Category: Detik.com Kesehatan

  • Anak Alergi Susu Sapi Berisiko Kurang Gizi? Ini Cara Mengatasinya

    Anak Alergi Susu Sapi Berisiko Kurang Gizi? Ini Cara Mengatasinya

    Jakarta

    Alergi susu sapi pada anak kerap membuat orang tua khawatir akan kecukupan gizi harian. Pasalnya, susu dikenal sebagai salah satu sumber nutrisi penting untuk tumbuh kembang. Meski demikian, anak dengan alergi susu sapi tetap dapat tumbuh optimal dengan pengelolaan asupan yang tepat.

    Reaksi alergi biasanya muncul setelah anak mengonsumsi protein dalam susu sapi, seperti kasein dan whey. Gejalanya beragam, mulai dari gangguan pencernaan, masalah kulit, hingga saluran pernapasan. Karena itu, penting bagi orang tua mengenali tanda-tandanya agar asupan anak dapat segera disesuaikan.

    Risiko kekurangan nutrisi dapat terjadi jika penghindaran susu sapi tidak diimbangi dengan sumber gizi alternatif. Padahal, anak tetap membutuhkan protein, lemak, serta zat pendukung lain untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak, terutama pada masa emas tumbuh kembang.

    Langkah yang bisa dilakukan adalah memilih makanan dan minuman yang bebas susu sapi, membaca label dengan cermat, serta berkonsultasi dengan dokter anak. Dengan pendampingan yang tepat, kebutuhan gizi anak tetap dapat terpenuhi tanpa memicu reaksi alergi.

    Sebagai salah satu pilihan, Morinaga Soya hadir sebagai nutrisi alternatif berbasis isolat protein kedelai bagi anak dengan sensitivitas susu sapi. Dilengkapi DHA untuk mendukung perkembangan kognitif serta kombinasi probiotik Triple Bifidus dan prebiotik FOS yang membantu menjaga kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh anak.

    (akn/ega)

  • Kenali Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak dan Cara Penuhi Gizinya

    Kenali Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak dan Cara Penuhi Gizinya

    Jakarta

    Alergi susu sapi masih menjadi tantangan kesehatan pada anak, khususnya balita. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat prevalensinya berkisar 2-7,5 persen. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun anak bereaksi terhadap protein dalam susu sapi, sehingga asupan gizi perlu dikelola dengan tepat agar tumbuh kembang tetap optimal.

    Gejala alergi susu sapi pada anak dapat muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah konsumsi. Keluhan yang sering ditemui antara lain gangguan saluran cerna seperti diare atau kolik, reaksi kulit berupa ruam atau eksim, hingga gangguan pernapasan seperti batuk dan pilek. Pada kondisi tertentu, reaksi berat dapat terjadi secara tiba-tiba sehingga perlu penanganan medis.

    Penyebab alergi susu sapi umumnya berkaitan dengan respons tubuh terhadap protein kasein dan whey. Faktor genetik juga berperan, terutama pada anak dengan riwayat alergi dalam keluarga. Paparan lingkungan, seperti asap rokok sejak masa kehamilan atau setelah lahir, turut disebut dapat meningkatkan risiko alergi.

    Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan mengenali tanda alergi sejak dini dan membatasi konsumsi produk yang mengandung susu sapi. Orang tua juga disarankan membaca label pangan dengan cermat serta berkonsultasi dengan dokter sebelum memperkenalkan makanan tertentu kepada anak.

    Sebagai alternatif pemenuhan gizi, orang tua dapat mempertimbangkan nutrisi berbasis kedelai seperti Morinaga Soya. Produk ini diformulasikan dari isolat protein kedelai berkualitas, dilengkapi DHA untuk dukung perkembangan kognitif, serta kombinasi probiotik Triple Bifidus dan prebiotik FOS yang membantu menjaga kesehatan saluran cerna dan daya tahan tubuh, sehingga kebutuhan gizi tetap terpenuhi dengan aman.

    (akn/ega)

  • Anak Aktif Namun Kurang Fokus, Bisa Dipicu Asupan Nutrisi

    Anak Aktif Namun Kurang Fokus, Bisa Dipicu Asupan Nutrisi

    Jakarta

    Tidak sedikit orang tua mendapati anaknya terlihat aktif bergerak, namun mudah lelah di tengah aktivitas. Anak yang semangat berlari, bersepeda, atau bermain pushbike, tetapi cepat kehilangan fokus atau minta berhenti, bisa menjadi sinyal bahwa kebutuhan energi hariannya belum terpenuhi secara optimal.

    Aktivitas fisik seperti pushbike menuntut kerja otot dan otak secara bersamaan. Anak harus menjaga keseimbangan, mengoordinasikan gerak tubuh, serta mempertahankan
    konsentrasi agar tetap stabil di lintasan. Ketika cadangan energi tidak mencukupi, tubuh anak akan lebih cepat lelah, meski secara fisik tampak aktif.

    Kondisi ini kerap terjadi pada anak yang asupan nutrisinya belum seimbang, termasuk anak yang cenderung susah makan atau pilih-pilih makanan. Padahal, untuk mendukung stamina dan fokus, anak membutuhkan kombinasi nutrisi seperti protein, kalsium, zat besi, serta lemak baik yang berperan dalam fungsi otot dan perkembangan otak.

    Pemenuhan nutrisi harian menjadi fondasi penting agar anak tidak hanya aktif, tetapi juga kuat dan tahan beraktivitas lebih lama. Selain dari makanan utama, susu pertumbuhan
    dapat menjadi salah satu cara praktis untuk melengkapi kebutuhan nutrisi anak, terutama bagi anak yang asupan makannya belum konsisten.

    Susu pertumbuhan seperti Morigro diformulasikan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak usia 1-12 tahun. Kandungan protein, kalsium, AA, DHA, Omega 3 dan 6, serta
    probiotik di dalamnya mendukung stamina, fokus, dan daya tahan tubuh anak. Dengan nutrisi yang tercukupi, anak dapat bergerak lebih lincah, tidak mudah lelah, dan menikmati
    aktivitas fisik dengan lebih optimal.

    (akn/ega)

  • Jangan Kalap, Segini Batas Aman Konsumsi Daging di Malam Tahun Baru

    Jangan Kalap, Segini Batas Aman Konsumsi Daging di Malam Tahun Baru

    Jakarta

    Malam tahun baru kerap identik dengan hidangan serba daging. Mulai dari sate, steak, daging panggang, hingga olahan berlemak lainnya sering tersaji di meja makan. Dalam suasana liburan, tak sedikit orang yang akhirnya makan daging jauh lebih banyak dari biasanya.

    Spesialis gizi klinik dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK dari RS St Carolus Salemba, menjelaskan konsumsi daging sebenarnya tidak dilarang, termasuk daging merah seperti daging sapi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah jenis potongan, cara pengolahan, dan porsinya.

    Menurutnya, salah satu alasan daging merah kerap dikaitkan dengan risiko kesehatan adalah kandungan lemak jenuh di dalamnya. Meski begitu, daging, seperti daging sapi masih tetap bisa dikonsumsi pada momen tertentu seperti natal dan tahun baru (Nataru), asalkan memilih bagian yang kandungan lemaknya lebih rendah.

    Salah satu contoh potongan yang relatif lebih aman adalah bagian has dalam, karena kandungan lemaknya lebih sedikit dibanding bagian lain.

    “kalau namanya daging merah itu kan sebenarnya yang jahatnya salah satunya karena lemak jenuh gitu,” kata dr Yohannessa kepada detikcom, Kamis (18/12/2025).

    Selain memilih potongan daging, dr Yohannessa mengatakan cara mengolah juga berperan penting. Setelah memilih daging yang lebih rendah lemak, metode memasak sebaiknya tidak menambah beban kalori dan lemak.

    Mengolah daging dengan cara digoreng rendam atau deep fried sebaiknya dihindari, karena dapat meningkatkan kandungan lemak secara signifikan.

