Category: Detik.com Kesehatan

  • Apakah Bersih-bersih Rumah Termasuk Olahraga? Belum Tentu, Dokter Beberkan Syaratnya

    Apakah Bersih-bersih Rumah Termasuk Olahraga? Belum Tentu, Dokter Beberkan Syaratnya

    Jakarta

    Membersihkan rumah sering dianggap cukup untuk menggantikan olahraga. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, hingga menyetrika, semua terasa melelahkan dan membuat tubuh berkeringat. Tapi, apakah aktivitas bersih-bersih rumah benar-benar bisa disebut olahraga?

    Praktisi kebugaran dr Anita Suryani, SpKO dari EMC Healthcare menjelaskan, tidak semua aktivitas fisik otomatis tergolong olahraga. Ada syarat tertentu agar sebuah aktivitas benar-benar memberi manfaat bagi kebugaran tubuh.

    “Kalau membersihkan rumahnya sesuai dengan resep, ya termasuk dong,” kata dr Anita Anita, kepada detikcom pada Rabu (24/12/2025).

    Disebut Olahraga Jika Sesuai Dosis

    Menurut dr Anita, aktivitas membersihkan rumah bisa masuk kategori snack exercise atau potongan aktivitas fisik singkat, jika dilakukan sesuai dengan ‘dosis’ yang tepat. Jika dosisnya terlalu rendah, maka belum akan memberi manfaat bagi kebugaran fisik.

    “Membersihkan rumah nih, berarti kan 30 menit. Bisa nggak dia ngepel 30 menit nggak berhenti? Nyetrika 30 menit begitu,” tantang dr Anita.

    Artinya, durasi menjadi kunci penting. Aktivitas seperti mengepel atau menyetrika baru bisa mendekati exercise bila dilakukan kontinu selama sekitar 30 menit, bukan sekadar beberapa menit lalu berhenti.

    Termasuk Aktivitas Fisik Non-Olahraga

    Dalam praktiknya, banyak aktivitas rumah tangga dilakukan secara tidak berkelanjutan. Untuk dikategorikan exercise atau olahraga, dosisnya belum mencukupi.

    “Itu namanya masih NEPA, Non-Exercise Physical Activity,” tutupnya.

    Dijelaskan oleh dr Anita, NEPA (Non-Exercise Physical Activity) merupakan aktivitas fisik yang memang membuat tubuh bergerak, tetapi dosisnya belum cukup untuk memberi manfaat kebugaran.

    @detikhealth_official Banyak yang bilang futsal bikin serangan jantung. Dari sisi kesehatan, kira-kira apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berolahraga terutama futsal? Simak penjelasan dr. Anita Suryani, SpKO dari @RS EMC berikut ini ya! #timnasfutsal #futsalbikinseranganjantung #futsal #olahraga #detikhealth ♬ original sound – detikHealth

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Rekomendasi Olahraga yang Cocok di Waktu Menopause”
    [Gambas:Video 20detik]
    (rfd/up)

  • Apakah Bersih-bersih Rumah Termasuk Olahraga? Belum Tentu, Dokter Beberkan Syaratnya

    Apakah Bersih-bersih Rumah Termasuk Olahraga? Belum Tentu, Dokter Beberkan Syaratnya

    Jakarta

    Membersihkan rumah sering dianggap cukup untuk menggantikan olahraga. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, hingga menyetrika, semua terasa melelahkan dan membuat tubuh berkeringat. Tapi, apakah aktivitas bersih-bersih rumah benar-benar bisa disebut olahraga?

    Praktisi kebugaran dr Anita Suryani, SpKO dari EMC Healthcare menjelaskan, tidak semua aktivitas fisik otomatis tergolong olahraga. Ada syarat tertentu agar sebuah aktivitas benar-benar memberi manfaat bagi kebugaran tubuh.

    “Kalau membersihkan rumahnya sesuai dengan resep, ya termasuk dong,” kata dr Anita Anita, kepada detikcom pada Rabu (24/12/2025).

