Category: Detik.com Kesehatan

  • Datang Bulan saat Sedang Liburan? Ini Pesan Dokter Obgyn

    Datang Bulan saat Sedang Liburan? Ini Pesan Dokter Obgyn

    Jakarta

    Banyak perempuan memilih menunda liburan karena bertepatan dengan jadwal menstruasi. Rasa tidak nyaman, takut bocor, hingga khawatir aktivitas terganggu sering menjadi alasan utama. Sebenarnya aman nggak sih lagi datang bulan ikut liburan?

    Spesialis obstetri dan ginekologi dr Niken Pudji Pangastuti, SpOG, KFER dari Brawijaya Hospital Antasari menjelaskan bahwa tidak ada larangan khusus bagi perempuan yang sedang menstruasi untuk bepergian atau liburan. Selama kondisi tubuh terasa fit dan tidak mengalami keluhan berat seperti nyeri berlebihan atau pendarahan sangat banyak, liburan tetap boleh dijalani seperti biasa.

    “Santai saja, nggak ada perlakuan khusus yang penting tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan,” ujar dr Niken dalam wawancara dengan detikcom di Jakarta Selatan, Sabtu (13/08/2025).

    Penting Diperhatikan Saat Liburan

    Perlu diperhatikan saat mengikuti liburan meski liburan saat datang bulan tergolong aman dan tidak memerlukan perlengkapan khusus, satu hal krusial yang tidak boleh terlewat adalah disiplin mengganti pembalut. Aktivitas yang padat, perjalanan panjang, hingga terlalu menikmati agenda liburan sering membuat perempuan lupa memperhatikan jadwal penggantian pembalut.

    “Paling penting yang tadi jangan lupa ganti pembalut dan menjaga darah perempuan agar higiene,” tambahnya.

    Dengan menjaga kebersihan, memperhatikan kondisi tubuh, serta tetap bijak mengatur pola makan, liburan saat datang bulan tetap bisa dinikmati dengan aman dan nyaman.

    (rfd/up)

  • Terlihat Sepele Tapi Bisa Bikin Otak Berasap, Konon Cuma IQ Super yang Bisa Jawab

    Terlihat Sepele Tapi Bisa Bikin Otak Berasap, Konon Cuma IQ Super yang Bisa Jawab

    Asah Otak

    Aida Adha Siregar – detikHealth

    Kamis, 25 Des 2025 20:01 WIB

    Jakarta – Hitungan berikut sebenarnya simpel, tapi menuntut logika harus jalan. Meski libur, sesekali ajak sel-sel otak berolahraga yuk.

  • Bongkar Mitos! Tak 10 Ribu Langkah, Segini Durasi Jalan Kaki Biar Panjang Umur

    Bongkar Mitos! Tak 10 Ribu Langkah, Segini Durasi Jalan Kaki Biar Panjang Umur

    Jakarta

    Selama ini, angka 10.000 langkah sehari sering dianggap sebagai standar emas untuk hidup sehat. Namun, penelitian terbaru membongkar mitos tersebut.

    Ternyata, manfaat kesehatan jantung dan panjang umur sudah bisa didapatkan dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan lebih realistis untuk dilakukan setiap hari.

    Penelitian dari National Institutes of Health (NIH) dan Harvard Health mengungkapkan bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka 10.000.

    Berapa Langkah yang Benar-Benar Dibutuhkan?

    Dikutip dari Medical Daily, berdasarkan data riset, berikut adalah temuan mengenai jumlah langkah harian dan efeknya bagi tubuh:

    7.000 Langkah

    Berdasarkan tinjauan dari Harvard Health, manfaat perlindungan jantung ternyata sudah bisa dirasakan dengan target yang jauh lebih realistis. Mencapai sekitar 7.000 langkah per hari sudah dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini yang jauh lebih rendah.

    8.000 Langkah

    Orang dewasa yang rata-rata berjalan 8.000 langkah sehari menunjukkan risiko kematian yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang kurang bergerak.

    Mengapa Jalan Kaki Sangat Ampuh bagi Jantung?

    Jalan kaki bukan sekadar aktivitas membakar kalori. Saat kaki melangkah, terjadi proses biologis yang luar biasa. Berikut beberapa efek yang terjadi pada jantung jika rutin jalan kaki:

    Melebarkan Pembuluh Darah

    Aktivitas ini memicu pelepasan nitrat oksida yang membuat pembuluh darah lebih rileks dan aliran darah lebih lancar.

    Menurunkan Tekanan Darah

    Rutin jalan kaki dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 5-8 mmHg, hasil yang hampir setara dengan beberapa obat hipertensi ringan.

    Memperbaiki Kolesterol

    Jalan kaki meningkatkan kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kolesterol jahat (LDL) serta trigliserida, sehingga mencegah plak pada arteri.

    Di samping itu jalan kaki sangat aman untuk sendi, terutama bagi lansia atau mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas. Juga, tidak butuh alat khusus atau keanggotaan gym. Jalan kaki bisa dilakukan saat berangkat kerja, berbelanja, atau sekadar istirahat makan siang.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Bongkar Mitos! Tak 10 Ribu Langkah, Segini Durasi Jalan Kaki Biar Panjang Umur

    Bongkar Mitos! Tak 10 Ribu Langkah, Segini Durasi Jalan Kaki Biar Panjang Umur

    Jakarta

    Selama ini, angka 10.000 langkah sehari sering dianggap sebagai standar emas untuk hidup sehat. Namun, penelitian terbaru membongkar mitos tersebut.

    Ternyata, manfaat kesehatan jantung dan panjang umur sudah bisa didapatkan dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan lebih realistis untuk dilakukan setiap hari.

    Penelitian dari National Institutes of Health (NIH) dan Harvard Health mengungkapkan bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka 10.000.

    Berapa Langkah yang Benar-Benar Dibutuhkan?

    Dikutip dari Medical Daily, berdasarkan data riset, berikut adalah temuan mengenai jumlah langkah harian dan efeknya bagi tubuh:

    7.000 Langkah

    Berdasarkan tinjauan dari Harvard Health, manfaat perlindungan jantung ternyata sudah bisa dirasakan dengan target yang jauh lebih realistis. Mencapai sekitar 7.000 langkah per hari sudah dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini yang jauh lebih rendah.

    8.000 Langkah

    Orang dewasa yang rata-rata berjalan 8.000 langkah sehari menunjukkan risiko kematian yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang kurang bergerak.

    Mengapa Jalan Kaki Sangat Ampuh bagi Jantung?

    Jalan kaki bukan sekadar aktivitas membakar kalori. Saat kaki melangkah, terjadi proses biologis yang luar biasa. Berikut beberapa efek yang terjadi pada jantung jika rutin jalan kaki:

    Melebarkan Pembuluh Darah

    Aktivitas ini memicu pelepasan nitrat oksida yang membuat pembuluh darah lebih rileks dan aliran darah lebih lancar.

    Menurunkan Tekanan Darah

    Rutin jalan kaki dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 5-8 mmHg, hasil yang hampir setara dengan beberapa obat hipertensi ringan.

    Memperbaiki Kolesterol

    Jalan kaki meningkatkan kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kolesterol jahat (LDL) serta trigliserida, sehingga mencegah plak pada arteri.

    Di samping itu jalan kaki sangat aman untuk sendi, terutama bagi lansia atau mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas. Juga, tidak butuh alat khusus atau keanggotaan gym. Jalan kaki bisa dilakukan saat berangkat kerja, berbelanja, atau sekadar istirahat makan siang.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • AS Hadapi ‘Tripledemic’, Dokter Wanti-wanti Gejala yang Perlu Diwaspadai

    AS Hadapi ‘Tripledemic’, Dokter Wanti-wanti Gejala yang Perlu Diwaspadai

    Jakarta

    Para dokter di New York mengingatkan adanya peningkatan signifikan kasus ‘tripledemic’ yakni lonjakan bersamaan flu, RSV (Respiratory Syncytial Virus), dan COVID-19. Data dari Northwell Health di Long Island menunjukkan tren mengkhawatirkan di seluruh negara bagian.

    Kasus RSV meningkat 35 persen, COVID-19 naik 15 persen, dan flu mencatat lonjakan paling tajam, dengan angka rawat inap melonjak sampai 75 persen hanya dalam satu pekan.

    Musim liburan kerap diwarnai pertemuan keluarga dan perjalanan, tetapi kondisi ini juga menciptakan situasi ideal bagi penyebaran virus pernapasan. Di New York, kasus flu, RSV, dan COVID-19 terus meningkat sejak Thanksgiving, dan para dokter memperkirakan angkanya terus naik sepanjang musim liburan.

