Category: Detik.com Kesehatan

  • Salah Kaprah ‘Obat Dewa’ Dexamethasone, Risiko Fatal di Balik Kesembuhan Instan

    Salah Kaprah ‘Obat Dewa’ Dexamethasone, Risiko Fatal di Balik Kesembuhan Instan

    Jakarta

    Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan oleh unggahan yang menyebut Dexamethasone sebagai ‘obat dewa’. Hanya saja, label ‘dewa’ ini bisa menyimpan masalah besar bagi kesehatan jika asal dikonsumsi.

    Pakar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Zullies Ikawati menjelaskan dexamethasone adalah golongan kortikosteroid kuat yang bekerja menekan sistem imun dan peradangan.

    Karena kemampuannya masuk ke berbagai sistem tubuh, efeknya memang terasa luas, namun sekaligus menyimpan bom waktu bagi kesehatan jika dikonsumsi sembarangan.

    Dexamethasone bukan sekadar obat pereda nyeri biasa. Cara kerjanya meniru hormon steroid (kortisol) yang diproduksi secara alami oleh kelenjar adrenal manusia. Menurut Prof Zullies, sifatnya yang memengaruhi banyak sistem tubuh sekaligus inilah yang membuat efek sampingnya sangat beragam.

    “Jika digunakan terlalu lama atau terlalu sering, akan banyak efek sampingnya. Risiko ini dipengaruhi oleh lama penggunaan, dosis, frekuensi dan juga kondisi tubuh,” ungkap Prof Zullies.

    Ancaman ‘Moon Face’ hingga Osteoporosis

    Bukan tanpa alasan Dexamethasone masuk dalam kategori obat keras. Berbagai literatur medis menyebutkan bahwa penggunaan steroid jangka panjang dapat memicu sindrom Cushing. Gejala yang paling khas adalah moon face atau pembengkakan wajah hingga berbentuk bulat akibat gangguan distribusi lemak.

    Selain itu, sebuah studi dalam jurnal Frontiers in Endocrinology mencatat bahwa glukokortikoid seperti Dexamethasone secara langsung menghambat pembentukan tulang dan mempercepat pengeroposan.

    Akibatnya, pengguna jangka panjang berisiko tinggi mengalami osteoporosis meskipun usianya masih muda.

    Secara medis, asupan steroid dari luar menyebabkan kelenjar adrenal “malas” bekerja karena menganggap stok hormon dalam tubuh sudah cukup.

    Prof Zullies memperingatkan bahwa penghentian mendadak bisa membuat tubuh mengalami syok hebat.

    “Jadi dexamethasone ini tdk boleh dihentikan mendadak kalau sdh dikonsumsi lama karena nanti tubuh bisa kaget dan bisa muncul keluhan seperti lemas yang ekstrem, tekanan darah turun sampai syok,” tegasnya.

    Bukan Obat Pegal Linu

    Dia mengimbau tidak menjadikan dexamethasone sebagai solusi untuk keluhan harian seperti badan pegal atau kelelahan. Prof Zullies menyarankan agar masyarakat kembali merujuk pada obat yang lebih spesifik dan aman.

    “(Dexamethasone) tidak boleh digunakan hanya karena capek atau biar badan enak,” ucap dia.

    Sebagai obat keras, penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter demi menghindari kerusakan organ tubuh.

    “Untuk nyeri yang ringan atau radang yang ringan, maka tidak perlu menggunakan dexamethasone, cukup dengan parasetamol atau obat anti inflamasi non steroid lain misal asam mefenamat,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: Amankah Pemberian Teh Pada Anak?”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Pakar Sarankan Minum Kopi Sejam Pertama Setelah Bangun Tidur, Ini Alasannya

    Pakar Sarankan Minum Kopi Sejam Pertama Setelah Bangun Tidur, Ini Alasannya

    Jakarta

    Bagi banyak orang, pagi terasa belum lengkap tanpa secangkir kopi. Selain menambah energi, kopi diharapkan bisa mengusir rasa kantuk selama beraktivitas.

