Category: Detik.com Kesehatan

  • Gadis Umur 24 Kena Kanker Stadium 3, Abaikan Gejala karena Merasa Masih Muda

    Gadis Umur 24 Kena Kanker Stadium 3, Abaikan Gejala karena Merasa Masih Muda

    Jakarta

    Di usia 24 tahun, Paige Seifert seharusnya sedang menikmati masa mudanya sebagai seorang insinyur sukses di Denver, Colorado. Namun, hidupnya berubah drastis setelah ia didiagnosis kanker usus (kolorektal) stadium tiga.

    Kini, di usia 25 tahun dan telah dinyatakan bebas kanker, Paige membagikan kisahnya untuk memperingatkan orang lain agar tidak membuat kesalahan yang sama, mengabaikan gejala awal.

    Kisah Paige menjadi pengingat di tengah meningkatnya kasus kanker usus secara tajam pada orang-orang di bawah usia 50 tahun (Gen Z dan Milenial), sebuah tren yang kini sedang diwaspadai oleh para ahli medis secara global.

    Tiga Gejala yang Diabaikan

    Paige mengungkapkan ada tiga tanda peringatan yang awalnya ia abaikan karena merasa dirinya masih muda dan sehat. Pertama, dia mengira darah di BAB-nya hanya wasir atau ambeien.

    Bahkan, dokter yang ia kunjungi dua kali juga sepakat bahwa ia “terlalu muda” untuk terkena kanker dan mendiagnosisnya sebagai wasir.

    Kedua, ia merasakan kram, mual, dan rasa tidak nyaman yang datang tiba-tiba. Dokter menjelaskan bahwa nyeri ini bisa terjadi ketika tumor mulai menyumbat sebagian saluran usus.

    Terakhir, dia mengalami kelelahan ekstrem. Paige sempat mengira rasa lelahnya hanya karena kurang tidur atau beban kerja. Namun, secara medis, kelelahan ini sering dipicu oleh anemia akibat kehilangan darah yang tidak disadari dari tumor yang berdarah.

    Kena Kanker Usus Stadium 3

    Setelah merasa ada yang “tidak beres” dengan tubuhnya, Paige memutuskan menemui dokter spesialis gastroenterologi pada Januari 2025. Hasil kolonoskopi menunjukkan adanya massa besar di kolonnya.

    “Pikiran saya langsung melayang: ‘Apakah saya akan mati?’ Itu adalah perasaan yang sangat mengerikan,” kenang Paige saat pertama kali mendengar diagnosis kankernya.

    Kanker Paige telah mencapai stadium tiga, yang berarti sel kanker sudah mulai menyebar ke luar usus. Secara statistik, tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk stadium satu adalah 90 persen, namun angka tersebut turun menjadi 65 persen pada stadium tiga, dan merosot tajam hingga 10 persen jika sudah mencapai stadium empat.

    Setelah melewati 12 sesi kemoterapi yang melelahkan dan operasi besar, Paige kini dalam masa remisi. Lewat video TikTok-nya, ia berpesan kepada anak muda untuk tidak ragu memeriksakan diri jika merasakan perubahan kebiasaan buang air besar, penurunan berat badan tanpa sebab, atau feses yang berbentuk tipis seperti pensil.

    “Jangan remehkan gejala apapun. Jika Anda merasa ada yang salah, segera cek. Itu bisa menyelamatkan hidup Anda,” tegasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Konsumsi Yogurt Dapat Turunkan Risiko Kanker Usus”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Kemenkes Benahi 800 Puskesmas Terdampak Banjir di Aceh-Sumut-Sumbar

    Kemenkes Benahi 800 Puskesmas Terdampak Banjir di Aceh-Sumut-Sumbar

    Jakarta

    Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas. Hal ini dilakukan dengan merevitalisasi ratusan puskesmas di wilayah yang terdampak bencana.

    Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat, termasuk pengungsi dan kelompok rentan, tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan pascabencana.

    Dalam kunjungannya meninjau lokasi bencana di Bener Meriah, Aceh, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa puskesmas memiliki peran yang krusial sebagai garda terdepan layanan kesehatan. Terutama untuk menjangkau masyarakat yang berada di pengungsian, maupun daerah yang terisolasi.

