirasakan saat proses menjalani kemoterapi karena harus melewati berbagai tantangan, seperti rasa sakit, kerontokan rambut, mual, dan muntah.

    Tak jarang, muncul banyak kekhawatiran dan pertanyaan di tengah pengobatan, terlebih dengan beredarnya informasi seputar kemoterapi atau metode pengobatan kanker lainnya yang diragukan kebenarannya atau hoaks.

    Untuk meluruskan berbagai informasi atau anggapan yang beredar seputar kemoterapi, dr.Wulyo Rajabto, Sp.PD KHOM, Dokter Subspesialis Hematologi Onkologi dari Mayapada Jakarta Selatan, akan mengungkapkan berbagai fakta untuk menjawab mitos kemoterapi.

    Hal ini bertujuan agar siapa pun yang menjalani kemoterapi dapat melakukannya dengan lebih tenang dan percaya diri.

    Mitos 1: Kemoterapi Selalu Menyakitkan

    Mitos yang beredar menyebutkan kemoterapi selalu menyakitkan. Faktanya, kemoterapi tidak menimbulkan rasa sakit karena obat-obatan yang digunakan untuk merusak atau menghambat pertumbuhan sel kanker diberikan melalui infus atau suntikan yang umumnya tidak menimbulkan rasa sakit.

    Sekalipun kemoterapi menimbulkan efek samping seperti mual, kelelahan, dan nyeri pada tubuh, tersedia berbagai obat yang efektif untuk mengatasi efek samping tersebut.

    “Perlu diketahui bahwa setiap pasien dapat mengalami efek samping yang berbeda, sehingga penanganannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien untuk memastikan kenyamanan selama menjalani pengobatan,” ungkap dr. Wulyo, dalam keterangannya, Selasa (18/02/2025)

    Mitos 2: Kemoterapi Hanya Digunakan untuk Mengobati Kanker Stadium Lanjut

    Mitos lainnya, banyak orang yang mengira kemoterapi hanya diberikan pada pasien kanker stadium lanjut. Padahal anggapan ini tidak sepenuhnya benar.

    Faktanya, kemoterapi tidak hanya dilakukan pada kanker stadium lanjut, tetapi juga dapat diterapkan untuk berbagai stadium kanker.

    Selain itu, kemoterapi sering menjadi bagian dari perawatan pencegahan setelah operasi (adjuvant) untuk mengurangi risiko kekambuhan, atau dapat dilakukan sebelum operasi (neoadjuvant) untuk mengecilkan tumor sehingga operasi menjadi lebih efektif.

    Mitos 3: Kemoterapi Pasti Mengakibatkan Rambut Rontok

    Kerontokan rambut merupakan efek samping yang umum terjadi, namun ternyata tidak semua pasien mengalaminya. Kemoterapi bekerja dengan membunuh sel-sel yang tumbuh dengan cepat, seperti sel kanker, termasuk sel rambut yang tumbuh dan aktif membelah juga akan ikut terpengaruh.

    “Namun, respon sel rambut terhadap kemoterapi bervariasi, ada pula yang mengalami kerontokan signifikan atau hanya mengalami penipisan rambut. Meski begitu, efek kerontokan rambut ini bersifat sementara, biasanya rambut akan kembali tumbuh setelah selesai menjalani pengobatan,” imbuh dr. Wulyo.

    Mitos 4: Kemoterapi Membunuh Sekaligus Sel Kanker dan Sel Sehat

    Pada dasarnya, kemoterapi diformulasikan untuk menyerang lebih banyak sel kanker yang berkembang cepat, daripada sel tubuh yang sehat.

    Namun, sel-sel sehat yang berkembang cepat juga dapat terpengaruh, seperti sel di rambut, saluran pencernaan, dan sumsum tulang. Itulah mengapa kemoterapi dapat menimbulkan efek samping seperti kerontokan rambut, mual, kelelahan, dan penurunan daya tahan tubuh.

