Category: Detik.com Kesehatan

  • Kemenkes Ungkap 5 Penyakit dengan Kasus Tertinggi Sepanjang 2025, ISPA Nomor 1

    Kemenkes Ungkap 5 Penyakit dengan Kasus Tertinggi Sepanjang 2025, ISPA Nomor 1

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap lima penyakit dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang tahun 2025 berdasarkan sistem surveilans nasional. Data ini menunjukkan bahwa penyakit infeksi masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat, terutama di tengah dinamika cuaca, kepadatan penduduk, dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang belum merata.

    Lima penyakit dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang 2025 meliputi:

    Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA): 14.506.235 kasusDiare akut: 3.774.195 kasusInfluenza Like Illness (ILI): 1.692.642 kasusSuspek demam tifoid: 914.132 kasusPneumonia: 753.712 kasus

    1. ISPA

    ISPA menempati posisi teratas dengan lebih dari 14,5 juta kasus sepanjang 2025. Kemenkes mencatat, pelaporan kasus ISPA cenderung meningkat saat musim hujan atau musim dingin, ketika suhu lebih rendah dan kelembapan udara tinggi, kondisi yang mendukung penularan virus dan bakteri pernapasan.

    Selain faktor cuaca, penurunan cakupan vaksinasi juga menjadi perhatian. Jika cakupan imunisasi menurun, risiko infeksi meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

    Secara geografis, provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi adalah:

    Jawa Barat: 2.527.302 kasus

    Jawa Tengah: 2.292.627 kasus

    DKI Jakarta: 1.845.882 kasus

    Jawa Timur: 1.337.901 kasus

    Banten: 827.325 kasus

    2. Diare akut

    Penyakit kedua terbanyak adalah diare akut dengan total 3.774.195 kasus. Kemenkes mencatat, jumlah kasus diare akut mengalami kenaikan pada 2024 hingga awal 2025 dibandingkan tahun 2023.

    Pola kasus diare akut relatif konsisten sepanjang tahun, sehingga besar kemungkinan penyakit ini tidak terlalu dipengaruhi oleh pola musiman, melainkan lebih berkaitan dengan faktor sanitasi, kualitas air, dan kebersihan makanan.

    Provinsi dengan kasus diare akut tertinggi meliputi:

    Jawa Barat: 667.709 kasus

    Jawa Tengah: 542.065 kasus

    Jawa Timur: 512.924 kasus

    DKI Jakarta: 317.688 kasus

    Banten: 228.179 kasus

    3. Influenza like illness (ILI)

    Kemenkes mencatat 1.692.642 kasus influenza like illness (ILI) sepanjang 2025. Dalam empat pekan terakhir, kasus ILI dilaporkan berfluktuasi, tetapi menunjukkan tren peningkatan secara nasional.

    Peningkatan ini dinilai relatif konsisten dan kemungkinan tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh pola musim. Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah penurunan cakupan vaksin influenza, yang berpotensi meningkatkan risiko penularan di masyarakat.

    Terbanyak di wilayah berikut:

    Jawa Timur: 448.894 kasus

    Jawa Barat: 233.156 kasus

    Jawa Tengah: 229.439 kasus

    Sumatera Utara: 196.572 kasus

    Aceh: 63.943 kasus

    4. Suspek demam tifoid

    Kasus suspek demam tifoid tercatat mencapai 914.132 kasus sepanjang 2025. Tren peningkatan terlihat perlahan sejak minggu ke-34 tahun 2024 hingga awal Mei 2025, dan kembali meningkat pada minggu ke-29 sampai minggu ke-41 tahun 2025.

    Kemenkes menilai sanitasi dan kebersihan yang buruk serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan PHBS menjadi faktor utama peningkatan kasus.

    Provinsi dengan kasus suspek demam tifoid tertinggi meliputi:

    Jawa Barat: 182.245 kasus

    Jawa Timur: 179.950 kasus

    Jawa Tengah: 168.952 kasus

    DKI Jakarta: 59.201 kasus

    Banten: 49.299 kasus

    5. Pneumonia

    Penyakit kelima terbanyak adalah pneumonia, dengan total 753.712 kasus sepanjang 2025. Kemenkes mencatat, peningkatan kasus pada awal 2025 salah satunya dipengaruhi oleh meningkatnya kapasitas unit pelapor dalam mencatat penyakit secara lebih optimal.

