Category: Detik.com Kesehatan

  • Efektifkah Off Medsos buat ‘Stay Waras’ dari Info Negatif?

    Efektifkah Off Medsos buat ‘Stay Waras’ dari Info Negatif?

    Mungkin ada kalanya detikers merasa lelah dan tertekan dengan banyaknya informasi di media sosial yang tersebar bebas. Off atau vakum medsos pun menjadi satu opsi yang diambil untuk meredam emosi dan menjaga kewarasan.

    Tapi sebenarnya apakah off medsos ini cukup efektif untuk jaga kewarasan atau akan menambah seseorang merasa tertekan ketika kembali ke medsos lagi? Begini pandangan psikolog…

  • Pola Makan Jadi Ugal-ugalan saat Liburan? Ini Saran Dokter Gizi

    Pola Makan Jadi Ugal-ugalan saat Liburan? Ini Saran Dokter Gizi

    Jakarta

    Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) identik dengan wisata kuliner. Mulai dari kue-kue khas Natal, hidangan bersantan, hingga makanan tinggi lemak dan kolesterol kerap sulit dihindari. Tak jarang, pola makan jadi lebih “ngawur” dibanding hari biasa.

    Spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo, menjelaskan menjaga pola makan saat liburan bukan berarti harus menahan diri secara berlebihan. Kuncinya adalah tetap sadar dengan apa yang dikonsumsi alias menerapkan mindful eating, meski suasana liburan membuat pilihan makanan jadi lebih beragam.

    Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah konsumsi kue-kue, terutama saat Natal. dr Nathania menjelaskan, beberapa potong kue kering, seperti sekitar empat hingga lima kastengel, bisa setara dengan satu porsi nasi putih dari sisi kalori. Padahal, saat liburan orang cenderung makan kue tidak hanya satu atau dua potong.

    “Jadi nomor 1, kita harus mindful eating. Kita harus ingat apa yang kita makan itu ada kalorinya. Jadi, itu bisa jadi salah satu rem kita juga tuh,” ucap dr Nathania kepada detikcom, di RS Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025).

    “Supaya, kalo mau makan kue, ambilnya sedikit aja. Satu aja, yang penting icip aja,” lanjutnya.

    Selain camilan, pola makan saat menyantap hidangan utama juga perlu diperhatikan. Ia menyarankan agar protein tetap menjadi prioritas saat makan besar. Protein yang dimaksud mencakup sumber hewani seperti daging, ayam, ikan, maupun telur. Kebiasaan ini bisa diterapkan agar tubuh tetap mendapatkan asupan yang seimbang.

    Dengan membiasakan mengonsumsi protein lebih dulu, rasa kenyang akan muncul lebih cepat sehingga asupan karbohidrat dan makanan lain cenderung berkurang secara alami.

    Senada, spesialis gizi klinik, Dr dr Yohannessa Wulandari, M.Gizi, SpGK, dari RS St Carolus Salemba, menjelaskan menjaga pola makan saat libur Nataru bukan berarti harus sepenuhnya menghindari makanan favorit. Yang terpenting adalah kesadaran terhadap porsi dan kebutuhan tubuh, terutama di tengah suasana liburan yang identik dengan wisata kuliner.

    Menurutnya, makanan tinggi kalori atau lemak yang biasanya jarang dikonsumsi sehari-hari sebenarnya tetap boleh dinikmati pada momen tertentu seperti liburan. Konsumsi sesekali tidak serta-merta menjadi masalah, selama tidak dilakukan secara berlebihan.

    “Bukan artinya tidak sama sekali boleh, tapi tetap prinsipnya nomor satu tadi, be mindful, tahu kebutuhan, secukupnya saja sekedar apa yang merasakan atau meicip aja bukan berarti berlebihan di luar dari kebutuhan yang sehari,” kata dr Yohannessa kepada detikcom, Kamis (18/12/2025).

    @detikhealth_official Belum pup berhari-hari…terus langsung hajar 5 botol sekaligus 😳 Banyak yang kira:”Pokoknya probiotik = auto lancar!” Padahal, tubuh nggak selalu kerja secepat itu – bahkan bisa bikin perut makin nggak nyaman kalau salah cara. Sebelum coba-coba, mending nonton dulu 👀✨ #Gizi #Sembelit #BAB #Probiotik #KesehatanPencernaan ♬ original sound – detikHealth

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Berat Badan Hanya 22 Kg, Wanita Ini Meninggal Usai Diet Ekstrem”
    [Gambas:Video 20detik]
    (suc/up)

    Liburan Sehat di Penghujung 2025

    7 Konten

    Liburan akhir tahun adalah waktunya bersenang-senang. Tapi jika tidak disiapkan dengan baik, niat bersenang-sebang bisa berantakan karena jatuh sakit. Ini tips mempersiapkan liburan sehat akhir tahun.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Video: 1.283 Faskes Kena Serangan Konflik di Sejumlah Negara Sepanjang 2025

    Video: 1.283 Faskes Kena Serangan Konflik di Sejumlah Negara Sepanjang 2025

    Jakarta – Konflik terjadi di sejumlah negara di sepanjang tahun 2025. Layanan kesehatan pun hancur imbas dari konflik.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, hingga 17 Desember 2025 terdapat 1.283 serangan terhadap layanan kesehatan yang terjadi di Republik Demokratik Kongo, Gaza, Haiti, Suriah, Sudan, dan Ukraina. Serangan turut merenggut korban jiwa pada pasien dan petugas medis.

