Category: Detik.com Kesehatan

  • Punya Hipertensi? Sebaiknya Hindari Menu Sarapan Ini Agar Tekanan Darah Aman

    Punya Hipertensi? Sebaiknya Hindari Menu Sarapan Ini Agar Tekanan Darah Aman

    Jakarta

    Tekanan darah tinggi atau hipertensi seringkali disebut sebagai silent killer sebab gejalanya seringkali tidak terlihat. Kondis ini sering disebabkan oleh faktor genetik, pola makan yang buruk, hingga gaya hidup yang kurang aktif.

    Meski tekanan darah tinggi bisa menyebabkan masalah yang lebih serius jika tidak diobati, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengelola dan menurunkan tekanan darah, salah satunya dengan mengonsumsi makanan rendah sodium. Selain itu, penting untuk mengetahui beberapa makanan yang sebaiknya dihindari.

    Dikutip dari laman Eat This, beberapa menu sarapan yang perlu dihindari oleh pengidap hipertensi yaitu:

    1. Makanan Asin

    Tanpa disadari, beberapa makanan sarapan populer mengandung banyak sodium. Padahal, banyak ahli gizi yang telah mengingatkan bahwa peningkatan natrium bisa menyebabkan tekanan darah tinggi.

    Sebuah laporan dalam jurnal Nutrients menyatakan bahwa mengurangi asupan natrium tak hanya bisa mengurangi risiko hipertensi, tapi juga risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Menurut ahli gizi Amy Goodson, MS, RD, CSSD, LD, banyak dari sosis atau beberapa sandwich frozen yang dikonsumsi untuk sarapan mengandung sodium tinggi yang bisa menyebabkan tekanan darah tinggi jika dikonsumsi dalam jumlah besar dalam waktu lama.

    “Jika Anda memilih salah satu makanan ini, penting untuk memadukannya dengan sesuatu yang rendah sodium, seperti buah atau biji-bijian utuh seperti oat,” kata Goodson.

    2. Tidak Ada Buah dan Sayur

    Kebiasaan lain yang tidak baik untuk pengidap tekanan darah tinggi adalah tidak mengonsumsi cukup buah dan sayuran di pagi hari. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, orang dewasa yang mencoba menurunkan tekanan darah disarankan untuk mengonsumsi 5-9 porsi buah dan sayur dalam sehari. Jika tidak mengonsumsi 1-2 porsi saat sarapan, maka tujuan ini akan sulit tercapai.

    “Buah dan sayuran secara alami bebas natrium dan banyak di antaranya mengandung kalium, yang bisa membantu menurunkan tekanan darah tinggi pada beberapa orang,” kata Goodson.

    3. Terlalu Banyak Gula

    Mengonsumsi terlalu banyak gula tambahan bisa menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan asupan gula juga bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik.

    “Gula dan makanan olahan sangat memicu peradangan dan meningkatkan kadar gula darah serta respons insulin, juga respons peradangan dalam tubuh Anda. Peradangan juga dapat meningkatkan tekanan darah,” kata ahli diet Dana Ellis Hunnes, PhD, MPH, RD.

    Hindari Melakukan Diet Ketat

    Tak hanya beberapa menu sarapan yang perlu dihindari, kebiasaan melakukan diet ketat juga tidak baik untuk pengidap tekanan darah tinggi.

    Mungkin banyak orang yang berasumsi bahwa melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badan bisa membantu menurunkan tekanan darah. Namun, beberapa ahli gizi menyarankan untuk berhati-hati dalam seberapa ketat diet yang diterapkan.

    “Menerapkan pola makan ketat dalam upaya menurunkan berat badan dengan cepat dapat membahayakan tekanan darah Anda,” kata ahli diet Rachel Fine, RDN.

    Diet ketat diketahui bisa mengurangi banyak nutrisi yang dibutuhkan tubuh dan bisa merugikan orang-orang yang perlu menurunkan tekanan darah. Jadi jika ingin menurunkan bera badan, coba konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi tentang pola makan yang ramah hipertensi.

    Ditinjau oleh: Mhd. Aldrian, S.Gz, lulusan Ilmu Gizi Universitas Andalas, saat ini menjadi penulis lepas di detikcom.

