Category: Detik.com Kesehatan

  • Awal Mula Pria Bugar Usia 23 Tahun Kena Stroke setelah Sering Begadang

    Awal Mula Pria Bugar Usia 23 Tahun Kena Stroke setelah Sering Begadang

    Jakarta

    Pria di Vietnam yang bugar mengalami stroke mendadak di usia yang masih muda, yakni 23 tahun. Disebutkan pria tersebut tidak memiliki riwayat penyakit lain.

    Melihat kondisinya, pria itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Layanan Internasional Stroke Can Tho, Vietnam. Ia ditemukan dalam kondisi mengantuk disertai kelumpuhan di sebagian badannya.

    Hasil Pemeriksaan Dokter

    Dari hasil pemeriksaan, tim medis memastikan pria tersebut mengalami stroke iskemik. Dokter kemudian melakukan intervensi pada pasien.

    Hasil angiogram otak ditemukan adanya penyumbatan pada arteri serebral tengah, yang diduga kuat menjadi penyebab stroke.

    Pada 17 Juli 2025, Wakil Kepala Departemen ICU dan Anestesiologi, Dr To Van Tan, dan timnya segera melakukan trombektomi mekanik darurat. Prosedur itu berhasil membersihkan pembuluh darah yang tersumbat, sekaligus membatasi kerusakan otak lebih lanjut.

    Dr Tan menjelaskan bahwa pasien tidak memiliki risiko stroke yang umum, seperti hipertensi, dislipidemia, obesitas, diabetes, malformasi pembuluh darah, maupun fibrilasi atrium.

    Kebiasaan Merokok dan Begadang

    Berdasarkan keterangan keluarga, pasien memiliki kebiasaan merokok selama enam tahun dan sering begadang.

    “Ini faktor-faktor yang diam-diam, tetapi berbahaya yang mempercepat penuaan pembuluh darah, menyebabkan aterosklerosis, dan meningkatkan risiko stroke, bahkan pada usia yang sangat muda,” jelas dokter, dikutip dari VNExpress.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/naf)

  • Cara Kerja ‘Kalung Euthanasia’, Ramai Disorot usai Dokter Penciptanya Dikecam Keras

    Cara Kerja ‘Kalung Euthanasia’, Ramai Disorot usai Dokter Penciptanya Dikecam Keras

    Jakarta

    CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangi klinik kesehatan jiwa. Konsultasi online secara gratis juga bisa diakses melalui laman Healing119.id.

    Seorang dokter ‘spesialis bunuh diri’ asal Australia bernama Dr Philip Nitschke menjadi sorotan karena ‘kalung euthanasia’ yang dibuat. Perangkat berbentuk kalung tersebut digunakan sebagai alat bantu bunuh diri secara medis.

    Ini bukan alat bunuh diri satu-satunya yang didesain oleh Dr Philip. Ia juga pernah membuat ‘pod bunuh diri’ yang sempat heboh karena digunakan secara ilegal oleh seorang perempuan di Swiss. Negara Swiss memang menjadi salah satu negara yang memperbolehkan bunuh diri medis, tapi persyaratan yang harus dipenuhi sangat ketat.

    Dalam sebuah workshop di Belanda, Dr Philip menjelaskan cara kerja alat yang diberi nama ‘Kairos Kollar’ itu seperti airbag mobil. Cara kerjanya begitu cepat.

    “Alat ini bekerja dengan cara cerdas dengan memberi tekanan pada dua titik penting di leher, yang menghasilkan dua efek, yaitu tekanan itu menghentikan aliran darah ke dua arteri penting,” ujar pendiri organisasi kampanye hak bunuh diri medis Exit International tersebut, dikutip dari Unilad, Selasa (6/1/2025).

    “Alat dipasang di leher, dan ketika tombol ditekan, alat itu langsung memberi tekanan pada arteri karotis dan vertebralis, sehingga menghentikan aliran darah ke otak,” tambahnya.

    Meski Dr Philip mengklaim alat ini memberikan kematian yang lebih ‘nyaman’, kritik mengalir deras kepadanya. Banyak pengguna media sosial yang menilai temuan Dr Philip tersebut sangat anti-kemanusiaan.

    Sebagian dari mereka berpendapat, seharusnya memperbaiki kualitas hidup di sisa usia, khususnya orang berusia tua dan pasien dengan penyakit parah, menjadi prioritas utama.

