Category: Detik.com Kesehatan

  • Pengakuan Nick Jonas Idap Diabetes Tipe 1, Ini Gejala Awal yang Dirasakan

    Pengakuan Nick Jonas Idap Diabetes Tipe 1, Ini Gejala Awal yang Dirasakan

    Jakarta

    Nick Jonas menceritakan pengalamannya didiagnosis diabetes tipe 1 saat usia 13 tahun. Dalam podcast Penn Badgley pada 24 Juli 2025, Nick, Kevin, dan Joe Jonas mengenang kembali saat kesehatan Nick menurun selama tur sekolah Jonas Brothers pada 2006.

    Nick yang kini berusia 32 tahun menceritakan apa yang terjadi pada tubuhnya saat belum mengetahui dirinya mengalami diabetes tipe 1.

    “Berat badan saya mulai turun drastis, minum banyak air, dan sering ke kamar mandi. Semua tanda yang sekarang saya ketahui adalah gejala diabetes tipe 1,” kenangnya yang dikutip dari laman People, Jumat (25/7/2025).

    Itu merupakan kondisi kronis, saat pankreas memproduksi sedikit atau tidak sama sekali insulin. Tanda-tanda diabetes tipe 1 pada anak-anak cenderung berkembang dengan cepat, dan gejalanya meliputi penurunan berat badan, rasa haus, sering buang air kecil, dan kelelahan.

    Saat itu, Nick tidak tahu bahwa kondisi yang dialaminya adalah tanda atau gejala dari diabetes tipe 1.

    “Ini sebenarnya bukti kurangnya informasi dan kesadaran tentang diabetes tipe 1 saat itu,” sambungnya.

    Sampai saat melakukan perjalanan, Nick dan Joe yang saat itu berusia 16 tahun mengunjungi sebuah tempat di Lancaster, Pennsylvania, untuk bersantai. Nick merasa saat itu Joe seperti mengawasasi dia.

    Ketika pergi ke kolam renang, Joe melihat punggung Nick dan langsung menelepon orang tuanya. Joe mengatakan sepertinya ada yang tidak beres dengan kondisi Nick.

    “Karena saat itu dia (Nick) sangat kurus,” kata Joe (37).

    “Bahkan bila melihat setiap tulangnya,” tambah Kevin (37).

    Nick mengungkapkan saat itu ia merasa tidak enak badan. Saat pergi ke dokter, ia memeriksa kadar glukosa atau gula dalam darahnya.

    Normalnya, kadar glukosa seseorang sekitar 70-120 mg/dL. Dikutip dari Mount Sinai, kadar glukosa darah maksimum untuk seseorang berusia 13-19 tahun adalah 150 mg/dL, saat tidur.

    “(Tapi) kadar glukosa darah saya sekitar 900 mg/dL, yang jelas sangat tinggi,” beber Nick.

    Nick pun memuji pada dokter yang menanganinya saat itu. Ia juga menghabiskan waktu beberapa hari di rumah sakit dan bisa kembali beraktivitas seminggu setelahnya.

    “Saya akan memasuki tahun kedua puluh hidup dengan penyakit ini, yang kebetulan bertepatan dengan tahun ke-20 saya bergabung dengan band ini,” katanya.

    Nick menjelaskan bahwa dalam hal mengendalikan diabetes yang diidapnya, ia menggunakan seperti monitor glukosa.

    “Namun, kemajuan yang telah kami buat sungguh menakjubkan, dari segi teknologi, dan bahkan informasi yang kami miliki sekarang dibandingkan dengan yang kami miliki saat itu sungguh luar biasa,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Video: Kekhawatiran Jika Toilet Training Anak Tertunda, Bisa Sebabkan Ini…

    Video: Kekhawatiran Jika Toilet Training Anak Tertunda, Bisa Sebabkan Ini…

    Video: Kekhawatiran Jika Toilet Training Anak Tertunda, Bisa Sebabkan Ini…

  • Bos WHO Sebut Blokade Bantuan Israel Picu Kelaparan Massal di Gaza

    Bos WHO Sebut Blokade Bantuan Israel Picu Kelaparan Massal di Gaza

    Jakarta

    Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada Rabu (23/7/2025) bahwa Gaza tengah menghadapi kelaparan massal buatan manusia. Hal ini merujuk pada blokade Israel yang masih berlangsung dan pembatasan ketat terhadap pengiriman bantuan kemanusiaan.

