Category: Detik.com Kesehatan

  • Kenali Fungsi, Letak, dan Penyakit Kelenjar Getah Bening

    Kenali Fungsi, Letak, dan Penyakit Kelenjar Getah Bening

    Jakarta

    Kelenjar getah bening adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melawan infeksi akibat bakteri, virus, kuman, dan parasit.

    Jika terjadi infeksi, kelenjar akan membengkak untuk memberikan tanda. Setelah infeksi mereda, kelenjar akan mengempis dengan sendirinya dan kembali ke ukuran semula.

    Fungsi dan Letak Kelenjar Getah Bening

    Kelenjar getah bening berperan penting dalam tubuh untuk melawan infeksi. Fungsinya adalah sebagai filter, yaitu menyaring virus, bakteri, dan penyebab penyakit lainnya sebelum menginfeksi bagian tubuh lainnya.

    Pembengkakan kelenjar getah bening paling sering terjadi karena infeksi bakteri atau virus. Area umum yang sering mengalami pembengkakan kelenjar getah bening di antaranya leher, di bawah dagu, ketiak, dan selangkangan.

    Gejala Penyakit Kelenjar Getah Bening

    Kelenjar getah bening bisa membengkak sebesar kacang polong, kacang merah, atau bahkan lebih besar. Pembengkakan ini bisa menjadi tanda adanya masalah dalam tubuh dan mungkin terasa nyeri dan sakit.

    Adapun beberapa gejala dari kelenjar getah bening di antaranya:

    Hidung meler, sakit tenggorokan, atau batukPembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, bisa jadi karena infeksi seperti HIV atau monoukleosis, atau gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti lupus atau artritis reumatoid.Kelenjar getah bening yang keras, tumbuh cepat, dan tidak bergerak saat ditekan. Hal ini mungkin disebabkan oleh kanker sistem limfatik yang disebut limfoma atau kanker lainnyaDemamKeluarnya keringat di malam hari.Penyebab Kelenjar Getah Bening

    Dijelaskan pula oleh laman laman Cleveland Clinic, kelenjar getah bening membengkak saat sel imun berkumpul sebelum tubuh mengirimkan sel-sel tersebut ke tempat yang membutuhkan. Sel-sel imun pada dasarnya menumpuk dan menyebabkan tekanan dan pembengkakan. Infeksi saluran pernapasan atas merupakan penyebab utama dari pembengkakan kelenjar getah bening.
    Kendati demikian, pembengkakan bisa dialami karena:

    Pilek dan flu biasaInfeksi sinus atau sinusitisInfeksi kulit ringanInfeksi bakteri, seperti streptokokus dan staph.

    Pembengkakan kelenjar getah bening juga bisa terjadi akibat kondisi serius, seperti

    Penyakit virus, seperti hepatitis, cacar air, dan herpes zosterPenyakit bakteri yang jarang terjadi, seperti wabah pes atau tuberkulosisPenyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, lupus, atau sindrom SjögrenKondisi endokrin, seperti hipertiroidismeReaksi terhadap obat-obatanKankerInfeksi menular seksualKapan Harus Periksakan Diri ke Dokter?

    Beberapa kelenjar getah bening yang bengkak akan kembali ke ukuran normal saat kondisi yang menyebabkannya membaik. Namun, diperlukan untuk memeriksakan diri jika pembengkakan kelenjar getah bening:

    Tidak diketahui penyebabnyaTerus membesar dan membengkak selama 2-4 minggu.Lebih besar dari 2 cmSangat menyakitkan atau tumbuh dengan cepatMengeluarkan nanah atau zat lainnyaTerasa keras atau kenyal atau tidak bergerak saat ditekanDisertai demam, keringat di malam hari atau penurunan berat badanDisertai batuk yang tak kunjung membaikMenyebabkan kulit merah atau meradang di atas kelenjar getah bening yang bengkak

    (elk/suc)

  • Ternyata Golongan Darah Ini Bisa Berisiko Lebih Tinggi Kena Penyakit Liver

    Ternyata Golongan Darah Ini Bisa Berisiko Lebih Tinggi Kena Penyakit Liver

    Jakarta

    Sebuah studi terbaru mengungkapkan temuan penting soal hubungan golongan darah dan risiko penyakit hati atau liver. Bukan sekadar menjadi informasi medis dasar, golongan darah juga bisa memberikan gambaran tentang peluang seseorang mengalami penyakit hati autoimun, kondisi serius yang bisa berujung pada kerusakan organ jangka panjang.