    “Seluruh semesta menangis melihat arah anti-kemanusiaan ini. Memalukan. Tidak etis. Lebih dari sekadar tragis,” kata salah satu pengguna media sosial.

    “Mengerikan, dan ini setiap hari mendorong saya untuk terus memperjuangkan dunia yang lebih baik bagi para orang tua,” kata yang lain.

    “Bagaimana ini bisa dianggap bermoral? Mencekik diri sendiri sampai mati? Orang yang mengerikan,” ucap pengguna media sosial lain.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/naf)

  • Jalan Kaki Pagi Vs Malam, Lebih Baik yang Mana? Pakar Bilang Gini

    Jalan Kaki Pagi Vs Malam, Lebih Baik yang Mana? Pakar Bilang Gini

    Jakarta

    Jalan kaki memiliki banyak manfaat, baik mental maupun fisik. Jika dilakukan dengan kecepatan dan intensitas yang tepat, berjalan kaki bisa menjadi cara yang baik untuk memberi nutrisi pada jantung.

    Kapan waktu untuk jalan kaki bisa memengaruhi manfaat yang akan diperoleh. Lantas, lebih baik mana? Jalan kaki di pagi hari atau di sore hari?

    Manfaat Berjalan Kaki di Pagi Hari

    Bangun tidur dan berjemur di bawah sinar matahari pagi bisa memberikan dampak positif pada waktu istirahat. Sebuah studi pada 2024 dalam Journal of Heatlh Psychology mengungkap, paparan sinar matahari pagi bisa membantu meningkatkan kualitas tidur di malam hari.

    Dikutip dari laman Vogue India, paparan sinar matahari di pagi hari bisa membantu pembentukan vitamin D. Nutrisi ini dibutuhkan untuk menjaga imunitas, sehingga lebih terlindung dari berbagai penyakit.

    Berjalan kaki di pagi hari juga terbukti bisa memperbaiki tekanan darah, konsentrasi insulin, dan resistensi insulin, dibandingkan dengan berjalan kaki di siang hari pada pasien dengan sindrom metabolik. Hal ini ditemukan dalam sebuah studi pada tahun 2023 dalam Journal of Phsycology.

    Tak hanya itu, menggunakan lemak sebagai sumber energi bisa membantu menurunkan berat badan.

    “Berolahraga dalam keadaan puasa saat cadangan glikogen Anda minimal bisa membantu Anda membakar lebih banyak lemak,” kata seorang ahli bedah bariatrik di MemorialCare Surgical Weight Loss Cener di Orange Coast Medical Center, Michael Russo.

    Kendati demikian, hal itu juga bisa memiliki efek sebaliknya karena tubuh merasa lelah atau kekurangan energi, sehingga olahraga menjadi kurang efektif.

    “Selan itu, jika asupan protein rendah, tubuh bisa membakar otot untuk energi dalam keadaan puasa,” tambahnya.

    Jadi, jalan kaki pagi hari dalam keadaan berpuasa atau perut kosong tidak cocok untuk semua orang. Hal ini akan menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam tujuan oenurunan berat badan.

    Manfaat Jalan Kaki di Malam Hari

    Berjalan kaki setelah makan malam baik untuk pencernaan. Menurut profesor ilmu olahraga terapan dan ilmu gerak di Fakultas Kinesiologi Universitas Michigan, Laura A. Richardson, hal ini juga mengurangi kemungkinan untuk mengonsumsi makanan tambahan seperti cemilan sebelum tidur.

    Jalan kaki di malam hari juga memengaruhi kualitas tidur. Tapi, hal tersebut sebenarnya tergantung pada masing-masing orang.

    Sebuah studi menunjukkan olahraga pagi dan malam hari mempercepat siklus tidur-bangun dan produksi melatonin pada orang yang terbiasa begadang, sehingga berjalan kaki kapanpun bisa bermanfaat untuk mereka. Sebaliknya, olahraga malam hari bisa menunda manfaat ini bagi orang terbiasa bangun pagi.

    “Jika mempertimbangkan untuk menjadwalkan jalan kaki di malam hari, periksa saja bagaimana hal itu memengaruhi tidur,” kata Richardson.

    Dikutip dari laman Runstreet, jalan kaki malam hari bisa mengatasi efek stres sepanjang hari.

    Mana yang Lebih Baik?

    Secara keseluruhan berjalan kaki memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Jadi, hal ini tidak terpaku pada waktu melakukannya.