    “Puskesmas sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat di rumah-rumah dan pengungsian, sehingga tidak perlu semuanya dirujuk ke rumah sakit,” tutur Menkes dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (21/12/2025).

    Menkes mengungkapkan setelah proses pemulihan dan revitalisasi rumah sakit di wilayah terdampak berjalan, pemerintah akan mengalihkan fokus pada penguatan layanan kesehatan primer. Revitalisasi akan berfokus pada tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

    Penguatan puskesmas ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dasar di lokasi pengungsian. Khususnya bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

    “Sekarang kami mulai merevitalisasi sekitar 800 puskesmas di tiga provinsi, agar pelayanan kesehatan tetap dekat dengan masyarakat,” kata Menkes.

    “Kita ingin memastikan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat, terutama mereka yang paling rentan,” sambungnya.

    Selain itu, Menkes juga menyoroti tantangan di wilayah yang masih terisolasi dan risiko hambatan layanan kesehatannya relatif lebih tinggi. Maka dari itu, pemerintah pusat turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi aktual, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan dukungan.

    “Saya ingin melihat langsung bagaimana operasionalnya dan apa saja yang bisa dibantu oleh pemerintah pusat,” tegasnya.

    Selain layanan kesehatan, Kemenkes juga menyiapkan dukungan lainnya, seperti penyediaan listrik cadangan dan air bersih. Mereka juga menyediakan penguatan akses komunikasi untuk menunjang operasional puskesmas dan keselamatan masyarakat di pengungsian.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Pria Alami Nasib Sial, Niat Operasi Kantong Empedu Endingnya Divasektomi

    Pria Alami Nasib Sial, Niat Operasi Kantong Empedu Endingnya Divasektomi

    Jakarta

    Seorang pria asal Argentina, Jorge Baseto (41), mengalami mimpi buruk medis yang sulit dipercaya. Datang ke rumah sakit untuk menjalani operasi pengangkatan kantong empedu, ia justru terbangun dalam kondisi sudah divasektomi, sebuah prosedur sterilisasi pria yang membuatnya tidak bisa lagi memiliki keturunan secara alami.

    Skandal malapraktik di Rumah Sakit Provinsi Florencio Díaz, Cordoba, ini kini menjadi pembicaraan hangat di seluruh Argentina setelah detail kelalaian staf medis terungkap ke publik.

    Diberitakan Oddity Central, bencana ini bermula dari hal sepele. Operasi kantong empedu Jorge awalnya dijadwalkan pada hari Selasa, namun harus diundur ke hari Rabu. Malangnya, di rumah sakit tersebut, hari Rabu adalah jadwal rutin untuk prosedur vasektomi.

    Tanpa mengecek papan nama atau rekam medis pasien, staf rumah sakit langsung membawa Jorge ke ruang operasi. Tim dokter yang bertugas pun melakukan kesalahan fatal serupa: mereka langsung melakukan vasektomi tanpa memeriksa grafik pasien yang sebenarnya sudah mencantumkan kata “Gallbladder” (Kantong Empedu) di setiap lembarnya.

    Jorge baru menyadari nasib malangnya saat seorang dokter datang untuk memeriksa kondisinya setelah sadar dari bius. Ekspresi kaget dokter saat melihat rekam medis Jorge menjadi tanda pertama bahwa ada sesuatu yang salah.

    “Sangat aneh karena di rekam medis saya tertulis ’empedu’ di mana-mana. Mereka hanya perlu membacanya, tidak perlu menjadi ilmuwan untuk memahaminya,” ujar Jorge dengan nada kecewa kepada media lokal El Doce.

    Rumah Sakit Dianggap Meremehkan

    Yang membuat Jorge semakin geram adalah sikap pihak rumah sakit. Alih-alih bertanggung jawab penuh, para staf medis justru saling menyalahkan dan meminta Jorge untuk “tidak terlalu dramatis.” Mereka berdalih bahwa Jorge masih bisa memiliki anak melalui metode inseminasi buatan.

    Namun, pengacara Jorge, Diego Larrey, menyatakan bahwa kliennya sangat terpukul. Meskipun sudah memiliki dua putra, Jorge yang kini menjalin hubungan dengan pasangan baru sebenarnya berencana memiliki anak lagi secara alami di masa depan.

