Category: Detik.com Kesehatan

  • Ahli Teliti DNA Wanita 117 Tahun Demi Temukan Rahasia Panjang Umur, Ini Hasilnya

    Ahli Teliti DNA Wanita 117 Tahun Demi Temukan Rahasia Panjang Umur, Ini Hasilnya

    Jakarta

    Ahli di Spanyol melakukan penelitian DNA terhadap salah satu orang tertua di dunia bernama Maria Branyas yang bisa hidup hingga 117 tahun. Hasil penelitian ini dilakukan berdasarkan sampel darah, air liur, urine, dan feses Maria yang sudah disumbangkans sebelum ia wafat pada 2024. Pada saat itu, ia menyandang status manusia tertua yang masih hidup di dunia.

    Tim peneliti dari Josep Carreras Leukaemia Research Institute di Barcelona menemukan sel-sel tubuh Maria ‘berperilaku’ seolah-olah jauh lebih muda dibanding usia aslinya. Pada usia senjanya, Maria secara umum berada dalam kondisi kesehatan yang sangat baik.

    “Kesehatan kardiovaskulernya prima dan tingkat peradangan yang sangat rendah,” ujar peneliti dikutip dari Science Alert, Rabu (31/12/2025).

    Sistem kekebalan tubuh dan mikrobioma ususnya juga menunjukkan penanda biologis yang lazim ditemukan pada kelompok usia yang jauh lebih muda. Maria memiliki kadar kolesterol ‘jahat’ dan trigliserida yang sangat rendah, serta kadar kolesterol ‘baik’ yang tinggi.

    Menurut ahli, seluruh faktor tersebut kemungkinan besar berkontribusi pada kesehatan yang luar biasa dan umur panjang.

    “Umur manusia yang sangat panjang, seperti yang terlihat pada para supercentenarian, menghadirkan sebuah paradoks dalam memahami penuaan, meskipun usianya sangat lanjut, mereka tetap mempertahankan kesehatan yang relatif baik,” tulis peneliti.

    Maria memiliki kehidupan yang aktif secara mental, sosial, dan fisik. Namun, ia juga beruntung dalam sisi genetik.

    Pola makan mediterania yang dilakukannya tiap hari juga berperan dalam faktor panjang umurnya. Menurut ahli, hidup panjang umur dipengaruhi oleh kombinasi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.

    Peneliti menemukan telomer Maria mengalami penyusutan yang sangat signifikan, padahal struktur ini berperan melindungi ujung kromosom. Umumnya, telomer yang pendek dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi, tapi pada manusia dengan usia sangat lanjut, panjang telomer ternyata tidak lagi menjadi penanda penuaan yang dapat diandalkan.

    Bahkan, telomer yang sangat pendek justru diduga memberi keuntungan biologis. Umur sel yang lebih singkat mungkin membatasi kemampuan sel abnormal, termasuk sel kanker untuk berkembang dan menyebar.

    “Temuan ini memberikan sudut pandang baru tentang biologi penuaan manusia dengan mengusulkan biomarker untuk penuaan sehat serta strategi potensial untuk meningkatkan harapan hidup,” tandas peneliti.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/naf)

  • Video: Kenali Gejala ‘Super Flu’ Subclade K dan Cara Mendeteksinya

    Video: Kenali Gejala ‘Super Flu’ Subclade K dan Cara Mendeteksinya

    Jakarta

    Varian terbaru dari Influenza A (H3N2), subclade K, yang kini dijuluki ‘Super Flu’ telah ditemukan di Indonesia sejak 25 Desember 2025. Epidemiolog Dicky Budiman menyebut, gejala yang dirasakan bila terpapar subclade K ini secara khas mirip dengan flu pada umumnya (flu-like syndrome), tetapi ada beberapa perbedaan. Misalnya demam cenderung lebih tinggi, batuk yang lebih produktif, nyeri saat menelan, dll.