    Sebenarnya, pemikiran mendasar adalah memilih waktu yang dapat Anda lakukan secara konsisten,” kata Richardson.

    Hal ini akan membantu membangun kebiasaan dan jadwal seputar olahraga. Selain itu, tetap berolahraga dalam waktu yang sama memiliki manfaat tersendiri pada ritme sirkadian.

    (elk/naf)

  • Jago Matematika? Coba Kerjakan Soal ini Tanpa Melihat Jawabannya!

    Jago Matematika? Coba Kerjakan Soal ini Tanpa Melihat Jawabannya!

    Jago Matematika? Coba Kerjakan Soal ini Tanpa Melihat Jawabannya!

  • Butuh Berapa Lama Sembuh saat Tertular ‘Super Flu’? Ini Penjelasan Pakar

    Butuh Berapa Lama Sembuh saat Tertular ‘Super Flu’? Ini Penjelasan Pakar

    Jakarta

    Belakangan, ‘Super Flu’ menjadi sorotan dunia setelah memicu peningkatan kasus di sejumlah negara. Varian baru influenza A (H3N2) yang dikenal sebagai subclade K bahkan telah terdeteksi di Indonesia. Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya, berapa lama waktu pemulihan setelah tertular ‘Super Flu’, dan benarkah durasinya lebih lama dibandingkan flu biasa?

    Dikutip SELF, flu dapat menimbulkan gejala seperti demam, batuk, dan sakit tenggorokan. Namun setelah gejala utama mereda, sebagian pengidap masih mengalami kelelahan berkepanjangan dan tubuh terasa belum sepenuhnya fit.

    “Begitu influenza menyerang, efeknya bisa bertahan lebih lama dibandingkan fase sakit akutnya,” kata William Schaffner, profesor di Vanderbilt University School of Medicine, kepada SELF.

    Flu sejak lama dikenal sebagai penyakit yang berpotensi serius. Namun strain yang saat ini beredar, dikenal sebagai subclade K, dinilai lebih kuat dan lebih mampu menghindari kekebalan yang terbentuk dari vaksin flu sebelumnya atau infeksi flu di masa lalu. Akibatnya, lebih banyak orang rentan tertular dan merasakan sakit lebih lama dari biasanya.

    Memang masih terlalu dini untuk memastikan berapa lama rata-rata pengidap sakit akibat subclade K. Namun, Schaffner mengatakan ia mendengar banyak laporan bahwa strain ini menyebabkan durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu biasa.

    “Strain dominan saat ini termasuk keluarga H3N2, yang memang cenderung menimbulkan penyakit lebih berat,” ujarnya.

    Berapa lama butuh waktu untuk sembuh setelah tertular ‘Super Flu’?

    Berapa lama pemulihan berlangsung sangat bergantung pada respons imun masing-masing orang dan kondisi kesehatan penyerta. Meski begitu, dokter memberi gambaran umum.

    “Gejala akut seperti demam biasanya mereda dalam beberapa hari, tetapi kelelahan dan rasa tidak enak badan bisa bertahan hingga satu minggu atau lebih,” ujar Amesh A Adalja, peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security.

    Salah satu penyebabnya adalah respons peradangan yang dibentuk tubuh untuk melawan virus. Meski infeksi utama mulai mereda, peradangan ini bisa berlanjut dan memicu batuk kering, sakit tenggorokan, serta rasa lemas berkepanjangan.

    “Itu bisa berlangsung cukup lama,” kata Schaffner.

    Faktor lain yang memperlambat pemulihan adalah dehidrasi dan kurang bergerak karena tubuh terasa lemah. Bahkan, sebagian orang mengalami kondisi yang disebut long influenza syndrome, mirip long COVID, tetapi akibat flu.

    Meski data awal menunjukkan vaksin flu tahun ini tidak sepenuhnya efektif mencegah infeksi, Adalja menilai vaksinasi tetap membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi keparahan penyakit.

    Cara mempercepat waktu pemulihan usai tertular ‘Super Flu’

    Di sisi lain, terdapat beberapa cara untuk mempercepat pemulihan atau setidaknya membuat tubuh lebih nyaman selama sakit. Salah satunya, berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai obat antivirus.

    “Jika antivirus diberikan lebih awal, tingkat keparahan penyakit bisa berkurang,” ujar Schaffner.

