Category: Detik.com Kesehatan

  • Jangan Ngaku Punya IQ Tinggi Kalau Masih Terkecoh Jawab 10 Tebak-tebakan Ini

    Jangan Ngaku Punya IQ Tinggi Kalau Masih Terkecoh Jawab 10 Tebak-tebakan Ini

    Jakarta

    Bermain tebak-tebakan bisa menjadi hiburan ringan di tengah rutinitas yang padat. Selain membuat otak tetap aktif, permainan ini juga melatih kemampuan memecahkan masalah.

    Siapkan fokusmu dan lihat apakah kamu bisa menjawab semua tebak-tebakan ini dengan benar. Yuk, buktikan seberapa jeli kamu!

    Tebak tebakan Asah Otak

    Berikut soal tebak-tebakan yang bisa mengasah otak di tengah rutinitas yang padat. Perhatikan soalnya satu-per satu dan jawab dengan benar.

    1. Ada akuarium berisi 200 ikan, 99 persen ikan berwarna merah dan sisanya berwarna biru. Jika 100 ikan merah dipindahkan dari akuarium, berapa jumlah ikan merah dan biru yang tersisa?

    2. Saya punya banyak kunci, tapi tidak bisa membuka gembok, siapakah saya?
    3. Satu kg batu dan 1 kg besi ditempatkan di timbangan. Apakah timbangan akan tetap sama jika dicelupkan ke air?

    4. Di kamar mandi ada bathub penuh yang terisi dengan air. DI dekatnya ada ember, gelas, dan sendok. Bagaimana cara menguras air paling cepat?

    5. Seorang pria membeli lukisan seharga Rp 7 juta, lalu dijual dengan harga Rp 8 juta. Tak lama kemudian lukisan dibeli kembali dengan harga Rp 9 jta da dijual lagi Rp 10 juta. Berapa keuntungan yang diperoleh?

    6. Orang tua saya mempunyai 6 anak laki-laki, termasuk saya. Setiap anak laki-laki mempunyai adik perempuan. Ada berapa orang di keluarga saya?

    7. Saya ada di mana-mana. Semakin banyak saya semakin sulit kamu melihat. Siapakah saya?

    8. Tubuh saya penuh lubang, tapi saya bisa menyimpan air. Siapakah saya?

    9. Andi adalah ayahnya Rika. Jadi Andi adalah.. dari ayahnya Rika.
    10. Jika diperlukan waktu satu menit untuk menggoreng satu udang, berapa waktu yang diperlukan untuk menggoreng 10 udang?

    Jawaban Tebak-tebakan

    Yakin menjawab semuanya dengan benar?

    1. Jumlah awal ada 200 ikan di akuarium.
    Ikan merah: 198
    Ikan biru:2

    Setelah 100 ikan merah dipindahkan, maka

    Ikan merah: 38
    Ikan biru: 2

    2. Kunci gitar
    3. Sebab ada gaya apung, berat benda di dalam air akan berkurang, setara dengan berat air yang dipindahkan. Atinya timbangan akan bergerak dan tak lagi sama.

    4. Cabut penyumbat yang ada di bathub.
    5. Modal membeli lukisan:

    Rp 7 juta+9 juta= Rp 16 juta

    Hasil membeli lukisan

    Rp 8 juta+Rp 10 juta= Rp 18 juta

    Keuntungan:

    Rp 18 juta-Rp 16 juta= Rp 2 juta.

    6. Ada 9 orang. 2 orang tua, 6 anak laki-laki dan 1 adik perempuan bungsu.

    7. Kabut

    8. Spons

    9. Nama
    10. Tetap 1 menit

    Halaman 2 dari 5

    (elk/suc)

  • Soal Polemik ‘Rahim Copot’, POGI Wanti-wanti: Edukasi Jangan Bikin Bingung

    Soal Polemik ‘Rahim Copot’, POGI Wanti-wanti: Edukasi Jangan Bikin Bingung

    Jakarta

    Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) ikut buka suara terkait polemik di balik viral cerita ‘rahim copot’ yang diungkap dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Gia Pratama. Kisah ini menuai perdebatan di kalangan dokter dan publik, terutama setelah sejumlah obgyn menanggapinya dengan kesan menyindir hingga dinilai netizen membully sesama sejawat.

    Ketua Umum POGI Prof Budi Wiweko, menegaskan penyampaian informasi medis di ruang publik memiliki pedoman yang jelas. Tenaga kesehatan, katanya, harus tetap mengutamakan etika dan profesionalisme, termasuk saat menjelaskan kasus-kasus sensitif di media sosial.

    “Dalam memberikan informasi di media sosial, kita menjunjung tinggi aspek etik, profesionalisme, dan kompetensi. Edukasi harus bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya kepada detikcom, Senin (17/11/2025).

    Prof Budi menegaskan organisasi profesi dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sudah memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi dokter saat menyampaikan informasi kepada publik.

    “Untuk menyampaikannya sudah ada koridor secara etik, sudah ada rambu-rambu yang disusun oleh IDI. Tinggal mengikuti saja,” tegasnya.

    Ia menambahkan POGI tidak berada di posisi membela salah satu pihak dalam keributan ini, baik dr Gia maupun para obgyn yang merespons. Fokus organisasi adalah memastikan informasi medis yang diberikan tidak menimbulkan salah tafsir.

    “Tujuannya bukan menyalahkan atau menyerang siapa pun. Yang penting informasi yang disampaikan itu benar dan bisa mencegah komplikasi berbahaya, seperti inversio uteri akibat plasenta yang ditarik paksa,” jelasnya.

    POGI Ingatkan: Informasi Medis Harus Menenangkan, Bukan Memperkeruh

    Di tengah derasnya diskusi publik, POGI menekankan perlunya dokter menjaga cara berkomunikasi agar masyarakat tidak justru semakin bingung.

    “Tidak untuk menyalahkan, tidak untuk menjelekkan, tidak untuk buat bingung masyarakat. Yang jelas, bila ingin menyampaikan sesuatu di media sosial, sampaikan informasi yang bermanfaat,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: POGI Ungkap Dokter Kandungan di RI Sudah Banyak, Tapi Tak Merata”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/up)

    Ribut Sesama Dokter soal Rahim Copot

    8 Konten

    Polemik kasus viral ‘rahim copot’ meluas. Tidak adanya dokumentasi formal dan ilmiah membuat sebagian dokter senior meragukan kasus tersebut, dan mengaitkannya dengan kondisi yang lebih mungkin terjadi: inversio uteri.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Gaya Hidup vs Genetik, Dokter Jelaskan Mana yang Lebih Berperan Picu Diabetes

    Gaya Hidup vs Genetik, Dokter Jelaskan Mana yang Lebih Berperan Picu Diabetes

    Jakarta

    Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang berkaitan erat dengan pola hidup seseorang. Khususnya pada diabetes tipe 2, penyakit ini umumnya disebabkan oleh pola makan rendah nutrisi, konsumsi gula secara berlebih, hingga minimnya berolahraga.

    Namun, di sisi lain faktor keturunan atau genetik juga sering ‘disalahkan’ jadi penyebab diabetes melitus. Sebenarnya seberapa besar faktor genetik memengaruhi risiko diabetes?

    Spesialis penyakit dalam dr Dicky Lavenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, FINASIM menjelaskan risiko penyakit diabetes dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu pola hidup, faktor lingkungan, dan genetik. Jadi, memang mungkin saja seseorang mengidap diabetes akibat faktor keturunan.

    dr Dicky menjelaskan penyakit diabetes akibat genetik terbagi menjadi dua sifat, yaitu monogenetik dan poligenik. Pada sifat monogenetik yang sangat jarang, seseorang yang membawa kelainan genetik berkaitan dengan diabetes, kemungkinan besar akan mengalami diabetes.

    “Artinya kalau dia ada kelainan genetik itu pasti sakit, most likely. Itu ada yang namanya maturity diabetes of the young (MODY), itu karena kelainan genetik,” jelas dr Dicky ketika ditemui awak media di acara #Hands4Diabetes di Jakarta Selatan, Minggu (16/11/2025).

    Apabila ada kelainan genetik pada fungsi produksi insulin, maka gula darah pasien akan tinggi. dr Dicky menyebut ada sekitar 15-20 gen yang berkaitan dengan kondisi tersebut.

    “Biasanya pasiennya kadang-kadang nggak gemuk, tapi di keluarganya kuat riwayatnya, bapak ibunya atau neneknya, semua diabetes,” sambungnya.

    Sedangkan, sifat poligenik menunjukkan varian gen yang banyak, tapi peluangnya untuk mengidap diabetes tidak sebesar monogenetik. Apabila seseorang dengan kelainan genetik bersifat poligenik memiliki gaya hidup yang tidak sehat, maka risikonya akan semakin besar.

    Meski begitu, dr Dicky mengingatkan untuk tidak selalu menyalahkan faktor genetik ketika mengidap diabetes. Pada kasus poligenik, kemungkinan untuk mengidap diabetes sangat mungkin dikurangi dengan penerapan gaya hidup sehat.

    “Poligenik itu ada varian gennya banyak, tapi nggak pasti harus diabetes. Tapi kalau pasien dengan varian genetik tadi, terus pola makannya nggak diatur, mungkin dia lebih cepat jadi diabetes dibandingkan orang yang nggak punya varian genetik. Kan kadang ada yang agak gemuk, tapi nggak kena diabetes. Tapi, ada yang gemuk sedikit sudah diabetes,” kata dr Dicky.

    “Jangan menyalahkan genetiknya (poligenetik), kalau dia obesitas kan, sebagian besar dari pola hidupnya. Tapi, kalau memang dia monogenik tadi, kalau kan ada, kemungkinan besar dia diabetes,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/suc)

  • Ribut-ribut Sesama Dokter gara-gara Polemik ‘Rahim Copot’, POGI Bilang Begini

    Ribut-ribut Sesama Dokter gara-gara Polemik ‘Rahim Copot’, POGI Bilang Begini

    Jakarta

    Kisah dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Gia Pratama, soal kasus langka yang ditanganinya, rahim wanita diduga ‘copot’ akibat penanganan dukun beranak, viral di media sosial. Namun, alih-alih fokus pada edukasi medis, perdebatan melebar ketika beberapa dokter obgyn menanggapi cerita dengan nada yang dinilai netizen terkesan nyinyir atau tampak membully sesama sejawat.

    “Versi dr Gia: rahim copot, versi SpOG: inversio uteri, versi netizen: wah seru nih dokter-dokternya berantem bully2an,” respons salah satu netizen terkait kasus viral.

    Melihat kegaduhan yang muncul, Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Prof Budi Wiweko menegaskan penyampaian informasi medis ke masyarakat harus tetap berada dalam koridor etik dan profesionalisme.

    Ia menyebut organisasi profesi memiliki pedoman jelas terkait bagaimana dokter menyampaikan informasi di media sosial.

    “Nggak lah, sebenarnya kita sudah ada panduannya,” beber Prof Budi saat dihubungi detikcom Senin (17/11/2025).

    “Dalam memberikan informasi di media sosial, prinsipnya kita menjunjung tinggi aspek etik, profesionalisme, dan kompetensi di bidang kedokteran, sehingga edukasi yang disampaikan bermanfaat bagi masyarakat.”

    Ia menegaskan tujuan edukasi medis adalah mencegah terjadinya komplikasi serius seperti inversio uteri.

    “Tentu kan tujuannya mencegah, jangan sampai terjadi setelah persalinan akibat plasenta ditarik paksa. Itu bisa berbahaya, bisa terjadi inversio uteri dan bisa menyebabkan kematian,” tegasnya.

    Menurut Prof Budi, organisasi profesi termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sudah memiliki rambu-rambu yang jelas mengenai bagaimana dokter harus berkomunikasi kepada publik.

    “Untuk menyampaikannya sudah ada koridor secara etik, sudah ada rambu-rambu yang disusun IDI. Saya kira tinggal mengikuti saja,” ujarnya.

    Ia menegaskan fokus POGI tetap pada pentingnya informasi yang benar dan edukatif.

    “Yang kita inginkan itu sederhana saja, informasi yang disampaikan ke masyarakat harus benar,” kata Prof Budi.

    “Tidak untuk menyalahkan, tidak untuk menjelekkan, tidak untuk buat bingung masyarakat. Yang jelas, bila ingin menyampaikan sesuatu di media sosial, sampaikan informasi yang bermanfaat,” pungkasnya.

    Terkait kejadian yang diceritakan dr Gia, Prof Budi menguraikan bahwa ada kondisi tertentu yang membuat proses pengeluaran plasenta tidak selalu sederhana. Plasenta bisa melekat terlalu kuat (akreta, inkreta, perkreta) dan dalam beberapa kasus memerlukan tindakan manual hingga operasi atau pengangkatan rahim.

    Intervensi yang terlalu agresif juga bisa menyebabkan komplikasi fatal seperti inversio uteri, ketika rahim terbalik dan tertarik keluar melalui vagina.

    “Itu kondisi yang sangat berbahaya. Bisa menyebabkan perdarahan hebat, syok, bahkan meninggal dunia,” jelasnya.

    Namun ia mengingatkan, tanpa melihat langsung kondisi pasien, tidak dapat dipastikan apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus tersebut.

    Di tengah perdebatan yang dinilai semakin ‘liar’ di media sosial, Prof Budi mengajak semua tenaga kesehatan menjaga profesionalisme publik. Prof Budi menegaskan bahwa pembahasan medis harus kembali ke tujuan utamanya, meningkatkan edukasi dan mencegah kejadian serupa.

    “Yang penting itu keselamatan ibu. Kita ingin masyarakat mendapatkan informasi yang benar, bukan yang membingungkan. Dan tugas dokter adalah memberikan itu dengan cara yang profesional,” tutupnya.

    Halaman 2 dari 3

    (naf/up)

    Ribut Sesama Dokter soal Rahim Copot

    8 Konten

    Polemik kasus viral ‘rahim copot’ meluas. Tidak adanya dokumentasi formal dan ilmiah membuat sebagian dokter senior meragukan kasus tersebut, dan mengaitkannya dengan kondisi yang lebih mungkin terjadi: inversio uteri.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Kebiasaan Makan yang Jadi ‘Biang Kerok’ Kanker Usus Usia Muda Makin Banyak

    Kebiasaan Makan yang Jadi ‘Biang Kerok’ Kanker Usus Usia Muda Makin Banyak

    Jakarta

    Peningkatan kasus kanker usus besar dan rektum pada kelompok usia muda terus menjadi perhatian global, terutama di AS. Di saat yang sama, konsumsi ultraprocessed food (UPF) atau makanan ultra-proses melonjak tajam.

    Saat ini, sekitar 70 persen pasokan makanan di AS merupakan UPF, dan hampir 60 persen asupan kalori orang dewasa berasal dari jenis makanan ini. Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi UPF dan risiko kanker tersebut.

    Sebuah penelitian terbaru kembali memperkuat kekhawatiran itu. Studi ini menunjukkan bahwa konsumsi UPF dapat meningkatkan risiko berkembangnya adenoma kolorektal non-kanker polip atau benjolan pada usus besar dan rektum yang dapat menjadi awal terjadinya kanker.

    Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Oncology ini mengikuti lebih dari 29.100 perawat perempuan selama rata-rata 13 tahun. Para peneliti menemukan peserta yang mengonsumsi sekitar 10 porsi UPF per hari memiliki risiko 45 persen lebih tinggi mengalami pertumbuhan adenoma sebelum usia 50 tahun, dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi sekitar tiga porsi per hari.

    Jenis UPF yang paling banyak dikonsumsi peserta meliputi:

    roti dan makanan sarapan ultra-proses,saus dan olesan,minuman dengan gula tambahan atau pemanis buatan.

    “Ini bukan bukti kausalitas, tetapi memberikan petunjuk bahwa apa yang kita makan dapat berperan,” kata penulis senior studi, Dr. Andrew Chan, ahli gastroenterologi dari Mass General Brigham Cancer Institute, Boston.

    Menurut David Katz, pakar kesehatan masyarakat dan pendiri True Health Initiative, hasil penelitian ini kembali menegaskan pentingnya pola makan berbasis real food.

    “Sebisa mungkin, hindari UPF dan pilih makanan yang alami, dan minim proses,” ujarnya, dikutip dari CNN.

    Katz menambahkan bahwa diet terbaik untuk kesehatan jangka panjang adalah pola makan yang kaya:

    sayuran dan buah,biji-bijian utuh,kacang-kacangan,kacang dan biji-bijian,serta air putih.

    Tumor kolorektal non-kanker umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun jika polip tumbuh cukup besar, dapat muncul keluhan seperti:

    BAB gelap atau berdarahnyeri perutanemia defisiensi besipenurunan berat badan tanpa sebabkonstipasi akibat sumbatan.

    Menurut Dr. Robin Mendelsohn dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center, skrining kanker usus disarankan mulai usia 45 tahun, atau lebih dini bila ada riwayat keluarga.

    UPF adalah makanan yang diproses dengan teknik industri dan mengandung bahan-bahan yang jarang digunakan di dapur rumahan. Makanan ini biasanya:

    rendah serat,tinggi kalori, gula tambahan, lemak olahan, dan natrium,serta mengandung banyak aditif.Tambahan bahan seperti pengawet, emulsifier, penstabil tekstur, pewangi, hingga pemutih sering digunakan untuk membuat makanan lebih tahan lama dan menarik.

    Para peneliti menduga konsumsi UPF dapat:

    mengganggu mikrobioma usus,merusak lapisan pelindung usus,memicu inflamasi kronis,menghasilkan molekul toksik saat dicerna,serta meningkatkan risiko obesitas, yang juga merupakan faktor risiko kanker usus.

    Studi ini menggunakan data Nurses’ Health Study II, dan mengandalkan ingatan peserta soal pola makan mereka selama 12 bulan terakhir. Peneliti mengakui ada keterbatasan, namun menilai para perawat lebih mampu melaporkan dietnya dengan akurat.

    Menariknya, peningkatan risiko hanya terlihat pada adenoma tipe klasik, bukan pada lesi tipe serrated, yang juga bisa berkembang menjadi kanker. Hal ini menunjukkan UPF mungkin memicu jalur biologis tertentu yang mempercepat transformasi adenoma klasik menjadi kanker.

    Selain itu, peneliti mencatat bahwa UPF pada tahun 1990-an tidak sepenuhnya sama dengan UPF saat ini. Perubahan formulasi, penambahan aditif baru, serta penggunaan minyak nabati tinggi omega-6 mungkin semakin meningkatkan risiko kanker usus pada usia muda.

    Meskipun belum ada bukti sebab-akibat langsung, penelitian ini kembali menunjukkan bahwa konsumsi UPF tidak boleh dianggap remeh. Mengurangi makanan ultra-proses dan memperbanyak makanan alami dapat menjadi langkah penting dalam mencegah kanker usus pada usia produktif.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/up)

  • Video Kemenkes Ungkap Gangguan Jiwa Penyebab Disabilitas Kedua di Indonesia

    Video Kemenkes Ungkap Gangguan Jiwa Penyebab Disabilitas Kedua di Indonesia

    JakartaDirektur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkap hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang menunjukkan anak muda jadi kelompok paling rentan mengalami depresi. Dari total penduduk usia 15 tahun ke atas, 2% tercatat memiliki masalah kesehatan jiwa, dengan 1,4% diantaranya merupakan depresi. Angka depresi tertinggi ditemukan pada kelompok usia 15–24 tahun, mencapai 2%.

    Imran menyebut gangguan jiwa seperti depresi, ansietas, dan schizophrenia masih menjadi penyebab disabilitas tinggi di Indonesia, berdasarkan Global Burden Disease 2019. Dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2024, Kemenkes melakukan screening kesehatan jiwa terhadap ribuan pegawainya. Hasilnya 55% mengalami stres ringan, 44% stres sedang, dan 1% stres berat.

    Klik di sini untuk menonton video lainnya!

    (/)

  • Riset Harvard Ungkap Kebiasaan yang Bisa Bikin Umur Panjang, Mudah Dilakukan

    Riset Harvard Ungkap Kebiasaan yang Bisa Bikin Umur Panjang, Mudah Dilakukan

    Jakarta

    Sebuah penelitian yang telah dilakukan selama puluhan tahun oleh peneliti Harvard telah ‘memecahkan’ apa rahasia yang membuat seseorang bahagia dan berumur panjang.

    Dikutip dari CNBC Make It, penelitian ini dimulai pada tahun 1938 dengan bantuan catatan kesehatan dari 724 peserta. Mereka diberi pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan pribadi.

    Hasilnya mengejutkan, ternyata aktif secara sosial merupakan alasan nomor satu seseorang bahagia, lebih sehat, dan dapat hidup lebih lama.

    Apa Hubungannya?

    Hubungan sosial yang baik dengan sesama dapat memengaruhi secara fisik. Ini kembali kepada kodrat setiap manusia bahwa mereka adalah makhluk sosial, sehingga membutuhkan orang lain untuk berinteraksi dan membantu segala urusan.

    Profesor psikiatri di Harvard Medical School, Robert Waldinger, MD, mengatakan seseorang yang memiliki koneksi sosial yang positif akan menurunkan risiko mengalami penyakit-penyakit kronis.

    “Orang dengan koneksi sosial yang lebih kuat menunjukkan tingkat diabetes, arthritis, penurunan kognitif, dan kondisi kronis lainnya yang lebih rendah,” kata Robert yang terlibat dalam studi tersebut kepada CNBC Make It.

    Kebiasaan Lain untuk Panjang Umur

    Selain aktif secara sosial, ada beberapa kebiasaan lain yang diklaim mampu menjaga kesehatan fisik dan mental, sehingga berpengaruh pada umur panjang.

    Berikut adalah kebiasaan-kebiasaan yang dapat membantu umur panjang, dikutip dari Harvard Health.

    1. Mindfulness

    Ini adalah salah satu jenis meditasi yang dapat melatih seseorang untuk fokus terhadap keadaan sekitar dan emosi yang dirasakan serta menerimanya secara terbuka.

    Terlalu sering mengkhawatirkan masa lalu atau masa depan jarang membantu. Pelepasan hormon stres yang terlalu sering memengaruhi jantung, otak, dan tidur yang semuanya berdampak buruk bagi kesehatan

    2. Prioritaskan Tidur

    Di era modern, tidur nyenyak dan berkualitas agaknya menjadi suatu barang mewah. Padahal, memprioritaskan tidur dapat membantu menjaga kesehatan secara menyeluruh.

    Harvard Publishing menyatakan bahwa rata-rata jumlah jam tidur yang ideal adalah tujuh jam. Namun, kualitas tidur mungkin lebih penting daripada kuantitasnya.

    3. Menjaga Pola Makan

    Makanan tentu memiliki peran besar dalam kesehatan seseorang. Banyak bukti menunjukkan bahwa pola makan yang kaya akan sayuran, buah-buahan, polong-polongan dan kacang-kacangan seperti lentil, kacang polong, dan buncis, serta makanan yang diproses secara minimal, mendukung umur panjang dan vitalitas

    4. Aktif Bergerak

    Sedentary lifestyle atau gaya hidup bermasal-masalan mulai menjadi masalah di era sekarang. Banyak distraksi yang membuat banyak orang enggan untuk bergerak atau berolahraga.

    Padahal, menjaga tubuh tetap aktif dapat berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Bisa dimulai dari yang sederhana, seperti memilih menggunakan tangga, alih-alih lift jika lantai yang dituju tidak terlalu atas atau memilih jalan kaki daripada menggunakan ojek online.

    Halaman 2 dari 3

    (dpy/dpy)

  • Yuk Hilangin Stres Bareng di Kelas Inferno Hot Pilates!

    Yuk Hilangin Stres Bareng di Kelas Inferno Hot Pilates!

    Jakarta

    Pernah merasa hidup lagi berat dan capek banget? Pilates bisa jadi salah satu jawabannya. Olahraga ini cocok untuk yang sedang stres, kelelahan, atau kurang bergerak. Dengan memadukan pernapasan, meditasi, dan latihan fisik, pilates membantu menjaga kesehatan tubuh dan mental sekaligus.

    Kali ini detikHealth x Minna Pilates mengadakan kelas Inferno Hot Pilates. Nggak perlu jago atau sudah advanced, bahkan yang benar-benar pemula pun bisa ikut.

    Event akan berlangsung di Minna Pilates Studio, Pondok Labu, Jakarta Selatan, dengan dua sesi kelas yang dibuka. Yuk cek detailnya!

    Sesi 1 Inferno Hot PilatesSatu tiket berlaku untuk satu orang22 November 2025 08:00 – 10:00 WIBSesi 2 Inferno Hot PilatesSatu tiket berlaku untuk satu orang22 November 2025 10:00 – 12:00 WIB

    Lewat pilates class ini, peserta diajak membentuk rutinitas hidup sehat, meningkatkan kebugaran, serta mengelola stres secara positif.

    Nggak lupa, event ini disupport oleh Boost, Botanical Essentials, Myojin Daily Socks, Nona Woman, Ruhee Diary, Saturuma, Wonderlux, dan NPure. Harapannya kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk menyeimbangkan tubuh, pikiran, dan jiwa di tengah padatnya kegiatan.

    Nantinya kamu nggak cuma dapet oleh-oleh tubuh yang bugar, tapi juga bisa bawa pulang goodie bag exclusive dan giveaway menarik. Tunggu apalagi, yuk detikers daftar sekarang di detikhealth.com/pilates.

    (suc/suc)

  • Cerita di Balik Viral Pria Mojokerto Dapat Piagam dari PMI usai 50 Kali Donor Darah

    Cerita di Balik Viral Pria Mojokerto Dapat Piagam dari PMI usai 50 Kali Donor Darah

    Jakarta

    Sebuah unggahan di media sosial TikTok viral menunjukkan foto piagam dan pin penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI) kepada seorang pria bernama Muhammad Ridwan setelah menjalani donor darah sebanyak 50 kali. Unggahan yang kini sudah dilihat lebih dari 2 juta orang itu mengundang banyak komentar kagum.

    “Wah keren, berapa jumlah manusia yang kamu tolong ka. Semoga darahmu yg disalurkan ke org menjadi pahala jariah,” ucap salah satu netizen yang berkomentar.

    “Wah, pengin bangeet sampai 50 kali sekarang masih yang kedua,” ucap netizen lain yang terinspirasi dari aksi Ridwan.

    Ketika dihubungi detikcom, Ridwan (29) menceritakan dirinya pertama kali melakukan donor darah ketika kelas 2 SMK. Kebetulan saat itu ada donor darah keliling dari PMI yang berkunjung ke sekolahnya, lalu ia mengikutinya.

    Semenjak saat itu, ia mulai sering melakukan donor darah. Bahkan saat ini, ia bisa donor darah 2-3 bulan sekali. Menurutnya, ini menjadi salah satu caranya untuk bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan kesehatan yang baik.

    “Saya percaya donor darah sangat bermanfaat untuk kesehatan dan sebagai bentuk syukur karena Tuhan memberiku kesehatan lebih, mungkin biar bisa berbagi kesehatan dengan orang lain,” ucap pria yang tinggal Mojokerto, Jawa Timur ini, ketika dihubungi detikcom, Senin (17/11/2025).

    “Setelah donor saya merasa senang dan puas karena apa yang saya lakukan ternyata bermanfaat bagi orang banyak, karena senang akhirnya menjadi kebiasaan,” sambungnya.

    Ridwan kini telah donor darah sebanyak 59 kali. Ia mengatakan senang unggahannya mendapatkan perhatian publik, terlebih menjadi inspirasi banyak orang.

    Untuk menjadi seorang donor aktif, Ridwan mengatakan membutuhkan waktu yang panjang dan konsistensi yang kuat.

    Namun, di satu sisi ia juga menyoroti masih kurangnya apresiasi pada orang yang menjadi donor. Meski donor darah dilakukan atas dasar kemanusiaan, menurutnya akan lebih baik jika donor bisa mendapatkan sedikit bantuan dana untuk transportasi atau konsumsi, khususnya bagi donor yang sudah melakukan donor darah berkali-kali.

    “Tidak banyak, tidak masalah yang penting bisa dimanfaatkan secara langsung. Dulu donor darah itu 3 bulan sekali, tapi sekarang bisa 2 bulan sekali. Ini karena permintaan darah sangat banyak dan antusiasme masyarakat kurang. Padahal mereka butuh orang-orang seperti kami, pendonor darah aktif, tapi tolong lebih perhatikan kami,” ceritanya.

    Seorang donor membagikan 350 cc darah darah setiap kali donor darah. Jika ditotal dengan jumlah donor yang dilakukan, Ridwan sudah menyumbangkan darahnya sebanyak 20,65 liter.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/naf)

  • Kata POGI soal Viral Kasus ‘Rahim Copot’ Pasca Lahiran

    Kata POGI soal Viral Kasus ‘Rahim Copot’ Pasca Lahiran

    Jakarta

    Cerita dokter sekaligus influencer kesehatan Gia Pratama sempat menyita perhatian publik lantaran kasus yang ditanganinya terbilang langka. Terjadi saat berpraktik di rumah sakit umum daerah, insiden ‘rahim copot’ terlintas tampak mustahil terjadi.

    Namun, dr Gia menekankan kejadian tersebut benar adanya. Seorang pria datang ke IGD RSUD saat ia tengah berjaga, membawa sekantong kresek. Setelah dilihat, diyakini dr Gia, yang dibawanya merupakan rahim.

    Menurut dr Gia, hal itu terjadi pascapersalinan ibu dengan dukun beranak yang menarik paksa plasenta. Padahal, plasenta bisa lahir dengan sendirinya dalam waktu tertentu.

    Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Prof Budi Wiweko membenarkan lazimnya butuh waktu 15 hingga 30 menit pascapersalinan untuk mengeluarkan plasenta atau ari-ari.

    “Tidak boleh dipaksa, tidak boleh juga dibiarkan,” tuturnya kepada detikcom Senin (17/11/2025).

    Cara lain yang umum dilakukan saat plasenta sulit keluar adalah melalui standar manajemen aktif kala III. Saat dokter menggunakan obat-obatan yang juga membantu plasenta keluar.

    “Diharapkan nanti setelah plasenta lahir, rahim akan berkontraksi kembali sehingga akan kembali ukurannya mengecil dan pembuluh darah-pembuluh darah itu akan terjepit sehingga tidak terjadi perdarahan,” lanjutnya.

    Prof Budi menekankan, kondisi tertentu proses pengeluaran plasenta memang tidak sederhana.

    “Ada kalanya kasus yang complicated,” sebut dia.

    Misalnya, plasenta yang melekat terlalu kuat pada dinding rahim, atau yang dikenal sebagai plasenta akreta, serta bentuk yang lebih berat seperti inkreta dan perkreta. Pada kondisi ini, plasenta tidak bisa lepas secara normal dan memerlukan tindakan manual, hingga operasi.

    “Pada beberapa kasus, plasenta itu menempel sangat kuat sampai masuk ke dalam lapisan otot rahim. Ada juga yang menembus lebih dalam sehingga harus dilahirkan dengan tindakan pembedahan atau bahkan rahimnya harus diangkat. Itu namanya plasenta akreta atau perkreta,” jelasnya.

    Di sisi lain, intervensi yang dilakukan secara salah atau terlalu agresif justru dapat menimbulkan komplikasi sangat berbahaya. Salah satunya adalah inversio uteri atau rahim terbalik.

    Prof Budi menjelaskan, inversio uteri terjadi ketika plasenta yang masih menempel ditarik paksa, menyebabkan rahim ikut tertarik keluar melalui vagina. “Itu kondisi yang sangat berbahaya. Bisa menyebabkan perdarahan hebat, syok, bahkan kematian,” tegasnya.

    Meski jarang terjadi, komplikasi ini dapat berkembang cepat bila tidak ditangani dengan tepat. Dalam keadaan berat, rahim dapat membentuk cincin karena terjepit, membuat kontraksi tidak mungkin terjadi. Pada tahap ini, dokter harus segera melakukan tindakan darurat, termasuk memberi anestesi dan mengembalikan posisi rahim. Bila tak dapat dikembalikan, operasi menjadi satu-satunya jalan.

    “Kalau sudah berbentuk cincin dan perdarahan tidak berhenti, pasien bisa meninggal. Itu sebabnya inversio uteri harus segera direposisi,” tambahnya.

    Prof Budi menekankan bahwa ia tidak dapat memastikan detail insiden yang diceritakan dr Gia tanpa melihat langsung kondisi di lapangan. Namun, berdasarkan penjelasan umum mengenai komplikasi obstetri, kemungkinan yang terjadi adalah inversio uteri total, rahim tertarik keluar sepenuhnya, atau robekan berat pada dinding rahim.

    “Bisa saja itu inversio uteri total, karena rahim bisa keluar sampai seluruhnya dan sulit dimasukkan kembali. Bisa juga robekan dinding rahim yang menyebabkan bagian rahim terlepas dari tempatnya. Tanpa melihat langsung kasusnya, tentu kami tidak bisa memastikan,” katanya.

    Meski begitu, Prof Budi kembali mengingatkan bahwa komplikasi-komplikasi ini dapat dicegah bila proses persalinan ditangani oleh tenaga kesehatan terlatih dan mengikuti standar manajemen aktif kala III. Dengan penanganan yang benar, plasenta dapat lahir tanpa paksaan, risiko perdarahan lebih kecil, dan keselamatan ibu lebih terjamin.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Viral Cuci Muka Pakai Air Garam, Aman Buat Kulit?”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/up)

    Ribut Sesama Dokter soal Rahim Copot

    10 Konten

    Polemik kasus viral ‘rahim copot’ meluas. Tidak adanya dokumentasi formal dan ilmiah membuat sebagian dokter senior meragukan kasus tersebut, dan mengaitkannya dengan kondisi yang lebih mungkin terjadi: inversio uteri.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya