Category: Detik.com Kesehatan

  • Mau Coba ‘Cut Off’ Gula di 2026? Dokter Gizi Beberkan Manfaatnya ke Tubuh

    Mau Coba ‘Cut Off’ Gula di 2026? Dokter Gizi Beberkan Manfaatnya ke Tubuh

    Jakarta

    Memiliki keinginan untuk mengurangi atau bahkan menghentikan konsumsi gula pada 2026? Meski terdengar sederhana, ‘cut off’ gula kerap terasa sulit dilakukan karena gula sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari, terutama dari minuman manis dan makanan kemasan.

    Spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo, menjelaskan mengurangi hingga menghentikan konsumsi gula dapat memberikan dampak positif yang luas bagi tubuh, termasuk pada sistem metabolisme secara keseluruhan.

    Namun, pada fase awal pengurangan gula, sebagian orang dapat merasakan keluhan seperti pusing ringan atau rasa tidak nyaman. Kondisi ini terjadi karena tubuh sebelumnya sudah terbiasa menerima asupan gula dalam jumlah tertentu, lalu tiba-tiba mengalami penurunan.

    “Tapi memang awal-awal akan kliyengan ya. Karena kan biasanya dia terbiasa dengan gula sekian, tiba-tiba turun, mungkin akan kliyengan,” ucap dr Nathania kepada detikcom, di RS Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025).

    Tak hanya itu, pengurangan gula juga bermanfaat pada kesehatan wajah. dr Nathania mengatakan asupan gula yang tinggi diketahui dapat meningkatkan pembentukan advanced glycation end products (AGEs), yaitu senyawa yang berperan dalam mempercepat penuaan sel. AGEs berkontribusi terhadap munculnya kulit kusam, keriput dini, serta menurunnya elastisitas kulit.

    Ketika konsumsi gula ditekan, lanjutnya, pembentukan AGEs ikut menurun. Hal ini membuat kondisi kulit berpotensi membaik secara alami. Selain itu, orang yang mulai mengurangi gula umumnya menjadi lebih sadar terhadap pilihan makanannya.

    “Terus biasanya kan kalau gulanya sudah turun, dia berarti sudah lebih sadar, lebih aware kan. Kalau gula turun terus dia ikuti dengan makan sayur buahnya naik, itu kan antioksidan alami. Itu juga emang lebih cerah juga,” ucapnya lagi.

    Bagaimana cara mengurangi konsumsi gula?

    dr Nathania menjelaskan salah satu cara paling sederhana untuk mengontrol asupan gula adalah dengan menerapkan prinsip mindful eating.

    Salah satu cara praktis yang ia disarankan adalah dengan menerapkan konsep ‘jatah satu kupon gula’ dalam sehari. Artinya, seseorang hanya memberi dirinya satu kesempatan untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis dalam sehari. Jika jatah tersebut sudah digunakan, maka konsumsi gula tambahan sebaiknya dihindari.

    Menurutnya jatah tersebut bisa berupa satu botol kecil minuman manis kemasan atau satu porsi makanan manis tertentu. Setelah itu, pilihan minuman dan makanan sebaiknya bebas gula tambahan. Dengan cara ini, asupan gula harian bisa ditekan tanpa perlu menghitung kalori secara detail.

    “Jadi kalo udah minum itu, berarti nggak boleh lagi yang lain. Kecap manis juga berarti harus banget dibatesin, makan-makan manis juga dibatesin,” ucap dr Nathania.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Berat Badan Hanya 22 Kg, Wanita Ini Meninggal Usai Diet Ekstrem”
    [Gambas:Video 20detik]
    (suc/up)

  • Cari Objek yang Berbeda di Gambar Ini, Sekilas Tampak Sama Semua

    Cari Objek yang Berbeda di Gambar Ini, Sekilas Tampak Sama Semua

    Asah Otak

    Aida Adha Siregar – detikHealth

    Selasa, 30 Des 2025 20:00 WIB

    Jakarta – Sedang jenuh dan butuh hiburan jelang tahun baru? Jangan khawatir, coba temukan objek yang berbeda dari kumpulan gambar berikut!

