Category: Detik.com Kesehatan

  • 8 Kebiasaan yang Bikin Umur Panjang, Nomor 2 Paling Sering Diabaikan

    8 Kebiasaan yang Bikin Umur Panjang, Nomor 2 Paling Sering Diabaikan

    Jakarta

    Setiap orang mendambakan umur yang panjang dan sehat. Tanpa disadari, kebiasaan sehari-hari memegang peran dalam menjaga tubuh tetap sehat dan bugar. Mulai dari pola makan, cara tidur, hingga cara mengelola stres, rutinitas yang dilakukan secara konsisten bisa meningkatkan kualitas hidup.

    Pakar biohack di Inggris, Tim Gray menganjurkan untuk melakukan beberapa perubahan gaya hidup sederhana. Dikutip dari laman WebMd, biohacking berarti melakukan perubahan pada tubuh atau gaya hidup untuk meningkatkan sesuatu dalam diri, seperti kesehatan, kemampuan otak, atau kemampuan atletik.

    “Mulailah dengan hal-hal mendasar dan perbaiki terlebih dahulu sebelum menghabiskan banyak uang untuk suplemen dan teknologi,” katanya.

    Kebiasaan yang Bisa Bikin Umur Panjang

    Dikutip dari laman Mirror, berikut beberapa kebiasaan yang bisa bikin umur panjang dan sehat.

    1. Pola Makan dan Hidrasi yang Baik

    Pastikan untuk mengonsumsi makanan yang tepat dan minum air yang cukup. Para biohacker (orang yang melakukan eksperimen untuk mengoptimalkan kesehatan mereka) lebih memilih air mineral atau air osmosis, jenis air yang disaring khusus dengan tambahan garam laut.

    Untuk makanan, fokus pada diet yang minim pengolahan dan mengandung makanan utuh, buah dan sayuran organik. Prinsip utamanya adalah memilih makanan yang sedekat mungkin dengan alam, menghindari bahan kimia tambahan, pengawet, dan pestisida.

    2. Tidur selama 7-9 jam

    Tidur sangatlah penting agar tubuh bisa pulih dari kerusakan yang terjadi pada tubuh sepanjang hari. Tidur menjadi dasar utama bagi pemulihan dan pembentukan energi.

    Kualitas tidur bisa memberi gambaran tentang gaya hidup dan proses pemulihan tubuh. Idealnya, tidur harus memiliki keseimbangan yang baik, antara fase tidur nyenyak, tidur singkat dan tidur REM (rapid eye movement).

    3. Optimalkan untuk Mendapat Paparan Cahaya Matahari

    Pada dasarnya, tubuh manusia dirancang untuk bangun dan beristirahat mengikuti siklus matahari. Cahaya berperan sebagai penanda ritme sirkadian.

    Karena itu, di pagi hari, diperlukan keluar rumah dan terpapar cahaya alami untuk mendukung respons kortisol serta meningkatkan energi. Paparan sinar matahari juga menghentikan produksi melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur pola tidur.

    4. Menjaga Kesehatan Mulut

    Para biohacker percaya kalau kesehatan dimulai dari mulut. Coba oil puiling, yaitu membersihkan mulut dengan berkumur minyak kelapa ke seluruh mulut selama 10 menit, serta membersihkan lidah untuk mendukung mikrobima mulut yang sehat. Mengoptimalkan mikrobioma mulut juga akan membantu mencegah kerusakan gigi.

    5. Bergaul dengan Orang yang Sepemikiran

    Banyak penelitian tentang pentingnya hubungan sosial dan bagaimana orang lain memberi pengaruh, baik secara psikologis maupun biologis.

    Untuk itu, kelilingi diri dengan orang-orang yang sepemikiran yang mempriortaskan hubungan positif yang berfokus pada kesehatan. Komunitas yang suportif kan membantu seseorang untuk berkembang.

    Tubuh manusia tidak dirancang untuk menghadapi gaya hidup modern yang penuh tekanan. Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, meluangkan waktu di alam, menjalin hubungan dengan teman dan keluarga, serta mencoba praktik seperti latihan pernapasan dan mediasi bisa memberi manfaat besar bagi kesehatan.

    7. Berolahraga

    Para biohacker bukan sekedar penggemar olahraga, tapi juga pendukung gaya hidup yang mengutamakan pergerakan rutin. Hal ini mencakup kebiasaan seperti berjalan kaki sesering mungkin hingga mengambil jeda untuk bergerak secara berkala sepanjang hari.

