Category: Detik.com Kesehatan

  • Obgyn yang Tangani ‘Rahim Copot’ Buka Suara, Sampaikan Pelajaran Penting

    Obgyn yang Tangani ‘Rahim Copot’ Buka Suara, Sampaikan Pelajaran Penting

    Jakarta

    Mengakhiri polemik panas tentang ‘rahim copot’ di medsos, sosok dokter obstetri dan ginekologi (obgyn) yang mengaku menangani kasus tersebut angkat bicara. Ia membagikan cerita versinya, dengan pesan penting tentang pelajaran yang bisa dipetik.

    “Untuk semua bumil periksakanlah kehamilan dan bersalinlah di fasilitas kesehatan yang baik,” pesan Dr dr Christofani E, SpOG, SubspFER konsultan fertilitas yang mengaku 15 tahun lalu menangani kasus ‘rahim copot’ bersama dr Gia Pratama, dokter sekaligus influencer yang memviralkan kasus ini.

    “Sehingga risiko komplikasi seperti pasien yang kami tangani tidak terjadi lagi pada semua ibu hamil,” lanjutnya, dalam pesannya kepada detikcom, Selasa (18/11/2025).

    Tak mau memperkeruh kegaduhan, dr Christo memahami keraguan sejawat maupun publik terhadap kasus yang diceritakan dr Gia. Ia mengakui, kasus ‘rahim copot’ yang dimaksud merupakan kasus pertama dan terakhir yang ia tangani.

    “Saya pun akan sama responsnya kalau mendengar berita seperti ini. Karena seperti yang saya sudah sampaikan pada kondisi normal tidak mungkin rahim bisa lepas sendiri. Kembali kondisi ini terjadi karena perlakuan dari sang paraji,” tutur dr Christo.

    Terkait tidak adanya laporan tentang kasus tersebut yang di-submit di jurnal ilmiah, dr Christo menyebut tinginya beban kerja di RSUD Slamet Garut, tempat praktiknya saat itu sebagai alasannya. Sebagai residen, ia mengaku tidak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut dan hanya fokus menyelamatkan pasien.

    “Kami residen bertugas di sana selama 2 minggu, bisa bekerja sampai lewat tengah malam setiap hari. Jam tidur bahkan makan harus curi-curi. Jadi jujur kami tidak sempat membuat paper untuk publikasi,” katanya.

    “Akan tetapi ada laporan yang dibuat untuk dokumentasi di RSUD Garut,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Viral Cuci Muka Pakai Air Garam, Aman Buat Kulit?”
    [Gambas:Video 20detik]
    (up/up)

    Ribut Sesama Dokter soal Rahim Copot

    12 Konten

    Polemik kasus viral ‘rahim copot’ meluas. Tidak adanya dokumentasi formal dan ilmiah membuat sebagian dokter senior meragukan kasus tersebut, dan mengaitkannya dengan kondisi yang lebih mungkin terjadi: inversio uteri.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Video Tan Shot Yen: Kita Nggak Perlu Belajar dari Negara Orang untuk MBG

    Video Tan Shot Yen: Kita Nggak Perlu Belajar dari Negara Orang untuk MBG

    JakartaAhli gizi, dr. Tan Shot Yen tanggapi soal wacana pemerintah Indonesia buka peluang kerja sama dengan India dalam menggarap program makan bergizi gratis (MBG). Menurut Tan, Indonesia sejatinya tidak perlu belajar dari negara lain untuk MBG, lantaran punya situasi yang berbeda. Terlebih lagi menurutnya, Indonesia punya banyak ahli gizi yang mumpuni.

    Sebagai informasi, wacana soal kerja sama dengan India itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, Sugiono saat menghadiri KTT Asean-India ke-22 di Kuala Lumpur pada 26 Oktober lalu. India menerapkan program yang sama lebih dulu untuk anak-anak sekolah di negara mereka.

    Klik di sini untuk menonton video lainnya!

    (/)

    tan shot yen ahli gizi mbg makan bergizi gratis india

  • Merasa ‘Aman’ dari Sakit Jantung karena Masih Muda? Belum Tentu, Ini Pesan Dokter

    Merasa ‘Aman’ dari Sakit Jantung karena Masih Muda? Belum Tentu, Ini Pesan Dokter

    Jakarta

    Penyakit jantung mulai menghantui usia muda, termasuk mereka yang berusia 20 hingga 30 tahun. Meski begitu, banyak yang merasa masih ‘aman’ dari masalah jantung hanya karena usianya belum masuk kategori lanjut usia.

    Spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi kardiovaskular dr Simon Salim, SpPD-KKV, dari Brawijaya Hospital menjelaskan kondisi jantung di usia muda memang cenderung lebih sehat dibandingkan kelompok usia lebih tua. Namun, semuanya sangat bergantung pada gaya hidup atau kebiasaan-kebiasaan tertentu sejak remaja.

    “Tapi, ya tergantung gaya hidup dia sejak dari remaja,” ujarnya pada detikcom di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025).

    Menurut dr Simon, indikator paling dasar untuk menilai jantung orang muda masih sehat adalah tidak adanya keluhan dan kemampuan melakukan aktivitas fisik secara rutin. Tes pertama dapat dilihat dari kebiasaan olahraga.

    “Pada prinsipnya, kalau dia nggak ada keluhan sebenarnya dan bisa berolahraga. Jadi, tes pertama memang bisa berolahraga teratur atau nggak,” jelas dr Simon.

    “Kalau berolahraga teratur bisa makin bugar, biasanya nggak ada apa-apa,” sambungnya.

    Sebaliknya, bila kerap ada masalah dan kendala saat ingin meningkatkan intensitas olahraga, kondisi ini perlu diwaspadai. Pada orang muda yang sehat, latihan fisik biasanya dapat ditingkatkan perlahan sesuai kemampuan.

    “Kalau ini kok makin training tapi segitu-segitu saja, nggak pernah bisa meningkat, itu mungkin salah satu petunjuk adanya masalah jantung atau masalah paru,” tambahnya.

    “Jika olahraga itu membuat orang usia muda semakin bugar dan intensitasnya bisa dinaikkan, biasanya tidak ada masalah baik pada jantung maupun organ tubuh lainnya,” pungkas dia.

    (sao/naf)

  • Viral SPPG Bagi-bagi Uang Rp 5.000 di Ompreng MBG, dr Tan ‘Ngegas’ Lagi

    Viral SPPG Bagi-bagi Uang Rp 5.000 di Ompreng MBG, dr Tan ‘Ngegas’ Lagi

    Jakarta

    Viral video satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Siak Tualang Perawang ‘bagi-bagi hadiah’ di ompreng makan bergizi gratis (MBG). Tampak sejumlah ompreng ditempeli uang bernilai Rp 5000 sebagai hadiah untuk para siswa-siswi yang menerima manfaat.

    “Hi sobat gizi, kita bagi hadiah kecil-kecilan nih untuk adik” tercintaa, siapa yang beruntung nemu harta karun di omprengnya boleh komen yaa,” demikian narasi yang tercantum dalam video yang diunggah di akun resmi sppg_siaktualangperawang, seperti dilihat detikcom Selasa (18/11/2025).

    Komentar warganet terbelah. Ada yang mengapresiasi, adapula yang mengaku heran dengan maksud pemberian hadiah tersebut, lantaran tampak semakin bergeser dari tujuan awal MBG.

    “Makin gak fokus gak sesuai dengan tujuan MBG,” timpal salah satu netizen.

    “Miris banget, diracuni oleh materi bukan makanan bergizi,” timpal yang lain.

    Ahli gizi dr Tan Shot Yen ikut mengkritisi laporan tersebut. Ia menyayangkan sejumlah SPPG tampak tidak menjalani program MBG sesuai fokus awal.

    “Ini sih udah kelewatan, brutal. Ngaco programnya,” tuturnya kepada detikcom Selasa (18/11).

    dr Tan menekankan bila program MBG tak kunjung diperbaiki, kepercayaan masyarakat juga dikhawatirkan terus menurun, lantaran program semestinya bertujuan memperbaiki kualitas gizi anak.

    Alih-alih menambahkan hal tak perlu, pembenahan MBG harus diutamakan pada kualitas makanan, mengingat masih banyak distribusi makanan dalam bentuk ultra processed food (UPF), yang bisa berdampak jangka panjang pada kesehatan, mulai dari risiko obesitas hingga kecanduan makanan manis dan asin.

    “Anak obes makin gendut, anak normal jadi kecanduan jajan. Ibu-ibu miskin literasi makin hepi karena hemat uang jajan, ibu-ibu cerdas kian cemas.” tambahnya.

    dr Tan juga memberi peringatan tegas terkait MBG berpotensi kehilangan kredibilitas jika dijalankan tanpa prinsip dasar ilmu gizi.

