Category: Detik.com Kesehatan

  • Nadin Amizah Idap Spasmodic Dysphonia Bikin Susah Nyanyi, Kondisi Apa Itu?

    Nadin Amizah Idap Spasmodic Dysphonia Bikin Susah Nyanyi, Kondisi Apa Itu?

    Jakarta

    Melalui postingan Instagram Stories, penyanyi Nadin Amizah buka-bukaan kondisi spasmodic dysphonia (SD) yang membuat kemampuan bernyanyinya terganggu. Ia menceritakan selama beberapa waktu ini, ia merasa ada penurunan dalam kemampuan bernyanyinya.

    Awalnya, ia mengira itu hanya di pikirannya saja, rupanya ada masalah medis yang melatarbelakanginya. Kondisinya itu membuatnya lebih mudah fals saat bernyanyi hingga mudah pegal saat bernyanyi atau berbicara.

    “Bahkan ngomong kelamaan aja leher pegel dan sakit bgttt. Range vocal menyempit/turun dari range sebelumnya (nada yg biasanya gambang ditembak jadi susah/almost impossible),” tulis Nadin dikutip dari akun Instagram-nya, Jumat (9/1/2026).

    “Jadi kalau dibilang gabisa nyanyi sih, ga juga ya, bisa bisa aja. Tapi bayangin sesedih apa sesuatu yg biasanya semudah dan seringan bernapas untukku jadi sesuatu yg berat, butuh effort, dan terutama yang paling mengganggu, bikin sakit,” sambungnya.

    Cerita Nadin Amizah didiagnosis Spasmodic Dysphonia Foto: Instagram @cakecaine

    Nadin rencananya akan menjalani speech therapy, sembari tetap melakukan latihan vokal. Ia berharap bisa terus melakukan proses recovery dan penyembuhan, sambil tetap manggung.

    Apa itu spasmodic dysphonia?

    Dikutip dari Cleveland Clinic, SD atau juga disebut distonia laring adalah gangguan suara yang memengaruhi laring (kotak suara) dan pita suara. Kondisi ini dapat membuat suara tiba-tiba terputus, terdengar tegang dan tercekik, atau justru sangat lemah dan berembus saat berbicara.

    Dalam kondisi normal, pita suara bergetar saat kita berbicara sehingga menghasilkan suara. Namun, pada orang dengan kondisi SD, otot-otot yang mengendalikan pita suara mengalami kejang (spasme) tanpa dapat dikendalikan.

    Gejala yang mungkin dialami

    Kejang ini bisa menyebabkan pita suara menutup terlalu rapat sehingga suara terdengar tegang, atau justru terlalu terbuka sehingga suara terdengar napas dan lemah. Akibatnya, berbicara menjadi lebih sulit dan kurang jelas dipahami.

    SD disebabkan oleh gangguan pada bagian otak yang disebut ganglia basalis, yang berperan dalam mengoordinasikan gerakan otot tak sadar. Kondisi yang menyebabkan gerakan otot tidak terkendali akibat sinyal otak yang tidak normal disebut distonia.

    Kondisi ini kebanyakan terjadi pada usia paruh baya 30-60 tahun. Beberapa gejala SD meliputi suara yang terdengar seperti:

    Tegang dan tercekik.Serak dan kasar.Berembus, lembut, atau seperti berbisik.Terputus-putus karena bunyi tertentu tiba-tiba terhenti saat berbicara.Bergetar atau gemetar.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Antisipasi Harga Naik Jelang Lebaran, BGN Minta Menu Telur MBG Diganti Lele

    Antisipasi Harga Naik Jelang Lebaran, BGN Minta Menu Telur MBG Diganti Lele

    Jakarta

    Badan Gizi Nasional (BGN) mengantisipasi potensi kenaikan harga telur menjelang lebaran dengan meminta satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) melakukan penyesuaian dan variasi menu, termasuk mengganti lauk berbasis telur dengan ikan atau sumber protein lain.

    Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyan mengatakan kebijakan ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di pasar, sekaligus memastikan program pemenuhan gizi tetap berjalan optimal.

