Asah Otak
Daffa Ghazan – detikHealth
Sabtu, 20 Des 2025 17:05 WIB
Jakarta – Sekilas kedua gambar terlihat sama, tapi sebenarnya ada beberapa detail kecil yang berbeda. Coba perhatikan setiap sudut gambar dengan saksama sebelum menyerah!

Asah Otak
Daffa Ghazan – detikHealth
Sabtu, 20 Des 2025 17:05 WIB
Jakarta – Sekilas kedua gambar terlihat sama, tapi sebenarnya ada beberapa detail kecil yang berbeda. Coba perhatikan setiap sudut gambar dengan saksama sebelum menyerah!

Video: Efek Buruk Jika Anak di Lokasi Bencana Terus Makan Mi Instan

Jakarta –
Seorang wanita hamil di California, Amerika Serikat, harus menjalani operasi medis yang kompleks akibat kondisi yang dialaminya. Suze Lopez (41), warga Bakersfield, diketahui mengalami kehamilan ektopik, yakni kondisi ketika janin tumbuh di luar rahim, tepatnya di rongga perut.
Selain itu, Suze juga memiliki kista seberat 22 pon atau sekitar 9,97 kilogram di rongga perutnya. Tim dokter di Cedars-Sinai Medical Center harus melakukan prosedur yang tidak biasa, yakni melahirkan bayi sekaligus mengangkat kista tersebut dalam satu operasi.
Sebanyak 30 dokter terlibat dalam proses tersebut. Setelah, persalinan dan pengangkatan kista, Suze sempat mengalami perdarahan hebat, namun kondisinya berhasil distabilkan setelah mendapatkan transfusi 11 kantong darah.
Bayi yang diberi nama Ryu itu lahir dengan berat 8 pon (3,63 kg) langsung dipindahkan ke unit perawatan intensif neonatal. Mengingat Ryu tumbuh dalam kondisi kehamilan yang tidak normal, bayi tersebut tergolong sangat sehat.
“Saya benar-benar kagum dengan bayi kecil ini. Dia benar-benar melawan segala kemungkinan,” kata Dr Sara Dayanim, seorang neonatolog di Cedars-Sinai Guerin Children’s, dikutip dari Live Science, Selasa (16/12/2025).
Pasien Tak Sadar Tengah Hamil
Keberadaan Ryu baru diketahui ketika Suze dijadwalkan bakal menjalani operasi pengangkatan kista ovarium yang beratnya hampir 10 kg itu. Kista tersebut tidak bersifat kanker, tapi telah tumbuh selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya dioperasi.
Ia terbiasa mengalami menstruasi tidak teratur dan rasa tidak nyaman di perut, sehingga ia tidak menyangka hasil tes kehamilan pra-operasi akan positif. Ia bahkan sempat mengejutkan suaminya, Andrew, dengan kabar kehamilan tersebut.
Dalam sebuah pertandingan baseball, Suze mengalami nyeri perut hebat, hingga akhirnya mereka memutuskan pergi ke rumah sakit. Ketika diperiksa dokter, tekanan darah Suze sangat tinggi.
Dokter melakukan berbagai pemeriksaan termasuk MRI dan USG, dan dari situ terungkap Suze mengalami kehamilan ektopik abdominal yang sangat langka. Bayi itu begitu dekat dengan liver.
“Yang terjadi adalah bayi itu tumbuh di rongga perut, di belakang massa kista, sehingga mendorong organ-organ lain. Itulah sebabnya ia tidak menyadari bahwa dirinya hamil,” ungkap direktur medis bagian Persalinan serta Unit Perawatan Ibu dan Janin di Cedars-Sinai, Dr John Ozimek.
Halaman 2 dari 2
(avk/suc)