    Dicky menambahkan untuk mengetahui secara pasti apakah terinfeksi subclade K atau tidak, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

    “Ini harus ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium. Nanti dari hasil pemeriksaan laboratorium itu kita akan bisa tentukan ini COVID atau influenza. Kalau lebih spesifik lagi ke Subclade K ini ya tentu harus pemeriksaan genomik,” ungkap Dicky.

    Klik di sini untuk menonton video-video lainnya!

    (/)

    influenza a h3n2 subclade k super flu super flu subclade k gejala super flu gejala subclade k

  • Dokter Gizi Bagikan Tips Makan Sate Aman saat Malam Tahun Baru

    Dokter Gizi Bagikan Tips Makan Sate Aman saat Malam Tahun Baru

    Jakarta

    Malam Tahun Baru kerap identik dengan pesta barbekyu. Salah satu menu favorit yang hampir selalu hadir adalah sate, baik sate ayam, sapi, maupun kambing. Rasanya gurih, aromanya menggoda, dan mudah disantap bersama-sama membuat sate sering kali dikonsumsi tanpa disadari hingga berlebihan.

    Spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo, menjelaskan menikmati sate saat liburan sebenarnya tidak dilarang. Kuncinya terletak pada kesadaran memilih dan mengatur cara makan, bukan menahan diri secara ekstrem atau disebut mindful eating.

    Namun, yang sering luput diperhatikan bukan hanya daging satenya, melainkan pelengkapnya, terutama saus kacang. Saus ini umumnya dibuat dari kacang tanah yang digoreng, sehingga kandungan kalorinya cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, tambahan kalori bisa meningkat tanpa disadari.

    “Jadi misalkan mau sate, lagi liburan gini mau sate, boleh boleh. Nah, tapi kita langsung mikir sambil makan, sambil kita lihat, oh ini ada sambel kacangnya nih. Si kacangnya ini dari apa ya dibikinnya ya,” ucap dr Nathania kepada detikcom, di RS Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025).

    Karena itu, ia menyarankan agar saus kacang digunakan secukupnya. Salah satu cara sederhana adalah dengan mencocol sate ke saus, bukan menyiramkannya secara penuh. Perubahan kecil ini dapat mengurangi asupan kalori tanpa menghilangkan kenikmatan makan sate.

    Pendekatan ini dinilai lebih realistis dibandingkan membatasi diri secara ketat. Tanpa harus menghitung kalori secara detail, kebiasaan kecil seperti mengurangi saus dan menyantap sate secara perlahan dapat memberikan dampak yang signifikan jika dilakukan secara konsisten.

    “Itu coba, dari hal-hal kecil gitu aja udah mengurangi kalori, kalo terus menurut dilakukan ya, itu pasti mengurangi kalorinya secara signifikan deh. Jadi dari kebiasaan kecil-kecil sih,” lanjutnya.

    (suc/up)

  • Cegah Nyeri Sendi, Ini Waktu yang Tepat Lakukan Knee Arthroplasty

    Cegah Nyeri Sendi, Ini Waktu yang Tepat Lakukan Knee Arthroplasty

    Jakarta

    Momen liburan seharusnya diisi dengan aktivitas menyenangkan tanpa rasa khawatir. Sayangnya, nyeri lutut sering kali muncul saat perjalanan jauh atau aktivitas fisik meningkat, sehingga mengganggu kenyamanan dan kebebasan bergerak.

    Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat semakin memburuk dan membatasi fungsi sendi. Oleh karena itu, mengenali berbagai pilihan penanganan nyeri lutut menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas hidup.

    Menurut dr. Eka Mulyana, SpOT(K) dari Mayapada Hospital Bandung, nyeri lutut yang muncul atau semakin terasa saat liburan misalnya ketika harus berjalan jauh, naik turun tangga, atau berdiri lama dapat menjadi tanda radang sendi atau arthritis.

    “Radang sendi ini bisa disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti osteoarthritis akibat proses penuaan, rheumatoid arthritis yang berkaitan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, maupun cedera, sehingga perlu dikenali dan ditangani dengan tepat agar tidak mengganggu aktivitas liburan,” jelas dr. Eka dalam keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025).