    Mitos 5: Kemoterapi Tidak Berpengaruh pada Kesembuhan Kanker

    Keberhasilan Kemoterapi sangat bergantung pada berbagai faktor, seperti jenis dan stadium kanker serta seberapa baik tubuh merespon pengobatan.

    Banyak pasien kemoterapi berhasil mencapai remisi, di mana tanda dan gejala kanker berkurang, hilang, bahkan sembuh setelah menjalani kemoterapi dengan pendekatan yang holistik dan keterlibatan tim medis yang berpengalaman.

    Karena itu, pemilihan layanan kesehatan yang tepat juga turut mempengaruhi keberhasilan pengobatan Kemoterapi. Oncology Center Mayapada Hospital dapat menjadi pilihan untuk menjalani pengobatan kanker, karena layanan ini memiliki dukungan Tumor Board yang terdiri dari tim medis berpengalaman untuk memberikan rencana perawatan yang tepat dan mutakhir.

    Oncology Center Mayapada Hospital ini dikenal dengan pelayanannya yang unggul, komprehensif, dan berstandar internasional. Keunggulan layanan ini dibuktikan salah satunya dengan jumlah kunjungan lebih dari 5.000 pasien ke layanan Oncology Center Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

    Mitos 6: Pasien Tidak Bisa Beraktivitas Normal Setelah Kemoterapi

    Mitos lainnya, pasien tidak bisa kembali beraktivitas normal setelah kemoterapi. Faktanya, banyak pasien yang telah menjalani kemoterapi dapat kembali menjalani rutinitas sehari-hari dengan baik.

    Meskipun efek samping seperti kelelahan bisa terjadi, banyak pasien yang mampu melanjutkan aktivitas mereka dengan beberapa penyesuaian. Dengan dukungan medis yang tepat dan penyesuaian gaya hidup, seperti pola makan yang seimbang dan olahraga ringan, pasien dapat merasa lebih baik dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.

    “Walaupun kemoterapi dapat menyebabkan efek samping, kemoterapi masih menjadi standar pengobatan untuk banyak jenis kanker karena kemoterapi efektif membunuh sel kanker, mengecilkan tumor, mencegah penyebaran. Bahkan, dapat memberikan remisi atau kesembuhan. Selain itu, kemoterapi diberikan secara sistemik, yang berarti obat akan tersebar ke seluruh tubuh, kemoterapi mampu menjangkau sel kanker yang tersembunyi dan tidak terlihat pada saat operasi,” ungkap dr. Wulyo.

    Meski begitu, perjalanan pasien tidak hanya bergantung pada aspek medis, tetapi juga pada dukungan emosional dan navigasi perawatan yang tepat.

    Menyadari hal ini, Oncology Center Mayapada Hospital menghadirkan Patient Navigator, yakni sebuah layanan yang didedikasikan untuk memandu, mendampingi, dan mendukung pasien dalam setiap langkah perawatan kanker agar pasien tidak perlu merasa bingung saat menghadapi proses perawatan kanker dan dapat menjalaninya dengan lebih nyaman.

    Jika Anda atau keluarga Anda membutuhkan perawatan kanker yang tepat, Oncology Center Mayapada Hospital siap membantu Anda melalui setiap unit yang ada di Tangerang, Jakarta Selatan, Kuningan, Bogor, Bandung, dan Surabaya.

    Sebagai informasi, pendaftaran konsultasi dapat dilakukan melalui aplikasi MyCare, yang menawarkan Fast Track Appointment dan metode pembayaran yang terintegrasi.

    Informasi seputar penanganan kanker yang advanced di Mayapada Hospital dapat Anda ketahui pula di MyCare dalam fitur Health Articles & Tips, selain itu terdapat fitur Emergency Call untuk layanan gawat darurat 24 jam.

    Fitur Personal Health juga memungkinkan Anda memantau kebugaran dengan terhubung ke Google Fit dan Health Access. Unduh MyCare di Google Play Store dan App Store untuk akses mudah ke layanan kesehatan dan berbagai penawaran menarik dari Mayapada Hospital.