    Riset yang dipublikasikan di jurnal Frontiers menemukan bahwa orang dengan golongan darah A, memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit hati autoimun. Sebaliknya, pemilik golongan darah B justru menunjukkan risiko lebih rendah, terutama untuk kolangitis bilier primer atau primary biliary cholangitis (PBC), penyakit yang dapat berkembang menjadi gagal hati.

    Bagaimana Golongan Darah Berperan?

    Penyakit hati autoimun berbeda dengan kerusakan hati akibat alkohol atau pola hidup. Pada hepatitis autoimun, sistem imun salah sasaran dan menyerang sel-sel hati.

    Pada PBC, sistem imun justru menyerang saluran empedu, menyebabkan penumpukan empedu dan akhirnya merusak hati. Bahkan bisa memicu sirosis, yakni kondisi kronis saat hati mengalami kerusakan dan pembentukan jaringan parut permanen, sehingga mengganggu fungsinya.

    Golongan darah ditentukan oleh antigen A, B, atau H pada sel darah merah. Dalam studi yang melibatkan lebih dari 1.200 orang, termasuk 114 pasien penyakit hati autoimun, peneliti menemukan pola yang cukup jelas.

    Dikutip dari Economic Times, golongan darah A paling sering muncul pada pasien. Disusul dengan pemilik golongan darah O, B, lalu AB.

    Apa yang Perlu Diwaspadai?

    Para ahli menegaskan memiliki golongan darah A bukan berarti pasti akan mengalami penyakit liver. Tetapi, penting untuk lebih peka terhadap gejala awal, seperti mudah lelah, nyeri sendi, atau gangguan pencernaan yang tidak biasa.

    Salah satu cara untuk mencegahnya adalah melakukan pemeriksaan medis rutin untuk mendeteksi lebih dini.

    Tips Menjaga Kesehatan Liver untuk yang Berisiko Tinggi

    Hindari konsumsi alkohol, terutama bagi pasien atau mereka yang diduga mengalami PBC. Sebab, kebiasaan ini bisa mempercepat kerusakan hati.Batasi asupan garam untuk mencegah penumpukan cairan di perut atau asites.Pilih pola makan seimbang, seperti biji-bijian utuh, buah, sayur, kacang-kacangan, dan lemak sehat contohnya minyak zaitun. Batasi konsumsi lemak jenuh.Perhatikan kebutuhan kalsium dan vitamin D, karena orang dengan PBC rentan mengalami osteoporosis.Rutin berolahraga untuk menjaga kesehatan tulang dan kebugaran tubuh secara keseluruhan.Berhenti merokok, karena bisa memperparah kerusakan liver.Lakukanlah tes darah secara berkala, untuk memantau fungsi hati dan perkembangan penyakit yang ada di tubuh.

    Halaman 2 dari 2

    (sao/kna)

  • Terungkap Lewat Studi, Kebiasaan Makan Ini Ternyata Bisa Bikin Depresi

    Terungkap Lewat Studi, Kebiasaan Makan Ini Ternyata Bisa Bikin Depresi

    Jakarta

    Makanan junkfood, seperti pizza, ayam goreng krispi, dan es krim memang lezat. Namun, beberapa penelitian menunjukkan makanan-makanan ini bisa membahayakan kesehatan fisik, bahkan mental.

    Faktanya, penelitian terbaru memperingatkan bahwa makanan ultra-olahan atau ultra-processed food bisa memicu ‘pandemi’ penyakit kronis. Hal tersebut tidak mengheranlan, sebab makanan ini biasanya tinggi kalori, lemak, gula, dan garam tambahan, sehingga bisa meningkatkan risiko obesitas serta kondisi terkait, seperti penyakit jantung, strike, dan diabetes tipe 2.

    Para ahli di dunia juga memperingatkan bahwa pola makan kaya makanan ultra olahan bisa menyebabkan penyakit ginjal, penyakit radang usus, dan kanker tertentu.

    Dikutip dari laman New York Post, ada satu dampak utama yang tidak terlalu menarik perhatian dibandingkan lainnya yaitu depresi. Penelitian terbaru dari Pakistan mengaitkan konsumsi banyak makanan ultra-olahan dengan risiko 20 persen hingga 50 persen lebih terkena depresi. Hal itu ditandai dengan hilangnya keinginan untuk beraktivitas dan perasaan sedih dan putus asa yang terus menerus.