    Disebut Olahraga Jika Sesuai Dosis

    Menurut dr Anita, aktivitas membersihkan rumah bisa masuk kategori snack exercise atau potongan aktivitas fisik singkat, jika dilakukan sesuai dengan ‘dosis’ yang tepat. Jika dosisnya terlalu rendah, maka belum akan memberi manfaat bagi kebugaran fisik.

    “Membersihkan rumah nih, berarti kan 30 menit. Bisa nggak dia ngepel 30 menit nggak berhenti? Nyetrika 30 menit begitu,” tantang dr Anita.

    Artinya, durasi menjadi kunci penting. Aktivitas seperti mengepel atau menyetrika baru bisa mendekati exercise bila dilakukan kontinu selama sekitar 30 menit, bukan sekadar beberapa menit lalu berhenti.

    Termasuk Aktivitas Fisik Non-Olahraga

    Dalam praktiknya, banyak aktivitas rumah tangga dilakukan secara tidak berkelanjutan. Untuk dikategorikan exercise atau olahraga, dosisnya belum mencukupi.

    “Itu namanya masih NEPA, Non-Exercise Physical Activity,” tutupnya.

    Dijelaskan oleh dr Anita, NEPA (Non-Exercise Physical Activity) merupakan aktivitas fisik yang memang membuat tubuh bergerak, tetapi dosisnya belum cukup untuk memberi manfaat kebugaran.

    @detikhealth_official Banyak yang bilang futsal bikin serangan jantung. Dari sisi kesehatan, kira-kira apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berolahraga terutama futsal? Simak penjelasan dr. Anita Suryani, SpKO dari @RS EMC berikut ini ya! #timnasfutsal #futsalbikinseranganjantung #futsal #olahraga #detikhealth ♬ original sound – detikHealth

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Rekomendasi Olahraga yang Cocok di Waktu Menopause”
    [Gambas:Video 20detik]
    (rfd/up)

  • Tips Menyusun Resolusi Diet 2026

    Tips Menyusun Resolusi Diet 2026

    Jakarta

    Salah satu ritual menjelang pergantian tahun adalah mengevaluasi resolusi sehat yang dicanangkan di awal tahun. Selanjutnya, jika masih ada harapan, menyusun resolusi untuk tahun berikutnya.

    Diet menjadi salah satu bagian dari resolusi sehat yang paling populer. Bukan cuma untuk menurunkan berat badan, diet dalam pengertian yang lebih luas juga mencakup pola makan untuk menunjang kesehatan.

    Bahkan ketika berat badan jadi target utama dalam menjalankan diet, kerap kali seseorang terjebak pola makan ekstrem yang tidak sehat. Memang hasilnya lebih cepat, tetapi belum tentu sehat.

    Beberapa Diet yang Populer Tahun 2025

    Flashback sepanjang tahun 2025, ada beberapa nama diet yang muncul dalam berbagai perbincangan. Menariknya, meski istilahnya berbeda, prinsip dasarnya cenderung saling beririsan.

    Diet Mediterania menjadi salah satu yang paling konsisten direkomendasikan. Pola makan ini menekankan konsumsi sayur, buah, biji-bijian, ikan, lemak sehat seperti minyak zaitun, serta pembatasan daging merah dan makanan olahan. Diet ini banyak dipilih karena dinilai aman, fleksibel, dan mendukung kesehatan jantung serta metabolisme.Flexitarian Diet juga semakin populer. Ini adalah pola makan yang dominan konsumsi nabati tanpa harus sepenuhnya meninggalkan protein hewani. Di tahun 2025, pendekatan ini dianggap lebih realistis, terutama bagi mereka yang ingin makan lebih sehat tanpa perubahan ekstrem.Diet tinggi protein versi moderat turut menjadi tren. Fokusnya bukan lagi pada konsumsi dan pemilihan sumber protein alami seperti ikan, telur, tempe, tahu, yogurt, dan kacang-kacangan. Tujuannya lebih ke menjaga rasa kenyang dan kestabilan energi harian.Intermittent Fasting (IF) masih banyak diterapkan, terutama pola 14:10 dan 16:8. Di tahun 2025, IF lebih sering diposisikan sebagai alat pengaturan jam makan, bukan sebagai diet ketat yang harus dijalani setiap hari.Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) juga tetap konsisten menjadi tren diet terutama untuk kesehatan jantung dan tekanan darah. Diet ini menekankan asupan sayur, buah, protein rendah lemak, serta pembatasan garam dan ultra-processed food (UPF).Anti-Inflammatory Diet adalah diet yang semakin sering dibicarakan. Pendekatan diet ini fokus pada makanan yang membantu menekan peradangan kronis, seperti sayur hijau, buah berwarna, ikan berlemak, kacang-kacangan, dan rempah. Diet ini banyak dikaitkan dengan kesehatan jangka panjang, bukan sekadar penurunan berat badan.

