Category: Detik.com Kesehatan

  • New York Dihantam Infeksi ‘Super Flu’, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

    New York Dihantam Infeksi ‘Super Flu’, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

    Jakarta

    New York kini tengah menghadapi krisis kesehatan serius di tengah puncak musim libur akhir tahun. Departemen Kesehatan New York melaporkan lonjakan kasus flu yang mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, dengan 71.123 kasus positif tercatat hanya dalam satu minggu per 20 Desember.

    Kondisi di New York hanyalah puncak gunung es dari situasi di Amerika Serikat. Saat ini, New York termasuk dalam 14 negara bagian dengan tingkat aktivitas kunjungan medis akibat penyakit serupa flu (influenza-like illness) yang masuk kategori “Sangat Tinggi.”

    Munculnya Varian Baru: Subclade K

    Diberitakan USA Today, pemicu kekhawatiran utama para ahli tahun ini adalah munculnya jenis flu baru yang disebut Subclade K, sebuah variasi dari virus Influenza A(H3N2).

    Varian ini sebelumnya telah menyebabkan wabah besar di Inggris, Jepang, dan Kanada.

    Pejabat kesehatan khawatir bahwa vaksin flu tahun ini mungkin tidak sepenuhnya cocok (mismatch) dengan varian baru tersebut. Namun, para ahli meyakini bahwa vaksin yang ada masih mampu memberikan perlindungan penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih parah atau mematikan.

    “Namun yang jelas adalah kasusnya meningkat, dan kita melihat banyak kasus influenza meningkat di seluruh negeri, dan itu adalah tren yang pasti akan berlanjut hingga tahun baru,” kata Andrew Pekosz, yang merupakan salah satu direktur Johns Hopkins Center of Excellence dalam penelitian dan respons influenza.

    Situasi Mengkhawatirkan di Seluruh AS

    Berdasarkan estimasi terbaru dari CDC, musim flu kali ini telah menyebabkan setidaknya 4,6 juta orang jatuh sakit.

    Sementara itu tercatat 49.000 pasien harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan 1.900 angka kematian, dengan tiga di antaranya adalah anak-anak.

    Di New York City, kunjungan ke ruang gawat darurat rumah sakit dengan diagnosis flu terus merangkak naik. Jennifer Nuzzo, pakar epidemiologi dari Brown University, memperingatkan bahwa kita mungkin sedang menuju musim flu yang sangat berat atau “doozy,” terutama karena data yang terbatas dan rendahnya tingkat vaksinasi tahun ini.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video WHO soal Influenza Varian Baru: Tak Menunjukkan Peningkatan Keparahan”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Nggak Sarapan Vs Skip Makan Malam, Mana yang Lebih Efektif Enyahkan Buncit?

    Nggak Sarapan Vs Skip Makan Malam, Mana yang Lebih Efektif Enyahkan Buncit?

    Jakarta

    Intermittent fasting kerap dipilih sebagai cara untuk menurunkan berat badan. Tetapi, masih banyak yang bingung, lebih efektif mana melewatkan sarapan atau skip makan malam?

    Dokter dari University Medical Center HCMC, Dr Pham Anh Ngan, menjelaskan intermittent fasting, khususnya metode time-restricted eating atau makan dengan batasan waktu, terbukti membantu penurunan berat badan. Selain itu, metode ini juga bisa memperbaiki sejumlah indikator kesehatan.

    Menurutnya, pola makan utama setiap orang bisa berbeda, tergantung kebiasaan. Ada yang menjadikan sarapan sebagai makan besar, sementara sebagian lainnya makan malam justru menjadi waktu asupan terbesar dengan kandungan protein dan sayur yang lebih banyak.

    “Melewatkan sarapan atau makan malam sama-sama punya manfaat dan risiko terhadap metabolisme,” jelasnya, dikutip dari VNExpress.

