Category: Detik.com Kesehatan

  • Coba Kerjakan Tes Pola Angka Ini, Pemilik IQ Tinggi Biasanya Mudah Menjawabnya

    Coba Kerjakan Tes Pola Angka Ini, Pemilik IQ Tinggi Biasanya Mudah Menjawabnya

    Asah Otak

    Daffa Ghazan – detikHealth

    Senin, 29 Des 2025 12:02 WIB

    Jakarta – Tantangan logika ini menampilkan pola angka dalam beberapa kotak. Sekilas terlihat sederhana, tapi banyak orang keliru karena polanya tidak langsung terlihat.

  • Minuman Panas Picu Kanker Kerongkongan Ada Benarnya, Ini Catatan Pakar

    Minuman Panas Picu Kanker Kerongkongan Ada Benarnya, Ini Catatan Pakar

    Jakarta

    Bagi banyak orang, menyeruput kopi atau teh panas bukan sekadar kebiasaan, tetapi sudah jadi rutinitas personal yang memberi rasa nyaman. Ada yang tidak puas saat kopi belum ‘mengepul’, bahkan secara khusus meminta minuman disajikan extra hot.

    Sayangnya, di balik kenikmatan tersebut, ada satu aspek yang luput dipertimbangkan, dampak pada kesehatan. Bukti ilmiah menunjukkan minuman terlalu panas bukan hanya berisiko melukai saluran cerna, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker, khususnya kanker kerongkongan atau esofagus.

    Benarkah Minuman Panas Bisa Memicu Kanker?

    Tidak semua jenis kanker berkaitan dengan minuman panas. Hingga saat ini tidak ada bukti kuat yang mengaitkan minuman panas dengan kanker tenggorokan. Bukti untuk kanker lambung juga masih belum konsisten.

    Namun, hubungan yang paling jelas ditemukan pada kanker esofagus atau kerongkongan.

    Pada 2016, International Agency for Research on Cancer (IARC), badan di bawah WHO mengklasifikasikan konsumsi minuman yang sangat panas yakni di atas 65°C sebagai ‘probably carcinogenic to humans’ atau kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia.

    Kategori risiko ini sejajar dengan:

    Paparan asap kayu di dalam ruangan, atauKonsumsi daging merah dalam jumlah tinggi.

    Hal yang penting dicatat, bukan jenis minumannya (kopi, teh, atau herbal), melainkan suhunya yang menjadi faktor risiko utama.

    Bukti Ilmiah dari Berbagai Negara

    Sebagian besar bukti awal berasal dari Amerika Selatan, terutama dari kebiasaan mengonsumsi maté, minuman herbal tradisional yang biasanya diminum pada suhu sekitar 70 derajat celcius. Studi menunjukkan konsumsi maté panas dalam jumlah besar berkaitan dengan peningkatan risiko kanker esofagus.

    Temuan serupa juga muncul dari penelitian di Timur Tengah, Afrika, juga Asia.

    Dikutip dari CNA, dalam beberapa tahun terakhir, bukti dari negara Barat juga terus menguat. Sebuah studi besar di Inggris yang melibatkan hampir 500 ribu orang dewasa menemukan konsumsi teh atau kopi yang diminum sangat panas dalam jumlah besar berkaitan dengan peningkatan risiko kanker esofagus.

    Orang yang minum delapan cangkir atau lebih minuman sangat panas per hari memiliki risiko hampir enam kali lipat terkena kanker esofagus, dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi minuman panas.

    Pertanyaannya, kok bisa berkaitan?

    “Para peneliti menduga hubungan ini sejak hampir 90 tahun lalu. Mekanismenya diperkirakan ada melalui beberapa jalur,” beber Vincent Ho, Associate Professor dan gastroenterolog klinis di Western Sydney University.

    1. Cedera panas pada lapisan esofagus

    Minuman bersuhu sangat tinggi dapat melukai sel-sel pelapis esofagus. Jika cedera ini terjadi berulang dan dalam jangka panjang, proses perbaikan sel yang terus-menerus dapat meningkatkan risiko perubahan sel menjadi ganas.

    Studi pada hewan mendukung teori ini. Penelitian tahun 2016 menunjukkan tikus yang diberi air panas bersuhu 70 derajat celcius lebih cepat mengalami pertumbuhan pra-kanker di esofagus dibandingkan tikus yang minum air pada suhu lebih rendah.