  • Waktu Ideal Bercinta Berdasarkan Usia, Lebih Baik Pagi atau Malam?

    Waktu Ideal Bercinta Berdasarkan Usia, Lebih Baik Pagi atau Malam?

    Jakarta

    Berhubungan intim merupakan momen penting dalam kualitas hubungan suami istri. Ada yang menganggap waktu terbaik bercinta itu pagi hari, ada juga yang memilih malam hari.

    Sebenarnya kapan sih waktu terbaik untuk bercinta? Dikutip dari LadBible, berikut sederet waktu terbaik untuk bercinta menurut pakar, berdasarkan umur:

    Usia 20-30 Tahun

    Ahli kesehatan hormon, Mike Kocsis mengungkapkan hormon berada di posisi yang prima ketika seseorang berusia 20-an. Ini menjadi periode paling aktif bagi seseorang untuk melakukan hubungan seksual.

    “Libido lebih tinggi, terutama di sekitar masa ovulasi, dan energi serta respons emosional terhadap keintiman juga lebih besar,” kata Mike.

    Menurut Mike, seseorang yang berusia 20-an tahun seringkali bangun dengan penuh gairah. Oleh karena itu, ia menyarankan pagi hari menjadi waktu ideal untuk berhubungan intim dengan pasangan.

    Usia 30-40 Tahun

    Pasangan suami istri umumnya sudah memiliki anak pada periode ini. Hal ini membuat frekuensi bercinta berkurang.

    Meski demikian, pada fase ini kehidupan seksual bisa jadi lebih dalam dan memuaskan secara emosional. walaupun memang tidak sama meledak-ledak seperti ketika berusia 20-an tahun.

    “Seks tidak lagi terlalu dipicu oleh lonjakan hormon, melainkan lebih didorong oleh rasa percaya, koneksi emosional, dan ikatan berbasis oksitosin,” jelas Mike.

    “Fluktuasi estrogen dan testosteron bisa membuat gairah seksual kurang terprediksi, tetapi kesadaran tubuh dan kedalaman emosi yang lebih kuat justru bisa meningkatkan kepuasan,” sambungnya sambil mengungkapkan waktu bercinta terbaik adalah kapanpun ketika sempat.

    Usia 40-50 Tahun

    Mike mengatakan pada usia 40-an, waktu terbaik adalah saat istirahat makan siang apabila sedang bekerja di rumah. Pagi hari juga bisa menjadi pilihan karena anak-anak biasanya sudah remaja dan cenderung bangun lebih siang.

    Ia menekankan pada fase usia ini, penting untuk menciptakan ruang yang sengaja direncanakan dan bebas tekanan untuk berhubungan intim.

    Usia 50-60 Tahun

    Mike menjelaskan kadar estrogen dan testosteron mulai menurun di usia 50-an. Ini membuat aktivitas seksual umumnya melambat, tapi bukan berarti berhenti sama sekali.

    Menurut Mike, pagi bisa menjadi waktu yang terbaik untuk momen keintiman. Pada momen ini, energi masih tinggi setelah tidur malam yang cukup.

    Usia 60 Tahun ke Atas

    Kondisi justru berbalik pada fase usia ini. Menurut Mike, waktu terbaik untuk bercinta di fase usia ini adalah sore hingga malam hari.

    “Orang berusia 60-an memasuki fase seksualitas yang lebih kaya dan penuh kesadaran dibanding sebelumnya,” ungkap Mike.

    Pada akhirnya, tidak ada waktu yang benar atau salah untuk berhubungan intim. Hal terpenting adalah keintiman itu sendiri, meliputi hadirnya koneksi, kenyamanan, dan kedekatan emosional antara pasangan suami istri.

    Halaman 2 dari 3

    (avk/naf)

  • Pria Mendadak Fasih Berbahasa Asing pasca Operasi, Apa yang Terjadi di Otaknya?

    Pria Mendadak Fasih Berbahasa Asing pasca Operasi, Apa yang Terjadi di Otaknya?

