Category: Detik.com Kesehatan

  • Uganda Pulangkan Pasien Ebola Terakhir

    Uganda Pulangkan Pasien Ebola Terakhir

    Foto Health

    AP Photo/Hajarah Nalwadda – detikHealth

    Rabu, 19 Feb 2025 16:02 WIB

    Uganda – Uganda memulangkan delapan pasien terakhir yang pulih dari Ebola. Otoritas kesehatan Uganda melaporkan tidak ada kasus positif lainnya.

  • Ramai Isu Minuman Serbuk Dipromosikan untuk Ibu Menyusui, BPOM Buka Suara

    Ramai Isu Minuman Serbuk Dipromosikan untuk Ibu Menyusui, BPOM Buka Suara

    Jakarta

    Belakangan heboh isu di media sosial mengenai minuman serbuk yang dipromosikan untuk ibu menyusui dengan kandungan pemanis buatan. Terkait hal itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah melakukan pengawasan dan penelusuran terhadap isu tersebut. Produk pangan yang terkait dengan konten tersebut adalah Momsy, Mama Bear, dan Mom Uung.

    Berdasarkan penelusuran yang dilakukan BPOM RI terhadap data registrasi, produk Momsy dan Mama Bear terdaftar sebagai kategori minuman serbuk dan tidak diperuntukkan bagi ibu menyusui. Sementara Mom Uung terdaftar pada 2 kategori yaitu sebagai kategori minuman serbuk yang tidak diperuntukkan bagi ibu menyusui dan kategori minuman khusus ibu menyusui.

    Komposisi ketiga produk tidak menggunakan bahan tambahan pangan pemanis buatan. Adapun pengujian di laboratorium BPOM menunjukkan hasil sebagai berikut.

    Momsy Almond Mix Minuman Berperisa Rasa Strawberry, MD 073182000600279, terdeteksi pemanis buatan sukralosa;Mama Bear Almond Mix Minuman Berperisa Rasa Taro, MD 867013015799, tidak terdeteksi pemanis buatan sukralosa;Mom Uung Mylkflow Minuman Berperisa Rasa Vanilla, MD 867010156064, tidak terdeteksi pemanis buatan sukralosa.

    Hasil pengawasan terhadap label produk yang beredar menunjukkan bahwa produk minuman serbuk Momsy mencantumkan informasi dan klaim gizi dan non gizi yang tidak sesuai dengan label yang disetujui pada saat registrasi, serta klaim “ASI booster” sehingga seolah-olah ditujukan untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui.

    Begitu juga produk minuman serbuk Mom Uung mencantumkan peruntukan “Minuman Khusus Ibu Hamil & Menyusui” dan klaim zat gizi yang tidak sesuai dengan label yang disetujui pada saat registrasi, serta klaim “ASI booster” sehingga seolah-olah ditujukan untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui.

    Sementara produk Mama Bear mencantumkan informasi dan klaim yang tidak sesuai dengan label yang disetujui pada saat registrasi.

    “Hasil pengawasan terhadap promosi dan iklan menunjukkan bahwa ketiga produk tersebut mencantumkan klaim yang tidak sesuai dengan ketentuan seperti pernyataan “Susu pelancar ASI”,” demikian keterangan BPOM, dikutip Rabu (19/2/2025).

    Terhadap pelanggaran sebagaimana tersebut di atas, BPOM telah memberikan sanksi berupa pembatalan izin edar terhadap produk yang tidak memenuhi ketentuan, penghentian kegiatan produksi dan peredaran termasuk penjualan melalui online, perintah penarikan produk dari peredaran, serta melaporkan pelaksanaannya ke BPOM, peringatan dan pelarangan penayangan iklan yang tidak memenuhi ketentuan.

    BPOM juga telah memerintahkan unit pelaksana teknis (UPT) BPOM di seluruh Indonesia untuk melakukan pengawalan terhadap penarikan produk yang dibatalkan izin edarnya.

    “BPOM secara terus-menerus melakukan pengawasan sebelum dan selama produk beredar untuk memastikan pangan olahan yang beredar tetap memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan gizi pangan,” kata BPOM.

    “BPOM menegaskan bahwa pelaku usaha yang menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan/atau peredaran pangan memiliki tanggung jawab dan wajib menjamin keamanan pangan sesuai Pasal 3 Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan,” sambung keterangan tersebut.

