Category: Detik.com Kesehatan

  • Momen Dokter Bantu Ibu Lahirkan Bayi Kembar di Ambulan saat Banjir Sumut

    Momen Dokter Bantu Ibu Lahirkan Bayi Kembar di Ambulan saat Banjir Sumut

    Jakarta

    Seorang wanita bernama Rajula (38) yang tengah hamil besar, harus dievakuasi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (29/11/2025) lantaran rumah sakit tersebut tak mampu melayani persalinannya.

    RSUD Tanjung Pura menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang terdampak bencana yang terjadi di Sumatera. Mobil ambulans milik rumah sakit tersebut bahkan tak bisa digunakan. Imbas hal tersebut, pihak rumah sakit menghubungi Puskesmas Stabat Lama untuk segera membawa Rajula dengan ambulans ke rumah sakit lain.

    “Pada saat bencana banjir kemarin, ada ibu hamil di Rumah Sakit Umum Tanjung Pura, kebetulan rumah sakit itu terdampak banjir sehingga mereka tidak bisa memberikan pelayanan. Dan ambulans mereka juga terhalang untuk beroperasi. Jadi dari sana menghubungi kami ke Puskesmas Stabat Lama untuk membantu mengevakuasi ibu hamil tersebut,” kata dokter umum Puskesmas Stabat Lama, dr Afriza Amelia dikutip dari Instagram Kementerian Kesehatan RI, Rabu (24/12).

    Petugas Puskesmas lantas langsung merespons panggilan darurat itu dan datang ke rumah sakit. dr Afriza menjadi salah satu dokter yang ditugaskan pada saat itu. Ia dan tim puskesmas membawa Rajula dengan ambulans menuju RS Putri Bidadari. Rumah sakit tersebut disebutnya tak terdampak, sehingga masih bisa beroperasi seperti biasa.

    Namun, lanjut Afriza, pasien tersebut sudah mengalami kontraksi yang cukup panjang dengan intensitas kuat. Rajula tak bisa lagi menahannya, sehingga melahirkan bayi di dalam ambulans. Afriza yang ada di dalam ambulans itu membantu proses persalinan Rajula.

    “Sebelum sampai di Rumah Sakit Putri Bidadari ibunya sudah melahirkan. Kebetulan saya memang ada di situ. Ibunya mungkin sudah tidak tahan karena sudah kontraksi di jalan, akhirnya ibunya melahirkan di dalam ambulans,” katanya.

    dr Afriza mengatakan ibu tersebut melahirkan dua bayi perempuan kembar dengan sehat dan selamat. Dua bayi tersebut diberi nama Hana dan Hani. Hana lahir dengan berat 2,3 kg, sementara Hani lahir dengan berat 2,1 kg.

    “Anaknya kembar. Ibunya sehat, anaknya juga sehat,” ucap dia.

    (suc/suc)

  • Fakta-fakta Wanita Asal Surabaya Idap Diabetes Tipe 1,5 di Usia 29

    Fakta-fakta Wanita Asal Surabaya Idap Diabetes Tipe 1,5 di Usia 29

    Jakarta

    Wanita asal Surabaya, Lilla Syifa (Cipa), yang didiagnosis diabetes tipe 1,5 di usia 29 tahun mendadak menyita perhatian publik. Bukan karena memiliki riwayat keluarga diabetes, juga bukan karena obesitas berat. Justru sebaliknya, ia merasa dirinya “baik-baik saja”. Aktivitas jalan terus, kerja lancar, dan keluhan tubuh yang muncul selama ini dianggap hal wajar karena lelah dan kurang tidur.

    Sampai akhirnya tubuh memberi sinyal yang lebih keras. Gula darah melonjak tinggi, kondisi tubuh drop, dan sempat mengalami koma selama belasan hari. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter mengatakan ia mengidap LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults). Dari sinilah banyak yang mulai bertanya-tanya, bagaimana mungkin diabetes bisa datang secepat itu, di usia yang masih tergolong muda, dan tanpa disadari sebelumnya.

    Apa Itu Diabetes Tipe 1,5 atau LADA

    Ketika mendengar kata diabetes, banyak yang hanya mengenal dua jenis diabetes yaitu tipe 1 dan tipe 2. Padahal, ada satu jenis yang jarang diketahui, yaitu diabetes tipe 1,5 atau dikenal secara medis sebagai LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults).

    Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh secara perlahan merusak sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Prosesnya menyerupai diabetes tipe 1, tetapi muncul pada usia dewasa dan berkembang secara perlahan.

    Pada tahap awal, kadar gula darah pada diabetes tipe 1,5 seringkali masih bisa dikontrol tanpa insulin. Banyak pengidapnya terlihat seperti mengalami diabetes tipe 2 karena masih merespons obat minum dan belum membutuhkan suntikan insulin. Situasi ini membuat diagnosis awal sering terlewat, terutama bila pemeriksaan lanjutan tidak dilakukan.

    Seiring waktu, kerusakan sel pankreas terus berlangsung. Produksi insulin semakin menurun hingga akhirnya tubuh tidak lagi mampu mengontrol gula darah dengan baik. Pada fase inilah penderita diabetes tipe 1,5 biasanya mulai memerlukan terapi insulin, meskipun sebelumnya merasa kondisi kesehatannya baik-baik saja.

    Diabetes tipe 1,5 dapat terjadi pada orang dengan berat badan normal dan tanpa riwayat diabetes dalam keluarga. Faktor gaya hidup seperti konsumsi gula berlebihan, kurang aktivitas fisik, dan stres berkepanjangan tidak menjadi penyebab utama gangguan autoimun ini, tetapi dapat mempercepat munculnya gejala dan memperburuk lonjakan gula darah yang sudah tidak stabil.

    Apa Itu Pemeriksaan HbA1c?

    Pemeriksaan HbA1c menunjukkan rata-rata kadar gula darah dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Angka ini menggambarkan seberapa sering dan seberapa lama gula darah berada di level tinggi, bukan hanya kondisi sesaat. Semakin tinggi nilainya, semakin besar risiko paparan gula darah terhadap pembuluh darah dan organ tubuh.

    Banyak yang merasa sudah aman dari diabetes karena hasil cek gula darahnya sesekali masih terlihat normal. Padahal, kadar gula darah bisa naik dan turun tergantung waktu makan, aktivitas, bahkan kondisi stres. Karena itu, pemeriksaan HbA1c menjadi salah satu indikator yang paling penting untuk menilai risiko diabetes.

    Nilai HbA1c yang normal itu di bawah 5,7 persen. Jika hasil pemeriksaan HbA1c berada di kisaran 5,7 hingga 6,4 persen, kondisi ini dikenal sebagai prediabetes. Artinya, gula darah sudah mulai sulit dikendalikan dan risiko berkembang menjadi diabetes semakin besar, terutama bila pola hidup tidak berubah.

    Sementara itu, nilai HbA1c 6,5 persen atau lebih sudah masuk kriteria diabetes. Pada level ini, gula darah tidak satu atau dua kali tinggi, melainkan menetap dalam jangka waktu lama. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko kerusakan saraf, pembuluh darah, ginjal, mata, hingga jantung.

    Mengaku Memiliki Pola Hidup Tidak Sehat

    Dalam ceritanya, wanita Surabaya ini mengakui kegemarannya pada jajanan atau dessert manis yang viral. Kebiasaan ini terasa wajar, bahkan dianggap sebagai bentuk self-reward setelah stres bekerja seharian. Jajanan manis yang sering dimakan Cipa yaitu brownies, donat, minuman matcha, serta makanan dan minuman manis lainnya. Cipa mengaku bisa makan jajanan manis tersebut 3 kali sehari dan hampir setiap hari.

    Kurang tidur, jarang olahraga, dan stres yang tidak terkelola turut memperparah kondisi. Saat tubuh kurang istirahat, sensitivitas insulin menurun. Saat stres, hormon kortisol meningkat dan mendorong gula darah naik. Kombinasi ini membuat pankreas bekerja lebih keras, sampai akhirnya tidak mampu lagi mengimbangi kebutuhan insulin.

    Menurut dokter yang menanganinya, diabetes yang Cipa idap disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat tadi.

    Berapa Batas Konsumsi Gula Sehari?

    Kementerian Kesehatan menetapkan anjuran asupan gula tambahan tidak melebihi sekitar 50 gram per hari, dan akan jauh lebih baik bila dibatasi hingga sekitar 25 gram. Angka ini bukan hanya menghitung gula yang ditambahkan sendiri, tetapi juga seluruh gula tambahan yang masuk dari berbagai jenis makanan dan minuman sepanjang hari.

    Masih banyak yang tanpa sadar melewati batas konsumsi gula harian. Satu porsi minuman kekinian atau dessert manis saja bisa menyumbang sebagian besar kebutuhan gula harian. Contohnya 1 porsi Red Velvet Cake mengandung 36 gr gula, 1 buah donat mengandung 20 gr gula, dan segelas matcha mengandung 30 gr gula. Ketika dikombinasikan dengan makan utama dan camilan lain, gula darah cenderung melonjak lebih sering dan lebih tinggi, membuat tubuh bekerja ekstra untuk mengendalikannya dari hari ke hari.

    Gejala Diabetes atau Hiperglikemia yang sering diabaikan

    Hiperglikemia, atau kondisi ketika kadar gula darah terlalu tinggi, jarang datang dengan gejala yang langsung terasa berbahaya. Tanda-tandanya muncul perlahan dan kerap dianggap sebagai bagian dari rasa cape karena rutinitas harian. Tubuh sebenarnya sudah memberi sinyal, hanya saja sering dianggap ‘tidak jelas’.

    Rasa haus yang terus-menerus menjadi salah satu gejala awal yang paling sering muncul. Mulut terasa kering, tenggorokan tidak nyaman, dan keinginan minum muncul berulang kali. Bersamaan dengan itu, frekuensi buang air kecil biasanya meningkat, terutama pada malam hari. Kondisi ini terjadi karena ginjal berusaha membuang kelebihan gula melalui urine, sehingga tubuh kehilangan lebih banyak cairan.

    Gejala lain yang kerap muncul adalah tubuh terasa mudah lelah, lemas, dan kurang bertenaga meski tidak melakukan aktivitas berat. Konsentrasi menurun, kepala terasa ringan, dan sering merasa ngantuk, terutama setelah makan. Pada sebagian orang, kondisi ini disangka sebagai efek kurang tidur, masuk angin, atau stres setelah kerja, sehingga tidak langsung dicurigai sebagai gejala diabetes.

    Gejala juga bisa muncul pada otot dan saraf. Kram pada kaki, rasa kesemutan, atau sensasi tidak nyaman pada tangan dan kaki mulai terasa, terutama saat malam hari. Luka kecil yang sulit sembuh dan kulit yang terasa lebih kering dari biasanya juga bisa menjadi tanda bahwa kadar gula darah sudah mengganggu proses pemulihan jaringan.

    Pada tahap yang lebih berat, hiperglikemia dapat memicu mual, penglihatan kabur, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Jika kondisi ini dibiarkan, gula darah bisa meningkat drastis dan menyebabkan keadaan darurat seperti penurunan kesadaran atau koma, sebagaimana yang terjadi pada Cipa yang baru terdeteksi saat sudah parah.

    Gejala-gejala ini sering kali muncul bersamaan dengan kebiasaan konsumsi gula yang tinggi dan gaya hidup yang tidak sehat. Karena terasa biasa dan tidak spesifik, banyak orang memilih menunda pemeriksaan. Padahal, mengenali tanda-tanda hiperglikemia atau diabetes sejak dini dapat menjadi langkah penting untuk mencegah diabetes berkembang lebih jauh dan menimbulkan komplikasi serius.

    Bisakah Diabetes Menyebabkan Hilang Ingatan dan Lumpuh?

    Pada kondisi gula darah yang sangat tinggi dan tidak terkontrol, risiko komplikasi serius memang bisa terjadi. Hiperglikemia kronis dapat merusak pembuluh darah kecil di otak dan saraf, meningkatkan risiko stroke, gangguan saraf, hingga penurunan fungsi kognitif.

    Dalam kondisi ekstrem, diabetes dapat menyebabkan koma, gangguan organ, bahkan kelumpuhan bila terjadi kerusakan saraf pada fungsi motorik akibat gula darah yang tidak terkendali. Jadi, ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan risiko medis yang nyata bila diabetes tidak ditangani dengan serius.

    Halaman 2 dari 5

    Simak Video “Video: Bencana Sumatera Picu Kelangkaan Obat, IDAI Soroti Dampaknya”
    [Gambas:Video 20detik]
    (mal/up)

  • Dokter ‘Spill’ Rutinitas untuk Hempaskan Lemak di Perut Secara Alami

    Dokter ‘Spill’ Rutinitas untuk Hempaskan Lemak di Perut Secara Alami

    Jakarta

    Lemak perut kerap dianggap sekadar persoalan penampilan. Padahal, lemak ini sangat berkaitan dengan kesehatan metabolisme, keseimbangan hormon, hingga kualitas tidur, yang bisa meningkatkan risiko penyakit serius.

    Dokter metabolik sekaligus fisioterapi olahraga, Dr Sudhanshu Rai, menilai banyak orang keliru saat ingin menghilangkan lemak perut. Diet ekstrem dan olahraga berlebihan justru kerap berujung gagal.

    Menurutnya, kunci utama terletak pada pengaturan ulang ritme alami tubuh melalui kebiasaan sederhana yang konsisten.

    Dalam panduannya, Dr Rai membagikan rutinitas tujuh hari yang diklaim dapat membantu mengurangi lemak perut secara alami, tanpa perlu menghitung kalori atau diet ketat.

    1. Setop Konsumsi Minuman Manis dan Ngemil Malam

    Dikutip dari Times of India, mengurangi konsumsi teh atau kopi yang manis, camilan, serta kebiasaan makan larut malam menjadi langkah awal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan asupan gula bebas tidak lebih dari 10 persen dari total kalori harian.

    Selain itu, makan larut malam dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Studi menunjukkan kebiasaan ini dapat meningkatkan rasa lapar, menurunkan hormon kenyang (leptin), dan mendorong tubuh menyimpan lebih banyak lemak.

    2. Sarapan Tinggi Protein Sebelum Pukul 10

    Protein membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dan menjaga massa otot. Penelitian menunjukkan sarapan tinggi protein dapat menekan rasa lapar sepanjang hari dan mengurangi kebiasaan ngemil di malam hari.

    Asupan protein sekitar 25-35 gram bisa diperoleh dari telur, yogurt, atau kacang-kacangan.

    3. Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari

    Jalan kaki dinilai sebagai olahraga sederhana, tetapi efektif. Berbagai penelitian menunjukkan, aktivitas ini dapat membantu menurunkan berat badan dan indeks massa tubuh, terutama jika dilakukan secara rutin.

    Jalan cepat 30 menit sehari atau dibagikan dalam beberapa sesi singkat sudah cukup memberi manfaat.

    4. Konsumsi Lemon

    Lemon mengandung flavonoid yang dikaitkan dengan kesehatan jantung dan pengendalian nafsu makan. Konsumsi rutin buah ini dinilai mendukung metabolisme yang lebih sehat.

    5. Tidur Lebih Awal, Idealnya Sebelum 22.30

    Kurang tidur dapat mengacaukan hormon lapar dan meningkatkan asupan kalori keesokan harinya. Studi menunjukkan memperpanjang durasi tidur saja sudah bisa menciptakan defisit kalori alami.

    Tidur 7-9 jam per malam dan menghindari begadang menjadi kunci penting.

    6. Hindari Ngemil Setelah Makan Malam

    Dr Rai menyarankan makan malam diselesaikan 2-3 jam sebelum tidur. Penelitian menunjukkan makan di malam hari membuat tubuh membakar lebih sedikit energi, dan menyimpan lebih banyak lemak, meski jumlah kalorinya sama.

    “Yang dibutuhkan tubuh bukan perut six pack, tapi ritme yang sehat,” tutur Dr Rai.

    Ia menekankan pentingnya tidur teratur, pola makan seimbang, aktivitas fisik harian, dan manajemen stres. Menurutnya, penurunan lemak perut yang berkelanjutan bukan soal cara instan, melainkan tentang menyelaraskan gaya hidup dengan jam biologis tubuh agar metabolisme bekerja secara alami dan optimal.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/kna)

  • Aksi Polisi Santa Turun dari Atap Rumah Sakit Hibur Pasien Anak

    Aksi Polisi Santa Turun dari Atap Rumah Sakit Hibur Pasien Anak

    Foto Health

    Najmi Dhiaulhaq – detikHealth

    Kamis, 25 Des 2025 06:00 WIB

    Roma – Polisi Italia menghadirkan kejutan bagi pasien anak di Roma. Anggota unit elit menyamar sebagai Sinterklas dan turun dengan tali ke bangsal rumah sakit.

  • Mengapa Orang Jepang Bisa Hidup Lebih Lama dan Sehat? Begini Kata Ahli

    Mengapa Orang Jepang Bisa Hidup Lebih Lama dan Sehat? Begini Kata Ahli

    Jakarta

    Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia. Tak hanya berumur panjang, populasi lansia di negara tersebut juga relatif lebih sehat dan mandiri.

    Banyak orang mengira faktor genetik menjadi kunci utama. Tetapi, menurut dokter rahasianya justru terletak pada kebiasaan hidup sehari-hari. Hal ini diungkapkan oleh konsultan ahli bedah saraf di Rumah Sakit Manipal, Malleshwaram, Dr Sharan Srinivasan.

    Berdasarkan pengalamannya menjalani fellowship selama enam bulan di Universitas Kedokteran Wanita Tokyo pada 2015, ia melihat langsung bagaimana gaya hidup orang Jepang berperan besar dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

    “Umur panjang di Jepang bukan soal gen semata. Tetapi, bagaimana orang hidup, berpikir, dan merawat kesehatannya sejak muda,” tutur Dr Srinivasan, dikutip dari India Today.

    Ia menilai pendekatan kesehatan di Jepang bersifat preventif. Masyarakat tidak menunggu sakit untuk berobat, melainkan aktif mencegah penyakit, menjaga kebugaran fisik, dan tetap merangsang fungsi otak hingga usia lanjut.

    Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten selama puluhan tahun inilah yang berdampak besar pada kualitas kesehatan.

    Ketenangan dan Disiplin Jadi Gaya Hidup

    Salah satu hal yang paling mencolok di Jepang adalah sikap masyarakatnya yang tenang di ruang publik. Suara keras, pertengkaran, atau luapan emosi jarang terlihat, bahkan di tempat ramai seperti kereta atau jalanan kota.

    Menurut Dr Srinivasan, ketenangan ini bukan sekadar etika sosial, melainkan kebiasaan yang dibentuk sejak kecil dan dijaga sepanjang hidup. Pengendalian emosi yang stabil membantu menekan stres kronis, faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jantung dan otak.

    Rasa hormat, kesabaran, dan disiplin diri akhirnya tidak hanya membentuk tatanan sosial. Tetapi, itu juga mendukung kesehatan mental dan fisik masyarakatnya.

    Jalan Kaki Jadi Aktivitas Harian

    Di Jepang, olahraga tidak terlalu identik dengan gym atau latihan khusus. Berjalan kaki justru menjadi bagian alami dari rutinitas harian.

    Rata-rata, orang Jepang berjalan sekitar 7-7,5 km per hari. Misalnya dari rumah ke stasiun, kantor, hingga kembali pulang.

    Hal yang tidak kalah penting, aktivitas ini dilakukan dengan ritme cepat dan konsisten, sehingga memberi manfaat kardiovaskular yang nyata. Kebiasaan ini juga terus dipertahankan hingga usia lanjut.

    “Banyak lansia Jepang tetap aktif dan mandiri jauh setelah pensiun, berbeda dengan masyarakat yang aktivitas fisiknya menurun drastis seiring bertambahnya usia,” jelasnya.

    Pemeriksaan Otak Sejak Dini

    Pendekatan preventif juga terlihat jelas pada perawatan kesehatan otak. Jepang memiliki angka aneurisma serebral yang relatif tinggi, yaitu kondisi pelemahan dinding pembuluh darah otak yang berisiko pecah dan menyebabkan perdarahan fatal.

    Maka dari itu, pemeriksaan otak rutin menjadi hal yang umum, bahkan dilakukan setiap tahun. Banyak kasus aneurisma ditemukan secara tidak sengaja saat skrining dan langsung ditangani sebelum menimbulkan komplikasi serius.

    Dr Srinivasan menekankan bahwa di Jepang, usia bukan alasan untuk menolak tindakan medis. Pasien berusia 80-an tetap menjalani operasi jika itu membantu mereka mempertahankan kualitas hidup dan kemandirian.

    Kemandirian Melatih Ketahanan Tubuh

    Kemandirian juga menjadi ciri khas masyarakat Jepang, termasuk saat dirawat di rumah sakit. Pasien umumnya tetap berjalan sendiri, mengurus kebutuhan pribadi, dan aktif dalam proses pemulihan, meski masih terhubung dengan infus.

    Pendamping keluarga jarang terlihat, yang menegaskan bahwa pasien dipandang sebagai subjek aktif, bukan pasif. Menurut Dr Srinivasan, sikap ini membangun ketahanan fisik sekaligus kepercayaan diri lebih cepat dan kesehatan jangka panjang.

    Otak Harus Terus Dipakai

    Dari sisi neurologi, aktivitas mental berkelanjutan sangat penting untuk penuaan yang sehat. Dr Srinivasan menyebut otak bekerja dengan prinsip sederhana, jika tidak digunakan fungsinya akan menurun.

    Di Jepang, banyak lansia tetap bekerja, belajar hal baru, memecahkan masalah, dan terlibat dalam aktivitas intelektual. Stimulasi mental ini membantu menjaga fungsi kognitif dan menunda penurunan daya pikir akibat usia.

    Namun, ia juga menyoroti sisi lain yang menjadi tantangan. Tingginya angka bunuh diri di Jepang menunjukkan beban emosional yang besar, kemungkinan terkait kemandirian ekstrem dan minimnya interaksi keluarga.

    Artinya, meski kesehatan fisik baik, dukungan emosional tetap perlu diperkuat.

    Perlu Pendekatan yang Seimbang

    Dr Srinivasan menilai dunia bisa belajar banyak dari Jepang, mulai dari disiplin, ketenangan, gaya hidup aktif, hingga pemeriksaan kesehatan preventif. Tetapi, ia mengingatkan pentingnya keseimbangan.

    “Kesehatan fisik perlu disertai dengan dukungan emosional, ikatan sosial, dan perhatian pada kesehatan mental,” bebernya.