    “Hubungan ini tetap signifikan bahkan setelah disesuaikan dengan potensi faktor pengganggu,” tulis para penulis studi minggu ini di European Medical Journal Gasroenterology.

    Para peneliti meninjau sembilan studi dengan lebih dari 79.700 peserta untuk menarik kesimpulan ini. Terdapat beberapa teori yang mendukung hubungan ini.

    Salah satunya adalah makanan cepat saji dapat langsung menyebabkan lonjakan gula darah, yang dikaitkan dengan suasana hati yang negatif, stres, dan kecemasan. Makanan ini juga kekurangan nutrisi penting, seperti vitamin B, vitamin D, magnesium, dan asam lemak omega-3, yang penting untuk kesehatan otak. Hubungan antara otak dan usus adalah kuncinya.

    “Penelitian menunjukkan bahwa mikrobiota usus individu yang depresi berbeda secara signifikan dibandingkan individu yang sehat,” catat para peneliti dari Pakistan.

    “Dari data yang ada, penulis dapat menyimpulkan bahwa bakteri usus dapat bereaksi dengan sistem saraf dan mengakibatkan depresi.”

    Para penulis studi menekankan, bakteri usus menghasilkan zat kimia yang berkaitan dengan suasana hati, yaitu serotonin, dopamin, dan Gamma-Aminobutyric Acid (GABA). Mengganggu keseimbangan bakteri yang sensitif ini bisa mengubah kadar neurotransmitter.

    Dikutip dari laman Cleveland Clinic, neurotransmitter membawa pesan dari satu sel saraf melintasi ruang ke sel saraf otot, atau kelenjar berikutnya. Pesan-pesan ini membantu dalam menggerakkan anggota tubuh, merasakan sensasi, hingga merespons semua informasi yang diterima tubuh dari bagian dalam dan lingkungan sekitar.

    Halaman 2 dari 2

    (elk/suc)

  • Urolog Beberkan 4 Minuman yang Tak Baik untuk Ginjal, Kerap Dikonsumsi Warga +62

    Urolog Beberkan 4 Minuman yang Tak Baik untuk Ginjal, Kerap Dikonsumsi Warga +62

    Jakarta

    Banyak orang menikmati soda bersoda, hingga minuman berenergi tanpa menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari ini dapat perlahan memengaruhi kesehatan ginjal. Ginjal bekerja tanpa henti untuk menyaring racun, mengatur tekanan darah, menyeimbangkan mineral, dan menjaga hidrasi tubuh.

    Saat minuman tertentu memberi beban tambahan yang tidak diperlukan, dampaknya sering kali tidak terasa di awal. Namun, ‘stres’ yang menumpuk dapat memengaruhi fungsi ginjal jauh sebelum gejala muncul. Banyak orang yang memilih minuman manis untuk kepraktisan atau dorongan energi sering kali tidak menyadari bahwa kandungannya dapat menambah beban kerja ginjal.

    dr Tarek Pacha, urolog asal Michigan, membagikan empat jenis minuman yang menurutnya berpotensi merusak kesehatan ginjal.

    1. Soda

    Soda sangat sering diminum saat makan karena dianggap membantu pencernaan dan membuat makanan lebih mudah ditelan. Namun, soda berada di posisi teratas dalam daftar minuman ‘pengganggu’ kesehatan ginjal menurut dr Pacha.

    “Mereka mengandung banyak asam fosfat yang dapat memicu batu ginjal dan, dalam jangka panjang, merusak fungsi ginjal. Kandungan gulanya yang tinggi juga menyebabkan obesitas, hipertensi, dan diabetes, tiga faktor risiko utama kerusakan ginjal,” jelasnya, dikutip dari Hindu Times.

    Soda memang telah lama dikaitkan dengan kenaikan berat badan, lonjakan gula darah, dan tekanan darah tinggi, semuanya menjadi pemicu kerusakan ginjal.

    2. Kopi berlebihan

    Saat merasa lelah, banyak orang cenderung mencari kopi atau minuman energi untuk meningkatkan fokus dan tetap terjaga. Namun, kadar kafein yang tinggi pada minuman ini justru dapat membahayakan ginjal. dr Pacha menekankan bahwa dehidrasi adalah salah satu efek utama dari konsumsi kafein berlebih.