    Lalu, berapa batas aman konsumsi daging?

    dr Yohannessa menjelaskan kebutuhan setiap orang memang berbeda-beda, tergantung berat badan dan kondisi tubuh. Namun sebagai gambaran umum, untuk perempuan dengan berat badan sekitar 50 kilogram, porsi daging dalam satu kali makan sebenarnya sudah cukup sekitar 1 hingga 2 potong sedang, dengan berat masing-masing kurang lebih 45-50 gram.

    Agar lebih mudah, porsi daging bisa diukur menggunakan ukuran telapak tangan sendiri. Dalam satu kali makan, konsumsi daging sebaiknya tidak melebihi satu hingga dua kali ukuran telapak tangan. Pendekatan sederhana ini membantu menjaga porsi tetap sesuai kebutuhan tanpa harus menimbang makanan.

    “Jadi ya tetap aja mindful gitu kebutuhan sehari itu cuman cukup sekitar segitu tuh tadi 1 sampai 2 potong sedang,” lanjutnya.

    Ia juga menekankan pentingnya tetap bersikap sadar saat makan, terutama di momen liburan ketika godaan makanan tinggi lemak sangat besar. Menikmati hidangan daging saat Nataru tetap boleh, asalkan tidak berlebihan dan tetap memperhatikan porsi serta cara pengolahannya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Steak Nabati Dilarang? Aturan Baru Uni Eropa Bikin Heboh”
    [Gambas:Video 20detik]
    (suc/up)

  • Saat Anak Tutup Mulut, Orang Tua Perlu Ubah Cara Penuhi Nutrisinya

    Saat Anak Tutup Mulut, Orang Tua Perlu Ubah Cara Penuhi Nutrisinya

    Jakarta

    Bagi banyak orang tua, fase anak susah makan atau gerakan tutup mulut (GTM) sering menjadi kekhawatiran utama. Bukan hanya karena porsi makan yang tak habis, tetapi
    juga karena dampaknya pada energi, emosi, dan aktivitas anak sehari-hari.

    Anak yang asupannya kurang kerap terlihat lebih mudah lelah, rewel, atau enggan bermain dan belajar bersama teman. Kondisi ini membuat orang tua menyadari bahwa GTM bukan sekadar persoalan selera, melainkan berkaitan langsung dengan pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang optimal.

    Dalam menghadapi situasi tersebut, banyak orang tua mulai mengubah pendekatan. Dari memaksa anak makan, menjadi membangun rutinitas yang lebih tenang dan konsisten,
    sekaligus mencari cara agar kebutuhan nutrisi harian anak tetap terpenuhi meski asupan makanan utama belum maksimal.

    Di sinilah peran nutrisi pendamping menjadi relevan. Susu pertumbuhan dengan kandungan nutrisi lengkap dapat membantu mengisi celah kebutuhan harian anak, sekaligus
    mendukung nafsu makan, daya tahan tubuh, dan kesiapan anak untuk beraktivitas secara optimal.

    Salah satu pilihan yang digunakan banyak orang tua adalah Morinaga Morigro. Susu pertumbuhan ini diformulasikan dengan Formula GROMAX yang mengandung AA, DHA,
    Omega 3 dan 6 untuk perkembangan otak, probiotik Bifidobacterium longum BB536 untuk pencernaan dan imunitas, serta vitamin dan mineral penting seperti kalsium, zat besi, dan zinc.

    Dengan dukungan nutrisi yang tepat dan pendampingan yang konsisten, proses makan anak dapat berjalan lebih nyaman, sekaligus membantu mereka tumbuh lebih aktif dan percaya diri.

