Kemenkes dan Pemprov DKI Gelar Vaksinasi HPV Gratis di Jakarta
Category: Detik.com Kesehatan
-

Sekilas Terlihat Susah, Tapi Bisa Jawab Semua? Fix, IQ Kamu Tinggi
Asah Otak
Daffa Ghazan – detikHealth
Selasa, 23 Des 2025 20:02 WIB
Jakarta – Soal hitung-hitungan ini sekilas tampak rumit dan bikin mikir. Namun jika bisa menjawabnya dengan cepat dan tepat, itu tanda IQ kamu tergolong tinggi.
-

Variasi Orgasme Pria Dibongkar Pakar Seks, Ternyata Ada 5 Jenis Berbeda
Jakarta –
Orgasme pada pria kerap dianggap sebagai proses yang sederhana. Namun, fakta medis menunjukkan hal yang lebih kompleks.
Pakar menyebut pria ternyata bisa mengalami berbagai jenis orgasme dengan sensasi dan mekanisme yang berbeda-beda. Terapis seksual sekaligus perawat spesialis Lorraine Grover menjelaskan bahwa setidaknya ada enam jenis orgasme yang dapat dialami pria.
Menariknya, variasi orgasme ini bukan hanya berkaitan dengan kenikmatan seksual. Tetapi juga memberikan dampak pada kesehatan, termasuk penurunan risiko kanker prostat.
“Banyak pria tidak menyadari bahwa orgasme tidak selalu harus disertai ereksi atau ejakulasi,” tutur Grover, dikutip dari Unilad.
Menurutnya, memahami variasi orgasme dapat membantu mengurangi tekanan psikologis, sekaligus meningkatkan kualitas hubungan intim. Meski begitu, tidak semua pria akan mengalami keenam jenis orgasme tersebut.
“Setiap tubuh berbeda. Ada yang lebih peka secara fisik atau emosional, sementara yang lain membutuhkan waktu, dukungan, atau kondisi kesehatan yang lebih baik. Kuncinya bukan membandingkan diri, tapi rasa ingin tahu,” jelasnya.
Hubungan Ejakulasi dan Risiko Kanker Prostat
Selain soal kenikmatan, orgasme yang disertai ejakulasi juga dikaitkan dengan manfaat kesehatan jangka panjang. Sebuah studi tahun 2016 menunjukkan bahwa rutin berejakulasi dapat membantu menurunkan risiko kanker prostat secara signifikan.
Penelitian dari Harvard University memperkuat temuan ini. Berdasarkan data mereka, pria yang berejakulasi setidaknya 21 kali dalam sebulan memiliki risiko kanker prostat 20 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang frekuensinya lebih jarang.
Hal ini dianggap penting karena saat ini kanker prostat merupakan salah satu jenis kanker paling umum pada pria, dengan perkiraan 1,5 hingga 1,6 juta kasus baru setiap tahunnya di seluruh dunia.
Jenis-jenis Orgasme Pria
1. Orgasme dengan ejakulasi
Ini merupakan jenis orgasme yang paling dikenal. Ejakulasi merupakan pelepasan air mani dari penis yang diserti orgasme, melalui proses kontraksi otot panggul.
Sensasinya berupa pelepasan ketegangan yang singkat dan berirama. Meski umum, hanya sekitar 60 persen pria yang selalu mencapainya dalam setiap aktivitas seksual.
2. Orgasme panggul
Jenis ini bergantung pada kontraksi otot dasar panggul dan dapat terjadi dengan sedikit atau tanpa sentuhan langsung. Sensasinya berupa denyutan internal di area tubuh bagian bawah dan bisa terjadi tanpa ejakulasi.
3. Orgasme kering
Pria juga bisa mencapai orgasme tanpa ejakulasi. Menurut Grover, sensasinya tetap terasa, meski intensitasnya lebih rendah dan waktu pemulihan lebih cepat.
Namun, jika terjadi terus-menerus, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
4. Orgasme campuran
Jenis ini merupakan kombinasi stimulasi penis dan prostat, yang menghasilkan sensasi berlapis dan lebih dalam. Latihan kontrol ejakulasi dan otot panggul dapat membantu mencapainya.
5. Orgasme ganda
Meski jarang terjadi, sebagian pria mampu mengalami lebih dari satu orgasme dalam satu sesi. Hal ini cukup menantang karena umumnya mengalami fase refrakter, yakni periode saat tubuh kurang responsif pada rangsangan seksual.
Grover menekankan fokus berlebihan pada hasil justru bisa menghambat pengalaman seksual.
“Saat perhatian dialihkan ke sensasi, bukan target orgasme, tubuh sering kali memberi kejutan,” pungkasnya.
Halaman 2 dari 3
(sao/kna)
-