    “Menjelang Lebaran nanti jangan sampai berantem sama yang mau bikin kue. Jadi penggunaan telur segala macam harus diganti, harus beragam lah, bervariasi. Diganti tadi ya, sama ikan lele. Jadi jangan sampai memicu inflasi dan kelangkaan gitu,” beber Nanik saat ditemui di SMKN 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026).

    Dalam kesempatan tersebut, Nanik juga sempat bertanya langsung kepada para siswa penerima MBG untuk mendapat respons soal pergantian menu. “Bagaimana, pada setuju nggak kalau diganti ikan lele?” tanya Nanik.

    Para siswa mengatakan setuju.

    “Menu harus divariasi. Lele, nila, mau kok anak-anak, pasti suka kan, biar kayak makan pecel lele,” kata Nanik.

    Sudah Pernah Dilakukan saat Nataru

    Nanik menyebut kebijakan serupa sebenarnya sudah pernah diterapkan saat periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan dinilai berhasil menahan laju kenaikan harga di pasaran.

    “Sudah ada imbauan. Nanti kita juga akan imbaukan lagi seperti waktu itu, ya, waktu Nataru. Kita bilang, ‘jangan banyak pakai telur supaya yang Natalan nggak kena harga tinggi.’ Dan itu berhasil,” jelasnya.

    Saat itu, kata Nanik, BGN bersama SPPG mengalihkan menu ke protein lain seperti daging sapi, sehingga tekanan permintaan terhadap telur bisa ditekan.

    “Nah, sekarang juga begitu. Jadi kita nanti diversifikasi ke pangan lain,” tambahnya.

    Menurut Nanik, langkah diversifikasi menu ini tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas harga pangan, tetapi juga untuk memastikan asupan gizi tetap seimbang dan tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan saja.

    BGN menilai, menjelang hari besar keagamaan seperti Lebaran, lonjakan permintaan bahan pokok tertentu, termasuk telur, hampir selalu terjadi, sehingga perlu diantisipasi dari sisi konsumsi program-program pemerintah yang skalanya besar.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Pasien Bandung Meninggal, Kenapa ‘Super Flu’ Fatal pada Orang dengan Komorbid?

    Pasien Bandung Meninggal, Kenapa ‘Super Flu’ Fatal pada Orang dengan Komorbid?

    Jakarta

    Seorang pasien ‘super flu’ yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dilaporkan meninggal dunia. RSHS telah menangani 10 pasien yang mengalami gejala influenza A H3N2 subclade K ini.

    Terkait pasien yang meninggal dunia, pihak rumah sakit belum bisa memastikan apakah pasien itu meninggal karena super flu atau bukan. Pasien diketahui memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid yang cukup berat.

    “Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high cap dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain,” kata Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS, dr Yovita Hartantri, dikutip dari detikJabar, Jumat (9/1/2025).

    “Ada stroke, ada gagal jantung dan terakhir karena ada infeksi dan ada gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan karena memang dia mungkin komorbid yang banyak,” sambungnya.

    Mengapa infeksi super flu bisa berakibat fatal bagi pasien dengan komorbid? Dokter spesialis paru dr Erlang Samoedro, SpP(K) menjelaskan infeksi super flu atau influenza dapat mengakibatkan peradangan yang menyebabkan kambuhnya komorbid.

    Infeksi dapat memicu kekambuhan kondisi komorbid yang kondisi sebelumnya mungkin sudah stabil.

    “Influenza memang bisa berakibat fatal pada orang yang punya komorbid. Hal ini terjadi karena rusaknya pertahanan tubuh akibat virus influenza itu dan terjadi inflamasi. Nah, inflamasi ini yang menyebabkan kambuhnya komorbid,” ujar dr Erlang yang tidak terlibat dalam penanganan pasien, ketika dihubungi detikcom, Jumat (9/1/2026).

    Selain orang dengan komorbid, kelompok rentan lain yang harus diperhatikan adalah anak-anak dan lansia. Anak-anak menjadi kelompok rentan karena sistem imun yang belum sempurna.

    Sementara itu, sistem imun lansia juga menurun seiring pertambahan usia, terlebih biasanya juga memiliki komorbid.

