Category: Detik.com Kesehatan

  • Ketua IDAI: Balita Korban Bencana Boleh Makan Mi Instan Maksimal 3 Hari Saja

    Ketua IDAI: Balita Korban Bencana Boleh Makan Mi Instan Maksimal 3 Hari Saja

    Jakarta

    Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso SpA, memberikan catatan penting terkait pemberian mi instan kepada bayi dan balita di lokasi bencana. Menurutnya, asupan untuk balita tidak bisa disamakan dengan orang dewasa karena kebutuhan nutrisi mereka jauh lebih spesifik.

    dr Piprim menjelaskan bahwa dalam kondisi darurat yang sangat ekstrem, pemberian mi instan mungkin bisa dimaklumi hanya untuk tujuan bertahan hidup sementara.

    “Tapi dalam kondisi darurat, artinya nggak lama-lama ya, mungkin 3 hari pertama nggak ada makanan apapun selain mi instan ya mungkin oke untuk survival,” ujar dr Piprim saat ditemui di Kantor IDAI, Jakarta, Senin (22/12/2025).

    Dia memberikan peringatan jika pemberian mi instan berlanjut hingga berminggu-minggu. Kandungan mi instan yang didominasi karbohidrat dan tinggi garam, namun rendah serat dan protein, dapat merusak status gizi anak.

    “Ketika anak khususnya balita butuh nutrisi prohe (protein hewani) yang cukup dengan karbo dan lemaknya, ini tentu akan mengganggu masalah status gizi mereka,” tegasnya.

    Dorong Dapur MPASI

    Begitu akses bantuan mulai masuk, dr Piprim mengimbau pihak terkait untuk segera menyediakan dapur khusus MPASI bagi bayi di bawah satu tahun dan balita.

    “Apabila sudah ada akses, kondisi ideal tentu saja bikin dapur umum ya,” ucap dr Piprim.

    Jika dapur umum belum memungkinkan, ia menyarankan penggunaan pangan dengan teknologi retort.

    Teknologi retort memungkinkan makanan utuh divakum dan disterilisasi suhu tinggi sehingga awet tanpa bahan kimia. dr. Piprim mencontohkan pengiriman rendang sebagai salah satu asupan ideal di lokasi bencana.

    “Makanan-makanan ini kan bisa mengandung protein atau karbo yang bisa siap santap tanpa proses yang ribet. Kemarin juga ada yang kirim rendang, makanan awet tapi nutrisinya tinggi, ini juga sangat diperlukan,” jelasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Ini Asupan Gizi yang Dibutuhkan untuk Pertumbuhan Tulang Anak”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

    Dilema Mi Instan di Tengah Bencana

    6 Konten

    Mi instan memang bukan sumber pangan ideal. Namun dalam situasi krisis, produk ini kerap jadi satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup. Hingga selama apa bisa bertahan dengan situasi tersebut?

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Imunisasi di Wilayah Bencana Sumatera Terganggu, Lokasi Penyimpanan Vaksin Rusak

    Imunisasi di Wilayah Bencana Sumatera Terganggu, Lokasi Penyimpanan Vaksin Rusak

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI buka-bukaan soal kondisi program imunisasi di wilayah bencana Sumatera yang terganggu akibat bencana alam beberapa waktu lalu. Direktur Imunisasi Kemenkes RI Indri Yogyaswari mengungkapkan ada tiga tantangan besar dalam pelaksanaan program imunisasi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, yaitu stok, penyimpanan, dan tenaga kesehatan.

    Indri mencontohkan misalnya di Provinsi Aceh, banyak tempat penyimpanan vaksin yang rusak karena banjir besar. Ini juga ditambah dengan kondisi listrik yang masih belum bekerja sempurna.

    “Kita konfirmasi ke teman-teman di daerah, puskesmas itu banyak yang terdampak kan. Jadi refrigeratornya pada jungkir balik dan tidak bisa dipakai. Listrik juga masih down, sekarang masih diproses, beberapa puskesmas mulai di-up lagi listriknya,” ungkap Indri dalam acara temu media di Jakarta Selatan, Senin (22/12/2025).

    Kondisi-kondisi tersebut membuat proses imunisasi terganggu, terlebih vaksin harus disimpan dengan temperatur yang baik.

    Selain itu, Indri juga menyoroti faktor tenaga kesehatan atau vaksinator. Pada saat ini, kebanyakan tenaga kesehatan lebih difokuskan untuk pelayanan kesehatan bagi korban di pengungsian. Ini ditambah dengan situasi tenaga kesehatan yang juga terdampak bencana.

    Untuk mengatasi hal ini, Kemenkes sudah mengeluarkan surat edaran (SE) dari Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit tentang Kewaspadaan PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) di wilayah tersebut. Selain itu, Indri menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak daerah, untuk mencari solusi terkait hal ini.

    “Target kita adalah imunisasi tambahan di pos pengungsian, kemudian di desa yang terdampak langsung, sama yang tempat-tempat munculnya suspek. Karena kan suspek campak kan di situ. Itu yang kita mau sasar dulu,” ungkap Indri.

    Kemenkes menanggapi kondisi ini dengan serius. Terlebih, Aceh sebagai salah satu wilayah terdampak bencana juga menjadi salah satu wilayah dengan cakupan imunisasi lengkap 14 antigen terendah di Indonesia dengan 36,7 persen.

    Sementara itu, Sumatera Barat sebanyak 43,4 persen dan Sumatera Utara sebanyak 62,3 persen.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Imunisasi di Wilayah Bencana Sumatera Terganggu, Lokasi Penyimpanan Vaksin Rusak

    Imunisasi di Wilayah Bencana Sumatera Terganggu, Lokasi Penyimpanan Vaksin Rusak

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI buka-bukaan soal kondisi program imunisasi di wilayah bencana Sumatera yang terganggu akibat bencana alam beberapa waktu lalu. Direktur Imunisasi Kemenkes RI Indri Yogyaswari mengungkapkan ada tiga tantangan besar dalam pelaksanaan program imunisasi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, yaitu stok, penyimpanan, dan tenaga kesehatan.

    Indri mencontohkan misalnya di Provinsi Aceh, banyak tempat penyimpanan vaksin yang rusak karena banjir besar. Ini juga ditambah dengan kondisi listrik yang masih belum bekerja sempurna.

    “Kita konfirmasi ke teman-teman di daerah, puskesmas itu banyak yang terdampak kan. Jadi refrigeratornya pada jungkir balik dan tidak bisa dipakai. Listrik juga masih down, sekarang masih diproses, beberapa puskesmas mulai di-up lagi listriknya,” ungkap Indri dalam acara temu media di Jakarta Selatan, Senin (22/12/2025).

    Kondisi-kondisi tersebut membuat proses imunisasi terganggu, terlebih vaksin harus disimpan dengan temperatur yang baik.

    Selain itu, Indri juga menyoroti faktor tenaga kesehatan atau vaksinator. Pada saat ini, kebanyakan tenaga kesehatan lebih difokuskan untuk pelayanan kesehatan bagi korban di pengungsian. Ini ditambah dengan situasi tenaga kesehatan yang juga terdampak bencana.

    Untuk mengatasi hal ini, Kemenkes sudah mengeluarkan surat edaran (SE) dari Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit tentang Kewaspadaan PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) di wilayah tersebut. Selain itu, Indri menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak daerah, untuk mencari solusi terkait hal ini.

    “Target kita adalah imunisasi tambahan di pos pengungsian, kemudian di desa yang terdampak langsung, sama yang tempat-tempat munculnya suspek. Karena kan suspek campak kan di situ. Itu yang kita mau sasar dulu,” ungkap Indri.

    Kemenkes menanggapi kondisi ini dengan serius. Terlebih, Aceh sebagai salah satu wilayah terdampak bencana juga menjadi salah satu wilayah dengan cakupan imunisasi lengkap 14 antigen terendah di Indonesia dengan 36,7 persen.

