Category: Detik.com Kesehatan

  • Viral Dexamethasone ‘Obat Dewa’, Bisa Begini Efeknya Jika Asal Dikonsumsi

    Viral Dexamethasone ‘Obat Dewa’, Bisa Begini Efeknya Jika Asal Dikonsumsi

    Jakarta

    Media sosial baru-baru ini diramaikan dengan sebutan ‘obat dewa’ untuk Dexamethasone karena efeknya yang cepat menyembuhkan berbagai keluhan. Namun, pakar farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Zullies Ikawati, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsinya.

    Prof Zullies mengatakan dexamethasone termasuk obat keras golongan kortikosteroid dengan fungsi yang sangat spesifik, yakni menekan peradangan dan respons imun tubuh.

    “Obat ini bekerja seperti hormon alami tubuh yang mengatur banyak sistem sekaligus, jadi memang efeknya luas,” ujarnya kepada detikcom ditulis Minggu (21/12/2025).

    Karena termasuk obat keras, dexamethasone tidak boleh dibeli bebas dan harus di bawah pengawasan dokter. Efek instan yang diberikan dexamethasone seperti meredakan pegal dan nyeri dalam waktu cepat membuat obat ini kerap dikonsumsi secara sembarangan.

    Padahal, konsumsi dexamethasone tanpa resep dan pengawasan dokter bisa memunculkan risiko serius pada tubuh. Mulai dari penurunan tekanan darah dan gula darah, gangguan lambung sampai pengeroposan tulang.

    “Obat ini tidak untuk pemakaian jangka panjang dan tanpa kontrol ya, dan tidak boleh digunakan hanya karena capek atau biar badan enak,” tegas Prof Zullies.

    @detikhealth_official Dexamethasone si “Obat Dewa”, tapi katanya juga jadi “Penyihir” buat tubuh. Di tangan yang tepat, ia mampu meredakan peradangan berat dan menyelamatkan kondisi kritis. Tapi jika digunakan sembarangan, efek sampingnya bisa perlahan “menyihir” tubuh. Share video ini ke orang terdekat biar mereka lebih berhati-hati ya!🥹 #dexamethasone #obatdewa #efekdexamethasone #moonface #detikhealth ♬ original sound – detikHealth

    (kna/kna)

  • Viral Dexamethasone ‘Obat Dewa’, Bisa Begini Efeknya Jika Asal Dikonsumsi

    Viral Dexamethasone ‘Obat Dewa’, Bisa Begini Efeknya Jika Asal Dikonsumsi

    Jakarta

    Media sosial baru-baru ini diramaikan dengan sebutan ‘obat dewa’ untuk Dexamethasone karena efeknya yang cepat menyembuhkan berbagai keluhan. Namun, pakar farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Zullies Ikawati, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsinya.

    Prof Zullies mengatakan dexamethasone termasuk obat keras golongan kortikosteroid dengan fungsi yang sangat spesifik, yakni menekan peradangan dan respons imun tubuh.

    “Obat ini bekerja seperti hormon alami tubuh yang mengatur banyak sistem sekaligus, jadi memang efeknya luas,” ujarnya kepada detikcom ditulis Minggu (21/12/2025).

    Karena termasuk obat keras, dexamethasone tidak boleh dibeli bebas dan harus di bawah pengawasan dokter. Efek instan yang diberikan dexamethasone seperti meredakan pegal dan nyeri dalam waktu cepat membuat obat ini kerap dikonsumsi secara sembarangan.

    Padahal, konsumsi dexamethasone tanpa resep dan pengawasan dokter bisa memunculkan risiko serius pada tubuh. Mulai dari penurunan tekanan darah dan gula darah, gangguan lambung sampai pengeroposan tulang.

    “Obat ini tidak untuk pemakaian jangka panjang dan tanpa kontrol ya, dan tidak boleh digunakan hanya karena capek atau biar badan enak,” tegas Prof Zullies.