    “Flu meningkat jauh lebih cepat dibandingkan tahun lalu,” beber Dwayne Breining, Wakil Presiden Senior Layanan Laboratorium di Northwell Health.

    Sementara itu, Farber yang berbicara kepada ABC News mengatakan ia tidak menemukan kasus kematian pada pasien yang telah divaksinasi. Sebaliknya, banyak kasus berat terjadi pada pasien yang tidak menerima vaksin.

    Musim flu biasanya berlangsung hingga awal musim semi. Karena itu, dokter menegaskan vaksinasi yang dilakukan sekarang masih tetap memberikan perlindungan. Para ahli kesehatan juga menekankan kebiasaan sederhana namun efektif, seperti rutin mencuci tangan, mengenakan masker saat merasa tidak sehat, serta menghindari acara liburan jika sedang sakit, guna menekan risiko penularan.

    Gejala Flu yang Perlu Diwaspadai

    Gejala flu umumnya meliputi demam mendadak, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan ekstrem, batuk, sakit tenggorokan, serta hidung tersumbat atau berair, yang sering muncul secara tiba-tiba. Pada beberapa kasus, terutama pada anak-anak, flu juga dapat disertai muntah atau diare.

    Tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis segera antara lain kesulitan bernapas, nyeri dada, pusing berat, kebingungan, atau kondisi yang sempat membaik, tetapi kemudian kambuh dan memburuk. US Center for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menegaskan bahwa gejala-gejala tersebut harus segera ditangani secara medis.

    Subclade H3N2 K merupakan varian yang lebih bermutasi dari virus influenza A (H3N2), jenis flu yang telah lama dikaitkan dengan penyakit yang lebih berat dibandingkan strain lainnya. Subklade menandakan adanya perubahan genetik pada virus, yang dapat membuatnya lebih mudah menyebar atau sebagian menghindari kekebalan tubuh yang terbentuk dari infeksi sebelumnya maupun vaksinasi.

    Apa Itu RSV?

    RSV atau Respiratory Syncytial Virus adalah virus yang sangat mudah menular dan umum menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Meski sering kali hanya menyerupai pilek ringan, RSV dapat menimbulkan gangguan pernapasan serius pada bayi, lansia, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

    Virus ini menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Sebagian besar anak terinfeksi RSV sebelum usia dua tahun, dan infeksi ulang cukup sering terjadi. Gejalanya meliputi batuk, pilek, demam, dan napas berbunyi. Bantuan medis diperlukan jika penderita mengalami kesulitan bernapas.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/up)

  • Kisah Wanita Idap Penyakit ‘Tertawa Tak Terkendali’, Ternyata Ini Penyebabnya

    Kisah Wanita Idap Penyakit ‘Tertawa Tak Terkendali’, Ternyata Ini Penyebabnya

    Jakarta

    Seorang perempuan berusia 31 tahun yang tidak disebutkan namanya di Inggris dibawa ke rumah sakit karena memiliki penyakit yang membuatnya tertawa tak terkendali, bahkan ketika ia tidak merasa senang. Pasien tersebut mengaku mengalami kondisi itu sejak bayi, tapi kondisinya tidak pernah didiagnosis secara resmi.

    Gejala yang dirasakan sebelum episode tertawa muncul, ia akan merasakan takut dan perasaan tidak nyaman di area leher dan dada. Ketika fase tertawa itu datang, ia tidak bisa berbicara, menelan, hingga kesulitan bernapas.

    Dikutip dari Live Science, setiap episode biasanya berlangsung selama beberapa detik dan satu kali sehari. Kejadian ini umumnya terjadi ketika pasien baru bangun pagi.

    “Saat ini, setiap episode berlangsung sekitar satu hingga dua detik, namun di masa lalu pernah berlangsung hingga 2-3 menit,” tulis peneliti dari National Hospital of Neurology and Neurosurgery dalam jurnal Epilepsy & Behavior Case Reports.

    “Saat masih anak-anak, orang tuanya kerap memintanya untuk menghentikan kebiasaan tersebut karena mereka menganggapnya sebagai perilaku yang disengaja, bukan suatu kondisi medis,” sambung mereka.