    “Langkah pencegahan jangan sampai tertular, seperti gunakan masker, hindari kerumunan bila sakit, tinggal di rumah. Banyak konsumsi buah dan sayur, serta vaksinasi influenza, walaupun ini strain baru, tapi vaksinasi influenza mencegah penyakit tidak sampai berat bila tertular,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Kebijakan Baru Trump, Pangkas Rekomendasi Vaksin Anak dari 17 Jadi 11

    Kebijakan Baru Trump, Pangkas Rekomendasi Vaksin Anak dari 17 Jadi 11

    Jakarta

    Pemerintahan Donald Trump secara resmi merombak total kebijakan jadwal vaksinasi anak di Amerika Serikat. Kebijakan ini dipelopori oleh Menteri Kesehatan Robert F Kennedy Jr. (RFK Jr.) sebagai bagian dari gerakan Make America Healthy Again (MAHA).

    Dalam pernyataan resminya, Presiden Trump menyebut langkah ini sebagai bentuk reformasi yang logis.

    “Banyak warga Amerika, terutama para ibu pendukung gerakan MAHA, telah lama menantikan reformasi yang mengedepankan akal sehat ini,” ujar Trump dikutip dari BBC.

    Robert Kennedy yang selama ini dikenal kritis terhadap kebijakan vaksin, menyatakan bahwa perombakan ini bertujuan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap kesehatan publik.

    “Kami menyelaraskan jadwal vaksinasi anak di AS dengan konsensus internasional, sekaligus memperkuat transparansi,” ucap RFK.

    Pembagian Kategori Vaksin Baru

    Berdasarkan aturan terbaru CDC, jadwal vaksinasi kini dibagi menjadi tiga kategori besar:

    Vaksin Rekomendasi Utama (Wajib/Rutin): Melindungi dari 11 penyakit, termasuk Campak (Measles), Gondongan (Mumps), Rubella, Polio, Pertusis, Tetanus, Difteri, Hib, Pneumokokus, HPV, dan Cacar Air (Varisela).

    Vaksin Berbasis Faktor Risiko: Diberikan tergantung pada kondisi kesehatan anak, mencakup vaksin RSV, Hepatitis A, Hepatitis B, Dengue, dan Meningitis.

    Vaksin Keputusan Orang Tua dan Dokter: Untuk vaksin COVID-19, Influenza, dan Rotavirus, pemerintah kini menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada orang tua dan tenaga medis.

    Departemen Kesehatan AS menyatakan perubahan ini didasarkan pada perbandingan dengan 20 negara maju lainnya. Pemerintah menilai AS selama ini merupakan “anomali global” karena memiliki jumlah dosis dan jenis penyakit yang diwajibkan terlalu banyak.

    Baac juga

    Dikritik Ahli

    AS kini menjadikan Denmark sebagai model, yang hanya merekomendasikan perlindungan terhadap 10 jenis penyakit.

    Namun, langkah ini dikritik keras oleh para ahli medis. Dr. Andrew D Racine, Presiden American Academy of Pediatrics, menyebut perbandingan tersebut tidak relevan. Ia memperingatkan bahwa keputusan ini justru akan menciptakan kekacauan dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.

    “Amerika Serikat bukanlah Denmark. Populasi, infrastruktur kesehatan, dan risiko penyakit kita sangat berbeda jauh,” tegas Dr Racine.

    Halaman 2 dari 3

    (elk/elk)

  • Susah Terlelap di Malam Hari? Screentime Dulu Ternyata Aman Kok, Ini Alasannya

    Susah Terlelap di Malam Hari? Screentime Dulu Ternyata Aman Kok, Ini Alasannya

    Jakarta

    Insomnia bukan sekadar sulit memejamkan mata. Bagi banyak orang, malam hari justru menjadi waktu paling melelahkan. Biasanya, setiap orang punya ritual-ritual khusus agar rasa mengantuk cepat datang, seperti baca buku, minum air putih, dan lainnya.

    Namun, ritual-ritual ini terkadang nggak selalu berhasil dilakukan. Alih-alih rasa kantuk datang, malah mata tetap melek sampai pagi menjelang. Lalu, gimana solusinya?