    8. Bersenang-senang

    Berupaya mendapatkan umur yang panjang memang baik, tapi sama pentingnya dengan memaksimalkan kualitas hidup yang dijalani setiap tahun. Berusahalah untuk memanfaatkan setiap momen sebaik mungkin. Pastikan bahwa upaya untuk hidup lebih lama tidak menutupi kegembiraan yang sebenarnya.

    (elk/suc)

  • IQ Tinggi Tak Butuh Lama Pecahkan Teka-teki Ini, Bisa Jawab dalam 15 Detik?

    IQ Tinggi Tak Butuh Lama Pecahkan Teka-teki Ini, Bisa Jawab dalam 15 Detik?

    Asah Otak

    Daffa Ghazan – detikHealth

    Jumat, 26 Des 2025 11:03 WIB

    Jakarta – Terlihat tampak sederhana, tetapi pola di balik soal matematika ini menuntut fokus dan ketelitian. Bisa melakukannya dalam 15 detik, tandanya punya IQ super.

  • Resolusi Diet 2025 Tak Tercapai? Dokter Gizi Ungkap Kesalahan yang Sering Dilakukan

    Resolusi Diet 2025 Tak Tercapai? Dokter Gizi Ungkap Kesalahan yang Sering Dilakukan

    Jakarta

    Di setiap momen pergantian tahun, resolusi diet kerap diikrarkan dengan target tertentu. Mulai dari ingin menurunkan berat badan, hidup lebih sehat, hingga tampil lebih bugar.

    Namun, realitanya, banyak resolusi diet yang justru gagal hanya dalam hitungan minggu. Apa sebenarnya kesalahan paling umum yang membuat diet sering gagal di tengah jalan?

    Spesialis gizi dr Nathania Sutisna, SpGK mengatakan kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh mereka yang diet dan gagal adalah konsistensi. Hal ini karena metode diet yang dipilih biasanya tidak sesuai dengan kemampuan diri.

    “Makannya saya selalu menyarankan ke semua orang itu, bahkan yang sehat juga ya kalau mau menjalankan diet yang sehat itu, yang penting satu doable, jadi yang harus bisa dilakukan,” ucap dr Nathania kepada detikcom, di RS Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Selasa(16/12/2025).

    Diet FOMO atau Ikut-ikutan

    Selain itu kesalahan klasik yang sering dialami adalah mengikuti pola diet yang berhasil pada orang lain, tanpa mempertimbangkan kecocokan dengan diri sendiri.

    “Misalnya temen saya bagus Dok bisa berhasil dengan diet A, tapi itu tidak cocok dengan saya, biasanya cuman bertahan dua minggu saja,” kata dr Nathania.

    “Habis itu dia menyerah karena dia nggak menikmati dengan diet itu, akhirnya dia berat badannya naik lagi. Bahkan lebih tinggi dari berat badan awal. Jadi kuncinya itu konsisten sebetulnya,” sambungnya.

    Tips Dokter Agar Diet Berhasil

    Sebagai tenaga medis, dr Nathania selalu mencoba mengerti risiko, gaya hidup, hingga kemampuan dari pasiennya sebelum memilih metode diet tertentu hingga ditemukan solusi yang tepat.

    “Mampu nggak melakukan diet ini? Kalau mampu, akan dicoba dulu. Dua minggu kemudian dievaluasi, cocok atau tidak.” ujarnya.

    Evaluasi menjadi bagian penting dari proses diet. Jika ternyata ada hal yang kurang cocok, perlu adanya penyesuaian atau mengganti dengan metode yang lebih sesuai.

    “Jangan takut dengan perubahan, yang penting tetap dijalani sebagai diet sehat,” katanya.

    Pendekatan dari dr Nathania menekankan pentingnya memilih pola diet yang realistis dan sesuai dengan kemampuan serta kondisi tubuh agar dapat dijalani dalam jangka panjang, disertai evaluasi sejak dua minggu pertama untuk menilai kecocokannya.

    Jika metode yang dijalani terasa tidak sesuai, penyesuaian perlu dilakukan dan tidak boleh dianggap sebagai kegagalan. Menurutnya, kunci keberhasilan diet terletak pada konsistensi, bukan hasil instan, serta pendekatan yang personal karena tidak ada satu pola diet yang cocok untuk semua orang.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Cara Hitung Berat Badan Ideal Kucing”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

  • Viral Narasi Peneliti Cambridge Sebut Usia 32 Masih Remaja, Ternyata Ini Temuannya

    Viral Narasi Peneliti Cambridge Sebut Usia 32 Masih Remaja, Ternyata Ini Temuannya

    Jakarta

    Belakangan ini viral narasi yang menyebut usia 32 tahun masih tergolong remaja di media sosial. Setelah ditelusuri, klaim tersebut merujuk pada temuan peneliti dari University of Cambridge yang membahas fase perkembangan otak manusia. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

    Dikutip dari BBC, peneliti mengungkap otak manusia melewati lima fase utama sepanjang hidup, dengan titik perubahan penting terjadi pada usia 9, 32, 66, dan 83 tahun.