    BPOM mengimbau masyarakat agar cerdas dalam memilih produk pangan olahan dengan menerapkan cek KLIK, yaitu:

    memastikan kemasan produk dalam kondisi baik dan tidak rusakmencermati informasi pada label produk di antaranya komposisi, informasi nilai gizi, peruntukan/kegunaan produk, izin edar, serta nama dan alamat produsenmemastikan produk telah memiliki izin edarmemastikan produk tidak melewati kedaluwarsamenghindari konsumsi produk dengan klaim/promosi/iklan yang berlebihan.

    BPOM juga mengimbau masyarakat untuk melaporkan segera kepada BPOM melalui Contact Center HALOBPOM 1500533 atau Balai Besar/Balai/Loka POM terdekat apabila mengetahui/memiliki informasi/mencurigai kegiatan produksi/peredaran/promosi/iklan pangan olahan yang tidak memenuhi ketentuan.

    (suc/up)

  • Hanya Punya Satu Paru-paru, Kok Bisa Paus Fransiskus Kena Pneumonia Bilateral?

    Hanya Punya Satu Paru-paru, Kok Bisa Paus Fransiskus Kena Pneumonia Bilateral?

    Jakarta

    Paus Fransiskus dikabarkan mengidap pneumonia bilateral dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sebelum diagnosis tersebut, dia dirawat karena bronkitis.

    “Pemindaian CT dada lanjutan, yang dilakukan kepada Bapa Suci sore ini-yang diresepkan oleh tim medis Vatikan dan staf medis Yayasan Poliklinik “A. Gemelli”-mengungkapkan timbulnya pneumonia bilateral, yang memerlukan terapi farmakologis tambahan,” ungkap Vatikan.

    Pemimpin tertinggi gereja Katolik itu telah melewati sejumlah masalah kesehatan sejak muda. Lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio, dia mengidap masalah radang selaput dada dan harus menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-parunya di Argentina di usia 21 tahun.

    Artinya, setelah operasi tersebut, Paus Fransiskus hidup dengan hanya satu paru-paru utuh.

    Spesialis paru dari RS Paru Persahabatan Prof Agus Dwi Sasono, SpP mengatakan pneumonia bilateral adalah kondisi ketika infeksi pneumonia terjadi di kedua paru-paru. Pneumonia sendiri adalah peradangan jaringan parenkrim paru oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, atau jamur.

    “Kalau full diangkat satu bagian kanan atau kiri, tentunya parunya tinggal sebelah. Nggak mungkin kena pneumonia bilateral karena parunya tinggal satu,” kata Prof Agus saat dihubungi detikcom, Selasa (18/2/2025).

    “Kalau parsial removal, bisa kena pneumonia bilateral karena masih ada dua bagian parunya,” ucapnya lagi.

    Prof Agus menambahkan ada beberapa faktor risiko seseorang terinfeksi pneumonia bilateral, mulai dari usia, orang dengan sistem imun yang lemah, merokok, polusi udara, kehamilan, malnutrisi, riwayat infeksi sebelumnya dan faktor genetik.

    “Saya lihat Paus ada faktor risiko. Usia lanjut, riwayat infeksi sebelumnya (bronkitis) serta riwayat pengangkatan paru (parsial),” beber Prof Agus.

    (kna/up)

  • Kemenkes Perkirakan 1 Juta Warga RI Kena Kanker, Angka Kematian Capai 60 Persen

    Kemenkes Perkirakan 1 Juta Warga RI Kena Kanker, Angka Kematian Capai 60 Persen

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) memperkirakan ada lebih dari satu juta kasus kanker di Indonesia. Angka ini dibarengi dengan tren kematian karena kanker yang relatif tinggi, mencapai 60 persen.

    “Angkanya sekitar 1 jutaan jumlah kanker. Sekarang yang terdeteksi itu 408 ribuan. Kalau kanker kan estimasi ya, bukan penyakit menular,” kata Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2025)

    “Yang menjadi PR (pekerjaan rumah) kita adalah angka kematiannya yang masih 50 sampai 60 persen,” sambungnya.

    Nadia menambahkan, ada empat jenis kanker yang paling banyak ditemukan kasusnya pada laki-laki dan perempuan.

    “Kanker payudara pertama, kanker leher rahim yang kedua. Untuk laki-laki kanker paru nomor satu, kanker usus nomor dua. Kalau digabung (laki-laki dan perempuan), kanker paru nomor satu, nomor dua kanker payudara, nomor tiga kanker leher rahim, nomor empatnya kanker usus,” tuturnya.

    Kemenkes menekankan pentingnya deteksi dini di masyarakat terkait kanker. Terlebih saat ini pemerintah telah meluncurkan program cek kesehatan gratis (CKG), yang di dalam fiturnya ada pemeriksaan beberapa jenis kanker.