    Sementara itu, Sumatera Barat sebanyak 43,4 persen dan Sumatera Utara sebanyak 62,3 persen.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • RS EMC Alam Sutera Lakukan Operasi Bariatrik Pertama di RI Pakai Robot

    RS EMC Alam Sutera Lakukan Operasi Bariatrik Pertama di RI Pakai Robot

    Jakarta

    RS EMC Alam Sutera berhasil melakukan operasi bariatrik pertama di Indonesia menggunakan teknologi da Vinci Xi Robotic Surgery. Prosedur ini menjadi langkah maju dalam penanganan obesitas dengan pendekatan bedah yang lebih presisi, aman, dan minim invasif.

    Presiden Direktur PT Sarana Meditama International & Direktur RS EMC Alam Sutera dr. Juniwati Gunawan, M.M menyampaikan keberhasilan operasi ini menandai komitmen rumah sakit dalam mengadopsi inovasi medis terkini.

    Ia mengatakan Robotic Surgery bukan untuk menggantikan peran dokter, melainkan menjadi alat bantu yang memperkuat kemampuan tenaga medis dalam memberikan pelayanan yang lebih aman, presisi, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

    “Kami terus berinvestasi pada teknologi dan sumber daya manusia agar dapat memberikan layanan terbaik bagi pasien. Kehadiran da Vinci Xi Robotic Surgery ini menjadi wujud nyata komitmen tersebut,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (19/12/2025).

    Sementara itu Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Digestive RS EMC Alam Sutera, dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS mengatakan operasi bariatrik dengan bantuan robotik memberikan manfaat signifikan bagi pasien, antara lain sayatan yang lebih kecil, risiko komplikasi yang lebih rendah, nyeri pasca operasi yang minimal, serta pemulihan yang lebih cepat.

    “Teknologi ini memberikan keunggulan klinis yang signifikan. Dengan da Vinci Xi Robotic Surgery kami dapat melakukan tindakan bedah dengan akurasi yang jauh lebih tinggi, terutama pada prosedur yang kompleks. Hal ini berdampak langsung pada keselamatan pasien dan hasil klinis yang lebih optimal,” tegasnya.

    Foto: RS EMC Alam Sutera

    Operasi Bariatrik adalah salah satu solusi masalah obesitas yang semakin banyak terjadi saat ini. Dalam tindakan ini dilakukan modifikasi saluran pencernaan pasien. Prosedur ini bukan merupakan operasi kosmetik, melainkan langkah medis untuk menangani obesitas yang tidak berhasil diatasi melalui diet atau olahraga.

    Selama 10 tahun terakhir, RS EMC Alam Sutera melakukan operasi bariatrik dengan metode Laparoskopi, dan hingga saat ini tercatat sudah lebih dari 1.200 operasi bariatrik berhasil dilakukan dan membantu pasien mencapai penurunan berat badan 50-70% dalam kurun waktu 12-18 bulan setelah operasi.

    Dengan kehadiran da Vinci Xi Robotic Surgery, tindakan bariatrik kini bisa dilakukan dengan robotik dan memberikan hasil yang lebih baik lagi.

    Operasi bariatrik robotik telah dilakukan perdana pada tanggal 11 & 12 Desember 2025 oleh tim dokter spesialis bedah digestif RS EMC Alam Sutera yang sudah mendapatkan pelatihan khusus penggunaan sistem da Vinci Xi Robotic Surgery.

    Teknologi robotik ini memungkinkan dokter melakukan tindakan dengan tingkat akurasi tinggi, visualisasi tiga dimensi yang lebih jelas, serta kontrol gerakan yang lebih stabil selama prosedur berlangsung.

    Selain itu tentunya memberikan manfaat signifikan bagi pasien, antara lain nyeri pasca operasi yang lebih minimal, risiko perdarahan yang lebih rendah, serta waktu pemulihan yang lebih cepat.

    Operasi bariatrik merupakan salah satu metode efektif dalam menangani obesitas dan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik lainnya. Dengan dukungan teknologi robotik, prosedur ini diharapkan dapat memberikan hasil klinis yang optimal serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

    Adapun da Vinci Xi Robotic Surgery diproduksi oleh Intuitive Surgical Inc., perusahaan pionir teknologi medis yang berbasis di Sunnyvale, California. Da Vinci Xi adalah sistem bedah robotik generasi ke-empat yang paling canggih saat ini untuk prosedur bedah invasif minimal.