    Pada pemeriksaan MRI dan elektroensefalografi (EEG) otak tidak menunjukkan kelainan. Namun, ketika dokter meninjau video episode tawa pasien tersebut, mereka menyebut itu mirip dengan kondisi kejang gelastik.

    Kondisi tersebut memang dapat memicu tawa, cekikikan, atau senyum menyeringai tak terkendali. Kejang jenis ini umumnya bersifat fokal, yaitu disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal di satu area tertentu otak.

    Pada pemeriksaan MRI kedua, dokter menemukan area abnormal di hipotalamus, struktur penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Kelainan berupa lesi tersebut berukuran sekitar 5 milimeter.

    “Pemeriksaan MRI ulang mengungkap adanya area kecil berukuran 5 mm dengan sinyal abnormal di garis tengah, tepat di bagian posterosuperior terhadap tuber cinereum dan di atas mammillary bodies,” tambah dokter mendiagnosis kondisi tersebut sebagai hamartoma hipotalamus, lesi jinak non-kanker yang terbentuk selama perkembangan janin.

    Kejang gelastik yang memicu ledakan tawa tak terkendali, ketika pengidapnya tetap sadar tetapi tidak mampu mengendalikan tindakannya, merupakan ciri khas dari kelainan ini. Namun, mekanisme pasti mengapa lesi tersebut memicu episode tawa masih belum sepenuhnya dipahami.

    Dokter lantas memberinya obat anti-kejang yang umum digunakan untuk epilepsi, tapi tidak memberikan efek. Karena gejala episodenya sudah tidak tergolong berat, pasien memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatan dan hidup dengan kondisi tersebut.

    Pasien juga tidak mengalami gangguan perilaku maupun kognitif lain, dan frekuensi serta tingkat keparahan serangan terus menurun seiring waktu. Oleh karena itu, dokter menyimpulkan bahwa terapi tambahan tidak diperlukan.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/up)

  • Duh! Dokter Temukan 1 Kg Sampah Plastik di Perut Pasien, Ini Penampakannya

    Duh! Dokter Temukan 1 Kg Sampah Plastik di Perut Pasien, Ini Penampakannya

    Foto Health

    Averus Al Kautsar – detikHealth

    Kamis, 25 Des 2025 16:01 WIB

    Jakarta – Dokter di China menemukan 1 kg sampah plastik dalam perut seorang pasien perempuan 63 tahun. Begini penampakannya.

  • Rahasia Warga Jepang Bisa Hidup Lebih Lama, Banyak yang Sampai 100 Tahun!

    Rahasia Warga Jepang Bisa Hidup Lebih Lama, Banyak yang Sampai 100 Tahun!

    Jakarta

    Jepang dikenal sebagai negara yang penduduknya panjang umur. Ini bukan sekedar omong kosong, nyatanya Jepang hingga saat ini menjadi negara dengan jumlah centenarian (orang berusia 100 tahun atau lebih) terbanyak di dunia dengan 99.763 orang.

    Jumlah tersebut membuat Jepang menjadi negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia. Perempuan menyumbang 88 persen dari seluruh penduduk berusia 100 tahun ke atas.

    Selama puluhan tahun, para peneliti memandang Jepang sebagai kunci untuk memahami mengapa begitu banyak warganya bisa hidup panjang umur, bahkan dalam kondisi kesehatan yang baik. Rupanya rahasianya bukanlah genetik semata, tapi ada faktor lain yang mempengaruhinya.

    Pola Makan Sehat

    Dikutip dari Daily Mail, pola makan tradisional Jepang telah lama dikagumi ilmuwan seluruh dunia. Orang Jepang berfokus pada makanan utuh yang padat nutrisi.

    Ikan, sayuran, kedelai, rumput laut, teh hijau, makanan fermentasi, serta ubi jalar ungu yang terkenal menjadi dasar pola makan yang mendukung kestabilan gula darah dan metabolisme yang sehat hingga usia lanjut. Salah paling terkenal adalah konsep ‘hara hachi bu’, yaitu kebiasaan berhenti makan saat merasa kenyang sekitar 80 persen.

    Kebiasaan sederhana ini mengurangi stres metabolik, mencegah makan berlebihan, dan membantu Jepang mempertahankan salah satu tingkat obesitas terendah di dunia.