    @detikhealth_official Dexamethasone si “Obat Dewa”, tapi katanya juga jadi “Penyihir” buat tubuh. Di tangan yang tepat, ia mampu meredakan peradangan berat dan menyelamatkan kondisi kritis. Tapi jika digunakan sembarangan, efek sampingnya bisa perlahan “menyihir” tubuh. Share video ini ke orang terdekat biar mereka lebih berhati-hati ya!🥹 #dexamethasone #obatdewa #efekdexamethasone #moonface #detikhealth ♬ original sound – detikHealth

    (kna/kna)

  • Wanti-wanti Dokter Bagi yang Hobi Minum Es Teh Sehabis Makan

    Wanti-wanti Dokter Bagi yang Hobi Minum Es Teh Sehabis Makan

    Jakarta

    Minum es teh setelah makan sudah menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia. Ini karena rasanya segar dan dianggap bisa membantu ‘membersihkan’ mulut setelah menyantap makanan berat.

    “Es teh adalah kenikmatan yg hakiki dok,” tulis salah satu akun di TikTok.

    “ya Allah es teh itu enak bgt loh,” tulis lainnya.

    Namun, spesialis gizi klinik, Dr dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK dari RS St Carolus Salemba mewanti-wanti terkait kebiasaan ini. Pasalnya, minum es teh sebelum makan bisa berdampak buruk bagi sebagian orang.

    “Kalau teh itu dia banyak menghambat zat mineral. Contohnya dia bisa menghambat zat besi,” kata dr Yohannessa kepada detikcom, Kamis (18/12/2025).

    “Kalau misalnya orang itu butuh zat besi dalam tubuhnya, tentunya dia nggak disarankan minum teh dengan misalnya tadi ayam, bakso gitu,” sambungnya.

    Teh menghambat penyerapan zat besi karena mengandung senyawa tanin dan polifenol yang dapat mengikat zat besi non-heme (dari tumbuhan), membuatnya sulit diserap tubuh dan berpotensi meningkatkan risiko anemia defisiensi besi, terutama jika diminum bersamaan dengan waktu makan.

    Selain itu, kandungan gula pada es teh manis juga bisa menjadi masalah lain menurut dr Yohannessa.

    “Terus berikutnya adalah kalau misalnya tehnya manis. Tentunya kita nambah lagi kan gula yang masuk dalam tubuh. Kita sudah sepakat bahwa sebelumnya tadi kalau bisa mengurangi gula tambahan,” katanya.

    dr Yohannessa juga mengingatkan terkait perbedaan suhu antara makanan dan minuman yang juga bisa berdampak pada mulut.

    “Karena kalau misalnya ada perbedaan suhu yang jauh misalnya tadinya panas sekali di dalam mulut kita. Kemudian langsung berbeda dengan suhu yang dingin sekali. Tentunya sel-sel di mulut kita atau di tenggorokan juga butuh adaptasi,” katanya.

    “Jadi memang kalau misalnya mau yang disarankan justru suhu yang biasa aja dalam konsumsi air setelah makan yang panas,” tutupnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Kenali Pentingnya Zat Besi untuk Kesehatan Ibu dan Anak”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

  • Kronologi Wanita Surabaya Idap Diabetes di Usia 29 Tahun, Sempat Koma 12 Hari

    Kronologi Wanita Surabaya Idap Diabetes di Usia 29 Tahun, Sempat Koma 12 Hari

    Jakarta

    Lilla Syifa (29) perempuan asal Surabaya, Jawa Timur didiagnosis mengidap diabetes tipe 1,5 atau atau LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults). Menurut dokter yang menanganinya, penyakit ini ‘datang’ karena gaya hidupnya yang tidak sehat.

    Perempuan yang akrab dipanggil Cipa tersebut bercerita bahwa dirinya suka sekali mengonsumsi makanan dan minuman manis setiap harinya seperti jajanan viral, matcha, dan sebagainya. Ditambah, ia juga termasuk orang yang jarang olahraga dan memiliki pola tidur yang buruk alias suka begadang.

    Pada saat pemeriksaan ke dokter, gula darah yang ditunjukkan adalah 356 mg/dl yang artinya ini sangat tidak normal dan merupakan kondisi hiperglikemia parah, yang mengindikasikan kemungkinan besar diabetes.

    Sementara, pemeriksaan HbA1c milik Cipa adalah 11,5 persen. Dikutip dari laman Kemenkes, jumlah HbA1c normal adalah di bawah 5,7 persen.