Jakarta –
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut ada sekitar 800 provinsi yang bakal mulai direvitalisasi di tiga provinsi. Pihaknya juga memastikan pemerintah akan meningkatkan layanan kesehatan berbasis komunitas terdampak bencana, tanpa perlu mendatangi RS di tengah keterbatasan akses.
“Puskesmas sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat di rumah-rumah, sehingga tidak perlu ke rumah sakit,” beber Budi, Jumat (19/12/2025).
Menkes memastikan pasca revitalisasi RS rampung, pemerintah akan mulai fokus di ratusan puskesmas yang terdampak.
Terpisah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Aceh menyatakan sebanyak 366 puskesmas yang tersebar di 18 dari 23 kabupaten kota terdampak bencana di provinsi tersebut sudah berfungsi.
“Sebanyak 366 puskesmas yang terdampak bencana sudah berfungsi melayani kesehatan masyarakat,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh Ferdiyus di Banda Aceh, Sabtu, dikutip dari Antara.
Sedangkan sebanyak 30 puskesmas lainnya, kata dia, belum dapat difungsikan karena ada yang tertimbun lumpur, rusak berat, dan lainnya akibat bencana.
“Puskesmas yang belum berfungsi tersebut tersebar di enam kabupaten kota yang terdampak parah akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi akhir November 2025,” kata.
Untuk rumah sakit pemerintah di wilayah bencana, Ferdiyus menyebutkan semua sudah berfungsi melayani masyarakat. Hanya saja rumah sakit di Kabupaten Aceh Tamiang berfungsi dengan kondisi terbatas.
“Beberapa peralatan medis di rumah sakit tersebut tidak bisa digunakan akibat banjir bandang. Namun, pelayan dasar di rumah sakit tersebut sudah berjalan,” kata Ferdiyus.
(naf/kna)

Jakarta –
Bagi Lilla Syifa (29), perempuan asal Surabaya yang kini berdomisili di Jakarta, tahun 2025 akan menjadi tahun yang mungkin tak akan ia lupakan. Ini karena dirinya didiagnosis mengidap diabetes 1,5 atau LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults) pada Juli lalu.
Menurut perempuan yang akrab dipanggil Cipa ini, ada beberapa faktor yang menurutnya menjadi pemicu munculnya penyakit diabetes pada dirinya, seperti kebiasaan mengonsumsi dessert manis, pola tidur yang buruk, manajemen stres yang kurang baik, dan kurangnya aktivitas fisik.
Pada saat pemeriksaan ke dokter, gula darah yang ditunjukkan adalah 356 mg/dl yang artinya ini sangat tidak normal dan merupakan kondisi hiperglikemia parah, yang mengindikasikan kemungkinan besar diabetes.
Sementara, pemeriksaan HbA1c milik Cipa adalah 11,5 persen. Dikutip dari laman Kemenkes, jumlah HbA1c normal adalah di bawah 5,7 persen.
Cipa ini bercerita bahwa diabetes yang diidapnya salah satu faktornya berawal dari dirinya yang suka sekali makan jajanan manis viral. Menurutnya, ini adalah bentuk ‘pelarian’ dari stres akibat pekerjaan.
“Aku nggak punya sama sekali keturunan diabetes dari keluarga. Jadi murni dari lifestyle, pola makan, pola tidur, terus juga pola mengelola stres gitu,” kata Cipa kepada detikcom, Jumat (19/12/2025).
“Aku tuh sering banget makan dessert. Jadi aku nyarinya yang manis, yang makanan-makanan viral, yang rame-rame gitu. Entah itu brownies, donat, matcha gitu-gitu,” sambungnya.
Setelah makan besar, seperti makan siang dan makan malam, Cipa sering sekali menutupnya dengan makanan penutup yang manis-manis.
“Aku tuh bisa dibilang 3 kali sehari bisa kali ya. Kayak sering banget, hampir setiap hari. Dan puncaknya itu di setahunan kemarin, 2024 sampai 2025 ini,” sambungnya.
Sebelum menjadi seorang full time content creator, Cipa bekerja sebagai seorang karyawan swasta di Jakarta. Tuntutan pekerjaan membuatnya kesuliatan mendapatkan durasi tidur yang ideal.
“Karena aku kerja, sering banget lembur kayak baru pulang itu jam 11 malam dan pasti pulang kerja nggak mungkin langsung tidur kan ya,” katanya.
“Nah itu terjadi setiap hari. Hampir setiap hari aku tidurnya. di atas jam 2 atau 3 pagi. Dan aku jam 8 pagi udah kerja lagi,” katanya.
Cipa mengakui bahwa sebelumnya dirinya termasuk orang yang jarang sekali berolahraga. Kalaupun ada olahraga, ia hanya melakukan sesi kardio ringan, seperti lari dan tenis.
“Dan itu pun cuman seminggu sekali. Jadi gula yang aku makan tidak punya tempat ‘persembunyian’ yaitu otot. Aku nggak punya massa otot kan, karena nggak pernah angkat beban,” katanya.
Halaman 2 dari 2
(dpy/up)