    Aktivitas Fisik Rutin

    Bergerak adalah bagian alami dari kebiasaan warga Jepang. Para lansia tetap jalan ke pasar, berdiri di transportasi umum, jongkok saat berkebun, hingga bersepeda untuk keperluan sehari-hari.

    Banyak dari mereka yang juga masih mengikuti Radio Taiso, sebuah senam pagi ringan yang disiarkan secara nasional. Lingkungan juga mendukung kebiasaan ini.

    Kota-kota ramah pejalan kaki, permukiman padat dan terjangkau, serta sistem transportasi umum mendorong pergerakan ringan secara rutin.

    Gaya Hidup Bebas Stres

    Warga Jepang menganut pandangan hidup Ikigai yang merujuk pada alasan mengapa seseorang untuk hidup. Ini dianggap sebagai salah satu faktor psikologis yang membuat mereka hidup lebih panjang.

    Rasa tujuan hidup berfungsi sebagai penyangga alami terhadap stres, membantu menyeimbangkan hormon, meningkatkan imunitas, serta melindungi dari depresi dan penurunan kognitif. Bahkan di usia 90-an dan lebih, banyak lansia Jepang tetap memiliki rutinitas, hobi, pertemanan, dan tanggung jawab yang memberi arah jelas setiap pagi.

    Rasa tujuan ini sangat erat kaitannya dengan komunitas. Struktur sosial Jepang tetap saling terhubung, dengan rumah tangga multigenerasi, festival rutin, tradisi lingkungan, serta ekspektasi budaya untuk tetap aktif secara sosial.

    Sistem Kesehatan Baik

    Sistem layanan kesehatan Jepang memainkan peran penting dalam tingginya angka harapan hidup nasional. Perawatan pencegahan diprioritaskan sejak masa kanak-kanak hingga usia lanjut, dengan pemeriksaan kesehatan rutin, skrining wajib, serta edukasi publik yang luas mengenai pencegahan penyakit.

    Deteksi dini penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan kanker memungkinkan penanganan dilakukan jauh sebelum kondisi menjadi mengancam jiwa.

    Lingkungan Bersih

    Budaya Jepang menjunjung tinggi kebersihan diri dan lingkungan. Mulai dari tradisi mencuci tangan, kebiasaan memakai masker, rumah yang bersih, hingga jalanan yang rapi, semua itu secara signifikan mengurangi paparan harian terhadap penyakit menular.

    Tingkat polusi yang rendah, sistem air bersih yang baik, serta standar keamanan pangan yang ketat semakin melindungi paru-paru, jantung, dan sistem kekebalan tubuh. Sepanjang hidup, perlindungan lingkungan yang kecil namun konsisten ini memperlambat penuaan biologis dan mengurangi peradangan.

    Halaman 2 dari 3

    (avk/up)

  • Ambisi Panjang Umur, Miliarder Ini Klaim ‘Ramuan’ Hidup Abadi Segera Ditemukan!

    Ambisi Panjang Umur, Miliarder Ini Klaim ‘Ramuan’ Hidup Abadi Segera Ditemukan!

    Jakarta

    Seorang miliarder di Amerika Serikat bernama Bryan Johnson memiliki ambisi untuk bisa hidup panjang umur. Johnson dikenal akan kontroversinya hingga sudah menghabiskan sekitar 2 juta dollar per tahun untuk melakukan penelitian dan perawatan demi awet muda.

    Salah satu aksi nyeleneh yang dilakukannya adalah melakukan transfusi darah dari putranya yang masih remaja sebagai donor. Pria berusia 48 tahun itu mengklaim, secara biologis usianya saat ini 10 tahun lebih muda dari usia aslinya.

    Belum lama ini, Johnson menyebut dalam waktu 15 tahun, ‘formula hidup selamanya’ akan ditemukan. Meski belum mengetahui pasti bagaimana caranya, ia menyebut kecerdasan buatan atau AI adalah faktor kunci.

    “Saat ini kita belum tahu bagaimana keabadian tahun 2039 akan dicapai, tetapi kita tahu keabadian itu mungkin, karena alam sudah menyelesaikannya. Ini bukan masalah fisika seperti mencoba bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya, melainkan masalah rekayasa biologis yang telah dipecahkan evolusi berkali-kali,” ucap Johnson dikutip dari Daily Mail, Kamis (25/12/2025).

