Category: Detik.com Kesehatan

  • MBG di Libur Sekolah Tak Disetop, Kepala BGN Buka Suara

    MBG di Libur Sekolah Tak Disetop, Kepala BGN Buka Suara

    Jakarta

    Ramai sejumlah pihak menilai makan bergizi gratis (MBG) sebaiknya dihentikan saat libur sekolah karena dianggap tidak efektif, sulit diawasi, hingga dicurigai sekadar upaya menghabiskan anggaran akhir tahun.

    Perdebatan tersebut menguat setelah distribusi menu MBG di libur sekolah ‘dirapel’ dan dibagikan dalam bentuk makanan kering. Sebagian masyarakat mempertanyakan urgensinya, terutama untuk anak sekolah yang tidak hadir di kelas dan dinilai bisa mendapatkan asupan makanan dari rumah.

    Menanggapi hal tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan tidak akan menghentikan program MBG selama libur sekolah. Kepala BGN Prof Dadan Hindayana menekankan program ini tidak semata-mata bergantung pada kalender pendidikan, melainkan pada kebutuhan gizi kelompok rentan yang harus dijaga secara berkelanjutan.

    “Intervensi pemenuhan gizi adalah bagian yang sangat penting, sehingga kontinuitasnya perlu dijaga,” kata Prof Dadan saat dihubungi detikcom, Kamis (25/12/2025).

    Ia menjelaskan, sasaran utama MBG tidak hanya anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Kelompok ini merupakan prioritas nasional dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

    “Ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita adalah bagian yang krusial dari program MBG,” ujarnya.

    Prof Dadan mengklaim pemenuhan gizi pada kelompok tersebut berkaitan langsung dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan, fase emas yang menentukan tumbuh kembang anak.

    “1.000 hari pertama kehidupan waktunya pendek. Kita harus menjaga golden time itu. Dan mereka juga tidak ada hubungannya dengan waktu sekolah,” tegasnya.

    Adapun untuk sasaran anak sekolah, Prof Dadan menyebut pelaksanaan MBG selama libur bersifat fleksibel dan tidak dipaksakan. Ia memastikan tidak ada kewajiban bagi seluruh anak sekolah untuk tetap menerima MBG jika secara teknis tidak memungkinkan.

    “Untuk anak sekolah sifatnya opsional. Bagi yang tidak memungkinkan mengambil atau dikirim karena alasan teknis, atau ada yang pergi berlibur, tidak masalah,” jelasnya.

    Namun, BGN memastikan layanan tetap diberikan bagi anak sekolah yang membutuhkan dan dapat dijangkau oleh sistem distribusi MBG.

    “Tapi bagi yang membutuhkan, kita tetap layani,” kata Prof Dadan.

    BGN menilai, polemik penghentian MBG saat libur sekolah perlu dilihat secara lebih utuh. Menurut Prof Dadan, penghentian total justru berisiko memutus intervensi gizi bagi kelompok rentan yang tidak bisa menunggu.

    “Kalau intervensi gizi terputus, dampaknya tidak bisa langsung terlihat, tapi efek jangka panjangnya besar,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Awal Mula Dokter Temukan Besi Nancap di Dalam Kaki Pasien Setelah 40 Tahun

    Awal Mula Dokter Temukan Besi Nancap di Dalam Kaki Pasien Setelah 40 Tahun

    Jakarta

    Dokter di Portugal menemukan batang besi di dalam kaki seorang pasien nenek berusia 71 tahun. Besi itu baru ketahuan setelah 40 tahun bersarang di dalamnya, kok bisa sih?

    Awalnya, pasien ini datang ke fasilitas kesehatan Local Health Unit of Alto Minho, kota Viana do Castelo karena mengalami nyeri akut pada area kakinya yang muncul beberapa hari terakhir. Ketika ditanya oleh dokter, pasien mengaku tidak memiliki riwayat trauma, aktivitas berlebihan, maupun aktivitas fisik berat baru.

    “Tidak ditemukan tanda kemerahan, cairan keluar, maupun gejala sistemik,” tulis dokter dikutip dari Cureus Journal, Kamis (25/12/2025).