    Jakarta

    Seorang pria di Utah, Amerika Serikat bernama Stephen Chase (33) mengalami kejadian tidak biasa setelah terbangun di ruang operasi. Ia tiba-tiba bisa fasih bahasa Spanyol, meski sebelumnya hanya cuma bisa sebatas menghitung 1-10 saja.

    Chase mengaku sempat belajar bahasa Spanyol semasa sekolah, tapi tidak pernah memperhatikan. Oleh karena itu, bahasa Spanyolnya terbilang sangat terbatas.

    Namun, rupanya ada yang tersimpan di otaknya. Beberapa menit setelah terbangun dari sebuah operasi, ia tiba-tiba mampu bicara dalam kalimat penuh berbahasa Spanyol. Ia bahkan disebut sempat bercakap selama 20 menit, sebelum akhirnya kembali berbicara bahasa Inggris.

    Anehnya, kondisi ini terus terjadi secara berulang tiap kali ia menjalani operasi di tahun-tahun berikutnya.

    “Pertama kali itu terjadi, saat saya bangun, saya langsung berbicara bahasa Spanyol kepada para perawat yang memeriksa saya,” kata Chase dikutip dari Lad Bible, Senin (29/12/2025).

    “Saya sebenarnya tidak benar-benar ingat sedang berbicara bahasa Spanyol. Yang saya ingat cuma orang-orang meminta saya berbicara bahasa Inggris, dan saya merasa sangat bingung. Waktu itu kemampuan bahasa Spanyol saya sama sekali belum sejauh itu, jadi saya benar-benar kaget,” sambungnya.

    Chase menduga keanehan ini terjadi karena lingkungannya. Ia hidup dekat dengan banyak orang hispanik, serta sering mendengar orang berbahasa Spanyol.

    Menurutnya, itu mungkin membuat bahasa Spanyol secara tidak sadar tersimpan dalam otaknya. Meskipun, tidak pernah benar-benar tahu apa artinya.

    Setelah menjalani beberapa operasi lagi selama satu dekade terakhir akibat cedera olahraga, ia terbangun dari bius sambil bicara bahasa Spanyol dengan kefasihan seperti penutur asli.

    “Para perawat bilang mereka menanyakan hal-hal seperti ‘bagaimana perasaanmu?’ atau ‘apakah kamu kesakitan?’ setelah saya bangun, dan saya menjawab semuanya dalam bahasa Spanyol,” jelas Chase.

    “Di kepala saya, saya hanya sedang berbicara, dan saya tidak mengerti kenapa mereka tidak paham. Saya benar-benar fasih, tapi biasanya itu menghilang sepenuhnya dalam waktu sekitar satu jam,” tandasnya.

    Menurut US National Library of Medicine, Foreign Language Syndrome (FLS) adalah kondisi neurologis langka di mana seseorang tiba-tiba berhenti menggunakan bahasa asli yang biasanya dituturkan dan secara spontan menggunakan bahasa kedua untuk sementara waktu.

    Kondisi ini ditandai dengan penggunaan bahasa asing secara mendadak dan tidak disengaja. FLS dapat dipicu oleh cedera kepala berat, stroke, tumor otak, atau perdarahan otak, dan sering muncul setelah anestesi, cedera otak, atau tekanan psikologis.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Krisis Populasi di Korsel Makin Ngeri, Lebih dari 4 Ribu Sekolah Ditutup

    Krisis Populasi di Korsel Makin Ngeri, Lebih dari 4 Ribu Sekolah Ditutup

    Jakarta

    Lebih dari 4.000 sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas di seluruh Korea Selatan telah ditutup seiring menyusutnya jumlah populasi siswa, berdasarkan data terbaru.

    Menurut angka terkini Kementerian Pendidikan yang diungkapkan pada Minggu oleh anggota parlemen Jin Sun-mee dari Partai Demokrat Korea Selatan, sebanyak 4.008 sekolah di bawah 17 kantor pendidikan regional di seluruh negeri telah ditutup hingga saat ini akibat terus menurunnya jumlah siswa.