    Namun, Nadia mengatakan masih ada saja hambatan yang ditemukan Kemenkes di lapangan terkait pemeriksaan kanker di masyarakat akar rumput.

    Pertama, masih banyak masyarakat yang merasa takut dan ragu melakukan pemeriksaan kanker, karena takut menerima hasilnya. Kedua, pada wanita, masih banyak ibu-ibu yang tidak mendapatkan izin dari suami untuk melakukan pemeriksaan kanker.

    (dpy/up)

  • Nggak Mau Kalah! Nenek-nenek di Jepang Juga Ikut Kelas Kecantikan

    Nggak Mau Kalah! Nenek-nenek di Jepang Juga Ikut Kelas Kecantikan

    Foto Health

    AP Photo/Yuri Kageyama – detikHealth

    Rabu, 19 Feb 2025 14:02 WIB

    Jepang – Nenek-nenek di Jepang mengikuti kelas kecantikan gratis. Kelas kecantikan untuk lansia ini mengajarkan untuk tetap sehat dan cantik melalui tata rias.

  • Mirip Jepang, Kasus Anak Influenza di RI Lagi Nanjak! Picu Komplikasi-Dirawat di RS

    Mirip Jepang, Kasus Anak Influenza di RI Lagi Nanjak! Picu Komplikasi-Dirawat di RS

    Jakarta – Perubahan cuaca tidak menentu, seperti pancaroba atau cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini, sering kali membuat tubuh anak rentan terhadap penyakit, termasuk paparan virus Influenza. Hal ini dikarenakan cuaca yang tak menentu dapat menyebabkan imunitas tubuh anak lemah.

    Ketua Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM-FKUI, dr Mulya Rahma Karyanti, SpA(K), MSc, mengatakan banyak kasus anak-anak yang terkena virus influenza, bahkan ada yang sampai dirawat di rumah sakit akibat komplikasi virus tersebut.

    Mereka yang dirawat, lanjutnya, disertai kondisi infeksi sekunder atau tambahan, salah satunya infeksi bakteri. Virus influenza bisa menyebabkan komplikasi, seperti pneumonia, khususnya pada kelompok rentan, seperti anak-anak, usia lanjut, wanita hamil, dan orang yang memiliki penyakit kronik.

    “Influenza memang lagi booming di Jepang. Tapi jangan salah kasus-kasus kita di anak juga lagi tinggi, influenza A dan B. Kebanyakan kasus yang dirawat itu dengan (komplikasi) pneumonia,” ucapnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2025).

    Menurut dr Mulya, anak-anak rentan terhadap infeksi virus, terutama ketika berada di tempat umum seperti sekolah, kolam renang, dan playground. Tempat-tempat ini menjadi lingkungan yang berisiko karena banyaknya interaksi antara anak-anak serta penggunaan fasilitas yang sama.

    “Namanya anak kalau udah main, ingusan, yasudah dia memegang semua alat-alat di tempat fasilitas umum dan itu bisa menularkan,” katanya.

    Lantas, bagaimana cara memutus penularan?

    Menurut dr Mulya, salah satu langkah penting dalam memutus rantai penularan adalah dengan memakai masker bagi yang sedang sakit. Apabila anak sedang sakit, sebaiknya beristirahat di rumah.

    Dengan cara ini, lanjutnya, bisa menekan penyebaran virus, dan anak yang sakit juga dapat pulih lebih cepat tanpa menularkan ke orang lain. Penting juga untuk mendapatkan vaksinasi untuk mencegah fatalitas dari virus influenza.

    “Sekarangkan eranya ke balik, bukan semua harus pakai masker, tapi yang sakit menggunakan masker supaya memutuskan penularan ke orang lain,” tuturnya.

    “Anak kalau misalnya ada yang sakit, dia istirahat di rumah. Jadi sebaiknya dirumahkan, atau istirahat, supaya nggak menular ke sekitar.”

    (suc/naf)

  • Konsumsi GGL Tinggi di Indonesia, Perlukah Label Makanan Sehat di Restoran?

    Konsumsi GGL Tinggi di Indonesia, Perlukah Label Makanan Sehat di Restoran?

    Jakarta

    Pengetatan regulasi makanan dan minuman tinggi gula garam dan lemak (GGL) diusulkan tidak hanya berjalan pada pangan olahan, melainkan juga pangan siap saji. Artinya, termasuk di sejumlah restoran atau rumah makan Indonesia.

    Ketua Umum Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) Muhammad Subuh menilai kasus diabetes hingga hipertensi akan terus sulit tertangani bila kebiasaan masyarakat dalam konsumsi tinggi GGL belum berhasil ditekan.

    “Karena upaya preventif sangat berdekatan dengan hal yang kita sebut budaya dan perilaku, kebiasaan konsumsi tinggi GGL ini menjadi suatu masalah besar,” jelasnya dalam konferensi pers, Selasa (19/2/2025).

    Subuh menilai perlu ada penetapan label pada restoran-restoran yang memiliki kandungan tinggi GGL. Hal ini juga dibarengi dengan edukasi risiko yang tercantum dalam setiap menu makanan.

    “Misalnya di restoran-restoran dan menu tertentu, ada warning berisiko jantung, hipertensi, dan kolesterol, sehingga perlu dibatasi konsumsinya,” usul Subuh.

    Terpisah, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kebijakan Kesehatan Prof Asnawi Abdullah mengaku pihaknya masih mengkaji berbagai kemungkinan pengetatan GGL. Termasuk kebijakan pengenaan cukai minuman berpemanis dalam kemasan hingga kemungkinan penerapan ‘Nutri-Level’ di pangan olahan maupun siap saji.

    Aturan tersebut nantinya akan dikeluarkan dalam bentuk turunan UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023.

    “Kita juga sambil mempelajari praktik baik dari negara-negara lain, dan di negara-negara lain yang telah diterapkannya itu, kita lihat bagaimana studi kebijakan di depan mereka, lalu apa kekurangan, supaya kita tidak mengulangi hal yang sama di negara lain,” terangnya kepada detikcom, Selasa (19/2).

    “Benchmarking kita lakukan dan kita coba lihat plus minusnya, dan apa yang bisa kami adopsi, kadang-kadang tidak bisa sepenuhnya sesuai dengan konteks kita,” pungkas dia.

    (kna/kna)

  • Hampir 2 Pekan Cek Kesehatan Gratis, Penyakit Ini Paling Banyak Ditemukan

    Hampir 2 Pekan Cek Kesehatan Gratis, Penyakit Ini Paling Banyak Ditemukan

    Jakarta

    Hampir dua pekan terlewati sejak cek kesehatan gratis resmi diluncurkan Senin (10/2/2025). Ketua Umum Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) Muhammad Subuh menyebut rata-rata penyakit yang paling banyak teridentifikasi berkaitan dengan tingginya kadar gula darah dan tekanan darah.

    Hal ini menurutnya menandakan masih banyak masyarakat yang belum menjalani pola hidup sehat. Padahal, sekitar 70 persen kematian di Indonesia disumbang penyakit tidak menular, termasuk diabetes hingga hipertensi yang bisa berujung komplikasi stroke sampai masalah jantung.

    “Diabetes ini suatu penyakit yang mungkin baru terdiagnosis 30 persen, dari semua kasus yang ada, ini rata-rata teman-teman Dinas Kesehatan mengumpulkan paling banyak temuan kasus pemeriksaan gula darah tinggi dan rata-rata tekanan darah juga tinggi,” bebernya dalam konferensi pers Rabu (19/2/2025).

    “Itu indikasi bahwa masyarakat kita belum perhatian tentang penyakit diabetes, begitu juga dengan hipertensi,” sambung dia.

    Subuh menyebut tingginya kasus diabetes dan hipertensi bisa ditekan bila masyarakat paham bagaimana memprioritaskan preventif atau pencegahan, alih-alih menunggu perawatan.

    Hal ini sejalan dengan catatan Survei Kesehatan Indonesia 2023, lebih dari 96 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah. Rata-rata konsumsi garam juga melampaui dua kali lipat batas aman WHO, di 3 gram per hari.

    (naf/kna)

  • Memperkuat IDI sebagai Rumah Besar Dokter Indonesia

    Memperkuat IDI sebagai Rumah Besar Dokter Indonesia

    Jakarta – Dalam dinamika perkembangan profesi kedokteran di Indonesia, khususnya pasca diberlakukannya UU 17/2023 Kesehatan (Omnibus Law), kita dihadapkan pada momentum krusial yang bisa menentukan arah dari masa depan organisasi profesi dokter. Di tengah berbagai tantangan dan perubahan yang ada, yang perbincangannya juga mencuat selama Muktamar IDI XXXII di Mataram – NTB, 12 – 15 Februari 2025 lalu, perlu kita sadari bahwa terdapat beberapa prinsip fundamental yang perlu dipegang teguh oleh seluruh dokter Indonesia. Prinsip fundamental yang soyagyanya juga didukung oleh pemerintah dan masyarakat untuk memastikan profesi dokter di Indonesia yang kuat dan mandiri. Hanya dengan profesi dokter yang kuat dan mandiri, tujuan akhir meningkatkan kualitas kesehatan rakyat Indonesia dapat dicapai. Prinsip-prinsip fundamental itu adalah:

    1. IDI sebagai Rumah Besar Tunggal Dokter Indonesia

    Dalam Muktamar Mataram, Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia (HAM) Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra menyebutkan bahwa, secara ideal, hanya ada satu organisasi profesi kedokteran. Ini menegaskan bahwa Ikatan Dokter Indonesia (IDI) haruslah tetap menjadi rumah besar tunggal bagi seluruh dokter Indonesia. “Rumah besar” bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan strategis untuk memastikan kesatuan dan kekuatan profesi kedokteran saat ini dan di masa depan. Dalam era yang semakin kompleks ini, fragmentasi organisasi profesi berpotensi melemahkan posisi dokter dalam sistem kesehatan nasional dan akan berdampak negatif terhadap sistem kesehatan itu sendiri. Hal ini sebenarnya sudah lama disadari, namun sering diabaikan. Sejarah telah membuktikan bahwa kekuatan sebuah profesi sangat tergantung pada kesatuan organisasinya. IDI, yang telah berdiri sejak tahun 1950, telah menjadi saksi bagaimana kesatuan ini telah mengawal profesi dokter menghadapi berbagai tantangan sepanjang sejarahnya. Dari masa revolusi hingga era digital saat ini, IDI harus diakui terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan jaman sambil tetap menjaga kepentingan profesi dan kemaslahatan masyarakat.

    Di masyarakat modern Indonesia saat ini, peran IDI sebagai rumah besar tunggal dokter menjadi semakin krusial mengingat sistem kesehatan di Indonesia yang terus berubah. Sistem kesehatan modern membutuhkan dunia kedokteran yang mampu berkoordinasi yang kuat antar berbagai spesialisasi. Kesatuan organisasi mempermudah standardisasi layanan kesehatan dan memperkuat posisi dokter secara global. Fragmentasi organisasi akan menyulitkan pengambilan

    keputusan dan implementasi kebijakan bagi organisasi profesi mau pun para pemangku kepentingan. Pemerintah, misalnya, jika cerdas, mempunyai kepentingan agar organisasi profesi hanya satu, sebagai sarana investasi kesejahteraan sosial untuk kepentingan rakyat, dan tidak elok jika menggunakan filosofi bisnis , “jangan letakkan uangmu dalam satu keranjang saja”.

    2. Kekuatan dalam Kesatuan: Membangun Bargaining Position yang Solid

    Bentuk organisasi IDI ke depan harus bersifat adaptif namun tetap menjaga kesatuan. Model apapun yang dipilih sebagai bentuk organisasi (bentuk seperti sekarang atau federasi) harus memberikan otonomi yang cukup kepada perhimpunan dokter umum, spesialis dan subpesialis, dengan tetap mempertahankan koordinasi terpusat untuk isu-isu strategis. Begitu pun, pengembangan ilmu oleh perhimpunan keseminatan harus diberikan ruang gerak yang luwes, namun tetap mempertahankan peran dan batasannya dengan dokter umum, spesialis dan subspesialis dalam minat keilmuannya. Struktur seperti ini memungkinkan sistem pengambilan keputusan yang demokratis namun tetap efisien.

    Kesatuan organisasi memberikan kekuatan yang signifikan dalam negosiasi dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dengan pemerintah, legislatif, maupun organisasi non pemerintah. Posisi yang lebih kuat dalam negosiasi dengan pemerintah, dialog yang lebih efektif dengan pihak-pihak penjamin sosial dan asuransi kesehatan, serta koordinasi yang lebih baik dengan industri kesehatan terutama terkait pemanfaatan teknologi kesehatan, hanya dapat dicapai melalui suara yang bersatu. Perlindungan profesi juga menjadi lebih efektif ketika dilakukan secara terkoordinasi, termasuk dalam hal advokasi kepentingan dokter dan penanganan isu-isu etik.

    3. Integrasi dalam Praktik Kedokteran: Mewujudkan Pelayanan Holistik

    Prinsip dasar kedokteran mengajarkan bahwa tubuh manusia adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pemahaman ini harus tercermin dalam bagaimana IDI mengorganisir profesi kedokteran. Koordinasi antar spesialisasi, misalnya, menjadi sangat penting dalam mewujudkan sistem rujukan yang terintegrasi dan protokol penanganan multi-disiplin yang terstandar. Sistem informasi kesehatan yang terpadu juga menjadi keniscayaan dalam pelayanan kesehatan modern.

    Pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan membutuhkan integrasi yang kuat antar berbagai berbagai pelayanan kedokteran, baik umum, spesialisasi, atau subspesialisasi. Penanganan pasien yang komprehensif, dengan mempertimbangkan aspek bio-psiko-sosial, hanya dapat dilakukan secara efektif jika ada kesatuan dalam organisasi profesi. Kolegium kedokteran memang sebagai pengawal keilmuannya, namun organisasi profesi dokternya juga harus tunggal sebagai satu kekuatan. Standardisasi prosedur medis dan harmonisasi protokol pelayanan juga menjadi lebih mudah dicapai ketika ada kesatuan dalam organisasi profesi.

    4. Independensi Kolegium Kedokteran: Menjaga Mutu Profesi

    Kolegium kedokteran memiliki peran vital sebagai penjaga standar dan kualitas praktik kedokteran. Untuk menjalankan peran ini secara efektif, kolegium harus memiliki independensi yang kuat dari berbagai bentuk intervensi, termasuk dari pemerintah dan pengurus organisasi profesi IDI sendiri. Independensi ini penting untuk menjaga objektivitas dalam penetapan standar dan memastikan bahwa setiap keputusan diambil berdasarkan bukti ilmiah yang kuat).

    Pemerintah perlu memberikan ruang bagi Kolegium untuk mengatur organisasinya sendiri, termasuk dalam hal administrasi. Kementerian Kesehatan harus fokus pada peran regulatornya dan aspek pengawasannya, bukan sebagai operator. MKKI (Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia) sebaiknya berdiri sebagai mitra setara yang independen dari struktur IDI, yang bahkan agak berbeda dengan posisi struktur MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) dan MPPK (Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian), namun tetap memiliki kesepakatan tertulis bersama yang permanen dengan PB IDI untuk memastikan koordinasi yang efektif.

    5. Menjaga Keseimbangan Peran Pemerintah, IDI dan Kolegium Kedokteran pasca UU No 17/2023

    UU 17/2023 perlu diinterpretasikan dengan memperhatikan semangat profesionalisme dan prinsip kemandirian profesi, sambil tetap mempertimbangkan kebutuhan koordinasi nasional. Peran Kementerian Kesehatan RI sebagai regulator perlu dibatasi pada fungsi pembuatan aturan dan pengawasannya, dan tetap menghormati otonomi profesi dan mendukung pengembangannya. Demikian juga Konsil Kedokteran Indonesia (menyatu dalam Konsil Kesehatan Indonesia atau terpisah penuh dengan mempunyai Konsil Kedokteran tersendiri). Bahwa menurut UU 17/2023, Kementrian Kesehatan mempunyai peran sentral dalam standardisasi dan sertifikasi kompetensi hendaknya dicari jalan tengahnya dimana Kemenkes “menyerahkan” peran pengajuan usulan standardisasi dan sertifikasi kompetensi itu ke Kolegium, kemudian Kemenkes hanya mengecek kelengkapan persyaratannya dan menandatangani standard dan sertifikat kompetensi dimaksud (mirip dengan fungsi Konsil Kedokteran Indonesia sebelumnya).

    Modernisasi organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda, termasuk pengembangan sistem informasi yang terintegrasi dan proses administrasi yang efisien. Program pengembangan SDM yang berkelanjutan juga harus menjadi prioritas untuk memastikan profesi kedokteran tetap relevan dengan perkembangan zaman.