    Ketika dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG), dokter menemukannya ada tanda benda asing di kaki nenek tersebut. Bentuknya memanjang dengan ukuran 6,5 cm.

    Pemeriksaan lanjutan melalui radiografi menunjukkan benda asing tersebut berada di pangkal tulang metatarsal kedua, tulang panjang di kaki yang menghubungkan pergelangan dengan jari kaki kedua. Karena densitasnya tinggi dan terlihat jelas dalam pemeriksaan, dokter memastikan objek tersebut berupa logam.

    Setelah anamnesis lanjutan dilakukan, pasien akhirnya ingat pernah mengalami luka tembus akibat batang besi payung lebih dari 40 tahun yang lalu. Meski sempat berobat tradisional, ia tidak menyadari adanya sisa besi yang tertinggal di dalam kakinya.

    Penampakan benda asing besi di kaki pasien. Foto: Cureus Journal

    “Saat itu, benda tersebut diangkat oleh seorang pengobat tradisional, tapi pasien tidak menjalani pemeriksaan medis maupun pencitraan diagnostik, sehingga tidak menyadari adanya sisa benda asing yang tertinggal,” sambung dokter.

    Operasi pengangkatan pun akhirnya dilakukan. Benda dikeluarkan melalui sayatan kecil di kaki dengan anestesi kombinasi.

    Ketika mencoba dikeluarkan, logam tersebut sudah mengalami korosi berat. Batang logam tersebut akhirnya terbelah menjadi dua dan satu bagian sepanjang 3 cm masih tertinggal di kaki pasien.

    Ketika dicoba prosedur kedua, sisa besi tidak dapat dikeluarkan karena posisinya yang sangat berisiko. Jika dipaksa untuk diangkat, ditakutkan justru berbahaya untuk pasien.

    “Perjalanan pasca-operasi berlangsung tanpa komplikasi, dengan penyembuhan luka yang baik dan resolusi gejala secara lengkap. Pasien pulih sepenuhnya dan mampu berjalan hingga 10 kilometer tanpa keluhan selama dua tahun masa tindak lanjut,” tandas dokter.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/up)

  • Tips Dokter Saraf Buat Pemudik Nataru Biar Nggak Pegal-pegal

    Tips Dokter Saraf Buat Pemudik Nataru Biar Nggak Pegal-pegal

    Jakarta

    Perjalanan mudik dan liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) seringkali mengharuskan pemudik duduk berjam-jam naik kendaraan. Kondisi ini kerap memicu keluhan pegal, kaku, hingga nyeri di area leher dan pinggang jika tubuh tidak diberi waktu untuk beristirahat.

    Spesialis bedah saraf Dimas Rahman Setiawan, SpBS, mengingatkan pentingnya melakukan relaksasi secara berkala selama perjalanan jauh. Salah satu cara paling sederhana adalah memberi jeda pada tubuh untuk bergerak dan meregangkan otot.

    “Kalau cara mencegahnya itu biasanya yang kami sampaikan ke pasien setiap 30 menit,” ucap dr Dimas ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (11/12/2025).

    Namun, jika kondisi perjalanan tidak memungkinkan untuk berhenti sesering itu, misalnya saat melintas di jalan tol, waktu istirahat dapat disesuaikan menjadi sekitar satu jam sekali di rest area.

    Selain memberi jeda untuk bergerak, pemudik juga disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh. Minum air secara teratur membantu mencegah dehidrasi, yang dapat memperparah rasa pegal dan kaku selama duduk lama.

    “Minum yang cukup, sehingga kondisi dehidrasi itu bisa kita hindari,” lanjutnya.

    Tak kalah penting, posisi duduk selama berkendara juga perlu diperhatikan. Posisi pinggang sebaiknya disesuaikan dengan kurva alami tulang belakang, dan leher tidak dibiarkan menunduk atau membungkuk dalam waktu lama.