    Secara historis, pneumonia menunjukkan keterkaitan dengan faktor iklim:

    Tahun 2023, peningkatan terjadi sejak minggu ke-34 akibat El Nino

    Awal 2024, kenaikan dipengaruhi pola musiman, khususnya musim hujan

    Akhir 2024 hingga awal 2025, kembali meningkat seiring musim penghujan

    Secara nasional, peningkatan kasus pneumonia pada 2025 terlihat fluktuatif, terutama pada minggu ke-29 hingga minggu ke-36.

    Provinsi dengan kasus pneumonia tertinggi meliputi:

    Jawa Barat: 142.092 kasus

    Jawa Tengah: 113.844 kasus

    Jawa Timur: 100.936 kasus

    DKI Jakarta: 70.074 kasus

    Banten: 48.466 kasus

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Liburan Tahun Baru Mau Bawa Anak? Dokter Beberkan Survival Kit yang Perlu Dibawa

    Liburan Tahun Baru Mau Bawa Anak? Dokter Beberkan Survival Kit yang Perlu Dibawa

    Jakarta

    Liburan Tahun Baru kerap dimanfaatkan keluarga untuk bepergian bersama anak. Namun, perubahan cuaca, jadwal makan yang tidak teratur, hingga risiko sakit saat perjalanan membuat orang tua perlu persiapan ekstra. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp A, Subsp Respi(K) mengingatkan pentingnya membawa travel survival kit khusus anak selama liburan.

    Menurut dr Nastiti, travel kit menjadi langkah antisipasi agar orang tua tidak panik ketika anak mengalami gangguan kesehatan di tengah perjalanan. Pasalnya, tidak semua lokasi liburan mudah dijangkau oleh apotek atau fasilitas kesehatan, terlebih jika perjalanan dilakukan di jalur tol atau daerah yang minim toko obat.

    “Biasanya kan liburan gitu, di tol macet, kita nggak bawa persiapan, anak sakit. Aduh, pasti panik,” ucapnya dalam media briefing, Senin (29/12/2025).

    Adapun beberapa perlengkapan dasar wajib selalu ada dalam tas. Termometer menjadi alat penting untuk memantau kondisi anak, terutama jika muncul demam. Obat penurun panas seperti paracetamol juga harus disiapkan, sesuai dosis anak.

    Selain itu, masih banyak lagi yang perlu dibawa oleh orang tua. Berikut daftarnya.

    Termometer digitalAntipiretik: Parasetamol dan ibuprofenBand-aids/gauzeMaskerTisu antiseptikAntiseptik salep atau krim untuk lukaRepellentSunscreenGunting kecilCairan untuk hidrasi/oralitKrim mengandung hidrokortioson/antihistaminSarung tanganHand sanitizerTas kecilObat yang rutin diminum sesuai anjuran dokterNormal saline nasal spray

    dr Nastiti juga menekankan pentingnya tetap menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), memastikan imunisasi anak lengkap, menjaga asupan nutrisi seimbang, serta memberi waktu istirahat yang cukup. Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menyusun jadwal liburan yang terlalu ambisius.

    “Orang tua itu membuat itinerary yang sangat ambisius, sehingga yang menjadi korban anak-anak. Pokoknya kita hari ini harus mengunjungi lima tempat, padahal anak itu tidak seperti kita. Kita harus lihat dia capek atau nggak, istirahat cukup atau nggak, bisa tidur atau nggak, makan yang cukup atau nggak,” ucapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/kna)

  • ‘Cut Off Gula’ Diklaim Bikin Wajah Lebih Glowing, Dokter Bilang Gini

    ‘Cut Off Gula’ Diklaim Bikin Wajah Lebih Glowing, Dokter Bilang Gini

    Jakarta

    Tren cut off gula atau mengurangi konsumsi gula tambahan ramai diklaim bisa membuat wajah tampak lebih glowing dan sehat. Tak sedikit orang membagikan pengalaman kulit yang jadi lebih cerah, jerawat berkurang, hingga wajah terlihat segar setelah membatasi gula.

    Seperti yang dijalani oleh Lilla Syifa (29) yang bercerita telah tiga bulan mengikuti tren cut off gula. Menurutnya, memang ada perubahan signifikan yang dirasakannya, termasuk pada wajah.