    (prf/ega)

  • Ini yang Terjadi pada Paru-paru Remaja gegara Teriak Keras saat Nonton Konser

    Ini yang Terjadi pada Paru-paru Remaja gegara Teriak Keras saat Nonton Konser

    Jakarta

    Seorang remaja berusia 16 tahun mendatangi unit gawat darurat (UGD) dengan keluhan sakit dada. Kondisi itu dia alami setelah nonton konser sehari sebelumnya.

    Dilaporkan dalam Journal of Emergency Medicine, studi kasus yang terjadi di tahun 2017 berjudul “Screaming your Lungs Out!” A Case of Boy Band-Induced Pneumothorax…” – menjelaskan bagaimana seorang gadis dengan riwayat diabetes tipe-1 mendatangi unit gawat darurat di Texas setelah mengalami sesak napas. Selain itu, ia tampak sangat baik-baik saja dan tidak melaporkan adanya nyeri dada atau sakit tenggorokan.

    Setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter menyadari bahwa gadis itu mengalami krepitus, yang berarti bagian tubuh mengeluarkan bunyi “krek”, “kresek”, dan “pop” yang tidak normal saat tekanan diberikan. Bunyi ini mirip dengan bunyi seseorang yang meretakkan buku-buku jarinya, tetapi jika krepitus terlihat di sekitar rongga dada, itu bisa menunjukkan bahwa udara telah keluar dari saluran udara ke jaringan lunak di sekitarnya.

    Dr J Mack Slaughter yang mengobati gadis itu di Children’s Medical Centre menemukan robekan di paru-paru yang menyebabkan udara keluar di tiga tempat: antara paru-paru dan dinding dada, ke dalam rongga dada, dan di belakang faring.

    Kondisi ini secara medis dikenal sebagai pneumothorax, pneumomediastinum, dan pneumoretropharyngeum.

    “Kombinasi ketiga diagnosis ini belum pernah terlihat sebelumnya,” kata Dr Slaughter kepada BBC.

    Berteriak atau bernyanyi yang memicu paru-paru kolaps jarang terjadi, sehingga Dr Slaughter hanya dapat menemukan dua laporan kasus lainnya. Satu adalah seorang sersan pelatih sementara yang lainnya adalah seorang penyanyi opera.

    Setelah dirawat semalam, gadis itu menunjukkan tanda-tanda perbaikan kondisi dan diperbolehkan pulang.

    “Kondisinya stabil dan aman untuk dipulangkan,” kata Dr Slaughter.

    (kna/kna)

  • Wanita Salatiga Kena Kanker Laring di Usia 29, Dokter Ungkap Kemungkinan Pemicunya

    Wanita Salatiga Kena Kanker Laring di Usia 29, Dokter Ungkap Kemungkinan Pemicunya

    Jakarta

    Seorang wanita bernama Dian Marcy domisili Salatiga, Semarang, Jawa Tengah, membagikan kisah perjuangannya melawan kanker laring stadium 3. Ia pertama kali didiagnosis penyakit ini pada 2020, saat berusia 29 tahun.

    Dian mengungkapkan bahwa gejala awal yang ia alami adalah suara serak pada 2018. Namun, setiap kali memeriksakan diri ke dokter, ia hanya didiagnosis mengalami radang tenggorokan biasa. Kondisi suaranya sempat membaik setelah mengonsumsi obat yang diberikan dokter.

    Namun, setelah menjalani pengobatan, suara seraknya kembali muncul dan semakin parah. Pada 2019, ia juga mulai mengalami gejala lain, seperti batuk, tidur mendengkur, kesulitan menelan, serta sering tersedak saat makan.

    “Saya mantan social smoker dan perokok pasif. Awal saya tahu kalau saya mengidap kanker laring itu 2020, yang sebenarnya gejala awal sudah terasa di tahun 2018,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Senin (17/2/2025).