    Penutupan paling banyak terjadi di tingkat sekolah dasar, dengan 3.674 sekolah ditutup secara permanen. Sementara itu, 264 sekolah menengah pertama dan 70 sekolah menengah atas juga ikut ditutup. Dalam lima tahun terakhir saja, 158 sekolah telah berhenti beroperasi, dan 107 sekolah tambahan diperkirakan akan menyusul tutup dalam lima tahun ke depan.

    Penyebab utama fenomena ini adalah angka kelahiran Korea Selatan yang sangat rendah, terendah di dunia, dengan total fertility rate (TFR) yang terus berada di bawah 0,8. Padahal, dibutuhkan angka kelahiran sekitar 2,1 anak per perempuan untuk menjaga jumlah populasi tetap stabil.

    Laju penutupan sekolah juga menunjukkan penurunan jumlah murid diperkirakan akan berlangsung lebih cepat di wilayah provinsi dibandingkan dengan kawasan ibu kota. Jumlah penutupan sekolah terbanyak tercatat di Provinsi Jeolla Utara dengan 16 sekolah, disusul Jeolla Selatan (15 sekolah), Gyeonggi (12 sekolah), dan Chungcheong Selatan (11 sekolah).

    Gambaran demografi Korea Selatan secara keseluruhan menunjukkan bahwa penyusutan ini kemungkinan akan semakin parah dalam beberapa tahun, bahkan beberapa dekade ke depan.

    Lembaga pengembangan pendidikan milik pemerintah, Korean Educational Development Institute, memperkirakan jumlah siswa sekolah dasar hingga menengah atas pada tahun ini mencapai sekitar 5,07 juta orang, namun diproyeksikan turun menjadi sekitar 4,25 juta pada 2029, penurunan lebih dari 800.000 siswa hanya dalam enam tahun.

    Jumlah tersebut bahkan kurang dari setengah angka siswa pada era 1980-an yang mencapai lebih dari 10 juta orang.

    Data kementerian juga mengungkap persoalan serius terkait pengelolaan sekolah-sekolah yang telah ditutup. Dari total 4.008 sekolah, sebanyak 376 lokasi masih belum dimanfaatkan. Di antaranya, 266 sekolah telah terbengkalai selama lebih dari 10 tahun, sementara 82 sekolah lainnya dibiarkan kosong selama lebih dari 30 tahun.

    Kantor Jin Sun-mee menilai data tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lanjutan dan pemanfaatan kembali fasilitas sekolah tertinggal jauh dibandingkan laju penutupannya, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan pemborosan aset publik.

    “Jumlah sekolah yang telah ditutup sangat besar dan akan terus bertambah seiring menurunnya jumlah siswa,” ujar Jin, dikutip dari South China Morning Post.

    “Pemerintah tidak boleh berhenti pada sekadar menutup sekolah, tetapi harus menyusun peta jalan jangka panjang untuk mengalihfungsikannya menjadi aset bagi komunitas lokal.”

    Halaman 2 dari 2

    (suc/naf)

  • Infeksi ‘Super Flu’ Bisa Menulari Tiga Orang, Gejala Lebih Parah dari COVID-19

    Infeksi ‘Super Flu’ Bisa Menulari Tiga Orang, Gejala Lebih Parah dari COVID-19

    Jakarta

    Kasus infeksi influenza H3N2 varian subclade K atau orang awam menyebutnya ‘superflu’ belakangan menjadi buah bibir. Pasalnya, superflu dianggap lebih ‘ganas’ daripada influenza biasa.

    Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA(K) mengatakan penularan subclade K ini terbilang cepat, tak ayal menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

    “Masalahnya mungkin salah satu jadi penyebab istilah ‘superflu’ ini karena penularannya cepat, jadi satu orang itu bisa menulari 2-3 orang sekitarnya, diperkirakan varian ini mungkin bisa menulari lebih tapi belum ada penelitiannya,” kata dr Nastiti dalam konferensi pers IDAI secara daring, Senin (29/12/2025).

    Influenza bisa dideteksi dengan rapid test, dengan pemeriksaan swab, namun untuk mendeteksi H3N2 dengan variannya subclade K harus dilakukan genome sequencing di laboratorium yang canggih seperti masa COVID-19.