    “Iya bener, kalau dibilang muka lebih bersih ya. Terus badan jujur lebih enteng, lebih kuat. Jadi kalau dulu naik tangga aku bener-bener ngos-ngosan sekarang ke mana-mana kuat gitu,” kata Syifa kepada detikcom, Jumat (19/12/2025).

    Tips Aman Ikut Tren Cut Off Gula

    Senada, spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo mengatakan bahwa membatasi konsumsi gula tambahan memang akan berdampak baik bagi tubuh termasuk membuat wajah lebih glowing.

    “Betul (lebih glowing). Karena gula yang tinggi itu dia akan meningkatkan Advanced Glycation End Products (AGEs). Jadi dia itu yang menyebabkan kusam, keriput dini,” kata dr Nathania dalam perbincangan dengan detikcom.

    “Kalau gula turun terus diikuti dengan makan sayur buahnya naik, itu kan antioksidan alami itu juga bisa bikin lebih cerah juga,” sambungnya.

    Namun, bagi banyak orang tren cut off gula ini memang tidak mudah dilakukan. Pasalnya, gula sendiri bersifat adiktif, sehingga mirip dengan mekanisme kecanduan.

    “Efeknya pasti bagus banget di semua metaboliknya. Tapi memang awal-awal akan keliyengan karena kan biasanya sudah terbiasa dengan gula sekian, tiba-tiba turun,” katanya.

    Tips pertama, lanjut dr Nathania adalah dengan memakai prinsip ‘satu kupon gula’, artinya setiap orang hanya bisa makan makanan atau minuman manis satu kali sehari.

    “Itu sudah maksimal. Kalau sudah minuman manis satu botol, berarti jatah gulamu habis. Mindful eating itu nomor satu,” katanya.

    “Nomor kedua adalah bisa menggunakan gula pengganti,” sambungnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Gula Berlebihan, Bahaya Mengintai!”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/up)

  • Tes Buta Warna Ini Bikin Pusing 7 Keliling Kalau Nggak Teliti, Kamu Bisa Jawab?

    Tes Buta Warna Ini Bikin Pusing 7 Keliling Kalau Nggak Teliti, Kamu Bisa Jawab?

    Tes Buta Warna Ini Bikin Pusing 7 Keliling Kalau Nggak Teliti, Kamu Bisa Jawab?

  • Menyoal DVI, Metode Interpol Identifikasi Korban Kapal Tenggelam di Labuan Bajo

    Menyoal DVI, Metode Interpol Identifikasi Korban Kapal Tenggelam di Labuan Bajo

    Jakarta

    Jenazah perempuan yang ditemukan Tim SAR gabungan di perairan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), teridentifikasi sebagai putri pelatih Tim B sepakbola wanita Valencia CF, Martin Carreras.

    Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang mengatakan identitas jenazah tersebut dipastikan berdasarkan hasil identifikasi oleh Disaster Victim Identification (DVI) yang terdiri dari Dokkes dan Inafis Polres Manggarai Barat.

    “Kurang dari 24 jam kami berhasil mengungkap identitas jenazah,” kata Christian, dikutip dari detikBali, Selasa (30/12/2025).

    Apa Itu DVI?

    Dikutip dari laman interpol, Disaster Victim Identification (DVI) atau Identifikasi Korban Bencana adalah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi korban dari insiden yang menelan korban massal, baik yang disebabkan oleh manusia maupun alam.

    Ini sebagai upaya untuk mengidentifikasi korban bencana, karena jarang sekali korban dikenali melalui pengenalan visual. Sidik jari, catatan gigi atau sampel DNA sering kali diperlukan untuk identifikasi yang meyakinkan.

    DVI interpol didukung oleh kelompok kerja yang terdiri dari para ahli forensik dan kepolisian. Dengan pertemuan rutin dua kali setahun guna membahas peningkatan dan standar.

    Kelompok kerja menerbitkan Panduan Identifikasi Korban Bencana (DVI), yang merupakan standar yang diterima secara global untuk protokol DVI. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1984, panduan ini diperbarui setiap lima tahun dan terakhir diterbitkan pada tahun 2023.