    Dehidrasi membuat ginjal bekerja lebih keras, dan dalam jangka panjang menambah beban yang dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.

    Sebagai gantinya, dr Pacha menyarankan memilih kopi berkualitas baik dan bebas jamur, serta membatasinya 2-3 cangkir per hari.

    3. Sports drinks

    Setelah aktivitas fisik berat, sports drink sering dianggap sebagai solusi cepat untuk mengganti elektrolit. Namun, dr Pacha memperingatkan bahwa banyak minuman olahraga mengandung bahan yang tidak sehat. Salah satu kekhawatiran utamanya adalah pewarna makanan. Selain itu, minuman ini juga tinggi gula, terutama pemanis buatan, yang dapat memicu lonjakan gula darah dan memberikan tekanan tambahan pada ginjal.

    4. Smoothie

    Smoothie mungkin terasa mengejutkan sebagai bagian dari daftar minuman yang bisa mengganggu kesehatan ginjal. Meski sering dianggap sehat, tidak semua smoothie ramah bagi ginjal.

    Banyak smoothie mengandung sayuran berdaun seperti bayam dan kale. Meskipun bermanfaat, porsinya perlu diperhatikan karena dalam jumlah besar dapat mengandung banyak oksalat, zat yang dapat meningkatkan risiko batu ginjal.

    dr Pacha menyarankan untuk tetap mengutamakan hidrasi dengan cairan yang ‘bersih’ dan sederhana.

    Ditinjau oleh: Mhd. Aldrian, S.Gz, lulusan ilmu gizi Universitas Andalas, saat ini menjadi penulis lepas di detikcom.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/suc)

  • Fakta-fakta Pria Tewas gegara Sembelit Parah, Perutnya Dipenuhi 9 Kg Tinja

    Fakta-fakta Pria Tewas gegara Sembelit Parah, Perutnya Dipenuhi 9 Kg Tinja

    Jakarta

    James Stewart, pria berusia 41 tahun yang tinggal di rumah perawatan Clear Skies Ahead di Bazetta Township, Ohio, Amerika Serikat, meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan. Perutnya dipenuhi tinja yang telah mengeras dan menumpuk.

    James diketahui memiliki disabilitas intelektual, riwayat sembelit kronis, serta mengonsumsi obat-obatan dengan efek samping gastrointestinal yang berat. Pihak keluarga menuding staf rumah perawatan lalai dalam menjalankan tugas, karena diduga mengabaikan tanda-tanda yang dialami James, mulai dari perut yang terus membesar, nyeri berulang, hingga munculnya memar.

    Menurut hasil penyelidikan, James sudah sebulan penuh tidak bisa buang air besar. Pada 15 November 2024, ia ditemukan pingsan di kamar tidurnya.

    Saat dilarikan ke rumah sakit, kondisi James sudah kritis. Tim medis mendapati perubahan warna kulit pada perutnya, pembengkakan signifikan, serta perut yang teraba sangat keras.

    Hasil autopsi menyebutkan usus besar James tersumbat tinja yang mengeras seberat lebih dari 9 kg. Kondisi ini memicu terjadinya tension pneumoperitoneum, yakni udara yang menumpuk di rongga perut akibat robekan kecil pada dinding ususnya.

    “Tekanan di usus mendorong udara keluar ke rongga tubuhnya, dan itulah yang membunuhnya. James tidak seharusnya mati,” kata pengacara keluarga James, Matt Mooney, dikutip dari The Sun.

    “Jika ia (James) diperlakukan dengan baik dan sesuai dengan perawatan, hal ini tidak akan terjadi,” sambungnya.

    Kata Dokter soal Sembelit

    Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menjelaskan sembelit bisa disebabkan berbagai faktor, mulai dari pola makan, kurang asupan serat, kurang aktivitas. Bisa juga karena terlalu sering menahan buang air besar (BAB), mengonsumsi obat-obatan tertentu, kehamilan, stres, dan penyakit lain yang bisa memicu sembelit.

    “Bila seseorang mengalami sembelit, sebaiknya segera datang ke dokter atau RS terdekat untuk mencari tahu apa penyebabnya dan dilakukan tatalaksana sesuai penyebabnya,” katanya pada detikcom, Senin (24/11/2025).