    Menyusun Resolusi Diet 2026

    Pengalaman menjalani diet di 2025 membuat banyak orang mulai menyadari bahwa diet yang terlalu kaku justru sulit dipertahankan. Terlebih, di tengah rutinitas kerja dan kehidupan sosial.

    Dari sinilah muncul kecenderungan ke arah diet yang lebih personal. Bukan berarti semua orang harus mengikuti satu metode yang sama, tetapi memahami respon tubuh masing-masing terhadap jenis makanan tertentu.

    Tips Diet untuk 2026

    Agar diet bisa konsisten, berikut ini beberapa hal yang bisa diterapkan.

    1. Fokus Pada Perubahan Kecil yang Konsisten

    Perubahan pola makan yang dilakukan secara bertahap dan konsisten lebih efektif dibandingkan perubahan besar yang dilakukan secara mendadak. Tubuh akan beradaptasi secara perlahan ketika mengubah pola makan sedikit demi sedikit. Sebaliknya, tubuh malah tidak bisa mengimbangi apabila terjadi perubahan pola makan secara drastis yaitu defisit kalori ketika ingin menurunkan berat badan. Tubuh akan terasa lemas dan malah mengirimkan sinyal ke otak untuk segera mengonsumsi makanan lebih banyak dari biasanya.

    Terapkan langkah sederhana seperti menambah porsi sayur, mengatur jam makan, atau mengurangi konsumsi minuman manis secara perlahan cenderung lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

    2. Tetapkan Target Kebiasaan Makan yang Baik

    Fokus pada kebiasaan makan, seperti menjaga keteraturan waktu makan dan memperhatikan kualitas menu, cenderung membuat pola makan lebih mudah dijalani secara konsisten dibandingkan pendekatan yang semata-mata mengejar penurunan berat badan. Cara ini juga membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan, sehingga perubahan pola makan dapat bertahan dalam jangka panjang.

    3. Pilih pola makan yang fleksibel dan sesuai rutinitas

    Pilih diet atau pola makan yang dapat disesuaikan dengan jam kerja, aktivitas sosial, dan budaya makan sehingga cenderung lebih mudah dijalani dengan konsisten. Fleksibilitas membantu diet terasa lebih manusiawi dan tidak terlepas dari realitas kehidupan sehari-hari.

    4. Berkonsultasi dengan Ahli

    Setiap individu memiliki kebutuhan gizi, kondisi kesehatan, dan respons tubuh yang berbeda terhadap pola makan tertentu. Berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter gizi klinik dapat membantu menyusun strategi makan yang lebih tepat, realistis, dan aman, terutama bagi yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Berat Badan Hanya 22 Kg, Wanita Ini Meninggal Usai Diet Ekstrem”
    [Gambas:Video 20detik]
    (mal/up)

  • Kenapa Sehabis Makan Mi Instan Rasanya Cepat Lapar Lagi? Ternyata Ini Penyebabnya

    Kenapa Sehabis Makan Mi Instan Rasanya Cepat Lapar Lagi? Ternyata Ini Penyebabnya

    Jakarta

    Mi instan memang praktis, tidak butuh waktu lama untuk memasaknya hingga siap disantap. Tapi sayangnya, tidak butuh waktu lama pula untuk merasa lapar lagi setelahnya. Kenapa ya?