    Di sisi lain, dr Dimas juga membeberkan risiko masalah kesehatan yang bisa terjadi apabila duduk terlalu lama saat di kendaraan, salah satunya risiko saraf kejepit. Hal ini terjadi akibat duduk terlalu membungkuk atau terlalu menunduk dalam waktu lama dapat memberi tekanan berlebih pada struktur tulang dan saraf.

    “Kelamaan duduk, baik pinggang maupun leher, itu risiko saraf kejepit. Karena pada saat duduk kalau kita nggak sadar, kadang-kadang posisi kita sebenarnya sedang membungkuk. Nah kalau posisi kita membungkuk itu, mau nggak mau si bantahan tulang kedorong ke belakang,” tuturnya.

    “Akhirnya menekan ke saraf. Jadi risikonya adalah memang terjadi sarang kejepit, nyeri pinggang, nyeri leher. Itu sangat mungkin terjadi,” lanjutnya lagi.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Menkes Imbau Sopir Bus Cek Kesehatan Jelang Libur Nataru 2025”
    [Gambas:Video 20detik]
    (rfd/up)

  • Tips Dokter Saraf Buat Pemudik Nataru Biar Nggak Pegal-pegal

    Tips Dokter Saraf Buat Pemudik Nataru Biar Nggak Pegal-pegal

    Jakarta

    Perjalanan mudik dan liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) seringkali mengharuskan pemudik duduk berjam-jam naik kendaraan. Kondisi ini kerap memicu keluhan pegal, kaku, hingga nyeri di area leher dan pinggang jika tubuh tidak diberi waktu untuk beristirahat.

    Spesialis bedah saraf Dimas Rahman Setiawan, SpBS, mengingatkan pentingnya melakukan relaksasi secara berkala selama perjalanan jauh. Salah satu cara paling sederhana adalah memberi jeda pada tubuh untuk bergerak dan meregangkan otot.

    “Kalau cara mencegahnya itu biasanya yang kami sampaikan ke pasien setiap 30 menit,” ucap dr Dimas ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (11/12/2025).

    Namun, jika kondisi perjalanan tidak memungkinkan untuk berhenti sesering itu, misalnya saat melintas di jalan tol, waktu istirahat dapat disesuaikan menjadi sekitar satu jam sekali di rest area.

    Selain memberi jeda untuk bergerak, pemudik juga disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh. Minum air secara teratur membantu mencegah dehidrasi, yang dapat memperparah rasa pegal dan kaku selama duduk lama.

    “Minum yang cukup, sehingga kondisi dehidrasi itu bisa kita hindari,” lanjutnya.

    Tak kalah penting, posisi duduk selama berkendara juga perlu diperhatikan. Posisi pinggang sebaiknya disesuaikan dengan kurva alami tulang belakang, dan leher tidak dibiarkan menunduk atau membungkuk dalam waktu lama.

    Di sisi lain, dr Dimas juga membeberkan risiko masalah kesehatan yang bisa terjadi apabila duduk terlalu lama saat di kendaraan, salah satunya risiko saraf kejepit. Hal ini terjadi akibat duduk terlalu membungkuk atau terlalu menunduk dalam waktu lama dapat memberi tekanan berlebih pada struktur tulang dan saraf.

    “Kelamaan duduk, baik pinggang maupun leher, itu risiko saraf kejepit. Karena pada saat duduk kalau kita nggak sadar, kadang-kadang posisi kita sebenarnya sedang membungkuk. Nah kalau posisi kita membungkuk itu, mau nggak mau si bantahan tulang kedorong ke belakang,” tuturnya.

    “Akhirnya menekan ke saraf. Jadi risikonya adalah memang terjadi sarang kejepit, nyeri pinggang, nyeri leher. Itu sangat mungkin terjadi,” lanjutnya lagi.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Menkes Imbau Sopir Bus Cek Kesehatan Jelang Libur Nataru 2025”
    [Gambas:Video 20detik]
    (rfd/up)

  • Butuh Otak Encer untuk Hitung Jumlah Kotak dengan Tepat, Bisa Jawab dalam 10 Detik?

    Butuh Otak Encer untuk Hitung Jumlah Kotak dengan Tepat, Bisa Jawab dalam 10 Detik?