    Bisakah Sembelit Memicu Kematian?

    dr Aru mengungkapkan sembelit bisa saja menyebabkan kematian. Terlebih jika terjadi komplikasi, salah satunya penyumbatan usus yang parah.

    “Terutama bila terjadi komplikasi, seperti penyumbatan usus yang parah, perforasi (usus robek), atau infeksi yang mengancam jiwa. Dan komplikasi ini sangat berisiko, terutama pada lansia,” jelasnya.

    Saat sembelit, seseorang akan kesulitan untuk BAB. Jika terjadi dalam waktu yang lama, akan terjadi penumpukan feses di usus karena tidak bisa dikeluarkan.

    “Feses yang menumpuk tidak bisa keluar, lama-kelamaan akan menimbulkan obstruksi atau sumbatan yang bisa menyebabkan kematian,” tambah dr Aru.

    Banyaknya feses yang menumpuk di perut dapat memicu terjadinya tension pneumoperitoneum. Itu merupakan kondisi saat udara terperangkap di rongga perut hingga menimbulkan tekanan tinggi.

    “Sembelit yang kronis juga bisa menyebabkan perforasi, yang akibatnya menjadi tension pneumoperitoneum. Dan kondisi seperti ini sangat mengancam jiwa,” beber dr Aru.

    Sebenarnya, kondisi ini masih bisa diselamatkan. Tentunya jika segera ditangani, salah satunya melalui tindakan operasi.

    Tanda-tanda Sembelit Kronis

    dr Aru juga mengingatkan tanda-tanda sembelit yang sudah kronis atau parah dan perlu segera ditangani. Mulai dari feses yang keras.

    “Tanda-tandanya sembelit kronis adalah BAB yang kurang dari 3 hari sekali dalam seminggu, dan sudah dialami lebih dari 3 bulan. Di mana fesesnya keras dan kadang tidak tuntas, sebaiknya segera diwaspadai,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 3

    Simak Video “Video: Konsumsi Yogurt Dapat Turunkan Risiko Kanker Usus”
    [Gambas:Video 20detik]
    (sao/suc)

  • Kabar Baik! KLB Polio di Indonesia Dinyatakan Berakhir

    Kabar Baik! KLB Polio di Indonesia Dinyatakan Berakhir

    Ada kabar baik dari dunia kesehatan Indonesia di akhir tahun 2025 nih detikers.

    Jadi, Kejadian Luar Biasa (KLB) polio tipe 2 sudah berakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan KLB Polio ditutup secara resmi pada 19 November 2025. Dari pantauan sejak Juni 2024 sampai sekarang, sudah nggak ditemukan lagi wabah virus polio pada anak-anak maupun lingkungan. Kabar baik ini disampaikan Kementerian Kesehatan RI dan WHO.

    Kenapa Polio bisa jadi KLB itu berawal dari Oktober 2022. Kasus pertamanya dilaporkan dari Aceh, terus bertambah di beberapa wilayah lain, kayak di Banten, Jawa Barat, hingga kasus terakhir terkonfirmasi di Papua Selatan pada Juni 2024. Langkah Kemenkes menghentikan wabah tersebut saat itu dengan imunisasi.

  • Menyoal Subclade K, Virus Flu Varian Baru yang Diklaim Lebih ‘Ganas’

    Menyoal Subclade K, Virus Flu Varian Baru yang Diklaim Lebih ‘Ganas’

    Jakarta

    Belakangan, sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Jepang dihebohkan dengan kemunculan varian influenza A H3N2. Strain ini diketahui terus mengalami mutasi dan dikaitkan dengan penyebaran yang lebih cepat serta gejala yang lebih berat.

    Mutasi terbarunya, yang dikenal sebagai subclade K, dilaporkan menyebar dengan cepat dan mulai mendominasi kasus flu di beberapa negara di belahan Bumi Utara.

    Dikutip dari TODAY, infeksi ‘subclade K’ mengalami lonjakan di Jepang, Britania Raya. Bahkan, pejabat kesehatan setempat telah memperingatkan bahwa Britania Raya sedang menghadapi salah satu musim dingin terburuknya seiring dengan penyebaran galur H3N2 yang bermutasi.

    “Mengetahui adanya varian baru yang bermutasi di luar sana dan H3N2 umumnya menyebabkan penyakit yang lebih parah sungguh mengkhawatirkan,” kata Robert Hopkins Jr, direktur organisasi National Foundation for Infectious Diseases di AS.