    Foto: RS EMC Alam Sutera

    Banyak negara yang sudah memproduksi sistem robotik, namun Intuitive adalah pelopor dalam dunia robotik ini. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan dokter bedah dalam melakukan operasi kompleks dengan presisi tinggi melalui:

    • Empat Lengan Robotik: Memberikan fleksibilitas lebih besar untuk menjangkau area tubuh yang sulit diakses oleh tangan manusia.

    • Visi 3D High-Definition: Memberikan tampilan organ tubuh yang sangat detail dan diperbesar bagi dokter.

    Dengan kecanggihan teknologi alat ini dapat dicapai presisi tindakan medis, mempercepat proses pemulihan pasien, serta mendukung tenaga medis dalam memberikan pelayanan yang optimal.

    Selain untuk operasi bariatrik, da Vinci Xi Robotic Surgery juga akan digunakan untuk bedah lainnya seperti Bedah Digestive, Bedah Urologi, Bedah Hepatobilier, Bedah Ginekologi, Bedah Umum, dan bidang-bidang lainnya yang dimungkinkan untuk menggunakan alat ini.

    RS EMC Alam Sutera memastikan bahwa setiap tindakan robotic surgery dilakukan sesuai standar keselamatan pasien, didukung fasilitas modern, serta tim medis multidisiplin berpengalaman yang telah menjalani pelatihan dan sertifikasi sesuai standar yang berlaku.

    Ke depannya, RS EMC Alam Sutera berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan bedah berbasis robotik sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan yang inovatif dan berorientasi pada pasien.

    (EMC Healthcare/sls)

  • Peneliti Ungkap Kebiasaan yang Bikin Otak 8 Tahun Lebih Muda, Anti Pikun

    Peneliti Ungkap Kebiasaan yang Bikin Otak 8 Tahun Lebih Muda, Anti Pikun

    Jakarta

    Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan University of California, menemukan beberapa kebiasaan simpel yang bisa dilakukan agar otak bisa awet muda, bahkan hingga 8 tahun lebih muda. Jawabannya adalah tidur yang nyenyak, kemampuan mengelola stres baik, dan kehidupan sosial yang baik.

    Studi ini melibatkan 128 orang dewasa paruh baya hingga lanjut usia dari empat benua yang perkembangannya diikuti hingga 2 tahun. Hampir 70 persen pesertanya adalah seorang perempuan dan kebanyakan mengalami nyeri kronis.

    Melalui pemeriksaan MRI, peneliti lalu memperkirakan usia otak tiap peserta. Lalu, usia otak tersebut dibandingkan dengan usia biologis mereka.

    Hasilnya, peserta yang melakukan kombinasi faktor psikologis dan gaya hidup paling sehat, memiliki otak yang terlihat lebih muda sampai 8 tahun dari perkiraan.

    Sebaliknya, responden yang mengalami ‘kesulitan hidup’ seperti nyeri kronis, pendapatan rendah, pendidikan rendah, hingga kerugian sosial, dikaitkan dengan otak yang terlihat lebih tua.

    Meski demikian, peneliti mengatakan gaya hidup positif yang kuat dapat mengalahkan efek dari ‘kesulitan hidup’ yang memicu penuaan pada otak. Mereka juga menambahkan penuaan otak juga dapat dipicu oleh kebiasaan merokok dan berat badan tidak sehat.

    “Pesan dari berbagai penelitian kami konsisten. Perilaku yang mendukung kesehatan tidak hanya berkaitan dengan nyeri yang lebih rendah dan fungsi fisik yang lebih baik, tetapi juga tampaknya benar-benar memperkuat kesehatan secara bertahap pada tingkat yang bermakna,” ujar peneliti Kimberly Sibille, dikutip dari Daily Mail, Kamis (18/12/2025).

    Penelitian ini menambah bukti kesehatan mental dan pilihan gaya hidup berperan penting dalam menjaga kesehatan otak. Efeknya bahkan muncul pada orang yang hidup dengan nyeri kronis atau kondisi kesehatan jangka panjang.