    Dia mengatakan penanganan nyeri lutut umumnya dilakukan secara bertahap, mulai dari pengaturan aktivitas, fisioterapi, hingga penggunaan obat. Pada kondisi tertentu, ketika nyeri sudah berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari, tindakan lanjutan seperti knee arthroplasty dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengurangi nyeri dan memulihkan fungsi lutut.

    “Knee Arthroplasty merupakan operasi penggantian sendi lutut yang rusak dengan sendi buatan dari plastik atau logam untuk mengurangi nyeri dan memulihkan fungsi lutut. Prosedur ini umumnya berlangsung sekitar 1-2 jam dan bertujuan membantu pasien kembali bergerak lebih nyaman,” ujar dr. Eka.

    Sebelum tindakan, pasien perlu melakukan beberapa persiapan, seperti berpuasa selama 8 jam, pemeriksaan laboratorium, dan jantung.

    “Pasien juga diminta memberi tahu dokter tentang riwayat penyakit serta obat atau suplemen yang dikonsumsi agar tindakan berjalan aman,” jelasnya.

    Setelah prosedur, pasien akan dibantu dengan obat pereda nyeri dan dianjurkan menjalani pemulihan secara bertahap.

    “Selama masa pemulihan, pasien dianjurkan menggunakan alat bantu jalan sementara, menghindari aktivitas berat, serta melakukan latihan lutut ringan agar pemulihan berjalan lebih cepat,” ungkap dr. Eka.

    Dia mengatakan dengan mengenali dan menangani nyeri lutut sejak dini, momen liburan dapat berjalan lebih lebih nyaman tanpa terganggu keterbatasan gerak.

    “Dukungan layanan kesehatan yang menyeluruh juga menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi sendi,” tuturnya.

    Mayapada Hospital memiliki layanan Orthopedic Center dengan layanan komprehensif untuk berbagai masalah tulang, sendi, dan otot dengan pendekatan operatif serta non-operatif termasuk tindakan minimal invasif, hingga perawatan pasca-tindakan. Konsultasi bersama dokter di Orthopedic Center Mayapada Hospital dapat dilakukan melalui call centre 150770 atau aplikasi MyCare.

    Berbagai informasi seputar kesehatan tulang dan sendi dari Mayapada Hospital dapat ditemukan di aplikasi MyCare dalam fitur Health Articles & Tips. Selain itu, Anda dapat memantau kebugaran tubuh melalui fitur Personal Health untuk menghitung detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, dan Body Mass Index (BMI).

    (akn/ega)

  • Makin Banyak Usia Muda Kena Stroke, Ini Gejala Awal yang Mereka Keluhkan

    Makin Banyak Usia Muda Kena Stroke, Ini Gejala Awal yang Mereka Keluhkan

    Jakarta

    Stroke selama ini kerap dipersepsikan sebagai penyakit usia lanjut. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan gambaran berbeda. Stroke semakin banyak menyerang kelompok usia muda dan produktif.

    Pengalaman musisi dan aktor ternama Donald Glover atau Childish Gambino menjadi salah satu contoh nyata. Di usia 42 tahun, saat sedang menjalani tur dunia 2024, ia mendadak mengalami stroke.

    “Kepala saya sakit sekali, penglihatan saya sudah tidak jelas, tapi saya tetap tampil,” ujar Glover di hadapan penonton konser di Los Angeles, November lalu.

    “Saat ke Houston dan diperiksa dokter, saya diberi tahu bahwa saya terkena stroke.”

    Kasus Glover sejalan dengan data Studi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang dipublikasikan pada 2024, prevalensi stroke pada kelompok usia 18 hingga 44 tahun meningkat 14,6 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya.

    “Ini pesan penting bagi publik. Stroke bukan hanya penyakit orang tua,” kata Sean Savitz, Direktur Institute for Stroke and Cerebrovascular Diseases UTHealth Houston.