    Infeksi Lebih Parah

    Dikutip dari Prevention, sejauh ini, subclade K telah terdeteksi di Jepang, Inggris, dan Kanada, yang semuanya mengalami infeksi yang lebih parah dari biasanya.

    Meskipun subclade K dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah, gejalanya masih konsisten dengan jenis flu lainnya, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

    Gejalanya meliputi:

    Demam atau merasa demamBatukSakit tenggorokanHidung berair atau tersumbatNyeri otot atau badanSakit kepalaKelelahanMuntah dan diare (lebih umum terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa)

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Ratusan Singa Laut Mati Dilaporkan Mati Terinfeksi Flu Burung”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/suc)

  • Perawat Ceritakan Pesan yang Paling Sering Diucapkan Pasien Menjelang Ajal

    Perawat Ceritakan Pesan yang Paling Sering Diucapkan Pasien Menjelang Ajal

    Jakarta

    Seorang perawat layanan hospice membagikan pengalamannya mendampingi sekitar 300 pasien di masa-masa terakhir mereka. Hospice sendiri merupakan perawatan bagi pasien dengan penyakit serius di akhir kehidupan, yang berfokus pada kenyamanan, kualitas hidup, dan dukungan emosional, bukan pada penyembuhan.

    Dikutip dari Everyday Health Tips, perawat bernama Laura M itu menjelaskan salah satu tugas terpentingnya adalah mendengarkan pasien. Dari situlah ia kerap mendengar pesan-pesan terakhir yang disampaikan sebelum mereka meninggal dunia.

    Sebagian besar pesan tersebut mengandung penyesalan.

    Salah satu yang paling sering muncul adalah, “Seharusnya aku lebih banyak mencinta, dan dengan cara yang berbeda.” Laura menceritakan kisah yang paling membekas dalam ingatannya tentang George, seorang veteran Perang Dunia II berusia 92 tahun yang telah bermusuhan dengan saudaranya selama bertahun-tahun.

    “Aku memenangkan pertengkarannya, tapi kehilangan seumur hidup,” ujar George sebelum meninggal.

    Tak seorang pun meninggal dengan berharap mereka lebih keras atau tegas. Justru mereka menyesali momen saat mereka memilih untuk bersikap tidak baik.

    Kemudian ada pesan lainnya: “Aku menyimpan kebahagiaanku untuk nanti, tapi itu tidak pernah datang.” Laura menceritakan bahwa salah satu pasien yang mengungkapkan hal tersebut adalah seorang pensiunan insinyur kaya.

    Sepanjang hidupnya, pria itu terlalu berfokus mengejar kekayaan hingga melupakan kebahagiaannya sendiri. Bahkan, ia tak sempat menikmati tabungan yang telah dikumpulkannya seumur hidup.

    “Aku begitu takut menjadi miskin sampai aku menjadi kaya, tapi dalam ketakutan,” ujar insinyur tersebut.

    Pesan ketiga adalah “Memaafkan membebaskan, bahkan lebih daripada oksigen.” Sebagian orang mungkin menyimpan dendam yang begitu dalam kepada seseorang. Namun menjelang kematian, banyak pasien justru menjadi lebih mudah memaafkan.

    Laura menceritakan salah satu pasien yang akhirnya memilih memaafkan anaknya, meski mereka telah lama tidak saling berhubungan. Ia ingin merasakan kedamaian sebelum mengembuskan napas terakhir.

    “Aku tak bisa mati dalam keadaan marah,” ucap pasien itu, lalu meninggal 30 menit kemudian.

    Laura beranggapan dendam tidak dapat menghukum orang lain, tapi justru meracuni diri sendiri. Kedamaian menurutnya adalah sebuah pelepasan, bukan hadiah.

    Pesan berikutnya adalah “Kehadiran adalah hadiah terbesar yang bisa kau berikan.” Laura mengatakan bahwa dalam beberapa kasus, hal yang paling menyedihkan bukanlah suara monitor jantung yang berhenti, melainkan ketika tak ada keluarga yang hadir menemani.

    Ia juga teringat seorang ayah yang menyesal karena jarang meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan keluarganya.

    “Saya menyesal kurang hadir bahkan saat berada di rumah. Aku selalu berada di tempat lain, bahkan ketika aku pulang,” katanya.