    Selain itu, menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik. “Pastikan Anda cukup minum,” kata Schaffner. “Jika Anda membiarkan diri Anda dehidrasi, Anda lebih mungkin terkena pneumonia.”

    “Tidak hanya itu, tubuh yang terhidrasi dengan baik akan menjaga selaput lendir tetap lembap dan memudahkan pengeluaran lendir hidung, sehingga Anda merasa tidak terlalu tersumbat, kata Schaffner.

    Saat fase pemulihan, melakukan olahraga ringan juga dianjurkan, termasuk juga istirahat yang cukup. Terakhir, pakar juga mengingatkan agar tetap waspada terhadap komplikasi flu, terutama pneumonia.

    “Jika seseorang mengalami demam yang tak kunjung reda, sesak napas, atau kelelahan ekstrem yang menghalangi mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari, mereka harus menemui penyedia layanan medis,” kata Adalja.

    Jika Anda sudah lebih dari seminggu sejak sakit akut dan Anda tidak kunjung membaik atau bahkan merasa lebih buruk, sudah saatnya menghubungi dokter Anda,” kata Schaffner.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/suc)

  • Butuh Berapa Lama Sembuh saat Tertular ‘Super Flu’? Ini Penjelasan Pakar

    Butuh Berapa Lama Sembuh saat Tertular ‘Super Flu’? Ini Penjelasan Pakar

    Jakarta

    Belakangan, ‘Super Flu’ menjadi sorotan dunia setelah memicu peningkatan kasus di sejumlah negara. Varian baru influenza A (H3N2) yang dikenal sebagai subclade K bahkan telah terdeteksi di Indonesia. Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya, berapa lama waktu pemulihan setelah tertular ‘Super Flu’, dan benarkah durasinya lebih lama dibandingkan flu biasa?

    Dikutip SELF, flu dapat menimbulkan gejala seperti demam, batuk, dan sakit tenggorokan. Namun setelah gejala utama mereda, sebagian pengidap masih mengalami kelelahan berkepanjangan dan tubuh terasa belum sepenuhnya fit.

    “Begitu influenza menyerang, efeknya bisa bertahan lebih lama dibandingkan fase sakit akutnya,” kata William Schaffner, profesor di Vanderbilt University School of Medicine, kepada SELF.

    Flu sejak lama dikenal sebagai penyakit yang berpotensi serius. Namun strain yang saat ini beredar, dikenal sebagai subclade K, dinilai lebih kuat dan lebih mampu menghindari kekebalan yang terbentuk dari vaksin flu sebelumnya atau infeksi flu di masa lalu. Akibatnya, lebih banyak orang rentan tertular dan merasakan sakit lebih lama dari biasanya.

    Memang masih terlalu dini untuk memastikan berapa lama rata-rata pengidap sakit akibat subclade K. Namun, Schaffner mengatakan ia mendengar banyak laporan bahwa strain ini menyebabkan durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu biasa.

    “Strain dominan saat ini termasuk keluarga H3N2, yang memang cenderung menimbulkan penyakit lebih berat,” ujarnya.

    Berapa lama butuh waktu untuk sembuh setelah tertular ‘Super Flu’?

    Berapa lama pemulihan berlangsung sangat bergantung pada respons imun masing-masing orang dan kondisi kesehatan penyerta. Meski begitu, dokter memberi gambaran umum.

    “Gejala akut seperti demam biasanya mereda dalam beberapa hari, tetapi kelelahan dan rasa tidak enak badan bisa bertahan hingga satu minggu atau lebih,” ujar Amesh A Adalja, peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security.

    Salah satu penyebabnya adalah respons peradangan yang dibentuk tubuh untuk melawan virus. Meski infeksi utama mulai mereda, peradangan ini bisa berlanjut dan memicu batuk kering, sakit tenggorokan, serta rasa lemas berkepanjangan.

    “Itu bisa berlangsung cukup lama,” kata Schaffner.

    Faktor lain yang memperlambat pemulihan adalah dehidrasi dan kurang bergerak karena tubuh terasa lemah. Bahkan, sebagian orang mengalami kondisi yang disebut long influenza syndrome, mirip long COVID, tetapi akibat flu.

    Meski data awal menunjukkan vaksin flu tahun ini tidak sepenuhnya efektif mencegah infeksi, Adalja menilai vaksinasi tetap membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi keparahan penyakit.