    Certified Sleep & Recovery Coach, Vishal Dasani, memiliki beberapa night routine atau kebiasaan malam menjelang tidur yang bisa dilakukan agar seseorang bisa mendapatkan istirahat yang berkualitas.

    1. Screen Time

    Banyak orang yang beranggapan bahwa screen time sebelum tidur akan membuat seseorang sulit terlelap. Namun, Coach Vishal yang telah menekuni sleep coaching enam tahun terakhir ini justru menjadikan screen time sebagai salah satu ritual tidurnya.

    “Selama kita tidak kebablasan, tidak keterusan. Dan ini sudah di-back up sama studi, kalau nggak salah dirilis tahun 2024. Studi itu menyebutkan sebetulnya saat kita menggunakan screen time sebelum tidur, kita kan nggak mungkin nontonnya begini kan (dekat sekali dengan mata, red),” kata Coach Vishal.

    “Dan pada malam hari umumnya kamar itu gelap, lampunya sudah dimatikan. Kalau misal takut kegelapan, kita pasang lampu tidur,” sambungnya.

    Hal ini membuat cahaya di ruangan tidak terlalu terang. Kalaupun cahaya dari handphone dianggap terlalu terang, maka tinggal diatur saja terkait tingkat kecerahannya.

    “Pada saat rasa ngantuk itu datang, yaudah terima saja nggak usah dilawan,” katanya.

    2. Mendengar Podcast

    Ritual lain yang bisa dilakukan adalah mendengar podcast atau siniar. Menurut Coach Visal, mendengar podcast bisa membantu tubuh menjadi lebih santai dan rasa kantuk cepat datang.

    3. Mengobrol

    Bisa juga dengan pillow talk atau percakapan intim, terbuka, dan santai yang dilakukan pasangan di atas tempat tidur, biasanya sebelum tidur.

    “Bisa ngobrol sama pasangan, kalau punya ya,” kata Coach Vishal.

    4. Journaling

    Journaling sebelum tidur adalah kebiasaan menulis untuk meredakan stres, menjernihkan pikiran, serta meningkatkan kualitas tidur dengan mencatat emosi, kekhawatiran, atau hal-hal yang disyukuri selama hari itu, sehingga membantu tidur lebih nyenyak.

    5. Mandi Air Hangat

    Menurut Coach Vishal, mandi air hangat sebelum tidur juga bisa dilakukan untuk mendapatkan tubuh yang rileks. Hal ini akan membantu seseorang untuk merasa nyaman dan tidur lebih cepat.

    6. Skincare

    Skincare-an sebelum tidur juga bisa dipilih sebagai ritual sebelum tidur atau menutup hari.

    “Hal-hal tersebut akan memberikan sinyal ke otak bahwa I am done for the day, mental cue lah di situ. Dan itu akan menyiapkan tubuh untuk, oke it’s time to relax.

    7. Slow Down

    Menurut Coach Vishal, ini merupakan tindakan paling krusial yang harus diperhatikan sebelum tidur, yakni slow down. Banyak orang yang mencoba tidur dengan keadaan tubuh belum sepenuhnya rileks.

    “Tubuh itu perlu cooling down dulu supaya akhirnya bisa tidur. Bisa dengan berdoa malam, meditasi bagi yang suka, mengatur napas. Banyak sekali tekniknya yang penting buat Anda itu rileks,” tutupnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Tidur Lebih Berkualitas, Hidup Lebih Produktif: Solusi Ilmiah untuk Generasi Sibuk”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

  • Video Anggaran MBG Januari Tembus Rp 855 M Per Hari, BGN: Nanti Naik di Mei

    Video Anggaran MBG Januari Tembus Rp 855 M Per Hari, BGN: Nanti Naik di Mei

    Jakarta

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menjangkau 55,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Besarnya cakupan ini membuat kebutuhan rantai pasok MBG semakin signifikan.

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut anggaran MBG pada Januari 2026 mencapai Rp 855 miliar per hari dan diproyeksikan naik menjadi Rp 1,2 triliun per hari pada Mei mendatang, dengan 70% dana digunakan untuk membeli bahan baku.

