Foto Health
Rengga Sancaya – detikHealth
Selasa, 06 Jan 2026 06:44 WIB
Jakarta – Vaksinasi influenza dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap influenza A (H3N2) subclade K atau superflu yang dilaporkan mulai muncul di Indonesia.

Foto Health
Rengga Sancaya – detikHealth
Selasa, 06 Jan 2026 06:44 WIB
Jakarta – Vaksinasi influenza dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap influenza A (H3N2) subclade K atau superflu yang dilaporkan mulai muncul di Indonesia.

Jakarta –
Di media sosial, perbincangan soal restoran atau rumah makan yang melarang pelanggan membawa tumbler belakangan ramai menuai pro dan kontra. Sebagian menilai aturan tersebut tidak ramah lingkungan, sementara yang lain mempertanyakan alasannya dari sisi kebersihan.
Di balik polemik itu, satu hal kerap luput dibahas: kebiasaan membawa air sendiri sebenarnya lahir dari kebutuhan tubuh yang sangat mendasar, yakni kebutuhan untuk minum air secara rutin sepanjang hari.
Dalam aktivitas harian yang padat, tubuh terus kehilangan cairan, bahkan tanpa disadari. Rasa haus tidak selalu muncul tepat waktu, sehingga banyak orang memilih membawa air putih sendiri agar bisa minum kapan saja, termasuk setelah makan.
Air putih pun menjadi pilihan utama karena paling sederhana, mudah diterima tubuh, dan tidak menambah asupan gula atau kalori berlebih. Kebiasaan ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan bentuk adaptasi terhadap kebutuhan fisiologis tubuh yang bekerja tanpa henti, baik saat beraktivitas di luar rumah maupun ketika makan di restoran.
Untuk memahami kenapa kebiasaan ini muncul di banyak orang, penting melihatnya dari sisi kebutuhan biologis tubuh.
Air merupakan komponen utama tubuh manusia dan berperan penting dalam menjaga berbagai fungsi fisiologis dasar. Kandungan air dalam tubuh tidak bersifat tetap, melainkan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, serta komposisi tubuh, terutama perbandingan massa otot dan lemak.
Kajian oleh Wang dkk. yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition menunjukkan bahwa air menyusun sekitar 73 persen dari fat-free mass atau massa tubuh bebas lemak. Jika dihitung terhadap total berat badan, kandungan air pada orang dewasa umumnya berada pada kisaran sekitar 50-60 persen, dengan proporsi yang lebih tinggi pada individu yang memiliki massa otot lebih besar.
Temuan ini menegaskan bahwa air bukan sekadar cairan pelengkap, melainkan bagian struktural utama tubuh manusia.
Karena air terus dikeluarkan dari tubuh melalui urine, keringat, dan pernapasan sepanjang hari, kebutuhan cairan bersifat harian dan harus dipenuhi secara rutin. Dalam literatur ilmiah, kebutuhan cairan tidak dinyatakan per waktu makan, melainkan sebagai total asupan harian.
Kajian kebutuhan air yang banyak dijadikan rujukan menyebutkan bahwa asupan cairan total pada orang dewasa berada di kisaran:
sekitar 2,7 liter per hari untuk perempuansekitar 3,7 liter per hari untuk laki-laki
Jumlah ini mencakup cairan yang berasal dari minuman maupun makanan.
Jika dikonversikan dengan asumsi 1 gelas standar sekitar 200-250 ml, kebutuhan tersebut setara dengan:
sekitar 11-13 gelas air per hari untuk perempuansekitar 15-18 gelas air per hari untuk laki-laki
Rasa haus sering dianggap sinyal utama tubuh membutuhkan air. Padahal, mekanismenya tidak sesederhana itu.
Secara fisiologis, haus merupakan respons yang relatif terlambat terhadap kekurangan cairan. Artinya, ketika rasa haus muncul, tubuh sebenarnya sudah mulai mengalami defisit cairan.