    Asah Otak

    Daffa Ghazan – detikHealth

    Kamis, 25 Des 2025 11:01 WIB

    Jakarta – Susunan kotak ini tampak mudah dihitung, tetapi sebaiknya jangan terlalu pede. Ada yang terlihat jelas dan ada pula yang tersembunyi di balik susunan lainnya.

  • Menkes Soroti 6 Desa Masih Terisolir Pascabencana di Aceh

    Menkes Soroti 6 Desa Masih Terisolir Pascabencana di Aceh

    Jakarta

    Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyoroti masih adanya desa-desa yang terisolasi pascabencana di Aceh. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi rumah sakit rujukan, melainkan menjangkau masyarakat di wilayah yang aksesnya sama sekali terputus.

    “Itu yang nggak bisa jalan. Tahap ketiga sekarang kita mulai ini terkait desa-desa yang terisolasi,” kata Menkes dalam arahannya dengan para relawan melalui zoom, Selasa (24/12/2025).

    Menkes menjelaskan pemerintah tengah merevitalisasi layanan kesehatan secara bertahap. Tahap pertama difokuskan pada rumah sakit karena menjadi titik paling parah terdampak bencana.

    “Layanan kesehatan kita mulai dari rumah sakit duluan. Itu yang paling berat. Tapi alhamdulillah dalam dua minggu sudah mulai berjalan,” ujarnya.

    Tahap kedua diarahkan ke layanan kesehatan tingkat pertama, yakni puskesmas pembantu dan fasilitas kesehatan dasar lainnya. Menurut Menkes, terdapat lebih dari 300 titik layanan yang tersebar di seluruh kecamatan.

    “Ini kita harapkan sekitar 2,5 minggu lagi selesai. Mereka semua beroperasi, meskipun tidak 100 persen. Ada yang 25 persen, 50 persen, 75 persen. Tapi yang penting beroperasi dulu untuk layanan kesehatan masyarakat,” jelasnya.

    6 Desa Tak Bisa Diakses

    Adapun tahap ketiga, yang kini menjadi fokus utama, adalah penanganan desa-desa yang masih total terisolasi. Menkes menyebut sedikitnya terdapat enam desa yang hingga kini belum memiliki akses sama sekali.

    “Ada enam desa terisolasi. Orang jalannya saja susah. Aksesnya belum ada sama sekali. Makanannya pun masih harus di-drop,” ungkap Menkes.

    Enam desa tersebut yakni Serule, Desa Alupayung, Jambur Konya, Kelitu, Sintep, dan Gegara. Seluruh wilayah itu belum bisa dilalui kendaraan dan masih mengandalkan distribusi logistik dari udara maupun jalur darurat.

    Untuk menjangkau wilayah tersebut, Menkes meminta agar tim relawan kesehatan khusus segera diterjunkan. Namun ia menegaskan, relawan yang dikirim harus benar-benar tangguh, mandiri, dan siap bertahan di kondisi ekstrem.

    “Saya minta ini nggak boleh relawan yang cengeng-cengeng. Harus yang kuat, berani, tahan banting. Karena mereka di-drop dua minggu sendiri,” tegasnya.

    Tim relawan tersebut akan diatur bersama pusat krisis kesehatan dan lembaga kebencanaan. Para relawan akan diterjunkan dan tinggal di lokasi selama dua pekan penuh.

    “Mereka harus hidup mandiri. Kita bekali tenda, genset, starlink, makanan, BBM, obat-obatan, dan logistik selama dua minggu,” kata Menkes.

    Lebih dari sekadar memberikan layanan pengobatan, relawan juga diharapkan aktif membantu pemulihan kehidupan warga.

    “Kerjanya bukan cuma ngobatin atau nunggu pasien. Tapi harus punya inisiatif, bersihin rumah, bangun ini-itu. Betul-betul relawan kelas A,” minta Menkes.

    Menkes bahkan mengibaratkan tim tersebut seperti pasukan khusus relawan yang dilepas mandiri di lapangan. Selain fisik yang kuat, aspek psikologis juga menjadi perhatian utama.