    “Program unggulan nasional sudah jadi proyek. Polemik SPPG semakin serakah dan kinerja buruk, akhirnya tingkat kepercayaan rakyat makin nyungsep,” sesal dia.

    Ia menegaskan, bila program pangan anak tidak dikawal tenaga ahli, maka risiko kegagalan bukan hanya tinggi, tetapi juga dapat menjadi preseden buruk bagi tata kelola program intervensi gizi pemerintah di masa depan.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: SPPG Polri Pejaten Sediakan 108 Menu MBG Bersertifikat Halal”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/up)

  • Seberapa Tajam Logikamu? Buktikan Lewat 8 Teka-teki Ini

    Seberapa Tajam Logikamu? Buktikan Lewat 8 Teka-teki Ini

    Jakarta

    Melatih logika tak harus selalu serius. Teka-teki bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk mengasah otak.

    Tak hanya seru, tantangan ini juga bisa melatih kemampuan analisis, ketelitian, dan kreativitas dalam memecahkan masalah. Yuk jawab berbagai teka-teki logika yang siap menguji sejauh mana ketajaman berpikirmu.

    Teka-teki Logika

    Jika bisa menjawab semua teka-teki ini dengan benar, kamu jago. Jangan intip jawabannya dulu.

    1. Kira-kira, tali mana yang akan lebih berat ditarik saat merubuhkan menara?

    Coba kira-kira tali mana yang akan lebih berat ditariknya saat merubuhkan menara. Foto: Firdaus Anwar

    2. Sebanyak 120 pesepeda mengikuti lomba lintas alam, sepertiganya berhasil finish dalam setengah jam. Berapakah yang tidak berhasil finish dalam waktu setengah jam?

    3. Jika bangun datar ini digabung. Pola apa yang terbentuk?

    Mulai dari teka-teki visual. Pola apa yang terbentuk bila bidang digabung sesuai angka yang tertera. Foto: Firdaus Anwar

    4. Ada berapa segitiga di sini? Coba hitung dengan benar.

    Ada berapa segitiga di sini? Foto: Asah otak

    5. Pilih satu bayangan yang paling cocok.

    Bayangan manakah yang cocok? Foto: Asah otak

    6. Ada segienam, segilima dan persegi. Kira-kira selanjutnya bidang apakah yang muncul?

    Asah otak detikHealth (Firdaus/detikHealth)

    7. Kali ini bukan bidang datar, tapi masih menebak pola selanjutnya.

    Tebak-tebakan Penghilang Stres, Seberapa Jenius Kamu? Foto: detikhealth

    8. Dari keempat kucing ini, mana yang berbeda?

    Tebak-tebakan Penghilang Penat, Seberapa Jenius Kamu? Foto: detikhealthJawaban Teka-teki Logika

    Berikut jawaban teka-teki logika. Mudah tidak untukmu?

    1. Tali A yang paling bawah adalah yang paling berat, sementara tali C yang paling atas adalah yang paling ringan.

    Asah otak detik Health Foto: Firdaus Anwar

    2. 80 pesepeda. Ada dua per tiga yang tidak berhasil finis dari 120 pesepeda, artinya sama dengan 80 pesepeda.
    3. Jawabannya adalah C

    Buat yang memiliki kemampuan spasial hebat pasti bukan hal sulit. Foto: Firdaus Anwar

    4. Ada 18 segitiga

    Asah otak detikHealth Foto: Asah otak

    5. Gambar B yang paling cocok. Jawabanmu benar tidak?

    Asah otak detikHealth Foto: Asah otak

    6. Jawabannya adalah segitiga. Sebab, setiap bidang memiliki jumlah sisi yang berkurang dari kiri ke kanan. Artinya biang yang terakhir memiliki tiga sisi.

    7. Pola A adalah jawabannya. Coba perhatikan, pola pertama sampai ketiga adalah angka 1, 2, dan 3 yang saling berhadapan. Jadi selanjunya adalah pola angka 4.

    Tebak-tebakan Penghilang Penat, Seberapa Jenius Kamu? Foto: detikhealth

    8. Kucing kedua mempunyai warna hidung dan ekor dengan corak yang berbeda.

    Tebak-tebakan Penghilang Penat, Seberapa Jenius Kamu? Foto: detikhealth

    (elk/kna)

  • Momen Klarifikasi Waka DPR Cucun soal ‘Tak Perlu Ahli Gizi’ untuk MBG

    Momen Klarifikasi Waka DPR Cucun soal ‘Tak Perlu Ahli Gizi’ untuk MBG

    Foto Health

    Rafida Fauzia – detikHealth

    Selasa, 18 Nov 2025 17:15 WIB

    Jakarta – Kontroversi muncul setelah pernyataan Cucun soal peran ahli gizi di MBG. PERSAGI menegaskan tugas gizi tidak dapat dialihkan ke tenaga non-profesional.