    Kata Studi Melewatkan Makan Malam

    Sejumlah studi menunjukkan mengurangi atau melewatkan makan malam cenderung memberikan dampak lebih besar dalam menurunkan total asupan kalori harian, sehingga dinilai lebih potensial untuk penurunan berat badan. Tetapi, kebiasaan ini juga memiliki risiko.

    Melewatkan makan malam dapat memperlambat metabolisme, meningkatkan risiko kekurangan nutrisi, mengganggu kualitas tidur, memicu rasa lapar berlebihan, hingga menurunkan daya tahan tubuh bila dilakukan tidak tepat.

    Melewatkan Sarapan

    Sementara itu, melewatkan sarapan bisa membuat sebagian orang merasa lebih segar dan fokus di siang hari. Tetapi, rasa lapar yang muncul sering kali berujung pada pilihan makanan kurang sehat, seperti konsumsi makanan manis dan berlemak secara berlebihan di waktu berikutnya.

    Penelitian juga menunjukkan melewatkan sarapan secara berkala dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Meski begitu, respons gula darah dan insulin pada makan terakhir dalam sehari justru cenderung memburuk.

    Secara keseluruhan, Dr Ngan menekankan bahwa melewatkan waktu makan atau menjalani intermittent fasting tetap membawa manfaat sekaligus risiko kesehatan. Ia juga mengingatkan bahwa beberapa jenis makanan sehat biasanya dikonsumsi di waktu tertentu, seperti susu dan biji-bijian utuh saat sarapan, serta sayuran dan protein saat makan malam.

    Karena itu, keputusan melewatkan sarapan atau makan malam sebaiknya bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan respons tubuh masing-masing. Bagi pekerja kantoran yang beraktivitas dan berpikir intens di siang hari, sarapan tetap penting untuk menjaga energi otak dan tubuh.

    Untuk menurunkan berat badan secara aman dan efektif, Dr Ngan menyarankan pola makan yang memperbanyak sayuran dan protein nabati, disesuaikan dengan kebutuhan individu dan rutinitas olahraga, serta mengurangi asupan karbohidrat sederhana.

    “Konsultasi dengan ahli gizi bisa membantu memastikan program penurunan berat badan berjalan aman, efektif, dan sesuai dengan kondisi fisik serta tuntutan pekerjaan,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Ini Menu Sarapan Kukusan ala Gen Z”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/kna)

  • Berat Badan Naik Turun Seperti Yoyo? Ini Saran Dokter Gizi Biar Lebih Stabil

    Berat Badan Naik Turun Seperti Yoyo? Ini Saran Dokter Gizi Biar Lebih Stabil

    Jakarta

    Banyak orang berhasil menurunkan berat badan dalam waktu singkat, namun tak lama kemudian berat badan justru kembali naik. Kondisi ini dikenal sebagai yo-yo effect, yakni pola penurunan dan kenaikan berat badan yang terjadi berulang.

    Spesialis gizi klinik dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK dari RS St Carolus Salemba, menjelaskan salah satu pemicu utama yo-yo effect adalah pembatasan kalori yang terlalu ekstrem sejak awal program penurunan berat badan. Menurutnya, banyak orang langsung memangkas asupan makanannya secara drastis tanpa perencanaan yang matang.

    “Kalau yang berat badannya sampai 120 kg, misalnya taro lah asupannya 2.500 kalori. Terus dia tiba-tiba misalnya nggak konsul dulu ke dokter spesialis yang kompeten, tapi dia yaudah selalu turun sendiri, nurunin kalorinya langsung, misalnya ke 1000 kalori,” kata dr Yohannessa kepada detikcom, Kamis (18/12/2025).

    “Kan berarti kurangnya sampai 1.500 kalori kan, dibanding asupan sebelumnya, nah itu adalah hal-hal yang salah satunya bikin yoyo,” lanjutnya lagi.

    Penurunan berat badan yang terjadi dalam kondisi tersebut sering kali bukan hanya berasal dari lemak, tetapi juga dari cairan tubuh dan massa otot. Tubuh kemudian merespons kondisi kekurangan energi yang ekstrem ini dengan mekanisme pertahanan diri.