    Temuan ini muncul seiring dengan penelitian terpisah yang menunjukkan bahwa ciri kepribadian tertentu dapat memengaruhi panjang umur seseorang.

    Dalam sebuah analisis besar yang dipimpin peneliti dari University of Limerick, para ilmuwan menelaah data dari lebih dari setengah juta orang. Selama periode penelitian, 43.851 peserta meninggal dunia.

    Kepribadian Menentukan Panjang Umur

    Tim peneliti mengkaji lima sifat kepribadian utama, yaitu neurotisisme, ekstroversi, keterbukaan, keramahan, dan kehati-hatian (conscientiousness), serta hubungannya dengan risiko kematian.

    Orang dengan tingkat neurotisisme yang lebih tinggi, yang ditandai dengan mudah cemas dan ketidakstabilan emosi, memiliki risiko meninggal lebih dini sebesar 3 persen lebih tinggi.

    Orang dengan tingkat conscientiousness lebih tinggi, yang berkaitan dengan sifat teratur, disiplin, dan dapat diandalkan, dikaitkan dengan risiko kematian 10 persen lebih rendah. Lalu, ekstroversi yang mencerminkan sifat mudah bergaul dan keterlibatan sosial, dikaitkan dengan risiko kematian tiga persen lebih rendah.

    Terakhir, tidak ditemukan hubungan yang jelas antara angka kematian dengan sifat keterbukaan maupun keramahan.

    “Penelitian kami menunjukkan bahwa cara kita berpikir, merasakan, dan berperilaku tidak hanya berkaitan dengan kepuasan hidup dan hubungan sosial, tetapi juga dengan seberapa panjang usia kita,” kata Dr Máire McGeehan, profesor madya di University of Limerick yang memimpin studi tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Kemenkes Siapkan Imunisasi Heksavalen, Satu Vaksin untuk Cegah 6 Penyakit

    Kemenkes Siapkan Imunisasi Heksavalen, Satu Vaksin untuk Cegah 6 Penyakit

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menyiapkan vaksin heksavalen yang nantinya akan menjadi salah satu program utama imunisasi untuk anak. Vaksin heksavalen bernama DPT-Hb-Hib-IPV itu nantinya akan diberikan pada anak sebanyak tiga kali, yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

    Vaksin heksavalen merupakan kombinasi dua jenis vaksin yang selama ini sudah diberikan dalam program imunisasi, yaitu DPT-Hb-Hib (pentavalen) dan IPV (polio). Melalui inovasi penggabungan ini, nantinya dapat mengurangi jumlah suntikan, menghemat waktu dan transport, dan mempercepat terbentuknya kekebalan masyarakat terhadap penyakit.

    Selain itu, Kemenkes melihat adanya jarak antara cakupan imunisasi pentavalen dan IPV. Penggabungan ini diharapkan bisa memperkecil jarak tersebut dan mempercepat proses eradikasi polio.

    “Isi vaksinnya bukan hal yang baru, cuma pemberiannya itu dicarikan terobosan. Sehingga diharapkan lebih mudah pemberiannya pada anak-anak. Yang awalnya dari dua suntikan, menjadi satu suntikan,” ungkap Direktur Imunisasi Kemenkes RI Indri Yogyaswari, dalam temu media di Jakarta Selatan, Senin (22/12/2025).

    Cegah 6 penyakit

    Vaksin ini akan mencegah enam penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis, tetanus, polio, hepatitis B, serta infeksi haemophilus influenzae type B yang dapat memicu radang selaput otak dan pneumonia.

    Pada saat ini, imunisasi heksavalen baru dilaksanakan di sembilan provinsi. Ini meliputi Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Bali, Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya.

    Pemberian imunisasi heksavalen dilakukan secara bertahap sampai nantinya akan dilaksanakan secara nasional mulai tahun 2026.