    (elk/kna)

  • Kronologi Wanita Diet Cuma Makan Ayam-Brokoli Rebus 6 Bulan, Berujung Masalah Pankreas

    Kronologi Wanita Diet Cuma Makan Ayam-Brokoli Rebus 6 Bulan, Berujung Masalah Pankreas

    Jakarta

    Seorang wanita di China menjalani diet ekstrem selama 6 bulan. Ia hanya mengonsumsi ayam dan brokoli rebus.

    Wanita 25 tahun itu membagikan perjalanan dietnya. Meski tidak mengonsumsi makanan berlemak dan karbohidrat, tapi sesekali ia makan potongan kecil kentang.

    Namun, masalah kesehatan mulai dia alami yang terus diabaikan. Wanita yang tidak disebut namanya itu, seperti wajah tampak kusam, kelelahan, hingga tubuh lemas. Sampai akhirnya ia mengalami kram perut yang hebat, hingga dilarikan ke Rumah Sakit Rakyat Xi’an.

    Didiagnosis Peradangan Pankreas

    Setelah diperiksa dokter, ia didiagnosis mengidap pankreatitis akut berat. Itu merupakan kondisi peradangan pada pankreas yang biasanya terjadi saat enzim pencernaan menyerang jaringan pankreas sendiri.

    Kondisi tersebut bisa memicu nyeri perut, gangguan pencernaan, hingga komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.

    “Kadar amilase dalam serum darahnya mencapai 10 kali lipat dari batas normal, yang merupakan kondisi mengancam nyawa,” terang dokter yang melakukan pemeriksaan, dikutip dari The Star.

    Amilase merupakan enzim yang diproduksi pankreas dan kelenjar ludah untuk membantu memecah karbohidrat. Penumpukan enzim di pankreas ini yang menyebabkan organ itu, seolah ‘mencerna dirinya sendiri’ dan peradangan para yang terjadi berujung pada pankreatitis akut.

    Penyebab Gejala yang Dikeluhkan

    Dokter mengungkapkan gejala yang dialami wanita itu mungkin disebabkan pola makan yang sangat rendah lemak dalam jangka waktu lama. Ia menjelaskan diet yang terlalu hambar atau terlalu rendah kalori.

    Mungkin terlihat sehat, tapi sebenarnya dapat mengganggu proses normal pengeluaran enzim pencernaan.

    “Mereka yang menurunkan berat badan untuk tetap berada dalam defisit kalori, tetapi sambil mempertahankan pola makan yang seimbang,” pungkas dokter.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/naf)

  • Tren Imunisasi di RI Ngedrop, Banyak Ortu Takut Anaknya Kena Efek Samping

    Tren Imunisasi di RI Ngedrop, Banyak Ortu Takut Anaknya Kena Efek Samping

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menemukan adanya tren penurunan cakupan imunisasi pada tahun 2025, dibandingkan dengan tahun 2024. Direktur Imunisasi Kemenkes RI Indri Yogyaswari mengungkapkan cakupan imunisasi bayi lengkap dan imunisasi lengkap 14 antigen tahun 2025 masih belum memenuhi target yang ada.

    Kondisi ini juga diikuti oleh peningkatan jumlah anak dengan dosis nol imunisasi (zero dose) atau belum menerima dosis pertama Difteri, Pertusis, dan Tetanus (DPT).

    “Cakupan imunisasi bayi dan balita lengkap di Indonesia sampai sekarang masih belum merata dan belum mencapai target nasional. Mungkin kalau diambil capaian nasional, ada beberapa provinsi yang sudah melakukan itu (sesuai target), cuma masih banyak yang berada di bawah capaian nasional,” ungkap Indri dalam acara temu media di Jakarta Selatan, Jumat (19/12/2025).

    Untuk imunisasi bayi lengkap sampai 14 Desember 2025, cakupannya mencapai 68,6 persen dari target prioritas 80 persen. Jumlah tersebut menurun dari 87,7 persen pada tahun 2024 dan 95,4 persen pada tahun 2023.

    Adapun rinciannya lengkapnya sebagai berikut:

    2019 – 84,0 persen2020 – 73,0 persen2021 – 84,2 persen2022 – 94,9 persen2023 – 95,4 persen2024 – 87,7 persen2025 – 68,6 persen (sampai 14 Desember)

    Kemudian, untuk cakupan imunisasi lengkap 14 antigen tahun 2025 mencapai 66,2 persen dari target 74 persen. Sebanyak 9 dari 38 provinsi mencapai target cakupan lengkap.

