Category: Detik.com Kesehatan

  • Cerita Gen Z yang Kena Kanker Usus Besar Stadium 3, Ini Gejala Awalnya

    Cerita Gen Z yang Kena Kanker Usus Besar Stadium 3, Ini Gejala Awalnya

    Jakarta

    Page Seifert, engineer di Denver, Colorado didiagnosis mengidap kanker usus (bowel cancer) stadium tiga di usianya yang menginjak 24 tahun. Padahal, banyak yang meyakini penyakit ini umumnya ‘menyerang’ mereka yang lebih tua.

    Saat ini, Seifert berusia 25 tahun dan dirinya dinyatakan bebas kanker setelah berbulan-bulan menjalani perawatan yang dimulai ketika dokter menemukan bahwa penyakit tersebut telah mencapai stadium lanjut.

    Setelah menjalani 12 putaran kemoterapi, diikuti oleh operasi besar, Seifert sekarang dalam keadaan remisi dan mendesak orang lain untuk tidak mengabaikan gejala awal. Bila ditemukan leih dini, peluang kesembuhan relatif lebih tinggi.

    Dikutip dari Daily Mail UK, para dokter mengatakan kasus penyakit pada orang di bawah usia 50 tahun telah meningkat tajam selama dekade terakhir, sehingga memicu seruan untuk meningkatkan kesadaran gejala-gejala awal.

    Seifert bercerita kanker usus tak datang tiba-tiba. Ada beberapa tanda yang sebelumnya muncul, sebelum dirinya benar-benar menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

    1. Darah dalam Tinja

    Tanda pertama yang muncul adalah pendarahan saat dirinya buang air besar di sekitar bulan Agustus 2024. Namun, Seifert mengira itu adalah wasir.

    Pada Januari 2025, dirinya mencoba menemui ahli gastroenterologi untuk berjaga-jaga. Ia dikagetkan dengan hasil kolonoskopi yang menunjukkan bahwa darah dalam tinja adalah tanda dari kankes usus besar.

    “Saat dokter spesialis gastroenterologi saya melakukan kolonoskopi, begitu dia masuk, dia melihat tumor dan tahu itu kanker,” katanya.

    2. Sakit Perut

    Selain itu, Seifert juga mengaku bahwa dirinya terkadang mengalami sakit perut dan itu membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman.

    “Bagi saya, itu sangat sporadis. Saya tidak mengalaminya sepanjang waktu, tetapi ketika itu terjadi, rasanya seperti ada yang tidak beres. Entah itu mual atau sakit perut dan kram,” katanya.

    Dokter mengatakan nyeri perut dapat terjadi ketika tumor menyebabkan penyumbatan sebagian di usus.

    3. Kelelahan Ekstrem

    Salah satu tanda kanker usus besar yang kerap terjadi adalah rasa lelah yang ekstrem dan kerap muncul tanpa alasan yang jelas.

    “Saya tahu ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, entah itu pekerjaan, kurang tidur, atau olahraga. Namun, hal ini, dikombinasikan dengan semua hal lainnya, merupakan indikator besar bagi saya,” katanya.

    Kelelahan pada pasien kanker usus sering disebabkan oleh anemia, kadar zat besi rendah yang dipicu oleh kehilangan darah secara perlahan dan tanpa disadari akibat pendarahan tumor.

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/naf)

  • Hanya yang Punya IQ Tinggi Bisa Menjawab Teka-teki Logika Ini dengan Benar

    Hanya yang Punya IQ Tinggi Bisa Menjawab Teka-teki Logika Ini dengan Benar

    Hanya yang Punya IQ Tinggi Bisa Menjawab Teka-teki Logika Ini dengan Benar

  • Ramai Video Eks Menkes Siti F Supari Kecelakaan-Mobilnya Dibom, Ini Faktanya

    Ramai Video Eks Menkes Siti F Supari Kecelakaan-Mobilnya Dibom, Ini Faktanya

    Jakarta

    Berseliweran di media sosial potongan video yang menyebutkan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari kecelakaan karena mobil yang dikendarai dibom. Postingan tersebut marak beredar sejak awal pekan Desember 2025.

    Kementerian Kesehatan RI memastikan informasi tersebut hoax alias tidak benar.

    “#Healthies, beredar video dan narasi yang menyebut eks Menkes mengalami kecelakaan. Informasi tersebut tidak benar. Pihak keluarga memastikan Ibu Siti Fadhila Supari dalam kondisi sehat,” demikian pengumuman Kemenkes RI dalam Instagramnya, dikutip detikcom Rabu (17/12/2025).

    Video yang beredar tersebut menampilkan cuplikan percakapan di WhatsApp. Videonya sendiri berdurasi 1 menit 29 detik. Dalam pertengahan video disebutkan mobil eks Menkes Siti Supari dibom di jalan Tol Cikampek.

    Informasi dalam video juga ikut menjelaskan mobil eks Menkes mengalami ledakan dahsyat dan hancur tetapi Siti disebutkan selamat dari peristiwa tersebut.

    “Dengan demikian, narasi dalam video terkait mobil dibom, kecelakaan, hingga korban jiwa tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tegas Kemenkes.

    Hasil penelusuran dengan situs pendeteksi AI, Hive Moderation juga menunjukkan audio dalam postingan merupakan modifikasi AI.

    (naf/kna)

  • Perjuangan Puskesmas Sabutung Arungi 17 Pulau di Garis Depan Kesehatan Pangkep

    Perjuangan Puskesmas Sabutung Arungi 17 Pulau di Garis Depan Kesehatan Pangkep

    Pangkajene

    Di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tantangan geografis berupa 17 pulau yang tersebar di tujuh desa menjadi tanggung jawab satu fasilitas kesehatan yakni Puskesmas Sabutung. Kabupaten ini berjarak kurang lebih 2 jam dari pusat Kota Makassar.

    Berbekal inovasi dan kolaborasi lintas sektor, puskesmas ini membuktikan layanan kesehatan berkualitas dapat hadir hingga ke pulau-pulau terpencil, sebuah capaian yang kini diakui secara nasional.

    Melayani Warga 7 Desa dan 17 Pulau

    Puskesmas Sabutung beroperasi di Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara. Kepala Puskesmas Sabutung, Harmawati, S.Kep.Ns, mengatakan Puskesmas Sabutung melayani warga di 7 desa dan 17 pulau.

    Berikut cakupan wilayah yang harus dilayani tim kesehatan Puskesmas Sabutung, yang mengharuskan mereka menempuh perjalanan laut:

    Mattiro Kanja: Pulau Sabutung, Pulau Satando, Pulau Saugi, Pulau SapuliMattiro Baji: Pulau Sabutung, Pulau Mattiro Baji, Pulau Camba CambangMattiro Bulu: Pulau Mattiro Bulu, Pulau KaranrangMattiro Bombang: Pulau Mattiro Bombang, Pulau Salemo, Pulau Sagara, Pulau Sakuala, Pulau SabangkoMattiro Labangeng: Pulau Labangeng, Pulau LaiyaMattiro Uleng: Pulau Polewali, Pulau Kulambing, Pulau Bangko-BangkoangMattiro Walie: Pulau Mattiro Walie, Pulau Samatellu Lompo, Pulau Samatellu Borong, Pulau SalebroPuskesmas Sabutung Pulau Sabutung, Pangkep Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth

    Inovasi Perahu Sehat Pulau Bahagia (PSPB)

    Harmawati mengungkapkan bahwa inovasi diperlukan untuk menjangkau wilayah kerjanya yang luas. Inovasi Perahu Sehat Pulau Bahagia (PSPB), yang diluncurkan pada 2018, menjadi solusi atas keterbatasan pembiayaan Puskesmas untuk menjangkau pulau. Pada tahun 2020, inovasi ini diperkuat dengan dana desa.

    “Kami ada sharing anggaran. Desa membiayai transportasi kami dengan makan minum, sementara kami Puskesmas membiayai obat-obatan, bahan medis habis pakai (BMHP) plus tenaga kesehatan yang akan turun ke pulau-pulau,” kata Harmawati.

    Tenaga medis di Puskesmas Sabutung Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth

    Berlayar dengan risiko tinggi

    Dengan 94 tenaga kesehatan (termasuk ASN, P3K, dan TKS) dan lima dokter (tiga umum, dua gigi), tim ini berlayar menghadapi risiko tinggi.

    “Kami mau menyebrang, itulah bahwa biarpun jarak dekat, tetapi kalau namanya kepulauan, sangat berisiko kematian dan kecelakaan. Kami hampir tenggelam,” ucap dia.

    PSPB tidak hanya membawa pelayanan ke pulau, tetapi juga mempermudah rujukan. Puskesmas Sabutung kini didukung penuh oleh Pemkab Pangkep.

    Ambulans Laut Rujukan telah difasilitasi oleh Bupati Pangkep dan standby di depan puskesmas 24 jam. Sistem ini diperkuat oleh peran kepala desa yang memfasilitasi ambulans desa untuk mengumpulkan warga yang perlu pemeriksaan lanjutan (USG/EKG) ke Puskesmas.

    “Artinya sistem rujukan kan 24 jam. Jadi setiap saat, kebetulan ABK-nya di sini, tinggal, stay di sini,” tegas Harmawati.

    Kehadiran tim PSPB yang dilengkapi dengan pemeriksaan rutin Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara signifikan meringankan beban masyarakat. Rahman (72), penduduk Desa Mattiro Uleng, adalah salah satu yang merasakan manfaat langsungnya.

    “Tadi cek asam urat, dikasih beberapa obat ada juga obat flu sama vitamin karena kebetulan lagi pilek ini,” tutur Rahman.

    Dia mengatakan sangat terbantu dengan hadirnya pemeriksaan kesehatan di desanya sehingga dia tak perlu jauh-jauh ke kota. Puskesmas terdekat dari wilayahnya pun berjarak 20 menit dan berada di pulau seberang.

    Hal ini memberikan gambaran bahwa kehadiran pelayanan kesehatan yang berbasis ‘jemput bola’ ini benar-benar membantu masyarakat di pulau.

    Halaman 2 dari 3

    (kna/kna)

  • Kepala BGN Lapor Prabowo, Klaim Kasus Keracunan MBG Turun

    Kepala BGN Lapor Prabowo, Klaim Kasus Keracunan MBG Turun

    Jakarta

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hidayana melaporkan tren penurunan yang signifikan terkait kejadian dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah sempat mencapai puncak pada Oktober 2025.

    Ia menyampaikan jumlah kejadian tercatat 67 kasus pada September, naik menjadi 85 kasus pada Oktober, lalu turun menjadi 40 kasus pada November. Hingga pertengahan Desember, hanya empat kejadian yang tercatat.

    “Alhamdulilah sudah jauh menurun dan kita usahakan tahun depan tidak ada lagi kejadian,” ucap Dadan saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Senin (15/12/2025).

    Dadan menargetkan tidak ada lagi kejadian serupa pada tahun mendatang. Upaya tersebut dilakukan melalui sertifikasi keamanan pangan terhadap sekitar 3.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dilaksanakan bekerja sama dengan ID Survei.

    Melalui proses sertifikasi tersebut akan menghasilkan SPPG dengan kategori unggul, sangat baik, dan baik. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG serta mencegah terulangnya kejadian pada pelaksanaan program pada tahun-tahun berikutnya, termasuk pada 2026.

    “Mudah-mudahan dengan sertifikasi ini tidak ada lagi kejadian yang akan dialami untuk program makan bergizi pada 2026,” sambungnya lagi.

    (suc/naf)

  • Kematian karena Bencana Sumatera Capai 1.053 Jiwa, 200-an Orang Masih Hilang

    Kematian karena Bencana Sumatera Capai 1.053 Jiwa, 200-an Orang Masih Hilang

    Jakarta

    Dampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga 17 Desember 2025, jumlah korban meninggal telah mencapai 1.053 jiwa, sementara lebih dari 200 orang masih dinyatakan hilang.

    Selain korban jiwa, BNPB juga melaporkan sekitar 7.000 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam. Kerusakan infrastruktur pun meluas dan memengaruhi berbagai sektor pelayanan publik.

    Data BNPB juga mencatat 290 gedung dan kantor mengalami kerusakan, disusul 219 fasilitas kesehatan dan 967 fasilitas pendidikan. Kerusakan juga terjadi pada 145 jembatan serta sekitar 1.600 fasilitas umum, yang menghambat akses transportasi dan distribusi bantuan di sejumlah daerah terdampak.