    Dokter gizi dari RS Abdi Waluyo, dr Nathania Sutisna, SpGK, mengaitkan hal ini dengan kandungan nutrisi dalam mi instan yang didominasi oleh karbohidrat. Karena kalorinya tinggi, maka dapat memicu lonjakan glukosa di dalam darah.

    “Jadi ketika kita spike nih, karbohidratnya naik ke atas, insulinnya kerja, itu nggak lama gula darahnya akan turun,” jelas dr Nathania dalam perbincangan dengan detikcom.

    “Makanya itu menyebabkan lapar,” lanjutnya.

    Agar lonjakan gula darah tidak langsung diikuti penurunan secara cepat, dr Nathania menyarankan untuk menambahkan nutrisi lain yakni serat dan protein. Dibanding hanya mengonsumsi karbohidrat, kadar gula darah akan lebih terjaga dengan adanya tambahan serat dan protein.

    Rasa lapar yang cepat muncul setelah makan mi instan sekaligus mematahkan anggapan bahwa makanan tersebut dicerna hingga berhari-hari di dalam tubuh. Menurut dr Nathania, anggapan tersebut kurang tepat.

    “Nggak sih, nggak segitunya,” tegasnya.

    @detikhealth_official Belum pup berhari-hari…terus langsung hajar 5 botol sekaligus 😳 Banyak yang kira:”Pokoknya probiotik = auto lancar!” Padahal, tubuh nggak selalu kerja secepat itu — bahkan bisa bikin perut makin nggak nyaman kalau salah cara. Sebelum coba-coba, mending nonton dulu 👀✨ #Gizi #Sembelit #BAB #Probiotik #KesehatanPencernaan ♬ original sound – detikHealth

    (up/up)

  • Peneliti Temukan Metode Jalan Kaki yang Lebih Baik Bagi Jantung

    Peneliti Temukan Metode Jalan Kaki yang Lebih Baik Bagi Jantung

    Jakarta

    Jalan kaki dikenal sebagai olahraga paling sederhana dan mudah dilakukan siapa dan di mana saja. Namun, jika berfokus untuk mendapatkan kesehatan bagi jantung, bagaimana cara jalan kaki terbaik?

    Dikutip dari Metro UK, para peneliti yang melakukan studi kohort besar menyarankan bahwa lebih baik melakukan satu kali jalan kaki panjang (durasi) daripada membagi jalan kaki menjadi beberapa sesi pendek, khususnya jika menyangkut kesehatan jantung dan risiko kematian.

    Para peneliti mempublikasikan studi mereka di Annals of Internal Medicine. Mereka menganalisis data UK Biobank, membandingkan durasi aktivitas dengan angka kematian akibat semua penyebab dan masalah kardiovaskular.

    “Meskipun rekomendasi aktivitas fisik semakin mempertimbangkan jumlah langkah harian, masih belum jelas apakah pola akumulasi langkah-langkah pendek versus langkah panjang yang berkelanjutan memengaruhi hubungan dengan angka kematian dan penyakit kardiovaskular (PJK) di antara populasi yang kurang aktif,” tulis para peneliti.

    Hasil Penelitian

    Secara total, penelitian ini melibatkan 33.560 orang dengan usia rata-rata 62 tahun, yang dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan durasi aktivitas mereka, mulai dari kurang dari 5 menit hingga lebih dari 15 menit.

    Mereka kemudian dibagi lagi, menjadi beberapa kelompok yakni yang jalan kaki kurang dari 5.000 langkah per hari dan mereka yang jalan kaki antara 5.000 hingga 7.999 langkah.

    Selama penelitian berlangsung, terdapat 735 kematian dan 3.119 kejadian kardiovaskular yang keduanya berkorelasi positif dengan aktivitas fisik intensitas rendah, dengan peserta yang melaporkan aktivitas fisik rata-rata kurang dari lima menit menghadapi risiko tertinggi.

    Mereka menemukan risiko kematian akibat semua penyebab sebesar 4,36 persen dan risiko mengalami kejadian kardiovaskular sebesar 13,03 persen selama periode hampir 10 tahun.