    2. Memperparah refluks asam lambung

    Kerusakan akibat panas juga diduga melemahkan penghalang alami esofagus, sehingga lebih rentan terhadap paparan asam lambung. Paparan kronis ini dikenal sebagai salah satu faktor risiko kanker esofagus.

    Jumlah dan cara minum juga berpengaruh. Risiko tidak hanya ditentukan oleh suhu minuman, tetapi juga jumlah yang diminum dalam sekali teguk, hingga kecepatan minum.

    Ukuran tegukan juga lebih berpengaruh dibanding suhu minuman itu sendiri. Tegukan besar (sekitar 20 ml) kopi bersuhu 65 derajat celcius dapat meningkatkan suhu di dalam esofagus hingga 12 derajat celcius.

    Jika kebiasaan ini terjadi terus-menerus selama bertahun-tahun, risiko cedera panas kronis pun meningkat.

    Sebaliknya, sesekali menyeruput kecil minuman panas tidak serta-merta berbahaya. Masalah muncul ketika kebiasaan minum panas dilakukan sering, cepat, dan dalam jumlah besar.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Viral RS di Malaysia Punya Ruangan Khusus Pasien Indonesia, Ini Kata Kemenkes

    Viral RS di Malaysia Punya Ruangan Khusus Pasien Indonesia, Ini Kata Kemenkes

    Jakarta

    Viral di media sosial X unggahan foto yang menunjukkan salah satu rumah sakit swasta di Malaysia memiliki ruangan khusus untuk pasien yang berasal dari Indonesia.

    “Tadi buat medical checkup kat Sunway. They even have a special office for Indonesians patients now,” tulis salah satu akun di X, dikutip Senin (29/12/2025).

    Ditanya mengenai hal ini, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman mengatakan pemerintah telah memiliki strategi khusus untuk menekan angka pasien yang berobat ke LN, sehingga perlahan juga ‘menutup’ kebocoran devisa.

    “Strategi ke depan untuk menekan pasien berobat ke luar negeri yakni dengan membangun ekosistem pelayanan kesehatan dengan pembangunan RS berkelas internasional dengan bangunan, fasilitas, alkes dan SDM kesehatannya,” kata Aji saat dihubungi, Senin (29/12/2025).

    “Selain itu juga memajukan program wisata medis, di mana terdapat 3 pilar dari sektor kesehatan, yaitu mutu dan keselamatan pasien, kepercayaan dan keberlanjutan, serta akselerasi pasar melalui kolaborasi dan inovasi,” sambungnya.

    Menurut Aji, masih banyaknya pasien yang memilih berobat ke luar negeri lebih karena faktor non-klinis medis yang ditawarkan rumah sakit negara tetangga dianggap lebih mumpuni.

    “Lebih ke faktor non klinis medis. Soal persepsi, mencari second opinion dan testimoni layanan yang merasa lebih baik, cepat dan nyaman,” katanya.

    Disorot Presiden dan Menkes

    Masih banyaknya jumlah pasien yang berobat ke luar negeri juga menjadi perhatian pemerintah, baik Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

    “Kalau masyarakat masih merasa tenaga medis Malaysia lebih bagus, atau memilih ke Thailand untuk berobat, itu artinya kualitas layanan kita masih perlu diperbaiki. Kita tidak boleh denial, harus menerima sebagai masukan” beber Menkes Budi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Di sisi lain, Menkes juga melihat adanya tren positif pada pelayanan kesehatan di Tanah Air seperti meningkatnya pasien luar negeri yang datang ke Indonesia untuk layanan gigi dan estetika di Bali atau Batam.

    “Target kita, orang ASEAN sakit jantung bisa memilih Indonesia. Orang Papua Nugini hingga Fiji bisa terapi kanker di Indonesia. Saat itu tercapai, barulah publik mengakui kualitas kita,” kata Menkes.

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/kna)

  • Daftar Kasus Medis Teraneh Sepanjang 2025: Lintah di Hidung hingga ASI Ketiak

    Daftar Kasus Medis Teraneh Sepanjang 2025: Lintah di Hidung hingga ASI Ketiak

    Jakarta

    Ada banyak kasus medis aneh yang terjadi sepanjang tahun 2025. Beberapa di antaranya, bahkan menjadi sorotan netizen hingga bikin geleng-geleng kepala.