    Pendekatan holistik yang menggabungkan pencegahan penyakit, aktivitas fisik dan mental, serta hubungan emosional diyakini dapat membantu seseorang hidup lebih lama, lebih sehat, dan tetap mandiri hingga usia lanjut.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/naf)

  • Kisah Wanita 24 Tahun Kena Kanker Usus Stadium 4, Ini Gejalanya

    Kisah Wanita 24 Tahun Kena Kanker Usus Stadium 4, Ini Gejalanya

    Jakarta

    Usia muda kerap kali dianggap jauh dari risiko penyakit serius. Namun kini banyak penyakit serius yang dialami oleh orang dengan usia yang tergolong muda, termasuk kanker usus besar.

    Hal ini dialami oleh guru muda yang baru memulai kariernya. Dia tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tersebut dan juga tidak memiliki masalah kesehatan lainnya.

    Alami Gejala Kanker Usus Besar

    Dikutip dari laman Today, gejala kanker usus besar dialami oleh Carley Barett yang ketika itu berusia 24 tahun. Dia melihat ada darah dalam tinjanya, mengalami sakit perut, penurunan berat badan, dan merasa ada benjolan di perutnya. Setelah mencari tanda peringatan tersebut di internet, dia mengira gejalanya disebabkan oleh wasir, kolitis ulserativa, irritable bowel sindrome, atau penyakit crohn.

    Saat menyebutkan gejala yang dialaminya, dokter mengatakan hal tersebut tidak normal dan menyuruhnya untuk menemui dokter spesialis gastroentologi. Namun, dia kemudian diberikan janji temu enam bulan lagi, sehingga dirinya menganggap gejala yang dalami tidak terlalu mengkhawatirkan. Kendati demikian, kanker usus besar masih menjadi hal terakhir yang ada di pikirannya.

    “Saya berpikir, saya 24 tahun. Saya terlalu muda. Kanker tidak terjadi pada orang seusia ini. Kanker tidak terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat kanker dalam keluarga mereka,” kata Barrett.

    “Tapi memang benar, dan kanker usus besar bukan lagi penyakit orang lanjut usia saja,” tuturnya.

    Diagnosis Kanker

    Diagnosa kanker Barett didapat sebelum dia sempa menjalani pemeriksaan gasroentologi dan saat gejalanya semakin memburuk. Saat sedang dalam perjalanan pulang dari liburan di Eropa, dia merasakan rasa sakit yang teramat parah di perutnya. Pramugari bahkan mengosongkan satu baris kursi agar dia bisa berbaring dan dibawa ke ruang gawat darurat saat tiba. Hasil CT scan dan biopsi menunjukkan Barett mengidap kanker usus besar stadium 3.

    “Anda sedang dalam keadaan syok, dan pikiran saya selanjutnya hanyalah, oke, apa langkah selanjutnya? Pilihan pengobatan apa yang saya miliki?” kata Barett.

    Dia menjalani operasi eksplorasi saat dokter mengangkat tumor besar dan bagian ususnya. Salah satu ovariumnya juga diangka sebab tumor menekan ovarium tersebut.

    Sebulan kemudian, Barett menkalani proses pengambilan sel telur dengan satu ovarium yang tersisa untuk memberinya kesempatan memiliki anak.

    Sayangnya, kemoterapi pertama gagal dan kanker usus besanya bermetasis ke hati. Dia saat itu berada di stadium 4. Dokter merekomendasikan untuk mempertimbangkan imunoterapi.

    Barrett dan keluarga mencari pendapat dari lembaga-lembaga terkemuka, namun awalnya ditolak. Seorang ahli onkologi bahkan berkata bahwa imunoterapo tidak akan berhasil untuknya dan sebaiknya dia pulang an beristirahat.

    Untungnya, seorang dokter di Universitas Vanderbilt mendesaknya untuk ikut serta dalam uji klinis obat imunoterapi atezolizumab. Benar saja, imunoerapi berhasil membuat kanker Barret menyusut. Barett kemudian dalam keadaan remisi dan tidak ada bukti penyakit lagi.

    “Jangan menunda pergi ke dokter. Pergilah segera. Saya ditunda selama enam bulan. Seharusnya saya tidak menerima jangka waktu yang mereka tetapkan, tetapi langsung pergi memeriksakan diri agar saya bisa mengurus diri sendiri sesuai jadwal saya,” pesannya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Konsumsi Yogurt Dapat Turunkan Risiko Kanker Usus”
    [Gambas:Video 20detik]
    (elk/kna)

  • 10 Makanan Penurun Darah Tinggi Alami yang Mudah Didapat, Ini Daftarnya

    10 Makanan Penurun Darah Tinggi Alami yang Mudah Didapat, Ini Daftarnya

    Jakarta

    Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering disebut sebagai silent killer, sebab bisa dialami tanpa gejala tapi bisa meningkatkan risiko penyakit jantung hingga stroke. Pola makan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tekanan darah.