    Tim dokter menyebutkan bahwa operasi untuk menyambung kembali saluran yang telah diputus (reversibilitas) memiliki peluang keberhasilan yang sangat tipis bagi Jorge.

    “Saya marah dan merasa tidak berdaya karena apa yang mereka lakukan tidak dapat diubah,” kata Jorge. “Saya tidak bisa memahami tingkat kelalaian setinggi ini, bagaimana Anda bisa melakukan kesalahan besar seperti itu.”

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Video: Rekomendasi Makanan yang Bisa Bikin Gigi dan Gusi Sehat

    Video: Rekomendasi Makanan yang Bisa Bikin Gigi dan Gusi Sehat

    Video: Rekomendasi Makanan yang Bisa Bikin Gigi dan Gusi Sehat

  • Ambisi Gila Biohacker AS, Klaim Bakal Hidup Abadi dalam 15 Tahun ke Depan

    Ambisi Gila Biohacker AS, Klaim Bakal Hidup Abadi dalam 15 Tahun ke Depan

    Jakarta

    Biohacker ternama Bryan Johnson (48) kembali membuat pernyataan mengejutkan dengan mengklaim bahwa dirinya akan “mencapai keabadian” pada tahun 2039.

    Pria yang menghabiskan USD 2 juta (sekitar Rp31 miliar) per tahun untuk melawan penuaan ini yakin bahwa teknologi AI dan rekayasa biologi akan segera memecahkan rahasia hidup selamanya.

    Melalui unggahan di media sosial X, Johnson menyatakan bahwa meskipun usianya terus bertambah secara kronologis, usia biologisnya tetap tidak berubah. Ia menargetkan tahun 2039, saat ia secara kalender berusia 62 tahun sebagai titik di mana kematian tidak lagi menjadi ancaman baginya.

    Johnson berargumen bahwa keabadian bukanlah hal yang mustahil secara hukum alam. Ia mencontohkan ubur-ubur Turritopsis dohrnii yang bisa mengembalikan selnya ke kondisi muda dan hydra air tawar yang mampu meregenerasi sel terus-menerus.

    “Ini bukan masalah fisika seperti mencoba melakukan perjalanan lebih cepat dari kecepatan cahaya. Ini adalah masalah rekayasa biologi yang sudah dipecahkan oleh alam berkali-kali,” tulis Johnson.

    Menurutnya, akselerasi Artificial Intelligence (AI) akan mengubah segalanya. AI bukan lagi sekadar asisten, melainkan telah bertransformasi menjadi ilmuwan yang mampu mempercepat penemuan medis dengan kemampuan yang sebelumnya tak terbayangkan.

    Metode ekstrem umur panjang Brian Johnson

    Ambisi Johnson bukan tanpa kontroversi. Selama enam tahun terakhir, ia melakukan metode ekstrem yang sering dianggap aneh oleh publik, mulai dari:

    Menerima transfusi darah dari putra remajanya.Mengukur ereksi pada malam hari untuk memantau kesehatan pembuluh darah.Membangun ribuan “klon organ Bryan Johnson” di laboratorium untuk menguji efektivitas obat-obatan tertentu sebelum ia konsumsi.

    Meskipun ia mengklaim jantung, tingkat kesuburan, dan hormonnya setara dengan pemuda usia 18 tahun, ia mengakui otaknya masih secara anatomis berusia 42 tahun dan ia mengalami gangguan pendengaran ringan pada telinga kirinya.

    Batas Umur Manusia

    Upaya mencari keabadian sebenarnya telah ada sejak ribuan tahun lalu, mulai dari kisah Gilgamesh hingga praktik meminum emas di Prancis abad ke-16. Sejauh ini, rekor manusia tertua dipegang oleh Jeanne Calment yang mencapai usia 122 tahun.

    Namun, beberapa peneliti mulai sependapat bahwa batas usia manusia akan melonjak drastis. Stephen Austad, peneliti biologi penuaan dari University of Alabama, memprediksi bahwa manusia pertama yang akan merayakan ulang tahun ke-150 kemungkinan besar sudah lahir saat ini.