    Menurut dr Yohannessa, tubuh memiliki sistem adaptasi alami. Ketika kekurangan energi terjadi secara drastis, tubuh akan berusaha ‘menghemat’ pengeluaran energi dan memicu dorongan makan yang lebih kuat. Akibatnya, muncul keinginan makan berlebih, ngemil terus-menerus, atau mengambil porsi besar sebagai upaya tubuh memenuhi kebutuhan energi yang sebelumnya tidak tercukupi.

    “Jadi itu yang membuat nanti malah orang jadi yaudah, pengennya nyemil-nyemil-nyemil salah satunya atau makan yang porsinya besar untuk memenuhi kebutuhan yang seharusnya,” katanya lagi.

    Kondisi inilah yang membuat berat badan kembali naik dengan cepat setelah fase diet ketat berakhir. Dalam jangka panjang, pola ini dapat berulang dan menyebabkan berat badan sulit dikendalikan.

    “Seharusnya adalah turun itu pelan-pelan, misalnya tadinya 2.500 kalori, jadi misalnya kita turunin hanya menjadi misalnya 2.000 kalori, atau paling maksimal 1.500 kalori per hari. Jadi memang perlu perlahan,” lanjutnya lagi.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Berat Badan Hanya 22 Kg, Wanita Ini Meninggal Usai Diet Ekstrem”
    [Gambas:Video 20detik]
    (suc/up)

  • Uji Kesabaran dan Ketelitian, Bisa Temukan Semua Jawabannya?

    Uji Kesabaran dan Ketelitian, Bisa Temukan Semua Jawabannya?

    Uji Kesabaran dan Ketelitian, Bisa Temukan Semua Jawabannya?

  • 1 dari 8 Anak Muda Pakai Chatbot AI untuk Konsultasi Kesehatan Mental

    1 dari 8 Anak Muda Pakai Chatbot AI untuk Konsultasi Kesehatan Mental

    Jakarta

    Anak muda di Amerika Serikat kini semakin banyak yang memanfaatkan chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mencari nasihat terkait kesehatan mental. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa 1 dari 8 anak dan remaja mengaku mengandalkan AI untuk membantu menghadapi persoalan psikologis yang mereka alami.

    Studi yang dipublikasi di JAMA Network Open pada 7 November 2025 tersebut melibatkan 1.058 anak dan remaja usia 12 hingga 21 tahun, yang disurvei pada Februari hingga Maret 2025.

    Hasilnya, 13 persen responden mengaku pernah menggunakan AI untuk mendapatkan saran terkait kesehatan mental. Dari kelompok tersebut, 66 persen menggunakan chatbot setidaknya sebulan sekali, sementara 93 persen menilai nasihat yang diberikan AI cukup membantu.

    Penggunaan paling tinggi tercatat pada kelompok usia 18 hingga 21 tahun, dengan 22 persen responden.

    Para peneliti menilai tingginya angka penggunaan ini tidak lepas dari sejumlah faktor, mulai dari biaya yang rendah, respons yang cepat, hingga rasa privasi yang ditawarkan sistem AI. Hal ini dinilai menarik bagi anak muda yang enggan atau belum siap mengakses layanan konseling konvensional.

    “Ada banyak perbincangan bahwa remaja menggunakan Chat GPT atau AI lain untuk mendapat nasihat kesehatan mental. Tetapi, sejauh pengetahuan kami, belum ada yang benar-benar mengukur seberapa umum hal ini,” terang Ateev Mehrotra, salah satu penulis studi sekaligus profesor di Brown University School of Public Health, dikutip dari People.

    Mehrotra menyebut temuan ini cukup mengejutkan. Menurutnya, pada akhir 2025, lebih dari 1 dari 10 remaja dan dewasa muda telah menggunakan AI generatif untuk mencari nasihat kesehatan mental, dengan angka yang lebih tinggi pada kelompok dewasa muda.

    “Saya menganggap angka tersebut sangat tinggi,” sambungnya.