    Tugas Tim DVI

    Tim DVI dikerahkan dalam bencana terbuka dan tertutup. Ini penjelasannya.

    Bencana Terbuka: Bencana yang tidak diketahui jumlah korban jiwanya. Bencana ini sering kali berupa bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, dan juga serangan teroris (berkekuatan besar).

    Bencana tertutup: Bencana yang kemungkinan besar jumlah korbannya dapat langsung diketahui. Seringkali, bencana ini terjadi di mana pendaftaran orang-orang yang terlibat telah dilakukan sebelumnya, seperti kecelakaan pesawat (daftar penumpang).

    Bencana gabungan terbuka dan tertutup: Bencana ini merupakan gabungan dari bencana-bencana yang telah disebutkan sebelumnya. Salah satu contohnya adalah pesawat terbang yang jatuh di area permukiman.

    Tahap-tahap Identifikasi

    Pada laman interpol, setidaknya prosedur DVI memiliki 4 fase identifikasi, yaitu:

    Tahap 1 – Pemeriksaan tempat kejadian perkara

    Bergantung pada jenis kejadian dan lokasi terjadinya, diperlukan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk menemukan kembali semua korban dan harta benda mereka.

    Tahap 2 – Data post-mortem atau PM

    Jenazah manusia diperiksa oleh spesialis untuk mendeteksi data biometrik sebanyak mungkin. Ini dapat mencakup:

    Sidik jari;Odontologi, atau pemeriksaan gigi;Profil DNAIndikasi fisik: tato, bekas luka atau implan bedah yang mungkin unik bagi korban.

    Tahap 3 – Data ante-mortem atau AM

    Kerabat terdekat diwawancarai mengenai anggota keluarga mereka yang hilang untuk mengumpulkan informasi tentang orang tersebut. Data biometrik juga dapat dikumpulkan seperti untuk investigasi PM, terutama sidik jari, DNA, data odontologi, dan data medis.

    Tahap 4 – Rekonsiliasi

    Setelah data PM dan AM terkumpul, tim spesialis akan membandingkan dan merekonsiliasi kedua set informasi tersebut untuk mengidentifikasi korban. Identifikasi hanya dimungkinkan jika terdapat kecocokan 100% antara data AM dan PM pada DNA dan/atau data odontologi dan/atau sidik jari. Selain itu, informasi lain yang dikumpulkan tidak boleh menghalangi identifikasi.

    Selama proses identifikasi, tim DVI harus memperlakukan jenazah korban dengan penuh hormat dan hati-hati. Proses identifikasi harus transparan agar keluarga terdekat dapat memberikan informasi sebanyak mungkin.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Di Sidang Dante, Ahli Forensik Jelaskan Bahaya Air Masuk ke Paru-paru”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/kna)

  • Badan Lemas Kena ‘Super Flu’ atau COVID-19? Ini Bedanya Menurut Dokter Paru

    Badan Lemas Kena ‘Super Flu’ atau COVID-19? Ini Bedanya Menurut Dokter Paru

    Jakarta

    Memasuki musim liburan dengan cuaca yang berubah-ubah, risiko terkena infeksi flu atau penyakit pernapasan lainnya meningkat. Kewaspadaan pun ditingkatkan terlebih saat ini ada kekhawatiran mengenai infeksi ‘Superflu’ yang lebih mudah menular.

    Hanya saja bagaimana membedakan gejala penyakit tersebut dengan flu biasa atau COVID-19?

    Spesialis paru dari RS Paru Persahabatan Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan mutasi pada Subclade K membuatnya berbeda dari flu musiman biasa maupun varian COVID-19 yang ada saat ini. Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain:

    Demam tinggi, suhu tubuh melonjak drastis antara 39 hingga 41 derajat Celsius.Nyeri otot beratKelelahan/lemas ekstremBatuk keringSakit kepala dan tenggorokan

    “Sedangkan flu biasa dan COVID yang beredar saat ini gejalanya ringan sampai sedang,” tutur Prof Agus.

    Kondisi badan lemas atau kelelahan ekstrem pada Subclade K sering kali membuat pasien tidak bisa melakukan aktivitas, sementara pada varian COVID-19 terbaru, banyak pasien yang masih bisa beraktivitas karena gejalanya yang lebih moderat.

