Asah Otak
Daffa Ghazan Pradipta – detikHealth
Rabu, 07 Jan 2026 20:00 WIB
Jakarta – Soal cerita ini menantang logika lewat pola yang tak langsung terlihat. Bukan soal cepat menghitung, tapi bagaimana membaca urutannya.

Asah Otak
Daffa Ghazan Pradipta – detikHealth
Rabu, 07 Jan 2026 20:00 WIB
Jakarta – Soal cerita ini menantang logika lewat pola yang tak langsung terlihat. Bukan soal cepat menghitung, tapi bagaimana membaca urutannya.

Video: Ombudsman Minta Pemerintah Serius Tangani Lanjutan Pengobatan dari CKG

Jakarta –
Demensia sering kali dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang lansia. Namun, kisah Andre Yarham, seorang pemuda berusia 24 tahun asal Inggris, menjadi pengingat pahit bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia yang sangat produktif.
Andre meninggal dunia pada 27 Desember lalu setelah berjuang melawan Frontotemporal Dementia (FTD) atau demensia frontotemporal. Kondisinya menurun drastis hanya dalam waktu singkat sejak diagnosisnya tepat sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-23.
Gejala Awal yang Tak Terduga
Berbicara kepada Daily Mail, ibunda Andre, Sam Fairbairn (49), mulai merasa ada yang salah ketika putra yang biasanya ceria dan cerewet itu berubah menjadi pelupa. Andre mulai memberikan jawaban singkat saat diajak bicara dan sering menunjukkan ekspresi wajah kosong.
Hasil MRI pada Oktober 2023 mengungkap terjadi atrofi atau penyusutan pada lobus frontal otaknya. Konsultan medis bahkan menyebut hasil pemindaian otak Andre saat itu mirip dengan “otak seseorang berusia 70 tahun”.
Belakangan diketahui bahwa penyakitnya dipicu oleh mutasi protein genetik yang langka.
Meski fisiknya melemah, Sam dan suaminya sempat mengajak Andre menyelesaikan beberapa keinginan dalam bucket list-nya, termasuk menonton gulat langsung di Nottingham.
Namun, pada September tahun lalu, mobilitas Andre menurun drastis hingga ia harus menggunakan kursi roda dan akhirnya dipindahkan ke fasilitas perawatan khusus.
Infeksi yang menyerang sistem imunnya yang lemah akhirnya membuat Andre harus menjalani perawatan akhir hayat (end-of-life care). Andre kemudian meninggal tak lama setelah perayaan natal.
“Ini adalah penyakit paling kejam karena tidak ada pengobatan. Tidak ada yang bisa membantu meredakan gejalanya. Anda menonton, berduka, dan kehilangan orang tersebut berulang kali,” ungkap Sam.
Menyumbangkan Otak untuk Sains
Meski Andre kehilangan kemampuan bicara di akhir hidupnya, pihak keluarga yakin bahwa pemuda tersebut akan setuju untuk membantu orang lain. Keluarga Andre pun memutuskan untuk mendonasikan otaknya ke Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge untuk kepentingan riset.
Sam berharap langkah ini bisa membantu peneliti menemukan pengobatan, atau setidaknya cara untuk memperpanjang hidup penderita demensia lainnya di masa depan.
“Harapan kami, meskipun bukan obat penawar, semoga riset ini membuahkan pengobatan yang bisa memperpanjang umur seseorang, memberi mereka beberapa tahun lagi bersama orang tersayang. Itu akan sangat luar biasa,” tambahnya.
Halaman 2 dari 2
(kna/kna)