Ulasan ilmiah oleh Armstrong dalam Journal of the American College of Nutrition menjelaskan bahwa mekanisme haus baru aktif setelah terjadi penurunan volume cairan tubuh dan peningkatan osmolaritas darah. Pada tahap ini, tubuh mulai bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan cairan.
Kekurangan cairan ringan saja dapat berdampak langsung pada energi dan fungsi kognitif. Studi oleh Popkin dkk. dalam Nutrition Reviews menunjukkan bahwa dehidrasi ringan dapat menurunkan kapasitas fisik dan mental, membuat tubuh terasa lebih cepat lelah, sulit fokus, dan menurunkan performa aktivitas harian.
Secara fisiologis, saat tubuh kekurangan cairan, jantung harus memompa lebih keras untuk menjaga aliran darah, sementara otak menjadi lebih sensitif terhadap perubahan keseimbangan cairan. Kondisi ini menjelaskan mengapa tubuh bisa terasa lelah atau “tidak enak badan” meski belum merasa haus.
Angka ini tidak perlu dipenuhi sekaligus, melainkan dibagi sepanjang hari. Karena tubuh kehilangan cairan secara terus-menerus, membagi asupan air secara berkala termasuk setelah makan membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh tetap stabil.
Dari sini, wajar jika tubuh “menuntut” minum secara rutin, bahkan sebelum rasa haus muncul.
Selain soal waktu minum, muncul pula pertanyaan yang sering diperdebatkan: apakah minum air setelah makan justru mengganggu pencernaan?
Minum air putih setelah makan kerap dianggap dapat “mengencerkan” asam lambung atau enzim pencernaan. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya didukung bukti ilmiah.
Ulasan ilmiah dalam European Journal of Nutrition menjelaskan bahwa cairan membantu pembentukan bolus makanan dan mempermudah pergerakan makanan dari lambung ke usus. Air juga berperan dalam melarutkan zat gizi sehingga lebih mudah diproses oleh enzim pencernaan dan diserap di usus halus.
Kajian dalam American Journal of Gastroenterology menunjukkan bahwa konsumsi cairan bersama atau setelah makan tidak menurunkan efektivitas pencernaan, karena lambung memiliki mekanisme pengaturan keasaman yang mampu menyesuaikan produksi asam lambung sesuai kebutuhan.
Air juga berperan penting dalam menjaga fungsi usus besar. Studi dalam Nutrition Reviews menyebutkan bahwa kecukupan cairan berkontribusi terhadap konsistensi feses dan keteraturan buang air besar, sehingga membantu mencegah konstipasi.
Dengan kata lain, minum air setelah makan dalam jumlah wajar justru mendukung kenyamanan pencernaan.
Jika kebutuhan cairan muncul berulang sepanjang hari, maka perilaku membawa air sendiri menjadi konsekuensi yang masuk akal.
Kebiasaan ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan tubuh yang tidak selalu bisa diprediksi. Aktivitas harian sering kali membuat seseorang sulit menemukan akses air minum kapan saja dibutuhkan.
Selain itu, air putih sering dipilih karena tidak mengandung gula atau kalori tambahan. Dengan membawa air sendiri, banyak orang dapat memenuhi kebutuhan cairan tanpa bergantung pada minuman manis atau berpemanis yang kerap tersedia di luar.
Jika kebutuhan minum air muncul sepanjang hari dan mendorong banyak orang membawa air sendiri, sebagian pembaca mungkin bertanya-tanya: mengapa air putih yang dikonsumsi terasa berbeda-beda di setiap orang?
Meski sama-sama disebut air putih, komposisi mineral dalam air minum bisa berbeda. Kandungan kalsium, magnesium, natrium, atau bikarbonat memengaruhi rasa dan sensasi saat diminum. Kajian sensori yang dimuat dalam Food Quality and Preference menunjukkan bahwa variasi mineral terlarut dapat memengaruhi penerimaan rasa, sehingga sebagian orang merasa air tertentu lebih nyaman dibandingkan yang lain.