    Meski begitu, para penulis studi menegaskan penelitian ini belum merinci apakah nasihat yang diberikan AI digunakan untuk menangani gangguan mental yang telah didiagnosis secara medis atau tidak. Penelitian lanjutan dinilai penting untuk memahami dampak AI generatif terhadap anak muda, khususnya mereka yang memiliki masalah kesehatan mental.

    “Pertanyaan kuncinya adalah bagaimana sistem AI ini bisa memberikan manfaat maksimal, tetapi tetap membatasi dampak negatifnya,” kata Mehrotra.

    “Ini mengubah pandangan saya, dari yang sebelumnya mengira remaja akan menggunakan AI di masa depan, menjadi menyadari bahwa hal ini sudah sangat umum terjadi,” tambahnya.

    Studi ini juga muncul di tengah sorotan terhadap sejumlah penyedia AI yang menghadapi tuntutan hukum, terkait dugaan chatbot mendorong perilaku menyakiti diri sendiri pada pengguna dengan masalah kesehatan mental.

    Sejumlah perusahaan AI kini mulai memperkuat sistem pengamanan, termasuk mengarahkan pengguna dalam krisis untuk mencari bantuan profesional, serta menyediakan tautan ke layanan darurat dan saluran bantuan kesehatan mental.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video Lansia Juga Bisa Alami Gangguan Kesehatan Mental, Seperti Apa?”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/kna)

  • Peringatan buat Gen Z! Kasus Stroke Makin Muda, Usia 20-an Juga Bisa Kena

    Peringatan buat Gen Z! Kasus Stroke Makin Muda, Usia 20-an Juga Bisa Kena

    Jakarta

    Stroke tidak hanya menyerang usia lanjut. Seorang wanita berusia 22 tahun nyaris kehilangan nyawa akibat stroke hemoragik. Kondisi ini dipicu oleh malformasi arteriovenosa (AVM) serebral atau kelainan pembuluh darah di otak.

    Beruntung, penanganan darurat yang cepat membuat nyawanya berhasil diselamatkan.

    Loan (bukan nama sebenarnya) dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat RS Umum Tam Anh, Hanoi, Vietnam, dalam kondisi koma berat. Saat tiba di RS, ia tidak menunjukkan refleks dengan skor Glasgow Coma Scale (GCS) 6, jauh di bawah kondisi normal yang berada di angka 15.

    Pemeriksaan menunjukkan pupil mata kiri melebar hingga 4 mm tanpa respons cahaya. Sementara pupil kanan melebar 3 mm dengan reaksi lemah.

    Loan juga mengalami kelumpuhan pada kedua sisi tubuh. Hasil CT scan mengungkap hematoma akut berukuran besar di belahan otak kiri, dengan ukuran mencapai 78x59x57 mm.

    Tak hanya itu, terjadi pembengkakan otak luas yang menekan tentorium cerebellum kiri dan memicu herniasi unkal yang mengancam batang otak. Dokter juga menemukan hematoma subdural di hemisfer kiri dengan ketebalan sekitar 7,5 mm.

    Kepala Departemen Bedah Saraf dan Tulang Belakang RS Tam Anh, Dr Nguyen Duc Anh, menjelaskan perdarahan hebat tersebut berasal dari pecahnya malformasi arteriovenosa. Kondisi ini menyebabkan penumpukan darah di otak dan menciptakan situasi yang sangat kritis.

    Tim medis kemudian melakukan operasi mikrosurgi darurat, dengan membuka sebagian tulang tengkorak untuk mengangkat hematoma besar sekaligus malformasi pembuluh darahnya. Tujuannya menghentikan perdarahan dan mempertahankan struktur saraf semaksimal mungkin.

    “Lokasi hematoma sangat dekat dengan pembuluh darah yang pecah, sehingga risiko perdarahan ulang selama operasi cukup tinggi,” jelas Dr Anh, dikutip dari VNExpress.

    Pembengkakan otak dan tekanan intrakranial yang meningkat juga membuat otak membesar dan menyulitkan visibilitas saat tindakan. Selama sekitar empat jam operasi, tim bedah saraf bekerja dengan presisi tinggi untuk menjaga jaringan otak sehat.

    Operasi akhirnya berhasil, seluruh hematoma terangkat dan sumber perdarahan dapat dikendalikan.

    Usai operasi, Loan menjalani perawatan intensif untuk menurunkan pembengkakan otak, mencegah pembekuan darah, serta menstabilkan kondisi hemodinamik.

    Setelah satu minggu, kondisi Loan mulai membaik dan keluar dari fase kritis. Ia kemudian memulai program rehabilitasi untuk memulihkan fungsi motorik dan kognitif. Pasca 30 hari perawatan, kesadarannya meningkat signifikan dan kondisinya semakin stabil.

    Menurut Dr Anh, stroke hemoragik kerap menyebabkan kecacatan jangka panjang yang lebih berat dibandingkan jenis stroke lain. Tanpa pertolongan cepat, kondisi ini bisa berujung pada kelumpuhan permanen, kondisi vegetatif, hingga kematian.

    Ia menjelaskan malformasi arteriovenosa serebral bisa bersifat bawaan sejak lahir atau berkembang seiring waktu. Karena itu, orang dengan AVM disarankan menjalani pemantauan rutin untuk menilai risiko dan menentukan penanganan yang tepat.

    Kasus Stroke di Usia Muda Meningkat

    Kasus stroke pada usia muda kini semakin meningkat. Sebuah studi di jurnal Frontiers in Neurology (2025), mencatat angka kejadian stroke pada usia 15-39 tahun mencapai 25,45 kasus per 100.000 orang pada 2021. Dengan 101 negara melaporkan angka di atas rata-rata global.

    Faktor gaya hidup dinilai berperan besar, mulai dari pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, hingga stres kerja. Risiko stroke bisa ditekan dengan menerapkan pola hidup sehat sejak dini.

    “Jaga asupan makanan seimbang, kurangi garam dan lemak jenuh, perbanyak sayur, buah, dan protein sehat seperti ikan dan daging putih,” terangnya.

    Dr Anh juga menyarankan olahraga rutin minimal 150 menit per minggu, tidur cukup, mengelola stres, serta mengontrol penyakit penyerta.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/kna)

  • Gejala ‘Super Flu’ yang Meledak di New York, 71 Ribu Warga Kena dalam Sepekan

    Gejala ‘Super Flu’ yang Meledak di New York, 71 Ribu Warga Kena dalam Sepekan

    Jakarta

    Kasus flu di New York, Amerika Serikat, melonjak pesat selama satu minggu. Hal ini rumah sakit kewalahan karena banyaknya pasien yang harus dirawat inap.

    Para pejabat melaporkan 71.123 kasus baru selama tujuh hari pada periode 14-20 Desember 2025. Jumlah kasus baru mingguan ini menandai lonjakan 38 persen dari pekan sebelumnya.

    Rawat inap akibat flu meningkat 63 persen di seluruh negara bagian. Di minggu sebelumnya ada 2.2251 orang, kini naik menjadi 3.666.

    Kondisi ini disebabkan varian terbaru dari flu, subklade K, yang merupakan varian dari virus influenza A H3N2 yang mendominasi musim flu. Strain ini bertanggung jawab lebih dari setengah kasus flu di AS hingga pertengahan November.

    “Musim flu kali ini bukan main-main. Kami melihat lebih banyak kasus daripada yang kami perkirakan untuk waktu seperti ini,” kata Dr. Amanda Kravitz, seorang dokter anak di Weill Cornell Medicine di New York, kepada CBS Mornings.

    Virus H3N2 seringkali disertai gejala yang lebih parah dibandingkan infeksi pernapasan umum.

    Gejala ‘Super Flu’

    Meski sekilas mirip flu biasa, dokter menilai tingkat keparahan gejala dan lamanya pemulihan menjadi pembeda utama ‘super flu’. Para pasien ‘super flu’ melaporkan kondisi yang jauh lebih berat dibanding influenza pada umumnya.

    Para ahli menegaskan penanganan dini sangat krusial. Hal ini mengingat jumlah kasus terus meningkat dan risiko komplikasi tergolong tinggi.

    Dikutip dari Newsweek, gejala yang sering muncul meliputi:

    Demam tinggiNyeri tubuh hebatKelelahan ekstremBatuk berkepanjanganSakit tenggorokanSakit kepala beratSesak napasNyeri dadaGangguan pencernaanRasa lemas berkepanjangan setelah fase akut mereda

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video IDAI: Banyak Kasus Pneumonia Anak di RI Disebabkan Influenza”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/kna)

  • Alasan Psikologis Bikin Resolusi Tahun Baru, Seringnya Sih Gagal Terealisasi

    Alasan Psikologis Bikin Resolusi Tahun Baru, Seringnya Sih Gagal Terealisasi

    Jakarta

    Setiap kali jam berdentang menunjukkan tengah malam di awal tahun, jutaan orang di seluruh dunia secara serentak berkomitmen pada resolusi baru.

    Mulai dari keinginan menurunkan berat badan, bebas dari utang, hingga memulai hobi baru, ritual ini seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tahun baru yang penuh optimisme.

    Secara psikologis, momen pergantian kalender dipandang sebagai kesempatan emas untuk melakukan refleksi. Terri Bly, seorang psikolog klinis dari Ellie Mental Health, menjelaskan bahwa tahun baru merepresentasikan awal yang segar.

    “Manusia membutuhkan simbol atau sinyal tertentu sebagai momentum untuk menyegarkan kembali hidup mereka. Namun, fenomena ini bukan sekadar kebutuhan personal, melainkan juga sebuah norma sosial,” kata Bly dikutip dari VeryWell Mind.

    Dr Tim Kurz, pakar psikologi sosial dari The University of Western Australia, menyebutkan bahwa tradisi ini sudah berakar sejak 4.000 tahun lalu dari zaman Babilonia kuno. Menurutnya, saat ini orang-orang membuat resolusi karena melihat lingkungan sekitarnya melakukan hal yang sama.

    Memberitahu orang lain bahwa kita ingin menjadi lebih baik secara tidak langsung memposisikan diri kita sebagai “orang baik” dan memberikan rasa tanggung jawab semu.

    Kenapa Resolusi Tahun Baru Sering Gagal?

    Meski semangat di awal tahun sangat tinggi, banyak resolusi yang gagal terealisasi. Dr Tim Kurz menjelaskan bahwa hambatan terbesarnya adalah perilaku harian manusia yang lebih banyak dikendalikan oleh kebiasaan otomatis di bawah alam sadar, bukan oleh pemikiran yang matang.

    “Seiring berjalannya waktu, cara kita berperilaku cenderung menjadi otomatis karena dipicu oleh konteks, situasi, dan lingkungan tertentu, yang sepenuhnya terlepas dari proses berpikir sadar kita,” ungkap Dr. Tim Kurz.

    Kesalahan umum lainnya adalah ambisi untuk melakukan perubahan besar secara instan. Terkait hal ini, Terri Bly menekankan bahwa manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk melakukan perubahan drastis yang sekaligus.

    “Ide tentang perubahan besar dan menyeluruh memang terdengar menarik, namun secara biologis kita tidak dibentuk untuk itu,” jelasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video Lansia Juga Bisa Alami Gangguan Kesehatan Mental, Seperti Apa?”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Pria Bugar Kena Stroke Lakunar, Lumpuh Setengah Badan gegara Minuman Energi

    Pria Bugar Kena Stroke Lakunar, Lumpuh Setengah Badan gegara Minuman Energi

    Jakarta

    Seorang pria bugar di Inggris mendadak kena stroke, yang membuat sisi kiri tubuhnya mati rasa total. Kondisi tersebut membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit.

    Pria berusia 50-an ini merasa telah menjalani hidup sehat. Ia tidak merokok dan juga tidak minum alkohol.