    Menyadari ada yang tidak beres dengan kesehatannya, Dian kembali menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dokter pun menyarankannya untuk melakukan biopsi. Hasilnya, pada Juni 2020, ia didiagnosis mengidap kanker laring stadium 3.

    Dian meyakini bahwa penyakit yang diidapnya bukan disebabkan oleh faktor genetik, melainkan lebih terkait dengan lingkungan sekitarnya.

    “Kalau genetik enggak ya kak, soalnya keluarga nggak ada. Nah kalau selama ini saya abai sama asap rokok, lingkungan saya perokok,” tuturnya.

    Setelah menerima diagnosis, Dian menjalani 35 sesi terapi radiasi dan juga prosedur pengangkatan pita suara. Kini, ia telah memasuki tahun kelima bebas dari kanker.

    Apa Pemicu Kanker Laring di Usia Muda?

    Spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi Dr dr Andhika Rachman SpPD-KHOM menjelaskan kanker laring adalah kanker yang berkembang di daerah pita suara (laring), yang berfungsi sebagai sumber suara dan sebagai jalan udara daerah tenggorokan ke paru-paru.

    “Meskipun kanker laring lebih umum pada pasien usia lanjut, kasus pada usia muda memang meningkat dan perlu mendapatkan perhatian khusus,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Selasa (18/2).

    dr Andhika mengatakan terdapat beberapa faktor risiko utama kanker laring pada usia muda. Di antaranya:

    1. Infeksi Human Papillomavirus (HPV)

    HPV, terutama tipe 16 dan 18, berkaitan dengan peningkatan risiko kanker laring. Infeksi ini dapat menyebabkan perubahan sel epitel yang dapat memicu kanker.

    2. Merokok

    Meski lebih sering menjadi faktor pada usia tua, paparan rokok sejak dini meningkatkan risiko mutasi genetik yang memicu kanker laring.

    3. Konsumsi Alkohol Berlebihan

    Alkohol bersifat karsinogenik dan bekerja sinergis dengan rokok dalam meningkatkan risiko kanker laring.

    4. Refluks Asam Lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

    Paparan asam lambung yang kronis ke laring dapat menyebabkan peradangan berulang yang berkontribusi pada perkembangan kanker.

    5. Faktor Genetik dan Mutasi Gen

    Riwayat keluarga dengan kanker kepala-leher atau kelainan genetik tertentu dapat meningkatkan risiko kanker laring pada usia muda.

    (suc/naf)

  • Meski Rasanya Pahit, Pare Punya 5 Manfaat Kesehatan yang Efeknya Nggak Kaleng-kaleng

    Meski Rasanya Pahit, Pare Punya 5 Manfaat Kesehatan yang Efeknya Nggak Kaleng-kaleng

    Jakarta

    Pare mungkin tidak menjadi pilihan sayur banyak orang karena rasanya yang pahit. Namun, sebenarnya sayuran yang tumbuh subur di kawasan Asia ini memiliki segudang manfaat.

    Sayuran dengan nama tanaman Momordica charantia berasal dari India Timur dan China bagian selatan. Sayuran ini juga disebut karela di India, nigauri di Jepang, goya di Okinawa, ampalaya di Filipina, dan ku-gua di seluruh wilayah China.

    Ada beberapa varietas pare, tetapi dua yang paling umum adalah pare Cina dan pare India. Varietas Cina lebih menyerupai mentimun hijau pucat dengan kulit berkerut dan bergelombang.

    Sementara varietas India memiliki ujung yang sempit dan meruncing serta tonjolan tajam serta bersudut di seluruh permukaannya. Perbedaan antara varietas ini sebagian besar bersifat visual, dan keduanya menawarkan rasa dan manfaat kesehatan yang tidak jauh berbeda.

    Satu buah pare segar mengandung:

    Kalori: 21Protein: 1 gramLemak: 0 gramKarbohidrat: 5 gramSerat: 3 gramGula: 0 gramKolesterol: 0 miligramSodium: 6 miligram

    Sebagai sumber antioksidan, flavonoid, dan senyawa polifenol, pare dapat membantu mengurangi risiko sejumlah masalah kesehatan. Apa saja? Berikut rangkumanny dikutip dari Web MD dan Healthline:

    1. Melawan peradangan

    Pare mengandung banyak polifenol. Senyawa ini dikenal karena kemampuannya untuk menurunkan peradangan dalam tubuh. Semakin banyak jumlah pare yang dikonsumsi, semakin besar efek antiperadangannya.

    2. Mencegah diabetes

    Pare mengandung senyawa bioaktif yang disebut saponin dan terpenoid. Senyawa ini menjadi jawaban dari rasa pahit pare, tetapi berperan penting dalam menurunkan kadar gula darah pada pengidap diabetes.

    Saponin dan terpenoid dalam pare dapat membantu memindahkan glukosa dari darah ke sel sekaligus membantu hati dan otot memproses SERTA menyimpan glukosa dengan lebih baik.

    Pare juga kaya akan sejumlah antioksidan penting. Faktanya, setengah cangkir pare segar mengandung sekitar 43 persen dari asupan vitamin C harian yang direkomendasikan. Semakin muda buahnya, semakin banyak vitamin C yang terkandung.

    Pare mentah mengandung berbagai macam vitamin dan mineral seperti berikut:

    Vitamin AVitamin CKalsiumZat besiTiamin (B1)Riboflavin (B2)Niacin (B3)Folat (B9)KaliumSengFosforMagnesium

    3. Melawan kanker

    Penelitian menunjukkan pare mengandung senyawa tertentu dengan khasiat melawan kanker.

    Misalnya, satu penelitian tabung reaksi lama menunjukkan ekstrak pare efektif membunuh sel kanker di lambung, usus besar, paru-paru, dan nasofaring atau area yang terletak di belakang hidung di bagian belakang tenggorokan.

    Penelitian gabungan tabung reaksi dan hewan lain memiliki temuan yang tidak jauh berbeda. Dilaporkan bahwa ekstrak pare mampu menghalangi pertumbuhan dan penyebaran sel kanker payudara sekaligus mendorong kematian sel kanker

    Perlu diingat, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan ekstrak pare dalam jumlah terkonsentrasi pada sel-sel individual di laboratorium.

    Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan bagaimana pare dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kanker pada manusia saat dikonsumsi dalam jumlah normal yang ditemukan dalam makanan.

    4. Menurunkan kadar kolesterol

    Kadar kolesterol yang tinggi dapat menyebabkan plak lemak menumpuk di arteri, memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

    Beberapa penelitian pada hewan menemukan pare dapat menurunkan kadar kolesterol untuk mendukung kesehatan jantung secara keseluruhan.

    Satu penelitian pada manusia menemukan pemberian ekstrak pare yang larut dalam air menyebabkan penurunan kadar kolesterol jahat yang signifikan, dibandingkan dengan relawan plasebo.

    Namun, satu penelitian pada tikus mencatat pare tidak menghasilkan peningkatan kadar kolesterol atau perkembangan aterosklerosis.

    Penelitian tambahan diperlukan untuk menentukan apakah efek positif ini pada manusia yang mengonsumsi labu sebagai bagian dari diet seimbang konsisten.

    5. Meningkatkan asupan serat

    Pare merupakan tambahan yang sangat baik untuk diet atau menurunkan berat badan, karena rendah kalori tetapi tinggi serat. Pare mengandung sekitar 2 gram serat dalam setiap porsi 100 gram.

    Serat melewati saluran pencernaan dengan sangat lambat, membantu merasa kenyang lebih lama dan mengurangi rasa lapar dan nafsu makan.

    Pare juga memiliki sifat pencahar, yang dapat membantu mendukung pencernaan. Oleh karena itu, mengganti bahan-bahan berkalori tinggi dengan pare dapat membantu meningkatkan asupan serat dan mengurangi kalori untuk mendorong penurunan berat badan.

    (naf/kna)