    Para peneliti menemukan bahwa mereka yang berjalan kaki dalam sesi panjang, yakni selama 15 menit atau lebih menunjukkan risiko rendah terkait kematian akibat semua penyebab sebesar 0,8 persen dan risiko kejadian kardiovaskular sebesar 4,39 persen dalam periode yang sama.

    Sementara, sesi singkat dengan durasi sedang, yaitu 5 hingga 10 menit, dikaitkan dengan risiko kematian sebesar 1,83 persen dan risiko kejadian kardiovaskular sebesar 11,09 persen.

    Penting untuk dicatat bahwa sesi berjalan kaki yang lebih pendek dari beberapa peserta mungkin terkait dengan masalah kesehatan mendasar yang tidak teridentifikasi dalam penelitian ini, atau bahwa mereka yang berjalan lebih lama cenderung melakukan aktivitas penguatan otot dan latihan lain yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video KuTips: Resep Sehat Bugar ‘GEMBIRA’ ala Kak Seto di Usia 74 Tahun”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

  • Peneliti Temukan Metode Jalan Kaki yang Lebih Baik Bagi Jantung

    Peneliti Temukan Metode Jalan Kaki yang Lebih Baik Bagi Jantung

    Jakarta

    Jalan kaki dikenal sebagai olahraga paling sederhana dan mudah dilakukan siapa dan di mana saja. Namun, jika berfokus untuk mendapatkan kesehatan bagi jantung, bagaimana cara jalan kaki terbaik?

    Dikutip dari Metro UK, para peneliti yang melakukan studi kohort besar menyarankan bahwa lebih baik melakukan satu kali jalan kaki panjang (durasi) daripada membagi jalan kaki menjadi beberapa sesi pendek, khususnya jika menyangkut kesehatan jantung dan risiko kematian.

    Para peneliti mempublikasikan studi mereka di Annals of Internal Medicine. Mereka menganalisis data UK Biobank, membandingkan durasi aktivitas dengan angka kematian akibat semua penyebab dan masalah kardiovaskular.

    “Meskipun rekomendasi aktivitas fisik semakin mempertimbangkan jumlah langkah harian, masih belum jelas apakah pola akumulasi langkah-langkah pendek versus langkah panjang yang berkelanjutan memengaruhi hubungan dengan angka kematian dan penyakit kardiovaskular (PJK) di antara populasi yang kurang aktif,” tulis para peneliti.

    Hasil Penelitian

    Secara total, penelitian ini melibatkan 33.560 orang dengan usia rata-rata 62 tahun, yang dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan durasi aktivitas mereka, mulai dari kurang dari 5 menit hingga lebih dari 15 menit.

    Mereka kemudian dibagi lagi, menjadi beberapa kelompok yakni yang jalan kaki kurang dari 5.000 langkah per hari dan mereka yang jalan kaki antara 5.000 hingga 7.999 langkah.

    Selama penelitian berlangsung, terdapat 735 kematian dan 3.119 kejadian kardiovaskular yang keduanya berkorelasi positif dengan aktivitas fisik intensitas rendah, dengan peserta yang melaporkan aktivitas fisik rata-rata kurang dari lima menit menghadapi risiko tertinggi.

    Mereka menemukan risiko kematian akibat semua penyebab sebesar 4,36 persen dan risiko mengalami kejadian kardiovaskular sebesar 13,03 persen selama periode hampir 10 tahun.

    Para peneliti menemukan bahwa mereka yang berjalan kaki dalam sesi panjang, yakni selama 15 menit atau lebih menunjukkan risiko rendah terkait kematian akibat semua penyebab sebesar 0,8 persen dan risiko kejadian kardiovaskular sebesar 4,39 persen dalam periode yang sama.

    Sementara, sesi singkat dengan durasi sedang, yaitu 5 hingga 10 menit, dikaitkan dengan risiko kematian sebesar 1,83 persen dan risiko kejadian kardiovaskular sebesar 11,09 persen.

