Category: Detik.com Kesehatan

  • 4 Kebiasaan yang Bisa Merusak Otak, Sebaiknya Dihindari!

    4 Kebiasaan yang Bisa Merusak Otak, Sebaiknya Dihindari!

    Jakarta

    Tanpa disadari, ada kebiasaan sehari-hari yang mungkin dianggap sepele justru bisa berdampak serius pada kesehatan otak. Empat di antaranya memilki pengaruh yang paling besar.

    “Kabar baiknya adalah kebiasaan-kebiasaan ini adalah yang paling mudah diubah,” kata direktur unit penelitian genetika dan penuaan serta wakil direktur Pusat Kesehatan Otak McCance di Rumah Sakit Umum Massachusettes yang berafiliasi dengan Harvard, Rudolph Tanzi.

    Lantas, apa saja kebiasaan-kebiasaan yang bisa merusak otak tersebut?

    Kebiasaan yang Bisa Merusak Otak

    Terlalu banyak duduk, kurang bersosialisasi, kurang tidur, dan stres kronis memiliki peran besar pada kesehatan otak yang buruk. Sebaiknya hindari kebiasaan ini untuk menjaga otak tetap sehat.

    1. Terlalu Banyak Duduk

    Dikutip dari laman Harvard Health, rata-rata orang dewasa duduk selama enam setengah jam per hari. Waktu duduk ini berdampak buruk pada kesehatan otak.

    Dalam sebuah studi tahun 2018 di PLOS One, terlalu banyak duduk dikaitkan dengan perubahan pada bagian otak yang penting untuk memori. Para peneliti menggunakan pemindaian MRI untuk melihat lobus temporal medial atau medial temporal lobe (MTL), wilayah otak yang membentuk ingatan baru pada orang berusia 45-75 tahun.

    Mereka membandingkan hasil pemindaian rata-rata jumlah jam per hari dari orang-orang tersebut duduk. Peserta yang duduk paling lama memiliki wilayah MTL yang tipis. Menurut para peneliti, penipisan MTL dapat menjadi prekursor penurunan kognitif dan demensia.

    Untuk itu, Tanzi menyarankan untuk melakukan gerakan setelah duduk selama 15 menit. Gerakan bisa dengan berjalan-jalan di sekitar rumah, beberapa squat atau lunge, atau jalan cepat.

    “Atur pengatur waktu di ponsel Anda sebagai pengingat, katanya.

    2. Kurang Bersosialisasi

    Perlu diketahui bahwa kesepian dikaitkan dengan depresi dan risiko Alzheimer yang lebih tinggi. Sebuah studi di Journal of Gerontology: Series B menunjukkan bahwa orang yang kurang aktif secara sosial kehilangan materi abu-abu otak, yaitu lapisan terluar yang memproses informasi.

    Tak perlu berinteraksi dengan banyak orang untuk mendapat manfaat ini. Jadikan paling tidak dua atau tiga orang sebagai lingkaran sosial.

    “Temukan dua atau tiga orang yang pada dasarnya dapat Anda ajak berbagi apa pun,” katanya.

    “Anda menginginkan interaksi yang bermakna dan merangsang pikiran, jadi pilihlah orang-orang yang Anda sayangi dan yang menyayangi Anda,” kata Tanzi.

    3. Kurang Tidur

    Menurut CDC, sebanyak seperempat orang dewasa tidak mendapatkan lebih banyak tidur yang direkomendasikan, yaitu 7-8 jam.Penelitian dalam jurnal Sleep pada tahun 2018 menunjukkan bahwa kemampuan kognitif, seperti memori, penalaran, dan pemecahan masalah menurun saat seseorang tidur kurang dari tujuh jam.

    “Pastikan Anda tidur satu jam lebih awal dari biasanya, Ini akan membantu mengurangi begadang dan memberi otak dan tubuh Anda waktu ekstra untuk mendapatkan tidur yang cukup.” kata Tanzi.

    Saat terbangun, beri otak waktu untuk rileks. Coba lakukan aktivitas seperti membaca dan hindari menonton TV atau laptop.

    “Meskipun Anda terjaga untuk sementara waktu, Anda masih memiliki waktu ekstra satu jam untuk menggantinya,” ungkapnya.

    4. Stres Kronis

    Stres yang berkepanjangan bisa membunuh sel-sel otak dan mengecilkan korteks prefrontal, area yang bertanggung jawab untuk memori dan pembelajaran. Bersikaplah fleksibel dalam bereaksi.