    Meskipun laporan mengenai lonjakan kasus Subclade K sudah meledak di Amerika Serikat dan Inggris, Prof Agus mengatakan kasusnya belum ditemukan di Indonesia.

    “Saat ini belum ada laporan influenza subclade K di Indonesia. Laporan dari Kementerian Kesehatan RI juga belum ada tentang varian ini,” ungkapnya.

    Namun, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah, terutama saat menghadapi transisi cuaca atau musim hujan yang biasanya menjadi momen favorit virus influenza untuk menyebar. Sebagai langkah proteksi, Prof. Agus memberikan saran praktis bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan paru-paru.

    “Menjaga stamina dengan makan dan minum yang cukup serta bergizi, istirahat yang cukup, dan olahraga teratur, pakai masker jika kontak dengan penderita atau di keramaian,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Kemenkes Catat 5 Temuan Penyakit Terbanyak di Momen Nataru, Banyak yang Hipertensi

    Kemenkes Catat 5 Temuan Penyakit Terbanyak di Momen Nataru, Banyak yang Hipertensi

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mencatat lima penyakit terbanyak yang dikeluhkan pelaku perjalanan selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Data tersebut dihimpun melalui laporan bidang kekarantinaan kesehatan hingga 28 Desember 2025 di berbagai titik transportasi, seperti bandara, pelabuhan, dan terminal.

    Hasil pemantauan menunjukkan, penyakit tidak menular masih mendominasi, terutama hipertensi dan diabetes melitus, yang kerap dipicu kelelahan perjalanan, pola makan tidak terkontrol, serta perubahan ritme aktivitas selama liburan.

    Berdasarkan data Kemenkes, lima penyakit terbanyak selama Nataru di antaranya:

    Hipertensi: 1.090 kasusDiabetes melitus: 302 kasusInfeksi saluran pernapasan akut (ISPA): 260 kasusGastritis: 174 kasusDiare akut: 48 kasus

    Kemenkes mengimbau masyarakat khususnya pelaku perjalanan dengan riwayat hipertensi dan diabetes melitus, agar tetap disiplin menjaga kondisi kesehatan selama libur panjang. Mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, meskipun sedang bepergian atau berlibur.

    Selain itu, pelaku perjalanan juga diingatkan untuk membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta garam, yang umum dijumpai saat liburan, menghindari kebiasaan merokok, terutama selama perjalanan jauh.

    Waspadai Hipertensi usai Perjalanan Jarak Jauh

    Kemenkes secara khusus mengingatkan pelaku perjalanan dengan riwayat hipertensi agar melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin, terutama setelah menempuh perjalanan jarak jauh yang melelahkan.

    Perjalanan panjang, kurang istirahat, dan stres fisik dinilai dapat memicu lonjakan tekanan darah yang berisiko membahayakan kesehatan.

    ISPA hingga Diare Juga Masih Ditemukan

    Selain penyakit tidak menular, Kemenkes juga mencatat masih adanya kasus ISPA, gastritis, dan diare akut selama Nataru. Kondisi cuaca, kelelahan, perubahan pola makan, serta kebersihan yang kurang optimal menjadi faktor pemicu.

    Karena itu, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk:

    Menggunakan masker jika sedang sakitMenjaga kebersihan tangan dan makananMenghindari kontak dekat dengan orang lain saat kondisi tubuh tidak fit

    Kemenkes juga mengingatkan pelaku perjalanan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan yang tersedia di bandara, terminal, dan pelabuhan apabila mengalami keluhan kesehatan selama perjalanan.

    Layanan tersebut disiapkan untuk mendeteksi dini gangguan kesehatan sekaligus mencegah kondisi memburuk di tengah perjalanan.

    Istirahat 30 Menit di Perjalanan

    Khusus bagi pengemudi kendaraan bermotor, Kemenkes mengimbau agar menjaga stamina dengan beristirahat secara teratur.

    Pelaku perjalanan diminta untuk beristirahat di rest area selama minimal 30 menit setelah berkendara empat jam berturut-turut, tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanan dalam kondisi lelah atau mengantuk

    Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keselamatan hingga tiba di tujuan, sekaligus mencegah gangguan kesehatan selama perjalanan Nataru.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Heboh Infeksi ‘Super Flu’ Subclade K, Vaksin Influenza Masih Manjur?