    Kabar baiknya, ada beberapa jenis makanan yang secara alami bisa membantu menurunkan tekanan darah. Asupan yang tepat dapat mendukung kesehatan jantung.

    Makanan Penurun Darah Tinggi

    Mulai dari buah-buahan, sayuran, hingga kacang-kacangan, berikut sejumlah makanan yang bisa membantu menurunkan tekanan darah tinggi.

    1. Pisang

    Pisang mengandung kalium yang bisa membantu mengelola hipertensi. Dikutip dari laman Medical News Today, satu buah pisang berukuran sedang mengandung sekitar 422 mg kalum.

    Kalium membantu tekanan darah dengan dua cara, yaitu merelaksasi pembuluh darah dan membantu tubuh membuang kelebihan natrium. Namun, pengidap penyakit ginjal mungkin perlu membatasi makanan kaya kalium dalam diet.

    2. Buah Beri

    Blueberry, raspberry, dan blackberry mengandung flavonoid yang disebut antosianin. Dalam beberapa penelitian, flavonoid ini terbukti bisa menurunkan ekana darah.

    Dikutip dari laman GoodRx, pada faktanya, mengonsumsi satu porsi blueberry perminggu bisa menurunkan risiko tekanan darah tinggi. Waktu terjadinya efek ini belum jelas, tapi beberapa orang mungkin mengalami penurunan tekanan darah hanya alam waktu 4 minggu.

    3. Sayuran Berdaun Hijau

    Sayuran berdaun hijau, seperti sawi, bayam, dan kale kaya akan nitrat. Tubuh mengubah nitrat menjadi oksida nitrat yang membantu merelaksasi pembuluh daah. Penelitian mendukung konsumsi secangkir sayuran berdaun hijau sepanjang hari untuk menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit jantung.

    4. Brokoli

    Brokoli kaya akan flavonoid dan oksida nitrat. Masing-masing zat ni membantu menurunkan tekanan darah. Sebuah penelitian menemukan, konsumsi empat cangkir brokoli setidaknya empat kali atau lebih dalam seminggu bisa menurunkan tekanan darah.

    5. Buah Bit

    Buab bit kaya akan nitrat dan antioksidan. Tak heran jika buah ini disebut sebagai “superfood”. Sebuah penelitian menemukan bahwa konsumsi sekitar 1 cangkir bit per hari bisa menurunkan tekanan darah dalam waktu 8 minggu.

    6. Kiwi

    Menurut penelitian, mengonsumsi kiwi setiap hari bisa menurunkan tekanan darah sistolik. Orang yang mengonsumsi dua buah buah kiwi per hari sebelum sarapan selama 7 minggu mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebesar 2,7 mmHG dibandingkan dengan kelompok kontrol.

    Selain itu, kiwi juga kaya akan vitamin C. Meta analisis tahun 2020 menunjukkan bahwa suplementasi vtamin C secara signifkan menurunkan tekanan darah pada pengidap hipertensi primer.

    7. Pistachio

    Mengonsumsi pistachio bisa membatu menurunkan tekanan darah, namun para llmuwan belum mengetahui alasannya. Beberapa ahli berpendapat bahwa hal ini berkaitan dengan asam lemak tak jenih tunggal dan fitosterol yang terkandung dalam pistachio. Makan 1 porsi pistachio atau sekitar 50 butir telur telah terbukti menurunkan tekanan darah.

    8. Yogurt

    Yogurt bisa mengatur tekanan darah karena mengandung mineral penting, seperti magnesium, kalsium, dan kalium. Yogurt juga mengandung probiotik, yatu bakteri atau ragi hidup. Kandungan ini terbukti bisa memperbaiki tekanan darah jika dikonsumsi selama 8 minggu atau lebih.

    Namun, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui apakah yogurt rendah lemak atau yogurt tinggi lemak yang berpengaruh dalam menurunkan tekanan darah.

    9. Delima

    Buah delima mengandung antioksidan dan bahan lainnya yang bisa membantu mencegah tekanan darah tinggi dan ateroklerosis. Sebuah uji coba tahun 2018 menunjukkan bahwa konsumsi jus delima setiap hari bisa menurunkan tekanan darah diastolik dan sistolik pada pengidap diabetes. Namun, para peneliti menekanan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan.

    Sementara, menurut ulasan tahun 2017, dari delapan uji coba pada manusia, ditemukan bukti bahwa mengonsumsi jus delma secara konsisten bisa menurunkan tekanan darah.