    Ketika merasa akan marah, tarik napas dalam-dalam dan ingatkan diri bahwa kamu tidak selalu tahu apa yang terbaik. Terima bahwa cara atau sudut pandang lain sama baiknya. Tenangkan diri dengan mengulangi mantra, “Saya baik-baik saja, saat ini.”

    “Mengendalikan ego Anda dapat mencegah stres sebelum menjadi tidak terkendali,” kata Tanzi.

    (elk/suc)

  • Terungkap Lewat Studi, Kebiasaan Malam Hari Ini Bisa Bantu Turunkan Tekanan Darah

    Terungkap Lewat Studi, Kebiasaan Malam Hari Ini Bisa Bantu Turunkan Tekanan Darah

    Jakarta

    Kebiasaan seperti tidur pada jam yang sama setiap malam ternyata dapat membantu menurunkan tekanan darah. Hal ini terungkap dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Advances.

    Peneliti melaporkan, peserta dalam studi berskala kecil mengalami penurunan signifikan pada tekanan darah secara keseluruhan, termasuk tekanan darah malam hari, setelah menyesuaikan jadwal tidur agar konsisten setiap malam.

    “Tidur pada waktu yang teratur bisa menjadi strategi tambahan yang sederhana dan berisiko rendah untuk membantu mengontrol tekanan darah pada banyak penderita hipertensi,” tulis para peneliti, dikutip Healthline.

    Namun, peneliti menekankan bahwa studi ini hanya melibatkan 11 orang, berlangsung selama dua minggu, dan tidak memiliki kelompok pembanding. Karena itu, hipotesis tersebut masih perlu diuji melalui uji klinis acak dengan jumlah peserta yang lebih besar.

    Meski demikian, para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian ini menilai hasilnya cukup menarik untuk diperhatikan.

    “Ini studi yang bermanfaat karena menunjukkan bahwa intervensi yang sangat sederhana bisa memberikan dampak yang cukup signifikan,” ujar Cheng-Han Chen, MD, dokter spesialis jantung intervensi sekaligus direktur medis Program Jantung Struktural di MemorialCare Saddleback Medical Center, Laguna Hills, California.

    Senada, Brian Brady, MD, seorang nefrolog sekaligus profesor klinis kedokteran di Stanford University, mengatakan meski penelitiannya masih terbatas, hasil studi ini menyoroti potensi perbaikan kontrol hipertensi melalui intervensi murah dan mudah diterapkan, serta layak diteliti lebih lanjut lewat uji klinis acak.

    Tidur Berkualitas dan Tekanan Darah

    Untuk mencapai kesimpulan tersebut, peneliti merekrut 11 orang dengan hipertensi. Tujuh peserta adalah perempuan dan empat laki-laki, dengan rentang usia 45-62 tahun dan usia rata-rata 53 tahun.

    Seluruh peserta memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang masuk kategori obesitas dan tidak memiliki penyakit kronis lain.

    Sebelum studi dimulai, waktu tidur peserta bervariasi rata-rata hingga 30 menit setiap malam. Selama dua minggu penelitian, variasi ini berkurang drastis menjadi sekitar tujuh menit.

    Peserta diminta menjaga jadwal tidur yang konsisten, dengan durasi tidur yang relatif sama setiap malam, serta tidak tidur siang. Tekanan darah mereka dipantau secara terus-menerus selama 48 jam menggunakan metode ambulatory blood pressure monitoring.

    Hasilnya, jadwal tidur yang konsisten menurunkan tekanan darah sistolik 24 jam (angka atas) rata-rata sebesar 4 poin, serta tekanan darah diastolik (angka bawah) sekitar 3 poin.

    Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya tekanan darah sistolik pada malam hari dan penurunan tekanan darah diastolik secara keseluruhan. Lebih dari setengah peserta juga mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan.

    Peneliti mencatat, penurunan tekanan darah malam hari sebesar 5 poin saja dapat menurunkan risiko kejadian kardiovaskular lebih dari 10 persen.

    Menurut peneliti, jadwal tidur yang tidak teratur dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, yang berperan mengatur siklus tidur-bangun dan fungsi kardiovaskular. Secara normal, tekanan darah akan menurun saat tidur malam. Orang yang tekanan darahnya tidak turun secara optimal saat malam hari diketahui memiliki risiko kardiovaskular yang lebih tinggi.