Selain soal rasa, respons tubuh terhadap air juga dipengaruhi kondisi fisiologis masing-masing individu. Ulasan ilmiah dalam Nutrition Reviews menjelaskan bahwa sensitivitas saluran cerna dan kebiasaan minum dapat memengaruhi kenyamanan tubuh saat mengonsumsi air. Karena itu, perasaan “cocok” ini bukan soal merek, melainkan respons tubuh yang berbeda-beda.
Yang terpenting, selama air tersebut aman dan membantu memenuhi kebutuhan cairan harian, air itu sudah baik bagi tubuh. Fokus utama tetap pada kecukupan minum air putih, bukan pada jenis atau merek tertentu.
Masalahnya, dampak kurang minum air sering tidak terasa secara langsung.
Dehidrasi ringan yang terjadi berulang dapat menurunkan kenyamanan tubuh tanpa gejala yang jelas. Tubuh mungkin terasa lebih cepat lelah, sulit fokus, atau terasa “tidak segar”, namun jarang langsung dikaitkan dengan asupan cairan.
Ulasan ilmiah oleh Popkin dkk. dalam Nutrition Reviews menjelaskan bahwa dehidrasi ringan sudah cukup untuk memengaruhi fungsi fisik dan kognitif. Saat tubuh kekurangan cairan, volume plasma darah menurun, sehingga pengantaran oksigen dan zat gizi ke jaringan menjadi kurang efisien.
Studi Armstrong dalam Journal of the American College of Nutrition juga menunjukkan bahwa defisit cairan ringan dapat memengaruhi suasana hati, kewaspadaan, serta kemampuan kognitif. Selain itu, ulasan dalam European Journal of Clinical Nutrition menyebutkan bahwa asupan cairan yang tidak memadai dapat memperlambat pergerakan usus dan meningkatkan risiko konstipasi.
Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang minum juga dapat membebani kerja ginjal. Karena gejalanya sering samar dan bertahap, kurang minum air putih kerap tidak disadari sebagai penyebab utama keluhan sehari-hari.
Inilah alasan mengapa menjaga kebiasaan minum air secara rutin (bukan sekadar saat haus) menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan harian.
Menjaga kecukupan air putih tidak selalu membutuhkan aturan yang rumit. Kuncinya adalah membangun kebiasaan minum secara konsisten sepanjang hari. Minum air sebaiknya dilakukan secara berkala, tanpa menunggu rasa haus, karena rasa haus sering muncul ketika tubuh sudah mulai mengalami kekurangan cairan.
Asupan air juga lebih baik dibagi sepanjang hari, termasuk sebelum dan setelah makan, agar keseimbangan cairan tubuh tetap terjaga. Dalam konteks inilah, membawa air putih sendiri misalnya dalam tumbler, menjadi cara praktis untuk memastikan tubuh tetap terhidrasi, terutama saat beraktivitas di luar rumah atau ketika akses air minum tidak selalu tersedia.
Air putih tetap menjadi pilihan utama karena tidak mengandung gula atau kalori tambahan. Sebagai indikator sederhana, warna urine yang bening hingga kuning pucat dapat menjadi tanda bahwa tubuh terhidrasi dengan cukup. Dengan ketersediaan air di dekat kita, kebutuhan cairan tubuh lebih mudah terpenuhi tanpa harus menunggu sinyal haus muncul.
Halaman 2 dari 6
Simak Video “Video: Cara Mudah Ketahui Kulit Dehidrasi”
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)

Jakarta –
Seorang pria berusia 23 tahun di Kota Can Tho, Vietnam, mengalami stroke iskemik. Diketahui, pasien tidak memiliki riwayat penyakit penyerta.