    Kasus medis di bawah ini, merupakan laporan kasus yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah atau setidaknya sempat menjadi pemberitaan di tahun 2025. Dikutip dari Gizmodo, berikut ini beberapa di antaranya:

    Pria Punya Tangan ‘Mentega’

    Pada bulan Januari, dokter di Florida, Amerika Serikat melaporkan seorang pasien pria berusia 40-an yang memiliki benjolan dengan bercak kekuningan di tangannya. Dokter lalu menyimpulkan pria yang tidak disebutkan namanya itu memiliki kadar kolesterol darah yang sangat tinggi, hingga akhirnya merembes keluar melalui kulit.

    Kondisi ini disebut dengan xanthelasma. Kondisi itu muncul setelah pasien mengubah pola makannya dengan diet karnivor selama 8 bulan terakhir.

    Pola makan tersebut membuatnya hanya makan keju, mentega, serta hamburger dengan jumlah yang berlebihan. Kondisi kulit tersebut sendiri sebenarnya tidak berbahaya, tetapi kadar kolesterol darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular di kemudian hari.

    Tak Sengaja Dapat Donor Ginjal Rabies

    Nasib kurang baik, seorang pasien transplantasi ginjal di Ohio, Amerika Serikat mendapat donor ginjal yang ternyata terinfeksi rabies. Ia menjalani operasi transplantasi ginjal pada Desember 2024, lalu meninggal sebulan kemudian akibat rabies.

    Rabies yang sebagian besar kasus diakibatkan oleh gigitan hewan liar ini sangat jarang di Amerika. Kasus rabies ini bahkan menjadi yang pertama kali sejak 15 tahun di tempat tinggal pasien.

    Dari kejadian ini, ternyata ada tiga orang lain juga menerima transplantasi dari donor yang sama. Setelah kasus pria di Ohio mencuat, organ tersebut langsung segera diangkat.

    Kena Stroke Akibat Minuman Energi

    Pada Desember 2025, dokter di Inggris melaporkan kasus seorang pria yang sehat dan bugar berusia 50 tahun mengalami stroke, diduga akibat kebiasaan minum minuman berenergi secara berlebihan. Ia bisa minum sampai delapan kaleng sehari.

    Akibat kebiasaan tersebut, tekanan darahnya melonjak ke tingkat yang berbahaya hingga akhirnya memicu stroke.

    Untungnya pasien masih bisa diselamatkan. Setelah kejadian tersebut, ia langsung berhenti mengonsumsi minuman berenergi. Tekanan darahnya mulai kembali normal dalam satu minggu dan selama 8 tahun berikutnya, ia tidak mengalami stroke lagi, meski masih ada mati rasa di sisi kiri tubuh.

    ASI Keluar Lewat Ketiak

    Pada September 2025, dokter di Filipina melaporkan sebuah kasus perempuan berusia 35 tahun yang bisa mengeluarkan air susu ibu (ASI) melalui ketiaknya. Dokter menyebut kondisi tersebut diakibatkan oleh jaringan payudara tambahan yang mengarah ke ketiaknya.

    Dokter menyarankan pasien agar waspada, karena kondisi tersebut membuat jaringan tambahan di ketiak juga bisa mengalami penyakit payudara normal pada umumnya, seperti kanker payudara. Karena kondisi ketiaknya selalu kembali normal setelah menyusui, ia memutuskan untuk tidak melakukan pengangkatan jaringan tersebut.

    Mimisan Tiap Hari Akibat Lintah di Hidung

    Pada Oktober 2025, dokter di China melaporkan kasus seorang pria 38 tahun yang mengalami mimisan kronis selama berhari-hari. Belakangan diketahui, seekor lintah bersarang di dalam lubang hidung kanannya.

    Setelah ditelusuri, lintah tersebut mungkin sudah ada di hidung pria tersebut 20 hari sebelumnya ketika mendaki gunung. Lintah itu diduga masuk ke hidung ketika pasien cuci muka di mata air.

    Lintah tersebut masih hidup ketika ditemukan dokter. Untungnya, sang pasien tidak mengalami gejala lanjutan setelah lintah diangkat, setidaknya tidak meninggalkan bekas fisik apa pun.

    Halaman 2 dari 3

    (avk/kna)

  • 7 Tips Menjaga Kesehatan Sehari-hari agar Hidup Lebih Berkualitas

    7 Tips Menjaga Kesehatan Sehari-hari agar Hidup Lebih Berkualitas

    Jakarta

    Menjaga kesehatan tubuh dan pikiran merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup. Pasalnya, tubuh yang sehat memungkinkan aktivitas harian dapat dijalani dengan lebih optimal.

    Sayangnya, banyak orang berpikir menjalani pola hidup sehat membutuhkan usaha besar. Padahal, sebenarnya pola hidup sehat dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

    Menerapkan pola hidup sehat sehari-hari membantu tubuh berfungsi dengan baik serta mencegah berbagai masalah kesehatan. Apabila Anda ingin memulai perjalanan hidup sehat, banyak sumber yang bisa membantu, salah satunya adalah https://poltekkesmakassar.org/sejarah/ yang menyediakan informasi pendidikan kesehatan.

    Berikut adalah tujuh tips sederhana yang dapat diterapkan oleh siapa saja untuk menjaga kesehatan tubuh sehari-hari, berdasarkan rekomendasi dari sumber medis yang kredibel.

    1. Rutin Berolahraga

    Olahraga berperan penting dalam menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan energi, dan membantu sistem tubuh bekerja dengan efisien. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur juga dapat membantu menjaga berat badan, memperkuat otot dan tulang, serta menurunkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.

    Menurut rekomendasi medis, Anda dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 150 menit per minggu atau sekitar 30 menit per hari dalam lima hari. Tidak harus olahraga berat, cukup pilih kegiatan ringan seperti berjalan kaki, yoga, atau bersepeda yang bisa dilakukan di lingkungan sekitar rumah.

    2. Konsumsi Makanan Bergizi

    Nutrisi yang seimbang menjadi fondasi utama bagi kesehatan tubuh. Makanan yang Anda konsumsi setiap hari sebaiknya mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan serat. Masing-masing nutrisi memiliki peran berbeda, mulai dari memberikan energi hingga mendukung fungsi organ dan sistem kekebalan tubuh.

    Untuk menjaga kualitas gizi makanan, Anda disarankan mengurangi makanan olahan atau yang digoreng berlebihan. Sebaiknya pilih cara memasak seperti merebus, mengukus, atau menumis. Menyusun piring makan dengan beragam warna dari sayur, buah, dan sumber protein juga membantu menciptakan pola makan yang seimbang.

    3. Minum Air Putih yang Cukup

    Air putih memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Fungsi utamanya adalah menjaga keseimbangan cairan tubuh, melancarkan metabolisme, membantu proses pencernaan, dan menjaga suhu tubuh tetap stabil. Kekurangan cairan dapat menyebabkan dehidrasi, yang berdampak pada penurunan konsentrasi, kelelahan, dan gangguan fungsi organ.

    Kebutuhan cairan untuk orang dewasa umumnya sekitar 2-3 liter per hari, tergantung aktivitas dan kondisi tubuh. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, biasakan membawa botol air dan mengonsumsinya secara berkala sepanjang hari.

    4. Tidur yang Berkualitas

    Tidur merupakan proses penting bagi tubuh untuk melakukan regenerasi sel dan memperbaiki sistem imun. Tidur yang cukup dan berkualitas berdampak langsung pada konsentrasi, suasana hati, serta daya tahan tubuh secara umum.

    Orang dewasa disarankan untuk tidur selama 7-9 jam per malam. Untuk mendukung kualitas tidur, ciptakan suasana kamar yang tenang dan nyaman, kurangi penggunaan gawai menjelang tidur, serta buat jadwal tidur yang konsisten setiap hari, termasuk di akhir pekan.

    5. Kelola Stres dengan Baik

    Stres adalah hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari, namun jika tidak dikelola dengan baik dapat berdampak buruk pada kesehatan. Stres kronis bisa meningkatkan risiko berbagai gangguan, seperti tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, serta masalah tidur.

    Anda dapat mengelola stres dengan melakukan aktivitas relaksasi seperti meditasi, latihan pernapasan, mendengarkan musik, atau menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman. Menyediakan waktu untuk diri sendiri juga penting agar pikiran tetap seimbang.

    6. Hindari Kebiasaan Buruk

    Beberapa kebiasaan seperti merokok dan konsumsi alkohol secara berlebihan telah terbukti meningkatkan risiko gangguan serius pada organ vital seperti jantung, paru-paru, dan liver. Menghindari kebiasaan tersebut merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

    Selain itu, penting juga untuk mengurangi konsumsi gula dan garam berlebihan, karena dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes dan hipertensi. Membaca label nutrisi pada kemasan makanan dan minuman bisa membantu Anda mengontrol asupan harian dengan lebih baik.

    7. Rutin Periksa Kesehatan

    Pemeriksaan kesehatan secara berkala membantu mendeteksi kondisi medis lebih awal sebelum menimbulkan gejala yang serius. Hal ini memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan efektif. Tes sederhana seperti cek tekanan darah, kadar gula darah, atau kolesterol sebaiknya dilakukan secara rutin sesuai anjuran tenaga medis.

    Konsultasi dengan tenaga kesehatan juga memberikan pemahaman lebih baik mengenai kondisi tubuh Anda dan langkah-langkah pencegahan yang sesuai. Kunjungi juga https://poltekkesmakassar.org/sejarah/ untuk informasi kesehatan lainnya.

    Menjaga kesehatan sehari-hari tidak harus sulit atau memberatkan. Dengan menerapkan kebiasaan seperti berolahraga secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, tidur cukup, serta menghindari kebiasaan buruk, Anda dapat mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten juga akan memberikan dampak positif bagi kualitas hidup dan membantu mengurangi risiko penyakit.

    Ingin belajar lebih dalam tentang kesehatan dan menjadi tenaga kesehatan profesional? Kunjungi Poltekkes Makassar untuk informasi program pendidikan kesehatan yang siap membekali Anda dengan ilmu dan keterampilan terbaik di bidang kesehatan.

    (akn/ega)

  • 10 Tanda Sakit Ginjal yang Sering Diabaikan, Usia Muda Bukan Jaminan Aman

    10 Tanda Sakit Ginjal yang Sering Diabaikan, Usia Muda Bukan Jaminan Aman

    Jakarta

    Penyakit ginjal sering kali dijuluki sebagai “silent killer”. Pasalnya, gejalanya cenderung tidak terlihat hingga mencapai stadium lanjut. Di Indonesia, data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, penyakit ginjal kronis tidak lagi hanya menyerang lansia, tetapi mulai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

    Tingginya konsumsi makanan olahan, minuman energi berlebih, serta kurangnya asupan air putih membuat ginjal anak muda bekerja ekstra keras setiap hari. Jika memiliki riwayat hipertensi atau diabetes, pemeriksaan rutin setiap tahun adalah kewajiban untuk melihat risiko sakit ginjal.

    Dikutip dari National Kidney Foundation, berikut 10 gejala sakit ginjal yang sering diabaikan.

    Gejala sakit ginjal

    1. Cepat Lelah dan Sulit Konsentrasi

    Penurunan fungsi ginjal yang drastis menyebabkan penumpukan racun dan kotoran di dalam darah sehingga tubuh terasa cepat lemas. Selain itu, penyakit ginjal sering memicu anemia yang membuat aliran oksigen ke otak berkurang dan mengganggu konsentrasi.

    2. Gangguan Tidur di Malam Hari

    Saat ginjal tidak menyaring dengan benar, racun tetap tertinggal di dalam aliran darah alih-alih keluar melalui urine. Hal ini sering memicu gangguan tidur, bahkan penderita penyakit ginjal memiliki risiko lebih tinggi terkena sleep apnea dibandingkan populasi umum.

    3. Kulit Terasa Kering dan Gatal

    Ginjal bertugas menjaga keseimbangan mineral dan nutrisi dalam darah agar tulang tetap kuat. Kulit yang kering dan gatal secara terus-menerus bisa menjadi sinyal bahwa ginjal tidak lagi mampu menjaga keseimbangan mineral dan nutrisi di dalam tubuh.

    4. Frekuensi Buang Air Kecil Meningkat

    Jika merasa ingin kencing lebih sering, terutama di malam hari, ini bisa menjadi indikasi bahwa filter ginjal telah mengalami kerusakan. Kerusakan filter tersebut meningkatkan urgensi kandung kemih, meski terkadang gejala ini juga bisa merujuk pada infeksi saluran kemih atau masalah prostat.

    5. Darah dalam Urine

    Ginjal yang sehat biasanya menahan sel-sel darah tetap di dalam tubuh saat menyaring limbah untuk menjadi urine. Namun, ketika filter ginjal rusak, sel-sel darah mulai “bocor” keluar ke dalam urine dan bisa menjadi indikasi adanya batu ginjal, infeksi, atau tumor.

    6. Urine Berbusa secara Berlebihan

    Munculnya gelembung atau busa berlebih yang sulit hilang setelah disiram menandakan adanya protein (albumin) yang terbuang ke dalam urine. Protein ini sama dengan yang ditemukan pada telur, sehingga busa tersebut sering terlihat mirip dengan busa saat mengocok telur.

    7. Pembengkakan Persisten di Sekitar Mata

    Pembengkakan ini terjadi karena ginjal membocorkan protein dalam jumlah besar ke dalam urine alih-alih menyimpannya di dalam tubuh. Kondisi ini merupakan salah satu tanda awal bahwa sistem penyaringan ginjal sudah mulai mengalami kegagalan fungsi.

    8. Pembengkakan pada Pergelangan Kaki

    Menurunnya fungsi ginjal menyebabkan retensi natrium atau penumpukan garam yang memicu pembengkakan pada kaki dan pergelangan tangan. Selain masalah ginjal, pembengkakan di area bawah ini juga bisa berhubungan dengan penyakit jantung atau gangguan pembuluh darah kronis.

    9. Nafsu Makan yang Menurun Drastis

    Gejala ini bersifat umum, namun penumpukan racun (ureum) akibat fungsi ginjal yang merosot sering kali menjadi penyebab utama seseorang kehilangan selera makan. Kondisi ini jika dibiarkan akan membuat tubuh semakin lemah dan mempercepat penurunan berat badan secara drastis.

    10. Sering Mengalami Kram Otot

    Gangguan fungsi ginjal menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit yang sangat berpengaruh pada otot. Misalnya, kadar kalsium yang rendah atau kadar fosfor yang tidak terkontrol dengan baik dapat memicu kram otot yang menyakitkan di berbagai bagian tubuh.

    Halaman 2 dari 3

    (kna/kna)

  • Olahraga demi Gengsi, Apa Salahnya? Sehat Juga Bisa Berawal dari FOMO

    Olahraga demi Gengsi, Apa Salahnya? Sehat Juga Bisa Berawal dari FOMO

    Jakarta

    Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO juga terjadi dunia olahraga. Tren ini terlihat jelas pada olahraga yang sedang naik daun seperti padel, lari dan olahraga lainnya. Meski berawal dari ikut-ikutan, dokter menilai fenomena ini memiliki sisi positif yang besar, asalkan dilakukan dengan pemahaman yang tepat.

    Spesialis kebugaran dari EMC Healthcare, dr Anita Suryani, SpKO mengatakan FOMO olahraga sebagai kebiasaan positif dalam memotivasi orang lain untuk ikut hidup sehat.

    “Ini kan olahraga emang kebiasaan baik. Jadi ini positif, orang punya kebanggaan olahraga. Dan itu gak ada salahnya bikin orang lain juga pengen,” kata dr Anita, kepada detikcom pada Rabu (24/12/2025).

    Padel Terlihat Ringan, Tapi Bisa Jadi Berat Tanpa Disadari

    Padel kerap dianggap olahraga santai karena gerakannya terlihat ringan dan menyenangkan. Namun dokter mengingatkan, kesan “enteng” ini bisa menjadi berat.

    “Secara awal memang termasuk olahraga intensitas ringan. Tapi jangan salah, dalam kondisi tertentu bisa berubah jadi sedang bahkan berat,” ujar dr Anita.

    Apalagi jika lawan bermain cukup tangguh dan pertandingan berubah jadi adu gengsi atau “pertarungan harga diri”. Selain itu, intensitas dapat meningkat tanpa disadari.

    Tren Lama Tak Kehabisan Peminat

    Berbeda dengan padel, lari yang juga banyak peminatnya belakangan ini, dinilainya bukan tren baru. Popularitasnya mengalami peningkatan sejak pandemi COVID-19, saat banyak orang mulai sadar pentingnya kesehatan.

    “Waktu COVID, orang jadi suka lari, suka sepeda. Dan itu kebiasaan yang kebawa sampai sekarang,” kata dr Anita.

    Ditambah lagi maraknya olahraga yang fleksibel dilakukan secara sendiri maupun ramai-ramai dalam event yang diikuti publik figur. Tren lari disebutnya lebih long lasting karena hal tersebut.

    Boleh FOMO Asal Jangan Abaikan Kondisi Tubuh

    Pemula juga perlu menyesuaikan intensitas, kondisi fisik, dan tujuan pribadi. FOMO seharusnya menjadi pemicu awal, bukan tekanan.

    “Pada akhirnya, kesehatan dan kebugaran itu harta. Harta yang bikin orang iri, tapi nggak bisa dicuri,” tutupnya.

    @detikhealth_official Basral Graito: “Jangan nyerah kalau ngulik trick” Banyak pemula buru-buru pengen trik keren tapi lupa safety. Tag temen lo yang baru belajar main board! 👇 @Basre🆖 #SkateSafety #BasralGraito #SkateIndo #TipsSkater #PemulaSkate ♬ Get on the Foot – Hyperstring

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Mengenal Padel, Olahraga yang Kini Lagi Digandrungi Kaum Urban”
    [Gambas:Video 20detik]
    (rfd/up)

  • Ini yang Terjadi pada Tekanan Darah Jika Jalan Kaki 10 Ribu Langkah Tiap Hari

    Ini yang Terjadi pada Tekanan Darah Jika Jalan Kaki 10 Ribu Langkah Tiap Hari

    Jakarta

    Target 10 ribu langkah mungkin lebih familiar di dunia kesehatan. Tapi, seberapa besar dampaknya pada tekanan darah?

    Menurut para ahli jantung, berjalan kaki secara rutin, bahkan sebelum mencapai 10 ribu langkah, sudah memberi efek nyata pada tekanan darah. Jalan kaki termasuk olahraga aerobik yang memperkuat jantung.

    Jantung yang lebih kuat memompa darah lebih efisien, sehingga tekanan pada pembuluh darah menurun dan tekanan darah lebih stabil. Aktivitas ini juga menyehatkan pembuluh darah.

    Dikutip dari laman Eating Well, jalan kaki merangsang pelepasan oksida nitrat yang membantu pembuluh darah lebih rileks dan elastis, memperlancar aliran darah, serta menurunkan tekanan darah sistolik. Selain itu, jalan cepat efektif menekan hormon stres seperti kortisol yang diketahui berperan dalam kenaikan tekanan darah.

    Manfaat lain juga bisa membantu mengendalikan berat badan. Jalan kaki rutin membantu sensitivitas insulin, mengurangi lemak tubuh dan peradangan, yang pada akhirnya berkontribusi pada penurunan tekanan darah.

    Bahkan penurunan berat badan kecil, sekitar 2-5 kg, sudah bisa berdampak signifikan.

    Lalu, Apakah Harus 10 Ribu Langkah?

    Riset menunjukkan manfaat sudah terlihat sejak 7.000 langkah per hari, dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular hingga sekitar 25 persen. Setiap tambahan 1.000 langkah dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung dan stroke.

    Namun, manfaat tambahan cenderung melandai setelah mendekati 10 ribu langkah.

    Kecepatan juga ikut berperan. Jalan cepat terbukti lebih efektif menurunkan tekanan darah dibanding berjalan santai.

    Hal yang tak kalah penting adalah konsistensi. Langkah harian, meski diakumulasikan dari beberapa sesi singkat, lebih berdampak bila dilakukan rutin dalam jangka panjang.

    Kesimpulannya, 10 ribu langkah adalah target yang baik, tapi bukan keharusan. Menambah beberapa ribu langkah dari kebiasaan harian saja sudah membantu menurunkan tekanan darah dan menjaga kesehatan jantung.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • New York Dihantam Infeksi ‘Super Flu’, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

    New York Dihantam Infeksi ‘Super Flu’, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

    Jakarta

    New York kini tengah menghadapi krisis kesehatan serius di tengah puncak musim libur akhir tahun. Departemen Kesehatan New York melaporkan lonjakan kasus flu yang mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, dengan 71.123 kasus positif tercatat hanya dalam satu minggu per 20 Desember.

    Kondisi di New York hanyalah puncak gunung es dari situasi di Amerika Serikat. Saat ini, New York termasuk dalam 14 negara bagian dengan tingkat aktivitas kunjungan medis akibat penyakit serupa flu (influenza-like illness) yang masuk kategori “Sangat Tinggi.”

    Munculnya Varian Baru: Subclade K

    Diberitakan USA Today, pemicu kekhawatiran utama para ahli tahun ini adalah munculnya jenis flu baru yang disebut Subclade K, sebuah variasi dari virus Influenza A(H3N2).

    Varian ini sebelumnya telah menyebabkan wabah besar di Inggris, Jepang, dan Kanada.

    Pejabat kesehatan khawatir bahwa vaksin flu tahun ini mungkin tidak sepenuhnya cocok (mismatch) dengan varian baru tersebut. Namun, para ahli meyakini bahwa vaksin yang ada masih mampu memberikan perlindungan penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih parah atau mematikan.

    “Namun yang jelas adalah kasusnya meningkat, dan kita melihat banyak kasus influenza meningkat di seluruh negeri, dan itu adalah tren yang pasti akan berlanjut hingga tahun baru,” kata Andrew Pekosz, yang merupakan salah satu direktur Johns Hopkins Center of Excellence dalam penelitian dan respons influenza.

