Foto Health
Tripa Ramadhan – detikHealth
Senin, 29 Des 2025 18:45 WIB
Tasikmalaya – Siswa di Tasikmalaya tetap menerima Makan Bergizi Gratis meski libur sekolah. Program ini memastikan asupan gizi anak tetap terpenuhi selama masa liburan.

Asah Otak
Aida Adha Siregar – detikHealth
Senin, 29 Des 2025 18:05 WIB
Jakarta – Kalau merasa cukup jago hitung-hitungan, coba kerjakan soal-soal berikut dalam hitungan detik. Banyak yang terlihat mudah, tapi hasil akhirnya sering meleset.

Jakarta –
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan sederet kelompok yang rentan terhadap infeksi ‘super flu’ dari varian subclade K, sebuah cabang mutasi virus Influenza A (H3N2). Sebelumnya, di Amerika Serikat tengah dihebohkan dengan merebaknya penyakit ini karena menyebabkan 71 ribu warga New York terinfeksi dalam sepekan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K) menjelaskan infeksi ‘super flu’ memiliki gejala yang mirip dengan influenza A pada umumnya. Namun, memang pada kelompok rentan, tingkat keparahan infeksi dapat meningkat.
“Kelompok risiko tinggi kalau dari segi usia, kelompok risiko tinggi ada dua, yang pertama adalah balita, kemudian lansia, itu adalah kelompok risiko tinggi kalau terkena infeksi influenza, dia bisa menimbulkan keparahan yang lebih tinggi daripada kelompok pasien yang lain,” ungkap dr Nastiti dalam konferensi pers IDAI secara daring, Senin (29/12/2025).
Kelompok rentan lainnya adalah orang dengan komorbid atau penyakit penyerta. Infeksi subclade K dapat memperparah kondisi kesehatan pasien yang sebelumnya sudah memiliki penyakit.
Beberapa penyakit yang dimaksud seperti penyakit jantung, penyakit jantung bawaan pada anak, pasien kanker, hingga pasien dengan HIV.
“Kemudian juga, pasien dengan obat-obat yang menekan imun tubuh, seperti pada HIV dan autoimun. Kemudian dengan penyakit golongan rematik dan lain-lain, dia kelompok risiko tinggi,” tandas dr Nastiti.
Ketua IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso ikut mengingatkan para orang tua untuk lebih memperhatikan kesehatan anak.
Meski memiliki sebutan ‘super flu’, bukan berarti penyakit ini pasti berbahaya. Namun, infeksi super flu dapat berakibat berat pada kelompok-kelompok rentan.
“Subclade K ini memang agak sulit dikenali dan bisa menembus kekebalan yang sudah ada sebelumnya,” kata dr Piprim.
“Pada anak-anak, kejadian influenza tipe A apabila mengenai anak dengan penyakit bawaan atau komorbid, dampaknya bisa jauh lebih serius dibandingkan anak tanpa komorbid,” tutupnya.
Halaman 2 dari 2
(avk/up)
Ancaman Superflu di Musim Libur
6 Konten
Belakangan ini, istilah “Super Flu” mendadak ramai di dunia medis. Hal ini dipicu oleh kemunculan varian terbaru dari influenza A (H3N2) atau disebut Subclade K. Varian ini sudah merebak di sejumlah negara.
Konten Selanjutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

Jakarta –
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang menghadapi lonjakan kasus flu, diduga imbas temuan varian baru subclade K. Dalam sepekan, tercatat lebih dari 70 ribu kasus.
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim B Yanuarso ikut meminta para orangtua memerhatikan kondisi anak.
“Subclade K ini memang agak sulit dikenali dan bisa menembus kekebalan yang sudah ada sebelumnya,” kata dia, dalam media briefing Senin (29/12/2025).
Varian ini disebutnya kerap dianggap ‘super flu’, bukan karena selalu mematikan, tetapi gejalanya bisa lebih berat, terutama bila menyerang kelompok rentan seperti anak-anak dengan penyakit penyerta, termasuk diabetes hingga obesitas.
“Pada anak-anak, kejadian influenza tipe A apabila mengenai anak dengan penyakit bawaan atau komorbid, dampaknya bisa jauh lebih serius dibandingkan anak tanpa komorbid,” lanjutnya.