Dokter menduga kebiasaan merokok dan sering tidur larut malam menjadi faktor utama pemicu kondisi tersebut. Menurut keterangan dokter di Rumah Sakit Umum Layanan Internasional Stroke Can Tho, pasien dibawa ke rumah sakit setelah ditemukan dalam kondisi mengantuk disertai kelumpuhan sebagian tubuh.
Setelah dilakukan pemeriksaan, tim medis memastikan pria tersebut mengalami stroke iskemik. Dokter di rumah sakit tersebut kemudian melakukan intervensi pada pasien.
Berdasarkan hasil angiogram otak, ditemukan adanya penyumbatan pada arteri serebral tengah yang diduga kuat menjadi penyebab stroke.
Dr To Van Tan, wakil kepala departemen ICU dan anestesiologi rumah sakit, pada 17 Juli 2025 menjelaskan bahwa tim medis segera melakukan trombektomi mekanik darurat. Prosedur tersebut berhasil membersihkan pembuluh darah yang tersumbat, sekaligus membatasi kerusakan otak lebih lanjut.
Dr Tan menegaskan pasien tidak memiliki faktor risiko stroke yang umum, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dislipidemia, obesitas, malformasi pembuluh darah, maupun fibrilasi atrium.
Namun, dari keterangan keluarga, diketahui pasien memiliki kebiasaan merokok selama enam tahun dan sering begadang.
“Ini faktor-faktor yang diam-diam, tetapi berbahaya yang mempercepat penuaan pembuluh darah, menyebabkan aterosklerosis, dan meningkatkan risiko stroke, bahkan pada usia yang sangat muda,” jelas Dr Tan, dikutip dari VNExpress.
Ia menambahkan kasus stroke pada usia muda kini semakin sering terjadi, terutama dipicu gaya hidup tidak sehat. Faktor-faktor seperti merokok, stres kronis, kurang tidur, hingga penggunaan stimulan disebut berkontribusi besar.
Menurut Dr Tan, tren ini tergolong mengkhawatirkan karena stroke pada usia muda kerap diremehkan, sehingga penanganannya terlambat. Akibatnya, risiko dampak jangka panjang menjadi lebih besar.
Halaman 2 dari 2
(sao/naf)

Jakarta –
Masih banyak orang beranggapan bahwa tidur berkualitas hanya bisa didapatkan jika seseorang tidur selama 8 jam penuh setiap malam. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar.
Certified Sleep & Recovery Coach, Vishal Dasani, mengatakan bahwa tidur berkualitas tidak bisa diukur hanya dari lamanya waktu tidur.
“Memang ada orang-orang yang perlu tidurnya 8 jam. Tapi tidak semua orang perlu tidur 8 jam.” ucap coach Vishal Dasani, kepada detikcom pada Senin (05/01/2026).
Coach Vishal menjelaskan mengenai berbagai penelitian, kebutuhan tidur orang dewasa berada pada rentang tertentu.
“Untuk orang dewasa itu durasi tidur yang cukup, untuk fungsi yang optimal, itu berkisar antara 7 sampai 9 jam rata-rata per malam,” jelasnya.
Rentang tersebut menunjukkan bahwa tidak semua orang harus tidur tepat 8 jam. Ada individu yang sudah merasa segar dan berfungsi optimal dengan tidur 7 jam, sementara yang lain justru membutuhkan waktu tidur lebih lama.
“Tapi ada juga yang perlu lebih dari 8 jam. Mungkin 9 jam dan sebagainya. Intinya 7 sampai 9 jam,” sambungnya.
Apakah berarti durasi tidur tidak penting? Menurut Coach Vishal, durasi tidur tetap penting diperhatikan karena menjadi salah satu di antara beberapa indikator tidur berkualitas.
“Tidak ada tidur yang berkualitas kalau kuantitasnya terlalu singkat. Jadi salah satu kriteria tidur berkualitas adalah durasinya cukup dulu,” jelasnya.