    Namun, kebiasaan ini ternyata tidak sepenuhnya disarankan. Seorang pakar tidur, Rex Isap, mengingatkan minum kopi terlalu cepat setelah bangun tidur bisa mengurangi manfaat kafein dan berdampak kurang baik untuk tubuh.

    Maka dari itu, Rex menyarankan agar seseorang tidak langsung minum kopi dalam satu jam pertama setelah bangun. Menurutnya, banyak orang terbiasa meneguk kopi dalam 5-10 menit setelah membuka mata.

    “Untuk mendapatkan manfaat kafein secara optimal, sebaiknya tunggu setidaknya satu jam setelah bangun tidur,” kata Isap, dikutip dari Unilad.

    Isap menjelaskan saat seseorang bangun tidur, kadar hormon kortisol dalam tubuh berada pada titik tertinggi. Kortisol memang sering dikaitkan dengan stres, tetapi hormon juga berperan meningkatkan kewaspadaan secara alami.

    “Jika kafein dikonsumsi saat kadar kortisol sedang tinggi, efek kafein bisa menjadi kurang terasa dan dalam jangka panjang justru memicu toleransi terhadap kafein,” sambungnya.

    Artinya, semakin pagi kopi diminum, maka besar kemungkinan efeknya terasa lemah seiring waktu.

    Isap memaparkan peran adenosin, zat kimia di otak yang memicu rasa kantuk. Sepanjang hari, adenosin akan terus menumpuk dan membuat tubuh merasa lelah.

    Kafein bekerja dengan cara memblokir reseptor adenosin, sehingga seseorang merasa lebih terjaga dan fokus.

    “Ini juga menjelaskan mengapa sebagian orang sulit tidur di malam hari setelah seharian minum kopi,” katanya.

    Maka dari itu, Isap menyarankan agar konsumsi kopi pagi ditunda setidaknya satu jam setelah bangun tidur. Dengan begitu, keseimbangan kortisol tetap terjaga dan kualitas pun bisa lebih baik.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Mayapada Healthcare Tunjuk CSCEC Bangun Tower 3 Mayapada Hospital Jaksel

    Mayapada Healthcare Tunjuk CSCEC Bangun Tower 3 Mayapada Hospital Jaksel

    Jakarta

    Mayapada Healthcare Group melakukan kerja sama dengan China State Construction Engineering Corporation (CSCEC). Kerja sama itu untuk pembangunan Tower 3 Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS), yang akan menjadi rumah sakit swasta terbesar dan terluas di Indonesia.

    Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dilakukan oleh President Commissioner Mayapada Healthcare Jonathan Tahir, Deputy General Manager of CSCEC Shenzhen Headquarters Tina He, serta General Manager of CSCEC Division 4 International Bai Jinsong.

    “Penunjukan CSCEC menunjukkan keseriusan Mayapada Healthcare menggandeng mitra konstruksi kelas dunia yang memiliki rekam jejak nyata. Infrastruktur rumah sakit berperan penting untuk menciptakan pengalaman pasien yang aman, nyaman, dan berstandar global,” jelas President Director & CEO Mayapada Healthcare Navin Sonthalia, dalam keterangan tertulis, Minggu (21/12/2025).

    Navin menyampaikan melalui kolaborasi tersebut, Mayapada Healthcare memastikan pembangunan MHJS Tower 3 dilakukan dengan standar internasional, didukung teknologi modern, serta mengutamakan efisiensi dan keberlanjutan jangka panjang.

    Tower 3 MHJS akan menghadirkan fasilitas medis generasi baru untuk menjawab tantangan layanan kesehatan tingkat lanjut di masa kini dan mendatang. Berlokasi di lahan seluas 26.917 m², Tower 3 memiliki total luas 110.209 m² yang terdiri dari 24 lantai dan 4 basement.

    Sebagai pusat layanan medis tingkat lanjut, Tower 3 MHJS dilengkapi teknologi medis canggih, termasuk layanan kanker berbasis nuclear medicine, bedah non-invasif untuk tumor otak, layanan jantung minimal invasif, bedah ortopedi berbasis robotik, serta rehabilitasi medis terpadu.