    Halaman 2 dari 3

    (kna/kna)

  • Korban Bencana Banjir Aceh Alami Trauma, Selalu Takut saat Hujan Turun

    Korban Bencana Banjir Aceh Alami Trauma, Selalu Takut saat Hujan Turun

    Jakarta

    Dokter spesialis kesehatan jiwa Bener Meriah dr Insan Sarami Artanoga mengatakan korban bencana banjir di Aceh mengalami trauma psikologis. Hal ini ditandai meningkatnya keluhan kecemasan pada penyintas bencana.

    “Hampir seluruh penyintas yang kami temui mengaku takut saat hujan turun,” kata dr Insan dalam keterangan resmi, Minggu (21/12/2025).

    Untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya berinisiatif membentuk mobile clinic untuk menjangkau langsung posko-posko pengungsian. Sejak mulai beroperasi pada 1 Desember 2025, Mobile Clinic didukung tenaga medis lintas disiplin.

    Selain memberikan layanan kesehatan umum, tim secara khusus memfokuskan pendampingan pada pemulihan kondisi psikologis masyarakat terdampak.

    Pendekatan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kelompok usia. Anak-anak mendapatkan terapi bermain seperti mewarnai, bermain bola, dan permainan sederhana lainnya, sementara orang dewasa didampingi melalui psikoterapi suportif dan teknik relaksasi untuk menurunkan tingkat kecemasan.

    “Korban bencana ini banyak yang mengalami cedera psikologis, terutama rasa takut dan cemas,” ucap dia.

    Hanya saja pelaksanaan Mobile Clinic menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan akses menuju lokasi pengungsian. Beberapa posko hanya dapat dijangkau melalui medan yang sulit, termasuk harus menyeberangi sungai.

    Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan jiwa juga menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, dokter spesialis kesehatan jiwa di Kabupaten Bener Meriah masih terbatas, sehingga pelayanan harus dilakukan secara bergiliran dan terjadwal.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Peringatan Penting Pakar Farmasi UGM soal ‘Obat Dewa’ Dexamethasone

    Peringatan Penting Pakar Farmasi UGM soal ‘Obat Dewa’ Dexamethasone

    Jakarta

    Pakar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Zullies Ikawati memperingatkan agar tidak mengonsumsi dengan asal dexamethasone atau yang viral disebut sebagai ‘obat dewa’. Penggunaan obat golongan kortikosteroid ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter mengingat efek samping yang ditimbulkan sangat berbahaya.

    “Obat ini tidak untuk pemakaian jangka panjang dan tanpa kontrol ya, dan tidak boleh digunakan hanya krn capek atau biar badan enak,” ujarnya kepada detikcom ditulis Minggu (21/12/2025).

    Penggunaan dexamethasone sangat luas untuk meredakan gejala berbagai kondisi mulai dari peradangan, alergi sampai penyakit autoimun. Bahkan pada saat pandemi COVID-19, dexamethasone juga diresepkan pada pasien dengan gejala berat untuk mengurangi risiko kematian.

    Karena efeknya yang luas dan ‘manjur’, obat ini kerap disalahgunakan dengan ditambahkan pada jamu tradisional pegal linu. Hanya saja jika dikonsumsi terus menerus, masalah mulai muncul mulai dari daya than tubuh menurun sampai gangguan hormon.

    Bahaya terbesar dexamethasone

    Bahaya terbesar muncul saat seseorang sudah ketergantungan dan berhenti secara tiba-tiba.

    “Tubuh bisa kaget, muncul lemas ekstrem, hingga syok karena produksi hormon alami terhenti,” ungkap Prof Zullies

    Jika seseorang sudah terlanjur ketergantungan, cara menghentikannya harus melalui proses tapering off atau penurunan dosis secara bertahap di bawah pengawasan dokter. Hal ini dilakukan agar tubuh bisa perlahan kembali memproduksi hormon alaminya sendiri.

    Lebih lanjut, dia menekankan bahwa dexamethasone adalah obat keras yang wajib menggunakan resep dokter. Ia juga menyarankan jika hanya nyeri atau alergi ringan, lebih baik gunakan alternatif yang lebih aman seperti Parasetamol atau obat oles (topikal).

    “Intinya, steroid hanya boleh diminum jika benar-benar perlu dan selalu ada alternatif yang lebih aman sesuai dengan jenis penyakitnya,” tandas dia.