    “Kalau kita dalami lebih lanjut mengenai subclade K ini dia bagian atau varian dari flu A H3N2 dia tidak bisa dideteksi secara klinis, artinya dokter kalau melihat saja bahkan tidak bisa membedakan ini influenza atau bukan influenza, hanya mungkin bisa menduga ini secara klinis mirip influenza,” kata dr Nastiti.

    Gejala Lebih Parah dari COVID-19

    Senada, dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) mengatakan ada perbedaan mencolok terkait gejala antara subclade K, flu biasa dan COVID-19.

    “Untuk subclade K memiliki gejala-gejala yang lebih parah seperti demam tinggi 39-41 derajat celsius, nyeri otot berat, kelelahan atau lemas ekstrem, batuk kering, sakit kepala dan tenggorokan berat,” kata dr Agus saat dihubungi, Selasa (30/12/2025).

    “Sedangkan flu biasa dan COVID yang saat ini gejalanya ringan sampai sedang,” sambungnya.

    Kementerian Kesehatan RI sendiri belum merilis laporan terkait temuan varian subclade K di Indonesia. Namun, dr Agus tetap mengimbau masyarakat untuk melakukan tindakan preventif, di antaranya:

    Menjaga stamina tubuh dengan makan minum cukup dan bergizi, istirahat cukup, olahragaJaga kebersihan lingkunganCuci tangan teraturPakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaianVaksinasi influenzaBila sakit flu, jangan batuk, bersin sembarangan.Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/kna)

  • Potret Pasangan Lansia Korsel Super Fit, Gen Z Dijamin Minder

    Potret Pasangan Lansia Korsel Super Fit, Gen Z Dijamin Minder

    Foto Health

    Averus Kautsar – detikHealth

    Selasa, 30 Des 2025 16:33 WIB

    Jakarta – Banyak gen Z yang bakalan minder! Pasangan lansia di Korea Selatan ini punya gaya hidup super sehat dan punya tubuh six-pack. Begini potretnya.

  • Pengakuan Pasien Kena ‘Super Flu’ sampai Masuk RS, Begini Gejala yang Dialami

    Pengakuan Pasien Kena ‘Super Flu’ sampai Masuk RS, Begini Gejala yang Dialami

    Jakarta

    Seorang ibu berusia 52 tahun menceritakan betapa parahnya gejala ‘super flu’ yang dialaminya. Padahal, sebelumnya ia sudah menerima vaksin influenza.

    Wanita bernama Michaela Knapp sampai harus menjalani perawatan di rumah sakit selama lima hari. Di saat itulah, ia baru mengetahui kalau terinfeksi strain baru flu yang disebut-sebut sebagai ‘super flu’ itu.

    Ia dilarikan ke Northern General Hospital, Sheffield, Inggris, menggunakan ambulans setelah mengalami sesak napas hebat disertai nyeri punggung yang luar biasa. Padahal, ia dikenal bugar dan sehat, meski memiliki riwayat asma yang selama ini terkontrol dengan baik.

    “Saya benar-benar terkejut, takut, dan sangat kesakitan,” kata Michaela yang dikutip dari BBC.

    Kasus Michaela terjadi di tengah lonjakan pasien flu di rumah sakit Inggris. NHS England menyebut situasi ini sebagai kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Tahun ini, beredar varian mutasi virus influenza H3N2 yang dijuluki sebagai ‘super flu’.

    Awal Mula Gejala Muncul

    Michaela dan putranya yang berusia 17 tahun awalnya mengira hanya terkena COVID-19, setelah sama-sama merasa tidak enak badan. Tetapi, kondisi mereka semakin memburuk seiring berjalannya akhir pekan.

    “Awalnya hanya sakit tenggorokan pada Kamis. Tapi pada Minggu malam, punggung bawah saya mulai terasa sangat tidak nyaman,” tutur Michaela.

    “Pada Senin, rasa sakitnya luar biasa dan napas saya sangat buruk,” tambahnya.

    Ia mengaku tidak pernah mengaitkan nyeri punggung dengan flu. Menurutnya, rasa sakit tersebut tajam dan menusuk.