    Situasi Mengkhawatirkan di Seluruh AS

    Berdasarkan estimasi terbaru dari CDC, musim flu kali ini telah menyebabkan setidaknya 4,6 juta orang jatuh sakit.

    Sementara itu tercatat 49.000 pasien harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan 1.900 angka kematian, dengan tiga di antaranya adalah anak-anak.

    Di New York City, kunjungan ke ruang gawat darurat rumah sakit dengan diagnosis flu terus merangkak naik. Jennifer Nuzzo, pakar epidemiologi dari Brown University, memperingatkan bahwa kita mungkin sedang menuju musim flu yang sangat berat atau “doozy,” terutama karena data yang terbatas dan rendahnya tingkat vaksinasi tahun ini.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video WHO soal Influenza Varian Baru: Tak Menunjukkan Peningkatan Keparahan”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Nggak Sarapan Vs Skip Makan Malam, Mana yang Lebih Efektif Enyahkan Buncit?

    Nggak Sarapan Vs Skip Makan Malam, Mana yang Lebih Efektif Enyahkan Buncit?

    Jakarta

    Intermittent fasting kerap dipilih sebagai cara untuk menurunkan berat badan. Tetapi, masih banyak yang bingung, lebih efektif mana melewatkan sarapan atau skip makan malam?

    Dokter dari University Medical Center HCMC, Dr Pham Anh Ngan, menjelaskan intermittent fasting, khususnya metode time-restricted eating atau makan dengan batasan waktu, terbukti membantu penurunan berat badan. Selain itu, metode ini juga bisa memperbaiki sejumlah indikator kesehatan.

    Menurutnya, pola makan utama setiap orang bisa berbeda, tergantung kebiasaan. Ada yang menjadikan sarapan sebagai makan besar, sementara sebagian lainnya makan malam justru menjadi waktu asupan terbesar dengan kandungan protein dan sayur yang lebih banyak.

    “Melewatkan sarapan atau makan malam sama-sama punya manfaat dan risiko terhadap metabolisme,” jelasnya, dikutip dari VNExpress.

    Kata Studi Melewatkan Makan Malam

    Sejumlah studi menunjukkan mengurangi atau melewatkan makan malam cenderung memberikan dampak lebih besar dalam menurunkan total asupan kalori harian, sehingga dinilai lebih potensial untuk penurunan berat badan. Tetapi, kebiasaan ini juga memiliki risiko.

    Melewatkan makan malam dapat memperlambat metabolisme, meningkatkan risiko kekurangan nutrisi, mengganggu kualitas tidur, memicu rasa lapar berlebihan, hingga menurunkan daya tahan tubuh bila dilakukan tidak tepat.

    Melewatkan Sarapan

    Sementara itu, melewatkan sarapan bisa membuat sebagian orang merasa lebih segar dan fokus di siang hari. Tetapi, rasa lapar yang muncul sering kali berujung pada pilihan makanan kurang sehat, seperti konsumsi makanan manis dan berlemak secara berlebihan di waktu berikutnya.

    Penelitian juga menunjukkan melewatkan sarapan secara berkala dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Meski begitu, respons gula darah dan insulin pada makan terakhir dalam sehari justru cenderung memburuk.

    Secara keseluruhan, Dr Ngan menekankan bahwa melewatkan waktu makan atau menjalani intermittent fasting tetap membawa manfaat sekaligus risiko kesehatan. Ia juga mengingatkan bahwa beberapa jenis makanan sehat biasanya dikonsumsi di waktu tertentu, seperti susu dan biji-bijian utuh saat sarapan, serta sayuran dan protein saat makan malam.

    Karena itu, keputusan melewatkan sarapan atau makan malam sebaiknya bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan respons tubuh masing-masing. Bagi pekerja kantoran yang beraktivitas dan berpikir intens di siang hari, sarapan tetap penting untuk menjaga energi otak dan tubuh.

    Untuk menurunkan berat badan secara aman dan efektif, Dr Ngan menyarankan pola makan yang memperbanyak sayuran dan protein nabati, disesuaikan dengan kebutuhan individu dan rutinitas olahraga, serta mengurangi asupan karbohidrat sederhana.

    “Konsultasi dengan ahli gizi bisa membantu memastikan program penurunan berat badan berjalan aman, efektif, dan sesuai dengan kondisi fisik serta tuntutan pekerjaan,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Ini Menu Sarapan Kukusan ala Gen Z”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/kna)