Mereka yang mengidap penyakit jantung bawaan, gangguan paru kronis, gangguan metabolik, kelainan saraf, hingga gangguan imunitas juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami perburukan saat terpapar ‘super flu’ subclade K.
Terlebih, kondisi lingkungan disoroti dr Piprim saat ini kurang ideal. Banjir dan bencana alam di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan Selatan juga menjadi potensi percepatan penyebaran penyakit menular.
“Kita sedang menghadapi banjir dan banyak bencana di beberapa wilayah. Kita turut prihatin terhadap saudara-saudara kita dan jangan sampai kondisi ini diperberat dengan tambahan kasus influenza,” kata dr Piprim.
Menghadapi ancaman super flu, IDAI menekankan pentingnya kembali menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Berkaca pada pengalaman panjang selama pandemi COVID-19.
“Setiap penyakit menular, hal pertama yang harus kita kerjakan adalah PHBS. Kita sudah punya pengalaman pandemi COVID-19, jadi kebiasaan seperti memakai masker, menjaga kebersihan, dan menghindari kerumunan saat musim penyakit itu sangat penting,” ujar dr Piprim.
Langkah sederhana seperti mencuci tangan, etika batuk, menjaga jarak saat anak sedang tidak fit, serta penggunaan masker di kondisi tertentu dinilai masih sangat relevan.
Imbauan Vaksinasi, Anak dan Bumil
Selain PHBS, IDAI kembali mengingatkan pentingnya vaksinasi influenza, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Vaksin influenza direkomendasikan untuk anak mulai usia 6 bulan ke atas.
“Bagaimana kita mengingatkan kembali vaksinasi influenza pada anak-anak mulai usia enam bulan. Ini penting untuk mencegah gejala berat,” kata dia.
Tak hanya anak, vaksinasi pada ibu hamil juga dinilai krusial. Vaksin influenza yang diberikan saat kehamilan dapat memberikan perlindungan pasif bagi bayi, terutama bayi muda dan bayi prematur yang belum bisa mendapatkan imunisasi sendiri.
“Pemberian vaksin pada ibu hamil bisa melindungi bayi-bayi muda, apalagi bayi prematur, agar tetap terlindungi,” tambahnya.
“Pada anak dengan komorbid, menjaga nutrisi yang adekuat dan mengontrol penyakit penyertanya sangat membantu dalam mengurangi beratnya gejala jika terinfeksi influenza,” tutupnya.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video WHO soal Influenza Varian Baru: Tak Menunjukkan Peningkatan Keparahan”
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)
Ancaman Superflu di Musim Libur
6 Konten
Belakangan ini, istilah “Super Flu” mendadak ramai di dunia medis. Hal ini dipicu oleh kemunculan varian terbaru dari influenza A (H3N2) atau disebut Subclade K. Varian ini sudah merebak di sejumlah negara.
Konten Selanjutnya
Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

Jakarta –
Sebuah unggahan di platform X viral setelah memperlihatkan foto salah satu rumah sakit di Malaysia yang memiliki ruangan khusus untuk pasien Indonesia.
“Tadi buat medical check up kat Sunway. They even have a special office for Indonesian patients now,” tulis salah satu akun, dikutip Senin (29/12/2025).
Unggahan tersebut menuai beragam respons warganet. Tidak sedikit dari mereka mempertanyakan kualitas layanan kesehatan dalam negeri, sementara yang lain menilai fenomena ini sebagai bukti kuat masih banyak masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri.
Prof Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menilai ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.
“Fenomena ini tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Kita perlu pendekatan ilmiah yang sistematis dan berbasis bukti,” kata Prof Tjandra kepada detikcom, Senin (29/10).
Menurut Prof Tjandra, langkah pertama yang paling penting adalah melakukan analisis ilmiah yang mendalam untuk memahami alasan masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri.
“Kenapa masyarakat berobat ke luar negeri harus dianalisis dengan kaidah ilmiah yang baik dan benar. Dengan pendekatan evidence-based, kita bisa mengetahui penyebab sebenarnya dan jalan keluarnya,” ujarnya.