Jakarta –
Serangan jantung masih menjadi penyebab kematian utama di dunia. Di Inggris, setiap tiga menit satu orang meninggal akibat penyakit jantung.
Data British Heart Foundation mencatat, penyakit jantung koroner menewaskan sekitar 480 orang per hari atau lebih dari 170 ribu orang per tahun di negara tersebut. Namun, seorang dokter mengungkap fakta mengejutkan. Sebanyak 90 persen kasus serangan jantung ternyata berkaitan dengan satu kebiasaan pagi hari, dan itu bukan soal pola makan atau stres.
Dokter Sana Sadoxai, yang memiliki lebih dari 42 ribu pengikut di TikTok dan rutin membagikan edukasi medis, menjelaskan bahaya justru dimulai sejak seseorang bangun tidur, tetapi tetap pasif bergerak.
“Masalah sebenarnya dimulai saat bangun dan tetap diam,” beber dr Sana dalam videonya.
Ia menjelaskan, banyak orang memulai pagi dengan pola yang sama, bangun tidur, langsung bermain ponsel, duduk terlalu lama, lalu terburu-buru berangkat kerja. Kebiasaan ini membuat tubuh berada dalam kondisi minim gerak dan tinggi peradangan, yang secara perlahan merusak metabolisme.
Menurut dr Sana, rutinitas pagi yang pasif dapat mempercepat resistensi insulin, penumpukan lemak di perut, tekanan darah tinggi, peradangan kronis tanpa gejala, gangguan metabolik. Kondisi-kondisi tersebut sangat meningkatkan risiko serangan jantung dini, terutama pada individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Padahal, solusinya sangat sederhana.
“Cukup lima hingga tujuh menit bergerak di pagi hari, berjalan cepat, peregangan, atau latihan pernapasan, sudah mampu melancarkan sirkulasi, mengaktifkan metabolisme, menstabilkan gula darah, dan melindungi jantung,” jelasnya. Ia menekankan bahwa berat badan, metabolisme, dan kesehatan jantung saling berkaitan erat. Mengabaikan kebiasaan bergerak di pagi hari disebutnya sebagai ancaman senyap yang mematikan.
dr Sana juga mengingatkan, gejala seperti obesitas, lemak perut yang membandel, mudah lelah, sesak napas, hingga diabetes merupakan tanda peringatan dini gangguan metabolik yang tidak boleh diabaikan.
“Ambil kendali sebelum berubah menjadi risiko kardiovaskular,” tegasnya.
Unggahan tersebut memicu beragam respons warganet. Salah satu pengguna TikTok berkomentar, “Jadi bangun tidur lalu langsung buru-buru kerja itu perlahan membunuh kita.”
Netizen lain ikut merespons. “Saya bangun, minum teh dengan santai 30 menit, lalu bersiap kerja. Saran ini masuk akal.” Sementara itu, NHS Inggris menjelaskan serangan jantung atau myocardial infarction terjadi ketika aliran darah ke jantung terhambat, umumnya akibat bekuan darah.
Setiap tahun, sekitar 100 ribu orang dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung di Inggris, rata-rata satu kasus setiap lima menit. NHS menegaskan, siapa pun yang mengalami gejala serangan jantung harus segera menghubungi layanan darurat. Sambil menunggu ambulans, konsumsi aspirin 300 mg dapat membantu, selama pasien tidak alergi.
Untuk menurunkan risiko serangan jantung, masyarakat dianjurkan berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan rendah lemak dan tinggi serat, mengonsumsi buah dan sayur minimal lima porsi per hari, berolahraga aerobik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu. Dokter mengingatkan, perubahan kecil di pagi hari bisa berdampak besar bagi kesehatan jantung. Lima menit bergerak setelah bangun tidur disebut bisa menjadi perbedaan antara hidup sehat dan risiko serangan jantung di masa depan.
Halaman 2 dari 2
(naf/kna)