    Temuan ini didasarkan pada pemindaian otak terhadap sekitar 4.000 orang berusia hingga 90 tahun untuk melihat bagaimana koneksi antar sel otak berubah seiring waktu.

    Peneliti menunjukkan bahwa otak manusia tetap berada dalam fase remaja hingga awal usia 30-an, sebelum mencapai puncak fungsi dan memasuki fase dewasa.

    Menurut peneliti, hasil penelitian ini dapat membantu menjelaskan mengapa risiko gangguan kesehatan mental dan demensia berbeda-beda di setiap tahap kehidupan.

    Selama ini, otak diketahui terus berubah mengikuti pengalaman dan pengetahuan baru. Namun, penelitian ini menunjukkan perubahan tersebut tidak berlangsung secara mulus dari lahir hingga kematian, melainkan terjadi dalam beberapa fase yang jelas.

    Masa kanak-kanak: sejak lahir hingga usia 9 tahunMasa remaja: dari usia 9 hingga 32 tahunMasa dewasa: dari usia 32 hingga 66 tahunPenuaan dini: dari usia 66 hingga 83 tahunPenuaan lanjut: usia 83 tahun ke atas

    “Otak mengalami perubahan struktur sepanjang rentang kehidupan. Otak selalu memperkuat dan melemahkan koneksi, dan itu bukanlah pola yang tetap, ada fluktuasi dan fase perubahan struktur otak,” kata penulis utama penelitian tersebut, Dr Alexa Mousley, kepada BBC.

    Para peneliti menegaskan setiap orang bisa mencapai titik-titik perkembangan ini lebih cepat atau lebih lambat. Meski demikian, mereka menilai usia-usia tersebut tampak sangat jelas dan konsisten dalam data yang dianalisis. Pola-pola ini baru dapat diungkap sekarang berkat jumlah pemindaian otak yang sangat besar dalam penelitian tersebut.

    Lebih lanjut, penelitian ini tidak menganalisis perbedaan antara pria dan perempuan secara terpisah, namun para peneliti menyebutkan bahwa ke depan akan muncul pertanyaan lanjutan, termasuk mengenai dampak menopause terhadap perubahan otak.

    Duncan Astle, profesor neuroinformatika di University of Cambridge yang juga tergabung dalam tim peneliti, mengatakan bahwa banyak kondisi perkembangan saraf, gangguan kesehatan mental, dan penyakit neurologis berkaitan erat dengan cara otak membentuk jaringan koneksinya.

    Menurutnya, perbedaan pola koneksi otak dapat memprediksi kesulitan dalam perhatian, bahasa, memori, hingga berbagai jenis perilaku lainnya.

    Sementara itu, Direktur Centre for Discovery Brain Sciences di University of Edinburgh, Prof Tara Spires-Jones, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai studi ini sebagai penelitian yang sangat menarik karena menunjukkan betapa besar perubahan otak manusia sepanjang hidup.

    Ia menambahkan bahwa hasil penelitian ini selaras dengan pemahaman ilmiah tentang penuaan otak, namun mengingatkan bahwa tidak semua orang akan mengalami perubahan jaringan otak pada usia yang persis sama.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/suc)

  • Lagi! AS Tarik Udang Beku Asal Indonesia Diduga Terpapar Radioaktif Cs-137

    Lagi! AS Tarik Udang Beku Asal Indonesia Diduga Terpapar Radioaktif Cs-137

    Jakarta

    Food and Drug Administration AS (FDA) kembali menarik 83.800 produk udang beku asal Indonesia yang dijual dengan merek Market 32 dan Waterfront, Jumat (19/12/2025).

    Penarikan tersebut dilakukan setelah produk yang didistribusikan oleh Direct Source Seafood LLC itu diduga disiapkan, dikemas, dan disimpan secara tidak higienis sehingga berpotensi terkontaminasi cesium-137 (Cs-137).

    “Cs-137 adalah radioisotop cesium buatan manusia. Jejak Cs-137 tersebar luas dan dapat ditemukan di lingkungan pada tingkat latar belakang, dan pada tingkat yang lebih tinggi di air atau makanan yang ditanam, dipelihara, atau diproduksi di daerah dengan kontaminasi lingkungan,” demikian keterangan FDA, dikutip Jumat (26/12).