    “Imunisasinya bisa di banyak tempat, selamas tempat itu menyediakan layanan imunisasi, puskesmas, posyandu itu pasti, di luar itu bisa di faskes lainnya, cuma harus tetap membawa buku KIA (kesehatan ibu dan anak) untuk mencatat dan tracking seberapa jauh imunisasinya,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Tren Kanker Payudara Usia Muda Meningkat, Gen Z Juga Bisa Kena

    Tren Kanker Payudara Usia Muda Meningkat, Gen Z Juga Bisa Kena

    Jakarta

    Kanker payudara selama ini sering dianggap sebagai penyakit yang hanya mengintai wanita usia lanjut. Namun, data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: kanker payudara kini semakin sering menyerang usia produktif, termasuk generasi Z.

    Kisah Alexis Klimpl, seorang wanita yang didiagnosis kanker payudara stadium 2 di usia 24 tahun, menjadi alarm keras bagi dunia medis. Direktur Yale Cancer Center, Dr. Eric Winer, menyebut fenomena ini sebagai perhatian serius.

    “Kekhawatiran kami adalah angkanya meningkat sama sekali. Hal ini bukan karena skrining, karena kita tidak melakukan skrining pada pasien muda seperti ini, dan kita belum benar-benar memahami penyebabnya,” jelas Dr Winer kepada USA Today.

    Pemicu kanker payudara usia muda

    Salah satu alasan mengapa diagnosis pada wanita muda sering terlambat adalah keterbatasan alat. Dr Winer menjelaskan bahwa pemeriksaan mamografi saja sering kali tidak efektif untuk wanita di bawah usia 40 tahun.

    Hal ini disebabkan karena wanita muda memiliki jaringan payudara yang lebih padat (denser breast tissue), sehingga tumor sering kali tersembunyi dan sulit terlihat pada hasil rontgen biasa.

    Hingga saat ini, para ahli masih meneliti penyebab pasti pergeseran usia penderita kanker ini. Dr Carmen Calfa, onkolog dari Sylvester Comprehensive Cancer Center, menyebut kondisi ini bersifat multifaktorial.

    “Peningkatan insiden kanker payudara dan onset dini adalah kekhawatiran serius. Kita perlu berupaya memahami semua faktor risiko, termasuk genetika, dan memodifikasi faktor yang memang bisa diubah,” ujar Dr Calfa.

    Harapan Sembuh Besar

    Namun, Dr Winer memberikan optimisme bahwa peluang sembuh sangat terbuka lebar.

    “Untuk pasien stadium 1, 2, atau 3, tujuan pengobatan adalah membawa mereka ke kondisi bebas kanker dan berharap kanker tersebut tidak akan pernah kembali lagi,” tegasnya.

    Berkat perkembangan riset yang pesat, pasien dengan stadium lanjut sekalipun kini bisa bertahan hidup bertahun-tahun dengan kualitas hidup yang sangat baik.

    Karena skrining massal (seperti mamografi) tidak rutin diberikan pada usia muda, pemeriksaan mandiri menjadi kunci utama.

    Berikut adalah langkah SADARI (Periksa Payudara Sendiri) yang disarankan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes).

    Berdiri di Depan Cermin: Perhatikan apakah ada perubahan bentuk, ukuran, atau warna kulit pada payudara. Lihat juga apakah ada cairan yang keluar dari puting.Angkat Kedua Lengan: Periksa apakah ada tarikan pada jaringan payudara atau benjolan yang terlihat saat lengan diangkat ke atas kepala.Raba dengan Gerakan Memutar: Saat mandi atau berbaring, gunakan tiga jari tengah untuk meraba payudara dengan gerakan memutar kecil, mulai dari bagian luar hingga ke area puting.Periksa Area Ketiak: Jangan lupa meraba area sekitar ketiak, karena jaringan payudara juga memanjang hingga ke area tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Temuan Baru Ilmuwan, Depresi Bisa Jadi ‘Silent Killer’ Picu Jantung Kolaps

    Temuan Baru Ilmuwan, Depresi Bisa Jadi ‘Silent Killer’ Picu Jantung Kolaps

    Jakarta

    Depresi selama ini kerap dianggap hanya berdampak pada kesehatan mental. Namun, sebuah studi terbaru mengungkap fakta yang lebih mengkhawatirkan. Depresi ternyata bisa menjadi silent killer yang secara perlahan mengancam kesehatan jantung.

