Jakarta –
Pemerintahan Donald Trump secara resmi merombak total kebijakan jadwal vaksinasi anak di Amerika Serikat. Kebijakan ini dipelopori oleh Menteri Kesehatan Robert F Kennedy Jr. (RFK Jr.) sebagai bagian dari gerakan Make America Healthy Again (MAHA).
Dalam pernyataan resminya, Presiden Trump menyebut langkah ini sebagai bentuk reformasi yang logis.
“Banyak warga Amerika, terutama para ibu pendukung gerakan MAHA, telah lama menantikan reformasi yang mengedepankan akal sehat ini,” ujar Trump dikutip dari BBC.
Robert Kennedy yang selama ini dikenal kritis terhadap kebijakan vaksin, menyatakan bahwa perombakan ini bertujuan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap kesehatan publik.
“Kami menyelaraskan jadwal vaksinasi anak di AS dengan konsensus internasional, sekaligus memperkuat transparansi,” ucap RFK.
Pembagian Kategori Vaksin Baru
Berdasarkan aturan terbaru CDC, jadwal vaksinasi kini dibagi menjadi tiga kategori besar:
Vaksin Rekomendasi Utama (Wajib/Rutin): Melindungi dari 11 penyakit, termasuk Campak (Measles), Gondongan (Mumps), Rubella, Polio, Pertusis, Tetanus, Difteri, Hib, Pneumokokus, HPV, dan Cacar Air (Varisela).
Vaksin Berbasis Faktor Risiko: Diberikan tergantung pada kondisi kesehatan anak, mencakup vaksin RSV, Hepatitis A, Hepatitis B, Dengue, dan Meningitis.
Vaksin Keputusan Orang Tua dan Dokter: Untuk vaksin COVID-19, Influenza, dan Rotavirus, pemerintah kini menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada orang tua dan tenaga medis.
Departemen Kesehatan AS menyatakan perubahan ini didasarkan pada perbandingan dengan 20 negara maju lainnya. Pemerintah menilai AS selama ini merupakan “anomali global” karena memiliki jumlah dosis dan jenis penyakit yang diwajibkan terlalu banyak.
Baac juga
Dikritik Ahli
AS kini menjadikan Denmark sebagai model, yang hanya merekomendasikan perlindungan terhadap 10 jenis penyakit.
Namun, langkah ini dikritik keras oleh para ahli medis. Dr. Andrew D Racine, Presiden American Academy of Pediatrics, menyebut perbandingan tersebut tidak relevan. Ia memperingatkan bahwa keputusan ini justru akan menciptakan kekacauan dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
“Amerika Serikat bukanlah Denmark. Populasi, infrastruktur kesehatan, dan risiko penyakit kita sangat berbeda jauh,” tegas Dr Racine.
Halaman 2 dari 3
(elk/elk)