    Bermitra dengan Apollo Hospitals India, Tower 3 juga akan menjadi pusat alih pengetahuan dan kompetensi bagi dokter ahli serta spesialis, sekaligus meningkatkan kualitas layanan unggulan (center of excellence). Tower 3 MHJS diproyeksikan mulai beroperasi pada semester kedua 2027.

    Chief Project & Facility Officer Mayapada Healthcare, Charlie Salim menambahkan kerja sama ini merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya bersama CSCEC, yaitu pembangunan automated vertical parking building di Mayapada Hospital Surabaya.

    “Pengalaman global CSCEC menjadi fondasi penting dalam mendukung penerapan standar konstruksi yang konsisten dan andal bagi pengembangan fasilitas kesehatan dalam naungan Mayapada Healthcare,” jelas Charlie.

    CSCEC merupakan perusahaan kontraktor kelas dunia yang telah menangani berbagai proyek berskala besar dan kompleks, termasuk rumah sakit berkapasitas hingga 2.000 tempat tidur di Kamboja, Laos, dan China.

    Perusahaan ini juga mengerjakan proyek ikonik di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, termasuk gedung pencakar langit (skyscraper) di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan China.

    Di Indonesia, CSCEC terlibat dalam berbagai proyek strategis nasional, seperti pembangunan tol, pabrik, serta sejumlah proyek komersial di kota-kota besar.

    Sementara itu, Tina He mengungkapkan pihaknya merasa terhormat dapat mendukung Mayapada Healthcare dalam menghadirkan infrastruktur kesehatan berstandar internasional di Indonesia.

    “Melalui kolaborasi ini, CSCEC berkomitmen menghadirkan standar konstruksi kelas dunia dan menjadikan proyek MHJS Tower 3 sebagai bangunan rumah sakit yang modern, aman, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pengembangan ekosistem layanan kesehatan di Indonesia,” jelas Tina.

    Sebagai informasi, Mayapada Group, induk usaha Mayapada Healthcare Group, berencana mengembangkan kemitraan strategis dengan CSCEC dalam berbagai proyek lintas sektor di Indonesia.

    Rencana ini mencakup pengembangan data center untuk memperkuat sistem informasi, serta pembangunan fasilitas industri baja guna mendukung ketahanan pasok dalam negeri, sekaligus mendorong pengembangan infrastruktur di sektor-sektor strategis Indonesia.

    (anl/ega)

  • Mengenaskan, Pria Tewas usai Coba Obati Darah Tinggi dengan Cara Tak Biasa

    Mengenaskan, Pria Tewas usai Coba Obati Darah Tinggi dengan Cara Tak Biasa

    Jakarta

    Seorang pria berusia 47 tahun di Vietnam meninggal dunia secara mendadak setelah mencoba metode ‘pengobatan’ tekanan darah tinggi, yang ia temukan di media sosial. Ia juga berhenti mengonsumsi obat hipertensi selama menjalani metode tersebut.

    Disebutkan bahwa pria itu mengganti pengobatannya dengan minum air lemon asin serta berjemur untuk detoksifikasi. Kasus ini disampaikan oleh Dr Doan Du Manh dari Asosiasi Penyakit Vaskular Vietnam pada 10 Desember 2025.

    Pasien Dilarikan ke Rumah Sakit

    Dr Manh menjelaskan pasien sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dari rumahnya. Tetapi, nyawanya tidak dapat tertolong dan meninggal sebelum mendapatkan perawatan medis.

    Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien mengalami krisis hipertensi paroksismal. Itu merupakan kondisi tekanan darah yang terjadi secara tiba-tiba dan berat, yang memicu pecahnya pembuluh darah di otak.

    Idap Hipertensi Bertahun-tahun

    Menurut keterangan keluarga, pria tersebut memiliki riwayat hipertensi selama bertahun-tahun. Sebelumnya, ia rutin menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter.