    Berikut ini lima provinsi dengan cakupan imunisasi lengkap 14 antigen terbanyak:

    Banten – 99,2 persenJakarta – 97,4 persenBali – 83,8 persenSumatera Selatan – 81,8 persenJawa Barat – 81,4 persen

    Sementara, berikut ini lima provinsi dengan cakupan imunisasi lengkap 14 antigen terendah:

    Papua Pegunungan – 8,0 persenPapua Tengah – 19,4 persenSulawesi Barat – 35,0 persenAceh – 36,7 persenPapua Barat Daya – 39,9 persen

    Indri mengungkapkan ada beberapa alasan mengapa cakupan vaksin mengalami penurunan, salah satunya faktor sosial. Berdasarkan data yang dihimpun Kemenkes, sebanyak 47 persen pihak keluarga tidak mengizinkan.

    Faktor lain seperti takut efek samping sebanyak 45 persen hingga isu agama sebesar 12 persen. Mereka juga menemukan 23 orang tua tidak memberikan imunisasi adalah karena anak sakit, 11,2 persen tidak ada waktu, dan 22,8 persen merasa imunisasi tidak penting.

    “Jadi ada 47 persen karena keluarga tidak mengizinkan bisa dari ibunya, dari ayahnya, bahkan kadang unik, ibunya setuju tapi bapaknya nggak setuju, akhirnya nggak jadi. Karena pemegang keputusan di keluarga biasanya bergantung pada ayah,” ungkap Indri.

    Untuk mengatasi permasalahan ini, Kemenkes terus melakukan promosi melalui media komunikasi, informasi, dan edukasi. Selain itu, Kemenkes juga melakukan kerjasama lintas sektor dengan organisasi hingga tokoh agama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal pentingnya imunisasi.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/naf)

  • Jangan Ngaku Jago Matematika kalau Tak Bisa Jawab Soal Ini Hitungan Detik!

    Jangan Ngaku Jago Matematika kalau Tak Bisa Jawab Soal Ini Hitungan Detik!

    Asah Otak

    Aida Adha Siregar – detikHealth

    Jumat, 19 Des 2025 17:01 WIB

    Jakarta – Sering dapat nilai 100 saat mengerjakan soal matematika? Harusnya sih soal-soal berikut bisa terjawab dengan mudah dalam hitungan detik. Yuk fokus!

  • Terungkap Alasan Satu Kebiasaan Bangun Tidur Ini Bisa Picu Serangan Jantung

    Terungkap Alasan Satu Kebiasaan Bangun Tidur Ini Bisa Picu Serangan Jantung

    Jakarta

    Serangan jantung masih menjadi penyebab kematian utama di dunia. Namun, ternyata pemicunya bukan selalu makanan berlemak atau stres.

    Dokter umum yang aktif mengedukasi lewat media sosial Dr Sana Sadoxai, mengatakan ada satu kebiasaan saat bangun tidur bisa berkontribusi menyebabkan serangan jantung. Hal yang dimaksud adalah minimnya gerak setelah bangun tidur.

    Bahkan, ia mengklaim hingga 90 persen kasus serangan jantung berkaitan dengan pola ini.

    “Bahaya sebenarnya dimulai saat Anda bangun tidur dan tetap diam,” kata Dr Sadoxai yang dikutip dari Mirror UK.

    Kebiasaan Main Ponsel saat Bangun Tidur

    Menurutnya, banyak orang mengawali hari dengan langsung duduk, memegang ponsel, scrolling media sosial, lalu terburu-buru untuk berangkat kerja tanpa melakukan aktivitas fisik sama sekali.

    Rutinitas ini yang membuat tubuh tetap berada dalam kondisi pasif, dengan peradangan yang meningkat sejak pagi. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut memicu serangkaian masalah kesehatan.

    Mulai dari resisten insulin, penumpukan lemak di perut, tekanan darah tinggi, peradangan tersembunyi, hingga gangguan metabolisme. Kombinasi faktor ini secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung, terutama pada orang obesitas atau berat badan berlebih.