    Menurut Johnson tahun 2039 adalah waktu yang realistis. Menurutnya, laju inovasi dipercepat oleh AI sehingga nantinya sistem ini juga bisa menjadi ilmuwan.

    Untuk mendukung teorinya, Johnson menyebut beberapa hewan yang secara efektif tidak menua, seperti ubur-ubur Turritopsis dohrnii yang mampu mengembalikan sel-sel ke kondisi muda.

    Menurut data terbaru CDC (Centers for Disease Control and Prevention), harapan hidup rata-rata warga Amerika adalah 76 tahun, dengan perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan rata-rata hidup hingga 80 tahun, sementara laki-laki hanya sampai sekitar 75 tahun.

    Meski belum ada manusia yang pernah hidup selamanya, beberapa peneliti percaya bahwa usia manusia bisa diperpanjang dalam beberapa dekade ke depan. Peneliti biologi penuaan dari University of Alabama at Birmingham, Stephen Austad belum lama ini mengatakan ia percaya manusia pertama yang akan mencapai usia 150 tahun kemungkinan sudah lahir.

    “Saya pikir (keabadian) adalah tujuan paling keren yang bisa dibayangkan. Sulit dipercaya bahwa dari semua orang yang pernah hidup, justru kita yang mendapat kesempatan berada di momen ini,” tandasnya Johnson.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/up)

  • MBG di Libur Sekolah Tak Disetop, Kepala BGN Buka Suara

    MBG di Libur Sekolah Tak Disetop, Kepala BGN Buka Suara

    Jakarta

    Ramai sejumlah pihak menilai makan bergizi gratis (MBG) sebaiknya dihentikan saat libur sekolah karena dianggap tidak efektif, sulit diawasi, hingga dicurigai sekadar upaya menghabiskan anggaran akhir tahun.

    Perdebatan tersebut menguat setelah distribusi menu MBG di libur sekolah ‘dirapel’ dan dibagikan dalam bentuk makanan kering. Sebagian masyarakat mempertanyakan urgensinya, terutama untuk anak sekolah yang tidak hadir di kelas dan dinilai bisa mendapatkan asupan makanan dari rumah.

    Menanggapi hal tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan tidak akan menghentikan program MBG selama libur sekolah. Kepala BGN Prof Dadan Hindayana menekankan program ini tidak semata-mata bergantung pada kalender pendidikan, melainkan pada kebutuhan gizi kelompok rentan yang harus dijaga secara berkelanjutan.

    “Intervensi pemenuhan gizi adalah bagian yang sangat penting, sehingga kontinuitasnya perlu dijaga,” kata Prof Dadan saat dihubungi detikcom, Kamis (25/12/2025).

    Ia menjelaskan, sasaran utama MBG tidak hanya anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Kelompok ini merupakan prioritas nasional dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

    “Ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita adalah bagian yang krusial dari program MBG,” ujarnya.

    Prof Dadan mengklaim pemenuhan gizi pada kelompok tersebut berkaitan langsung dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan, fase emas yang menentukan tumbuh kembang anak.

    “1.000 hari pertama kehidupan waktunya pendek. Kita harus menjaga golden time itu. Dan mereka juga tidak ada hubungannya dengan waktu sekolah,” tegasnya.

    Adapun untuk sasaran anak sekolah, Prof Dadan menyebut pelaksanaan MBG selama libur bersifat fleksibel dan tidak dipaksakan. Ia memastikan tidak ada kewajiban bagi seluruh anak sekolah untuk tetap menerima MBG jika secara teknis tidak memungkinkan.

    “Untuk anak sekolah sifatnya opsional. Bagi yang tidak memungkinkan mengambil atau dikirim karena alasan teknis, atau ada yang pergi berlibur, tidak masalah,” jelasnya.

    Namun, BGN memastikan layanan tetap diberikan bagi anak sekolah yang membutuhkan dan dapat dijangkau oleh sistem distribusi MBG.

    “Tapi bagi yang membutuhkan, kita tetap layani,” kata Prof Dadan.

    BGN menilai, polemik penghentian MBG saat libur sekolah perlu dilihat secara lebih utuh. Menurut Prof Dadan, penghentian total justru berisiko memutus intervensi gizi bagi kelompok rentan yang tidak bisa menunggu.

    “Kalau intervensi gizi terputus, dampaknya tidak bisa langsung terlihat, tapi efek jangka panjangnya besar,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)