    Namun, belakangan ia bergabung dengan sebuah grup di media sosial yang meyakinkannya bahwa konsumsi obat-obatan medis dalam jangka panjang bisa berbahaya. Mereka menyebut tubuh seharusnya dibiarkan untuk ‘menyembuhkan diri sendiri’.

    Meski sempat dilarang oleh ibunya, korban tetap menghentikan konsumsi obat tekanan darahnya. Ia kemudian menjalani regimen minum air lemon asin dalam dosis tinggi, yang dikombinasikan dengan berjemur selama 10 hari berturut-turut.

    Tujuannya melakukan itu untuk memicu keringat agar racun dari tubuh dan tekanan darah kembali normal.

    Hipertensi Penyakit Kronis

    Dr Menh menegaskan hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang, bahkan seumur hidup, untuk menjaga fungsi vital tubuh tetap stabil. Dengan menghentikan konsumsi obat secara tiba-tiba, bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah dengan cepat, yang dikenal sebagai kondisi hipertensi rebound.

    “Tekanan darah yang tidak terkontrol akan membebani jantung dan meningkatkan risiko komplikasi fatal, seperti serangan jantung atau stroke perdarahan,” jelasnya, dikutip dari VNExpress.

    Ia menambahkan mengonsumsi air lemon asin dalam jumlah besar justru memperparah kondisi. Kandungan natrium yang tinggi menyebabkan retensi cairan, sehingga jantung harus memompa lebih keras dan tekanan pada dinding pembuluh darah meningkat.

    Di sisi lain, paparan sinar matahari secara berlebihan dapat memicu dehidrasi dan mempercepat denyut jantung.

    “Kombinasi menghentikan obat, asupan garam tinggi, dan dehidrasi membuat tekanan darah pasien melonjak tajam, merusak pembuluh darah otak, dan berujung pada kematian tragis,” tegas Dr Manh.

    Para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak menghentikan pengobatan, meski merasa kondisi tubuh membaik. Selain itu, mereka menekankan untuk tidak mudah percaya pada metode dari mulut ke mulut, tren detoksifikasi, atau diet ekstrem yang belum terbukti secara medis.

    Orang dengan hipertensi disarankan rutin melakukan pemeriksaan, menerapkan pola hidup sehat, membatasi asupan garam, dan mengelola stres. Jika muncul gejala seperti sakit kepala hebat, pusing, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh, pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/kna)

  • Ternyata Segini Rata-rata Durasi Pria Kuat Bercinta, Termasuk Lama atau Cepat?

    Ternyata Segini Rata-rata Durasi Pria Kuat Bercinta, Termasuk Lama atau Cepat?

    Jakarta

    Durasi bercinta seringkali menjadi salah satu indikator dalam kenikmatan berhubungan intim. Sebenarnya, berapa sih durasi rata-rata pria bisa ketahanan pria ketika bercinta bersama istri?

    Sebuah studi terbaru oleh Lovehoney yang dilakukan pada tahun 2025, mengungkapkan datanya berdasarkan kelompok usia.

    Usia 18-24 Tahun

    Menurut studi tersebut, rata-rata durasi pria berusia 18-24 tahun tahan dalam bercinta mencapai 16,14 menit. Jika lebih dirinci, 5 persen bertahan antara 1-2 menit, 13 persen bertahan 3-5 menit, dan 5 persen lainnya ada yang bisa sampai satu jam tiap sesi.

    “Penelitian menunjukkan durasi sesi seks biasanya mencapai puncaknya di akhir usia 20-an hingga awal 30-an, lalu perlahan memendek seiring bertambahnya usia,” pakar kesehatan seksual dari Lovehoney Sarah Maulindwa, dikutip dari Metro, Rabu (17/12/2025).

    Meski demikian, Sarah mengingatkan yang terpenting dalam meningkatkan kenikmatan bercinta bukanlah durasi, melainkan komunikasi dan teknik.

    Usia 25-34 Tahun

    Pada usia ini, rata-rata waktu menuju orgasme sedikit naik menjadi 18,29 menit. Sebanyak 21 persen pria di kelompok ini bisa bertahan 11-15 menit dan sebanyak 15 persen lain dapat orgasme dalam 21-30 menit.