    “Saya tidak tahu apa yang akan Anda sebut selain kelaparan massal, itu perbuatan manusia dan itu sangat jelas,” tegas Tedros dalam konferensi pers virtual.

    “Ini karena blokade,” sambungnya yang dikutip dari Channel News Asia, Jumat (25/7).

    Komentar Tedros ini menyusul seruan lebih dari 100 lembaga bantuan yang memperingatkan krisis kelaparan yang semakin para di Gaza. Di mana berton-ton makanan, air bersih, dan pasokan medis masih tertahan di luar wilayah kantong tersebut.

    Lembaga-lembaga bantuan mengungkapkan persediaan makanan Gaza telah habis sejak Israel memberlakukan blokade penuh pada Maret 2025. Ini dilakukan sebagai bagian dari perangnya melawan kelompok militan Palestina, Hamas.

    Meskipun blokade telah dilonggarkan pada bulan Mei, organisasi internasional mengatakan hanya aliran bantuan terbatas yang mencapai populasi Gaza yang berjumlah 2,2 juta jiwa.

    Israel menegaskan bahwa pembatasan diperlukan untuk mencegah pengalihan bantuan kepada militan, dan mengatakan telah memfasilitasi pengiriman makanan yang cukup. Israel telah berulang kali menyalahkan Hamas atas penderitaan di Gaza.

    Kematian Meningkat Akibat Kelaparan

    Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan sekitar 10 orang lagi telah meninggal dalam semalam akibat kelaparan, sehingga totalnya menjadi 111 sejak konflik dimulai. Sebagian besar terjadi dalam beberapa minggu terakhir seiring meluasnya kelaparan.

    WHO mengatakan setidaknya 21 kematian anak akibat malnutrisi telah dilaporkan sepanjang tahun ini. Tetapi, mereka menekankan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

    “Pusat-pusat perawatan malnutrisi penuh dan kekurangan pasokan darurat,” kata para pejabat.

    Tedros menambahkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mitra kemanusiaannya tidak dapat mengirimkan makanan apapun antara bulan Maret dan Mei selama hampir 80 hari, dan bahwa pengiriman bantuan sejak saat itu masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan.

    Menurut WHO, hasil skrining menunjukkan bahwa sekitar 10 persen penduduk Gaza menderita malnutrisi sedang atau berat, termasuk hingga 20 persen ibu hamil.

    “Pada bulan Juli saja, 5.100 anak telah dimasukkan ke dalam program malnutrisi, termasuk 800 anak yang sangat kurus,” kata Rik Peeperkorn, perwakilan WHO untuk wilayah Palestina.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Bocah Umur 12 Tewas Terinfeksi Amoeba Pemakan Otak saat Berenang di Danau

    Bocah Umur 12 Tewas Terinfeksi Amoeba Pemakan Otak saat Berenang di Danau

    Jakarta

    Seorang bocah berusia 12 tahun di South Carolina, Amerika Serikat meninggal akibat terinfeksi amoeba pemakan otak saat berenang di danau.

    Prisma Health Children’s Hospital-Midlands, rumah sakit yang menangani pasien tersebut mengonfirmasi bahwa bocah malang itu meninggal karena Primary Amebic Meningoencephalitis (PAM), infeksi otak langka namun seringkali berakibat fatal yang disebabkan oleh organisme Naegleria fowleri.

    Menurut Departemen Kesehatan Masyarakat South Carolina, paparan amoeba ini kemungkinan terjadi di Danau Murray, Colombia. Para pejabat kesehatan mengatakan ini adalah kasus pertama amuba pemakan otak di South Carolina sejak tahun 2016.

    Dr Anna-Kathryn Burch, dokter penyakit menular anak di rumah sakit tersebut menjelaskan bahwa infeksi ini sangat fatal, dengan sebagian besar kasus di Amerika Serikat berakhir dengan kematian.

    “Lebih dari 97% kasus yang terjadi sejak tahun 60-an berakhir fatal,” ungkapnya dikutip dari CBS News.

    Dr Burch menjelaskan bahwa infeksi terjadi ketika air bertekanan masuk ke hidung dan bisa menembus hingga ke otak. Ini bisa terjadi saat beraktivitas di air tawar hangat seperti danau, sungai, atau mata air panas, tempat amoeba ini berkembang biak.

    Amoeba pemakan otak umumnya ditemukan di perairan tawar hangat seperti danau, sungai, dan sumber air panas. Amoeba ini juga hidup di kolam renang yang kurang terawat atau minim klorin, dan tinggal di habitat tersebut untuk memakan bakteri.

    Infeksi amoeba pemakan otak sangat jarang terjadi, tetapi hampir selalu berakibat fatal. Gejala biasanya muncul dalam satu hingga 12 hari setelah terpapar dan dapat meliputi sakit kepala, demam, mual, muntah, leher kaku, kejang, dan perubahan kondisi mental.

    (kna/kna)

  • Wadah Makanan si Kecil hingga Galon Air Minum Belum BPA Free? Ini Kata Dokter soal Bahayanya

    Wadah Makanan si Kecil hingga Galon Air Minum Belum BPA Free? Ini Kata Dokter soal Bahayanya

    Jakarta

    Bahaya Bisphenol A (BPA) masih kerap diabaikan. Padahal bahan ini banyak ditemukan dalam produk sehari-hari, mulai dari galon air minum berbahan polikarbonat hingga wadah makanan. Hal ini tentunya perlu menjadi perhatian ekstra para orang tua untuk memastikan produk yang digunakan bebas BPA.

    Praktisi kesehatan anak, dr Reza Fahlevi, SpA mengatakan penggunaan BPA baik pada galon air minum maupun wadah makanan sama-sama berbahaya. Idealnya, semua benda yang digunakan untuk anak harus BPA-free.

    “Terutama untuk bayi, termasuk botol susunya, kemudian tempat makannya, dan galonnya juga gitu. Jadi ya sama aja sebenernya, sama-sama berbahaya,” kata dr Reza kepada detikcom, Kamis, (24/7/2025).

    Khusus pada galon air minum polikarbonat, risiko cemaran BPA mendapat sorotan khusus. Menurut dr Reza, air minum digunakan terus menerus sehingga risiko kontaminasinya perlu mendapat perhatian lebih.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sudah mengatur batas maksimal cemaran BPA dalam galon air minum guna ulang. Namun demikian, perlu juga diperhatikan risiko jangka panjang sekalipun dalam kadar kecil.

    Risiko akumulasi makin jadi persoalan ketika banyak orang tidak menyadari adanya potensi cemaran BPA dalam produk yang digunakannya. Paparan BPA yang tidak disadari juga harus diperhitungkan, dan sebisa mungkin menghindarinya.

    Dampak dari cemaran BPA memang tidak langsung kelihatan karena sifatnya jangka panjang terakumulasi di jaringan tubuh, seperti hati dan tiroid. Namun demikian, bahayanya bisa dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa.

    “Kalau untuk anak, ya gangguan tumbuh-kembang, kemudian ke depannya bisa jangkau infertilitas, dan kalau untuk perempuan-perempuan, ya itu juga ke depannya bisa nanti berdampak ke janinnya juga. Kalau batasnya melebihi ya,” tuturnya.

    dr Reza menambahkan, “Mungkin ada hal-hal yang di luar kendali kita yang nggak mungkin kita atur ya, tapi hal-hal yang bisa kita atur maksudnya seperti galon, tempat makan, dan lainnya, kita atur biar dia free BPA, misalnya seperti itu.”

    Dengan ada potensi risiko seperti ini, penting bagi orang tua untuk lebih selektif dan sadar akan produk yang digunakan setiap hari, termasuk dalam memilih air minum untuk keluarga. Hal ini turut menjadi perhatian Le Minerale untuk menjawab kekhawatiran masyarakat dengan terus berupaya menghadirkan air minum yang sehat, aman serta higienis untuk seluruh anggota keluarga.

    Galon Le Minerale yang ditandai dengan kode segitiga PET no 01, menandakan galonnya sudah 100% Bebas BPA, artinya sudah pasti terjamin aman untuk dikonsumsi. Selain itu, Le Minerale memiliki kemasan yang bening dan selalu baru dari pabrik, sehingga terjamin kehigienisannya.

    (up/up)

  • Studi Ini Bawa Peringatan Buat Ortu, Gadget di Bawah 13 Tahun Rusak Mental Anak!

    Studi Ini Bawa Peringatan Buat Ortu, Gadget di Bawah 13 Tahun Rusak Mental Anak!

    Jakarta

    Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa anak-anak, terutama perempuan, yang diberi ponsel sebelum usia 13 tahun berisiko mengalami masalah kesehatan mental yang lebih buruk saat mereka dewasa. Studi ini menganalisis hasil kuesioner dari lebih dari 100 ribu anak muda berusia 18 hingga 24 tahun.

    Penelitian ini menemukan bahwa kepemilikan gadget sebelum usia 13 tahun dikaitkan dengan hasil kesehatan mental yang lebih buruk.

    Responden yang mendapatkan smartphone lebih awal melaporkan gejala seperti agresi, perasaan terpisah, halusinasi, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri.

    Kepemilikan smartphone di usia dini juga terkait dengan citra diri dan harga diri yang lebih rendah pada anak perempuan maupun laki-laki. Anak perempuan melaporkan ketahanan emosional dan kepercayaan diri yang lebih rendah, sementara anak laki-laki merasa kurang tenang, kurang stabil, dan kurang empati.

    “Semakin muda usia anak memiliki smartphone, semakin banyak paparan ini memengaruhi mereka secara psikologis dan membentuk cara mereka berpikir serta memandang dunia,” jelas Tara Thiagarajan, salah satu penulis studi kepada ABC News.

    Hubungan dengan Pikiran Bunuh Diri

    Hasil penelitian mengungkap 48 persen anak perempuan yang memiliki smartphone di usia 5 atau 6 tahun melaporkan memiliki pikiran bunuh diri yang parah, dibandingkan dengan 28 persen anak perempuan yang memiliki smartphone di usia 13 tahun atau lebih.

    Pada anak laki-laki, 31 persen dari mereka yang memiliki smartphone di usia 5 atau 6 tahun melaporkan pikiran bunuh diri yang parah, berbanding 20 persen pada mereka yang memiliki smartphone di usia 13 tahun atau lebih.

    Para penulis studi merekomendasikan untuk membatasi akses smartphone dan media sosial bagi anak-anak di bawah 13 tahun. Mereka juga mendorong pendidikan literasi digital dan akuntabilitas perusahaan teknologi.

    “Idealnya, anak-anak tidak seharusnya memiliki smartphone sampai usia 14 tahun. Dan ketika mereka mendapatkannya, orang tua harus meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak-anak mereka tentang cara berinteraksi di internet dan menjelaskan konsekuensinya,” tambah Thiagarajan.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video Survei: ChatGPT Berpeluang Jadi Medium Baru untuk Terapi Kesehatan Mental”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Manfaat Kopi untuk Kesehatan Otak, Prabowo Sebut Bisa Bikin Pintar

    Manfaat Kopi untuk Kesehatan Otak, Prabowo Sebut Bisa Bikin Pintar

    Jakarta

    Presiden Prabowo Subianto mengaku rutin mengonsumsi kopi. Baginya, ini merupakan ‘senjata rahasia’ demi menjaga otaknya tetap encer.

    “Ini cangkir, isinya teh, bukan kopi. Kopi itu senjata rahasia saya. Kalau saya minum kopi, saya jadi pintar,” kata Prabowo saat berpidato dalam perayaan Harlah ke-27 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (23/7/2025) malam.

    Lalu, benarkah efek kafein pada kopi dapat membuat otak lebih encer?

    Meningkatkan Fungsi Kognitif

    Dikutip dari Healthline, para peneliti menemukan bahwa efek kafein dapat membantu meningkatkan kesehatan kognitif.

    Kafein memengaruhi sistem saraf pusat (SSP) dalam beberapa cara. Efeknya diyakini berasal dari cara kafein berinteraksi dengan reseptor adenosin.

    Kafein tidak memperlambat aktivasi neuron seperti adenosin. Sebaliknya, kafein mencegah adenosin memperlambat aktivitas saraf. Zat ini meningkatkan stimulasi SSP, membuat seseorang merasa lebih waspada.

    Selain itu, kafein dapat menyebabkan peningkatan entropi otak saat istirahat.

    Entropi otak sangat penting bagi fungsi otak, dan kadar yang tinggi menunjukkan kognitif yang lebih baik. Peningkatan entropi otak saat istirahat menunjukkan kapasitas pemrosesan informasi yang lebih fleksibel dan bervariasi.

    Kopi dan kafein juga dapat memengaruhi ingatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kafein mungkin memiliki efek positif yang signifikan terhadap memori jangka pendek dan jangka panjang.

    Manfaat Lain Rutin Mengonsumsi Kopi

    Berikut adalah manfaat kesehatan yang bisa didapatkan ketika rutin mengonsumsi kopi.

    1. Meningkatkan Energi

    Kafein dalam kopi diketahui dapat membantu ‘melawan’ rasa lelah dan meningkatkan energi. Hal ini karena kafein dapat memblokir reseptor neurotransmitter yang disebut adenosin, dan ini meningkatkan kadar neurotransmitter lain di otak yang mengatur tingkat energi, termasuk dopamin.

    2. Menurunkan Risiko Diabetes Tipe 2

    Mengonsumsi kopi hitam pahit secara teratur, menurut penelitian dapat menurunkan risiko terkena penyakit diabetes tipe 2. Salah satu studi menemukan setiap cangkir kopi yang dikonsumsi dapat menurunkan risiko diabetes sebesar 11 persen.

    Namun, hal ini tidak berlaku jika seseorang sudah terlanjur mengidap diabetes tipe 2.

    3. Membantu Mengelola Berat Badan

    Meski hubungannya tidak kuat, peneliti menemukan kopi hitam dapat membantu mengendalikan berat badan. Salah satu studi menunjukkan minuman berkafein, seperti kopi, cenderung tidak menyebabkan kenaikan berat badan.

    Studi lain juga menunjukkan mengonsumsi minuman berkafein 30 menit hingga 4 jam sebelum makan dapat mengurangi nafsu makan. Namun, manfaat kafein tersebut akan berkurang jika kopi ditambah gula, krimer, atau zat pemanis lain.

    4. Meningkatkan Suasana Hati

    Kandungan kafein yang ada pada kopi dapat membantu meningkatkan suasana hati. Penelitian juga menunjukkan mengonsumsi empat cangkir kopi atau lebih sehari dapat membantu mengurangi risiko depresi.

    5. Mengurangi Risiko Kanker

    Penelitian menunjukkan kopi dapat membantu menurunkan risiko terkena beberapa jenis kanker seperti kanker payudara, kolorektal, dan hati.

    Para ilmuwan berpendapat khasiat ini berasal dari antioksidan yang terkandung di dalam kopi. Antioksidan dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari molekul berbahaya yang disebut radikal bebas.

    Halaman 2 dari 3

    (dpy/kna)

  • BPOM Takedown 305 Ribu Tautan Produk Pangan-Kosmetik Ilegal di E-Commerce

    BPOM Takedown 305 Ribu Tautan Produk Pangan-Kosmetik Ilegal di E-Commerce

    Jakarta

    Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof Taruna Ikrar menyebut pihaknya telah menemukan 305 ribu tautan produk ilegal yang dijual melalui e-commerce. Hal itu ditemukan oleh tim siber BPOM sepanjang tahun 2025.

    Produk ilegal yang dimaksud adalah produk pangan olahan, obat-obatan, suplemen, dan kosmetik yang tidak sesuai dengan ketentuan BPOM. Misalnya seperti produk pangan tanpa nomor izin edar, obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (BKO), hingga produk kosmetik yang menggunakan bahan berbahaya, serta overclaim pada promosinya.

    “Itu temuan 305 ribu itu dari tahun ini saja, sejak Januari,” kata Prof Taruna ketika ditemui awak media di Jakarta Pusat, Jumat (25/7/2025).

    Prof Taruna mengatakan semua hasil temuan itu langsung diteruskan ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Ini dilakukan agar tautan penjualan produk ilegal bisa langsung di-takedown.

    Selain itu, pihak BPOM juga akan bersurat dengan pihak e-commerce bila ditemukan produk ilegal yang dijual secara online.

    “Karena untuk menurunkan (tautan) itu bukan domain dan tanggung jawab BPOM, tapi Kementerian Komunikasi dan Digital. Jadi kita sudah menyurati, termasuk kita tembuskan ke e-commerce dan sebagainya untuk di-takedown,” sambungnya.

    Untuk menjaga keamanan, ia mengingatkan untuk selalu menggunakan produk legal yang sesuai ketentuan BPOM. Pastikan produk pangan, kosmetik, atau obat-obatan yang digunakan sudah memiliki nomor izin edar (NIE).

    Prof Taruna menuturkan pemeriksaan bisa dilakukan dengan metode Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa).

    “Cek kemasan, cek label, cek izin edarnya, dan terakhir masa kedaluwarsa. Untuk mau aman, masyarakat ataupun produk yang mau dikonsumsi, digunakan, atau dibeli, pastikan cek klik,” tandasnya.

    (avk/kna)

  • BPOM Tunggu Hasi Uji Sampel MBG di Kupang, Diduga Picu 140 Siswa SMP Keracunan

    BPOM Tunggu Hasi Uji Sampel MBG di Kupang, Diduga Picu 140 Siswa SMP Keracunan

    Jakarta

    Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof Taruna Ikrar buka suara terkait kejadian keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menuturkan BPOM saat ini sedang masuk proses pemeriksaan untuk mengetahui penyebab keracunan.

    Prof Taruna mengatakan pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Kupang untuk mengetahui tindak lanjut yang perlu dilakukan.

    “Yang hubungannya dengan kejadian luar biasa di NTT. kami sampai detik ini tetap berkoordinasi dengan balai besar Kupang (NTT), untuk turun langsung, untuk menangani langsung, untuk bertindak, termasuk mitigasinya, dan termasuk mencegah kejadian ini berulang untuk berikutnya,” kata Prof Taruna ketika ditemui awak media di Jakarta Pusat, Jumat (25/7/2025).

    Prof Taruna menuturkan pihaknya juga akan menyelidiki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan menu MBG di tempat kejadian tersebut. Pada saat ini, ia masih menunggu hasil uji laboratorium dan bila hasil keluar, akan segera diumumkan.

    “Sekarang lab kami sedang bekerja untuk memastikan apa penyebabnya, dan nanti kalau ada hasilnya kami sampaikan, untuk ada mitigasi dan tata cara penyelesaiannya, ujar Prof Taruna.

    “Intinya MBG ini adalah program yang perlu dikawal habis-habisan. Kalau ada terjadi, kita tentu perlu mencari penyebabnya, dan memitigasi lagi supaya tidak kejadian lagi,” tandasnya.

    Sebelumnya diberitakan sebanyak 140 siswa SMP Negeri 8 Kupang, NTT dilaporkan keracunan menu MBG. Sejumlah siswa melaporkan makanan yang dibagikan terasa asin dan asam.

    Kejadian bermula Selasa pagi pukul 07.30 WITA, ketika kegiatan pelajaran dimulai, beberapa siswa mulai izin ke toilet karena sakit perut.