    Dikutip dari Times of India, sebuah studi yang diterbitkan dalam Circulation: Cardiovascular Imaging menunjukkan depresi kronis diam-diam dapat memicu serangan jantung, stroke, dan gagal jantung.

    Dalam analisis jangka panjang terhadap lebih dari 85.000 orang dewasa tersebut, mereka yang mengidap depresi dan kecemasan secara bersamaan memiliki risiko lebih tinggi.

    Hubungan Otak dan Jantung dengan Stres

    Yang membedakan penelitian ini adalah fokusnya pada biologi, bukan hanya perilaku. Dalam kelompok partisipan yang menjalani brain imaging, ilmuwan mengamati orang yang stres memiliki peningkatan aktivitas di amigdala.

    Ini menunjukkan bahwa orang dengan depresi mungkin hidup bahwa orang dengan depresi mungkin hidup dengan respons stres yang tetap aktif secara terus-menerus.

    Stres dan Beban Fisik

    Mereka yang mengalami depresi akan mengubah cara kerja tubuh. Tekanan darah cenderung tetap tinggi, pemulihan detak jantung melambat, dan peradangan tingkat rendah menjadi lebih umum.

    Selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, perubahan ini dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terkena penyakit jantung.

    Bahkan, hubungan antara depresi dan penyakit jantung masih tetap ada meskipun peneliti telah mengesampingkan faktor lain seperti merokok, diabetes, hingga aktivitas fisik. Ini menunjukkan bahwa depresi tidak hanya terhubung dengan penyakit jantung melalui kebiasaan tidak sehat.

    Para peneliti memperingatkan bahwa studi ini tidak membuktikan bahwa depresi secara langsung menyebabkan penyakit jantung. Namun demikian, sinyal biologis yang ditemukan membantu menjelaskan mengapa keduanya sering muncul bersamaan.

    Kesehatan jantung dipengaruhi oleh lebih dari sekadar gaya hidup sehat, seperti pola makan, olahraga, dan genetika. Stres emosional meninggalkan bekas fisik yang nyata pada tubuh, dan menjaga kesehatan mental merupakan cara yang baik untuk menjaga jantung tetap sehat.

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/kna)

  • Salah Kaprah ‘Obat Dewa’ Dexamethasone, Risiko Fatal di Balik Kesembuhan Instan

    Salah Kaprah ‘Obat Dewa’ Dexamethasone, Risiko Fatal di Balik Kesembuhan Instan

    Jakarta

    Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan oleh unggahan yang menyebut Dexamethasone sebagai ‘obat dewa’. Hanya saja, label ‘dewa’ ini bisa menyimpan masalah besar bagi kesehatan jika asal dikonsumsi.

    Pakar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Zullies Ikawati menjelaskan dexamethasone adalah golongan kortikosteroid kuat yang bekerja menekan sistem imun dan peradangan.

    Karena kemampuannya masuk ke berbagai sistem tubuh, efeknya memang terasa luas, namun sekaligus menyimpan bom waktu bagi kesehatan jika dikonsumsi sembarangan.

    Dexamethasone bukan sekadar obat pereda nyeri biasa. Cara kerjanya meniru hormon steroid (kortisol) yang diproduksi secara alami oleh kelenjar adrenal manusia. Menurut Prof Zullies, sifatnya yang memengaruhi banyak sistem tubuh sekaligus inilah yang membuat efek sampingnya sangat beragam.

    “Jika digunakan terlalu lama atau terlalu sering, akan banyak efek sampingnya. Risiko ini dipengaruhi oleh lama penggunaan, dosis, frekuensi dan juga kondisi tubuh,” ungkap Prof Zullies.

    Ancaman ‘Moon Face’ hingga Osteoporosis

    Bukan tanpa alasan Dexamethasone masuk dalam kategori obat keras. Berbagai literatur medis menyebutkan bahwa penggunaan steroid jangka panjang dapat memicu sindrom Cushing. Gejala yang paling khas adalah moon face atau pembengkakan wajah hingga berbentuk bulat akibat gangguan distribusi lemak.