    @detikhealth_official Dexamethasone si “Obat Dewa”, tapi katanya juga jadi “Penyihir” buat tubuh. Di tangan yang tepat, ia mampu meredakan peradangan berat dan menyelamatkan kondisi kritis. Tapi jika digunakan sembarangan, efek sampingnya bisa perlahan “menyihir” tubuh. Share video ini ke orang terdekat biar mereka lebih berhati-hati ya!🥹 #dexamethasone #obatdewa #efekdexamethasone #moonface #detikhealth ♬ original sound – detikHealth

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Ilmuwan Jepang Teliti Bakteri Usus Katak untuk Sembuhkan Kanker Ganas

    Ilmuwan Jepang Teliti Bakteri Usus Katak untuk Sembuhkan Kanker Ganas

    Jakarta

    Sebuah terobosan medis mengejutkan datang dari alam liar Jepang. Para peneliti menemukan bahwa bakteri yang hidup di dalam usus katak pohon Jepang menunjukkan potensi luar biasa dalam mengobati kanker kolorektal (kanker usus besar).

    Tim riset dari Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) mengungkapkan bahwa bakteri bernama Ewingella americana terbukti jauh lebih efektif dibandingkan metode pengobatan konvensional yang ada saat ini.

    Selama ini, penelitian mengenai hubungan mikrobiota usus dan kanker hanya berfokus pada pengaturan pola makan atau transplantasi tinja. Namun, dalam studi yang dipublikasikan di jurnal internasional Gut Microbes ini, peneliti melakukan langkah ekstrem: mengisolasi, membiakkan, dan menyuntikkan jenis bakteri spesifik langsung ke pembuluh darah untuk menyerang tumor.

    Setelah menyisir isi usus dari katak pohon Jepang, salamander perut merah Jepang, dan kadal rumput Jepang, tim peneliti berhasil mengidentifikasi sembilan jenis bakteri dengan efek antitumor. Dari semuanya, E. americana menjadi yang paling unggul.

    “Penelitian ini membuktikan bahwa biodiversitas yang belum tereksplorasi adalah harta karun bagi pengembangan teknologi medis baru,” ungkap tim penulis studi tersebut dikutip dari NYPOst.

    Hasil penelitian

    Dalam uji coba menggunakan model tikus dengan kanker kolorektal, tim menemukan fakta yang mencengangkan. Satu kali suntikan intravena (IV) E. americana mampu melenyapkan tumor secara keseluruhan.

    Hasilnya menunjukkan 100% complete response (CR), angka yang jauh melampaui statistik pengobatan standar seperti imunoterapi maupun kemoterapi.

    Hebatnya lagi, bakteri ini memiliki profil keamanan yang sangat baik. Berbeda dengan kemoterapi yang seringkali merusak organ tubuh lain, E. americana hanya menumpuk di jaringan tumor. Dalam 24 jam, bakteri tersebut sudah tidak terdeteksi di aliran darah, dan dalam 72 jam, respons peradangan tubuh kembali normal.

    Meski hasil awalnya sangat menjanjikan, tim mencatat perlunya penelitian lebih lanjut. Fokus ke depan adalah menguji efektivitas bakteri ini pada jenis kanker sulit lainnya, seperti kanker payudara dan kanker pankreas. Peneliti juga berharap dapat menentukan apakah terapi E. americana ini dapat dikombinasikan dengan pengobatan standar medis lainnya di masa depan.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Jabatan Baru Raja Charles di Bidang Penelitian Kanker”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Anak Korban Banjir Makan Mi Instan Berhari-hari, Ahli Gizi Soroti Hal Ini

    Anak Korban Banjir Makan Mi Instan Berhari-hari, Ahli Gizi Soroti Hal Ini

    Jakarta

    Situasi darurat di wilayah terdampak banjir seringkali memaksa warga, termasuk anak-anak, mengonsumsi makanan seadanya. Mi instan sering menjadi pilihan utama karena praktis dan mudah didapatkan.

    “Yang pertama kita harus merujuk kepada kebutuhan makan bayi dan balita. Jadi kalau memang dalam keadaan darurat, ya kita mau ngomong apa, daripada anaknya tidak makan,” ujar ahli gizi masyarakat dr Tan Shot Yen.

    Meski bisa menjadi penyelamat di hari pertama, dr Tan menekankan bahwa konsumsi mi instan tidak boleh berlarut-larut. Jika hal ini berlangsung lebih dari satu atau dua hari, kecukupan gizi harian anak bisa tidak terpenuhi.

    Anak-anak yang mengalami defisiensi nutrisi dalam jangka panjang di masa pertumbuhan berisiko mengalami penurunan fungsi imun sehingga lebih mudah terserang penyakit pascabanjir seperti diare dan infeksi saluran pernapasan.

    “Apalagi kalau berlangsung berminggu-minggu, tentu akan memengaruhi berat badannya. Jika kebutuhan pangan tidak tercukupi, berakibat pada defisiensi mikronutrien atau malnutrisi pada anak yang sedang tumbuh kembang,” jelasnya.

    Selain masalah berat badan, hal yang paling dikhawatirkan adalah perubahan preferensi makan anak. Mi instan memiliki rasa gurih yang kuat karena bumbu dan kadar garam yang tinggi.

    Sarankan Makanan Retort

    Sebagai alternatif yang lebih sehat dalam kondisi darurat, dr Tan menyarankan penggunaan makanan retort. Makanan retort adalah pangan siap saji yang telah melalui proses pemanasan suhu tinggi dan dikemas kedap udara sehingga awet tanpa pengawet kimia dan tetap menjaga nilai nutrisi.

    Ia menjelaskan bahwa teknologi retort memungkinkan makanan seperti nasi uduk hingga sate maranggi dikemas dalam kondisi vakum dengan suhu tinggi sehingga memiliki masa simpan yang lama meskipun tanpa pengawet.

    “Jadi kalau memang mempunyai mitigasi bencana yang benar, kita akan bisa mempersiapkan makanan yang siap disajikan dalam bentuk makanan utuh. Misalnya ada nasi uduk bahkan ada rendang, bisa kirim empal gepuknya. Itu semua bisa jadi tidak harus kita menyajikan produk-produk ultra proses pabrikan,” ungkap dr. Tan.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Ini Asupan Gizi yang Dibutuhkan untuk Pertumbuhan Tulang Anak”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Viral Dexamethasone ‘Obat Dewa’, Bisa Begini Efeknya Jika Asal Dikonsumsi

    Viral Dexamethasone ‘Obat Dewa’, Bisa Begini Efeknya Jika Asal Dikonsumsi

    Jakarta

    Media sosial baru-baru ini diramaikan dengan sebutan ‘obat dewa’ untuk Dexamethasone karena efeknya yang cepat menyembuhkan berbagai keluhan. Namun, pakar farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Zullies Ikawati, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsinya.

    Prof Zullies mengatakan dexamethasone termasuk obat keras golongan kortikosteroid dengan fungsi yang sangat spesifik, yakni menekan peradangan dan respons imun tubuh.

    “Obat ini bekerja seperti hormon alami tubuh yang mengatur banyak sistem sekaligus, jadi memang efeknya luas,” ujarnya kepada detikcom ditulis Minggu (21/12/2025).

    Karena termasuk obat keras, dexamethasone tidak boleh dibeli bebas dan harus di bawah pengawasan dokter. Efek instan yang diberikan dexamethasone seperti meredakan pegal dan nyeri dalam waktu cepat membuat obat ini kerap dikonsumsi secara sembarangan.

    Padahal, konsumsi dexamethasone tanpa resep dan pengawasan dokter bisa memunculkan risiko serius pada tubuh. Mulai dari penurunan tekanan darah dan gula darah, gangguan lambung sampai pengeroposan tulang.

    “Obat ini tidak untuk pemakaian jangka panjang dan tanpa kontrol ya, dan tidak boleh digunakan hanya karena capek atau biar badan enak,” tegas Prof Zullies.

    @detikhealth_official Dexamethasone si “Obat Dewa”, tapi katanya juga jadi “Penyihir” buat tubuh. Di tangan yang tepat, ia mampu meredakan peradangan berat dan menyelamatkan kondisi kritis. Tapi jika digunakan sembarangan, efek sampingnya bisa perlahan “menyihir” tubuh. Share video ini ke orang terdekat biar mereka lebih berhati-hati ya!🥹 #dexamethasone #obatdewa #efekdexamethasone #moonface #detikhealth ♬ original sound – detikHealth

    (kna/kna)