    “Jadi proses kegiatan belajar mengajar sekitar pukul 07.30. Sudah ada siswa kami yang bolak-balik kamar mandi, ternyata mereka mencret dan ada yang sakit perut,” kata Kepala SMPN 8 Kupang, Maria Theresia Roslin Lana, dikutip dari detikBali.

    Kemudian belasan siswa dirujuk ke rumah sakit. Namun, kasusnya semakin banyak hingga mencapai 140 siswa. Mereka dilarikan ke beberapa rumah sakit seperti RSUD S.K Lerik, RS Mamami, RS Siloam, RSUD Prof W.Z Johannes, dan RS Leona.

    (avk/kna)

  • Heboh Blackmores ‘Beracun’, Ini Wanti-wanti Kepala BPOM RI Buat yang Suka Jastip

    Heboh Blackmores ‘Beracun’, Ini Wanti-wanti Kepala BPOM RI Buat yang Suka Jastip

    Jakarta

    Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof Taruna Ikrar mengingatkan untuk tidak sembarangan melakukan jasa titip (jasa titip) produk suplemen ataupun obat dari luar negeri. Imbauan ini disampaikannya terkait gugatan class action oleh warga Australia terhadap produk suplemen Blackmores yang disebut mengandung vitamin B6 secara berlebihan, hingga berpotensi toksik atau beracun.

    Menurut Prof Taruna, orang-orang yang menjual atau mendistribusikan produk suplemen yang tidak sesuai standar di Indonesia dapat dikenakan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku.

    “Kalau berdasarkan aturan kami, barangsiapa yang mengedarkan, mendistribusikan, atau menjual apakah itu berhubungan dengan obat, suplemen, dan sebagainya yang tidak sesuai standar, maka pelakunya bisa dihukum 12 tahun penjara, atau denda maksimal Rp 5 miliar,” kata Prof Taruna ketika ditemui awak media di Jakarta Pusat, Selasa (22/7/2025)

    Prof Taruna mengingatkan masyarakat untuk hanya membeli produk yang sudah terstandar BPOM. Pemeriksaan bisa dilakukan melalui Cek KLIK, dari kemasan, label, nomor izin edar, dan tanggal kedaluwarsa.

    Varian Blackmores yang menjadi sorotan di Australia diketahui tidak memiliki nomor izin edar (NIE) di Indonesia, sehingga tidak bisa dijual secara bebas. Meski begitu, pihak BPOM menemukan produk tersebut dijual secara ilegal di e-commerce.

    Terkait temuan tersebut, BPOM RI telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk melakukan takedown link produk tersebut.

    “Produk tersebut tidak terdaftar di data kami, artinya tidak teregistrasi di Indonesia. Jadi kalau produk ini bermasalah, berarti produknya ilegal. Oleh karena itu, kami sudah menyurati kementerian komunikasi dan digital, serta e-commerce, untuk di-takedown,” tandas Prof Taruna.

    Akibat konsumsi suplemen Magnesium+ dan Ashwaganda+ produk Blackmores, penggugat utama bernama Dominic Noonan-O’Keeffe di Australia mengalami gejala seperti sakit kepala, kejang otot, palpitasi jantung, serta kejang otot. Setelah diperiksa ke dokter, Dominic didiagnosa mengidap neuropati atau gangguan pada saraf.

    Dominic sudah berhenti mengonsumsi Blackmores sejak awal 2024, tapi ia mengaku masih mengalami gejalanya hingga saat ini. Polaris Lawyer, kuasa hukum penggugat, menyebut kandungan vitamin B6 dalam Blackmores berjumlah 29 kali jumlah konsumsi harian.

    “Sangat mengkhawatirkan ketika berjalan di lorong vitamin di apotek manapun di Australia dan melihat suplemen vitamin mengandung kadar B6 yang jauh di atas asupan harian yang direkomendasikan,” tandas Kepala Polaris Lawyers, Nick Mann, dikutip dari News com au.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/up)