    Berawal dari Gejala Tidak Jelas

    Menurut Cipa, sebelum dirinya mengetahui adaya kondisi diabetes, ada beberapa gejala yang sebelumnya muncul di bulan Mei atau Juni 2025.

    Sayangnya, tanda-tanda ini dianggap Cipa ‘tidak jelas’. Butuh waktu cukup lama baginya untuk menyadari bahwa ada masalah gula di dalam tubuhnya.

    Salah satu gejala yang dirasakan Cipa adalah kram kaki yang baginya dianggap sebagai dampak dari hal lain, seperti efek dari lelah menggunakan sepatu hak tinggi.

    “Sekitar Mei atau Juni 2025, aku tuh sering kram kaki kayak di betis atau kayak di jari kaki yang tiba-tiba kayak melengkung gitu. Aku pertama nggak nyadar, mungkin karena sepatu nggak enak karena pakai heels terus ya,” kata Cipa kepada detikcom, Jumat (19/12/2025).

    Gejala lain yang dirasakannya adalah rasa haus ekstrem (polidipsia). Padahal, Cipa mengaku sudah minum cukup banyak air.

    “Aku gampang banget haus padahal minumku banyak banget. Bahkan bibir itu sampai bener-bener kering. Keringnya sampai orang-orang notice ya, sampai ngelopek semua,” katanya.

    “Jadi sempet naik ojol, lagi macet-macetan dan air yang aku bawa itu habis. Bener-bener yang kelabakan cari air. Haus banget, dahaga kayak di padang gurun,” sambungnya.

    Tanda-tanda lain yang muncul pada kondisi Cipa adalah poliuria atau sering kencing. Disebabkan oleh kadar gula tinggi membuat ginjal bekerja ekstra menyaring dan membuang glukosa berlebih melalui urine, yang menarik banyak cairan tubuh sehingga volume urine meningkat drastis.

    “Sehari tuh banyak banget deh. Kayak 10 menit udah pipis lagi. Nah dari situ aku mulai nyadarnya. Kepala juga kayak keliyengan gitu, pusing banget, lemas, lunglai,” katanya.

    Faktor Pemicu Diabetes LADA

    Cipa ini bercerita bahwa diabetes yang diidapnya salah satu faktornya berawal dari dirinya yang suka sekali makan jajanan manis viral. Menurutnya, ini adalah bentuk ‘pelarian’ dari stres akibat pekerjaan.

    “Aku tuh sering banget makan dessert. Jadi aku nyarinya yang manis, yang makanan-makanan viral, yang rame-rame gitu. Entah itu brownies, donat, matcha gitu-gitu,” katanya.

    “Aku tuh bisa dibilang 3 kali sehari bisa kali ya. Kayak sering banget, hampir setiap hari. Dan puncaknya itu di setahunan kemarin, 2024 sampai 2025 ini,” sambungnya.

    Selain itu, pola tidur yang buruk juga dianggapnya menjadi salah satu faktor dari diabetes tersebut.

    “Karena aku kerja, sering banget lembur kayak baru pulang itu jam 11 malam dan pasti pulang kerja nggak mungkin langsung tidur kan ya,” katanya.

    “Nah itu terjadi setiap hari. Hampir setiap hari aku tidurnya. di atas jam 2 atau 3 pagi. Dan aku jam 8 pagi udah kerja lagi,” sambungnya.

    Cipa mengakui bahwa sebelumnya dirinya termasuk orang yang jarang sekali berolahraga. Kalaupun ada olahraga, ia hanya melakukan sesi kardio ringan, seperti lari dan tenis.

    “Dan itu pun cuman seminggu sekali. Jadi gula yang aku makan tidak punya tempat ‘persembunyian’ yaitu otot. Aku nggak punya massa otot kan, karena nggak pernah angkat beban,” katanya.

    Sempat Nge-drop hingga Koma

    Diabetes yang diidap Cipa membuatnya harus mendapatkan perawatan intensif dari dokter.

    “Sekitar tanggal 17 Agustus malam, aku hilang kesadaran kurang lebih 12 hari kalau nggak salah. Akhirnya aku masuk ICU, sampai infus aku ditaruh ke leher. Aku akhirnya pasang ventilator,” katanya.