Penyakit Usia Tua Mulai Incar Generasi Muda, Dokter Bongkar Biang Keroknya
Jakarta –
Selama bertahun-tahun, penyakit saraf seperti stroke, gangguan daya ingat, hingga kerusakan saraf identik dengan kelompok lanjut. Tetapi, kini pola tersebut mulai bergeser.
Sejumlah rumah sakit melaporkan peningkatan kasus penyakit neurologis pada kelompok dewasa muda, bahkan di usia 20-30-an. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan dokter saraf dan pakar kesehatan masyarakat.
Penyakit yang dulunya banyak ditemukan pada usia 60 tahun ke atas, kini semakin sering menyebabkan rawat inap pada pasien yang masih produktif.
Ahli neurologi RS CK Birla CMRI Kolkata, Dr Deep Das, menyebut gaya hidup modern menjadi faktor utama yang mempercepat penuaan otak. Jam kerja panjang, stres berkepanjangan, kurang tidur, pola makan tidak sehat, minim aktivitas fisik paparan layar berlebihan dinilai berperan besar.
“Kebiasaan-kebiasaan ini merusak kesehatan otak dan pembuluh darah secara perlahan. Dampaknya sering tidak disadari sampai akhirnya muncul kondisi serius,” jelas Dr Das, dikutip dari India Today.
Penyakit ‘Usia Tua’ yang Kini Menyerang Anak Muda
Dokter menyebut kondisi seperti stroke, penurunan fungsi kognitif dini, kerusakan saraf, migrain berat, hingga gangguan gerak kini semakin sering ditemukan pada pasien usia muda.
Tak jarang, kerusakan sudah berlangsung bertahun-tahun sebelum gejalanya cukup berat sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit.
Gaya Hidup Modern Percepat Penuaan Otak
Stres kronis dan kurang tidur menjadi dua pemicu terbesar penuaan dini otak. Tuntutan kerja tinggi dan konektivitas digital yang nyaris tanpa jeda membuat otak kehilangan waktu untuk beristirahat dan memperbaiki diri.
Selain itu, gaya hidup sedentari menghambat aliran darah ke otak, sementara konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak memicu peradangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berdampak pada memori, konsentrasi, dan fungsi otak secara keseluruhan.
Hipertensi dan Diabetes Makin Dini
Tekanan darah tinggi dan diabetes, yang dulu identik dengan usia lanjut, kini banyak ditemukan pada usia muda. Jika tidak terkontrol, kedua kondisi ini dapat merusak pembuluh darah otak dan meningkatkan risiko stroke serta gangguan saraf.
Masalahnya, banyak dewasa muda tidak menyadari kondisi tersebut hingga mengalami kondisi darurat neurologis.
Polusi dan Paparan Layar Ikut Berperan
Paparan polusi udara jangka panjang juga disebut memengaruhi kesehatan pembuluh darah dan pasokan oksigen ke otak, sehingga memicu peradangan. Di sisi lain, penggunaan gadget berlebihan berdampak pada kualitas tidur, kelelahan mental, dan menurunnya rentang perhatian.
Kombinasi faktor lingkungan dan digital ini dinilai semakin mempercepat proses penuaan sistem saraf.
Pentingnya Skrining Dini
Dr Das menegaskan skrining kesehatan sejak dini dan perubahan gaya hidup dapat menurunkan risiko kerusakan neurologis jangka panjang. Pemeriksaan rutin tekanan darah gula darah, olahraga teratur, pola makan seimbang, manajemen stres, serta tidur cukup menjadi langkah penting menjaga kesehatan otak.
Ia juga mengingatkan agar segera mencari pertolongan medis bila muncul tanda peringatan seperti sakit kepala berkepanjangan, mati rasa, gangguan ingatan, atau kelemahan mendadak.
“Meningkatnya penyakit saraf pada usia muda adalah peringatan serius. Perlindungan kesehatan otak harus dimulai sejak dini, sebelum gejala berat muncul,” pungkasnya.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
-