  • Masih Banyak yang Keliru, Begini Cara Gunakan Antiperspirant yang Benar

    Masih Banyak yang Keliru, Begini Cara Gunakan Antiperspirant yang Benar

    Jakarta

    Banyak orang masih salah memahami cara memakai antiperspirant, sehingga perlindungannya terhadap keringat tidak maksimal. Padahal jika digunakan dengan benar, produk ini bisa memberikan perlindungan hingga beberapa hari.

    Marketing Manager Perspirex, Reza Solichin, menjelaskan bahwa kesalahan paling umum adalah waktu pengaplikasian. Banyak orang mengira antiperspirant sebaiknya dipakai pagi hari, padahal justru malam hari adalah waktu yang paling efektif.

    “Waktu terbaik menggunakan Perspirex atau antiperspirant adalah di malam hari. Paginya baru dibersihkan atau mandi,” jelasnya, Selasa (18/11/2025).

    Reza menambahkan, kulit harus dalam kondisi benar-benar kering dan tidak terluka agar bahan aktif dapat bekerja maksimal. Penggunaan berlebihan juga sering memicu iritasi.

    “Banyak orang yang pakai Perspirex atau antiperspirant ini lebih dari satu kali setiap hari. Padahal sebenarnya cara pakai itu cukup tipis saja,” ujarnya.

    Antiperspirant bekerja dengan membentuk gel penahan pada saluran keringat. Plug ini akan bertahan selama beberapa hari lalu terlepas secara alami. Karena mekanisme inilah, perlindungannya dapat mencapai 3-5 hari setelah pemakaian.

    “Gel tersebut akan hilang dengan sendirinya bersama dengan keringat yang keluar dari tubuh kita,” imbuh Reza.

    Selain itu, ada pula kekhawatiran soal keamanan antiperspirant bagi orang yang aktif berolahraga. Menjawab hal tersebut, dr. reeza edward Sp.DV memastikan antiperspirant aman selama dipakai sesuai petunjuk.

    “Apakah berbahaya atau tidak? Sebetulnya secara medis jawabannya tidak,” tegasnya.

    Menurutnya, gel penahan yang terbentuk akan terdorong keluar secara alami, namun pada sebagian orang bisa menimbulkan iritasi ringan jika kulit sensitif atau produksi keringat sangat tinggi.

    Sebelum memilih produk, Perspirex menyediakan beberapa varian yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, mulai dari Perspirex Comfort, Original, Strong, hingga varian Reguler dan Maksimum.

    CEO Bintang Inter Global sekaligus distributor baru Perspirex di Indonesia, Herman The, menambahkan pentingnya memilih varian sesuai kebutuhan. Ia menyarankan pemula untuk tidak langsung menggunakan varian paling kuat.

    “Dalam penggunaan produk Perspirex ini, bagi pemula mulai dulu dengan yang comfort, jangan langsung ke strong,” ujarnya.

    Varian comfort memberikan perlindungan 2-3 hari, sementara varian original menjadi favorit karena keseimbangannya. Adapun varian strong direkomendasikan untuk kondisi keringat yang sangat masif.

    “Yang sangat masif, yang perlu sampai 5 hari itu, kemudian pakai yang strong,” katanya.

    Perbedaan Antiperspirant dan Deodorant

    Selain itu, Reza mengingatkan masih banyak orang yang keliru membedakan antiperspirant dan deodorant. Antiperspirant bekerja menghambat produksi keringat melalui gel penahan di saluran keringat, sedangkan deodorant hanya menetralkan bau melalui pewangi atau antibakteri.

    “Bau badan itu bukan dari keringatnya, tapi dari interaksi antara keringat dan bakteri. Jadi deodorant tidak menahan keringat,” jelasnya.

    Ia menegaskan, Perspirex mampu mengurangi lebih dari 30% keringat, menjadikannya salah satu antiperspirant paling efektif di pasaran.