    “Kayak makan aku dari hidung, pokoknya semua aku pasang alat,” sambungnya.

    Saat itu, dokter juga menyuruh untuk Cipa melakukan cuci darah (hemodialisis) karena fungsi ginjalnya yang hanya 10 persen dan fungsi pankreas juga menurun.

    Namun, cuci darah itu tidak dilakukan. Hal ini karena fungsi ginjalnya perlahan mulai membaik dari waktu ke waktu.

    “Udah keracunan gula gitu ya. Waktu itu dokter bilang aku ada kemungkinan hilang ingatan, kemungkinan hilang kemampuan motorik,” katanya.

    “Karena bener-bener, itu kan udah komplikasi ya bukan sekadar nurunin makan gula doang, udah kena ke organ-organ lainnya. Gulanya merusak organ lainnya,” sambungnya.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: Kenali Tanda-tanda Gejala Diabetes di Pagi Hari”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

  • Siapkan 3 Tenda Ini saat Terjadi Bencana

    Siapkan 3 Tenda Ini saat Terjadi Bencana

    dr. Tan Shot Yen menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini dalam menghadapi bencana. Salah satu langkah krusial adalah menyiapkan tiga jenis tenda yang memiliki fungsi berbeda.

    Ketiga tenda tersebut berperan sebagai dapur umum, tenda PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak), dan tenda ramah anak. dr Tan menilai, dengan adanya ketiga tenda itu dapat meminimalisir kurangnya stok pangan, hingga adanya keberlangsungan hidup anak dan ibu menyusui.

  • Dilema ‘Ngepush Vs Jantung Kolaps’, Ini Kata Peraih Emas SEA Games Odekta Naibaho

    Dilema ‘Ngepush Vs Jantung Kolaps’, Ini Kata Peraih Emas SEA Games Odekta Naibaho

    Jakarta

    Tren lari jarak jauh makin digemari terutama di kalangan anak muda. Slogan ‘push your limit’ kerap digaungkan sebagai motivasi untuk terus meningkatkan performa.

    Namun di balik semangat tersebut, muncul dilema: sampai sejauh mana batas tubuh boleh dipaksa?

    Saat ditanya mengenai hal ini, pelari nasional yang baru-baru ini menyabet emas di SEA Games Thailand 2025, Odekta Elvina Naibaho mengatakan bahwa ‘push your limit’ sebenarnya hanya cocok untuk para atlet, bukan pelari rekreasional.

    “Push your limit itu saya kira itu cocok buat atlet, buat yang pemula itu kurang saya kira. Karena mereka kan masih memulai,” kata Odekta usai acara detikPagi, Kamis (18/12/2025).

    Bukan tanpa alasan, menurut Odekta para pelari pemula memang tidak bisa langsung memaksakan untuk mendapatkan pace kecil. Padahal, ini harus diseuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

    “Jadi kalau di-push yang ada kolaps. Jadi kenali lah apa tujuan kamu berlari. Apakah buat sehat? Apakah buat gengsian? Untuk pengakuan validasi kah?” tegas Odekta.

    Beradu saling cepat untuk para pelari pemula, menurut Odekta memiliki risiko yang cukup besar, sehingga dirinya mendorong untuk berlari demi kesehatan dan umur panjang.

    “Lari itu bukan untuk nunjukin validasi buat orang lain. Buat kesehatan, bisa hidup lebih lama lagi, hidup lebih sehat. Itu mindset yang harus diubah,” katanya.

    “Jangan karena nge-push waktu, setiap lomba harus PB (personal best, red). Nggak bisa, kita pun ada up and down-nya,” sambungnya.

    (dpy/up)

  • Video: Ahli Minta Utamakan Bantuan Makanan Retort untuk Pengungsi di Sumatera

    Video: Ahli Minta Utamakan Bantuan Makanan Retort untuk Pengungsi di Sumatera

    Video: Ahli Minta Utamakan Bantuan Makanan Retort untuk Pengungsi di Sumatera

  • KemenPPPA Soroti Kebutuhan Trauma Korban Pascabencana, Ibu-ibu Belum Terima Kehilangan Rumah

    KemenPPPA Soroti Kebutuhan Trauma Korban Pascabencana, Ibu-ibu Belum Terima Kehilangan Rumah

    Jakarta

    Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mengungkap banyak ibu-ibu yang membutuhkan trauma healing pascabencana. Tidak sedikit dari mereka yang masih belum bisa menerima kenyataan.