    “Relawan itu harus bisa membangkitkan motivasi masyarakat. Jangan datang malah sedih, nangis. Kalau relawannya nangis, masyarakat bisa tambah tertekan,” kata Menkes.

    Ia menambahkan, pemerintah juga telah mengidentifikasi puluhan desa lain yang berpotensi masih terisolasi.

    “Kita sudah identifikasi mungkin masih ada lebih dari 50 desa terisolasi. Rencananya akan kita drop dari puskesmas-puskesmas terdekat dengan paket yang sama,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Pesan Menkes di Arus Libur Nataru: Tidur Cukup-Tak Bawa Beban Berlebihan

    Pesan Menkes di Arus Libur Nataru: Tidur Cukup-Tak Bawa Beban Berlebihan

    Jakarta

    Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat, khususnya pemudik pengguna sepeda motor, untuk lebih waspada selama arus mudik dan balik libur Natal Tahun Baru 2026 (Nataru). Ia menekankan pentingnya kondisi fisik yang prima, terutama tidur cukup, mengingat tingginya angka kecelakaan di jalur non-tol.

    Berdasarkan data kecelakaan pada 2024, pemudik sepeda motor menjadi penyumbang angka kematian tertinggi dibandingkan pengguna kendaraan roda empat.

    “Data kematian naik dari angka 400-an ke sekitar 480-an. Dan kematian ini terjadi karena kecelakaan motor. Lebih dari 70 persen yang wafat itu pengguna kendaraan roda dua,” kata Budi kepada wartawan, usai meninjau kesiapan Operasi Lilin 2025 di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Senin (22/12/2025).

    Ia menjelaskan mayoritas kecelakaan fatal tersebut terjadi di jalan non-tol yang banyak dilalui pemudik sepeda motor. Kondisi ini diperparah oleh kelelahan, rasa kantuk, serta beban bawaan yang berlebihan.

    “Ke masyarakat terutama yang memakai motor dan menggunakan jalan biasa atau non-tol agar lebih berhati-hati. Tidur yang cukup dan jangan membawa barang berlebihan,” ujarnya.

    Berdasarkan evaluasi Kementerian Kesehatan, sekitar 95 persen kecelakaan lalu lintas terjadi di jalan non-tol. Karena itu, keluarga yang memilih berlibur atau mudik menggunakan sepeda motor diminta benar-benar mempertimbangkan keselamatan.

    “Jangan memaksakan perjalanan kalau sudah lelah atau mengantuk. Risiko di jalan non-tol jauh lebih tinggi,” tegasnya.

    Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan kesiapan pengamanan selama Operasi Lilin 2025. Polri menyiapkan ribuan posko di sepanjang jalur mudik dan destinasi liburan untuk menjaga keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas.

    “Operasi Nataru dilaksanakan hampir 14 hari. Ada 2.800 pos yang kita siapkan di seluruh Indonesia. Khusus di Banten, ada 50 posko yang terbagi dalam pos pengamanan, pos pelayanan, dan pos terpadu,” kata Listyo.

    Ia menambahkan, sejumlah titik di Provinsi Banten menjadi fokus pengamanan, terutama jalur penyeberangan, kawasan wisata, serta ruas-ruas jalan rawan kecelakaan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat dapat menikmati libur Natal dan Tahun Baru dengan aman dan kondusif.

    (naf/naf)

  • BGN Khawatir Gizi Anak Menurun Saat Libur Sekolah, dr Tan Pertanyakan Studinya

    BGN Khawatir Gizi Anak Menurun Saat Libur Sekolah, dr Tan Pertanyakan Studinya

    Jakarta

    Program makan bergizi gratis (MBG) yang tetap berjalan selama libur sekolah menuai pro dan kontra. Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut kebijakan ini dilandasi kekhawatiran penurunan status gizi anak karena pola makan keluarga dinilai tidak terpantau selama masa liburan. Namun alasan tersebut dipertanyakan oleh ahli gizi dr Tan Shot Yen, yang menilai kebijakan BGN tidak berbasis bukti ilmiah.

    Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati sebelumnya menyatakan layanan MBG tetap diberikan saat libur sekolah untuk mencegah risiko kekurangan gizi pada anak dan ibu.

    “Kami ingin memastikan bahwa masa liburan bukan periode berisiko bagi tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu, tapi tetap menjadi fase yang aman karena dukungan gizi tetap berjalan,” kata Khairul Hidayati, dikutip dari laman resmi BGN.

    BGN menilai, ketika anak tidak berada di sekolah, pola makan mereka sepenuhnya bergantung pada keluarga, sehingga dikhawatirkan tidak terjaga kualitas dan kecukupan gizinya. Atas dasar itu, distribusi MBG tetap dilanjutkan meski kegiatan belajar mengajar libur di periode Natal dan Tahun Baru.

    Alasan tersebut mendapat sorotan tajam dari dr Tan. Ia mempertanyakan data dan kajian ilmiah yang digunakan BGN untuk menyimpulkan risiko kekurangan gizi justru meningkat saat libur sekolah.

    “Kalau ini alasannya, jujur saya marah. Ada data studi yang menyatakan kekurangan gizi meningkat saat libur?” kata dr Tan saat dihubungi, Rabu (24/12/2025).

    Menurut dr Tan, kebijakan publik, terutama yang menyangkut gizi anak semestinya berbasis bukti, bukan asumsi. Ia menilai BGN gagal menjalankan fungsi edukasi gizi kepada keluarga, padahal libur sekolah seharusnya menjadi momentum penguatan peran orang tua dalam menyediakan makanan sehat di rumah.

    “Kalau betul khawatir, seharusnya yang diperkuat itu edukasi keluarga tentang pola makan bergizi, bukan sekadar membagi makanan,” ujarnya.

    Ia juga menyoroti jenis makanan yang dibagikan dalam program MBG selama libur sekolah. Berdasarkan sejumlah aduan yang ia terima melalui akun Instagram pribadinya, menu MBG yang diberikan didominasi produk ultra processed food (UPF).

    “Banyak ibu-ibu mengirimkan foto MBG berisi biskuit, snack, roti, bahkan diberikan ke bayi usia 15 bulan. Ini jelas bermasalah,” kata dr Tan.

    dr Tan menegaskan MBG seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut, tetapi juga menjadi contoh ideal pola makan sehat masyarakat Indonesia.

    “MBG semestinya menjadi template, acuan, rujukan makanan sehat Indonesia. Itu sebabnya free school meal di negara lain bagus-bagus. Di dalamnya ada edukasi, ada literasi, di balik makanan ada nilai,” ujarnya.

    Ia menyayangkan jika program sebesar MBG hanya dipahami sebatas distribusi makanan tanpa nilai pendidikan.

    “Setiap kunyahan seharusnya ada rasa syukur yang sesungguhnya. Bukan sekadar, ‘syukur sudah dikasih makan’, tapi isinya cuma perut, bukan otak,” tutup dr Tan.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video Makanan UPF Jadi Aduan Terbanyak yang Diterima MBG Watch”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/naf)

  • Dokter Wanti-wanti Risiko Neurologis yang Bisa Muncul saat Mudik Nataru

    Dokter Wanti-wanti Risiko Neurologis yang Bisa Muncul saat Mudik Nataru

    Jakarta

    Mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru) identik dengan perjalanan panjang, terutama bagi masyarakat yang pergi berlibur dengan menempuh jalur darat. Berjam-jam duduk di dalam kendaraan, baik sebagai pengemudi maupun penumpang, kerap dianggap sepele. Padahal, kebiasaan ini tidak hanya memicu pegal dan kaku otot, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan saraf, terutama pada tulang belakang.

    Spesialis bedah saraf dr Dimas Rahman Setiawan, SpBS, menjelaskan salah satu masalah yang sering muncul saat perjalanan jauh adalah saraf terjepit. Kondisi ini umumnya dipicu oleh posisi duduk yang kurang tepat dan dilakukan dalam waktu lama.