    “Stroke bisa menyerang siapa saja, di usia berapapun.”

    Menurut CDC, stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat, menyebabkan kerusakan jaringan otak dan berpotensi berujung kematian. Di Amerika Serikat, stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi.

    Para ahli belum sepenuhnya sepakat mengenai satu penyebab utama meningkatnya stroke pada usia muda. Namun, sejumlah faktor risiko kini makin sering ditemukan pada generasi muda, mulai dari kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, merokok, hingga stres berkepanjangan.

    Selain itu, riset American Heart Association (2024) juga menyoroti faktor lain yakni migrain, gangguan autoimun, dan kelainan pembuluh darah sebagai pemicu yang selama ini kerap luput dari perhatian.

    Stroke Sejak Remaja

    Stroke bahkan terjadi di usia remaja. Pemuda di Texas, AS, Evan Cadena, mengalami tiga kali serangan stroke sejak usia 16 tahun. Ia mendadak kehilangan kemampuan gerak di sebagian tubuh kanannya. Dokter menemukan Evan mengidap arteriovenous malformation (AVM), kelainan pembuluh darah bawaan.

    “Dia harus belajar ulang semuanya, bahkan menulis dengan tangan kiri,” kata ibunya, Janie Lazo.

    “Fasilitas dan sistem kesehatan nyaris tidak siap menghadapi pasien stroke seusia anak saya.”

    Stroke di usia remaja membuat Evan kehilangan banyak pengalaman penting dalam hidupnya, termasuk bersosialisasi dan bersekolah secara normal. Kondisi tersebut sempat menyeretnya ke jurang depresi.

    “Itu masa yang sangat berat,” ujar Evan.

    “Tapi saya masih hidup, masih bisa bergerak, dan itu yang membuat saya terus maju.”

    Meningkatnya kasus stroke pada usia muda menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan, yang selama ini lebih berfokus pada kelompok usia lanjut. Para ahli menilai, pencegahan harus dimulai lebih dini melalui pengendalian faktor risiko, skrining kesehatan, serta edukasi publik.

    Tergantung pada area yang terkena serangan, gejala stroke dapat menyerupai berbagai kondisi. Bukti menunjukkan stroke iskemik pada orang muda dapat menyerupai kejang, sindrom vestibular akut, migrain, infeksi, tumor otak, ensefalopati toksik-metabolik (terutama hipoglikemia), ensefalopati hipertensi, gastroenteritis, dan gangguan konversi.

    Gejala stroke yang khas dapat muncul, seperti wajah terkulai, kelemahan otot satu sisi, kesulitan berbicara, kesulitan penglihatan dan keseimbangan, gejala lain juga dapat terlihat termasuk penurunan koordinasi, defisit sensorik, sakit kepala, dan kelelahan.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Tubuh Berpotensi Alami Cedera Fisik saat Liburan, Ini Cara Cegahnya

    Tubuh Berpotensi Alami Cedera Fisik saat Liburan, Ini Cara Cegahnya

    Jakarta

    Liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi momen yang dinantikan banyak keluarga untuk beristirahat dan menikmati waktu bersama. Selama liburan, berbagai aktivitas fisik kerap dilakukan, mulai dari berjalan jauh saat berwisata, berenang, hingga bermain bersama anak.

    Tanpa disadari, aktivitas tersebut sering dilakukan dalam durasi yang panjang sehingga dapat menguras energi tubuh, terutama jika tidak disertai persiapan yang memadai. Untuk menghindari kondisi tersebut, dr. Surya Santosa, Sp.KO di Mayapada Hospital Jakarta Selatan menyarankan agar aktivitas fisik selama liburan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

    “Tubuh tetap perlu bergerak saat liburan, namun intensitasnya harus diatur. Idealnya, aktivitas fisik dimulai dengan pemanasan ringan, diikuti aktivitas utama dengan durasi dan intensitas yang disesuaikan, serta diakhiri pendinginan. Selain itu, mencukupi kebutuhan cairan dan memberi waktu istirahat yang cukup sangat penting untuk mencegah kelelahan dan cedera,” kata dr. Surya Santosa dalam keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025).