    Cara mempercepat waktu pemulihan usai tertular ‘Super Flu’

    Di sisi lain, terdapat beberapa cara untuk mempercepat pemulihan atau setidaknya membuat tubuh lebih nyaman selama sakit. Salah satunya, berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai obat antivirus.

    “Jika antivirus diberikan lebih awal, tingkat keparahan penyakit bisa berkurang,” ujar Schaffner.

    Selain itu, menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik. “Pastikan Anda cukup minum,” kata Schaffner. “Jika Anda membiarkan diri Anda dehidrasi, Anda lebih mungkin terkena pneumonia.”

    “Tidak hanya itu, tubuh yang terhidrasi dengan baik akan menjaga selaput lendir tetap lembap dan memudahkan pengeluaran lendir hidung, sehingga Anda merasa tidak terlalu tersumbat, kata Schaffner.

    Saat fase pemulihan, melakukan olahraga ringan juga dianjurkan, termasuk juga istirahat yang cukup. Terakhir, pakar juga mengingatkan agar tetap waspada terhadap komplikasi flu, terutama pneumonia.

    “Jika seseorang mengalami demam yang tak kunjung reda, sesak napas, atau kelelahan ekstrem yang menghalangi mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari, mereka harus menemui penyedia layanan medis,” kata Adalja.

    Jika Anda sudah lebih dari seminggu sejak sakit akut dan Anda tidak kunjung membaik atau bahkan merasa lebih buruk, sudah saatnya menghubungi dokter Anda,” kata Schaffner.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/suc)

  • Catat! Begini Tahapan Gejala yang Muncul saat Tertular ‘Super Flu’

    Catat! Begini Tahapan Gejala yang Muncul saat Tertular ‘Super Flu’

    Jakarta

    Wabah ‘super flu’ menjadi perhatian dunia karena adanya lonjakan di beberapa negara. Hal ini disebabkan varian baru influenza A yakni H3N2, yang dikenal sebagai subclade K.

    Layanan Kesehatan Nasional di Inggris (NHS) telah memperingatkan tentang infeksi virus ini selama berbulan-bulan. Profesor Nicola Lewis, direktur Pusat Influenza Dunia di Institut Francis Crick mengatakan belum pernah melihat virus seperti ini untuk beberapa waktu, dengan dinamika yang tidak biasa.

    “Ini benar-benar membuat saya khawatir. Saya tidak panik, tetapi khawatir,” katanya, dikutip dari LadBible.

    Flu ini bermutasi dari penyakit dan dikatakan sebagai ‘infeksi super’, ‘lebih parah’, dan ‘lebih ganas’ dari flu biasa.

    Lantas, bagaimana tahapan gejala dari ‘Super Flu’?

    Gejala Umum Berkepanjangan

    Flu dapat menimbulkan gejala seperti demam, batuk, dan sakit tenggorokan. Tetapi, setelah gejala utama mereda, sebagian orang masih mengalami lelah berkepanjangan dan tubuh yang terasa belum sepenuhnya sehat.

    “Begitu influenza menyerang, efeknya bisa bertahan lebih lama dibandingkan fase sakit akutnya,” terang profesor di Vanderbilt University School of Medicine, William Schaffner, dikutip dari SELF.

    Strain subklade K ini disebut lebih kuat dan mampu menghindari kekebalan yang terbentuk dari vaksin flu atau infeksi flu sebelumnya. Hal ini yang membuat banyak orang rentan tertular dan sakit lebih lama dari biasanya.

    Alami Kelelahan dan Tidak Enak Badan

    Schaffner mengungkapkan banyak laporan menyebutkan bahwa durasi sakit akibat strain ini lebih panjang dibandingkan flu biasa.

    “Gejala akut seperti demam biasanya mereda dalam beberapa hari, tetapi kelelahan dan rasa tidak enak badan bisa bertahan hingga satu minggu atau lebih,” terang peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh A Adalja.

    Terjadi Peradangan

    Penyebab lainnya gejala berlangsung lama adalah respons peradangan yang dibentuk tubuh untuk melawan virus. Meski infeksi utama mulai mereda peradangan ini bisa berlanjut dan memicu batuk kering, sakit tenggorokan, serta rasa lemas berkepanjangan.