Jakarta –
Pasien dengan penyakit kronis seperti stroke, hipertensi, diabetes, hingga penyakit jantung di Aceh berisiko mengalami putus obat selama berada di pengungsian akibat terputusnya akses layanan kesehatan pascabencana. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya dan berpotensi memperburuk kondisi pasien.
Salah seorang dokter neurologi yang tergabung dalam tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Desin Pambudi Sejahtera, SpN(K) dari RS Dr Sardjito mengatakan, saat bencana terjadi, layanan kesehatan kerap tidak dapat diakses secara optimal. Akibatnya, pasien yang membutuhkan pengobatan rutin tidak mendapatkan obat sesuai jadwal.
“Ketika ada bencana, akses kesehatan terputus sehingga pasien-pasien dengan pengobatan rutin rawan putus obat. Contohnya pasien dengan stroke, risiko hipertensi, risiko gula, atau penyakit jantung. Maka mereka akan terputus obat rutinnya, dan itu sangat berbahaya sekali,” ujar dr Desin saat pelepasan relawan, di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Sabtu (20/12/2025).
Ia menyampaikan, Kemenkes bergerak cepat dengan mengerahkan tenaga kesehatan ke wilayah terdampak dan daerah-daerah terisolir untuk memastikan pelayanan medis tetap berjalan, terutama bagi pasien penyakit kronis.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur Kemenkes bergerak cepat mengajak kami bergabung dalam kegiatan ini untuk menuju daerah-daerah terisolir. Semoga bisa membantu saudara-saudara kita di Sumatera, khususnya Aceh,” lanjutnya.
Selain fokus pada penanganan fisik, tim relawan juga akan memberikan perhatian pada kondisi kesehatan mental penyintas bencana. Tenaga kesehatan akan melakukan edukasi serta pendataan kondisi psikologis korban di pengungsian.
“Persiapannya, kami akan mengedukasi dan mencatat apa yang kami temukan di sana. Apakah ada kecemasan, depresi, atau bahkan halusinasi. Jika ditemukan, kami akan berkoordinasi dengan dokter spesialis untuk penanganan dan pengobatannya,” sambungnya.
Beberapa perawat yang tergabung dalam tim akan melakukan trauma healing sebagai bagian dari penanganan awal bagi korban bencana. Upaya ini diharapkan dapat membantu pemulihan kondisi mental sekaligus mencegah dampak kesehatan jangka panjang di pengungsi.
Halaman 2 dari 2
(rfd/up)

Jakarta –
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali memberangkatkan relawan tenaga kesehatan untuk membantu penanganan korban bencana di Aceh pada Sabtu (20/12/2025). Pada tahap terbaru, sebanyak 126 relawan tenaga medis dan kesehatan dikirim ke sejumlah wilayah terdampak dengan kondisi medan berat.
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes RI, dr Yuli Farianti, M Epid menjelaskan, pengiriman relawan kesehatan sebenarnya sudah dilakukan sejak hari ketiga pascabencana. Namun, sebelumnya belum terkoordinasi secara terpusat seperti saat ini.
“Ini adalah tenaga medis dan tenaga kesehatan yang dengan tulus hati dan ikhlas ingin mengabdikan diri untuk melayani masyarakat, khususnya saat ini di Aceh,” ujar perwakilan Kemenkes saat pelepasan relawan, Yuli saat pelepasan relawan, di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Sabtu (20/12/2025).
Pengiriman relawan kesehatan sebenarnya sudah dilakukan sejak hari ketiga pasca bencana. Sebelumnya, Kemenkes telah memberangkatkan 70 tenaga kesehatan yang kini sudah berada di Aceh dan Medan. Namun, sebelumnya belum terkoordinasi secara terpusat seperti saat ini.
“Bukan hari ini saja kita mengirim. Sejak hari ketiga bencana, kita sudah mengirim banyak tenaga, hanya saja belum terkoordinir. Sekarang kita satukan agar lebih efektif,” katanya.
Sebanyak 126 relawan yang diberangkatkan terdiri dari berbagai profesi tenaga kesehatan, mulai dari dokter hingga tenaga pendukung layanan medis.
Adapun profesi yang tergabung dalam tim relawan ini meliputi:
Dokter spesialis mataDokter spesialis sarafDokter spesialis bedah sarafDokter spesialis anakDokter umumPerawatBidanPsikolog klinis dan psikiater, khususnya untuk layanan trauma healingTenaga laboratoriumRadiograferTenaga kesehatan lingkunganTenaga giziEpidemiolog dan tenaga kesehatan lainnya.
Para relawan berasal dari gabungan rumah sakit pusat, rumah sakit daerah, dan rumah sakit swasta. Beberapa di antaranya berasal dari RS Cicendo, RSUP Sardjito, RS Persahabatan, RS Marzoeki Mahdi, rumah sakit daerah, serta rumah sakit swasta seperti Siloam dan Hermina.
Distribusi Relawan ke Daerah Terdampak
Sebanyak 126 relawan ini akan ditempatkan di sejumlah wilayah terdampak berat dan daerah terisolir di Aceh. Beberapa lokasi penugasan bahkan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
“Ada daerah yang untuk masuk kesana harus jalan kaki sekitar 15 menit. Ini memang daerah-daerah berat,” ujarnya.
Daerah tujuan distribusi relawan meliputi:
Bener MeriahTakengonAceh TengahAceh UtaraAceh TimurGayo LuesAceh TamiangKota LangsaBireuenSejumlah wilayah pengungsian dan daerah terisolir lainnya
Relawan akan ditempatkan di berbagai fasilitas layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, hingga posko pengungsian. Khusus layanan trauma healing, psikolog klinis dan psikiater akan lebih banyak bertugas di titik-titik pengungsian.
Selain 126 relawan yang diberangkatkan hari ini, Kemenkes juga menyiapkan pengiriman relawan lanjutan. Pada hari berikutnya akan diberangkatkan sekitar 207 relawan, disusul 87 relawan pada tahap selanjutnya.
“Total sampai 22 Desember nanti sekitar 600 tenaga medis dan tenaga kesehatan akan kita berangkatkan,” sambungnya.
Distribusi relawan dilakukan secara merata sesuai kebutuhan di setiap daerah terdampak. Kemenkes memastikan tenaga medis dan obat-obatan telah disalurkan, sementara penguatan sumber daya manusia kesehatan terus dilakukan untuk mendukung layanan bagi warga terdampak bencana.
Halaman 2 dari 3
(rfd/up)