    Pada pertengahan hingga akhir usia 20-an, kondisinya masih mirip, yaitu dengan gairah tinggi. Memasuki usia 30-an, durasi sesi tetap stabil, sementara rasa percaya diri yang meningkat dapat membantu daya tahan lebih baik.

    “Pengalaman, ritme, dan komunikasi yang lebih baik biasanya membuat seks terasa lebih mulus, meskipun stres atau tekanan waktu bisa memangkas durasinya,” ungkap Sarah.

    Usia 35-44 Tahun

    Dari pertengahan usia 30-an hingga 40-an, stamina pria sedikit menurun, dengan durasi seks berkurang kurang dari satu menit dibanding dekade sebelumnya. Pada rentang usia ini, rata-ratanya turun menjadi 17,4 menit.

    Meski begitu, Sarah mengingatkan ini bukanlah hal yang harus dikhawatirkan berlebihan.

    “Perubahan hormon dan awal masalah ereksi bisa memengaruhi tempo, tetapi banyak pasangan justru lebih fokus pada foreplay, variasi, dan koneksi,” jelas Sarah.

    Usia 45-54 Tahun

    Penurunan makin tajam pada rentang usia ini, yaitu 14,15 menit. Menurut Sarah, ini kemungkinan karena ereksi menjadi ‘kurang bisa diprediksi’ dan variasi waktu orgasme makin besar saat pria memasuki usia 50-an.

    Usia 55-64 Tahun

    Pada rentang usia ini, rata-rata kembali turun menjadi 11,3 menit. Meski begitu, kepuasan tidak serta merta hilang.

    “Gairah yang lebih lambat dan waktu pemulihan yang lebih lama adalah hal normal, dan kondisi kesehatan atau obat-obatan mulai berperan lebih besar,” ucap Sarah.

    “Kedekatan emosional, keterampilan, dan koneksi sering kali justru semakin dalam. Melakukan pemanasan lebih lama, fokus pada sensasi, dan menggunakan mainan seks bisa tetap membuat pengalaman terasa menyenangkan,” sambungnya.

    Usia 65 Tahun ke Atas

    Pada usia 65 tahun ke atas, rata-rata pria bertahan di atas ranjang selama 8,15 menit. Sebanyak 28 persen berada di rentang durasi 6-10 menit.

    Kemudian sebanyak 26 persen bertahan 3-5 menit dan hanya 1 persen masih bisa menahan orgasme lebih dari satu jam.

    “Faktor terpenting tetaplah pola pikir, teknik, dan komunikasi. Pasangan yang fokus pada koneksi, mengeksplorasi berbagai sensasi, dan berkomunikasi secara terbuka cenderung merasakan kepuasan yang lebih tinggi,” tandas Sarah.

    Halaman 2 dari 3

    (avk/naf)

  • Gadis Umur 24 Kena Kanker Stadium 3, Ini Gejala yang Dia Abaikan

    Gadis Umur 24 Kena Kanker Stadium 3, Ini Gejala yang Dia Abaikan

    Jakarta

    Usia muda tidak selalu menjadi tameng dari penyakit serius, seperti yang dialami gadis muda di Colorado, Paige Seifert. Di usia 24 tahun, dia didiagnosis kanker usus atau kolorektal stadium tiga di usia 24 tahun.

    Paige yang saat ini berusia 25 tahun telah bebas dari kanker. Ia menceritakan perjuangannya dan berbagai gejala yang malah diabaikan.

    Darah di BAB hingga Lelah Ekstrem

    Paige menyebut setidaknya ada tiga gejala utama yang ia abaikan. Gejala pertama yang terjadi adalah munculnya darah saat buang air besar.

    Ia mengira kondisi tersebut hanya wasir atau ambeien. Bahkan, dua kali kunjungan ke dokter membuatnya semakin yakin, karena ia disebut ‘terlalu muda’ untuk kena kanker dan hanya didiagnosis wasir.