    “Itu bisa berlangsung cukup lama,” Schaffner.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/naf)

  • IDAI Imbau Anak Bapil-Lemas Tunda Masuk Sekolah: Istirahat hingga Pulih

    IDAI Imbau Anak Bapil-Lemas Tunda Masuk Sekolah: Istirahat hingga Pulih

    Jakarta

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orangtua dan pihak sekolah meningkatkan kewaspadaan kesehatan anak seiring dimulainya kembali aktivitas belajar di tengah puncak musim hujan. Curah hujan tinggi dan kelembapan disebut berpotensi memicu peningkatan kasus penyakit menular seperti influenza, diare, demam berdarah, serta risiko bencana hidrometeorologi.

    Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), mengungkap sejumlah ‘starter kit’ bagi anak yang kembali ke sekolah. Pertama, memastikan anak melengkapi imunisasi dasar dan lanjutan anak sesuai usia, termasuk untuk mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (PD3I) seperti campak, difteri, pertusis, hingga influenza.

    “Berikan makanan padat nutrisi terutama protein hewani, cukup cairan agar tidak dehidrasi. Batasi makanan tidak sehat yang mengandung gula tinggi dan junk food,” beber dr Piprim dalam keterangannya, dikutip Selasa (6/1/2026).

    Anak dengan gejala yang tak kunjung mereda dianjurkan beristirahat di rumah hingga pulih.

    “Pastikan anak tidur malam 8 hingga 10 jam sesuai usia untuk mengoptimalkan sistem imun. Jika anak menunjukkan gejala sakit seperti demam, batuk, pilek, diare, atau lemas, segera periksa ke fasilitas kesehatan dan istirahatkan di rumah hingga benar-benar pulih untuk mencegah penularan,” sambungnya.

    Orangtua disebutnya perlu mengajarkan anak menerapkan etika batuk dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan pakai sabun, menggunakan masker saat bergejala, serta tidak berbagi alat makan dan minum. Ketiga, pencegahan penyakit khas musim hujan melalui penerapan 3M Plus untuk demam berdarah, penggunaan alas kaki untuk mencegah diare dan leptospirosis, serta konsumsi makanan dan air bersih.

    IDAI juga menekankan kesiapsiagaan menghadapi hujan lebat dan potensi bencana. Orangtua dan sekolah diminta memperkuat komunikasi, memastikan prosedur evakuasi dipahami anak, serta menyiapkan tas siaga berisi jas hujan, air minum, makanan tahan lama, obat pribadi, dan kontak darurat.

    Sementara Sekretaris Umum IDAI, Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Subsp HemaOnk(K), mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas pihak.

    “Dengan upaya bersama, kita bisa menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi anak-anak untuk belajar dan tumbuh optimal, meski di tengah tantangan musim hujan,” ujarnya. IDAI mendorong sekolah memperkuat sarana sanitasi dan kerja sama dengan puskesmas, serta meminta pemerintah daerah memastikan lingkungan sekolah aman dari risiko banjir dan longsor.

    (naf/naf)

  • Ada Temuan Lab Narkoba Happy Water-Vape Etomidate di Ancol, Zat Apa Itu?

    Ada Temuan Lab Narkoba Happy Water-Vape Etomidate di Ancol, Zat Apa Itu?

    Jakarta

    Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap adanya laboratorium narkoba di sebuah apartemen di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Laboratorium tersebut digunakan untuk memproduksi happy water yang dikemas dalam minuman berasa dan liquid berisi etomidate.

    Berdasarkan temuan tersebut, sebanyak empat orang ditetapkan sebagai tersangka.

    “Petugas mengamankan empat orang tersangka yang masing-masing memiliki peran sebagai kurir, peracik, atau pembiaya,” ucap Plt Deputi Pemberantasan BNN, Budi Wibowo, dikutip dari detikNews, Selasa (6/1/2026).

    Sebenarnya apa itu happy water dan etomidate? Peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) dr Hari Nugroho mengungkapkan happy water merupakan salah satu jenis narkoba yang muncul di Asia Tenggara sekitar tahun 2022.

    Ia menjelaskan narkoba ini tidak hanya berisi satu jenis zat tunggal, melainkan campuran dari beberapa zat atau oplosan.

    “Semacam oplosan atau cocktail dari berbagai narkoba, misalnya methamphetamine, MDMA (Metilendioksimetamfetamina atau ekstasi), diazepam, tramadol, ketamine, dan kafein,” ungkap dr Hari ketika dihubungi detikcom, Selasa (6/1/2025).