    (anl/ega)

  • Dokter Ungkap Kebiasaan yang Diam-diam Picu Masalah Jantung di Usia Muda

    Dokter Ungkap Kebiasaan yang Diam-diam Picu Masalah Jantung di Usia Muda

    Jakarta

    Kasus penyakit jantung tidak hanya dialami oleh orang lanjut usia. Dokter melihat tren pasien muda belakangan meningkat, dipicu pola hidup tidak sehat yang kerap dianggap sepele.

    Spesialis penyakit dalam dr Simon Salim, SpPD-KKV, dari Brawijaya Hospital mengingatkan kebiasaan yang diam-diam bisa ‘mematikan’ bagi anak muda, karena meningkatkan risiko penyakit jantung. Salah satunya termasuk terlalu banyak duduk.

    “Sedentary lifestyle, karena kurang gerak seperti kebanyakan duduk. Waktu duduknya lebih dari delapan jam sehari dan jumlah langkah kurang dari 10 ribu,” terangnya kepada detikcom saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025).

    Selain kurang gerak, dr Simon menyebut konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok juga memperbesar risiko penyakit jantung pada usia muda.

    Apa yang harus dilakukan?

    dr Simon menekankan pentingnya menambah jumlah langkah harian. Kebiasaan sederhana ini sangat membantu meningkatkan aktivitas fisik dan cukup mudah dilakukan sehari-hari. Misalnya, mulai membiasakan diri turun satu stasiun lebih awal saat naik transportasi umum, kemudian jalan sampai ke lokasi tujuan.

    “Atau kalau bawa mobil, parkir itu jangan berebutan di tempat paling dekat dengan lift. Cari tempat yang paling jauh dari lift, jadi kan dipaksa untuk bolak-balik, pokoknya kejar jumlah langkah itu sudah paling sederhana,” pungkasnya.

    (sao/naf)

  • Kasus ‘Rahim Copot’ Diragukan Sejawat, Obgyn yang Menangani Pun Sama Herannya

    Kasus ‘Rahim Copot’ Diragukan Sejawat, Obgyn yang Menangani Pun Sama Herannya

    Jakarta

    Ribut-ribut antardokter ramai disorot warganet pasca kisah viral kasus ‘rahim copot’ diragukan kebenarannya oleh sejumlah obgyn. Dr dr Christofani E SpOG, SubspFER, obgyn yang menangani kasus tersebut, mewajarkan respons demikian.

    “Saya pun akan sama respons-nya kalau mendengar berita seperti ini. Karena seperti yang sudah saya sampaikan, pada kondisi normal tidak mungkin rahim bisa lepas sendiri, tapi kembali lagi, kondisi ini terjadi karena perlakuan dari paraji,” bebernya kepada detikcom Selasa (18/11/2025).

    Ia kembali menekankan perbedaan pandangan yang muncul di ruang publik sebenarnya merupakan hal wajar dalam dunia medis. Menurutnya, dokter justru dituntut untuk saling menguji informasi, mempertanyakan temuan, dan menelaah kasus berdasarkan bukti ilmiah.

    “Menanggapi dinamika yang terjadi antardokter, perlu masyarakat pahami bahwa kami dokter harus selalu berpikir kritis dan bekerja berdasarkan evidence-based. Jadi wajib untuk mencari tahu diagnosis dan tindakan yang terbaik untuk pasien-pasien kami, dan tidak segera menerima informasi tanpa cross-check,” jelasnya.

    Christofani mengingatkan, prinsip kehati-hatian itu bukan semata-mata untuk menjaga kredibilitas profesi, tetapi karena yang dihadapi adalah nyawa manusia. Setiap keputusan medis, kata dia, harus mempertimbangkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.

    “Karena yang kami hadapi adalah manusia, dan setiap pasien berhak mendapatkan perawatan maksimal,” sambungnya.

    Namun, ia mengakui kondisi di lapangan tidak selalu sama dengan teori dalam buku ajar. Daerah dengan sumber daya terbatas kerap menghadirkan kasus-kasus tidak biasa, yang mungkin tidak tercatat dalam jurnal maupun literatur medis.

    “Akan tetapi terkadang kondisi di lapangan, apalagi di daerah yang masih minim fasilitas kesehatan, ada saja yang unik dan terkadang tidak ada di textbook maupun jurnal saat dulu kami menjalani pendidikan,” ujarnya.

    Oleh sebab itu, ia mengajak publik untuk tetap objektif. Di satu sisi, dokter memiliki kewajiban untuk terbuka pada kejanggalan medis; di sisi lain, tenaga kesehatan juga perlu merujuk pada keilmuan agar tidak terbawa bias atau prasangka.