    Gejala kedua berupa kram perut, mual, dan rasa tidak nyaman yang datang tiba-tiba. Belakangan, ia baru memahami keluhan tersebut terjadi saat tumor mulai menghambat sebagian saluran anus.

    Tanda lainnya adalah kelelahan yang ekstrem. Paige sempat mengaitkannya dengan kurang tidur dan tekanan pekerjaan.

    Padahal, secara medis, kelelahan berat bisa menjadi tanda anemia akibat perdarahan kronis dari tumor di usus.

    Terlambat Sadar, Kanker Sudah Stadium 3

    Merasa ada yang tidak beres, Paige akhirnya menemui dokter spesialis gastroenterologi pada Januari 2025. Pemeriksaan kolonoskopi menunjukkan adanya massa besar di kolon.

    “Saya langsung berpikir apakah saya akan mati? Rasanya sangat menakutkan,” tutur Paige.

    Saat itu, kanker yang diidapnya sudah masuk stadium tiga. Artinya, sel kanker telah menyebar ke luar usus.

    Secara statistik, tingkat kelangsungan hidup lima tahun pada kanker usus stadium satu bisa mencapai 90 persen. Tetapi, angka itu turun menjadi sekitar 65 persen pada stadium tiga, dan merosot tajam jika telah mencapai stadium empat.

    Dalam Masa Remisi

    Paige kemudian menjalani operasi besar dan 12 sesi kemoterapi yang melelahkan. Kini, ia berada dalam masa remisi.

    Lewat unggahannya di media sosial, Paige mengingatkan anak muda agar tidak menyepelekan perubahan pada tubuh, terutama terkait kebiasaan buang air besar. Seperti adanya darah pada feses, penurunan berat badan tanpa sebab, feses yang berbentuk sangat tipis, hingga rasa lelah berkepanjangan.

    “Jangan anggap remeh gejala apapun hanya karena merasa masih muda. Kalau merasa ada yang salah, segera periksa. Itu bisa menyelamatkan hidupmu,” tegasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Sopir Bus Jalani Tes Kesehatan Jelang Lonjakan Arus Nataru

    Sopir Bus Jalani Tes Kesehatan Jelang Lonjakan Arus Nataru

    Foto Health

    Muhammad Reevanza – detikHealth

    Minggu, 21 Des 2025 18:00 WIB

    Jakarta – Menjelang libur Natal dan Tahun Baru, sopir bus di Terminal Pulo Gebang menjalani tes kesehatan. Langkah ini dilakukan demi keselamatan perjalanan penumpang.

  • Sering Terabaikan, Orang Kurus Ternyata Bisa Kena Kolesterol gegara Ini

    Sering Terabaikan, Orang Kurus Ternyata Bisa Kena Kolesterol gegara Ini

    Jakarta

    Banyak orang mengira tubuh yang kurus otomatis berarti sehat dan bebas dari risiko penyakit jantung. Faktanya, berat badan bukan jaminan. Tidak sedikit orang bertubuh ramping justru memiliki kadar kolesterol tinggi yang tersembunyi tanpa gejala selama bertahun-tahun.

    Dikutip dari Times of India, para ahli menegaskan bahwa faktor genetik dan riwayat keluarga sering kali jauh lebih berpengaruh terhadap kadar kolesterol dibandingkan angka pada timbangan.

    Mengapa Orang Kurus Bisa Mengalami Kolesterol Tinggi?

    Meski kolesterol bisa berasal dari makanan, sebagian besar kolesterol dalam tubuh justru diproduksi oleh hati. Pada orang bertubuh kurus yang memiliki kolesterol tinggi, masalahnya biasanya terletak pada genetik.

    Sejak lahir, hati mereka diprogram untuk menghasilkan LDL (Low Density Lipoprotein) atau kolesterol jahat dalam jumlah besar.

    Akibatnya, meski pola makan sudah dijaga ketat dan rutin berolahraga, kadar kolesterol mereka tetap berada di ambang batas bahaya.

    Penelitian dari Z. Vaezi dan Global Lipids Genetics Consortium menunjukkan bahwa kondisi ini memicu pembentukan plak pembuluh darah sejak usia muda. Arteri pada orang kurus dengan kolesterol tinggi bisa tampak “menua” lebih cepat, bahkan setara dengan orang yang usianya dua kali lipat lebih tua.

    Kondisi Genetik Pemicu Kolesterol Tinggi

    Kondisi genetik ini sering dikenal sebagai Hiperkolesterolemia Familial (FH). Studi oleh C. Pirazzi menemukan bahwa mutasi gen bawaan ini adalah penyebab utama penyakit jantung dini pada orang yang tampak sehat secara fisik.

    FH diperkirakan diderita oleh 1 dari 200 hingga 250 orang di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi akibat kerusakan pada gen seperti LDLR, APOB, atau PCSK9, yang membuat tubuh tidak mampu membersihkan LDL dari darah.

    Analogi Sederhana: Bayangkan LDL sebagai sampah yang terus menumpuk di jalanan (pembuluh darah), namun tubuh tidak memiliki “truk pengangkut” untuk membuangnya.

    Orang dengan FH, baik kurus maupun tidak, bisa memiliki kadar LDL di atas 190 mg/dL sejak remaja. Tanpa penanganan medis, riset dari Mayo Clinic memperingatkan bahwa risiko serangan jantung bisa muncul bahkan sebelum usia 50 tahun.

    LDL, HDL, dan Trigliserida: Kombinasi yang Perlu Dipahami

    Untuk memahami risiko ini, penting bagi orang bertubuh kurus untuk melakukan panel lipid dan memahami angka-angkanya:

    LDL (Kolesterol Jahat): Bertugas membawa kolesterol yang bisa menumpuk di dinding arteri. Bahaya jika di atas 100 mg/dL.HDL (Kolesterol Baik): Bertugas sebagai “pembersih” kolesterol dari arteri. Berisiko jika di bawah 40 mg/dL (pria) atau 50 mg/dL (wanita).Trigliserida: Lemak dalam darah yang meningkat akibat konsumsi gula berlebih. Berisiko jika di atas 150 mg/dL.

    Kombinasi trigliserida tinggi dan HDL rendah dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga 1,3 kali lipat. Kondisi ini sering ditemukan pada orang kurus yang memiliki gangguan metabolik atau faktor genetik.

    Pentingnya Skrining Keluarga

    American Heart Association (AHA) menekankan bahwa kolesterol tinggi pada orang kurus sering kali merupakan “penyakit keluarga”. Jika ada anggota keluarga yang mengalami serangan jantung dini (sebelum usia 55 tahun untuk pria atau 65 tahun untuk wanita), maka seluruh anggota keluarga sangat disarankan untuk melakukan skrining.

    Beberapa tes yang direkomendasikan dokter antara lain:

    Panel Lipid Puasa: Mengukur kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida. Disarankan mulai usia 20 tahun.Tes Genetik untuk FH: Jika kadar LDL sangat tinggi dan ada riwayat penyakit jantung dini dalam keluarga.ApoB atau non-HDL: Pemeriksaan tambahan untuk menghitung jumlah partikel lemak secara lebih akurat.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/kna)

  • Kisah di Balik Transformasi Penampilan Ed Sheeran, Sukses Turun BB 13 Kg

    Kisah di Balik Transformasi Penampilan Ed Sheeran, Sukses Turun BB 13 Kg

    Jakarta

    Transformasi penyanyi Ed Sheeran tidak terjadi hanya dalam semalam. Perubahan besar yang terjadi pada pria asal Inggris itu dimulai sejak pandemi COVID-19.

    Ed Sheeran mulai menata ulang gaya hidup yang selama bertahun-tahun diakuinya memang kurang sehat. Bahkan, ia memutuskan menyewa pelatih pribadi dan lebih memperhatikan apa saja yang ia konsumsi.

    Dalam sebuah wawancara, Sheeran mengakui gaya hidupnya di usia 20-an hingga awal 30-an jauh dari kata ideal.

    “Saya menjalani hidup yang cukup tidak sehat dari usia 20 sampai 30 tahun. Meski karier saya sukses, itu tidak tercermin dengan baik dalam kehidupan pribadi,” tuturnya, dikutip dari laman People.