    Heboh Infeksi ‘Super Flu’ Subclade K, Vaksin Influenza Masih Manjur?

    Jakarta

    Beberapa waktu ini heboh kemunculan ‘super flu’ akibat varian baru subclade K, sebuah cabang mutasi virus Influenza A (H3N3). Varian tersebut mendadak bikin heboh karena memicu penyebaran yang terbilang cukup tinggi di Amerika Serikat.

    Departemen Kesehatan Negara Bagian mencatat 71.123 kasus di wilayah New York pada minggu yang berakhir 20 Desember 2025. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2004, ketika kasus influenza mulai wajib dilaporkan.

    Meski varian baru tersebut disinyalir menyebar lebih cepat, Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K) mengungkapkan vaksin influenza yang tersedia saat ini masih efektif untuk digunakan sebagai perlindungan.

    “Efektivitasnya di penelitian-penelitian sebelumnya untuk mencegah penularan itu cukup baik ya 62 persen, tapi untuk mencegah kematian dia lebih tinggi (tingkat efektivitasnya),” ungkap dr Nastiti dalam konferensi pers IDAI secara daring, Senin (29/12/2025).

    “Karena memang vaksin itu bisa berperan mencegah penularan, tapi kita lebih banyak mengharapkan dari vaksin itu, mungkin tidak 100 persen mencegah penularan, tapi mencegah severity atau keparahan,” sambungnya.

    Dengan vaksin influenza, diharapkan pasien yang apabila tertular nantinya tidak memiliki gejala yang berat, seperti sesak napas, dan tidak perlu mendapatkan perawatan rumah sakit. Gejala ringan yang mungkin muncul meliputi demam, batuk, dan pilek.

    Pada saat ini, vaksin influenza yang tersedia terdiri dari trivalent (perlindungan 3 jenis virus) dan quadrivalent (perlindungan 4 jenis virus). dr Nastiti menegaskan keduanya bagus didapatkan sebagai bentuk pencegahan super flu.

    “Jadi, sekarang tiga boleh, empat boleh. Karena di Indonesia vaksin yang di Indonesia masih banyak yang empat. Yang empat valen lebih banyak ketersediaannya dibanding yang tiga,” ungkap dr Nastiti.

    dr Nastiti menambahkan hingga saat ini belum ada penelitian yang secara pasti mengonfirmasi super flu dapat menyebar lebih cepat dan menimbulkan gejala yang lebih barah. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahuinya.

    “Ini tidak terbukti keparahan lebih daripada varian lainnya. Masih mirip dengan varian yang lain yang flu A (Influenza A). Imunisasi influenza masih bisa menurunkan penularan dan keparahan,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Belum Tentu Gaib, Kondisi Medis Ini Bikin Seseorang Sering Lihat ‘Penampakan’

    Belum Tentu Gaib, Kondisi Medis Ini Bikin Seseorang Sering Lihat ‘Penampakan’

    Jakarta

    Pernahkah merasa melihat bayangan menyerupai ‘wajah hantu’ pada benda mati, seperti serat kayu di pintu atau gumpalan awan? Sebelum berasumsi ke arah supranatural atau merasa ‘ketempelan’, fenomena ini berkaitan erat dengan kondisi otak yang disebut pareidolia.

    Dalam bahasa Yunani, ‘para’ memiliki arti keliru, salah, atau menyimpang. Kemudian, kata benda ‘eidolon’ memiliki arti gambar, bentuk, atau rupa. Dalam istilah medis, pareidolia merupakan bagian dari apofenia, yakni kecenderungan otak manusia untuk melihat pola atau makna dalam data yang sebenarnya acak.

    Fenomena ini bukan sekadar imajinasi, melainkan hasil evolusi otak manusia yang memungkinkan kita mengenali wajah dengan sangat cepat di tengah pemandangan visual yang ramai.

    Positif Palsu dalam Sistem Visual

    Otak manusia memiliki kemampuan adaptasi untuk mendeteksi wajah dalam waktu singkat. Akibatnya, sistem pemrosesan visual kita sering memberikan hasil ‘positif palsu’. Menariknya, otak tidak hanya menempelkan ciri wajah pada benda secara acak, tetapi juga menangkap emosi atau kesan kepribadian dari citra tersebut.