    Menteri PPPA Arifah Fauzi menegaskan trauma healing sebenarnya sudah dilakukan sejak 1 Desember.

    “Banyak ibu-ibu masih nggak percaya rumahnya itu sudah tidak ada, ini pendekatan yang dilakukan kami KemenPPPA, memberikan trauma healing,” beber Arifah dalam temu media, Sabtu (20/12/2025).

    “Kedua kami memprioritaskan kebutuhan fisik untuk perempuan dan anak, susu pampers, pakaian dalam. Karena rata-rata yang ada di situ hanya pakaian yang melekat pada saat mereka menyelamatkan diri,” lanjutnya.

    Pihaknya menyebut akses menuju wilayah terdampak bencana relatif masih sulit utamanya di Aceh. Karenanya, KemenPPPA disebut bekerja sama dengan sejumlah ormas untuk memastikan bantuan yang diberikan sampai pada korban bencana.

    “Cerita menurut mereka yang diberikan tanggung jawab distribusi ke sana, berangkat dari banda Aceh jam 3 sore, jam 10 pagi baru sampai, kondisinya masih seperti itu,” katanya.

    “Yang dibutuhkan masih seputar air bersih,” lanjutnya.

    KemenPPPA memastikan akan terus berkoordinasi lebih lanjut dengan kementerian lain. Pihaknya juga membuka galang donasi di internal dan diberikan dalam bentuk dana, agar bisa dialokasikan sesuai kebutuhan di tempat pengungsian.

    Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, juga perempuan masih menjadi korban paling terdampak di wilayah bencana Aceh.

    (naf/up)

  • Viral Minum Air Es usai Makan Berlemak Bikin Gampang Gendut, Dokter Gizi Buka Suara

    Viral Minum Air Es usai Makan Berlemak Bikin Gampang Gendut, Dokter Gizi Buka Suara

    Jakarta

    Di media sosial, muncul klaim minum air es setelah mengonsumsi makanan berlemak seperti bakso bisa bikin tubuh cepat gemuk. Menurut klaim tersebut, ini karena lemak akan ‘menggumpal’ dan menumpuk.

    “Sebenarnya air es bukannya nambah gemuk, tapi es membuat lemak yg ada di tubuh jd mengental dan susah untuk di bakar kalorinya, biasanya bikin perut DADUT,” tulis narasi di TikTok.

    “Meminum air dingin setelah makan berlemak bisa membuat lemak menumpuk di tubuh,” tulis narasi lain.

    Spesialis gizi klinik, Dr dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK dari RS St Carolus Salemba mengatakan ini adalah anggapan yang keliru dan sayangnya masih tersebar di masyarakat.

    “Gini, kalau misalnya air es itu dikonsumsi sama manusia, kita tuh punya mekanisme untuk ibaratnya adalah menetralkan suhu gitu. Begitu dia masuk ke dalam lambung atau perut, di dalam lambung itu dia sangat hebat gitu. Kita itu manusia ciptaan Tuhan yang hebat,” kata dr Yohannessa, Kamis (18/12/2025).

    “Jadi kalau misalnya bilang bahwa kalau minum es terus kemudian lemak di dalam perutnya akan menggumpal itu mitos,” sambungnya.

    Menurut dr Yohannessa, anggapan ini mungkin terjadi karena banyak masyarakat yang melihat adanya lemak yang menggumpal ketika ditempelkan ke es batu.

    “Jadi apa yang terlihat di mata misalnya di suhu ruang mungkin orang menganggapnya bahwa itu sama terjadi di dalam diri manusia,” katanya.

    Namun, ‘air es’ yang manis, lanjut dr Yohannessa memang dapat membuat tubuh menjadi lebih gemuk. Ini lebih kepada efek dari gulanya.

    “Tapi kalau air esnya itu air es gula sirup, ya tentunya bisa bikin gemuk,” katanya.