    (/)

  • Kasus ‘Super Flu’ Meledak di New York, 71 Ribu Orang Positif dalam Sepekan

    Kasus ‘Super Flu’ Meledak di New York, 71 Ribu Orang Positif dalam Sepekan

    Jakarta

    New York mencatat kasus flu terbanyak yang pernah tercatat dalam satu minggu, dengan jumlah pasien rawat inap melonjak yang bikin rumah sakit kewalahan.

    “Ini menunjukkan bahwa musim flu tahun ini lebih parah di New York, dan kita bahkan belum mendekati puncaknya,” kata Komisaris Kesehatan New York Dr James McDonald dalam keterangannya dikutip dari CBS News.

    Para pejabat melaporkan 71.123 kasus baru selama tujuh hari pada periode 14-20 Desember. Jumlah kasus mingguan baru ini menandai lonjakan 38 persen dari minggu ke minggu dalam infeksi flu yang dikonfirmasi laboratorium.

    Rawat inap akibat flu meningkat 63 persen di seluruh negara bagian, naik menjadi 3.666 dari 2.251 pada minggu sebelumnya.

    Para ahli kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa yang terburuk mungkin masih di depan dan mendesak warga New York untuk divaksinasi dan tinggal di rumah ketika sakit.

    Pemicu kasus flu meledak di New York

    Varian terbaru dari flu, subklade K, adalah varian dari virus influenza A H3N2 yang mendominasi musim flu. Strain ini bertanggung jawab atas lebih dari setengah kasus flu di AS hingga pertengahan November.

    “Musim flu kali ini bukan main-main. Kami melihat lebih banyak kasus daripada yang kami perkirakan untuk waktu seperti ini,” kata Dr. Amanda Kravitz, seorang dokter anak di Weill Cornell Medicine di New York, kepada CBS Mornings.

    Virus H3N2 seringkali disertai gejala yang lebih parah dibandingkan infeksi pernapasan umum.

    Selain gejala yang lebih buruk dari biasanya, kekhawatiran terbesar adalah peningkatan risiko rawat inap. Dan jika tidak diobati, strain baru ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti infeksi telinga dan sinus, bronkitis, pneumonia, dan bahkan kematian.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video IDAI: Banyak Kasus Pneumonia Anak di RI Disebabkan Influenza”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Pria Kaget Kena Stroke padahal Hidup Sehat, Ternyata gegara Minuman Ini

    Pria Kaget Kena Stroke padahal Hidup Sehat, Ternyata gegara Minuman Ini

    Jakarta

    Seorang pria bugar berusia 50-an di Inggris mendadak dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami mati rasa total di sisi kiri tubuhnya. Meski tidak merokok dan tidak minum alkohol, pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya melonjak ekstrem hingga 254/150 mmHg, yang memicu krisis hipertensi dan stroke.

    Setelah didalami, pria ini ternyata rutin mengonsumsi 8 kaleng minuman energi berkadar tinggi setiap hari. Total asupan kafeinnya mencapai 1,2 gram per hari, atau tiga kali lipat di atas batas aman medis (400 mg).

    Diberitakan Live Science, dokter mendiagnosisnya dengan stroke lakunar yang memicu pembuluh darah dalam otak tersumbat. Kafein dosis tinggi bersama taurin dan guarana dapat menyebabkan penyempitan arteri otak secara mendadak.

    Kadar gula yang masif dalam minuman tersebut merusak lapisan pembuluh darah pria itu. Stimulan berlebih memacu jantung bekerja terlalu keras, meningkatkan tekanan darah secara drastis dalam waktu singkat.

    Beruntung, setelah berhenti total mengonsumsi minuman energi, tekanan darahnya kembali normal dalam tiga minggu. Meski bisa kembali bekerja, ia tetap mengalami mati rasa permanen pada tangan dan kakinya hingga delapan tahun kemudian.

    “Saya tidak menyadari bahayanya. Akibatnya, saya harus hidup dengan rasa kebas di tangan dan kaki selamanya,” ungkap pria tersebut.