    “Di Januari hari ini kita mendistribusikan di seluruh Indonesia dan akan menggunakan uang kurang lebih Rp 855 miliar satu hari, per hari ini sampai kemudian naik nanti di Mei akan ada Rp 1,2 triliun per hari. Karena jumlah penerima manfaatnya terus naik,” ungkap Dadan Hindayana saat ditemui pada Kamis (8/1).

    “Dan ini 70% dari dana yang digunakan untuk membeli bahan baku dan bahan baku 95-99% berasal dari produk pertanian,” tambahnya.

    Klik di sini untuk video lainnya!

    (/)

    makan bergizi gratis anggaran makan bergizi gratis mbg badan gizi nasional dadan hindayana

  • Butuh Ketelitian Super, Pindahkan Batang Korek Ini agar Hitungannya Benar!

    Butuh Ketelitian Super, Pindahkan Batang Korek Ini agar Hitungannya Benar!

    Butuh Ketelitian Super, Pindahkan Batang Korek Ini agar Hitungannya Benar!

  • Pria Umur 35 Kena ‘Stroke Mata’, Hampir Buta gegara Main Game Semalaman

    Pria Umur 35 Kena ‘Stroke Mata’, Hampir Buta gegara Main Game Semalaman

    Jakarta

    Seorang pria di China hampir kehilangan penglihatannya setelah bermain game semalaman. Pria berusia 35 tahun itu mengalami gangguan penglihatan permanen pada mata kanan.

    Kejadian ini dialami Xiao Yan di Hangzhou, China. Ia mendadak mengalami penglihatan kabur parah pada mata kanannya setelah bermain game hingga jam 2-3 pagi waktu setempat.

    Awalnya, Yan mengira keluhan tersebut hanya karena kelelahan mata karena terlalu lama menatap layar. Ia pun mematikan komputer dan memilih tidur.

    Meski penglihatannya sempat membaik keesokan harinya, kondisi itu kembali memburuk pada malam berikutnya. Ia memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit Rakyat Pertama Hangzhou.

    Didiagnosis Alami Oklusi Arteria Retina Sentral

    Dokter kemudian mendiagnosis Yan mengalami oklusi arteria retina sentral atau central retinal artery occlusion (CRAO), yang kerap dikenal sebagai ‘stroke mata’. Kondisi ini terjadi akibat sumbatan pada arteri retina yang menyebabkan kehilangan penglihatan mendadak tanpa nyeri.

    Meski telah mendapatkan perawatan intensif, penglihatannya hanya pulih sebagian. Diketahui, Yan memiliki riwayat obesitas, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.

    Dikutip dari VNExpress, faktor-faktor ini secara signifikan meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah.

    Dokter mengungkapkan bahwa ‘golden hour’ penanganan CRAO hanya sekitar 90 menit sejak munculnya gejala. Karena Yan baru mencari pertolongan medis lebih dari 24 jam, kerusakan retina akibat iskemia berkepanjangan tidak bisa dihindari dan bersifat permanen.

    Menyoal ‘Stroke Mata’

    Kepala Departemen Oftalmologi, Yao Xiaolei, menjelaskan ‘stroke mata’ merupakan bentuk emboli vaskular akibat penyumbatan pada arteri atau vena retina sentral. Retina membutuhkan aliran darah dan oksigen yang stabil.

    Ketika terjadi sumbatan, kekurangan oksigen muncul dengan cepat dan memicu kehilangan penglihatan secara tiba-tiba. CRAO merupakan bentuk stroke mata yang paling akut dan berat, dengan gejala penurunan penglihatan mendadak tanpa rasa sakit, sering digambarkan seperti lapang pandang tertutup tirai hitam.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Video: Cara Kepala BGN Bikin Siswa Mau Makan Sayur: Kasih Reward RP 50 Ribu

    Video: Cara Kepala BGN Bikin Siswa Mau Makan Sayur: Kasih Reward RP 50 Ribu

    Video: Cara Kepala BGN Bikin Siswa Mau Makan Sayur: Kasih Reward RP 50 Ribu

  • 30 Tahun Berlalu, Kisah di Balik Foto MRI Hubungan Seks Pertama di Dunia Terungkap

    30 Tahun Berlalu, Kisah di Balik Foto MRI Hubungan Seks Pertama di Dunia Terungkap

    Jakarta

    Sebuah eksperimen ilmiah yang dilakukan lebih dari tiga dekade lalu kembali menjadi sorotan. Ini terkait pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) terhadap pasangan yang berhubungan seks di dalam mesin tersebut.