Jakarta –
Mata yang terlihat sayu atau ‘mata ngantuk’ biasanya terjadi karena kurang tidur atau kelelahan. Dalam dunia medis, ada beberapa faktor penyebab ‘mata ngantuk’ salah satunya ptosis.
Menurut American Academy of Ophthalmology, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata bagian atas turun hingga menutupi mata. Kondisi ini bisa membatasi atau bahkan menghalangi penglihatan normal secara total.
Selain ptosis, ada beberapa penyebab ‘mata ngantuk’ lainnya mulai dari masalah saraf, autoimun sampai akibat penyalahgunaan obat-obatan.
Penyebab mata ngantuk
Dikutip dari Mayo Clinic, dermatochalasis adalah kondisi medis berupa kulit kelopak mata yang kendur, berlebihan, dan melorot.
Sering ditemukan pada orang dewasa dan lansia, kondisi ini bukan disebabkan oleh lemahnya otot pengangkat mata (seperti pada ptosis), melainkan karena kulit kelopak mata kehilangan elastisitasnya.
Myasthenia gravis adalah penyakit autoimun yang memengaruhi hubungan antara saraf dan otot. Kondisi ini menyebabkan otot-otot yang kita kendalikan secara sadar menjadi sangat lemah.
Kelopak mata yang turun biasanya fluktuatif. Mata mungkin terlihat normal di pagi hari, namun akan terlihat semakin “ngantuk” di sore atau malam hari setelah beraktivitas karena otot mulai kelelahan.
Sindrom Horner adalah sindrom neurologis langka yang memengaruhi mata dan area sekitarnya di satu sisi wajah. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan pada jalur saraf simpatik yang menjalar dari batang otak ke mata dan wajah, yang mengendalikan fungsi-fungsi seperti ukuran pupil dan keringat.
Mata ngantuk juga bisa disebabkan penyalahgunaan obat-obatan. Zat-zat ini biasanya bekerja dengan menenangkan sistem saraf pusat atau membuat otot mata menjadi terlalu rileks.
Penyalahgunaan opioid menyebabkan kelopak mata terkulai, penampilan mengantuk, dan pupil yang sangat kecil, seperti “titik jarum” (miosis). Konsumsi obat penenang seperti benzodiazepin juga bisa memperlemah aktivitas motorik yang membuat wajah dan mata tampak kuyu atau lemas.
Halaman 2 dari 2
(kna/kna)

Jakarta –
Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mulai mengaktifkan kembali pemantauan kesehatan di pintu masuk negara sebagai langkah antisipasi terhadap penyebaran influenza A Subclade K atau ‘super flu’.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan pengawasan di pintu masuk negara menggunakan thermal scanner.
“Termasuk sekarang sudah mulai diaktifkan lagi pemantauan di pintu itu masuk daerah. Di situ nanti beberapa, mungkin belum semua ya, itu sudah misalnya thermal scanner itu sudah kita aktifkan,” ucap Aji saat ditemui di kantor BNPB Jakarta Timur, Rabu (07/1/2026).
Melalui pemantauan tersebut, petugas dapat mengawasi kondisi kesehatan penumpang yang masuk maupun keluar wilayah Indonesia, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Sehingga kalau yang masuk dari pintu itu daerah, dari luar negeri maupun yang keluar, itu sudah kita bisa pantau,” sambungnya.
Kebijakan Tidak Bisa Disamakan dengan Negara Lain
Aji juga menegaskan Indonesia tidak bisa serta-merta menerapkan kebijakan kesehatan seperti yang dilakukan negara lain, mengingat situasi epidemiologis yang berbeda.
“Nggak bisa saat ini ujuk-ujuk situasinya masih seperti ini, tidak seperti di Amerika atau negara-negara lain,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh langkah yang diambil pemerintah harus disesuaikan dengan kondisi terkini dan berdasarkan data yang tersedia.
Halaman 2 dari 2
(up/up)

Jakarta –
Kulit buah manggis ternyata menyimpan manfaat untuk kesehatan. Hal ini dibuktikan lewat sebuah penelitian yang dilakukan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU), Dr dr Almaycano Ginting, M Kes (ClinPath), SpPK.
dr Almaycano meneliti manfaat limbah kulit manggis untuk orang dengan penyakit ginjal kronik. Ia menyebut penelitian ini dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap orang dengan penyakit ginjal kronik.
“Kita mengamati bahwa penderita penyakit ginjal kronik, khususnya itu sering sekali terlambat diketahui. Jadi sudah sampai stadium 4, stadium 5 baru mereka mencari pertolongan ke rumah sakit, pemerintah, dan sebagainya,” jelasnya, dikutip dari detikSumut.
Dengan kandungan antioksidan yang tinggi, limbah manggis dapat dimanfaatkan untuk mengatasi peradangan. Khususnya, pada orang dengan penyakit ginjal kronik.
Menurut dr Almaycano, ia melihat perlunya upaya pencegahan dengan memanfaatkan limbah kulit buah manggis yang memang memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi.
“Sehingga kita ingin buktikan bagaimana untuk mereka yang menderita penyakit ginjal kronik. Apakah memang ini bermanfaat atau tidak, terdampak atau tidak, berpengaruh atau tidak. Makanya kita lakukan penelitian ini,” kata dr Almaycano.
Penelitian ini menjadi bagian dari program doktoral di bidang patologi klinis yang ia jalani di FK USU sejak 2021. dr Almaycano memaparkan hasil disertasinya di hadapan promotor, ko-promotor, dan para penguji pada Rabu (7/1/2025).
Dengan adanya penelitian ini, dr Almaycano berharap masyarakat dapat memahami dan memaksimalkan fungsi dari kulit manggis. Ini dilakukan agar kulit buah tersebut tidak menjadi limbah dan dibuang begitu saja.
“Harapannya, ke depan tentu tidak mudah orang membuang begitu saja kulit manggis. Sehingga kalau bisa dimanfaatkan tentu ini akan menjadi suatu upaya yang akan berdampak kepada kepentingan nasional, khususnya untuk tatalaksana penyakit ginjal kronik,” bebernya.
Dosen patologi klinik FK USU itu pun berharap orang dengan penyakit ginjal kronik dapat memiliki harapan baru, dengan memanfaatkan sumber pengobatan yang berasal dari alam.
“Orang dengan penyakit ginjal kronik itu punya harapan baru, jangan mereka jatuh ke anemia yang nantinya berdampak ke penyakit kardiovaskular yang dapat menimbulkan kematian,” ujar dr Almaycano.
“Itulah salah satu kenapa saya ingin melakukan ini, supaya berdampak kepada mereka yang menderita penyakit ginjal kronik,” pungkasnya.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)