    (kna/kna)

  • Bisa Temukan Jawaban dalam 10 Detik? Itu Tanda Liburnya Berkualitas

    Bisa Temukan Jawaban dalam 10 Detik? Itu Tanda Liburnya Berkualitas

    Asah Otak

    Daffa Ghazan – detikHealth

    Minggu, 28 Des 2025 11:01 WIB

    Jakarta – Namanya juga refreshing, liburan seharusnya bisa bikin otak kembali fresh. Tak perlu garuk-garuk kepala untuk menjawab teka-teki ini jika liburnya berkualitas.

  • Heboh ‘Sugar Rush’ di Medsos, Ini yang Terjadi pada Tubuh setelah Makan Manis

    Heboh ‘Sugar Rush’ di Medsos, Ini yang Terjadi pada Tubuh setelah Makan Manis

    Jakarta

    Media sosial diramaikan oleh perdebatan mengenai sugar rush. Ada yang menyebut konsumsi gula bikin anak hiperaktif tapi beberapa juga menyebut anggapan itu hanya mitos.

    Asal usul istilah ‘sugar rush’

    Istilah ini mulai populer di Amerika Serikat sekitar tahun 1970-an. Popularitasnya melonjak setelah dr Benjamin Feingold mempublikasikan Feingold Diet, yang menyatakan bahwa zat aditif makanan dan gula berkontribusi pada hiperaktivitas anak.

    Teori ini menyebar luas di kalangan orang tua dan guru, menciptakan keyakinan bahwa lonjakan gula dalam darah (glucose spike) secara otomatis memicu lonjakan energi yang tak terkendali.

    Sementara itu laman Cambridge Dictionary menulis, salah satu pengertian ‘sugar rush’ adalah efek mengonsumsi makanan tinggi gula, yang membuat seseorang ‘excited’ atau bersemangat dan penuh energi. Sinonim untuk pengertian ini adalah ‘sugar high’.

    Yang terjadi pada tubuh setelah makan manis

    Meski kaitan antara asupan gula dengan perubahan mood dan perilaku masih menjadi perdebatan, efek konsumsi gula berlebih memiliki dampak nyata dan berbahaya bagi kesehatan jangka panjang.

    Dikutip dari WebMD, secara umum, gula merupakan sumber energi bagi tubuh. Saat mengonsumsi gula secara normal, tubuh dengan cepat mengubahnya menjadi glukosa untuk energi, memicu pelepasan insulin untuk memindahkannya ke dalam sel.

    Saat makan gula, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar, zat kimia yang memicu rasa senang. Makanan manis juga memberikan lonjakan energi cepat (sugar high).

    Hanya saja kadar gula darah akan merosot tajam. Hasilnya, seseorang akan mengalami ‘sugar crash’ yang memicu rasa gelisah, gugup, hingga gejala depresi jika dikonsumsi terlalu sering.

    Jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, makanan manis mengandung gula ada manfaatnya. Hanya saja dampak konsumsi gula berlebih pada kesehatan fisik adalah fakta medis yang tak terbantahkan.

    Beberapa masalah kesehatan yang bisa muncul mulai dari diabetes, penyakit ginjal, sampai masalah kesehatan jantung.

    Halaman 2 dari 3

    (kna/kna)

  • Hati-Hati ‘Holiday Heart Syndrome’, Risiko Serangan Jantung Naik di Akhir Tahun

    Hati-Hati ‘Holiday Heart Syndrome’, Risiko Serangan Jantung Naik di Akhir Tahun

    Jakarta

    Momen libur Natal dan Tahun Baru identik dengan kegembiraan, berkumpul bersama keluarga, dan jamuan makan besar. Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat risiko kesehatan yang nyata.

    Pakar medis memperingatkan adanya fenomena bernama “Holiday Heart Syndrome”, yaitu lonjakan kasus gangguan jantung yang terjadi secara konsisten setiap akhir tahun.

    Dikutip dari Fox News, Dr Jeremy London, seorang ahli bedah kardiotorasik, mengungkapkan bahwa setiap tahun angka serangan jantung selalu naik menjelang pergantian tahun. Bahkan, data menunjukkan bahwa tanggal 24 Desember atau Malam Natal merupakan hari dengan risiko serangan jantung tertinggi dalam setahun.

    Risiko ini bukan tanpa alasan. Lonjakan kasus jantung di akhir tahun biasanya dipicu oleh akumulasi stres emosional, tekanan finansial, hingga perubahan gaya hidup yang drastis.

    Selama musim libur, banyak orang cenderung mengonsumsi makanan asin dan minuman beralkohol secara berlebihan, yang kemudian diperparah dengan berkurangnya aktivitas fisik serta waktu istirahat yang tidak teratur.