    Padahal, risikonya bisa ditekan dengan cara yang sangat sederhana. Dr Sadoxai menekankan aktivitas ringan selama 5-7 menit di pagi hari sudah cukup memberikan dampak besar.

    “Jalan cepat, peregangan ringan, atau latihan pernapasan bisa membantu melancarkan sirkulasi darah, mengaktifkan metabolisme, menstabilkan gula darah, dan melindungi kesehatan jantung,” jelasnya.

    Faktor Lainnya, Obesitas

    Dr Sadoxai menegaskan berat badan, metabolisme, dan kesehatan jantung saling berkaitan. Mengabaikan kebiasaan pagi yang sehat bisa menjadi ancaman tersembunyi.

    “Perubahan sederhana di pagi hari bisa berdampak besar bagi kesehatan jangka panjang,” tutur dia

    Ia juga mengingatkan sejumlah tanda awal gangguan metabolisme yang kerap diabaikan, seperti obesitas, lemak perut yang sulit hilang, mudah sesak napas, diabetes, hingga kelelahan kronis.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/naf)

  • Wanita Kena Stroke di Usia 28 Tahun gegara Stres, Ini Gejala Awalnya

    Wanita Kena Stroke di Usia 28 Tahun gegara Stres, Ini Gejala Awalnya

    Jakarta

    Wanita bernama Khanh Linh tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 28 tahun. Semua berawal pada 12 Juni 2025, saat ia tiba-tiba merasa sakit kepala hebat seperti terbelah saat duduk di meja kerja setelah makan siang.

    Tak lama kemudian, semuanya gelap. Sekitar satu jam kemudian, dokter di sebuah rumah sakit di Thai Nguyen mendiagnosis Linh mengalami stroke akibat pecahnya aneurisma otak, yang dipicu kelainan pembuluh darah bawaan.

    Kondisinya kritis sampai dirujuk ke Rumah Sakit Militer Pusat 108 di Hanoi, Vietnam, untuk menjalani operasi darurat.

    “Aku tidak ingat apapun selama seminggu itu,” ujar Linh, dikutip dari VNExpress.

    Semua yang ia ketahui tentang masa tersebut berasal dari cerita keluarganya yang setia mendampingi. Linh menjalani operasi endovaskular modern dengan biaya ratusan juta.

    Setelah operasi, perjuangannya belum selesai. Ia harus menjalani perawatan lebih dari 20 hari di rumah sakit, sebelum akhirnya pulang dan rehabilitasi.

    Sekitar lima bulan kemudian, kondisinya belum sepenuhnya pulih. Mulutnya masih mencong sehingga sulit berbicara, mata kirinya tidak bisa tertutup sempurna, tubuhnya lemah, dan belum mampu berjalan sendiri.

    Stroke tersebut menyebabkan kelumpuhan wajah. Bahkan, aktivitas sederhana menjadi sulit. Mulutnya tidak bisa menutup rapat dan air liur sering keluar tanpa disadari.

    “Saat itu aku butuh dua orang untuk merawatku. Satu orang bahkan harus terus di sampingku hanya untuk menyeka air liur,” kenangnya.

    Ibu dan kakaknya bergantian menjaga Linh. Di awal pemulihan, ia juga harus menggunakan selang makan.

    Berat badannya turun drastis dari 47-48 kg menjadi hanya 40 kg. Setelah menjalani terapi intensif, berat badannya perlahan mulai naik kembali.

    Sebelum stroke, Linh merasa hidupnya normal. Ia hanya sempat mengalami sakit kepala ringan beberapa hari sebelumnya, dan mengira itu akibat perubahan cuaca.

    “Aku punya banyak kebiasaan buruk, sering begadang, telat makan, dan stres karena pekerjaan,” bebernya.

    Ia kini menyadari bahwa gaya hidup tersebut bisa ikut berperan pada kondisi kesehatannya. Masa-masa awal pascastroke menjadi periode paling berat secara mental.

    Linh mengaku sempat diliputi pikiran negatif, merasa tidak berdaya, menjadi beban keluarga, dan takut menghadapi masa depan.

    Sebuah analisis di jurnal medis The Lancet menyebut sekitar sepertiga penyintas stroke mengalami depresi dalam lima tahun pertama. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada psikologis, tapi juga berkaitan dengan kerusakan otak yang mengatur emosi, serta dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan risiko kematian.