Selain itu, tidur berkualitas juga harus pulas. Meluruskan kesalahpahaman, Coach Vishal menegaskan tidur pulas bukan berarti tidak boleh terbangun sama sekali.
“It’s ok terbangun tengah malam, itu bagian dari tidur yang normal. Asalkan tidak terlalu sering, dan saat terbangun durasi untuk bisa kembali tidur itu tidak lama,” terang Coach Vishal.
Terakhir, tidur berkualitas menurutnya harus bersifat restoratif. Artinya, tidur berkualitas harus bisa memulihkan kembali berbagai fungsi tubuh.
“Bangun tidur, moodnya bagus, loadingnya cepet, sepanjang hari berenergi, tidak mudah lelah, konsentrasi tinggi, bisa fokus, dan kita bisa berempati,” tandasnya.
Halaman 2 dari 2
(rfd/up)

Jakarta –
Serangan AS ke Venezuela bisa menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat di kawasan regional hingga global. Pakar global health security Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia menilai ketegangan konflik tersebut dapat memperparah krisis obat, mengganggu layanan kesehatan, serta meningkatkan risiko meluasnya penyakit menular lintas negara.
“Dalam konteks keamanan kesehatan global, Venezuela bahkan sebelum konflik pun sudah memiliki sistem kesehatan yang rapuh,” beber Dicky dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).
Bahkan, jauh sebelum eskalasi konflik, Venezuela disebut sudah menghadapi krisis berkepanjangan dalam sektor kesehatan, ditandai kekurangan obat-obatan esensial. Kondisi ini mencakup keterbatasan terapi HIV/AIDS, vaksin, hingga obat penyakit kronis.
Selain itu, Venezuela juga diterpa fenomena re-emerging diseases, atau munculnya kembali penyakit yang sebelumnya terkendali. Salah satu contohnya adalah difteri, kembali merebak akibat krisis ekonomi, menurunnya cakupan imunisasi, serta migrasi besar-besaran tenaga kesehatan ke luar negeri.
“Jadi baseline-nya sudah lemah. Konflik hanya akan memperburuk situasi yang sudah kritis,” jelasnya.
Gangguan Obat dan Layanan Kesehatan
Dicky menilai, konflik militer berpotensi menimbulkan gangguan serius pada pasokan dan distribusi obat, termasuk akses terhadap layanan kesehatan dasar. Ketidakstabilan keamanan akan mempersempit jalur distribusi, menghambat layanan imunisasi, serta menyulitkan penanganan penyakit kronis dan menular.
“Dalam situasi konflik, akses terhadap obat-obatan untuk HIV, malaria, diabetes, hingga layanan kesehatan rutin akan semakin terganggu,” ujarnya.
Ketidakseimbangan keamanan juga berisiko menghambat respons kesehatan darurat dan memperbesar angka kesakitan maupun kematian yang sebenarnya bisa dicegah.
Konflik yang berkepanjangan hampir selalu memicu gelombang migrasi dan pengungsian. Dalam konteks Venezuela, Dicky menilai arus pengungsi berpotensi meningkat dan memberikan tekanan besar pada negara-negara tetangga seperti Kolombia dan Peru.
“Wilayah transit dan pengungsian menjadi titik rawan penyebaran penyakit menular, apalagi jika bercampur dengan kondisi sanitasi buruk dan keterbatasan layanan kesehatan,” katanya.
Situasi tersebut disebutnya dapat memperbesar risiko wabah penyakit menular lintas batas, sekaligus menambah beban sistem kesehatan negara penerima pengungsi.
Selain penyakit menular, konflik senjata juga meningkatkan risiko cedera fisik dan trauma psikologis. Lonjakan kasus kekerasan akan menambah beban layanan kesehatan darurat, yang pada saat bersamaan justru mengalami keterbatasan sumber daya.