    10. Ikan berlemak

    American Heart Association (AHA) merekomendasikan 2 porsi ikan berlemak (masing-masing 3 ons) per minggu, sebab bisa menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Menurut laporan penelitian tahun 2022, mengonsumsi sekitar 3 g asam lemak omega 3 setiap hari membantu menurunkan tekanan darah. Asam lemak ini terdapat dalam ikan berlemak, seperti salmon atau tuna.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: 8,6 Juta Orang Ikut Cek Kesehatan Gratis, Paling Banyak Perempuan”
    [Gambas:Video 20detik]
    (elk/naf)

  • Kisah Wanita 20 Tahun Kena Stroke, Awalnya Sakit Kepala Seperti Ini

    Kisah Wanita 20 Tahun Kena Stroke, Awalnya Sakit Kepala Seperti Ini

    Jakarta

    Seorang wanita berusia 20 tahun membagikan kisah nyaris kehilangan nyawa setelah mengalami stroke. Hal ini menjadi pengingat bahwa stroke bisa terjadi pada usia muda, dengan gejala yang klasik seperti sakit kepala.

    Ini terjadi pada wania di Derbyshire, Inggris, bernama Esther Littlewood saat bersama ibunya pada Minggu (29/6/2025). Tiba-tiba, Esther mengeluhkan sakit kepala henat di sisi kiri kepalanya.

    Ia sempat minum paracetamol dan memilih untuk tidur siang. Hal itu dilakukan tanpa menyadari kondisi serius yang sedang terjadi di tubuhnya.

    Sempat Tak Sadarkan Diri

    Beberapa jam kemudian, pasangan Esther pulang kerja. Ia mendapati Esther tidak sadarkan diri di tempat tidur.

    Ternyata Esther ternyata telah mengalami dua kali kejang lainnya terjadi saat sang ibu menghubungi layanan darurat. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Royal Chesterfield dan harus menjalani perawatan intensif, termasuk koma selama lima hari.

    Dari hasil pemeriksaan MRI, Esther didianosis mengalami stroke yang disebabkan oleh kondisi patent foramen ovale (PFO). Itu merupakan kondisi lubang kecil di jantung yang gagal menutup sempurna sejak lahir.

    Kondisi ini memungkinkan gumpalan darah mengalir ke otak dan memicu stroke. Padahal, sebelumnya Esther dikenal aktif dan sehat.

    Ia baru saja lulus berbagai tes fisik kepolisian, termasuk bleep test yang dijadwalkan memulai pelatihan detektif pada Agustus.

    “Saya berlari setiap hari untuk latihan. Saya lulus semua tes dan merasa sangat bugar,” bebernya, dikutip dari Mirror UK.

    Koma dan 12 Hari Dirawat di RS

    Esther mengaku tidak mengingat kejadian tersebut. Ia baru sadar setelah terbangun dari koma.

    “Dari hanya sakit kepala sampai pingsan dan kejang itu terasa gila. Satu-satunya gejala yang saya rasakan hanyalah sakit kepala,” jelas Esther.

    Setelah 12 hari dirawat, Esther diperbolehkan pulang dan kini menunggu operasi untuk menutup lubang di jantungnya demi mencegah stoke berulang. Meski pulih sepenuhnya, pengalaman itu meninggalkan dampak besar dalam hidupnya, mulai dari tertundanya karier hingga hilangnya sementara kemandirian.

    Dokter menyebut stroke di usia muda tergolong langka. Tetapi, kisah Esther menjadi peringatan penting. Ia kini aktif menyuarakan kesadaran tentang PFO dan risiko stroke pada anak muda.

    “Jika Anda mengalami sakit kepala yang sangat parah dan terasa tidak normal, jangan abaikan. Segera cari bantuan,” kata Esther

    “Ini perlu lebih banyak dibicarakan. Hidup itu sangat berharga,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/naf)

  • Penampakan Batang Besi Nancap di Kaki Pasien, Baru Ketahuan Setelah 40 Tahun

    Penampakan Batang Besi Nancap di Kaki Pasien, Baru Ketahuan Setelah 40 Tahun

    Foto Health

    Averus Kautsar – detikHealth

    Rabu, 24 Des 2025 17:32 WIB

    Jakarta – Dokter di Portugal menemukan sebuah batang besi menancap di kaki seorang pasien. Besi yang ditemukan baru ketahuan setelah 40 tahun.

  • Hitung Jumlah Bangun Ruang Ini, Kelihatannya Mudah tapi Bikin Keder

    Hitung Jumlah Bangun Ruang Ini, Kelihatannya Mudah tapi Bikin Keder

    Hitung Jumlah Bangun Ruang Ini, Kelihatannya Mudah tapi Bikin Keder