    “Kesehatan adalah cerminan langsung dari kesehatan mental dan bagaimana perasaan Anda,” tambah Sheeran.

    Perubahan gaya hidup tersebut juga bertepatan dengan fase penting dalam hidupnya, yakni menjadi seorang ayah. Ed Sheeran dan istrinya, Cherry Seaborn, dikaruniai putri pertama Lyra pada Agustus 2020 dan anak kedua, Jupiter, pada Mei 2022.

    Sheeran mengenang satu momen yang membuatnya tersadar akan kebiasaan lamanya. Saat Lyra baru berusia dua minggu, ia sempat minum anggur bersama sahabatnya. Tak lama kemudian, bayinya terbangun.

    “Saya bangun dan berpikir, mungkin saya seharusnya tidak minum jika saya akan merasa seburuk ini,” ujarnya.

    Istri dan Anak Jadi Motivasi

    Keluarga menjadi pemicu utama Sheeran untuk lebih serius menjaga kebugaran. Ia mengaku ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab dan merasa lebih baik secara fisik maupun mental.

    “Istri saya sangat atletis. Di usia 20-an, saya hanya merokok dan minum (alkohol),” beber Sheeran.

    “Dia selalu lari, sementara saya selalu merasa tidak enak,” sambungnya.

    Sampai pandemi melanda dan Cherry tengah hamil, keduanya mulai rutin berlari bersama.

    Turun Lebih dari 13 Kg

    Perjalanan kebugaran Sheeran dimulai pada 2020 bersama pelatihnya, Ali Thomas. Keduanya berlatih secara daring melalui Zoom di tengah pembatasan pandemi.

    Sheeran menyebut pendekatan Thomas yang fokus pada dasar-dasar latihan membuatnya mulai benar-benar menikmati olahraga.

    Memasuki awal 2025, Sheeran menggandeng pelatih Matt Kendrick untuk mendampinginya selama tur ‘Mathematics’. Kendrick menyebut perubahan fisik Sheeran sebagai hasil dari konsistensi dan komitmen tinggi, meski harus berlatih di sela jadwal tur dunia yang padat.

    Sejak rutin berolahraga, Sheeran mengaku berhasil menurunkan berat badan lebih dari 13 kg.

    ‘Menu’ Olahraga Ed Sheeran

    Rutinitas olahraga Sheeran cukup bervariasi. Ia mengkombinasikan lari, angkat beban, pilates, yoga, hingga berenang, tergantung kondisi tubuh dan jadwalnya.

    “Variasi adalah bumbu kehidupan,” ujarnya.

    Selama menjalani rutinitasnya, Sheeran mengakui sempat memiliki anggapan negatif soal angkat beban. Tetapi, ia menyadari bahwa angkat beban justru membuat tubuh lebih ramping, bukan otomatis berotot besar.

    Pola Makan yang Lebih Teratur

    Perubahan juga terlihat dari pola makannya. Sheeran mengaku pernah memiliki kebiasaan makan berlebihan.

    “Saya benar-benar pemakan berlebihan. Tapi, sekarang saya lebih banyak bergerak dan menjadi ayah yang juga banyak makan,” bebernya.

    Menariknya, olahraga justru membantu mengurangi keinginannya terhadap makan cepat saji dan alkohol. Ia mengaku pola makannya berubah karena olahraga.

    Meski begitu, Sheeran menekankan dirinya tidak menjalani diet yang ekstrem.

    “Moderasi adalah kuncinya. Saya tidak menghilangkan apapun. Saya masih minum, saya suka anggur merah dan makanan enak, tapi tidak setiap hari,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/kna)

  • Video: Tak Semua Gigi Harus Putih, Dokter Ungkap Risiko Pasta Gigi Abrasif

    Video: Tak Semua Gigi Harus Putih, Dokter Ungkap Risiko Pasta Gigi Abrasif

    Video: Tak Semua Gigi Harus Putih, Dokter Ungkap Risiko Pasta Gigi Abrasif