    Penting untuk dicatat bahwa sesi berjalan kaki yang lebih pendek dari beberapa peserta mungkin terkait dengan masalah kesehatan mendasar yang tidak teridentifikasi dalam penelitian ini, atau bahwa mereka yang berjalan lebih lama cenderung melakukan aktivitas penguatan otot dan latihan lain yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video KuTips: Resep Sehat Bugar ‘GEMBIRA’ ala Kak Seto di Usia 74 Tahun”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

  • Hanya Sedikit yang Bisa Jawab Benar Semua, Yakin Lolos dari Jebakan Visual Ini?

    Hanya Sedikit yang Bisa Jawab Benar Semua, Yakin Lolos dari Jebakan Visual Ini?

    Asah Otak

    Daffa Ghazan – detikHealth

    Sabtu, 27 Des 2025 20:30 WIB

    Jakarta – Sekilas hanya deretan huruf yang tampak sama. Tapi jika diamati dengan detail, ada jebakan visual yang mengecoh saraf mata.

  • Terjawab! Ternyata Ini Sebabnya Olahraga Malam-malam Bikin Susah Tidur

    Terjawab! Ternyata Ini Sebabnya Olahraga Malam-malam Bikin Susah Tidur

    Jakarta

    Cuma punya waktu olahraga di malam hari? Banyak terjadi di kota-kota besar, ketika semua orang sangat sibuk di pagi hingga siang hari.

    Sah-sah saja olahraga malam, tidak ada larangan maupun efek negatif secara langsung. Namun faktanya, banyak yang mengeluh susah tidur setelahnya.

    Ternyata, ada penjelasan medis tentang masalah tersebut. Praktisi kebugaran dr Anita Suryani, SpKO dari EMC Healthcare menjelaskan, susah tidur sehabis olahraga merupakan hal yang lazim dialami.

    “Habis olahraga, apalagi intensitas tinggi, ada yang namanya masa EPOC. Excessive Post-exercise Oxygen Consumption,” jelasnya, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (24/12/2025).

    “Jadi dia mengonsumsi oksigen berlebihan setelah olahraga. Jadinya seger, biasanya ini sampai 2 jam setelah olahraga,” lanju dokter yang juga menangani timnas dayung RI di SEA Games Thailand 2025 tersebut.

    Menurut dr Anita, kebutuhan tidur untuk recovery perlu menjadi pertimbangan ketika hendak olahraga malam. Ketika seseorang jadi susah tidur, maka waktu istirahatnya akan sangat terbatas terutama jika pagi harinya sudah harus beraktivitas kembali.

    “Taruhlah mulai jam 7 (malam), sampai jam 9. Itu jam 11 baru bisa tidur,” kata dr Anita.

    Salah satu indikasi kecukupan waktu istirahat adalah bisa bangun sendiri dengan kondisi segar. Artinya, tidak mudah tertidur kembali setelah bangun.

    “Kalau bangunnya masih pakai alarm, dibangunin orang, masih lemes pas bangun, masih bisa ditidurin lagi, itu masih belum cukup recovery-nya,” terang dr Anita.

    @detikhealth_official Banyak yang bilang futsal bikin serangan jantung. Dari sisi kesehatan, kira-kira apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berolahraga terutama futsal? Simak penjelasan dr. Anita Suryani, SpKO dari @RS EMC berikut ini ya! #timnasfutsal #futsalbikinseranganjantung #futsal #olahraga #detikhealth ♬ original sound – detikHealth

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Rekomendasi Olahraga yang Cocok di Waktu Menopause”
    [Gambas:Video 20detik]
    (up/up)

  • Studi Ungkap Pria Buncit Lebih Berisiko Mengalami Kerusakan Jantung

    Studi Ungkap Pria Buncit Lebih Berisiko Mengalami Kerusakan Jantung

    Jakarta

    Perut buncit pada pria seringkali hanya dianggap sebagai masalah penampilan. Padahal, sebuah studi terbaru mengungkap bahwa ‘beer belly’ atau perut buncit memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan jantung kaum Adam.