    Menurutnya, selain soal intensitas, mengenali batas kemampuan tubuh juga menjadi hal penting selama liburan. Jadwal yang padat, keinginan memaksimalkan waktu bersama keluarga, serta perubahan pola makan dan waktu istirahat kerap membuat tubuh lebih cepat lelah.

    Dalam kondisi ini, tidak sedikit orang tetap memaksakan diri beraktivitas meski tubuh sudah memberikan sinyal kelelahan, sehingga risiko cedera pun meningkat. Lebih lanjut, dr. Surya menekankan pentingnya memilih aktivitas yang aman dan inklusif bagi seluruh anggota keluarga.

    “Setiap anggota keluarga memiliki kondisi fisik yang berbeda, terutama anak-anak dan lansia. Karena itu, penting memilih aktivitas yang sesuai usia dan kemampuan, serta tidak memaksakan diri agar seluruh keluarga tetap dapat menikmati liburan dengan nyaman dan aman,” jelasnya.

    Dalam praktiknya, keluarga dapat memilih aktivitas fisik ringan yang dapat dilakukan bersama seperti berjalan santai, berenang dengan durasi yang sesuai atau bermain aktif bersama anak.

    Selain menjaga kebugaran, aktivitas ini juga mempererat kebersamaan, selama dilakukan secara bertahap dan diselingi waktu istirahat yang cukup.

    Selain pengaturan aktivitas, daya tahan tubuh selama liburan juga sangat dipengaruhi oleh asupan cairan dan nutrisi harian. Menurut dr. Oki Yonatan Oentiono, Sp.GK, PNS di Mayapada Hospital Kuningan, perhatian terhadap asupan cairan dan nutrisi selama liburan juga menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan tubuh.

    “Perubahan pola makan saat liburan, konsumsi makanan tinggi gula atau lemak, serta kurangnya minum air putih dapat menurunkan daya tahan tubuh. Karena itu, penting memastikan asupan cairan yang cukup dan memilih makanan bergizi seimbang agar stamina tetap terjaga, terutama saat beraktivitas di luar ruang.” tuturnya.

    Dia mengatakan dengan dukungan asupan nutrisi dan cairan yang tepat, aktivitas fisik yang dilakukan secara terukur selama liburan justru dapat membantu tubuh tetap bugar. Hal itu juga mampu membuat tubuh menjadi lebih siap kembali menjalani rutinitas setelah liburan usai.

    Dalam mendukung kebugaran anggota keluarga selama maupun setelah liburan Natal dan Tahun Baru, Mayapada Hospital melalui Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) menyediakan layanan terpadu, mulai dari skrining pra-olahraga, pencegahan dan penanganan cedera, hingga program peningkatan performa dan pemulihan pasca cedera atau operasi. Layanan ini didukung fasilitas modern seperti gym, VO₂ Max, dan Body Composition Analysis, serta ditangani oleh tim dokter multidisiplin dan fisioterapis berpengalaman.

    Berbagai informasi kesehatan dari dokter Mayapada Hospital dapat ditemukan di aplikasi MyCare dalam fitur Health Articles & Tips. Selain itu, Anda dapat memantau kebugaran tubuh melalui fitur Personal Health untuk menghitung detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, dan Body Mass Index (BMI).

    (akn/ega)

  • Main Golf Setelah Liburan, Ini Tips Jaga Sendi Tetap Sehat

    Main Golf Setelah Liburan, Ini Tips Jaga Sendi Tetap Sehat

    Jakarta

    Kembali aktif bermain golf di awal tahun menjadi momen yang dinantikan banyak pegolf. Selain menyegarkan pikiran setelah masa liburan, aktivitas ini juga menjadi cara menyenangkan untuk kembali bergerak. Meski terlihat santai, golf tetap membutuhkan kesiapan fisik agar tubuh tetap fit dan terhindar dari nyeri.

    Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Mayapada Hospital Kuningan, dr. Jafri Hasan, Sp.OT, Subsp.CO (K), mengatakan keluhan nyeri sendi kerap muncul ketika tubuh kembali dipacu beraktivitas setelah periode istirahat yang cukup panjang.

    “Memasuki awal tahun, tubuh perlu beradaptasi kembali dengan peningkatan aktivitas fisik, termasuk olahraga seperti golf yang melibatkan gerakan rotasi, tumpuan kaki, dan koordinasi sendi. Jika tidak diimbangi persiapan yang tepat, otot dan sendi akan lebih mudah mengalami ketegangan,” ujar dr.Jafri Hasan, dalam keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025).

    Meski termasuk olahraga low impact, golf tetap melibatkan gerakan berulang yang memberi tekanan pada sendi. Jika dimainkan dalam durasi lama atau saat kondisi tubuh belum sepenuhnya fit, beberapa area seperti punggung bawah, pinggul, lutut, dan pergelangan tangan berisiko mengalami keluhan.

    Untuk meminimalkan risiko tersebut, pegolf disarankan melakukan peregangan ringan secara berkala, idealnya setiap 2-3 jam, baik sebelum maupun saat bermain. Gerakan sederhana seperti meluruskan kaki, memutar pergelangan kaki, serta menggerakkan bahu dapat membantu mengurangi kekakuan otot dan menjaga fleksibilitas sendi.

    Selain peregangan, postur tubuh saat melakukan swing juga perlu diperhatikan. Posisi tubuh sebaiknya stabil dengan sedikit kemiringan ke depan, lutut dalam kondisi rileks, dan rotasi dilakukan secara terkontrol agar beban pada sendi tidak berlebihan.

    Hal senada disampaikan dr. Zeth Boroh, Sp.KO. Ia menekankan pentingnya mengenali batas kemampuan tubuh saat berolahraga.

    “Beristirahat sejenak, menjaga posisi tubuh yang benar, serta melakukan peregangan ringan secara rutin dapat membantu mencegah cedera, terutama saat melakukan aktivitas fisik seperti bermain golf yang menuntut kerja sendi secara berulang,” jelasnya.

    Sebagai bentuk komitmen terhadap dunia olahraga, Mayapada Hospital turut aktif mendukung berbagai kegiatan golf. Salah satunya dengan menjadi Official Medical Partner Bloomberg Technoz Year End Executive Golf Tournament 2025 yang digelar pada 19 Desember 2025 di Sentul Highlands Golf, Bogor.

    Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyediaan tim medis dengan layanan sports physiotherapy dan ambulans siaga. Selain itu, tersedia pula berbagai layanan kesehatan pendukung, seperti pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS), skrining risiko diabetes berbasis AI, analisis kekuatan dan genggaman tangan, pemeriksaan postur tubuh, hingga pengukuran indeks massa tubuh bagi para golfer.

    Bagi masyarakat yang ingin menjaga kebugaran dan performa tubuh, Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) menyediakan layanan komprehensif mulai dari skrining, pencegahan dan penanganan cedera, hingga peningkatan performa aktivitas fisik. Layanan ini didukung fasilitas lengkap seperti gym, VO2 Max, serta Body Composition Analysis.

    Informasi lengkap seputar layanan kesehatan di Mayapada Hospital dapat diakses melalui aplikasi MyCare pada fitur Health Articles & Tips. Aplikasi ini juga dilengkapi fitur Personal Health untuk memantau kebugaran, seperti langkah kaki, detak jantung, kalori terbakar, dan Body Mass Index (BMI).