    Pada pasien muda seperti Linh, dampak mentalnya bisa lebih berat. Stroke datang tiba-tiba dan merenggut kemandirian, karier, hingga rasa aman sosial.

    “Keluargaku yang menarikku kembali,” kata Linh.

    Ibu dan kakaknya selalu ada, bukan hanya membantu secara fisik, tapi juga memberikan dukungan emosional. Saat Linh hancur, mereka duduk diam sambil menggenggam tangannya.

    Untuk menjaga kesehatan mentalnya, Linh mulai membagikan proses pemulihannya lewat video singkat di TikTok. Awalnya hanya catatan pribadi, tapi perlahan ia menerima banyak pesan dukungan dari orang lain.

    “Saat aku sadar ceritaku bisa membantu orang lain, perjuangan ini terasa bermakna,” sambungnya.

    Kini, Linh menjalani jadwal rehabilitasi ketat setiap hari, mulai dari akupunktur, pijat terapi, hingga latihan berjalan. Setiap kemajuan kecil, ia dianggap sebagai kemenangan.

    “Aku belajar menghargai hal-hal kecil yang dulu terasa sepele,” tutur dia.

    Data menunjukkan kasus stroke pada usia muda terus meningkat. Studi The Lancet mencatat angka stroke pada orang di bawah 45 tahun naik signifikan secara global.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 persen kasus stroke terjadi pada kelompok usia ini. Faktor pemicunya antara lain stres kronis, pola makan buruk, kurang gerak, serta penyakit seperti hipertensi, obesitas, dan diabetes yang kerap tidak terdeteksi.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: Neurolog Ungkap Sakit Kepala Seperti Ini Bisa Jadi Tanda Gejala Stroke”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/naf)

  • Dokter Ungkap 90 Persen Serangan Jantung Dipicu 1 Kebiasaan Pagi, Apa Itu?

    Dokter Ungkap 90 Persen Serangan Jantung Dipicu 1 Kebiasaan Pagi, Apa Itu?

    Jakarta

    Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di dunia. Seorang dokter mengungkapkan 90 persen kasus serangan jantung dapat ditelusuri pada satu kebiasaan pagi yang sering diabaikan dan kebiasaan tersebut bukan terkait makanan atau stres.

    Seorang dokter umum yang sering membagikan edukasi kesehatan di media sosial, Dr Sana Sadoxai, menyoroti bahaya rutinitas pagi yang minim gerak. Menurutnya, risiko serangan jantung justru dimulai sejak seseorang bangun tidur dan langsung pasif.

    “Bahaya sebenarnya dimulai saat Anda bangun dan tetap diam,” kata Dr Sadoxi, dikutip dari Mirror UK.

    Dr Sadoxi menjelaskan banyak orang bangun tidur langsung memegang ponsel, duduk terlalu lama, lalu buru-buru berangkat tanpa aktivitas fisik sama sekali. Pola ini membuat tubuh berada dalam kondisi kurang bergerak dan peradangan tinggi.

    Kebiasaan tersebut secara perlahan mempercepat resistensi insulin, penumpukan lemak perut, tekanan darah tinggi, peradangan tersembunyi, hingga gangguan metabolisme. Seluruh faktor itu secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung dini, terutama pada orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

    Padahal, hanya dengan 5 hingga 7 menit aktivitas ringan saat pagi, risiko tersebut bisa ditekan. Aktivitas sederhana seperti jalan cepat, peregangan, atau latihan pernapasan dapat membantu melancarkan sirkulasi darah, mengaktifkan metabolisme, menstabilkan kadar gula darah, dan melindungi kesehatan jantung.

    “Berat badan, metabolisme, dan kesehatan jantung saling terkait. Mengabaikan kebiasaan pagi ini merupakan ancaman tersembunyi. Mengubahnya bisa menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

    Dr Sadoxai juga mengingatkan keluhan seperti, obesitas, lemak perut yang sulit hilang, mudah sesak napas, diabetes, hingga kelelahan kronis dapat menjadi tanda awal gangguan metabolisme yang tidak boleh diabaikan.