    “Jadi tetaplah berpikiran terbuka dan selalu berlandaskan keilmuan dalam mengelola pasien,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Cerita Wanita Inggris Pertama yang Melahirkan dengan Rahim Transplantasi”
    [Gambas:Video 20detik]
    (naf/up)

    Ribut Sesama Dokter soal Rahim Copot

    13 Konten

    Polemik kasus viral ‘rahim copot’ meluas. Tidak adanya dokumentasi formal dan ilmiah membuat sebagian dokter senior meragukan kasus tersebut, dan mengaitkannya dengan kondisi yang lebih mungkin terjadi: inversio uteri.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Apa Itu PERSAGI? Organisasi Ahli Gizi yang Viral usai Disebut Tak Perlu di MBG

    Apa Itu PERSAGI? Organisasi Ahli Gizi yang Viral usai Disebut Tak Perlu di MBG

    Jakarta

    Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral dan menuai kekecewaan dari publik, khususnya ahli gizi. Tidak sedikit netizen yang menyuarakan keresahannya dan membagikan cerita di instagram yang berisi tulisan “Pray For Ahli Gizi Indonesia”.

    Ketua DPP PERSAGI Bidang Kajian Ilmiah, Marudut Sitompul, merespons hal tersebut, mengatakan telah bertemu langsung dengan DPR bersama anggota Komisi IX DPR RI.

    “Yang jelas tenaga gizi (ahli gizi) yang akan mengatur makanan di SPPG. Bila tenaga gizi tidak terpenuhi, program MBG harus tetap berjalan. Solusi tenaga untuk mencapai tujuan MBG harus ada solusi dan sebaiknya berkoordinasi dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia,” lanjutnya.

    Lebih lanjut, apa itu PERSAGI?

    Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) adalah organisasi profesi resmi untuk ahli gizi di Indonesia. Berdiri sejak 1957, PERSAGI memiliki cabang di berbagai daerah dan menjadi wadah utama pengembangan kompetensi tenaga ahli gizi di Indonesia.

    Dikutip dari laman resminya, PERSAGI menyusun standar kompetensi, etika profesi, serta menyediakan pelatihan dan sertifikasi untuk tenaga gizi. Dengan adanya standar ini, layanan gizi yang diberikan di fasilitas kesehatan, sekolah, maupun komunitas tetap terukur dan aman.

    Persagi memiliki visi untuk mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045. Demi mencapainya, Persagi membina para ahli gizi, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi, serta memberikan pelayanan konsultasi dan edukasi gizi kepada masyarakat.

    Peran PERSAGI dalam Peningkatan Gizi Nasional

    Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) memainkan peran penting dalam memperkuat upaya peningkatan status gizi masyarakat. Beberapa peran PERSAGI yakni:

    1. Menyusun Standar Profesi Ahli Gizi

    PERSAGI bertanggung jawab menetapkan standar kompetensi dan praktik bagi ahli gizi di Indonesia. Melalui pelatihan dan sertifikasi, organisasi ini memastikan kualitas layanan gizi tetap terjaga dan sesuai kebutuhan masyarakat.

    2. Terlibat dalam Penyusunan Kebijakan Gizi

    Organisasi ini aktif memberikan masukan kepada pemerintah dalam perumusan kebijakan gizi nasional. PERSAGI berpartisipasi dalam program fortifikasi pangan, kampanye kesadaran gizi, serta penyusunan pedoman gizi yang digunakan sebagai acuan berbagai pihak.

    3. Mendorong Penelitian di Bidang Gizi

    PERSAGI berkontribusi dalam penelitian terkait kebutuhan dan intervensi gizi, baik pada tingkat individu maupun komunitas. Hasil riset tersebut menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan dan praktik berbasis bukti.

    Di samping itu,PERSAGI juga menjalin kemitraan dengan lembaga internasional seperti WHO dan UNICEF. Kolaborasi ini membuka akses pada inovasi global dan memperkuat kontribusi Indonesia dalam agenda gizi dunia.

    Tonton juga video “Apa yang Perlu Dibenahi di Program MBG? Ini Kata Tan Shot Yen”

    Halaman 2 dari 2

    (kna/up)

    Gaduh Peran Ahli Gizi

    12 Konten

    Peran ahli gizi di program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah jadi sorotan. Dianggap tidak perlu ada dan bisa digantikan lulusan SMA yang dilatih khusus. Jelas, ahli gizi meradang karenanya. Tagar #prayforahligizi menggema di medsos.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya