Category: Detik.com Kesehatan

  • Video: Apa Mungkin Bernapas Bisa Lewat Anus?

    Video: Apa Mungkin Bernapas Bisa Lewat Anus?

    Video: Apa Mungkin Bernapas Bisa Lewat Anus?

  • Pemantauan Influenza Diperketat Usai Temuan Super Flu di Jawa Timur

    Pemantauan Influenza Diperketat Usai Temuan Super Flu di Jawa Timur

    Foto Health

    Tripa Ramadhan – detikHealth

    Kamis, 08 Jan 2026 07:30 WIB

    Malang – Dinas Kesehatan memperketat pemantauan influenza di Malang menyusul 23 kasus super flu di Jawa Timur. Puskesmas dan rumah sakit meningkatkan deteksi dini.

  • Tidur Lama tapi Tetap Terasa Lelah Saat Bangun? Cari Tahu Sebabnya Bareng Sleep Coach

    Tidur Lama tapi Tetap Terasa Lelah Saat Bangun? Cari Tahu Sebabnya Bareng Sleep Coach

    Jakarta

    Tak sedikit orang merasa telah tidur cukup lama, bahkan hingga delapan atau sembilan jam, namun tetap bangun dengan tubuh terasa lelah, konsentrasi menurun, dan energi cepat habis. Kondisi ini sering menimbulkan anggapan bahwa ada sesuatu yang ‘salah’ dengan pola tidur, meski durasinya sudah sesuai anjuran.

    Vishal Dasani, seorang Certified Sleep & Recovery Coach, menjelaskan tidur berkualitas tidak semata-mata ditentukan oleh angka delapan jam. Kebutuhan tidur setiap individu pada dasarnya berbeda. Secara umum, orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam per malam untuk menunjang fungsi tubuh secara optimal.

    Namun, tidak semua orang membutuhkan durasi yang sama. Ada yang sudah cukup dengan tujuh jam, sementara yang lain justru memerlukan waktu tidur lebih panjang.

    “Karena di luar sana tidak sedikit yang bilang bahwa tidur itu yang penting kualitasnya, kuantitasnya nggak penting. Tapi tidak ada yang namanya tidur yang berkualitas kalau kuantitasnya itu terlalu singkat,” ucapnya saat berbincang dengan detikcom, Senin (5/1/2026).

    Meski demikian, durasi tidur bukan satu-satunya penentu. Menurut Vishal, ada tiga aspek utama yang perlu diperhatikan untuk menilai apakah tidur benar-benar berkualitas. Aspek pertama adalah durasi tidur yang mencukupi sesuai usia dan kondisi masing-masing individu.

    “Jadi salah satu kriteria dari tidur yang berkualitas itu adalah durasinya cukup dulu,” katanya.

    Aspek kedua adalah apakah tidur berlangsung cukup pulas. Vishal menegaskan bahwa tidur pulas tidak berarti seseorang harus tertidur tanpa terbangun sama sekali sepanjang malam. Terbangun sesekali merupakan bagian normal dari siklus tidur, selama tidak terjadi terlalu sering dan tidak mengganggu keberlanjutan tidur.

    “Jadi it’s okay kalau misalnya anda pada saat tidur terbangun tengah malam. It’s okay.

    Itu merupakan bagian dari tidur yang normal. Asalkan tidak terlalu sering terbangun,” kata Vishal.

    “Dan pada saat terbangun itu durasi untuk bisa kembali tidurnya itu nggak lama. Jadi kalau misalnya anda terbangun tengah malam, harus ke kamar kecil, terus kembali ke kasur dan kemudian bisa tidur, that’s okay,” lanjutnya.

    Aspek ketiga adalah sifat restoratif dari tidur. Vishal menjelaskan tidur yang restoratif ditandai dengan kondisi bangun pagi yang terasa segar, suasana hati lebih stabil, respons mental lebih cepat, serta energi yang bertahan sepanjang hari.

    Fungsi kognitif seperti fokus, konsentrasi, hingga kemampuan mengelola emosi sangat bergantung pada kualitas pemulihan yang terjadi selama tidur.

    “Nah, banyak sekali yang saat ini secara durasi mereka dapat, tapi efek pemulihannya itu tidak terjadi secara optimal, sehingga bangun tidur kok kayak nggak fresh ya?” lanjutnya.

    “Jadi memang ketiga checklist ini perlu dilihat. Durasinya cukup nggak? Terus semalam terputus-putus nggak tidurnya? Atau cukup pules? Bangun tidur segar nggak? Nah, kalau ketiga ini udah checklist, ya berarti tidur Anda berkualitas,” lanjutnya.

    Mau tahu lebih banyak soal serba-serbi tidur yang sehat? Simak obrolan dengan Coach Vishal selengkapnya dalam podcast ‘Tidur Lebih Berkualitas, Hidup Lebih Produktif: Solusi Ilmiah untuk Generasi Sibuk’.

    (suc/up)

  • Dilema Etik di Balik Viral Matcha Kemasan Infus

    Dilema Etik di Balik Viral Matcha Kemasan Infus

    Jakarta

    Sebuah kafe di Bali viral lantaran menjual matcha dengan kemasan mirip infus, lengkap dengan tulisan dextrose monohydrate. Meski penjual mengklaim kemasan tersebut food grade dan bukan limbah medis, sisi etik tetap jadi persoalan.

    Bagi konsumen klaim saja tidak cukup. Apalagi kemasan yang digunakan tampil menyerupai alat medis yang selama ini dikaitkan dengan standar tinggi dan limbah berbahaya. Di sinilah edukasi soal keamanan kemasan pangan sangat dibutuhkan.

    Kenapa Kemasan Minuman Harus Food Grade

    Dalam dunia pangan istilah food grade digunakan untuk menyebut bahan yang aman bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman. Bahan food grade tidak bereaksi secara kimia tidak mengubah rasa aroma maupun warna serta tidak melepaskan zat berbahaya ke dalam produk konsumsi. Prinsip ini jadi fondasi utama dalam pemilihan kemasan minuman siap konsumsi.

    Ciri bahan food grade dapat dikenali dari kestabilan materialnya yang tidak berbau, tidak mudah rusak, dan tidak terdegradasi saat digunakan sesuai peruntukannya. Bahan ini juga telah melalui pengujian migrasi zat kimia untuk memastikan tidak ada senyawa berisiko yang berpindah ke dalam minuman. Pengujian ini penting karena paparan zat kimia dari kemasan bisa berdampak pada kesehatan jika terjadi terus menerus.

    Standar food grade diatur melalui regulasi keamanan pangan yang jelas. Di Indonesia standar ini mengacu pada ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Secara global banyak produsen juga mengikuti regulasi dari badan pengawas pangan internasional. Pemenuhan standar ini biasanya dibuktikan melalui sertifikasi dari lembaga resmi. Pada kemasan makanan dan minuman yang aman sering ditemukan label seperti FDA Approved atau sertifikasi SNI. Kemasan food grade juga kerap menampilkan simbol Cup and Fork atau tulisan Food Safe sebagai penanda bahwa materialnya memang dirancang untuk kontak langsung dengan makanan dan minuman.

    Tanpa label atau sertifikasi yang jelas konsumen tidak memiliki cara untuk memverifikasi klaim keamanan yang disampaikan oleh penjual. Inilah sebabnya transparansi sertifikasi menjadi faktor penting terutama pada kemasan unik yang menyerupai kantong infus.

    Kemasan Unik Sudah Lama Jadi Strategi Industri Minuman

    Dalam industri food and beverage, memang penggunaan kemasan custom bukan hal baru. Banyak pelaku usaha sengaja merancang kemasan yang tidak biasa untuk membangun identitas merek dan menarik perhatian pasar. Strategi ini sah dan umum dilakukan selama tidak melanggar prinsip keamanan pangan.

    Kemasan menyerupai kantong infus yang digunakan pada minuman matcha diklaim oleh pihak kafe sebagai kemasan custom. Produk seperti ini biasanya dipesan dari bahan plastik fleksibel dari pabrik kemasan yang mampu menyesuaikan desain visual sesuai kebutuhan. Secara fungsi kemasan ini digunakan untuk menampung cairan minuman sementara tampilannya dibuat menyerupai alat medis agar terlihat berbeda dan mudah viral.

    Namun kemasan yang unik tetap harus tunduk pada aturan yang sama dengan kemasan minuman lainnya. Bentuk boleh kreatif tetapi bahan dan peruntukannya tidak boleh menyimpang dari standar food grade.

    Kenapa Kemasan Ini Memicu Kekhawatiran

    Kekhawatiran publik muncul karena kemasan minuman tersebut sangat mirip dengan kantong infus asli. Tidak sedikit warganet menyoroti tampilannya yang menyerupai produk medis karena tertera logo merk Otsu D5, serta lengkap dengan simbol logo obat keras dan nomor registrasi. Hal ini memicu dugaan bahwa kemasan tersebut merupakan limbah medis atau setidaknya meniru kemasan medis tanpa standar pangan yang jelas.

    Kekhawatiran ini tidak berlebihan. Kemasan medis dan kemasan pangan berada di bawah regulasi yang berbeda dan memiliki tujuan penggunaan yang berbeda pula. Ketika batas visualnya menjadi kabur konsumen berhak merasa ragu.

    Kenapa Plastik Infus Tidak Sama dengan Kemasan Minuman?

    Jika kemasan yang digunakan benar merupakan limbah medis maka risikonya sangat serius. Limbah medis berpotensi mengandung mikroorganisme patogen dan residu obat. Penelitian di Journal of Pharmaceutical Research International tahun 2025 menunjukkan bahwa peralatan medis sekali pakai dapat menjadi sumber penularan bakteri berbahaya jika digunakan ulang tanpa prosedur sterilisasi yang ketat. Menggunakannya sebagai wadah minuman jelas berbahaya.

    Bahkan jika kemasan tersebut bukan limbah medis melainkan plastik baru yang diproduksi untuk kebutuhan infus tetap ada masalah mendasar. Plastik infus dirancang untuk penggunaan medis bukan untuk dikonsumsi lewat mulut.

    Material ini tidak diuji dengan standar migrasi zat kimia untuk makanan dan minuman. Studi dalam Food and Chemical Toxicology tahun 2021 menjelaskan bahwa bahan plastik non pangan tidak dapat diasumsikan aman digunakan untuk produk konsumsi meskipun digunakan dalam konteks medis.

    Dengan kata lain plastik untuk infus dan plastik untuk kemasan minuman memiliki standar pengujian yang berbeda. Menggunakannya di luar peruntukan bisa membawa risiko kesehatan yang tidak disadari konsumen.

    Menarik Saja Tak Cukup, Harus Tetap Aman

    Klaim bahwa kemasan bukan limbah medis dan bersifat sekali pakai memang penting. Namun dalam konteks keamanan pangan klaim food grade seharusnya didukung oleh sertifikasi resmi dan peruntukan bahan yang jelas. Tanpa adanya bukti itu konsumen hanya diminta percaya pada tampilan dan pernyataan lisan.

    Tren kemasan unik terus berkembang seiring kreativitas pelaku usaha makanan dan minuman. Dalam setiap inovasi tersebut aspek keamanan pangan perlu tetap menjadi pertimbangan utama agar produk yang dikonsumsi tidak hanya menarik secara visual tetapi juga aman bagi kesehatan.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: Psikolog Ini Kaget Kliennya Lelah Jadi WNI Karena Kondisi Negara”
    [Gambas:Video 20detik]
    (mal/up)

  • Cakupan CKG 2025 Masih Jauh dari Target, Ini Siasat Kemenkes

    Cakupan CKG 2025 Masih Jauh dari Target, Ini Siasat Kemenkes

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI buka-bukaan soal evaluasi cakupan program cek kesehatan gratis (CKG) tahun 2025. Sejak dimulai pada Februari tahun lalu, jumlah warga yang ikut CKG sudah mencapai 70,8 juta orang atau 24,9 persen dari populasi.

    Jumlah tersebut lebih rendah dari target yang sudah ditetapkan yaitu 100 juta orang.

    Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman ada beberapa faktor kenapa target tersebut tidak terpenuhi, seperti masih terfokusnya CKG di puskesmas, kurangnya pengetahuan masyarakat soal program CKG, hingga sistem pelaporan belum maksimal.

    Oleh karena itu, pihaknya akan meningkatkan penyebarluasan informasi seputar CKG dan memastikan program ini tidak terpusat di puskesmas saja.

    “Untuk dapat mencapai target tahun 2026, Kemenkes membangun sinergi bersama kementerian atau lembaga terkait, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan merumuskan strategi peningkatan CKG melalui penyebarluasan informasi masif dan efektif terkait CKG dan perluasan pelayanan CKG di luar gedung seperti pustu (puskesmas pembantu) dan posyandu,” ujar Aji dikutip dari edaran yang diterima detikcom, Rabu (7/1/2026).

    “Selain itu, juga dilakukan perluasan pelaksanaan CKG di FKTP selain puskesmas, kementerian atau lembaga, perkantoran atau tempat kerja, dan komunitas,” sambungnya menargetkan pada tahun 2026, cakupan CKG mencapai 46 persen jumlah penduduk Indonesia.

    Mereka juga menargetkan persentase kabupaten dan kota dengan cakupan lebih dari 80 persen mencapai 60 persen di tahun 2026. Komitmen daerah yang bervariasi membuat masih ada daerah yang cakupannya di bawah 80 persen.

    Program CKG pada tahun 2026 akan tetap berfokus pada seluruh kelompok, tanpa sasaran spesifik. Ini dilakukan untuk menemukan faktor risiko dan masalah kesehatan secara dini, sehingga bisa diobati lebih cepat.

    Berdasarkan data CKG 2025, berikut ini sederet masalah kesehatan yang banyak ditemukan, berdasarkan kelompok penduduk:

    Bayi baru lahir: Kelainan saluran empedu, berat lahir rendah, risiko defisiensi enzim G6PD, risiko penyakit jantung bawaan dan risiko hipotiroid kongenital.Balita dan anak prasekolah: Gigi tidak sehat, anemia, BB kurang, stunting dan gizi kurang.Anak sekolah dan remaja: Aktivitas fisik kurang, karies gigi, anemia, berisiko kesehatan reproduksi, hipertensi.Dewasa: Aktivitas fisik kurang, karies gigi, obesitas sentral, Overweight dan obesitas, dan hipertensi.Lansia: Aktivitas fisik kurang, gangguan mobilitas, karies gigi, gangguan penglihatan dan hipertensi.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/naf)

  • Fakta Mengejutkan dari Darah Orang yang Hidup Panjang Umur

    Fakta Mengejutkan dari Darah Orang yang Hidup Panjang Umur

    Jakarta

    Darah para superager dinilai menyimpan petunjuk penting terkait rahasia umur panjang. Sejumlah studi menunjukkan, centenarian dan supercentenarian memiliki profil darah unik yang diyakini berperan dalam ketahanan tubuh terhadap penyakit dan penuaan.

    Peneliti menemukan, biomarker menguntungkan pada darah kelompok usia ekstrem ini bahkan sudah terlihat sejak usia 65 tahun. Meski dampak pastinya masih diteliti, biomarker tersebut diduga berfungsi sebagai faktor pelindung terhadap penuaan dan penyakit.

    Salah satu analisis paling mendalam dilakukan pada Maria Branyas, supercentenarian asal Spanyol yang wafat di usia 117 tahun. Sampel darahnya menunjukkan sistem imun yang sehat, kadar kolesterol jahat sangat rendah, serta fungsi sel yang menyerupai usia lebih muda.

    Meski telomernya sangat pendek, kondisi ini justru diduga memberi keuntungan dengan mencegah perkembangan sel kanker.

    “Gambaran yang muncul dari penelitian kami, meskipun hanya berasal dari satu individu yang luar biasa ini, menunjukkan bahwa usia yang sangat lanjut dan kondisi kesehatan yang buruk tidak selalu saling berkaitan,” tulis para peneliti.

    Temuan serupa juga dilaporkan dalam studi di China yang menganalisis darah 65 centenarian. Hasilnya, mereka memiliki kadar asam lemak dan metabolit kunci lebih rendah dibandingkan kelompok usia lebih muda.

    “Profil metabolik plasma pada centenarian dan nonagenarian berbeda secara signifikan dibandingkan dua populasi yang lebih muda,” tulis peneliti.

    “Temuan kami akan membantu memahami regulasi metabolik dari umur panjang dan berpotensi mendorong praktik klinis gerontologi di masa depan,” sambung mereka.

    Nutrisi berpengaruh terhadap umur panjang

    Meski menjanjikan, para ahli menegaskan belum ada tes darah yang mampu memprediksi usia hidup secara pasti. Faktor genetika, gaya hidup, dan lingkungan masih sangat berpengaruh.

    Namun, darah superager dinilai berpotensi membantu mengidentifikasi individu yang mengalami penuaan lebih cepat.

    Penelitian juga menyoroti peran nutrisi dan pola makan, seperti diet Mediterania yang dijalani Branyas. Para ilmuwan berharap, riset tentang darah centenarian suatu hari bisa diterjemahkan menjadi strategi medis atau perubahan gaya hidup agar masyarakat dapat menua dengan lebih sehat.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Menkes Ajukan Anggaran Rp 500 M untuk Pemulihan Dampak Banjir Sumatera

    Menkes Ajukan Anggaran Rp 500 M untuk Pemulihan Dampak Banjir Sumatera

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap anggaran yang sudah digelontorkan untuk tangani penanganan dampak bencana Sumatera. Sampai saat ini, sudah Rp 50 miliar dikeluarkan.

    Menkes Budi pun mengungkap, pihaknya mengajukan anggaran sekitar Rp 500 miliar untuk pemulihan selanjutnya.

    β€œNah, ke depannya apa yang akan, akan kita lakukan? Untuk semua biaya ini memang disentralisasi di BNPB. Jadi semua nanti yang ada kita lakukan, kita udah ngajukan anggaran sekarang sekitar Rp 500 miliar untuk revitalisasi yang tahap tiga tadi,” ujar Menkes.

  • Video Kemenkes Beri Hukuman-Tunda Kelulusan Pelaku Bullying PPDS Unsri

    Video Kemenkes Beri Hukuman-Tunda Kelulusan Pelaku Bullying PPDS Unsri

    Video Kemenkes Beri Hukuman-Tunda Kelulusan Pelaku Bullying PPDS Unsri

  • Video Menkes Minta Warga Tak Panik ‘Super Flu’: Bukan Seperti Covid-19

    Video Menkes Minta Warga Tak Panik ‘Super Flu’: Bukan Seperti Covid-19

    Video Menkes Minta Warga Tak Panik ‘Super Flu’: Bukan Seperti Covid-19

  • Video: Menkes Targetkan Pemulihan Faskes Rusak Akibat Banjir Sumatera Rampung Maret

    Video: Menkes Targetkan Pemulihan Faskes Rusak Akibat Banjir Sumatera Rampung Maret

    Video: Menkes Targetkan Pemulihan Faskes Rusak Akibat Banjir Sumatera Rampung Maret