    Selain itu, sebuah studi dalam jurnal Frontiers in Endocrinology mencatat bahwa glukokortikoid seperti Dexamethasone secara langsung menghambat pembentukan tulang dan mempercepat pengeroposan.

    Akibatnya, pengguna jangka panjang berisiko tinggi mengalami osteoporosis meskipun usianya masih muda.

    Secara medis, asupan steroid dari luar menyebabkan kelenjar adrenal “malas” bekerja karena menganggap stok hormon dalam tubuh sudah cukup.

    Prof Zullies memperingatkan bahwa penghentian mendadak bisa membuat tubuh mengalami syok hebat.

    “Jadi dexamethasone ini tdk boleh dihentikan mendadak kalau sdh dikonsumsi lama karena nanti tubuh bisa kaget dan bisa muncul keluhan seperti lemas yang ekstrem, tekanan darah turun sampai syok,” tegasnya.

    Bukan Obat Pegal Linu

    Dia mengimbau tidak menjadikan dexamethasone sebagai solusi untuk keluhan harian seperti badan pegal atau kelelahan. Prof Zullies menyarankan agar masyarakat kembali merujuk pada obat yang lebih spesifik dan aman.

    “(Dexamethasone) tidak boleh digunakan hanya karena capek atau biar badan enak,” ucap dia.

    Sebagai obat keras, penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter demi menghindari kerusakan organ tubuh.

    “Untuk nyeri yang ringan atau radang yang ringan, maka tidak perlu menggunakan dexamethasone, cukup dengan parasetamol atau obat anti inflamasi non steroid lain misal asam mefenamat,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: Amankah Pemberian Teh Pada Anak?”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Pakar Sarankan Minum Kopi Sejam Pertama Setelah Bangun Tidur, Ini Alasannya

    Pakar Sarankan Minum Kopi Sejam Pertama Setelah Bangun Tidur, Ini Alasannya

    Jakarta

    Bagi banyak orang, pagi terasa belum lengkap tanpa secangkir kopi. Selain menambah energi, kopi diharapkan bisa mengusir rasa kantuk selama beraktivitas.

    Namun, kebiasaan ini ternyata tidak sepenuhnya disarankan. Seorang pakar tidur, Rex Isap, mengingatkan minum kopi terlalu cepat setelah bangun tidur bisa mengurangi manfaat kafein dan berdampak kurang baik untuk tubuh.

    Maka dari itu, Rex menyarankan agar seseorang tidak langsung minum kopi dalam satu jam pertama setelah bangun. Menurutnya, banyak orang terbiasa meneguk kopi dalam 5-10 menit setelah membuka mata.

    “Untuk mendapatkan manfaat kafein secara optimal, sebaiknya tunggu setidaknya satu jam setelah bangun tidur,” kata Isap, dikutip dari Unilad.

    Isap menjelaskan saat seseorang bangun tidur, kadar hormon kortisol dalam tubuh berada pada titik tertinggi. Kortisol memang sering dikaitkan dengan stres, tetapi hormon juga berperan meningkatkan kewaspadaan secara alami.

    “Jika kafein dikonsumsi saat kadar kortisol sedang tinggi, efek kafein bisa menjadi kurang terasa dan dalam jangka panjang justru memicu toleransi terhadap kafein,” sambungnya.

    Artinya, semakin pagi kopi diminum, maka besar kemungkinan efeknya terasa lemah seiring waktu.

    Isap memaparkan peran adenosin, zat kimia di otak yang memicu rasa kantuk. Sepanjang hari, adenosin akan terus menumpuk dan membuat tubuh merasa lelah.

    Kafein bekerja dengan cara memblokir reseptor adenosin, sehingga seseorang merasa lebih terjaga dan fokus.

    “Ini juga menjelaskan mengapa sebagian orang sulit tidur di malam hari setelah seharian minum kopi,” katanya.

    Maka dari itu, Isap menyarankan agar konsumsi kopi pagi ditunda setidaknya satu jam setelah bangun tidur. Dengan begitu, keseimbangan kortisol tetap terjaga dan kualitas pun bisa lebih baik.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)