Tanpa data dan analisis berbasis bukti, lanjut dia, diskusi publik hanya akan berputar pada asumsi dan emosi, tanpa menghasilkan solusi nyata.
Prof Tjandra juga menekankan peningkatan mutu layanan rumah sakit dalam negeri harus dilakukan secara konsisten dan berkala. Indonesia disebutnya sudah memiliki sistem akreditasi nasional, bahkan sebagian rumah sakit telah mengantongi akreditasi internasional.
“Kalau sudah mencapai derajat akreditasi tertentu tapi pelayanan masih dianggap belum baik, maka perlu dicek. Apakah sistem jaga mutu berkelanjutan yang belum berjalan, atau justru sistem akreditasinya yang belum menjamin mutu layanan,” jelasnya.
Pesan Hindari Saling Menyalahkan
Isu berobat ke luar negeri kerap memunculkan polemik antara pembuat kebijakan dan tenaga kesehatan di lapangan. Menurut Prof Tjandra, kondisi ini justru kontraproduktif.
“Menjaga keharmonisan antara penentu kebijakan publik dan pelaksana pelayanan kesehatan itu penting. Kalau saling menyalahkan, atmosfernya jadi tidak sehat dan tidak membantu perbaikan layanan,” katanya.
Ia menilai, perbaikan sistem kesehatan hanya bisa berjalan jika semua pihak duduk bersama dan berbicara dalam kerangka solusi.
Harga Obat dan Alkes
Selain pelayanan medis langsung, Prof Tjandra menyoroti faktor non-medis yang sangat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap layanan kesehatan dalam negeri.
“Sudah sering muncul berita kenapa harga obat di Indonesia lebih mahal dibanding banyak negara lain, tapi sampai sekarang belum ada kebijakan nyata yang membuat harga obat lebih murah,” ujarnya.
Belum lagi, kata dia, persoalan pajak alat kesehatan dan biaya pendukung lain yang pada akhirnya membebani pasien. Aspek-aspek ini kerap menjadi alasan mengapa biaya berobat di luar negeri terasa lebih ‘masuk akal’ bagi sebagian masyarakat.
Prof Tjandra menilai Indonesia juga tidak cukup hanya memperbaiki layanan di dalam rumah sakit. Ia mendorong adanya strategi pemasaran layanan kesehatan agar Indonesia juga bisa menjadi tujuan berobat bagi warga negara asing.
“Perlu dipikirkan kemudahan di bandara, transportasi, bahkan kemudahan imigrasi bila diperlukan. Juga menjelaskan ke luar negeri layanan kesehatan apa saja yang kita miliki,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan semata tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk pariwisata, perhubungan, dan imigrasi.
“Kalau kita ingin masyarakat berobat di dalam negeri, maka semua aspek itu harus dibenahi bersama,” tutup Prof Tjandra.
Halaman 2 dari 2
(naf/naf)

Jakarta –
Kadar gula darah yang tinggi sering menjadi masalah kesehatan serius, terutama bagi pengidap diabetes atau mereka yang berisiko mengalaminya. Pola makan memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan gula darah dan membantu mengendalikannya.
Pemilihan makanan yang tepat dapat membantu tubuh mencegah lonjakan gula darah. Karena itu, mengenali berbagai jenis makanan yang dapat membantu menurunkan gula darah menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.
10 Makanan Penurun Gula Darah untuk Pengidap Diabetes
Berikut beberapa makanan yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah.
Brokoli yang dipotong atau dikunyah akan menghasilkan senyawa bernama sulforaphane, sejenis isothiocyanate yang diketahui memiliki efek membantu menurunkan kadar gula darah.
Dikutip dari laman Healthline, sejumlah studi tabung reaksi, penelitian pada hewan, serta beberapa studi pada manusia menunjukkan bahwa ekstrak brokoli yang kaya sulforaphane memiliki efek antidiabetes. Senyawa ini dilaporkan dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan kadar gula darah, serta mengurangi penanda stres oksidatif.
Salmon kaya akan vitamin D. Dikutip dari laman Everyday Health, mendapatkan asupan vitamin D yang cukup sangatlah penting, sebab kadar vitamin D yag rendah dikaitkan dengan diabetes tipe 2.
Salmon juga merupakan sumber asam lemak omega-3 yang baik. Menurut American Heart Association (AHA), asam lemak omega-3 dalam ikan berlemak seperti salmon bisa meningkatkan kesehatan jantung yang penting untuk pengidap diabetes.
Dikutip dari laman Very Well Health, kacang-kacangan, seperti almond mengandung lemak tak jenuh yang sehat. Menurut penelitian, jenis lemak ini membantu mengontrol kadar gula darah dengan membatasi resistensi insulin. Studi menunjukkan, kadar gula darah menurun saat peserta dengan dan tanpa diabetes tipe 2 mengonsumsi kacang-kacangan sebelum makanan kaya karbohidrat yang biasanya menyebabkan lonjakan gula darah.
Dikutip dari lama Mayo Clinic, almond mengandung serat yang merupakan nutrisi penting bagi pengidap diebetes karena bisa membantu memperbaiki kadar gula darah, dengan memperlambat penyerapan gula.
Kale mengandung berbagai senyawa yang bisa membantu menurunkan kadar gula darah. Sebuah studi yang melibatkan 42 orang dewasa Jepang menunjukkan bahwa konsumsi 7 atau 14 g makanan yang mengandung kale bersamaan dengan makanan tinggi karbohidrat menurunkan kadar gula darah setelah maka secara signifikan, dibandingkan dengan plasebo.
Penelitian menunjukkan bahwa antioksidan flavonoid dalam kale, termasuk quercetin dan kaempferol mempunyai efek ampuh dalam menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Alpukat bisa memberikan manfaat signifikan untuk pengaturan gula darah. Buah ini kaya akan lemak sehat, serat, vitamin, serta mineral.
Banyak penelitian menemukan, alpukat bisa membantu menurunkan kadar gula darah dan melindungi tubuh dari perkembangan sindorm metabolk melalui penurunan lemak tubuh. Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi, seperti tekanan darah tinggi dan kadar gula darah yang meningkat, yang bisa meningkatkan risiko penyakit kronis.
Telur merupakan sumber protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang terkonsentrasi. Beberapa penelitian mengaitkan konsumsi telur dengan pengaturan gula darah yang lebih baik.
Sebuah penelitian pada 42 orang dewasa dengan obesitas dan mengidap pradiabetes atau diabetes tipe 2 menunjukkan bahwa mengonsumsi satu butir telur besar per hari selama 12 minggu menyebabkan penurunan kadar gula darah puasa yang signifikan. Selain itu, ada peningkatan sensitivitas insulin dibandingkan dengan pengganti telur.
Buah beri mengandung serat, vitamin, mineral, dan antioksidan. Kandungan ini menjadikannya pilihan yang sangat baik bagi orang-orang yang memiliki masalah pengelolaan gula darah.
Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi 2 cangkir atau 250 g raspberry merah bersamaan dengan makanan tinggi karbohidrat secara signifkan mengurangi insulin dan gula darah setelah makan pada orang dewasa dengan pradiabetes, dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Tak hanya raspberi, penelitian menunjukkan, stroberi, blueberry, dan blackberry bisa bermanfaat untuk mengelola gula darah. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki proses pembuangan glukosa dari aliran darah.
Jeruk merupakan sumber pektin yang sangat baik, yaitu serat larut yang terbukti bisa menurunkan kadar kolesterol LDL. Jeruk juga mengandung nutrisi penting seperti vitamin C.
Buah-buahan sitrus, seperti jeruk kaya akan serat dan mengandung senyawa tumbuhan seperti narinngenin, yaitu polifenol dengan khasiat antidiabetes yang kuat.
Pare adalah salah satu makanan tinggi serat dan rendah gula. Sayuran ini bisa membantu menurunkan kadar gula darah atau glukosa secara alami.
Pare mempunyai insulin versinya sendiri, yaitu polipeptida-P. Studi menemukan bahwa bahan kimia tersebut bisa membantu mengatur kadar gula darah pada orang dengan diabetes.
Memasukkan oat ke dalam pola makan bisa membantu memperbaiki kadar gula darah, berkat kandungan serat larutnya yang tinggi. Hal ini terbukti memiliki efek kuat dalam menurunkan gula darah. Sebuah studi kecil pada tahun 2016 yang melibatkan 10 orang menemukan bahwa mengonsumsi sekitar 200 ml air yang dicampur 30 gram dedak oat sebelum makan roti putih bisa menekan lonjakan gula darah setelah makan, dibandingkan dengan minum air putih saja.
Ditinjau oleh: Mhd. Aldrian, S.Gz, lulusan Ilmu Gizi Universitas Andalas, saat ini menjadi penulis lepas di detikcom.
(elk/suc)

Jakarta –
Media sosial dihebohkan dengan sebuah unggahan yang menunjukkan salah satu rumah sakit di Malaysia menjadi destinasi banyak warga negara Indonesia (WNI). Bahkan, rumah sakit tersebut memiliki ruangan khusus dengan waktu konsultasi dari Senin hingga Sabtu.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 melaporkan bahwa Malaysia memang menjadi negara tujuan terbanyak bagi WNI yang ingin berobat ke luar negeri. Secara umum, 1 dari 1.000 rumah tangga pernah mengakses layanan kesehatan luar negeri.
“Kita menambahkan satu variabel baru dalam SKI ini yaitu mengenai akses kesehatan masyarakat Indonesia ke luar negeri. Kita temukan bahwa satu dari 1.000 rumah tangga Indonesia pernah mengakses kesehatan ke luar negeri dalam tiga tahun terakhir,” kata Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI Syarifah Liza Munira dalam acara Diseminasi Hasil SKI 2023 beberapa waktu lalu.
“Utamanya adalah untuk melakukan medical check up (MCU). Dari negara-negara yang diakses, yang paling banyak dituju yaitu Malaysia,” sambungnya.
Syarifah lebih lanjut menyebutkan ada berbagai alasan yang membuat masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri. Hal tersebut meliputi fasilitas yang dianggap lebih lengkap, layanan yang sesuai harapan, hingga layanan yang dinilai lebih cepat, tepat, serta akurat.
“Ini menjadi informasi bagi kita semua pengampu sektor kesehatan Indonesia untuk mengetahui persis kebutuhan masyarakat dan bisa memberikan layanan di Indonesia sesuai ekspektasi masyarakat,” katanya.
Selain ketiga alasan tersebut, beberapa alasan lain yang membuat masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri adalah karena ruangan yang dianggap lebih nyaman, petugas komunikatif, akses lebih terjangkau, hingga sebagian responden menyebut biaya berobat di luar negeri lebih murah.
Senada, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan faktor non-klinis masih menjadi alasan mengapa banyak WNI memilih berobat ke negeri tetangga.
“Lebih ke faktor non klinis medis. Soal persepsi, mencari second opinion dan testimoni layanan yang merasa lebih baik, cepat dan nyaman,” kata Aji saat dihubungi detikcom, Senin (29/12/2025).
Aji mengatakan pemerintah telah memiliki strategi khusus untuk menekan angka pasien yang berobat ke LN, sehingga perlahan juga ‘menutup’ kebocoran devisa.
“Strategi ke depan untuk menekan pasien berobat ke luar negeri yakni dengan membangun ekosistem pelayanan kesehatan dengan pembangunan RS berkelas internasional dengan bangunan, fasilitas, alkes dan SDM kesehatannya,” kata Aji.
“Selain itu juga memajukan program wisata medis, di mana terdapat 3 pilar dari sektor kesehatan, yaitu mutu dan keselamatan pasien, kepercayaan dan keberlanjutan, serta akselerasi pasar melalui kolaborasi dan inovasi,” tutupnya.
Halaman 2 dari 2
(dpy/kna)

Jakarta –
Dari tahun ke tahun, tren diet terus bermunculan dan silih berganti viral di media sosial. Mulai dari diet rendah karbohidrat, puasa ekstrem, hingga metode diet yang menjanjikan penurunan berat badan cepat.
Meski sama-sama mengklaim efektif, tidak semua tren diet aman untuk kesehatan jika dijalankan tanpa pemahaman yang tepat.
Dokter spesialis gizi dr Nathania Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo mengatakan tren diet seharusnya tidak diikuti secara ekstrem. Karena perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing.
“Karena diet harus personalized. Secara umum, kalau dietnya menjanjikannya klaimnya terlalu ekstrem, takutnya nggak aman,” kata dr Nathania kepada detikcom di Jakarta Pusat, pada Selasa (17/12/2025).
Menurut dr Nathania, tidak ada batas angka pasti untuk menilai apakah suatu diet tergolong ekstrem atau tidak. Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi peringatan awal. Salah satunya dilihat dari perhitungan massa otot dan hasil dari prosesnya.
“Perlu mengukur massa otot. Jadi kalo dietnya itu menyebabkan ototnya hilang atau turun, nah itu yang bahaya,” ucapnya.
Selain itu, diet dengan pembatasan kalori yang terlalu ekstrem dan klaim hasil yang terdengar too good to be true juga patut dicurigai. Apalagi kalau efeknya bikin tubuh yang tadinya segar malah jadi lemas.
Dari berbagai tren diet yang pernah viral, dr Nathania menilai water fasting sebagai salah satu metode yang paling tidak aman. Diet ini hanya mengandalkan konsumsi air putih tanpa asupan makanan.
“Bernapas aja kita membutuhkan energi. Kalau hanya minum air, tubuh bisa berubah ke mode emergency atau bertahan hidup. Akhirnya ototnya yang dibuang,” katanya.
Sementara itu, dr Nathania menilai metode intermittent fasting masih tergolong lebih realistis dan relatif aman jika dijalankan dengan benar. Pola ini mengatur waktu makan tanpa menghilangkan asupan nutrisi penting.
“Sejauh ini, yang paling realistis dan aman adalah intermittent fasting. Kecuali yang punya asam lambung,” tutupnya.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video: Berat Badan Hanya 22 Kg, Wanita Ini Meninggal Usai Diet Ekstrem”
[Gambas:Video 20detik]
(rfd/up)

Jakarta –
Belakangan ini, istilah “Super Flu” mendadak ramai di dunia medis. Hal ini dipicu oleh kemunculan varian flu baru bernama Subclade K yang mendominasi kasus di Inggris, Jepang, hingga sebagian wilayah Amerika Serikat. Bahkan varian ini disebut memicu 71 ribu warga New York terinfeksi dalam sepekan.
Apa itu ‘Super Flu’ Subclade K?
Subclade K sebenarnya merupakan cabang mutasi terbaru dari virus Influenza A (H3N2) yang sudah bersirkulasi selama puluhan tahun. Para ilmuwan pertama kali mendeteksinya pada Juni 2025 dan sejak saat itu, virus ini menyebar dengan sangat cepat.
Kehadirannya yang bertepatan dengan musim flu yang datang 4-5 minggu lebih awal dari biasanya di beberapa negara seperti Inggris dan Norwegia, membuatnya terlihat lebih agresif.
“Memang benar jenis H3 ini baru secara genetik, namun flu selalu berevolusi secara konsisten setiap waktu. Saat ini belum ada sinyal bahwa ada sesuatu yang luar biasa atau aneh dari cara virus ini berevolusi,” jelas Prof. Nicola Lewis Direktur World Influenza Centre di London dikutip dari laman GAVI.
Benarkah lebih ganas?
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah apakah mutasi pada Subclade K mampu menembus sistem imun atau vaksin yang ada saat ini. Kabar baiknya, hasil laboratorium menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh manusia masih mampu mengenali varian ini dengan baik.
Vaksin flu tahun ini pun dinyatakan masih memberikan perlindungan yang sangat berarti, terutama dalam mencegah gejala berat dan rawat inap.
Meski begitu, para pakar tetap mewaspadai H3N2 karena jenis ini secara historis memang cenderung menyebabkan gejala yang lebih berat pada kelompok lansia dibandingkan jenis flu lainnya.
Di sisi lain, pakar kesehatan dari Inggris, Dr. Alex Allen, mengingatkan bahwa flu tetaplah virus yang sulit ditebak.
“Meskipun di beberapa negara angka infeksinya mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, risiko adanya “puncak kedua” di awal tahun baru masih sangat mungkin terjadi,” kata dia.
Lihat Video ‘WHO soal Influenza Varian Baru: Tak Menunjukkan Peningkatan Keparahan’:
Halaman 2 dari 2
(kna/kna)