    Meski demikian, para ahli mengingatkan agar hasil studi ini ditafsirkan dengan hati-hati.

    “Ini studi proof of concept yang baik, tetapi masih perlu diuji pada penelitian acak berskala besar dan dengan durasi lebih panjang untuk benar-benar menilai dampaknya terhadap penurunan tekanan darah,” kata Nissi Suppogu, MD, ahli jantung sekaligus direktur medis Women’s Heart Center di MemorialCare Heart & Vascular Institute, California.

    Sementara itu, Kin Yuen, MD, dokter spesialis gangguan tidur dari University of California San Francisco, juga mengingatkan tekanan darah dipengaruhi banyak faktor.

    “Ini konsep yang menarik, tetapi tekanan darah sangat dipengaruhi oleh aktivitas malam hari, tanggung jawab merawat keluarga, konsumsi obat, hingga ritme biologis individu, sehingga sulit untuk digeneralisasi,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pada orang dengan kecenderungan insomnia, fokus berlebihan pada jadwal tidur justru dapat memicu kecemasan saat hendak tidur, yang berpotensi meningkatkan tekanan darah.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/suc)

  • Terungkap Lewat Studi, Kebiasaan Malam Hari Ini Bisa Bantu Turunkan Tekanan Darah

    Terungkap Lewat Studi, Kebiasaan Malam Hari Ini Bisa Bantu Turunkan Tekanan Darah

    Jakarta

    Kebiasaan seperti tidur pada jam yang sama setiap malam ternyata dapat membantu menurunkan tekanan darah. Hal ini terungkap dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Advances.

    Peneliti melaporkan, peserta dalam studi berskala kecil mengalami penurunan signifikan pada tekanan darah secara keseluruhan, termasuk tekanan darah malam hari, setelah menyesuaikan jadwal tidur agar konsisten setiap malam.

    “Tidur pada waktu yang teratur bisa menjadi strategi tambahan yang sederhana dan berisiko rendah untuk membantu mengontrol tekanan darah pada banyak penderita hipertensi,” tulis para peneliti, dikutip Healthline.

    Namun, peneliti menekankan bahwa studi ini hanya melibatkan 11 orang, berlangsung selama dua minggu, dan tidak memiliki kelompok pembanding. Karena itu, hipotesis tersebut masih perlu diuji melalui uji klinis acak dengan jumlah peserta yang lebih besar.

    Meski demikian, para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian ini menilai hasilnya cukup menarik untuk diperhatikan.

    “Ini studi yang bermanfaat karena menunjukkan bahwa intervensi yang sangat sederhana bisa memberikan dampak yang cukup signifikan,” ujar Cheng-Han Chen, MD, dokter spesialis jantung intervensi sekaligus direktur medis Program Jantung Struktural di MemorialCare Saddleback Medical Center, Laguna Hills, California.

    Senada, Brian Brady, MD, seorang nefrolog sekaligus profesor klinis kedokteran di Stanford University, mengatakan meski penelitiannya masih terbatas, hasil studi ini menyoroti potensi perbaikan kontrol hipertensi melalui intervensi murah dan mudah diterapkan, serta layak diteliti lebih lanjut lewat uji klinis acak.

    Tidur Berkualitas dan Tekanan Darah

    Untuk mencapai kesimpulan tersebut, peneliti merekrut 11 orang dengan hipertensi. Tujuh peserta adalah perempuan dan empat laki-laki, dengan rentang usia 45-62 tahun dan usia rata-rata 53 tahun.

    Seluruh peserta memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang masuk kategori obesitas dan tidak memiliki penyakit kronis lain.

    Sebelum studi dimulai, waktu tidur peserta bervariasi rata-rata hingga 30 menit setiap malam. Selama dua minggu penelitian, variasi ini berkurang drastis menjadi sekitar tujuh menit.

    Peserta diminta menjaga jadwal tidur yang konsisten, dengan durasi tidur yang relatif sama setiap malam, serta tidak tidur siang. Tekanan darah mereka dipantau secara terus-menerus selama 48 jam menggunakan metode ambulatory blood pressure monitoring.

    Hasilnya, jadwal tidur yang konsisten menurunkan tekanan darah sistolik 24 jam (angka atas) rata-rata sebesar 4 poin, serta tekanan darah diastolik (angka bawah) sekitar 3 poin.

    Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya tekanan darah sistolik pada malam hari dan penurunan tekanan darah diastolik secara keseluruhan. Lebih dari setengah peserta juga mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan.

    Peneliti mencatat, penurunan tekanan darah malam hari sebesar 5 poin saja dapat menurunkan risiko kejadian kardiovaskular lebih dari 10 persen.

    Menurut peneliti, jadwal tidur yang tidak teratur dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, yang berperan mengatur siklus tidur-bangun dan fungsi kardiovaskular. Secara normal, tekanan darah akan menurun saat tidur malam. Orang yang tekanan darahnya tidak turun secara optimal saat malam hari diketahui memiliki risiko kardiovaskular yang lebih tinggi.

    Meski demikian, para ahli mengingatkan agar hasil studi ini ditafsirkan dengan hati-hati.

    “Ini studi proof of concept yang baik, tetapi masih perlu diuji pada penelitian acak berskala besar dan dengan durasi lebih panjang untuk benar-benar menilai dampaknya terhadap penurunan tekanan darah,” kata Nissi Suppogu, MD, ahli jantung sekaligus direktur medis Women’s Heart Center di MemorialCare Heart & Vascular Institute, California.

    Sementara itu, Kin Yuen, MD, dokter spesialis gangguan tidur dari University of California San Francisco, juga mengingatkan tekanan darah dipengaruhi banyak faktor.

    “Ini konsep yang menarik, tetapi tekanan darah sangat dipengaruhi oleh aktivitas malam hari, tanggung jawab merawat keluarga, konsumsi obat, hingga ritme biologis individu, sehingga sulit untuk digeneralisasi,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pada orang dengan kecenderungan insomnia, fokus berlebihan pada jadwal tidur justru dapat memicu kecemasan saat hendak tidur, yang berpotensi meningkatkan tekanan darah.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/suc)

  • Video: Sederet Artis Korsel Terseret Skandal ‘Injection Auntie’, Apa Itu?

    Video: Sederet Artis Korsel Terseret Skandal ‘Injection Auntie’, Apa Itu?

    Jakarta

    Skandal ‘Injection Auntie’ sedang ramai diperbincangkan di Korea Selatan. Injection Auntie merupakan praktik medis ilegal yang dilakukan oleh ‘Auntie Jusa’, yakni individu tanpa lisensi medis resmi dengan memberikan layanan berupa suntikan di luar rumah sakit.

    Skandal ini mulai ramai di tengah kasus yang menyeret komedian Park Na-rae yang diduga menerima praktik medis ilegal tersebut. Sederet artis lainnya seperti SHINee Onew & Key, penyanyi Jung Jae-hyung juga ikut terseret dalam kasus ini dan telah memberikan pernyataan resminya.

    Atas kejadian ini, Asosiasi Medis di Korsel (KMA) pun mengecam tindakan ilegal dan mendesak agar pemerintah segera melakukan investigasi.

    Klik di sini untuk menonton video-video lainnya!

    (/)

    injection auntie layanan medis ilegal korsel key shinee park na rae onew shinee

  • Kepala BPOM Curhat Sulitnya Berantas Produk Pangan Ilegal di RI, Ini Sebabnya

    Kepala BPOM Curhat Sulitnya Berantas Produk Pangan Ilegal di RI, Ini Sebabnya

    Jakarta

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI baru saja mengumumkan temuan pangan ilegal dalam intensifikasi pengawasan jelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Dari hasil pemeriksaan sarana dan patroli siber, total nilai ekonomi produk pangan ilegal yang ditemukan mencapai Rp 42,16 miliar.

    Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengungkapkan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau menjadi salah satu tantangan besar dalam pengawasan peredaran produk pangan ilegal. Ada banyak ‘jalur tikus’ yang dimanfaatkan oleh distributor atau pedagang nakal untuk menyalurkan produk ilegal mereka.

    “Jadi di Indonesia ini sangat banyak jalur tikus yang di perbatasan seperti Tarakan dan Dumai sehingga sulit diawasi sepenuhnya,” ungkap Taruna dalam konferensi pers di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Kamis (18/12/2025).

    “Tingginya permintaan konsumen terhadap produk impor spesifik dari Malaysia dan Korea ditambah dengan ketidaktahuan pelaku usaha akan regulasi atau aturan, turut memicu beredarnya ini (produk ilegal),” sambungnya.