    Di sektor kesehatan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan dari sekitar 1.000 puskesmas yang ada di wilayah terdampak bencana Sumatera, lebih dari 500 puskesmas mengalami dampak langsung. Saat ini, 414 puskesmas telah kembali beroperasi meski dengan keterbatasan layanan.

    Namun, Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 50 puskesmas tidak dapat beroperasi sama sekali karena hanyut terbawa bencana atau mengalami kerusakan berat hingga dinyatakan hilang.

    Setelah rumah sakit di wilayah terdampak mulai berfungsi kembali, Kemenkes akan memfokuskan upaya pemulihan pada layanan kesehatan primer. Dalam dua pekan ke depan, pemerintah menargetkan pengaktifan kembali puskesmas-puskesmas yang masih lumpuh.

    “Puskesmas ini sangat penting untuk melayani kesehatan masyarakat yang masih tinggal di rumah maupun sekitar 800 ribu pengungsi yang berada di posko-posko pengungsian. Kami membutuhkan dukungan semua pihak agar layanan ini bisa segera dijalankan,” ujar Menkes.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Video WHO soal Influenza Varian Baru: Tak Menunjukkan Peningkatan Keparahan

    Video WHO soal Influenza Varian Baru: Tak Menunjukkan Peningkatan Keparahan

    Jakarta

    “Influenza dan virus pernapasan lainnya sedang meningkat,” jelas Kepala Unit Ancaman Pernapasan Global di Departemen Manajemen Ancaman Epidemi dan Pandemi WHO, Wenqing Zhang, dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss pada Selasa (16/12). Salah satunya yakni kemunculan dan perluasan dari influenza varian baru (subclade baru AH3N2) yang disebut J.2.4.1 atau subclade K.

    “Virus subclade K pertama kali tercatat pada bulan Agustus di Australia dan Selandia Baru dan sejak itu telah terdeteksi di lebih dari 30 negara,” ucap Wenqing Zhang.

    “Data epidemiologi saat ini tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit meskipun pergeseran genetik ini membuat evolusi yang signifikan pada virus,” tambahnya.

    Tonton berita video lainnya di sini!

    (/)

    influenza influenza varian baru subclade k varian subclade k flu virus varian virus penyakit kesehatan

  • Cerita Psikolog Dapat Klien Capek Jadi WNI Viral, Ini Pesan untuk yang Mengalaminya

    Cerita Psikolog Dapat Klien Capek Jadi WNI Viral, Ini Pesan untuk yang Mengalaminya

    Jakarta

    Curhatan psikolog klinis Lya Fahmi tentang klien yang mengalami kelelahan emosional sebagai warga negara (WNI) viral di media sosial. Dalam unggahannya, Lya mengaku tak menyangka pengalaman profesional yang ia bagikan justru mendapat respons luas dari publik, menandakan perasaan serupa dirasakan banyak orang.

    “Aku nggak menduga postingan yang ini viral. Sebenarnya aku nulis gini karena butuh menyalurkan emosi yang terkuras,” kata Lya. Ia mengaku emosinya ikut terkuras setelah mendampingi klien yang datang dengan luapan kemarahan dan tangisan, bukan karena masalah pribadi, melainkan karena kekecewaan terhadap kondisi negara dan apa yang dipertontonkan oleh para pejabat publik.

    Respons netizen yang mengaku merasakan hal sama membuatnya memutuskan membagikan pesan yang sebelumnya ia sampaikan secara personal kepada klien tersebut. Pesan itu, kata Lya, relevan bagi siapa pun yang belakangan merasa kecil, lelah, dan tak berdaya sebagai warga negara.

    Ia menegaskan, penderitaan yang bersifat kolektif tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan individual semata.

    “Penderitaan kolektif harus ditangani secara kolektif juga. Kemarahan terhadap negara solusinya bukan curhat ke psikolog saja. Percuma, psikolognya sudah stres juga,” tutur dia.

    Lya menilai, salah satu kebutuhan paling mendasar bagi orang-orang yang mengalami kelelahan emosional serupa adalah ruang untuk bertemu dan saling terhubung. Bertemu, saling melihat, saling mendengar, dan mengungkapkan isi hati dinilai dapat membantu individu menyadari bahwa mereka tidak sendirian.