    “Efek kesehatan utama yang perlu diperhatikan setelah paparan dosis rendah berulang dalam jangka panjang (misalnya, melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dari waktu ke waktu) adalah peningkatan risiko kanker, yang diakibatkan oleh kerusakan DNA di dalam sel hidup tubuh,” kata FDA.

    Sebelumnya, FDA juga secara aktif menyelidiki laporan kontaminasi Cs-137 pada kontainer pengiriman dan produk udang beku yang diproduksi di Indonesia oleh PT Bahari Makmur Sejati (beroperasi sebagai BMS Foods). Hingga saat ini belum ada laporan kasus penyakit.

    (suc/suc)

  • Remaja Ini Dilarikan ke RS Gegara Keracunan Usai Nekat Minum Darah Sendiri

    Remaja Ini Dilarikan ke RS Gegara Keracunan Usai Nekat Minum Darah Sendiri

    Jakarta

    Seorang remaja berusia 17 tahun di Rusia dilarikan ke rumah sakit gegara nekat minum darah sendiri. Bagaimana kejadiannya?

    Semuanya berawal ketika remaja yang tidak disebutkan namanya itu melihat sebuah ‘video tips’ nyeleneh yang menyebut minum darah sendiri bisa memberikan zat besi dan meningkatkan kadar hemoglobin. Bukannya melakukan konfirmasi kebenaran terkait tips tersebut, ia malah langsung mencobanya.

    Semenjak saat itu, ia mulai mengalami gangguan kesehatan. Beberapa gejala yang muncul seperti badan terasa tidak nyaman, demam, hingga muntah darah.

    Karena kondisinya semakin parah, pihak keluarga akhirnya memanggil layanan medis darurat. Dokter yang datang menyebut remaja itu mengalami keracunan akut dan harus segera di bawah rumah sakit.

    Sesampainya di rumah sakit, kondisi sang remaja berhasil distabilkan. Namun, mereka terkejut saat mengetahui awal mula keracunan tersebut.

    Dokter Andrei Kondrakhin mengatakan kepada media Rusia Moscow 24 bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh remaja itu bisa berbahaya jika dilakukan dalam jangka waktu lama. Minum darah dapat memicu gejala keracunan karena lambung manusia tidak dirancang untuk mencerna atau memproses darah.

    “Darah tidak dapat diserap karena mengandung zat besi dalam jumlah besar, dan inilah yang menyebabkan efek iritasi,” ujar Kondrakhin dikutip dari OddityCentral, Rabu (24/12/2025).

    Tubuh tidak bisa menyerap zat besi dari hemoglobin dengan cara dikonsumsi langsung. Kondrakhin mengatakan prosesnya sangat kompleks dan memakan waktu yang lama.

    Pada akhirnya, mengonsumsi darah hanya akan memicu muntah-muntah, dan tidak memberikan manfaat sama sekali.

    “Hal ini menjelaskan mengapa, misalnya pada kasus tukak lambung yang disertai perdarahan, tubuh memandang darah sebagai zat yang agresif. Bagian cair dari darah (plasma) tidak dirancang untuk melewati saluran pencernaan dalam bentuk seperti ini. Tubuh tidak tahu bagaimana cara mencerna darah, prosesnya sangat kompleks,” katanya lagi.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/naf)

  • Remaja Ini Dilarikan ke RS Gegara Keracunan Usai Nekat Minum Darah Sendiri

    Remaja Ini Dilarikan ke RS Gegara Keracunan Usai Nekat Minum Darah Sendiri

    Jakarta

    Seorang remaja berusia 17 tahun di Rusia dilarikan ke rumah sakit gegara nekat minum darah sendiri. Bagaimana kejadiannya?

    Semuanya berawal ketika remaja yang tidak disebutkan namanya itu melihat sebuah ‘video tips’ nyeleneh yang menyebut minum darah sendiri bisa memberikan zat besi dan meningkatkan kadar hemoglobin. Bukannya melakukan konfirmasi kebenaran terkait tips tersebut, ia malah langsung mencobanya.

    Semenjak saat itu, ia mulai mengalami gangguan kesehatan. Beberapa gejala yang muncul seperti badan terasa tidak nyaman, demam, hingga muntah darah.

    Karena kondisinya semakin parah, pihak keluarga akhirnya memanggil layanan medis darurat. Dokter yang datang menyebut remaja itu mengalami keracunan akut dan harus segera di bawah rumah sakit.

    Sesampainya di rumah sakit, kondisi sang remaja berhasil distabilkan. Namun, mereka terkejut saat mengetahui awal mula keracunan tersebut.