Penyakit Usia Tua Mulai Incar Generasi Muda, Dokter Bongkar Biang Keroknya
Jakarta –
Selama bertahun-tahun, penyakit saraf seperti stroke, gangguan daya ingat, hingga kerusakan saraf identik dengan kelompok lanjut. Tetapi, kini pola tersebut mulai bergeser.
Sejumlah rumah sakit melaporkan peningkatan kasus penyakit neurologis pada kelompok dewasa muda, bahkan di usia 20-30-an. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan dokter saraf dan pakar kesehatan masyarakat.
Penyakit yang dulunya banyak ditemukan pada usia 60 tahun ke atas, kini semakin sering menyebabkan rawat inap pada pasien yang masih produktif.
Ahli neurologi RS CK Birla CMRI Kolkata, Dr Deep Das, menyebut gaya hidup modern menjadi faktor utama yang mempercepat penuaan otak. Jam kerja panjang, stres berkepanjangan, kurang tidur, pola makan tidak sehat, minim aktivitas fisik paparan layar berlebihan dinilai berperan besar.
“Kebiasaan-kebiasaan ini merusak kesehatan otak dan pembuluh darah secara perlahan. Dampaknya sering tidak disadari sampai akhirnya muncul kondisi serius,” jelas Dr Das, dikutip dari India Today.
Penyakit ‘Usia Tua’ yang Kini Menyerang Anak Muda
Dokter menyebut kondisi seperti stroke, penurunan fungsi kognitif dini, kerusakan saraf, migrain berat, hingga gangguan gerak kini semakin sering ditemukan pada pasien usia muda.
Tak jarang, kerusakan sudah berlangsung bertahun-tahun sebelum gejalanya cukup berat sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit.
Gaya Hidup Modern Percepat Penuaan Otak
Stres kronis dan kurang tidur menjadi dua pemicu terbesar penuaan dini otak. Tuntutan kerja tinggi dan konektivitas digital yang nyaris tanpa jeda membuat otak kehilangan waktu untuk beristirahat dan memperbaiki diri.
Selain itu, gaya hidup sedentari menghambat aliran darah ke otak, sementara konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak memicu peradangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berdampak pada memori, konsentrasi, dan fungsi otak secara keseluruhan.
Hipertensi dan Diabetes Makin Dini
Tekanan darah tinggi dan diabetes, yang dulu identik dengan usia lanjut, kini banyak ditemukan pada usia muda. Jika tidak terkontrol, kedua kondisi ini dapat merusak pembuluh darah otak dan meningkatkan risiko stroke serta gangguan saraf.
Masalahnya, banyak dewasa muda tidak menyadari kondisi tersebut hingga mengalami kondisi darurat neurologis.
Polusi dan Paparan Layar Ikut Berperan
Paparan polusi udara jangka panjang juga disebut memengaruhi kesehatan pembuluh darah dan pasokan oksigen ke otak, sehingga memicu peradangan. Di sisi lain, penggunaan gadget berlebihan berdampak pada kualitas tidur, kelelahan mental, dan menurunnya rentang perhatian.
Kombinasi faktor lingkungan dan digital ini dinilai semakin mempercepat proses penuaan sistem saraf.
Pentingnya Skrining Dini
Dr Das menegaskan skrining kesehatan sejak dini dan perubahan gaya hidup dapat menurunkan risiko kerusakan neurologis jangka panjang. Pemeriksaan rutin tekanan darah gula darah, olahraga teratur, pola makan seimbang, manajemen stres, serta tidur cukup menjadi langkah penting menjaga kesehatan otak.
Ia juga mengingatkan agar segera mencari pertolongan medis bila muncul tanda peringatan seperti sakit kepala berkepanjangan, mati rasa, gangguan ingatan, atau kelemahan mendadak.
“Meningkatnya penyakit saraf pada usia muda adalah peringatan serius. Perlindungan kesehatan otak harus dimulai sejak dini, sebelum gejala berat muncul,” pungkasnya.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
-