    Halaman 2 dari 3

    (avk/suc)

  • Rela Bayar Mahal, Crazy Rich Ramai-Ramai Jalani ‘Pembersihan Darah’ Demi Awet Muda

    Rela Bayar Mahal, Crazy Rich Ramai-Ramai Jalani ‘Pembersihan Darah’ Demi Awet Muda

    Jakarta

    Para miliuner pemburu umur panjang kini ramai mencoba teknik ‘pembersihan darah’ yang diklaim dapat membuang ‘racun’ dari tubuh, meski biayanya sangat mahal.

    Salah satunya adalah Johnjay Van Es, pembawa acara radio asal Phoenix, AS, yang mulai terobsesi dengan kesehatan setelah ayahnya meninggal akibat serangan jantung di usia 66 tahun.

    Van Es berhasil menurunkan berat badan hingga 76 kg dengan persentase lemak tubuh 12 persen, lalu terjun ke berbagai praktik biohacking ekstrem-dari terapi sel punca di Meksiko hingga air hidrogen impor Australia, yang semuanya berbiaya tinggi.

    Ia memperkirakan menghabiskan lebih dari 100.000 dolar AS atau sekitar 1,6 miliar rupiah per tahun untuk rangkaian terapi tersebut, mulai dari sel pembunuh alami hingga paket terapi cahaya tanpa batas.

    “Ya Tuhan, itu luar biasa. Saya belum pernah menghitungnya,” kata Van Es, dikutip dari NYPost.

    Tren Baru Plasmaferesis Seharga 120 Juta Rupiah

    Obsesi terbaru Van Es adalah plasmaferesis, prosedur ‘pembersihan darah’ seharga 7.500 dolar AS atau sekitar 125 juta rupiah. Dalam proses ini, plasma yang diduga membawa autoantibodi dan toksin dibuang, lalu diganti dengan cairan yang lebih sehat.

    Plasmaferesis umumnya digunakan untuk menangani penyakit autoimun, beberapa jenis kanker, gangguan darah, dan kolesterol tinggi. Namun, manfaatnya sebagai terapi anti-aging pada orang sehat belum terbukti secara ilmiah.

    Meski demikian, sejumlah publik figur juga pernah menjalani prosedur ini, termasuk Orlando Bloom dan biohacker Bryan Johnson.

    “Jika kita ingin menggunakan istilah ‘biohacking’ atau ‘pemurnian darah untuk tujuan gaya hidup’ atau untuk ‘detoksifikasi’, kita harus menyadari bahwa hanya ada sedikit uji coba berbasis bukti,” terang Dr Stefan Bornstein dari University Hospital Dresden.

    Bagaimana Cara Kerjanya?

    Plasmaferesis menggunakan dua jalur infus. Satu jalur menarik darah ke mesin untuk memisahkan plasma, sementara jalur kedua mengembalikan komponen darah bersama cairan pengganti seperti albumin.

    “Tampaknya seperti perekam pita kuno, tetapi dengan darah yang berputar,” tutur Van Es.

    Setelah selesai, pasien akan melihat kantong berisi plasma kuning kenyal milik mereka sendiri. Bryan Johnson bahkan membanggakan plasma ’emas cairnya’ sebagai yang ‘terbersih yang pernah dilihatnya’, dan mengaku ‘tak tega membuangnya’.

    Seperti Apa Rasanya?

    Pasien biasanya merasakan tusukan jarum dan sedikit lelah selama beberapa jam. dr Keith Smigiel, yang menangani TPE Van Es, menyamakannya dengan ‘penerbangan lintas negara’ yang efeknya mereda dalam dua hari.

    Biohacker Gary Brecka menggambarkannya sebagai rasa jernih dan tenang yang mendalam, hampir seperti zen.

    “Warna-warna terasa lebih tajam, fokus saya meningkat, dan energi serta kualitas tidur saya meningkat secara nyata,” sambungnya.

    Brecka juga mencoba imunoferesis hingga hemo-detox. Ia mengatakan anggap saja sebagai detoksifikasi dan pengaturan ulang internal.

    Siapa yang Berpotensi Mendapat Manfaatnya?

    Bornstein mengatakan plasmaferesis dapat mengurangi protein terkait usia, menurunkan kolesterol, dan mengurangi logam berat serta mikroplastik.