    (akn/akn)

  • ‘Super Flu’ Subclade K Sudah Ada di RI, Kemenkes Sebut Kelompok Paling Rentan Tertular

    ‘Super Flu’ Subclade K Sudah Ada di RI, Kemenkes Sebut Kelompok Paling Rentan Tertular

    Jakarta

    Varian influenza yang belakangan dijuluki ‘super flu’, yakni Influenza A (H3N2) subclade K, dipastikan sudah terdeteksi di Indonesia, sejak 25 Desember 2025. Temuan ini memicu kekhawatiran publik, terutama setelah varian tersebut dilaporkan memicu lonjakan kasus influenza di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan beberapa wilayah di Eropa.

    Apakah subclade K lebih berbahaya? Perlukah kelompok tertentu seperti anak-anak, lansia, atau penderita penyakit penyerta (komorbid) perlu ekstra waspada?

    Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr Prima Yosephine, menjelaskan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan subclade K memicu keparahan penyakit yang lebih tinggi dibanding varian influenza sebelumnya.

    Meski begitu, kelompok rentan tetap perlu mendapat perhatian khusus.

    Anak-anak Jadi Kelompok yang Banyak Terpapar

    Mengutip publikasi ilmiah terbaru hingga Desember 2025, dr Prima menyebut Influenza A (H3N2) merupakan salah satu virus emerging yang memiliki sejarah panjang dalam kesehatan global.

    “Merujuk pada publikasi terbaru pada Desember 2025, influenza A (H3N2) merupakan salah satu virus emerging yang pernah menyebabkan pandemi di Amerika Serikat pada tahun 1968 dan kembali menjadi penyebab peningkatan flu pada 2024 hingga 2025, khususnya pada kelompok anak-anak,” jelas dr Prima kepada detikcom Selasa (30/12/2025).

    Dalam konteks subclade K, anak-anak disebut sebagai kelompok yang cukup banyak terpapar, seiring tingginya aktivitas dan interaksi sosial, terutama di lingkungan sekolah dan komunitas.

    Meski begitu, efektivitas vaksin influenza dinilai masih cukup baik dalam mencegah dampak berat.

    “Diperkirakan, efektivitas vaksin terhadap subclade ini berkisar antara 64 hingga 78 persen pada anak-anak dan 41 hingga 55 persen pada kelompok dewasa dalam mengurangi keparahan paparan,” tambahnya.

    Tidak Lebih Parah, tapi Perlu Waspada

    Sementara bila mengacu publikasi WHO PAHO (Pan American Health Organization) per 4 Desember 2025, yang mengulas peningkatan signifikan subclade K di Eropa dan beberapa negara Asia Timur, subclade K (J.2.4.1) dinyatakan sebagai hasil evolusi alami dari varian sebelumnya, J.2.4, dan tidak menunjukkan perubahan karakteristik keganasan penyakit secara signifikan.

    “Observasi pada peningkatan proporsi varian ini di Eropa selama Mei hingga November 2025 menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan terhadap efek keparahan, baik dari sisi angka rawat inap, perawatan intensif, maupun kematian,” ungkap dr Prima.

    Artinya, meskipun subclade K menyebar cukup cepat di sejumlah negara, tidak ditemukan peningkatan risiko keparahan klinis pada pasien yang terinfeksi.

    Lansia dan Komorbid Tetap Kelompok Rentan

    Meski data global menunjukkan tidak ada lonjakan keparahan, dr Prima menegaskan lansia dan individu dengan penyakit penyerta tetap masuk dalam kelompok yang perlu meningkatkan kewaspadaan.

    Hal ini bukan semata karena subclade K, tetapi karena influenza pada umumnya memang berisiko lebih berat pada kelompok tersebut, terutama jika disertai penyakit jantung, diabetes, gangguan paru, atau gangguan imunitas.

    Ia kembali mengingatkan pentingnya vaksinasi influenza, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta penggunaan masker saat sedang tidak fit, sebagai langkah pencegahan yang tetap relevan.

  • Apakah Wortel Bisa Mengurangi Mata Minus? Ketahui Faktanya!

    Apakah Wortel Bisa Mengurangi Mata Minus? Ketahui Faktanya!

    Jakarta

    Wortel kerap disebut sebagai salah satu makanan terbaik untuk menjaga kesehatan mata. Sayuran berwarna oranye ini dipercaya mampu membuat penglihatan lebih tajam, bahkan diyakini dapat mengurangi mata minus jika dikonsumsi secara rutin.

    Namun, apakah wortel bisa mengurangi mata minus? Di balik anggapan yang sudah lama beredar di masyarakat, ternyata ada fakta medis yang perlu dipahami agar tidak keliru. Simak penjelasan lengkap mengenai manfaat wortel untuk mata dan solusi yang benar untuk mengatasi mata minus berikut ini.

    Apakah Wortel Bisa Mengurangi Mata Minus?

    Banyak orang meyakini bahwa rajin mengonsumsi wortel dapat memperbaiki penglihatan atau mengurangi mata minus. Faktanya, klaim tersebut tidak sepenuhnya benar.

    Wortel memang kaya akan beta-karoten, yaitu zat yang akan diubah tubuh menjadi vitamin A. Nutrisi ini penting untuk menjaga fungsi retina dan membantu penglihatan, terutama dalam kondisi minim cahaya atau malam hari.

    Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi wortel dapat memperbaiki atau mengurangi mata minus (miopi). Mata minus terjadi akibat perubahan bentuk kornea atau panjang bola mata, dan kondisi ini tidak dapat diperbaiki hanya dengan asupan makanan.

    Dengan kata lain, wortel bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata secara umum, tetapi tidak mampu mengoreksi kelainan refraksi seperti mata minus. Penanganan medis tetap diperlukan untuk kondisi tersebut.

    Manfaat Wortel untuk Kesehatan Mata

    Walau tidak bisa mengurangi mata minus, wortel tetap memiliki banyak manfaat penting bagi kesehatan mata. Kandungan vitamin A, lutein, dan zeaxanthin di dalamnya berperan dalam menjaga fungsi retina serta melindungi mata dari kerusakan akibat radikal bebas. Berikut beberapa manfaat wortel untuk kesehatan mata:

    Menjaga penglihatan malam: Beta-karoten membantu retina menangkap cahaya dengan lebih baik sehingga mendukung penglihatan di kondisi gelap.

    Mencegah degenerasi makula: Antioksidan lutein dan zeaxanthin membantu melindungi mata dari risiko degenerasi makula yang berkaitan dengan usia.

    Mengurangi risiko katarak: Nutrisi dalam wortel membantu melawan kerusakan oksidatif pada lensa mata.

    Tips Menjaga Kesehatan Mata

    Menjaga kesehatan mata tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi wortel. Kesehatan penglihatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk gaya hidup sehari-hari. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan untuk menjaga mata tetap sehat:

    1. Konsumsi Makanan Bernutrisi

    Selain wortel, konsumsi sayuran berdaun hijau seperti bayam, brokoli, dan kale juga baik untuk mata. Tambahkan pula ikan berlemak seperti salmon dan tuna, telur, serta buah-buahan yang kaya vitamin C dan E untuk mendukung fungsi saraf mata dan memperlambat kerusakan retina.

    2. Olahraga Secara Teratur

    Aktivitas fisik membantu melancarkan sirkulasi darah, termasuk ke area mata. Lakukan olahraga sekitar 150 menit per minggu, misalnya jalan cepat, bersepeda, atau aktivitas ringan lainnya yang sesuai dengan kondisi tubuh.

    3. Berhenti Merokok

    Merokok meningkatkan risiko katarak, kerusakan saraf optik, dan degenerasi makula. Jika sulit berhenti, cobalah mengalihkan keinginan merokok dengan aktivitas positif atau konsultasikan dengan tenaga medis untuk mendapatkan bantuan yang tepat.

    4. Gunakan Kacamata Hitam

    Paparan sinar ultraviolet (UV) dapat merusak mata dan meningkatkan risiko katarak. Gunakan kacamata hitam yang mampu memblokir 100% sinar UV-A dan UV-B, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

    5. Jaga Kebersihan Mata

    Biasakan mencuci tangan sebelum menyentuh mata, hindari berbagi perlengkapan pribadi, serta bersihkan riasan sebelum tidur. Bagi pengguna lensa kontak, gunakan cairan pembersih baru setiap hari dan ganti wadah penyimpanannya secara berkala.