    6. Organisasi IDI yang transparan kepada anggota, perhimpunan, dan stakeholders

    Salah satu di antara banyak faktor yang menyebabkan banyaknya dokter yang “bersedia” menjadi pelaksana teknis kewenangan sentral Kemenkes dalam hal standardisasi dan sertifikasi kompetensi dokter saat ini serta “setuju” akan hilangnya peran rekomendasi IDI sebagai organisasi profesi dalam pengurusan ijin praktek adalah banyaknya kekecewaan anggota IDI kepada organisasinya. Iuran rutin (yang biasanya baru dibayar saat mengurus rekomendasi SIP) atau uang pembayaran angka SKP (Satuan Kredit Partisipasi) oleh penyelenggara kegiatan ilmiah yang jumlahnya cukup besar, bagi banyak anggota IDI diraakan sebagai kegiatan organisasi yang pertanggungjawabannya kurang transparan. Demikian juga proses perekrutan dan pemilihan pengurus IDI (terutama banyak terjadi di tingkat cabang) yang kurang mengedepankan kesejawatan, adalah contoh keluhan yang sering disampaikan para anggota saat “diskusi warung kopi”. Ketika kekecewaan memuncak, dan UU 17/2023 lahir, momentumnya menjadi sebuah keniscayaan “pukulan uppercut” untuk organisasi IDI, yang kemudian dimanfaatkan juga oleh pihak-pihak tertentu untuk melemahkan IDI. Ini harus menjadi introspeksi bagi PB IDI dan jajarannya, dan semoga Ketua Umum PB IDI yang baru, Dr Slamet Budiarto, SH, MHKes, menemukan resep yang jitu untuk mengatasinya. Ketua Umum PB IDI dan tim pengurusnya yang baru diharapkan akan mengajak semua dokter yang saat ini “khilaf” untuk “kembali pulang” ke rumah besar tunggal yang bernama : Ikatan Dokter Indonesia.

    Kesimpulan

    Kekuatan profesi kedokteran Indonesia bagiamanapun terletak pada kesatuannya. IDI sebagai rumah besar tunggal, dengan dukungan kolegium yang independen, serta peran pemerintah yang tepat, mempunyai tujuan bersama yang lebih besar : kesehatan rakyat Indonesia yang lebih baik. Untuk mewujudkan visi ini, diperlukan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk IDI, perhimpunan spesialis / subspesialis dan keseminatan, kolegium, dan pemerintah. Dengan kesatuan yang kuat dan independensi yang terjaga, profesi kedokteran Indonesia akan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, dengan tetap menjaga martabat dan profesionalisme. Langkah-langkah strategis yang akan diambil PB IDI, MKKI, dan Kemenkes pasca Muktamar IDI XXXII 2025 di Mataram – NTB, akan menentukan masa depan profesi kedokteran Indonesia untuk generasi yang akan datang. Harus disadari oleh semua pihak bahwa tanpa organisasi dokter dan pengawal ilmu kedokteran yang kuat dan mandiri, tidak mungkin cita-cita masyarakat Indonesia yang sehat dapat tercapai.

    *Dr Wawan Mulyawan, adalah praktisi medis, yang juga Ketua Umum PP Perdokjasi (Perhimpunan Seminat Dokter Pembiayaan Jaminan Sosial dan Asuransi) dan Ketua Perspebsi (Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf) cabang Jakarta.

    Artikel ini ditulis sebagai renungan pasca Muktamar IDI XXXII 2025 di Mataram, NTB

    (up/up)

  • 9 Obat Asam Urat Rumahan yang Mudah Ditemui, Ampuh Redakan Nyeri Sendi

    9 Obat Asam Urat Rumahan yang Mudah Ditemui, Ampuh Redakan Nyeri Sendi

    Jakarta

    Obat asam urat berfungsi untuk mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan sendi yang permanen. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, orang dengan penyakit asam urat perlu mengonsumsi obat asam urat secara rutin.

    Penyakit asam urat adalah bentuk radang sendi yang memicu nyeri dan rasa tidak nyaman, yang biasanya muncul di area pergelangan tangan, lutut, hingga jari kaki. Kondisi ini terjadi saat tubuh memproduksi kadar asam urat yang terlalu tinggi.

    Asam ini merupakan produk yang muncul saat tubuh memecah purin dari makanan yang dikonsumsi. Saat kadar asam urat berlebih, akan membentuk kristal yang dapat disimpan tubuh di semua jaringan.

    Namun, kristal itu akan menumpuk di dalam dan di area sendi yang menyebabkan peradangan hingga iritasi. Sebenarnya, tidak ada obat yang mampu benar-benar menghilangkan asam urat.

    Obat asam urat umumnya bersifat mengurangi rasa sakit, peradangan, dan mengurangi kadar asam urat di dalam darah. Selain obat-obatan medis, ada beberapa obat asam urat alami yang bisa menjadi alternatif.

    Dikutip dari berbagai sumber, berikut obat asam urat alami yang dapat dicoba:

    Obat Asam Urat Alami

    1. Ceri atau jus ceri

    Dikutip dari Healthline, survei tahun 2016 menyebutkan bahwa buah ceri, baik yang asam, manis, merah, maupun hitam, dalam bentuk utuh atau jus dapat menjadi obat asam urat alami yang populer.