    “Kelamaan duduk, baik pinggang maupun leher, itu risiko sarang kejepit. Karena pada saat duduk kalau kita nggak sadar, kadang-kadang posisi kita sebenarnya sedang membungkuk,” ucap dr Dimas ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (11/12/2025).

    Saat duduk terlalu lama, banyak orang tanpa sadar berada dalam posisi membungkuk, baik di area pinggang maupun leher. Posisi tersebut dapat memberikan tekanan berlebih pada tulang belakang. Dalam kondisi tertentu, bantalan antartulang belakang bisa terdorong ke arah belakang dan menekan saraf di sekitarnya.

    Akibatnya, seseorang dapat mengalami keluhan seperti nyeri pinggang, nyeri leher, hingga rasa nyeri yang menjalar ke area lain. Risiko ini bisa meningkat jika perjalanan dilakukan tanpa jeda istirahat yang cukup atau jika posisi duduk tidak pernah diperbaiki selama perjalanan.

    “Nah kalau posisi kita membungkuk itu, mau nggak mau si bantahan tulang kedorong ke belakang,” lanjutnya.

    “Dan akhirnya menekan ke saraf. Jadi risikonya adalah memang terjadi saraf kejepit, nyeri pinggang, nyeri leher. Itu sangat mungkin terjadi,” ucapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (rfd/up)

  • Momen Dokter Bantu Ibu Lahirkan Bayi Kembar di Ambulan saat Banjir Sumut

    Momen Dokter Bantu Ibu Lahirkan Bayi Kembar di Ambulan saat Banjir Sumut

    Jakarta

    Seorang wanita bernama Rajula (38) yang tengah hamil besar, harus dievakuasi dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (29/11/2025) lantaran rumah sakit tersebut tak mampu melayani persalinannya.

    RSUD Tanjung Pura menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang terdampak bencana yang terjadi di Sumatera. Mobil ambulans milik rumah sakit tersebut bahkan tak bisa digunakan. Imbas hal tersebut, pihak rumah sakit menghubungi Puskesmas Stabat Lama untuk segera membawa Rajula dengan ambulans ke rumah sakit lain.

    “Pada saat bencana banjir kemarin, ada ibu hamil di Rumah Sakit Umum Tanjung Pura, kebetulan rumah sakit itu terdampak banjir sehingga mereka tidak bisa memberikan pelayanan. Dan ambulans mereka juga terhalang untuk beroperasi. Jadi dari sana menghubungi kami ke Puskesmas Stabat Lama untuk membantu mengevakuasi ibu hamil tersebut,” kata dokter umum Puskesmas Stabat Lama, dr Afriza Amelia dikutip dari Instagram Kementerian Kesehatan RI, Rabu (24/12).

    Petugas Puskesmas lantas langsung merespons panggilan darurat itu dan datang ke rumah sakit. dr Afriza menjadi salah satu dokter yang ditugaskan pada saat itu. Ia dan tim puskesmas membawa Rajula dengan ambulans menuju RS Putri Bidadari. Rumah sakit tersebut disebutnya tak terdampak, sehingga masih bisa beroperasi seperti biasa.

    Namun, lanjut Afriza, pasien tersebut sudah mengalami kontraksi yang cukup panjang dengan intensitas kuat. Rajula tak bisa lagi menahannya, sehingga melahirkan bayi di dalam ambulans. Afriza yang ada di dalam ambulans itu membantu proses persalinan Rajula.

    “Sebelum sampai di Rumah Sakit Putri Bidadari ibunya sudah melahirkan. Kebetulan saya memang ada di situ. Ibunya mungkin sudah tidak tahan karena sudah kontraksi di jalan, akhirnya ibunya melahirkan di dalam ambulans,” katanya.

    dr Afriza mengatakan ibu tersebut melahirkan dua bayi perempuan kembar dengan sehat dan selamat. Dua bayi tersebut diberi nama Hana dan Hani. Hana lahir dengan berat 2,3 kg, sementara Hani lahir dengan berat 2,1 kg.

    “Anaknya kembar. Ibunya sehat, anaknya juga sehat,” ucap dia.

    (suc/suc)