    Ternyata, hal ini mengubah pemahaman dunia medis tentang anatomi wanita dan mekanisme hubungan seksual.

    Eksperimen tersebut dilakukan pada 1991 oleh Ida Sabelis dan pasangannya, Jupp, atas permintaan ilmuwan asal Belanda Menko Victor ‘Pek’ van Andel. Tujuannya adalah mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh manusia saat berhubungan seks.

    Gambar yang dihasilkan dari pemindaian MRI itu menjadi yang pertama di dunia. Kemudian dipublikasikan dalam artikel ilmiah yang sangat populer di British Medical Journal (BMJ) pada 1999.

    Hingga kini, studi tersebut masih dibaca ribuan orang setiap bulannya.

    Sebuah eksperimen ilmiah yang dilakukan lebih dari tiga dekade kembali menjadi sorotan. Ini terkait apa yang terjadi selama pria dan wanita berhubungan seks. Foto: British Medical Journal (BMJ)

    Meski peristiwa itu terjadi lebih dari 30 tahun, Ida Sabelis baru-baru ini menceritakan pengalamannya secara mendalam di podcast ‘What Was It Like’. Ia mengaku tidak menyangka eksperimen tersebut akan menghasilkan temuan besar tentang tubuh wanita.

    “Ini adalah salah satu mesin MRI pertama yang pernah ada, jadi mengambil fotonya membutuhkan waktu,” kata Ida, dikutip dari News.com.au.

    “Ada perintah dari ruang kendali untuk tetap dalam posisi tersebut selama, entah berapa lama, satu menit. Jadi, dalam hal itu, ini sangat lucu,” sambungnya.

    Ida awalnya berencana menggunakan posisi misionaris. Tetapi, ukuran mesin MRI membuat hal itu tidak memungkinkan.

    “Jupp dan saya merangkak masuk ke dalam mesin itu dan mulai melakukannya. Itu bukan romantis, lebih seperti tindakan cinta dan pertunjukan,” tutur Ida.

    “Untungnya kami tidak mengalami klaustrofobia,” tambahnya.

    Alasan Ikut Eksperimen

    Ida sebelumnya juga menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam eksperimen tersebut didorong oleh latar belakangnya sebagai aktivis hak-hak perempuan. Ia ingin membantu memperluas pemahaman medis tentang tubuh wanita.

    “Saat saya melihat foto-foto itu, saya langsung berpikir ‘oh, begitulah kita cocok bersama’,” terangnya.

    Dalam penjelasannya, Ida mengaku melakukan hubungan fisik dalam posisi berpelukan, karena posisi misionaris menurutnya hampir tidak menimbulkan gairah.

    Sebelumnya, anatomi vagina kerap digambarkan lurus, termasuk dalam ilustrasi terkenal Leonardo da Vinci dari tahun 1492. Itu menunjukkan vagina sebagai silinder lurus.

    Namun, hasil MRI menunjukkan penis yang melengkung mengikuti tubuh wanita tanpa menimbulkan rasa sakit pada pria saat ereksi.

    Temuan ini kemudian menjadi dasar studi formal yang dilakukan Ida dan Pek antara 1991 hingga 1999, dan dipublikasikan di BMJ. Eksperimen lanjutan dilakukan dalam posisi misionaris dengan relawan berusia di atas 18 tahun yang dapat menghentikan eksperimen kapan saja.

    Meski dipublikasikan pada 24 Desember 1999, makalah tersebut menjadi salah satu ‘artikel paling populer sepanjang masa’ di BMJ. Bahkan mendapatkan penghargaan khusus pada peringatan 20 tahun jurnal tersebut tahun 2019.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)