    Satu studi tahun 2012 dan studi lain di tahun yang sama juga menunjukkan bahwa ceri dapat berfungsi untuk mencegah serangan asam urat. Penelitian ini merekomendasikan tiga porsi ceri dalam bentuk apapun yang dikonsumsi selama dua hari, yang dianggap paling efektif.

    2. Jahe

    Jahe adalah bahan makanan dan herbal yang terkenal khasiatnya untuk kesehatan, terutama mengatasi peradangan. Salah satu kemampuannya adalah untuk meredakan keluhan asam urat.

    Satu studi menemukan bahwa jahe topikal dapat mengurangi rasa sakit yang berhubungan dengan asam urat. Studi lain juga menunjukkan bahwa pada subjek dengan kadar asam urat tinggi (hiperurisemia), kadar asam urat mereka dapat berkurang dengan jahe.

    Untuk mencobanya, bisa kompres area yang sakit dengan jahe. Caranya, rebus air dengan satu sendok makan parutan jahe segar. Kemudian, rendam waslap ke dalam rebusan.

    Setelah dingin, tempelkan waslap ke area yang terasa nyeri setidaknya sekali sehari selama 15-30 menit. Mungkin iritasi kulit bisa saja terjadi. Maka dari itu, sebaiknya lakukan uji coba pada sebagian kecil kulit terlebih dulu.

    Selain itu, bisa juga dengan mengonsumsi jahe dengan merebus air dengan dua sendok teh jahe. Rebus air jahe selama 10 menit, saat sudah dingin disarankan untuk minum tiga cangkir per hari.

    3. Daun ketumbar atau coriander

    Dikutip dari Food NDTV, ketumbar sering digunakan untuk mengatasi masalah pada saluran pencernaan. Selain itu, sifat antioksidan pada ketumbar juga dapat menurunkan kadar asam urat.

    Untuk menggunakannya, ambil beberapa tangkai ketumbar dan campurkan dengan segelas air lalu dikonsumsi. Bisa juga ditambahkan pada makanan kesukaan.

    4. Pisang

    Pisang dianggap baik untuk asam urat. Buah ini kaya akan kalium yang membantu jaringan dan organ tubuh berfungsi dengan baik.

    Pisang juga mengandung gula, termasuk fruktosa, yang dapat memicu asam urat. Selain pisang, sayuran berdaun hijau dan alpukat juga dapat memberikan khasiat yang serupa untuk asam urat.

    Untuk mendapatkan khasiatnya, disarankan untuk mengonsumsi satu pisang per hari.

    5. Air lemon

    Sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa menambahkan perasan dua lemon segar ke dalam 2 liter air setiap hari dapat mengurangi asam urat pada orang dengan asam urat.

    Dikutip dari Medical News Today, para peneliti menyimpulkan bahwa air lemon membantu menetralkan asam urat dalam tubuh, sehingga membantu mengurangi kadarnya.

    6. Air

    Ketika seseorang mengalami asam urat, akan muncul pembengkakan dan peradangan yang signifikan. Salah satu cara untuk mengurangi gejalanya adalah dengan minum lebih banyak air.

    Meningkatkan konsumsi cairan dapat membuat ginjal melepaskan cairan berlebih, sehingga mengurangi pembengkakan pada orang yang mengalami asam urat.

    7. Kopi

    Beberapa orang percaya bahwa minum kopi dapat menurunkan risiko seseorang mengalami asam urat. Sebuah tinjauan dan meta-analisis tahun 2016 menunjukkan bahwa mereka yang minum kopi lebih banyak cenderung tidak mengalami asam urat. Ini mungkin karena kopi dapat menurunkan kadar asam urat.

    Sebuah analisis lebih lanjut tahun 2022 melaporkan bahwa konsumsi kopi menurunkan risiko asam urat. Tetapi, hal ini tidak pasti berarti bahwa kopi dapat menyebabkan risiko asam urat yang lebih rendah.

    8. Kunyit

    Kunyit diyakini memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, salah satunya menekan peradangan kronis. Bahan satu ini akan mengurangi aktivitas xantin oksidase atau enzim yang menghasilkan asam urat.

    Untuk menggunakannya, kunyit dapat dikonsumsi dengan dicampur susu. Ini menjadi salah satu obat asam urat yang biasa dikonsumsi di India.

    9. Bawang putih

    Bawang putih merupakan obat yang luar biasa untuk asam urat. Ini dapat membantu mengeluarkan kelebihan asam urat dari tubuh.

    Untuk menggunakannya, bisa dengan makan satu siung bawang putih. Cara lainnya, bisa dengan mencincang halus bawang putih lalu memakannya.

    (sao/kna)