    “Biasanya dijual di sosmed atau tempat-tempat hiburan, baik dalam bentuk serbuk yang bisa dilarutkan dalam air atau dicampur dengan minuman lain,” sambungnya.

    Sementara itu, etomidate sebenarnya adalah obat anestesi yang digunakan secara medis. Namun, dr Hari mengatakan obat ini mulai banyak disalahgunakan, utamanya untuk membuat liquid vape.

    Efek yang Ditimbulkan

    Efek yang ditimbulkan dari penyalahgunaan kedua narkoba ini mirip. Happy water dapat menimbulkan efek tinggi dan euforia yang intens. Oleh karena itu, narkoba jenis ini sering digunakan untuk pesta.

    “Sedangkan etomidate yang diharapkan juga mirip-mirip efek high, nge-fly, dan disosiatif yang intens,” jelas dr Hari.

    dr Hari mengingatkan penyalahgunaan narkoba jenis happy water dan etomidate bisa sangat berbahaya untuk kesehatan. Khususnya pada kasus etomidate, penggunaan melalui vape membuat dosisnya tidak terkontrol, sehingga sangat berisiko.

    “Pada orang yang kemudian mengalami adiksi, terutama menggunakan rokok elektrik, hal yang sering tidak disadari adalah dosis yang digunakan seringkali jadi lebih banyak, karena proses menghisap vape yang terjadi berulang kali,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Awas! Kepala BNN Peringatkan Modus Penyebaran Narkoba Makin Beragam”
    [Gambas:Video 20detik]
    (avk/kna)

  • Warganet Pertanyakan Kandungan ‘Matcha Infus’, Dokter Soroti Hal Ini

    Warganet Pertanyakan Kandungan ‘Matcha Infus’, Dokter Soroti Hal Ini

    Jakarta

    Sebuah kedai teh di Bali viral di media sosial setelah menyajikan sebuah menu matcha latte dengan kemasan infus ‘D5 Dextrose monohydrate’. Banyak netizen mempertanyakan dari mana asal usul kemasan infus tersebut dan apakah aman untuk dikonsumsi.

    Beberapa netizen bahkan menduga matcha tersebut dicampurkan dengan cairan infus D5, karena kandungan di dalamnya seperti air gula.

    “Googling td, dextrose itu air gula, curiga matcha-nya dicampur dalam infusan baru, jadi bukan dr limbah medis. cuman gatau deh kyk gitu boleh apa nggak, apalagi langsung diminum,” kata salah satu netizen media sosial X.

    “Kalo pun baru, ttp ga etis gasi? Nanti rs2 yg bener butuh malah kehabisan gr2 yg kaya gini viral,” timpal netizen lain yang mempertanyakan etis atau tidaknya hal tersebut.

    Terlepas dari kejadian tersebut, apakah benar infus D5 bisa dikonsumsi secara langsung? Spesialis penyakit dalam Prof Dr dr Ketut Suastika, SpPD-KEMD membenarkan infus D5 sangat mirip dengan air gula.

    Ia mengatakan infus D5 secara umum aman dikonsumsi langsung karena sudah melalui proses sterilisasi. Namun, ia menegaskan cairan infus hanya diberikan pada pasien melalui pembuluh darah.

    Meskipun aman, bukan berarti cairan infus bisa dikonsumsi sembarangan. Apalagi dengan oral atau minum secara langsung.

    “Kalau masih dalam kemasan cairan infus D5 adalah steril, karena semua yang dimasukkan melalui pembuluh darah harus steril,” ungkap Prof Ketut.

    Berkaitan dengan kemungkinan matcha yang dicampur secara langsung dengan cairan infus D5, dr Ketut berpendapat secara etika dan nilai ekonomi, ini adalah tindakan yang kurang tepat. Cairan infus memiliki harga yang lebih mahal bila dibandingkan dengan air gula pada umumnya.

    Ia mengingatkan gimmick promosi sebuah produk sebaiknya tetap memperhatikan etika yang ada. Masyarakat juga harus mendapatkan edukasi yang menjelaskan terkait penggunaan cairan infus yang sebenarnya.

    “Saya kurang tahu apakah itu bekas atau tidak. Tapi yang jelas cairan infus pasti menjadi lebih mahal dibandingkan kita membuat dari glukosa 5 persen untuk diminum, karena ada persyaratan steril,” katanya.

    “Kalau langsung dibuka dari kemasan infus dan diminum, cairan tersebut steril,” tandas dr Ketut.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)