    (dpy/up)

  • Cerita Wanita Surabaya Tak Sadar Kena Diabetes di Usia 29, Doyan Jajanan Viral

    Cerita Wanita Surabaya Tak Sadar Kena Diabetes di Usia 29, Doyan Jajanan Viral

    Jakarta

    Wanita di Surabaya bernama Lilla Syifa (29) didiagnosis mengidap diabetes 1,5 atau LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults). Hal ini diakuinya karena pola hidup yang kurang sehat.

    Perempuan yang akrab dipanggil Cipa tersebut bercerita bahwa dirinya suka sekali mengonsumsi makanan dan minuman manis setiap harinya seperti jajanan viral, matcha, dan sebagainya. Ditambah, ia juga termasuk orang yang jarang olahraga dan memiliki pola tidur yang buruk alias suka begadang.

    Menurut Cipa, sebelum dirinya mengetahui adaya kondisi diabetes, ada beberapa gejala yang sebelumnya muncul. Sayangnya, tanda-tanda ini dianggap Cipa ‘tidak jelas’. Butuh waktu cukup lama baginya untuk menyadari bahwa ada masalah gula di dalam tubuhnya.

    Kram Kaki

    Salah satu gejala yang dirasakan Cipa adalah kram kaki yang baginya dianggap sebagai dampak dari hal lain, seperti efek dari lelah menggunakan sepatu hak tinggi.

    “Sekitar Mei atau Juni 2025, aku tuh sering kram kaki kayak di betis atau kayak di jari kaki yang tiba-tiba kayak melengkung gitu. Aku pertama nggak nyadar, mungkin karena sepatu nggak enak karena pakai heels terus ya,” kata Cipa kepada detikcom, Jumat (19/12/2025).

    Mudah Haus

    Gejala lain yang dirasakannya adalah rasa haus ekstrem (polidipsia). Padahal, Cipa mengaku sudah minum cukup banyak air.

    “Aku gampang banget haus padahal minumku banyak banget. Bahkan bibir itu sampai bener-bener kering. Keringnya sampai orang-orang notice ya, sampai ngelopek semua,” katanya.

    “Jadi sempet naik ojol, lagi macet-macetan dan air yang aku bawa itu habis. Bener-bener yang kelabakan cari air. Haus banget, dahaga kayak di padang gurun,” sambungnya.

    Sering Buang Air Kecil

    Tanda-tanda lain yang muncul pada kondisi Cipa adalah poliuria atau sering kencing. Disebabkan oleh kadar gula tinggi membuat ginjal bekerja ekstra menyaring dan membuang glukosa berlebih melalui urine, yang menarik banyak cairan tubuh sehingga volume urine meningkat drastis.

    “Sehari tuh banyak banget deh. Kayak 10 menit udah pipis lagi. Nah dari situ aku mulai nyadarnya. Kepala juga kayak keliyengan gitu, pusing banget, lemas, lunglai,” katanya.

    Sempat Nge-drop hingga Koma

    Diabetes yang diidap Cipa membuatnya harus mendapatkan perawatan intensif dari dokter. Gula darah 356 mg/dl dan jumlah HbA1c (Hemoglobin A1c) 11,5 persen membuatnya mengalami koma dan harus dirawat di ICU.

    “Sekitar tanggal 17 Agustus malam, aku hilang kesadaran kurang lebih 12 hari kalau nggak salah. Akhirnya aku masuk ICU, sampai infus aku ditaruh ke leher. Aku akhirnya pasang ventilator,” katanya.

    “Kayak makan aku dari hidung, pokoknya semua aku pasang alat,” sambungnya.

    Saat itu, dokter juga menyuruh untuk Cipa melakukan cuci darah (hemodialisis) karena fungsi ginjalnya yang hanya 10 persen dan fungsi pankreas juga menurun. Namun, cuci darah tersebut tidak dilakukan, karena fungsi ginjal Cipa perlahan mulai membaik.

    “Udah keracunan gula gitu ya. Waktu itu dokter bilang aku ada kemungkinan hilang ingatan, kemungkinan hilang kemampuan motorik,” katanya.

    “Karena bener-bener, itu kan udah komplikasi ya bukan sekadar nurunin makan gula doang, udah kena ke organ-organ lainnya. Gulanya merusak organ lainnya,” sambungnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Kenali Tanda-tanda Gejala Diabetes di Pagi Hari”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/naf)