    Kunci selamat, kenali kondisi tubuh

    Fakta mematikan ini juga didukung oleh data penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Circulation. Riset tersebut mencatat bahwa kematian akibat serangan jantung di Amerika Serikat paling banyak terjadi pada tanggal 25 Desember, diikuti oleh 26 Desember dan 1 Januari.

    Penelitian lain di Swedia bahkan menunjukkan bahwa risiko serangan jantung melonjak hingga 37 persen tepat pada Malam Natal, terutama pada kelompok lansia atau pengidap diabetes.

    Masalah menjadi semakin fatal ketika seseorang memilih untuk mengabaikan sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuhnya. Banyak pasien menunda pergi ke rumah sakit karena enggan merusak suasana liburan atau merasa tidak enak harus meninggalkan acara keluarga.

    Terkait hal ini, pakar jantung Michael Tanoue, MD, memberikan pesan yang sangat krusial bagi siapa pun yang merasakan keluhan fisik yang tidak biasa.

    “Mungkin tidak ada yang ingin menghabiskan liburan di rumah sakit, tetapi segera mencari pertolongan medis saat muncul gejala adalah hadiah terbaik bagi diri sendiri dan keluarga agar bisa merayakan momen-momen selanjutnya,” tegas Dr Michael Tanoue.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Video: Efektifkah Off Medsos buat ‘Stay Waras’ dari Info Negatif?

    Video: Efektifkah Off Medsos buat ‘Stay Waras’ dari Info Negatif?

    Jakarta – Mungkin ada kalanya detikers merasa lelah dan tertekan dengan banyaknya informasi di media sosial yang tersebar bebas. Off atau vakum medsos pun menjadi satu opsi yang diambil untuk meredam emosi dan menjaga kewarasan.

    Tapi sebenarnya apakah off medsos ini cukup efektif untuk jaga kewarasan atau akan menambah seseorang merasa tertekan ketika kembali ke medsos lagi? Begini pandangan psikolog…

    (/)

  • Apakah Bersih-bersih Rumah Termasuk Olahraga? Belum Tentu, Dokter Beberkan Syaratnya

    Apakah Bersih-bersih Rumah Termasuk Olahraga? Belum Tentu, Dokter Beberkan Syaratnya

    Jakarta

    Membersihkan rumah sering dianggap cukup untuk menggantikan olahraga. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, hingga menyetrika, semua terasa melelahkan dan membuat tubuh berkeringat. Tapi, apakah aktivitas bersih-bersih rumah benar-benar bisa disebut olahraga?

    Praktisi kebugaran dr Anita Suryani, SpKO dari EMC Healthcare menjelaskan, tidak semua aktivitas fisik otomatis tergolong olahraga. Ada syarat tertentu agar sebuah aktivitas benar-benar memberi manfaat bagi kebugaran tubuh.

    “Kalau membersihkan rumahnya sesuai dengan resep, ya termasuk dong,” kata dr Anita Anita, kepada detikcom pada Rabu (24/12/2025).

    Disebut Olahraga Jika Sesuai Dosis

    Menurut dr Anita, aktivitas membersihkan rumah bisa masuk kategori snack exercise atau potongan aktivitas fisik singkat, jika dilakukan sesuai dengan ‘dosis’ yang tepat. Jika dosisnya terlalu rendah, maka belum akan memberi manfaat bagi kebugaran fisik.

    “Membersihkan rumah nih, berarti kan 30 menit. Bisa nggak dia ngepel 30 menit nggak berhenti? Nyetrika 30 menit begitu,” tantang dr Anita.

    Artinya, durasi menjadi kunci penting. Aktivitas seperti mengepel atau menyetrika baru bisa mendekati exercise bila dilakukan kontinu selama sekitar 30 menit, bukan sekadar beberapa menit lalu berhenti.

    Termasuk Aktivitas Fisik Non-Olahraga

    Dalam praktiknya, banyak aktivitas rumah tangga dilakukan secara tidak berkelanjutan. Untuk dikategorikan exercise atau olahraga, dosisnya belum mencukupi.

    “Itu namanya masih NEPA, Non-Exercise Physical Activity,” tutupnya.

    Dijelaskan oleh dr Anita, NEPA (Non-Exercise Physical Activity) merupakan aktivitas fisik yang memang membuat tubuh bergerak, tetapi dosisnya belum cukup untuk memberi manfaat kebugaran.

    @detikhealth_official Banyak yang bilang futsal bikin serangan jantung. Dari sisi kesehatan, kira-kira apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berolahraga terutama futsal? Simak penjelasan dr. Anita Suryani, SpKO dari @RS EMC berikut ini ya! #timnasfutsal #futsalbikinseranganjantung #futsal #olahraga #detikhealth ♬ original sound – detikHealth

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Rekomendasi Olahraga yang Cocok di Waktu Menopause”
    [Gambas:Video 20detik]
    (rfd/up)