    Namun, kebiasaannya malah membuat kondisi tubuhnya ‘rusak’. Selain mengalami stroke, tekanan darahnya melonjak ekstrem hingga mencapai 245/150 mmHg yang memicu krisis hipertensi.

    Diketahui, pria tersebut rutin mengonsumsi delapan kaleng minuman energi berkadar tinggi setiap hari. Jika ditotal, asupan kafeinnya per hari mencapai 1,2 gram per hari yang sama dengan tiga kali lipat di atas batas aman medis, yakni 400 mg.

    Dokter mendiagnosisnya dengan stroke lakunar yang memicu pembuluh darah di otak tersumbat. Penyempitan arteri di otaknya ini terjadi secara mendadak karena kafein dosis tinggi, serta taurin dan guarana.

    Tak hanya itu, kadar gula dari minuman tersebut merusak lapisan pembuluh darahnya. Stimulan berlebih memicu jantung bekerja terlalu keras, hingga meningkatkan tekanan darah secara drastis dalam waktu singkat.

    Setelah mendapatkan perawatan intensif selama tiga minggu, tekanan darah pasien kembali normal. Tetapi, mati rasa permanen pada bagian tangan dan kakinya masih dialaminya hingga delapan tahun kemudian.

    Apa Itu Stroke Lakunar?

    Dikutip dari laman Harvard Health Publishing, stroke lakunar terjadi saat salah satu arteri yang memasok darah ke struktur otak yang dalam tersumbat. Arteri ini kecil dan sangat rentan, tidak seperti kebanyakan arteri yang secara bertahap mengecil.

    Arteri kecil pada stroke lakunar bercabang langsung dari arteri utama yang besar, bertekanan tinggi, dan berotot kuat. Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat menyebabkan stroke lakunar, seperti yang terjadi pada kasus tersebut.

    Hipertensi dapat menyebabkan denyut nadi yang berdebar kencang, sebab arteri tidak mengecil secara bertahap dan langsung merusak arteri. Stroke lakunar jarang disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di tempat lain di tubuh, seperti leher atau jantung, dan bergerak melalui aliran darah ke otak.

    Setelah gumpalan (atau serpihan apapun) mulai bergerak melalui aliran darah, ia disebut embolus. Sulit bagi embolus untuk masuk ke arteri kecil yang dapat menyebabkan stroke lakunar.

    Apa Saja Gejala dari Stroke Lakunar?

    Gejala stroke lakunar bervariasi, tergantung pada bagian otak yang kekurangan suplai darah. Area otak yang berbeda bertanggung jawab atas fungsi yang berbeda, seperti sensasi gerakan, penglihatan, bicara, keseimbangan, dan koordinasi.

    Gejalanya dapat meliputi:

    Kelemahan atau kelumpuhan pada wajah, lengan, kaki, telapak kaki, atau jari kaki.Mati rasa tiba-tiba.Kesulitan berjalan.Kesulitan berbicara.Kecanggungan pada tangan atau lengan.Kelemahan atau kelumpuhan otot mata.Dan gejala neurologis lainnya.

    Pada seseorang dengan tekanan darah tinggi yang berkepanjangan dan tidak diobati, dapat terjadi beberapa stroke lakunar. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya gejala tambahan, termasuk perubahan perilaku emosional dan demensia.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Efektifkah Off Medsos buat ‘Stay Waras’ dari Info Negatif?

    Efektifkah Off Medsos buat ‘Stay Waras’ dari Info Negatif?

    Mungkin ada kalanya detikers merasa lelah dan tertekan dengan banyaknya informasi di media sosial yang tersebar bebas. Off atau vakum medsos pun menjadi satu opsi yang diambil untuk meredam emosi dan menjaga kewarasan.

    Tapi sebenarnya apakah off medsos ini cukup efektif untuk jaga kewarasan atau akan menambah seseorang merasa tertekan ketika kembali ke medsos lagi? Begini pandangan psikolog…