    Dokter Andrei Kondrakhin mengatakan kepada media Rusia Moscow 24 bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh remaja itu bisa berbahaya jika dilakukan dalam jangka waktu lama. Minum darah dapat memicu gejala keracunan karena lambung manusia tidak dirancang untuk mencerna atau memproses darah.

    “Darah tidak dapat diserap karena mengandung zat besi dalam jumlah besar, dan inilah yang menyebabkan efek iritasi,” ujar Kondrakhin dikutip dari OddityCentral, Rabu (24/12/2025).

    Tubuh tidak bisa menyerap zat besi dari hemoglobin dengan cara dikonsumsi langsung. Kondrakhin mengatakan prosesnya sangat kompleks dan memakan waktu yang lama.

    Pada akhirnya, mengonsumsi darah hanya akan memicu muntah-muntah, dan tidak memberikan manfaat sama sekali.

    “Hal ini menjelaskan mengapa, misalnya pada kasus tukak lambung yang disertai perdarahan, tubuh memandang darah sebagai zat yang agresif. Bagian cair dari darah (plasma) tidak dirancang untuk melewati saluran pencernaan dalam bentuk seperti ini. Tubuh tidak tahu bagaimana cara mencerna darah, prosesnya sangat kompleks,” katanya lagi.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/naf)

  • Salah Kaprah Memanaskan Nasi Sisa: Tidak Bau Bukan Jaminan Masih Aman

    Salah Kaprah Memanaskan Nasi Sisa: Tidak Bau Bukan Jaminan Masih Aman

    Jakarta

    Nasi yang disimpan beberapa jam hingga seharian kerap dianggap masih aman selama tidak berbau, tidak berlendir, dan warnanya tetap normal. Anggapan ini masih banyak dipercaya, padahal dalam ilmu keamanan pangan, kondisi nasi yang tampak baik belum tentu bebas risiko. Bakteri dapat mulai tumbuh pada nasi matang yang disimpan tidak tepat, bahkan sebelum muncul bau, lendir, atau tanda pembusukan lainnya.

    Oleh karena itu, memahami cara penyimpanan nasi yang benar menjadi kunci untuk mencegah risiko gangguan kesehatan akibat konsumsi nasi yang sudah terkontaminasi.

    Berapa Lama Nasi Matang Masih Aman Dikonsumsi?

    Standar keamanan penyimpanan nasi matang merujuk pada pedoman keamanan pangan internasional, yang secara khusus menempatkan nasi dan makanan berbasis beras sebagai pangan berisiko karena potensi pertumbuhan bakteri Bacillus cereus. Sejumlah otoritas seperti Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, Food Standards Agency (FSA) Inggris, serta tinjauan jurnal mikrobiologi pangan menjelaskan bahwa bakteri ini kerap ditemukan pada beras, mampu bertahan dalam bentuk spora saat proses memasak, dan dapat berkembang kembali ketika nasi disimpan pada suhu yang tidak tepat.

    Oleh karena itu, penilaian aman atau tidaknya nasi sisa tidak cukup hanya mengandalkan bau atau tampilan, melainkan sangat ditentukan oleh suhu dan lama penyimpanannya. Aturan waktu dan suhu ini bukan tanpa dasar. Di Indonesia sendiri, keamanan penyimpanan makanan matang diatur dalam kerangka kebijakan keamanan pangan nasional.

    Bagaimana Aturan di Indonesia?

    Di Indonesia, keamanan penyimpanan makanan matang termasuk nasi diatur dalam kerangka umum keamanan pangan, bukan aturan khusus yang menyebutkan durasi jam penyimpanan nasi secara eksplisit. Salah satu payung hukumnya adalah Peraturan Pemerintah (PP) No. 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan, yang menegaskan bahwa pangan yang diproduksi, disimpan, dan disajikan harus memenuhi prinsip keamanan agar tidak membahayakan kesehatan manusia.

    Dalam praktik teknis, Kementerian Kesehatan melalui pedoman higiene sanitasi jasa boga menekankan prinsip pengendalian suhu untuk makanan matang. Makanan yang disajikan panas harus dijaga pada suhu minimal 60°C, sedangkan makanan matang yang disimpan dingin harus berada pada suhu 4°C atau lebih rendah, guna menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen yaitu mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. Prinsip suhu ini berlaku untuk berbagai makanan matang, termasuk nasi, yang dikenal berisiko bila disimpan pada suhu tidak tepat.

    Sementara itu, BPOM dalam berbagai edukasi keamanan pangan juga menegaskan bahwa pangan matang yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang berisiko terkontaminasi mikroba. Karena belum ada ketentuan nasional yang menetapkan “batas jam nasi matang” secara spesifik, praktik di Indonesia umumnya mengacu pada prinsip umum keamanan pangan nasional yang kemudian diperkuat oleh pedoman internasional (seperti FDA atau FSA) untuk penjelasan waktu yang lebih rinci, khususnya pada pangan berisiko seperti nasi.

    Meski kerangka aturan sudah ada, persoalan kerap muncul dalam praktik sehari-hari terutama ketika nasi yang sudah basi dianggap aman kembali setelah dipanaskan ulang.

    Mengapa Nasi Basi Tak Boleh Dipanaskan?

    Anggapan bahwa nasi basi aman dimakan setelah dipanaskan ulang berasal dari keyakinan lama yang menganggap panas selalu mampu membuat makanan kembali aman. Dalam ilmu keamanan pangan modern, anggapan ini tidak sepenuhnya benar.

    Bakteri Bacillus cereus diketahui mampu bertahan dalam bentuk spora selama proses memasak nasi. Granum dan Lund dalam tinjauan mereka di Journal of Applied Microbiology menjelaskan bahwa spora ini dapat mulai tumbuh kembali ketika nasi disimpan pada suhu yang tidak tepat, lalu menghasilkan racun. Sejumlah literatur mikrobiologi pangan mencatat bahwa racun yang dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas, sehingga toksin tidak rusak meskipun nasi dipanaskan ulang, meski bakteri penyebabnya bisa saja sudah mati.

    Salah satu racun yang dihasilkan Bacillus cereus adalah toksin emetik bernama cereulide. Toksin ini dikenal sangat stabil terhadap panas dan tidak mudah dihilangkan hanya dengan pemanasan ulang atau pemasakan normal. Akibatnya, meskipun proses pemanasan ulang dapat membunuh sel bakteri yang masih hidup, cereulide yang telah terbentuk tetap bertahan dan membuat nasi yang terkontaminasi berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

    Secara klinis, Bacillus cereus dikenal sebagai penyebab keracunan makanan yang dapat memicu dua jenis sindrom, yakni sindrom emetik dan sindrom diare. Gejalanya meliputi mual, muntah, kram perut, hingga diare, yang umumnya muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Literatur ilmiah menegaskan bahwa aktivitas toksin, bukan bakteri hidupnya, yang menjadi penyebab utama timbulnya gejala tersebut-dan inilah alasan mengapa pemanasan ulang tidak selalu membuat nasi kembali aman dikonsumsi.

    Setelah memahami mekanisme risiko tersebut, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana seharusnya menyikapi nasi sisa agar tetap aman dikonsumsi?

    Hal yang Sebaiknya Dilakukan dengan Nasi Sisa

    Berdasarkan pedoman keamanan pangan internasional dan nasional, keamanan nasi sisa sangat bergantung pada suhu dan cara penyimpanannya sejak awal. Berikut panduan praktis menyimpan nasi sisa berdasarkan kondisi penyimpanannya.

    Di suhu ruang (sekitar 25-30°C):

    Nasi matang sebaiknya tidak dibiarkan lebih dari 2 jam. Pada rentang suhu ini, nasi berada di zona bahaya (5-60°C), kondisi yang memungkinkan Bacillus cereus berkembang dengan cepat, bahkan ketika nasi belum berbau atau berlendir.

    Disimpan di rice cooker yang masih menyala:

    Jika rice cooker menjaga suhu nasi di atas 60°C, pertumbuhan bakteri dapat ditekan. Dalam kondisi ini, nasi masih relatif aman dikonsumsi selama beberapa jam di hari yang sama. Namun, penyimpanan dalam rice cooker tidak disarankan terlalu lama atau semalaman, karena suhu dapat menurun dan risiko perlahan meningkat.

    Disimpan di kulkas:

    Untuk penyimpanan lebih lama, nasi sebaiknya segera didinginkan dan disimpan di kulkas (di bawah 4°C). Berdasarkan pedoman keamanan pangan, nasi matang dalam kondisi ini umumnya aman dikonsumsi hingga 3-4 hari, selama disimpan dalam wadah tertutup dan dipanaskan ulang hingga panas merata.

    Disimpan di freezer:

    Pembekuan dapat menghentikan aktivitas bakteri. Nasi matang yang disimpan di freezer dapat bertahan lebih lama, meski kualitas tekstur dan rasa bisa menurun setelah dicairkan.

    Jadi, jangan terkecoh tampilan nasi yang masih terlihat baik. Keamanan nasi sisa ditentukan oleh cara penyimpanannya sejak awal memahami aturan suhu dan waktu dapat membantu mencegah risiko keracunan yang sebenarnya bisa dihindari.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Mitos atau Fakta: Atasi Keracunan dengan Konsumsi Norit”
    [Gambas:Video 20detik]
    (fti/up)

  • Kebiasaan Sepele di Pagi Hari yang Bisa Rusak Ginjal, Ada yang Sering Dilakukan?

    Kebiasaan Sepele di Pagi Hari yang Bisa Rusak Ginjal, Ada yang Sering Dilakukan?

    Jakarta

    Ginjal merupakan organ penting yang berperan sebagai penyaring darah dan membuang zat sisa dari tubuh melalui urine. Kebiasaan di pagi hari rupanya sangat mempengaruhi kesehatan ginjal secara keseluruhan. Jangan sampai, apa yang dilakukan di pagi hari, justru merusak kesehatan ginjal.

    Dikutip dari Times of India, berikut ini adalah sederet kebiasaan simpel yang bisa ganggu kesehatan ginjal.

    Tidak Minum Air Putih

    Setelah berjam-jam tidur, tubuh bangun dalam kondisi kekurangan cairan tubuh. Segelas air putih di pagi hari membantu membuang racun dan mendukung proses penyaringan yang optimal.

    Sebuah laporan dalam jurnal Obesity Facts menjelaskan air berperan penting dalam menjaga kesehatan ginjal, salah satunya dengan mencegah pembentukan batu ginjal melalui pengenceran mineral yang dapat mengkristal.

    Hidrasi juga dapat mengurangi beban ginjal dengan menurunkan konsentrasi vasopresin, hormon yang dikaitkan dengan stres pada ginjal. Meski masih dibutuhkan penelitian lanjutan, para ahli sepakat bahwa cukup minum air membantu ginjal bekerja lebih lancar.

    Menahan Buang Air Kecil Terlalu Lama

    Kandung kemih meregang selama tidur, dan menunda pengosongan akan meningkatkan tekanan pada kandung kemih dan ginjal.

    Penelitian dalam Korean Journal of Family Medicine menemukan menahan urine selama tiga jam atau lebih setelah buang air terakhir dikaitkan dengan tekanan darah yang lebih tinggi pada perempuan paruh baya. Para peneliti bahkan menyarankan agar tekanan darah idealnya diukur setelah kandung kemih dikosongkan.

    Hal ini menunjukkan kebiasaan menahan urine dapat memengaruhi regulasi tekanan darah sebagai salah satu indikator penting dari stres ginjal.

    Kebiasaan menahan kencing juga melemahkan otot kandung kemih dan meningkatkan pertumbuhan bakteri, sehingga menaikkan risiko infeksi saluran kemih yang dapat menyebar ke ginjal. Dalam jangka panjang, menahan kencing juga bisa meningkatkan risiko batu ginjal.

    Minum Obat Pereda Nyeri saat Perut Kosong

    Obat pereda nyeri, terutama NSAID (Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs) seperti ibuprofen, sering dikonsumsi pagi hari untuk sakit kepala atau nyeri otot. Dalam kondisi perut kosong, obat ini lebih cepat masuk ke aliran darah dan memberi tekanan tambahan pada ginjal.

    Menurut para ahli nefrologi, penggunaan NSAID jangka panjang atau tanpa kontrol merupakan salah satu penyebab utama cedera ginjal akibat obat di seluruh dunia.

    Melewatkan Sarapan

    Tanpa sarapan, gula darah bisa turun, memicu keinginan mengonsumsi camilan asin atau makanan olahan beberapa jam setelahnya.

    Laporan dalam International Journal of Nephrology menyebutkan asupan natrium berlebihan meningkatkan risiko progresi penyakit ginjal dan tekanan darah tinggi. Meski mengurangi garam terbukti bermanfaat, banyak orang kesulitan mempertahankan pola makan rendah natrium.

    Ahli gizi menekankan bahwa sarapan membantu menstabilkan energi dan hormon, mencegah makan berlebihan di kemudian hari, faktor penting dalam melindungi ginjal dan jantung.

    Halaman 2 dari 3

    (avk/naf)

  • Cerita Relawan Medis di Aceh, Berjuang Selamatkan Nyawa di Tengah Keterbatasan

    Cerita Relawan Medis di Aceh, Berjuang Selamatkan Nyawa di Tengah Keterbatasan

    Jakarta

    Bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh menyisakan duka mendalam, bukan hanya karena kerusakan fisik, tetapi juga keterbatasan layanan kesehatan di hari-hari awal pascakejadian. Seorang relawan medis dari Aceh Tengah mengungkapkan, banyak pasien stroke perdarahan tak tertolong lantaran tak bisa segera menjalani operasi.