    “Rasanya seperti ditusuk alat pemecah es di sepanjang punggung bawah,” beber Michaela.

    Michaela kemudian menghubungi layanan darurat 111. Petugas segera mengirim ambulans untuknya, sementara sang anak disarankan menjalani perawatan mandiri di rumah.

    “Suhu tubuh saya sangat tinggi, mencapai 39,6 derajat Celsius. Pernapasan saya buruk, dan setelah pemeriksaan mereka mengatakan saya harus dibawa ke UGD,” sambungnya.

    Tiba di Rumah Sakit

    Setibanya di rumah sakit, ruang tunggu UGD penuh dan sesak. Karena nyeri yang tak tertahankan, Michaela bahkan sempat berteriak.

    Ia diberikan morfin cair oleh petugas triase dan harus menunggu hingga 12 jam sampai akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Setelah lima hari dirawat, Michaela kini sudah kembali ke rumah dalam kondisi masih sangat kelelahan.

    Sementara putranya sudah pulih sepenuhnya.

    “Saya sudah divaksin flu, tapi rupanya ada strain baru. Virus ini memicu serangan asma berat, itu sebabnya saya sulit bernapas dan mengalami nyeri hebat,” ujar Michaela.

    “Saya sudah 35 tahun didiagnosis asma, tapi tidak pernah mengalami serangan sebelumnya. Semuanya selalu terkontrol, jadi ini benar-benar menakutkan,” tambahnya.

    Michaela mengaku tidak menyangka bisa jatuh sakit separah ini. Ia masih muda dan sehat, jadi sangat mengejutkan baginya.

    Perkembangan Kasus ‘Super Flu’ di Inggris

    Pihak Sheffield Teaching Hospitals NHS Foundation Trust mengonfirmasi adanya lonjakan permintaan layanan darurat, yang diperburuk oleh tingginya kasus flu tahun ini. Hingga Rabu, tercatat 89 pasien dirawat dengan diagnosis flu terkonfirmasi, serta lebih banyak lagi pasien dengan gangguan pernapasan lainnya.

    Kepala Operasional Michael Harper mengatakan rumah sakit telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi peningkatan permintaan layanan.

    “Kami berupaya menambah kapasitas tempat tidur jika memungkinkan. Tim kami bekerja sangat keras di rumah sakit dan layanan komunitas,” ujarnya.

    Ia juga mengimbau masyarakat untuk hanya menggunakan UGD dalam kondisi darurat, menjemput pasien tepat waktu saat sudah boleh pulang, serta tidak mengunjungi rumah sakit jika sedang sakit guna mencegah penularan.

    “Kami kembali mengingatkan masyarakat yang memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin flu demi perlindungan terbaik,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: Kemenkes Ubah Rujukan RS Berlaku di 2026, Begini Skemanya”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/kna)

  • Video: 5 Temuan Penyakit Terbanyak di Momen Natal dan Tahun Baru

    Video: 5 Temuan Penyakit Terbanyak di Momen Natal dan Tahun Baru

    Video: 5 Temuan Penyakit Terbanyak di Momen Natal dan Tahun Baru

  • Kemenkes Ungkap 5 Penyakit dengan Kasus Tertinggi Sepanjang 2025, ISPA Nomor 1

    Kemenkes Ungkap 5 Penyakit dengan Kasus Tertinggi Sepanjang 2025, ISPA Nomor 1

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap lima penyakit dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang tahun 2025 berdasarkan sistem surveilans nasional. Data ini menunjukkan bahwa penyakit infeksi masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat, terutama di tengah dinamika cuaca, kepadatan penduduk, dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang belum merata.

    Lima penyakit dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang 2025 meliputi:

    Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA): 14.506.235 kasusDiare akut: 3.774.195 kasusInfluenza Like Illness (ILI): 1.692.642 kasusSuspek demam tifoid: 914.132 kasusPneumonia: 753.712 kasus

    1. ISPA

    ISPA menempati posisi teratas dengan lebih dari 14,5 juta kasus sepanjang 2025. Kemenkes mencatat, pelaporan kasus ISPA cenderung meningkat saat musim hujan atau musim dingin, ketika suhu lebih rendah dan kelembapan udara tinggi, kondisi yang mendukung penularan virus dan bakteri pernapasan.