    “Dengan merefleksikan pengalaman emosi secara bersama-sama, solidaritas akan terbentuk. Dan solidaritas selalu efektif memberi kita rasa kekuatan,” tulisnya.

    Ia juga menyoroti perasaan tidak berarti yang kerap muncul pada individu yang dilanda keputusasaan terhadap kondisi sosial dan politik. Lya mengingatkan agar perasaan tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi sikap meremehkan diri sendiri.

    “Buat kalian yang merasa kecil dan tidak berarti, jangan pernah meremehkan diri kalian sendiri. Semua suara itu penting, sekecil dan selirih apa pun,” tegasnya. Menurutnya, setiap orang yang hidup di Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjaga dan menyelamatkan negara, asalkan mau berjejaring dan bekerja sama.

    Menutup pesannya, Lya Fahmi menekankan pentingnya dukungan sosial di sekitar. Ia mengingatkan agar individu tidak memikul beban emosional sendirian.

    “Cari teman di sekitar kalian. Jangan jalan sendiri. Jangan sakit hati sendiri,” pesannya.

    Curhatan ini sekaligus membuka diskusi lebih luas tentang kesehatan mental yang tak terlepas dari faktor struktural dan sosial. Beberapa netizen ikut memberi tanggapan dalam kolom komentar unggahan viral Lya.

    “Sepertinya saya juga, stres sendiri tiap baca berita bikin ngelus dada, ada saja gebrakannya,” beber salah satu netizen.

    “Aku punya beban berat di finansial, belakangan makin berat lihat negara kek gini,” timpal yang lain.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/kna)

  • Kanker Usus Intai Generasi Muda, 4 Makanan-Minuman Ini Bisa Jadi Pemicunya

    Kanker Usus Intai Generasi Muda, 4 Makanan-Minuman Ini Bisa Jadi Pemicunya

    Jakarta

    Secara historis, kanker usus besar dianggap sebagai kanker yang didiagnosis di usia lanjut. Namun, penelitian menemukan belakangan banyak orang lebih muda mendapatkan diagnosis yang sama.

    Pemicunya, bisa karena pola makan. Berikut sejumlah makanan yang bisa meningkatkan risiko kanker usus besar.

    Makanan Apa Saja yang Meningkatkan Risiko Terkena Kanker Usus Besar?

    Membatasi makanan tertentu bisa menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kanker ini. Dikutip dari laman Health, berikut beberapa makanan yang bisa meningkatkan risiko terkena kanker usus besar di usia muda.

    1. Daging Merah Olahan

    Sejumlah penelitian mengaitkan konsumsi daging merah dan daging merah olahan dengan kanker usus besar. Salah satunya, studi dari Cleveland Clinic menemukan metabolit (zat yang diproduksi tubuh saat memecah makanan) dari jenis daging ini, serta perubahan pada mikrobioma setelah mengonsumsinya. Hal ini bisa meningkatkan risiko kanker usus besar di bawah usia 60 tahun.

    Pasien lebih muda yang banyak mengonsumsi daging merah dan daging merah olahan memiliki kadar metabolit berbahaya yang lebih tinggi di usus. Penelitian sebelumnya juga mengaitkan perubahan mikrobioma akibat pola makan tinggi daging merah dan daging olahan merah dengan peningkatan risiko kanker usus besar.

    2. Minuman Manis dan Mengandung Gula

    Penelitian Cleveland Clinic juga mengidentifkasi konsumsi minuman manis sebagai faktor risiko kanker usus besar yang muncul lebih dini.

    Temuan lainnya ditemukan dalam jurnal Gut yang menganalisis 96.000 wanita. Wanita yang mengonsumsi dua atau lebih minuman manis bergula per hari memliki risiko dua kali lipat terkena kanker usus besar lebih awal, dibandingkan wanita yang mengonsumsi kurang dari dua minuman per hari.

    Setiap minuman 8 ons atau 800 gram per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko 16 persen.

    3. Makanan Ultra Processed Food (UPF)

    Sebuah studi pada 2023 menemukan konsumsi makanan UPF meningkatkan risiko berkembangnya prekursor kaker usus besar, seperti polip, tumor, dan lesi. Adapun beberapa makanan ultra olahan di antaranya:

    Daging olahanMinuman manisSereal sarapanMakanan bekuKeripikPermen

    4. Alkohol

    Studi tahun 2023 menunjukkan semakin banyak seseorang minum alkohol, semakin besar peluang terkena kanker usus besar dini. Konsumsi 1-2, 3-4, atau lebih dari lima minuman beralkohol per minggu meningkatkan risiko kanker usus besar masing-masing sebesar 7 persen, 14 persen dan 27 persen, dibandingkan dengan orang yang tidak minum alkohol.

    Makanan yang Bisa Mengurangi Risiko Kanker Usus Besar

    Mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi dan minim pengolahan bisa membantu mengurangi risiko kaker ini. Beberapa makanan yang dikaitkan dengan penurunan risiko kanker usus besar di antaranya:

    Biji-bijian utuhKacang-kacanganYoghurtMinyak zaitun extra virgin

    Ditinjau oleh: Mhd. Aldrian, S.Gz, lulusan ilmu gizi Universitas Andalas, saat ini menjadi penulis lepas di detikcom.

    (elk/naf)

  • Cerita Psikolog Dapat Klien Capek Jadi WNI Viral, Ini Pesan untuk yang Mengalaminya

    Viral Cerita Psikolog Dapat Klien Stres Bukan karena Pribadi tapi Masalah Negara

    Jakarta

    Curhatan seorang psikolog klinis mendadak viral di media sosial. Psikolog Lya Fahmi mengaku terkejut setelah dua klien datang berturut-turut ke ruang konseling bukan karena persoalan personal, melainkan karena tekanan psikologis akibat situasi negara.

    Dalam unggahannya, Lya menyebut pengalaman ini sebagai hal yang belum pernah ia alami selama 7,5 tahun berkarier sebagai psikolog.

    “Baru kali ini terjadi selama 7,5 tahun karirku sebagai psikolog, dua klien berturut-turut datang bukan karena masalah pribadi, tapi distress karena negara,” tulis Lya, dalam unggahan yang direspons lebih dari 100 ribu pengguna Instagram, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan Rabu (17/12/2025).

    Ia mengakui dalam kajian kesehatan mental, isu struktural dan kebijakan negara memang memiliki keterkaitan erat dengan kondisi psikologis individu. Namun, biasanya klien datang tanpa menyadari langsung sumber tekanan tersebut.

    “Biasanya klien nggak menyadari itu,” ujarnya.

    Kali ini menurutnya berbeda. Lya menyebut klien datang dalam kondisi emosional sejak awal sesi. Salah satunya langsung menangis dan mengungkapkan rasa putus asa sebagai warga negara indonesia.

    “Kalo ngeliat cara pemerintah menangani korban bencana Sumatera, aku merasa seolah rakyat ini nggak ada harganya. Nggak didengarkan, diabaikan pula. Putus asa banget rasanya jadi WNI,” kata klien tersebut, seperti ditirukan Lya.

    Pengakuan itu membuat Lya tersadar narasi semacam ini tidak hanya ramai di media sosial, tetapi nyata sampai ke ruang konseling.

    “Aku kira narasi menderita sebagai WNI itu cuma di dunia maya, tapi ternyata sampai ke ruang konselingku juga,” tulisnya.

    Kata dia, yang lebih mengena, usai sesi konseling, klien tersebut memberikan cokelat kepada Lya. Alasannya sederhana, untuk memperbaiki suasana hati psikolog yang dinilai ikut terdampak setelah mendengar curahan kemarahan terhadap pemerintah.

    Curhatan ini menuai beragam respons dari warganet. Banyak yang mengaku mengalami perasaan serupa, marah, lelah, dan putus asa melihat berbagai persoalan negara, mulai dari penanganan bencana, kebijakan publik, hingga rasa tidak didengar sebagai warga.

    Fenomena ini ditegaskan Lya menjadi tanda kesehatan mental tidak berdiri sendiri sebagai persoalan individu, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan rasa keadilan yang dirasakan masyarakat.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Psikolog Ini Kaget Kliennya Lelah Jadi WNI Karena Kondisi Negara”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/naf)