    Gemma, relawan medis yang bertugas di Aceh Tengah, mengatakan sejak awal bencana hingga beberapa hari setelahnya, rumah sakit dan fasilitas kesehatan mengalami keterbatasan serius, terutama untuk penanganan kasus-kasus berat.

    “Untuk operasi sendiri sebenarnya sudah mulai berjalan. Tapi sejak awal bencana, banyak pasien stroke perdarahan yang tidak bisa dioperasi karena keterbatasan. Cukup banyak pasien akhirnya meninggal,” kata Gemma dalam diskusi bersama Menkes, via zoom, Selasa (24/12/2025).

    Menurutnya, sejumlah layanan penunjang kini sudah mulai pulih. Layanan radiologi seperti CT scan dan rontgen telah berfungsi, begitu juga dengan laboratorium serta ketersediaan air bersih. Namun, pada fase awal bencana, kekurangan alat medis krusial menjadi kendala utama.

    “Masih ada kekurangan seperti kasa steril bedah, bed saraf, kantong urine, infus set, dan jarum suntik. Untuk ICU sudah berjalan, ada enam pasien dan belum ada yang perlu ventilator. PICU ada tiga pasien,” jelasnya.

    Unit transfusi darah (UTD) juga disebut sudah kembali beroperasi. Selain layanan medis, relawan turut melakukan asesmen kesehatan mental masyarakat. Trauma healing dilakukan di sejumlah posko, termasuk di Kecamatan Ketol dan Posko Kebayakan.

    “Saat ini kami menggunakan starlink untuk koordinasi, termasuk melakukan asesmen kejiwaan masyarakat lewat Zoom,” ujar Gemma.

    Sementara itu, Direktur Utama RSUP H Adam Malik Medan, dr Zainal Safri, yang turut terlibat dalam upaya pendampingan rumah sakit terdampak, menyebut kondisi paling berat justru terjadi di wilayah pesisir Aceh.

    “Rumah sakit di Aceh Tengah dan Bener Meriah relatif tidak bermasalah. Yang paling berat itu di pesisir, seperti Aceh Tamiang dan Langsa. Paling berat Tamiang,” kata Zainal.

    Ia mengungkapkan, tiga hari setelah melihat kondisi pascabencana, seluruh aktivitas pelayanan masih terpusat di ruang IGD karena ruangan lain belum bisa digunakan.

    “Kita lihat hanya IGD yang bisa dipakai. Semua aktivitas menumpuk di situ, rawat inap, tindakan medis, semuanya. IGD-nya memang cukup besar, tapi tetap berat,” ujarnya.

    Untuk mengurai kepadatan, tim mulai memisahkan layanan poliklinik agar IGD tidak terlalu penuh, meski dengan peralatan terbatas. Tahap berikutnya, rumah sakit mulai diarahkan untuk membuka layanan rawat inap.

    “Luas rumah sakit sekitar lima hektar. Lumpur masih menumpuk, jadi tidak bisa sembarangan diseret ke depan, harus dibuang ke belakang. Kita sudah mulai masuk tahap rawat inap, sesuai arahan Kemenkes. Sudah dikirim 65 matras,” kata Zainal.

    Menteri Kesehatan RI dalam arahannya kepada para relawan menekankan pentingnya dukungan moral selain pelayanan medis. Ia mengingatkan relawan tidak hanya fokus pada fisik korban, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat terdampak.

    “Terima kasih untuk teman-teman relawan yang meninggalkan zona nyaman. Selain melayani secara fisik, jangan lupa menyemangati moral masyarakat. Mereka kehilangan rumah, kehilangan harta,” beber Menkes.

    Ia mengingatkan relawan untuk menghadirkan energi positif di tengah masyarakat. “Jangan membawa kesedihan berlebihan. Kalau kita nangis dan terlihat sangat sedih, masyarakat bisa tambah sedih. Tugas kita membantu mereka agar bisa hidup normal kembali dan sehat,” katanya.

    Menkes juga membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi relawan dan pimpinan rumah sakit daerah untuk menyampaikan kendala di lapangan. Ia memastikan akan turun kembali ke Aceh pada akhir bulan, termasuk meninjau Aceh Tamiang, Langsa, Perlak, hingga wilayah pesisir Sumatera Utara.

    “Selain rumah sakit, kita juga akan melihat apakah ada desa yang terisolasi. Kalau ada, kita siapkan posko-posko kesehatan,” pungkasnya.