    6. Lindungi Mata dari Cahaya Biru

    Terlalu lama menatap layar gawai dapat menyebabkan mata lelah dan kering. Terapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.

    Cara Mengurangi Mata Minus

    Banyak orang mencari cara alami untuk mengatasi mata minus, termasuk dengan mengonsumsi wortel. Meski baik untuk kesehatan mata, wortel tidak dapat memperbaiki kelainan refraksi seperti miopi.

    Hingga saat ini, tidak ada makanan yang mampu mengubah struktur mata. Untuk mengoreksi mata minus, diperlukan metode medis yang tepat, salah satunya adalah LASIK mata minus.

    LASIK (Laser-Assisted in Situ Keratomileusis) merupakan prosedur bedah refraktif yang menggunakan teknologi laser untuk membentuk ulang kornea agar cahaya dapat difokuskan tepat ke retina. Prosedur ini dikenal aman, cepat, dan memberikan hasil permanen pada banyak pasien.

    Jenis LASIK pun beragam, mulai dari LASIK konvensional, Custom LASIK (Wavefront-Guided), Bladeless LASIK (Femto LASIK), hingga SMILE (Small Incision Lenticule Extraction). Pemilihan metode harus melalui pemeriksaan dokter mata dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti:

    Kesehatan mata secara umum.

    Tebal kornea.

    Usia pasien dan aktivitas harian yang memengaruhi kebutuhan visual.

    Stabilitas ukuran minus atau silinder selama beberapa tahun terakhir.

    Selain itu, agar hasil operasi optimal, pilih klinik mata yang memenuhi standar profesional dengan pertimbangan berikut:

    Menggunakan teknologi LASIK terkini dengan akurasi tinggi.

    Dikelola oleh dokter spesialis mata yang berpengalaman di bidang bedah refraktif.

    Menyediakan pemeriksaan pra-LASIK lengkap untuk menilai kelayakan tindakan.

    Memberikan panduan serta perawatan menyeluruh setelah prosedur selesai.

    Menjaga kesehatan mata bisa dimulai dari gaya hidup sehat, namun koreksi mata minus tetap memerlukan penanganan medis. Bagi yang ingin mengetahui pilihan koreksi penglihatan seperti LASIK, konsultasi dengan dokter mata menjadi langkah awal yang penting.

    Sejumlah rumah sakit mata, termasuk JEC Eye Hospitals and Clinics, menyediakan layanan pemeriksaan mata lengkap dengan dukungan tenaga medis berpengalaman dan teknologi bedah refraktif untuk membantu menentukan penanganan yang sesuai.

    (prf/ega)

  • Kronologi Akhir Tragis Pria Tergemuk di Dunia yang Meninggal karena Infeksi Ginjal

    Kronologi Akhir Tragis Pria Tergemuk di Dunia yang Meninggal karena Infeksi Ginjal

    Jakarta

    Kisah hidup pria di Meksiko, Juan Pedro Franco, yang sempat menyandang predikat tergemuk di dunia berakhir meninggal dunia. Namanya mulai dikenal dunia pada 2017, setelah tercatat dalam Guinness World Records sebagai pria terberat di dunia.

    Kilas Balik Jose Menurunkan Berat Badan

    Saat itu, berat badan Juan disebut mendekati 600 kg. Di usia 32 tahun, kondisinya sangat terbatas hingga hampir seluruh waktu hanya bisa dihabiskan di rumah sakit.

    Untuk memindahkan tubuhnya, dibutuhkan bantuan delapan orang dewasa. Juan juga tidak dapat buang air besar tanpa bantuan dan harus menggunakan popok.

    “Tubuh saya hanya mengikuti jalannya sendiri tanpa kendali sama sekali,” katanya dalam wawancara Guinness World Records, dikutip dari The Sun.