    (akn/ega)

  • Mulai Sulit Fokus usai Libur Panjang? Coba Asah Lagi dengan Hitung Jumlah Hewan Ini

    Mulai Sulit Fokus usai Libur Panjang? Coba Asah Lagi dengan Hitung Jumlah Hewan Ini

    Mulai Sulit Fokus usai Libur Panjang? Coba Asah Lagi dengan Hitung Jumlah Hewan Ini

  • Anak Alergi Susu Sapi Berisiko Kurang Gizi? Ini Cara Mengatasinya

    Anak Alergi Susu Sapi Berisiko Kurang Gizi? Ini Cara Mengatasinya

    Jakarta

    Alergi susu sapi pada anak kerap membuat orang tua khawatir akan kecukupan gizi harian. Pasalnya, susu dikenal sebagai salah satu sumber nutrisi penting untuk tumbuh kembang. Meski demikian, anak dengan alergi susu sapi tetap dapat tumbuh optimal dengan pengelolaan asupan yang tepat.

    Reaksi alergi biasanya muncul setelah anak mengonsumsi protein dalam susu sapi, seperti kasein dan whey. Gejalanya beragam, mulai dari gangguan pencernaan, masalah kulit, hingga saluran pernapasan. Karena itu, penting bagi orang tua mengenali tanda-tandanya agar asupan anak dapat segera disesuaikan.

    Risiko kekurangan nutrisi dapat terjadi jika penghindaran susu sapi tidak diimbangi dengan sumber gizi alternatif. Padahal, anak tetap membutuhkan protein, lemak, serta zat pendukung lain untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak, terutama pada masa emas tumbuh kembang.

    Langkah yang bisa dilakukan adalah memilih makanan dan minuman yang bebas susu sapi, membaca label dengan cermat, serta berkonsultasi dengan dokter anak. Dengan pendampingan yang tepat, kebutuhan gizi anak tetap dapat terpenuhi tanpa memicu reaksi alergi.

    Sebagai salah satu pilihan, Morinaga Soya hadir sebagai nutrisi alternatif berbasis isolat protein kedelai bagi anak dengan sensitivitas susu sapi. Dilengkapi DHA untuk mendukung perkembangan kognitif serta kombinasi probiotik Triple Bifidus dan prebiotik FOS yang membantu menjaga kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh anak.

    (akn/ega)

  • Kenali Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak dan Cara Penuhi Gizinya

    Kenali Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak dan Cara Penuhi Gizinya

    Jakarta

    Alergi susu sapi masih menjadi tantangan kesehatan pada anak, khususnya balita. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat prevalensinya berkisar 2-7,5 persen. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun anak bereaksi terhadap protein dalam susu sapi, sehingga asupan gizi perlu dikelola dengan tepat agar tumbuh kembang tetap optimal.

    Gejala alergi susu sapi pada anak dapat muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah konsumsi. Keluhan yang sering ditemui antara lain gangguan saluran cerna seperti diare atau kolik, reaksi kulit berupa ruam atau eksim, hingga gangguan pernapasan seperti batuk dan pilek. Pada kondisi tertentu, reaksi berat dapat terjadi secara tiba-tiba sehingga perlu penanganan medis.

    Penyebab alergi susu sapi umumnya berkaitan dengan respons tubuh terhadap protein kasein dan whey. Faktor genetik juga berperan, terutama pada anak dengan riwayat alergi dalam keluarga. Paparan lingkungan, seperti asap rokok sejak masa kehamilan atau setelah lahir, turut disebut dapat meningkatkan risiko alergi.

    Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan mengenali tanda alergi sejak dini dan membatasi konsumsi produk yang mengandung susu sapi. Orang tua juga disarankan membaca label pangan dengan cermat serta berkonsultasi dengan dokter sebelum memperkenalkan makanan tertentu kepada anak.

    Sebagai alternatif pemenuhan gizi, orang tua dapat mempertimbangkan nutrisi berbasis kedelai seperti Morinaga Soya. Produk ini diformulasikan dari isolat protein kedelai berkualitas, dilengkapi DHA untuk dukung perkembangan kognitif, serta kombinasi probiotik Triple Bifidus dan prebiotik FOS yang membantu menjaga kesehatan saluran cerna dan daya tahan tubuh, sehingga kebutuhan gizi tetap terpenuhi dengan aman.

    (akn/ega)