    Dikutip dari Times of India, dalam studi yang dipublikasikan dan dipresentasikan pada pertemuan Radiological Society of North America (RSNA), peneliti menemukan bahwa penumpukan lemak visceral berhubungan langsung dengan perubahan struktur jantung, terutama pada pria.

    Untuk diketahui, visceral fat yaitu lemak yang tersimpan di dalam rongga perut dan menyelimuti organ-organ vital seperti hati dan jantung. Lemak jenis ini disebut jauh lebih berbahaya dibanding lemak yang terlihat di bawah kulit.

    Hasil Temuan

    Biasanya, untuk mengukur obesitas secara umum akan menggunakan indeks massa tubuh atau Body Mass Index (BMI), namun kekurangan metode ini adalah tidak bisa mengukur distribusi lemak.

    Pria dengan visceral fat berlebih menunjukkan tanda-tanda penebalan otot jantung serta penurunan elastisitas jantung, kondisi yang dapat mengganggu kemampuan jantung memompa darah secara optimal.

    Berbeda dengan timbunan lemak subkutan, lemak visceral mengeluarkan zat pro-inflamasi dan pro-hormon yang dapat berdampak negatif pada jantung.

    Studi ini dilakukan pada hasil MRI dari 2.244 orang dewasa berusia 46 hingga 78 tahun tanpa riwayat penyakit kardiovaskular.

    Mengapa Pria Lebih Rentan?

    Ventrikel kanan, yang bertanggung jawab untuk mengangkut darah ke paru-paru menunjukkan penebalan yang nyara pada pria dengan obesitas perut. Kondisi ini berdampak pada tekanan yang diberikan lemak perut pada diafragma dan paru-paru, sehingga memengaruhi pernapasan dan fungsi jantung.

    Dibandingkan dengan pria, wanita lebih ringan dalam hal struktur yang dapat dikaitkan dengan aksi perlindungan kardiovaskular dari hormo estrogen. Perbedaan hormonal dapat memperlambat atau mengurangi efek lemak visceral pada jantung.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: WHO Keluarkan Pedoman Baru Syarat Terapi GLP-1 untuk Obesitas”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

  • Viral Atasi Susah BAB dengan 5 Botol Probiotik Sekali Minum, Amankah?

    Viral Atasi Susah BAB dengan 5 Botol Probiotik Sekali Minum, Amankah?

    Jakarta

    Dalam sebuah video viral, seorang pengguna TikTok membagikan upaya tak biasa mengatasi susah Buang Air Besar (BAB). Dalam sekali minum, ia melahap 5 botol minuman probiotik.

    Dalam narasinya, pengguna TikTok tersebut mengaku sudah 18 hari tidak BAB hingga terasa pusing dan frustrasi. Tidak disebutkan apakah upaya yang dilakukannya tersebut efektif mengatasi keluhan susah BAB.

    Menanggapi video tersebut, dokter gizi dari RS St Carolus Salemba Dr dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK menjelaskan, susah BAB atau konstipasi dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari kecukupan serat, cairan, hingga motilitas atau pergerakan usus.

    Probiotik, menurutnya memang punya efek positif bagi kesehatan usus. Beberapa literatur disebutnya membuktikan probiotik bisa membantu mengatasi susah BAB dan memperlancar defekasi.

    Namun demikian, ia mewanti-wanti untuk tidak mengonsumsi probiotik dalam takaran tidak wajar. Terlebih jika sumber probiotiknya adalah produk yang memiliki kandungan lain, terutama gula dalam kadar tinggi.

    “Harus diperhatikan akumulasi gulanya itu juga akan menambah risiko kesehatan yang lain,” kata dr Yohanessa dalam perbincangan dengan detikcom.

    @detikhealth_official Belum pup berhari-hari…terus langsung hajar 5 botol sekaligus 😳 Banyak yang kira:”Pokoknya probiotik = auto lancar!” Padahal, tubuh nggak selalu kerja secepat itu – bahkan bisa bikin perut makin nggak nyaman kalau salah cara. Sebelum coba-coba, mending nonton dulu 👀✨ #Gizi #Sembelit #BAB #Probiotik #KesehatanPencernaan ♬ original sound – detikHealth

    (up/up)