    Selain faktor cuaca, penurunan cakupan vaksinasi juga menjadi perhatian. Jika cakupan imunisasi menurun, risiko infeksi meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

    Secara geografis, provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi adalah:

    Jawa Barat: 2.527.302 kasus

    Jawa Tengah: 2.292.627 kasus

    DKI Jakarta: 1.845.882 kasus

    Jawa Timur: 1.337.901 kasus

    Banten: 827.325 kasus

    2. Diare akut

    Penyakit kedua terbanyak adalah diare akut dengan total 3.774.195 kasus. Kemenkes mencatat, jumlah kasus diare akut mengalami kenaikan pada 2024 hingga awal 2025 dibandingkan tahun 2023.

    Pola kasus diare akut relatif konsisten sepanjang tahun, sehingga besar kemungkinan penyakit ini tidak terlalu dipengaruhi oleh pola musiman, melainkan lebih berkaitan dengan faktor sanitasi, kualitas air, dan kebersihan makanan.

    Provinsi dengan kasus diare akut tertinggi meliputi:

    Jawa Barat: 667.709 kasus

    Jawa Tengah: 542.065 kasus

    Jawa Timur: 512.924 kasus

    DKI Jakarta: 317.688 kasus

    Banten: 228.179 kasus

    3. Influenza like illness (ILI)

    Kemenkes mencatat 1.692.642 kasus influenza like illness (ILI) sepanjang 2025. Dalam empat pekan terakhir, kasus ILI dilaporkan berfluktuasi, tetapi menunjukkan tren peningkatan secara nasional.

    Peningkatan ini dinilai relatif konsisten dan kemungkinan tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh pola musim. Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah penurunan cakupan vaksin influenza, yang berpotensi meningkatkan risiko penularan di masyarakat.

    Terbanyak di wilayah berikut:

    Jawa Timur: 448.894 kasus

    Jawa Barat: 233.156 kasus

    Jawa Tengah: 229.439 kasus

    Sumatera Utara: 196.572 kasus

    Aceh: 63.943 kasus

    4. Suspek demam tifoid

    Kasus suspek demam tifoid tercatat mencapai 914.132 kasus sepanjang 2025. Tren peningkatan terlihat perlahan sejak minggu ke-34 tahun 2024 hingga awal Mei 2025, dan kembali meningkat pada minggu ke-29 sampai minggu ke-41 tahun 2025.

    Kemenkes menilai sanitasi dan kebersihan yang buruk serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan PHBS menjadi faktor utama peningkatan kasus.

    Provinsi dengan kasus suspek demam tifoid tertinggi meliputi:

    Jawa Barat: 182.245 kasus

    Jawa Timur: 179.950 kasus

    Jawa Tengah: 168.952 kasus

    DKI Jakarta: 59.201 kasus

    Banten: 49.299 kasus

    5. Pneumonia

    Penyakit kelima terbanyak adalah pneumonia, dengan total 753.712 kasus sepanjang 2025. Kemenkes mencatat, peningkatan kasus pada awal 2025 salah satunya dipengaruhi oleh meningkatnya kapasitas unit pelapor dalam mencatat penyakit secara lebih optimal.

    Secara historis, pneumonia menunjukkan keterkaitan dengan faktor iklim:

    Tahun 2023, peningkatan terjadi sejak minggu ke-34 akibat El Nino

    Awal 2024, kenaikan dipengaruhi pola musiman, khususnya musim hujan

    Akhir 2024 hingga awal 2025, kembali meningkat seiring musim penghujan

    Secara nasional, peningkatan kasus pneumonia pada 2025 terlihat fluktuatif, terutama pada minggu ke-29 hingga minggu ke-36.

    Provinsi dengan kasus pneumonia tertinggi meliputi:

    Jawa Barat: 142.092 kasus

    Jawa Tengah: 113.844 kasus

    Jawa Timur: 100.936 kasus

    DKI Jakarta: 70.074 kasus

    Banten: 48.466 kasus

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)