Video: Ombudsman Usul Pembagian MBG Semasa Libur Sekolah Dihentikan
Video: Ombudsman Usul Pembagian MBG Semasa Libur Sekolah Dihentikan
-

Video: Benang Merah Masalah Kesehatan Mental dan Kondisi Sosial Kita
Video: Benang Merah Masalah Kesehatan Mental dan Kondisi Sosial Kita
-

Pria Mimisan Berhari-hari, Ternyata Ada Lintah Hidup di Hidungnya
Jakarta –
Seorang pria berusia 38 tahun berujung naas saat membasuh wajah dengan air di pegunungan. Ia mengalami mimisan berulang selama berhari-hari, yang diketahui ternyata seekor lintah yang bersarang di hidungnya.
Kasus langka ini dilaporkan oleh dokter di First Hospital of Hunan University of Chinese Medicine dan dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine. Dalam laporan tersebut, dokter juga menyertakan foto kondisi lintah yang ditemukan di rongga hidung pasien.
Dokter menduga, lintah tersebut masuk ke hidung pria itu saat ia membasuh wajah dengan air dari mata air pegunungan beberapa waktu sebelumnya. Beruntung, parasit tersebut berhasil dikeluarkan menimbulkan komplikasi jangka panjang.
Mimisan Tak Kunjung Berhenti
Pria tersebut mendatangi klinik THT sekitar 10 hari setelah mengalami mimisan dari lubang hidung kanan. Darah keluar beberapa tetes hampir setiap jam.
Selain itu, lendir yang dikeluarkan saat meludah atau batuk juga bercampur darah. Dari pemeriksaan fisik menunjukkan adanya perdarahan aktif di lubang hidung kanan.
Saat dilakukan endoskopi, dokter menemukan penyebab yang tidak biasa. Seekor lintah yang masih hidup dan menggeliat, berusaha menghindari cahaya alat pemeriksaan.
Diduga Masuk saat di Pegunungan
Sebagian besar spesies lintah hidup di air tawar. Dalam laporan medis disebutkan, sekitar 20 hari sebelum datang ke rumah sakit, pasien sempat mendaki gunung dan membasuh wajah dengan air mata air alami.
Diduga kuat, lintah tersebut masuk bersama aliran air dan menempel di rongga hidung. Dokter menjelaskan, mimisan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari iritasi, benda asing, hingga tumor jinak maupun ganas.
Namun, lintah merupakan penyebab yang sangat jarang.
“Lintah di hidung adalah penyebab mimisan yang tidak umum. Faktor risikonya termasuk berenang, mencuci wajah, atau minum air alami yang tidak diolah,” tulis tim dokter dalam laporannya.
Berhasil Dikeluarkan Tanpa Komplikasi
Meski terdengar menakutkan, penanganan kasus ini berjalan relatif sederhana. Pasien diberikan anestesi lokal, lalu dokter menggunakan kateter penghisap untuk menarik lintah tersebut keluar secara utuh.
Prosedur berlangsung lancar tanpa efek samping. Pada pemeriksaan lanjutan satu minggu kemudian, pasien dilaporkan tidak mengalami keluhan sisa dan kondisi hidungnya kembali normal.
Kasus ini menjadi pengingat penting agar masyarakat berhati-hati saat menggunakan air alami yang belum diolah. Terutama untuk membilas wajah, berenang, atau dikonsumsi, karena berisiko membawa parasit yang membahayakan kesehatan.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
-