    “Salah satu ciri mencolok dari objek-objek ini adalah bahwa mereka bukan hanya tampak seperti wajah, tetapi juga dapat menyampaikan kesan kepribadian atau makna sosial,” tulis peneliti dalam studi tersebut, dikutip dari Live Science, Senin (29/12/2025).

    Namun, pareidolia juga bisa menjadi jendela informasi mengenai gangguan saraf tertentu. Sebagai contoh, pasien Parkinson dan demensia Lewy body dilaporkan lebih sering mengalami pareidolia.

    Di sisi lain, sebuah studi tahun 2022 dalam jurnal PLoS One menemukan bahwa orang yang mengalami pareidolia secara intens lebih mungkin mengaku memiliki kemampuan indra keenam atau pengalaman paranormal.

    Kaitan dengan Visual Snow Syndrome

    Kondisi visual yang dialami seseorang juga memengaruhi seberapa sering mereka melihat ‘penampakan’. Salah satunya adalah Visual Snow Syndrome, sebuah kondisi di mana seseorang terus-menerus melihat titik-titik berkedip seperti efek noise pada foto lama.

    Para pakar dari The University of Queensland, Australia, mengungkapkan bahwa orang dengan visual snow syndrome cenderung mengalami pareidolia yang jauh lebih kuat. Melalui eksperimen terhadap 250 relawan, ditemukan bahwa pengidap sindrom ini secara konsisten memberikan skor ‘wajah’ yang lebih tinggi pada objek sehari-hari dibanding kelompok kontrol.

    “Secara umum, semua kelompok sepakat tentang gambar mana yang paling ‘mirip wajah’, tetapi kelompok visual snow melaporkan ilusi wajah yang terasa jauh lebih kuat dan jelas,” ungkap peneliti Jessica Taubert. Hal ini diduga terjadi karena adanya hipereksitabilitas di korteks visual, yakni area otak yang bertugas menafsirkan apa yang dilihat oleh mata.

    Jadi, jika sering melihat ‘wajah-wajah’ misterius, besar kemungkinan hal itu disebabkan oleh cara otak memproses visual secara cepat atau adanya kondisi sensitivitas cahaya tertentu, bukan karena gangguan makhluk halus.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Dokter Paru Sebut ‘Super Flu’ Subclade K Lebih Mudah Menular, Ini Penyebabnya

    Dokter Paru Sebut ‘Super Flu’ Subclade K Lebih Mudah Menular, Ini Penyebabnya

    Jakarta

    Istilah ‘Superflu’ atau influenza H3N2 varian Subclade K tengah menjadi sorotan setelah dilaporkan meledak di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Banyak yang bertanya-tanya mengapa varian ini seolah begitu agresif dan cepat menulari banyak orang dalam waktu singkat.

    Menanggapi fenomena tersebut, dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa Subclade K sebenarnya merupakan mutasi dari virus yang sudah ada sebelumnya. Namun, mutasi ini memberikan karakteristik yang berbeda dari flu pada umumnya.

    “Pada dasarnya influenza Subclade K ini masih jenis influenza musiman yaitu jenis Influenza A (H3N2), hanya mengalami mutasi sehingga memiliki bbrp sifat yg berbeda dengan influenza musiman pada umumnya,” ujar Prof Agus.

    Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa kemampuan varian ini dalam menyebar secara luas dipengaruhi oleh faktor biologis virus yang jauh lebih agresif saat menginfeksi manusia. Varian influenza ini memiliki laju replikasi yang lebih cepat dalam saluran napas sehingga meningkatkan jumlah virus yang diproduksi.

    Selain itu subclade K memiliki viral load yang lebih tinggi di saluran napas atas sehingga meningkatkan potensi penularannya.

    “Mutasi subclade K membuatnya lebih resisten terhadap vaksin flu,” tutur Prof Agus.

    Di sisi lain, mengenai sebutan yang beredar di publik, ia menegaskan bahwa ‘super flu’ hanyalah istilah bahasa awam untuk menggambarkan tingkat keparahan gejala yang ditimbulkan.

    “Istilah superflu sebenarnya bukan istilah medis, ini lebih ke arah istilah umum yang dipakai untuk flu yang agresif, mudah menyebar dan gejala yang lebih parah,” tambahnya.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)