Jakarta –
Kasus influenza A Subclade K atau ‘super flu’ belakangan menjadi sorotan banyak pihak. Lalu, sebagai tindakan preventif, akankah diterapkan sistem sekolah online seperti pada era COVID-19?
Kepala Biro Komunikasi Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan saat ini pihaknya tengah melihat perkembangan situasi dari super flu ini. Pasalnya, keputusan penetapan sekolah online bukanlah hal sederhana.
“Belum ya. Jadi kita nanti lihat situasi, karena kita nggak bisa sembrono juga, gegabah. Keputusan kebijakan kita ditentukan dengan data dan fakta yang sudah ada,” kata Aji saat ditemui di kantor BNPB, di Jakarta Timur, Rabu (7/1/2026).
“Tapi kami tidak lengah. Tidak juga menganggap enteng. Tidak underestimate, kewaspadaan itu tetap kami lakukan,” sambungnya.
Kemenkes juga aktif melihat perkembangan super flu yang ada di luar negeri melalui data-data yang dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Pesan Menkes ke Masyarakat
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan kepada masyarakat untuk tidak khawatir dan panik dalam menghadapi subclade K.
“Dia penularannya cepet, tapi kematiannya sangat rendah. Dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin. Di Indonesia kita juga sudah identifikasi, terkahir jumlahnya puluhan. Nggak parah sih, artinya bisa dengan pengobatan biasa,” kata Menkes.
“Tapi nggak usah panik, karena sama seperti flu biasa bukan seperti COVID-19 yang dulu-dulu,” sambungnya.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video ‘Super Flu’ Subclade K Masuk RI, Ngaruh ke Kondisi Epidemi Influenza?”
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)

Jakarta –
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan 62 pasien kasus influenza varian H3N2 subclade K sudah dalam keadaan sehat.
“Sehat,” kata Menkes singkat saat ditemui di kantor BNPB Jakarta Timur, Rabu (7/1/2026).
Menkes menyadari ada kekhawatiran di masyarakat terkait super flu ini. Namun, dirinya menegaskan bahwa tingkat kematian dari infeksi subclade K sangat rendah.
“Dia penularannya cepet, tapi kematiannya sangat rendah. Dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin,” kata Menkes.
“Di Indonesia kita juga sudah identifikasi, terakhir jumlahnya puluhan. Nggak parah sih, artinya bisa dengan pengobatan biasa,” sambungnya.
Menkes berpesan ke masyarakat untuk terus hati-hati dan sadar bahwa subclade K ada di sekitar kita.
“Tapi nggak usah panik, karena sama seperti flu biasa bukan seperti COVID-19 yang dulu-dulu,” katanya.
Gejala Super Flu
Senada, Kepala Biro Komunikasi Kemenkes Aji Muhawarman membeberkan gejala-gejala dari super flu yang dialami oleh pasien melalui pemeriksaan whole genome sequencing (WGS).
“Demam, batuk pilek, ada nyeri tenggorokan, ada beberapa sesak napas. Jadi seperti flu biasa, tapi emang mayoritas demam,” kata Aji.
Halaman 2 dari 2
(dpy/up)