“Konflik bersenjata hampir selalu berbanding lurus dengan meningkatnya cedera dan trauma, yang membutuhkan respons kesehatan cepat dan mahal,” ujar Dicky.
Prioritas Anggaran untuk Kesehatan Bisa Bergeser
Dicky juga mengingatkan dampak konflik Venezuela tidak berhenti di tingkat nasional atau regional. Ketegangan geopolitik berpotensi memicu disrupsi rantai pasok global obat dan bahan medis, terutama jika terjadi blokade laut atau perluasan sanksi perdagangan.
Selain itu, konflik geopolitik dinilai dapat menggeser prioritas anggaran negara-negara besar dari bantuan kesehatan global ke sektor militer.
“Pendanaan untuk imunisasi, HIV, malaria, dan program kesehatan global lainnya bisa berkurang karena anggaran dialihkan ke pertahanan,” katanya.
Jika konflik meluas, implikasi kesehatan global bisa semakin kompleks, mulai dari krisis kemanusiaan besar-besaran, terganggunya program vaksinasi penyakit seperti polio dan campak, hingga meningkatnya kasus penyakit pernapasan dan kekurangan gizi di populasi pengungsi.
“Dalam perspektif keamanan kesehatan global, konflik ini bukan hanya soal satu negara, tetapi soal stabilitas kesehatan regional dan global,” ujarnya.
Halaman 2 dari 2
(naf/naf)

Jakarta –
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu diskusi medis setelah mengungkapkan bahwa dirinya mengonsumsi aspirin harian dengan dosis empat kali lipat lebih tinggi dari yang direkomendasikan dokter.
Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, pria berusia 79 tahun tersebut mengaku telah menjalani rutinitas ini selama 25 tahun.
“Mereka bilang aspirin baik untuk mengencerkan darah. Saya tidak ingin darah kental mengalir di jantung saya,” ujar Trump.
Ia rutin mengonsumsi satu tablet aspirin dewasa dosis 325 mg, padahal dokter umumnya menyarankan dosis rendah sebesar 81 mg untuk pencegahan penyakit jantung.
Dr Eleanor Levin, ahli kardiologi pencegahan dari Stanford Medicine, menjelaskan bahwa tidak ada manfaat tambahan dari mengonsumsi dosis 325 mg dibandingkan 81 mg untuk tujuan pencegahan.
“Dosis yang lebih tinggi itu sebenarnya tidak perlu,” kata dia kepada USA Today.
Aspirin juga dapat menyebabkan pendarahan yang kurang parah, seperti memar dan luka kecil. Trump pernah mengalami keduanya dan dokternya mengaitkan gejala tersebut dengan penggunaan aspirinnya, menurut memo Gedung Putih dari bulan Juli.
Levin mengatakan efek samping ini umum terjadi dan tidak mengkhawatirkan.
“Meskipun aspirin relatif lebih aman dibanding pengencer darah lainnya, pasien yang mengonsumsi obat ini, bahkan dalam dosis rendah, tetap berada pada risiko perdarahan di perut dan otak,” tambah Dr Levin.
Penggunaan aspirin yang tidak lazim oleh Trump kemungkinan tidak mengancam jiwa, meskipun ia mengatakan tidak merekomendasikan pasiennya untuk mengonsumsi aspirin dosis tinggi jika tidak diperlukan.
Ia menambahkan bahwa dosis di atas 2.400 miligram, dosis yang secara historis digunakan untuk mengobati radang sendi, harus dianggap sebagai aspirin dosis tinggi, dan bahkan jumlah yang lebih tinggi pun membawa risiko keamanan yang serius.
“Saya yakin dokternya mengatakan hal yang sama kepadanya,” tandas Dr Levin.
Halaman 2 dari 2
(kna/kna)

Foto Health
Mohammad Farrel – detikHealth
Senin, 05 Jan 2026 19:01 WIB
Jakarta – Dinkes DKI Jakarta mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan superflu dengan disiplin menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat di awal tahun.