    “Saya mencoba diet hari demi hari, tetapi tidak ada yang berhasil dan saya menjadi putus asa,” tambahnya.

    Titik balik terjadi pada tahun yang sama. Juan memutuskan untuk melawan obesitas dan menjalani perawatan medis intensif di bawah pengawasan Dr Jose.

    Jalani Beberapa Operasi

    Dokter menerapkan diet Mediterania ketat yang berfokus pada buah dan sayuran, disertai dua prosedur operasi bariatrik.

    Sebelumnya, Juan lebih dulu menjalani operasi gastric sleeve, dilanjut dengan gastric bypass dan hasilnya signifikan. Ia berhasil menurunkan hampir setengah dari berat badannya dan mengalami perubahan fisik yang drastis.

    Pada 2019, berat badannya turun sekitar sepertiga dari total sebelumnya. Dalam tiga tahun berikutnya, Juan kehilangan total sekitar 340 kg.

    Pada 2023, berat badannya tercatat sekitar 208 kg. Di saat itu, Juan mengaku bahagia dengan perubahan yang dialaminya.

    “Hanya dengan mampu mengangkat tangan dan bangun setiap hari, bangun untuk minum atau pergi ke toilet, membuat Anda merasa hebat. Rasanya fantastis bisa bergerak lebih banyak dan lebih mandiri,” terangnya.

    Idap Sejumlah Penyakit

    Selama menjalani perawatan, Juan diketahui mengidap sejumlah penyakit serius. Beberapa di antaranya diabetes tipe 2, gangguan tiroid, hipertensi, serta penumpukan cairan di paru-paru.

    Sampai akhirnya dokter yang merawatnya, Jose Antonio Castaneda memberikan kabar duka. Juan menghembuskan napas terakhir di rumah sakit setelah kondisi kesehatannya terus memburuk selama beberapa hari.

    Juan meninggal pada 24 Desember 2025 di Aguascalientes, wilayah Meksiko tengah. Ia meninggal di usia 41 tahun akibat infeksi ginjal, setelah bertahun-tahun melawan obesitas ekstrem dan berbagai penyakit penyerta.

    Menurut dokter, kasus Juan merupakan kondisi yang kompleks dan menantang. Tetapi, kisahnya dapat menjadi pelajaran penting bahwa obesitas adalah penyakit serius yang membutuhkan perawatan medis yang terkoordinasi.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/naf)

  • Video ‘Super Flu’ Subclade K Masuk RI, Ngaruh ke Kondisi Epidemi Influenza?

    Video ‘Super Flu’ Subclade K Masuk RI, Ngaruh ke Kondisi Epidemi Influenza?

    Jakarta

    detikers, ada informasi terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) soal ‘super flu’ yang lagi jadi sorotan global, nih…

    Kemenkes mengonfirmasi kalau ‘super flu’ alias Influenza A (H3N2) clade 3C.2a1b.2a.2a.3a.1 (subclade K) sudah masuk Indonesia. Balai Besar Laboratorium Kesehatan melaporkan temuan ini pada 25 Desember 2025 berdasarkan hasil analisis genomik.

    “Mayoritas sub-type yang saat ini terdeteksi adalah influenza A H3N2 dengan proporsi tertinggi 100 persen pada minggu ke-51 di 2025. Influenza A H3N2 yang bersirkulasi adalah clade 3C.2a1b.2a.2a.3a.1,” jelas Plt Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Prima Yosephine kepada detikHealth, seperti dilihat 20Detik pada Rabu (31/12).

    Lalu, apakah masuknya subclade K ini mempengaruhi kondisi epidemi influenza di Indonesia? Berikut pernyataan Kemenkes.

    Tonton berita video lainnya di sini!

    (/)

  • Video: 5 Penyakit dengan Kasus Tertinggi Sepanjang 2025

    Video: 5 Penyakit dengan Kasus Tertinggi Sepanjang 2025

    Video: 5 Penyakit dengan Kasus Tertinggi Sepanjang 2025