Ini yang Terjadi pada Tekanan Darah saat Rutin Minum Teh Hijau
Jakarta –
Teh hijau telah lama dikenal sebagai minuman sehat yang kaya akan senyawa tanaman untuk kesehatan jantung. Banyak penelitian menunjukkan bahwa rutin mengonsumsi teh hijau dapat membantu menurunkan tekanan darah secara bertahap.
Tekanan darah adalah ukuran kekuatan aliran darah yang menekan dinding pembuluh darah. Jika tekanan ini tetap tinggi dalam waktu lama (hipertensi), organ tubuh bisa rusak dan risiko penyakit jantung hingga stroke akan meningkat.
Dikutip dari Health, satu penyebab hipertensi adalah kaku atau tegangnya pembuluh darah. Teh hijau mengandung antioksidan kuat bernama katekin yang membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks.
“Hal ini membuat aliran darah lebih lancar dan berpotensi menurunkan angka tekanan darah,” tulis laman tersebut.
Selain itu, teh hijau memiliki manfaat lain bagi pembuluh darah di antaranya:
Melawan Peradangan: Senyawa dalam teh hijau membantu mengurangi peradangan dan stres oksidatif (kerusakan sel akibat radikal bebas).
Melindungi Sel: Dengan mengurangi kerusakan sel pada pembuluh darah, fungsi jantung dapat terjaga dengan lebih baik.
Sebuah ulasan penelitian tahun 2025 menyimpulkan bahwa asupan teh hijau dapat memberikan penurunan tekanan darah yang kecil namun berarti bagi kesehatan. Bahkan, studi tahun 2022 menunjukkan bahwa peminum teh hijau yang memiliki riwayat darah tinggi tidak mengalami peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung.
Bukan Pengganti Obat
Meskipun mengandung antioksidan dan senyawa anti-inflamasi yang mendukung kesehatan jantung, penting untuk diingat bahwa teh hijau bukanlah obat. Efeknya tidak bekerja instan seperti obat darah tinggi dari dokter.
Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa konsumsi teh hijau yang terlalu berat atau berlebihan justru bisa sedikit meningkatkan risiko hipertensi pada orang tertentu. Oleh karena itu, moderasi adalah kunci.
Mengonsumsi teh hijau dalam jumlah sedang akan memberikan manfaat maksimal jika dikombinasikan dengan gaya hidup sehat lainnya, seperti rutin berolahraga, menjaga pola makan, dan mengurangi asupan garam (natrium).
Halaman 2 dari 2
(kna/kna)
-

Sah! BPOM Resmi Berstatus WHO Listed Authority
Jakarta –
Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI baru saja menerima status WHO Listed Authority (WLA) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Status tersebut membuat BPOM sejajar dengan otoritas regulator terkemuka di negara maju.
Indonesia menjadi negara berkembang pertama di dunia yang sistem regulasinya diakui penuh oleh standar global tertinggi. Negara yang memiliki status WLA mendapat pengakuan internasional, sehingga produk farmasi dan vaksinnya dapat dimasukkan ke dalam daftar produk yang direkomendasikan WHO.
Proses panjang dilalui BPOM untuk mendapatkan status tersebut sejak tahun 2023.
“Status WHO Listed Authority merupakan bentuk pengakuan global atas kapasitas dan kredibilitas sistem regulasi BPOM,” ungkap Kepala BPOM RI Taruna Ikrar, dikutip dari edaran yang diterima detikcom, Selasa (23/12/2025).
“Ini bukan hanya prestasi kelembagaan, tetapi juga kemenangan bagi sistem kesehatan nasional dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Ini merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan di Indonesia,” sambungnya.
Status WLA dicapai melalui proses evaluasi yang ketat, serta berbasis sains dan data. Otoritas yang memiliki standar ini dinilai memiliki kemampuan pengawasan yang maju dan andal.
Jaringan global WLA kini mencakup 41 otoritas dari 39 negara. Adapun beberapa dampak strategis yang didapatkan oleh Indonesia antara lain, meningkatkan produksi dalam negeri sehingga mendukung kemandirian obat dan vaksin, serta mendorong ekspor produk yang juga berkontribusi pada ekonomi negara.
Selain itu, ditetapkannya status WLA ini juga mendukung rantai pasok yang lebih baik, khususnya dalam situasi darurat kesehatan, serta meningkatkan reputasi internasional di kancah diplomasi kesehatan internasional.
“Ini merupakan kerja keras bersama dari seluruh elemen di BPOM dan juga industri farmasi. Pencapaian ini merupakan tonggak sejarah regulasi kesehatan nasional,” ungkap Taruna Ikrar.
“Bagi Indonesia, status WHO Listed Authority yang berhasil diraih ini telah menegaskan bahwa penguatan regulasi bukan sekadar kepatuhan administratif, melainkan investasi strategis untuk perlindungan kesehatan masyarakat, ketahanan nasional, dan daya saing global,” tandasnya.
Halaman 2 dari 2
(avk/up)