Jakarta –
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menemukan peredaran kopi ilegal dengan promosi kejantanan yang terbukti mengandung bahan kimia obat berbahaya dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius, mulai dari gagal ginjal hingga gagal jantung. Nama produk tersebut Kopi Jantan +++.
Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar menegaskan temuan tersebut menjadi bukti masih maraknya pangan olahan ilegal yang dipasarkan tanpa memenuhi ketentuan keamanan dan perizinan.
“Ini bentuk perlindungan negara kepada masyarakat. Produk yang dipromosikan sebagai pangan, bahkan diklaim untuk meningkatkan kejantanan, ternyata setelah diperiksa mengandung sildenafil sitrat, yaitu bahan obat kimia,” kata Taruna dalam konferensi pers, Jumat (19/12/2025).
Selain tidak berizin edar BPOM, produk tersebut juga tidak sesuai dengan peruntukannya sebagai pangan karena mengandung zat obat yang seharusnya hanya digunakan berdasarkan resep dan pengawasan medis.
“Ini bukan satu jenis saja. Ada berbagai tambahan, ada yang diklaim kopi, ada minuman, dan sebagainya. Harapannya, temuan ini bisa mencegah gangguan kesehatan dan keracunan di masyarakat,” ujarnya.
Taruna menjelaskan, konsumsi pangan yang tidak sesuai ketentuan memiliki sejumlah risiko kesehatan serius. Pertama, produk tidak memiliki izin edar sehingga tidak melalui uji keamanan. Kedua, produk kedaluwarsa. Ketiga, mengandung bahan berbahaya. Keempat, kondisi produk rusak.
Dalam kasus kopi Sijantan, risiko paling besar berasal dari kandungan sildenafil sitrat. Zat ini dikenal sebagai obat untuk gangguan ereksi, tetapi berbahaya jika dikonsumsi sembarangan, terlebih tanpa takaran dosis yang jelas.
“Produk ini dipromosikan sebagai minuman kuat khusus untuk lelaki, tidak punya izin edar, tidak sesuai peruntukan, dan mengandung sildenafil sitrat. Obat ini bisa menyebabkan gagal jantung bila dikonsumsi berlebihan,” tegas Taruna.
Ia menambahkan, karena tidak ada standar dosis dalam produk ilegal tersebut, konsumen tidak memiliki cara untuk mengukur batas aman konsumsi. Dampaknya bisa sangat fatal.
“Efeknya bisa menyebabkan gangguan kesehatan serius, mulai dari gagal ginjal, gagal jantung, bahkan kematian,” pungkasnya.
BPOM mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa izin edar, tanggal kedaluwarsa, serta kewaspadaan terhadap klaim berlebihan pada produk pangan dan minuman, khususnya yang menjanjikan efek instan terhadap stamina atau kejantanan.
(naf/naf)