    Ia mencontohkan untuk Pulau Batam saja, ada 54 jalur tikus yang digunakan untuk mendistribusikan produk-produk ilegal.

    Selain itu, kemudahan penjualan produk secara online juga menjadi tantangan yang besar. Produk pangan ilegal menjadi lebih mudah didistribusi secara luas tanpa pemeriksaan fisik yang konvensional.

    Wilayah perbatasan lain yang menjadi sorotan adalah seperti di utara Pulau Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Filipina. Taruna menyebut juga ada banyak produk impor ilegal masuk ke Indonesia.

    Oleh karena itu, Taruna menyebut perlu kerjasama lintas sektoral untuk mengatasi hal ini.

    “Sehingga kita punya komitmen, sudah ada MoU kerjasama kami dengan semua lintas sektoral. Dengan kepolisian, dengan TNI, termasuk Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Bea Cukai, dan sebagainya,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Indonesia-Tiongkok Perkuat Kerja Sama Kesehatan, BPOM Bidik Rp 10 Triliun

    Indonesia-Tiongkok Perkuat Kerja Sama Kesehatan, BPOM Bidik Rp 10 Triliun

    Jakarta

    BPOM RI memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem kesehatan global melalui rangkaian kunjungan kerja strategis selama sepekan. Kunjungan tersebut dilakukan ke berbagai institusi pemerintah, akademisi, serta industri farmasi dan bioteknologi di Tiongkok.

    Kunjungan yang dipimpin Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar ini bertujuan memperluas kolaborasi regulatori, mendorong inovasi vaksin, mengembangkan riset obat tradisional, serta mempercepat transfer teknologi di bidang terapi biologi dan pengembangan obat masa depan.

    Dalam rangkaian agenda tersebut, Taruna bertemu langsung dengan Commissioner of the National Medical Products Administration (NMPA) Republik Rakyat Tiongkok, Li Li. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama bilateral Indonesia-Tiongkok, khususnya dalam penguatan regulatori produk kesehatan.

    BPOM dan NMPA membahas penguatan harmonisasi regulasi obat, vaksin, produk biologi, serta obat tradisional. Kedua pihak juga menjajaki pembentukan joint technical working group dan pengembangan confidentiality commitment sebagai langkah untuk memperluas kerja sama pertukaran data, peningkatan kapasitas pengawasan, serta pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), dalam inspeksi, pelacakan, dan farmakovigilans.

    “Kami berharap kerja sama ini dapat semakin mempercepat proses evaluasi produk kesehatan tanpa mengurangi standar keamanan, efikasi, dan mutunya,” ujar Taruna, dalam keterangan tertulis, Kamis (18/12/2025).

    Sebagai informasi, kunjungan kerja strategis yang dilakukan selama sepekan tersebut dimulai pada Selasa (4/11/2025).

    Lebih lanjut, Taruna menyampaikan komitmen untuk memperpanjang serta memperluas cakupan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara BPOM dan NMPA. Langkah ini diharapkan dapat perkuat kerja sama kedua lembaga agar memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat di kedua negara maupun kawasan Asia.

    Dalam kunjungan ke Xiamen Innovax Biotech dan CanSino Biologics, Taruna bersama tim mengungkapkan rencana peningkatan kolaborasi dalam inovasi vaksin dan terapi biologi. Kunjungan tersebut menjadi bagian penting dari agenda BPOM untuk memperkuat kerja sama riset dan pengembangan vaksin.

    BPOM juga mengapresiasi capaian Innovax dalam pengembangan vaksin hepatitis dan Human Papillomavirus (HPV), serta teknologi vaksin inhalasi dan terapi biologis yang dikembangkan oleh CanSino.

    Taruna menegaskan komitmen BPOM terhadap penguatan regulatory science dan penerapan pendekatan reliance dalam evaluasi pra-pemasaran (pre-market). Pendekatan ini bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap produk kesehatan, termasuk vaksin, yang telah terbukti aman dan efektif.

    “Kami telah menerapkan pendekatan ini untuk mempercepat evaluasi produk yang jumlahnya mencapai lebih dari 70 produk biologi sejak 2017 lalu,” jelasnya.

    Dalam kunjungan ke China Shijiazhuang Pharmaceutical Company (CSPC) Pharmaceutical Co. Ltd., Taruna bersama tim meninjau fasilitas produksi terapi sel dan gen (advanced therapy medicinal products/ATMP). BPOM menilai teknologi yang dikembangkan CSPC dapat menjadi rujukan bagi Indonesia dalam memperkuat kerangka regulasi ATMP serta memperluas akses terhadap terapi inovatif untuk penanganan penyakit kronis, termasuk stroke.

    Foto: BPOM

    BPOM juga menyambut rencana kerja sama pengembangan produk n-butylphthalide (NBP) yang akan masuk ke Indonesia melalui kolaborasi dengan industri farmasi nasional. NBP dalam bentuk tablet dan injeksi tersebut diindikasikan sebagai terapi bagi penderita stroke iskemik.

    Selain itu, BPOM menilai kerja sama yang akan terjalin memiliki potensi ekonomi strategis dan dapat menjadi landasan pengembangan pusat riset bersama Indonesia-Tiongkok. Kolaborasi di bidang pengembangan obat tradisional dan bioteknologi dinilai dapat terus diperkuat dengan mengacu pada sinergi ABG (academic, business, and government) yang turut diperkenalkan Kepala BPOM kepada para pemangku kepentingan di Tiongkok. Sinergi ini diharapkan mampu mengarahkan proses penelitian, pengembangan, hingga hilirisasi produk secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.

    Dalam kehadirannya pada Health & Life Science Summit 2025 di Shanghai, Taruna kembali menegaskan pentingnya diplomasi kesehatan global serta kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan di sektor obat dan makanan. Ia menekankan perlunya integrasi inovasi, percepatan regulasi berbasis risiko, serta kerja sama pengembangan produk kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

    Dalam pertemuan dengan National Development and Reform Commission-International Cooperation Center (NDRC-ICC), Tiongkok menyatakan ketertarikan untuk memperluas riset bersama mengenai jamu Indonesia serta pertukaran teknologi dan standar regulasi. Pertemuan ini berdampak positif bagi transformasi regulasi ATMP dan terapi masa depan di Indonesia.

    Kepala BPOM juga bertemu akademisi Traditional Chinese Medicine (TCM) untuk menekankan pentingnya integrasi TCM dan Jamu Indonesia sebagai peluang strategis dalam pengembangan obat tradisional berbasis riset dan pasar global. Pembentukan TCM-Jamu Business Forum diusulkan sebagai wadah resmi kolaborasi pemerintah, industri, dan akademisi kedua negara.

    Selain itu, dalam pertemuan dengan Shanghai Global Health Innovation Institute (GHII), delegasi Indonesia membuka peluang kerja sama pengembangan produk farmasi dan harmonisasi standar regulasi. Kerja sama ini menjadi salah satu capaian diplomasi kesehatan pada Shanghai Health & Life Science Summit 2025.

    Di Universitas Xiamen dan Universitas Tsinghua, Kepala BPOM memberikan kuliah umum dan berdiskusi dengan akademisi mengenai pentingnya regulasi berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung ketahanan kesehatan global. BPOM mendorong perluasan kerja sama riset, pengembangan teknologi, dan pelatihan kapasitas untuk mendukung pengawasan terapi inovatif, termasuk vaksin generasi baru dan ATMP. Kepala BPOM juga memaparkan penguatan peran akademia dalam riset dan regulasi.

    Rangkaian pertemuan di Tiongkok sejalan dengan agenda transformasi pengawasan BPOM, termasuk pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan untuk deteksi dini risiko obat dan makanan. BPOM juga tengah menggarap integrasi data lintas negara serta percepatan evaluasi tanpa mengurangi prinsip kehati-hatian berbasis data ilmiah.

    Kunjungan kerja ini berpotensi mendorong percepatan investasi dan perdagangan global, sekaligus mendukung implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029, yang menjadi Program Prioritas Presiden RI. Taruna mengungkapkan, potensi nilai ekonomi kerja sama Indonesia-Tiongkok yang terbuka dari kunjungan ini diproyeksikan mencapai Rp10 triliun dalam lima tahun ke depan.

    “Nilai ini diperoleh dari proyeksi investasi, transfer teknologi, dan kolaborasi riset bersama. Kolaborasi dimaksud mencakup penyediaan vaksin, terapi berbasis sel dan gen, pengembangan industri farmasi, dan peningkatan kapasitas sektor kesehatan Indonesia,” ujarnya.

    Untuk memaksimalkan peran sebagai connector dan katalis antara inovasi, industri, dan kebijakan publik, BPOM perlu memastikan manfaat ekonomi dan kesehatan yang berkelanjutan dapat dirasakan Indonesia. Langkah strategis yang dilakukan antara lain mendorong percepatan proses evaluasi dan registrasi produk inovatif dari mitra Tiongkok yang memiliki nilai tambah bagi industri dan kesehatan masyarakat, serta memfasilitasi skema transfer teknologi melalui mekanisme regulatory reliance, scientific advice, dan koordinasi teknis lintas lembaga.

    Selain itu, BPOM membangun jalur kolaborasi riset bersama (joint research) dalam pengembangan vaksin, ATMP, tanaman obat, dan teknologi kesehatan. BPOM juga memperkuat harmonisasi standar dan pengawasan untuk memastikan seluruh produk hasil kolaborasi memenuhi standar keamanan, efikasi, dan mutu sesuai regulasi nasional maupun internasional, sekaligus mendukung perluasan investasi industri farmasi dan bioteknologi melalui penyederhanaan proses regulatori tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

    Taruna menekankan peran strategis BPOM dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Melalui pengawasan obat, pangan, dan produk kesehatan, BPOM berkontribusi terhadap 30-40% perekonomian nasional.

    “BPOM juga mendorong peningkatan kontribusi sektor kesehatan dan farmasi hingga 8% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada periode 2028-2029 melalui penguatan kolaborasi internasional, transfer teknologi, dan inovasi berbasis riset,” jelasnya.

    Melalui penguatan diplomasi kesehatan dan kemitraan strategis, BPOM terus berupaya memastikan masyarakat Indonesia memperoleh akses terhadap obat, vaksin, dan produk kesehatan inovatif yang memenuhi standar keamanan serta mutu internasional. Rangkaian kerja sama ini menegaskan komitmen BPOM membangun ekosistem kesehatan nasional yang maju, mandiri, dan berdaya saing global, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

    (akd/ega)

  • Video: Mulut Masih Bau Meski Rajin Sikat Gigi? Ini Bisa Jadi Penyebabnya!

    Video: Mulut Masih Bau Meski Rajin Sikat Gigi? Ini Bisa Jadi Penyebabnya!

    Video: Mulut Masih Bau Meski Rajin Sikat Gigi? Ini Bisa Jadi Penyebabnya!

  • Tes Gambar Ini Nggak Sesimpel yang Kamu Kira, Hanya yang Jeli Bisa Menjawab

    Tes Gambar Ini Nggak Sesimpel yang Kamu Kira, Hanya yang Jeli Bisa Menjawab

    Asah Otak

    Daffa Ghazan – detikHealth

    Kamis, 18 Des 2025 17:03 WIB

    Jakarta – Sekilas terlihat sederhana, tapi siluet pada gambar ini menyimpan beberapa hewan yang saling bertumpuk. Perlu mata jeli untuk menemukan semuanya.

  • Ilmuwan India Rilis Simulasi Potensi Pandemi Flu Burung H5N1, Begini Temuannya

    Ilmuwan India Rilis Simulasi Potensi Pandemi Flu Burung H5N1, Begini Temuannya

    Jakarta

    Dunia kini berada dalam kewaspadaan tinggi setelah tim peneliti dari India merilis simulasi mengerikan terkait potensi pandemi Flu Burung (H5N1) pada manusia.

    Ilmuwan memperingatkan bahwa otoritas kesehatan hanya memiliki ‘jendela waktu’ yang sangat sempit untuk mencegah kiamat kesehatan global sebelum semuanya terlambat.

    Penelitian terbaru dari pakar Philip Cherian dan Gautam Menon dari Ashoka University mengungkapkan bahwa keberhasilan menghentikan pandemi bergantung pada angka yang sangat kecil: dua kasus.

    Menggunakan platform simulasi canggih BharatSim, para peneliti memetakan bagaimana H5N1 bisa meledak di tengah populasi manusia. Jika pemerintah berhasil mengisolasi dan mengarantina kontak hanya dalam temuan dua kasus pertama, wabah dipastikan bisa padam.

    Namun, begitu jumlah pasien mencapai 10 orang, virus dipastikan sudah menyebar luas di masyarakat. Pada titik ini, wabah akan menjadi ‘kiamat pandemi’ yang mustahil dihentikan tanpa langkah ekstrem seperti lockdown total.

    Tingkat Kematian Flu Burung Tinggi

    Data WHO menunjukkan betapa mematikannya virus ini. Sejak 2003 hingga Agustus 2025, tercatat ada 990 kasus manusia dengan 475 kematian. Ini berarti H5N1 memiliki tingkat kematian (fatality rate) mencapai 48 persen, jauh lebih mengerikan dibandingkan COVID-19.

    “Ancaman pandemi H5N1 pada manusia adalah nyata. Kita hanya bisa berharap mencegahnya melalui pengawasan yang lebih ketat dan respon yang sangat gesit,” tegas Prof Menon kepada BBC.

    Meski saat ini dunia lebih siap dengan stok vaksin dan antivirus, para ahli virologi memperingatkan risiko “Re-assortment”. Jika H5N1 berhasil bercampur dengan virus flu musiman biasa, ia akan menciptakan strain baru yang tak terduga.

    Kondisi ini bisa memicu epidemi musiman yang “kacau dan tak terprediksi,” yang mampu melumpuhkan sistem kesehatan publik secara permanen.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Wanita 22 Tahun Kena Serangan Jantung gegara Stres Kerja, Sempat ‘Meninggal’ 7 Menit

    Wanita 22 Tahun Kena Serangan Jantung gegara Stres Kerja, Sempat ‘Meninggal’ 7 Menit

    Jakarta

    Seorang wanita berusia 22 tahun di Derbyshire, Inggris, nyaris meninggal setelah mengalami serangan jantung. Kondisi itu dipicu stres kerja.

    Ia sempat dinyatakan meninggal selama tujuh menit, sampai akhirnya diselamatkan oleh ayahnya yang melakukan pertolongan pertama atau CPR.

    Wanita bernama Courtney Stocks itu mendadak pingsan di halaman belakang rumahnya pada 16 November 2025, tepat saat kedua orang tuanya berkunjung. Ayahnya, Chris Watchorn (40), langsung menyadari kondisi darurat sang anak dan segera melakukan CPR hingga bantuan medis datang.

    “Saya benar-benar pingsan, tidak sadar. Saya sempat meninggal selama tujuh menit,” beber Courtney, dikutip dari The Sun.

    Courtney, yang bekerja sebagai perawat anjing dan menjalankan bisnisnya sendiri, mengaku kaget karena mengalami serangan jantung di usia yang masih sangat muda. Ia merasa sedang dalam kondisi yang sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit serius.

    “Ini mengejutkan, terutama karena usia saya baru 22 tahun dan merasa sehat,” tuturnya.

    Gejala Sempat Muncul

    Beberapa minggu sebelum kejadian, Courtney memang mengalami sejumlah gejala. Mulai dari jantung berdebar, pusing, dan mual.

    Namun, semuanya itu dianggap sebagai bagian dari kecemasan akibat tekanan pekerjaan.

    “Saya orang yang mudah stres. Hal-hal kecil saja bisa membuat saya kewalahan. Pekerjaan sangat menegangkan, dan saya sering pulang dalam keadaan stres,” jelas Courtney.

    Dilarikan ke Rumah Sakit

    Courtney dilarikan ke rumah sakit dan dirawat secara intensif selama empat hari, sampai dipindahkan ke bangsal jantung. Dari hasil pemeriksaan, dokter menemukan ia memiliki kondisi bawaan, yakni mitral annular disjunction (MAD).

    MAD merupakan kelainan struktur jantung yang dapat memicu henti jantung mendadak. Dokter menyebut stres berat berperan mempercepat terjadinya serangan jantung tersebut.

    Untuk mencegah kejadian serupa, Courtney kini dipasangi alat defibrilator implan.

    “Karena saya terlahir dengan kondisi ini, cepat atau lambat memang bisa terjadi. Tapi, dokter bilang stres mempercepatnya,” terangnya.

    Melihat beberapa gejala yang dialaminya, Courtney baru mulai menyadari bahwa itu adalah tanda awal masalah jantung. Ia juga mengaku sering merasa pusing dan mual, terutama saat mandi, hingga harus menyalakan air dingin.

    “Gejala itu makin sering muncul menjelang kejadian. Saya pikir itu bukan apa-apa, ternyata jelas sebuah tanda,” tutupnya.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)