    “Sebagian besar studi ini menunjukkan efek positif dan hubungan positif. Tetapi, (studi-studi ini) belum sepenuhnya menunjukkan atau belum menjadi bukti korelasi dalam studi hasil yang lebih besar saat ini,” jelasnya.

    Smigiel juga menyebut prosedur ini terbukti menurunkan kolesterol dan membersihkan jamur, serta toksin lingkungan. Banyak pasiennya adalah profesional mapan dan keluarga muda yang kelelahan kronis.

    “Ketika Anda berbicara tentang pengobatan regeneratif atau pengobatan umur panjang, saya melihatnya dari perspektif kualitas hidup. Kami hanya memberi tubuh kesempatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan membuang beban racun dari darah,” beber Smigiel.

    Efektif atau Tidak?

    Smigiel merujuk studi besar yang menunjukkan pertukaran plasma dapat memperlambat penurunan fungsi kognitif pada Alzheimer sedang. Seorang pelatih kesehatan, Natalia Naila, mendorong ibunya Venera (67) untuk menjalani TPE karena faktor risiko Alzheimer dan berbagai masalah inflamasi dan hasilnya langsung terasa.

    “Ia (Venera) merasa luar biasa, sangat ringan, jernih, dan terasa lebih rileks. Ia tidur jauh lebih nyenyak dan lebih tenang daripada sebelumnya,” ujarnya.

    Efek samping yang muncul seperti memar, sering buang air kecil, dan gatal ringan tidak membuat mereka berhenti.

    Hal yang Dirasakan Van Es?

    Meski belum merasakan perubahan signifikan, Van Es tetap yakin dengan seluruh rutinitas biohacking-nya.

    “Saya tidak terlalu merasakan banyak perbedaan. Secara umum, saya merasa cukup baik,” tambahnya.

    Dari tes terakhir menunjukkan kalsium arteri yang tinggi dalam tubuhnya stabil. Tetapi, ia sendiri mengaku tidak tahu metode mana yang paling berperan.

    Rutinitas hariannya cukup padat, seperti olahraga, meditasi di bak hangat, cold plunge, sauna, minum Snake Oil, air hidrogen, suplemen, hingga tidur dengan tabung oksigen yang mahal. Setahun sekali, ia juga menjalani infus sel punca dan sel pembunuh alami.

    “Dokter saya bilang kalau kamu mau tahu apa yang berhasil, kamu harus berhenti melakukan hal-hal lain. Saya bilang lupakan saja, saya akan terus melanjutkannya,” pungkasnya.

    Halaman 2 dari 4

    (sao/suc)

  • Heboh Temuan Kerangka Bocah Diduga Alvaro, Pakar Jelaskan Proses Pembusukan Tubuh

    Heboh Temuan Kerangka Bocah Diduga Alvaro, Pakar Jelaskan Proses Pembusukan Tubuh

    Jakarta

    Polisi menemukan kerangka yang diduga merupakan Alvaro Kiano Nugroho, bocah yang dilaporkan hilang di Jakarta Selatan sejak Maret atau sekitar delapan bulan lalu. Alvaro diduga menjadi korban pembunuhan yang melibatkan ayah tirinya.

    Di sisi lain, setelah seseorang meninggal, tubuh akan memasuki proses dekomposisi. Tahapan ini mencakup serangkaian perubahan ketika jaringan dan sel-sel tubuh mulai terurai, hingga akhirnya yang tersisa adalah struktur kerangka.

    Lalu, butuh berapa lama biasanya tubuh jenazah berubah menjadi kerangka?

    Spesialis forensik dan medikolegal Dr dr Ade Firmansyah Sugiharto, SpFM, Subsp FK(K) mengatakan proses perubahan tubuh mayat menjadi kerangka dinamakan skeletonisasi atau saat jaringan lunak hilang sepenuhnya.

    “Secara teoritis skeletonisasi dapat terjadi dalam kurun waktu 2-3 bulan,” kata dr Ade saat dihubungi, Senin (24/11/2025).

    Namun, pada beberapa kondisi, lanjut dr Ade, proses skeletonisasi bisa terjadi lebih cepat.

    “Saya juga pernah mendapatkan kasus di Indonesia telah terjadi skeletonisasi dalam waktu satu bulan,” katanya.

    “Hal yang mempengaruhi proses pembusukan lanjut, hingga skeletonisasi ini adalah suhu, kelembaban, serta pengaruh hewan-hewan,” tutupnya.

    (dpy/suc)