    Berbagai respons pun datang dari para warganet yang mengikutinya di media sosial. Ada yang mengatakan bangun tidur lalu langsung terburu-buru ke kantor itu perlahan membunuh kita.

    “Saya bangun, minum teh dengan santai 30 menit sebelum bersiap kerja. Saran ini masuk akal,” kata pengguna lainnya.

    Gejala dan Pencegahan Serangan Jantung

    Menurut NHS, serangan jantung atau infark miokard terjadi saat aliran darah ke jantung terhambat, yang umumnya akibat gumpalan darah.

    Gejala yang paling umum adalah nyeri dada, seperti rasa tertekan, berat, atau sesak. Tanda lain yang perlu diwaspadai antara lain nyeri menjalar ke lengan, rahang, leher, punggung, atau perut, pusing, keringat dingin, sesak napas, mual, hingga rasa cemas berlebihan.

    Untuk menurunkan risiko serangan jantung, masyarakat disarankan berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat, serta rutin berolahraga. Orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: dr. Dhika Raspati Ungkap Bahaya Cardiac Arrest bagi Pelari Trail”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/naf)

  • Coba Hitung Ada Berapa Hewan yang Sembunyi! Kalau Salah Bisa Jadi Harus Cek Mata

    Coba Hitung Ada Berapa Hewan yang Sembunyi! Kalau Salah Bisa Jadi Harus Cek Mata

    Asah Otak

    Aida Adha Siregar – detikHealth

    Jumat, 19 Des 2025 13:01 WIB

    Jakarta – Butuh waktu refreshing sekaligus cek matamu? Coba mampir dulu di soal-soal ini. Jangan buru-buru lihat jawaban ya, detikers!

  • Pangan Ilegal Jelang Nataru Makin Banyak, Kepala BPOM Wanti-wanti Bahayanya

    Pangan Ilegal Jelang Nataru Makin Banyak, Kepala BPOM Wanti-wanti Bahayanya

    Jakarta

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menemukan adanya peningkatan temuan produk pangan ilegal jelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengungkapkan temuan produk pangan ilegal dalam intensifikasi pengawasan jelang Nataru 2025 secara offline dan online, sebanyak 126.136 pcs dengan nilai Rp 42,16 miliar.

    Pada intensifikasi pengawasan Nataru tahun lalu, jumlah sarana yang diperiksa sebanyak 2.999 tempat. Sedangkan, jumlah sarana yang diperiksa pada tahun ini mencapai 1.612 tempat. Dalam periode yang sama, meski jumlah sarana yang diperiksa menurun, jumlah sarana yang tidak memenuhi ketentuan (TMK) justru naik sebanyak 7 persen.

    “Pada tahun 2024, ditemukan 27,9 persen sarana (TMK), menjadi 34,9 sarana TMK pada tahun 2025. Hasil ini bisa menggambarkan rekam jejak pelanggaran sehingga kegiatan pengawasan dilakukan dengan berbasis risiko target,” ucap Taruna dalam konferensi pers di Kantor BPOM RI, Kamis (19/12/2025).

    Adapun jenis pelanggaran yang paling banyak ditemukan adalah produk impor yang dijual tanpa nomor izin edar. Kemudian disusul oleh produk kedaluwarsa, produk rusak, hingga produk yang ditambah dengan bahan kimia obat (BKO).

    Ada banyak risiko dari produk pangan ilegal. Misalnya pada produk tanpa nomor izin edar, registrasi ini diperlukan untuk memastikan produk aman dikonsumsi, bermutu, dan sesuai standar berlaku di Indonesia.

    Nomor izin edar juga berfungsi sebagai alat pengawasan dan perlindungan konsumen sehingga, produk pangan bisa ditelusuri dan ditindak jika menimbulkan masalah.

    Kemudian, misalnya pada produk kopi yang diamankan BPOM karena mengandung BKO. Kandungan BKO yang dimasukkan dalam produk pangan, dosisnya akan lebih sulit ditakar sehingga dapat memicu overdosis.

    “Bisa menyebabkan gangguan kesehatan berupa gagal ginjal, gagal jantung, bahkan kematian,” ucap Taruna.

    Lalu, produk kedaluwarsa dan rusak juga berbahaya karena rentan kontaminasi. Misalnya kontaminasi dari jamur atau bakteri. Apabila dikonsumsi, maka makanan tersebut dapat menyebabkan masalah infeksi pencernaan.

    “Lalu, kalau hubungan dengan barangnya rusak tentu juga berbahaya. Bisa termasuk, misalnya kemasannya terbuka, sehingga mikroorganisme bisa masuk. Akhirnya memicu gangguan kesehatan,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/naf)

  • 6 Gejala Kanker Usus Besar yang Bisa Dilihat Saat Buang Air Besar

    6 Gejala Kanker Usus Besar yang Bisa Dilihat Saat Buang Air Besar

    Jakarta

    Kanker usus besar biasanya tidak menimbulkan gejala di tahap awal. Namun, seiring berkembangnya penyakit ini, pengidapnya mungkin mengalami nyeri perut, perdarahan, hingga perubahan pada feses.

    Tidak ada patokan buang air besar yang dianggap normal untuk semua orang. Pada dasarnya, tenaga kesehatan lebih memerhatikan pola yang normal dan konsisten. Jadi, penting untuk memerhatikan setiap perubahan pada pola normal buang air besar, sebab adanya perbedaan pada kebiasaan buang air besar bisa menandakan gejala kanker usus besar.

    Kanker Usus Besar yang Bisa Muncul saat Buang Air Besar

    Kenali beberapa gejala kanker usus besar yang bisa muncul saat buang air besar. Berikut di antaranya:

    1. Nyeri Saat Buang Air Besar

    Nyeri saat buang air besar menjadi gejala umum kanker usus besar di stadium awal. Dikutip dari laman Very Well Health, rasa nyeri ini disebut juga dengan diskezia.

    2. Perubahan Frekuensi Buang Air Besar

    Perubahan frekuensi buang air besar yang terus menerus merupakan salah satu tanda potensial kanker usus besar. Misalnya, jika biasanya seseorang buang air besar tiga kali sehari atau setiap dua hari sekali hal ini mungkin menandakan sembelit.

    Sebaliknya, jika pola buang air besar biasanya dua hari sekali dan kemudian hanya buang air besar sekali sehari, ini mungkin frekuensi yang tidak biasa dan menandakan adanya perubahan.

    3. Perubahan Bentuk Feses

    Feses yang tipis atau kecil, sering digambarkan seperti pita atau pensil juga bisa menjadi salah satu tanda kanker usus besar. Pada orang yang sebelumnya sehat, tinja yang mengecil bisa terjadi karena penyempitan pada usus besar. Kondisi tersebut dikenal sebagai sumbatan sebagian usus besar akibat kanker.

    4. Perubahan Warna Feses

    Perdarahan di usus besar karena kanker usus besar bisa menyebabkan warna merah terang atau merah tua pada feses. Lebih spesifiknya, jika perdarahan terjadi di usus besar bagian kanan, feses mungkin berwarna lebih merah marun atau ungu, karena perdarahan terjadi lebih jauh dari rektum.

    Jika tumor ada di usus besar bagian kiri, perdarahan cenderung menyebabkan feses berwarna merah terang. Jadi, jika ada darah dalam tinja, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

    5. Terus Menerus Ingin Buang Air Besar

    Perasaan terus-menerus ingin buang air besar meski baru melakukannya, bisa menjadi salah satu gejala kanker usus besar. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, tenesmus menyebabkan keinginan untuk buang air besar bahkan ketika usus kosong. Seseorang yang mengalaminya merasa perlu mengejan, tapi hanya ada sedikit feses atau bahkan tidak ada sama sekali.

    6. Sembelit dan Diare

    Sembelit dan diare yang bergantian bisa terjadi saat ada penyumbatan sebagian di usus akibat tumor. Sembelit bisa terjadi karena sulitnya mengeluarkan tinja melewati penyumbatan, diikuti dengan diare ketika isi yang tertahan kemudian dikeluarkan.

    Gejala-gejala ini tidak secara pasti menandakan adanya kanker usus besar. Bisa jadi, gejala yang disebutkan mengindikasikan adanya masalah lain di usus. Jadi, penting untuk berkonsultasi dengan dokter.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video KuTips: “Pemanasan” Mengenalkan Toilet Training pada Si Kecil!”
    [Gambas:Video 20detik]
    (elk/naf)