Category: Detik.com Kesehatan

  • Layanan Air Bersih Jakarta Naik, Pemprov Bidik Cakupan Penuh di 2029

    Layanan Air Bersih Jakarta Naik, Pemprov Bidik Cakupan Penuh di 2029

    Foto Health

    Rengga Sancaya – detikHealth

    Kamis, 27 Nov 2025 07:30 WIB

    Jakarta – Layanan air bersih di Jakarta terus menunjukkan kemajuan. Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta, cakupan layanan per November 2025 telah mencapai peningkatan.

  • Ahli Gizi Jepang Beberkan Buah ‘Rahasia’ yang Bisa Bikin Panjang Umur, Apa Saja?

    Ahli Gizi Jepang Beberkan Buah ‘Rahasia’ yang Bisa Bikin Panjang Umur, Apa Saja?

    Jakarta

    Buah bukan hanya soal rasa manis dan segarnya. Bagi ahli gizi Jepang, Michiko Tomioka, MBA, RDN, buah merupakan bagian dari budaya, tradisi, sekaligus ‘obat alami’ yang ia konsumsi setiap hari sejak kecil.

    Tomioka tumbuh besar di Nara, Jepang, di lingkungan yang dekat dengan kebun buah serta tetangga yang gemar berbagi hasil panen. Dari sanalah ia menyadari satu hal, buah adalah ‘senjata’ ampuh untuk kesehatan jangka panjang.

    Kini sebagai pakar nutrisi dan umur panjang, Tomioka tetap menjadikan buah sebagai menu wajib harian. Dari sekian banyak buah favoritnya, lima inilah yang paling ia andalkan untuk menjaga daya tahan tubuh tetap prima.

    1. Apel

    Apel menjadi salah satu buah serba bisa yang kaya vitamin C, serat, kalium, hingga polifenol. Kandungan prebiotik dan probiotiknya juga membantu menunjang kesehatan usus, organ yang sangat berkaitan dengan imunitas dan fungsi otak.

    Dikutip dari CNBC, ada lebih dari 90 varietas apel di Amerika Serikat. Tetapi, kebanyakan orang hanya mengenal beberapa jenis yang populer, seperti Fuji atau Granny Smith.

    Menurut Tomioka, mencoba berbagai varietas akan memberikan ragam nutrisi sekaligus pengalaman rasa yang berbeda.

    2. Jeruk

    Mulai dari jeruk clementine, lemon, hingga yuzu, kelompok buah jeruk kaya vitamin C, vitamin A, folat, serat, dan kalium. Antioksidan flavonoid dan karotenoid di dalamnya turut memperkuat daya tahan tubuh dan melindungi sel.

    Tomioka menambahkan bahwa makan buah utuh lebih baik daripada jus. Sebab, jus minim serat dan cepat menaikkan gula darah.

    3. Beri

    Stroberi, blueberry, blackberry, raspberry, cranberry, hingga goji berry termasuk buah rendah kalori. Buah-buahan ini kaya antioksidan kuat, seperti antosianin.

    Blueberry terkenal bermanfaat untuk otak dan jantung. Sementara goji berry, mendukung kesehatan mata karena kandungan beta-karoten yang tinggi.

    4. Kesemek atau Persimmons

    Buah kesemek atau persimmons sering diabaikan, padahal kandungan nutrisinya sangat kaya. Mulai dari vitamin A dan C, serat, polifenol, hingga kalium.

    Penelitian menunjukkan buah ini berperan dalam menjaga kolesterol, tekanan darah, kesehatan mata, dan kulit.

    5. Buah Ara atau Figs

    Buah ara atau ichijiku mengandung serat, vitamin, mineral, dan fitoestrogen yang baik untuk kesehatan perempuan. Enzim ficin di dalamnya membantu pencernaan protein dan cocok untuk dijadikan camilan setelah makan.

    Buah ini juga punya manfaat lain, seperti untuk penyakit kolesterol dan peradangan.

    Tips Hidup Sehat ala Ahli Gizi Jepang

    Tomioka merekomendasikan hidup sehat dengan beberapa prinsip sederhana, tetapi sangat bermanfaat:

    Pilih buah musiman dan lokal, sebab lebih segar, kaya nutrisi, dan ramah lingkungan.Konsumsi buah yang utuh, karena serat di dalam kulit dan dagingnya membantu menstabilkan gula darah.Makan dengan mindful. Maksudnya, kunyah buah secara perlahan dan nikmati setiap rasanya. Tomioka bisa mengunyah satu irisan apel hingga 20 kali.Biasakan anak suka buah karena rasanya, bukan karena sehat. Hal ini akan lebih menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak.Jangan takut gula alami di dalam buah, sebab sangat berbeda dengan gula tambahan. Buah mengandung serat dan antioksidan yang melindungi tubuh.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/suc)

  • Fakta-fakta ‘Flu Babi’ H1pdm09, Tewaskan 5 Anak di Riau

    Fakta-fakta ‘Flu Babi’ H1pdm09, Tewaskan 5 Anak di Riau

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan RI melaporkan lima anak meninggal dunia akibat infeksi Influenza A/H1pdm09, yang sebelumnya dikenal sebagai flu babi, serta Haemophilus influenzae. Kasus tersebut terjadi di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

    Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan minimnya fasilitas kesehatan dasar di wilayah tersebut. Dusun Datai tidak memiliki MCK, tidak ada tempat pembuangan sampah, ventilasi rumah buruk, dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak.

    Selain masalah lingkungan, ditemukan pula banyak warga dengan gizi kurang dan cakupan imunisasi dasar yang rendah.

    Hasil laboratorium menunjukkan adanya kombinasi infeksi Influenza A/H1pdm09, pertusis, adenovirus, dan bocavirus. Temuan ini memperkuat analisis bahwa status gizi dan rendahnya kekebalan tubuh membuat warga rentan terhadap penyakit.

    Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sumarjaya, menyampaikan bahwa kondisi lingkungan di Dusun Datai menjadi penyebab penyakit mudah menyebar.

    “Kami menemukan rumah padat, ventilasi minim, nyamuk banyak, dan warga hidup dalam paparan asap kayu bakar setiap hari. Situasi seperti ini membuat penyakit pernapasan lebih mudah menular, terutama pada balita,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa krisis ISPA ini bukan sekadar persoalan medis, tetapi terkait erat dengan sanitasi, perilaku hidup, dan akses layanan kesehatan.

    “Jika kondisi sanitasi, gizi, dan kebiasaan sehari-hari tidak diperbaiki, penularan akan terus berulang,” kata Sumarjaya.

    Wanti-wanti Kemenkes RI

    Untuk merespons kondisi tersebut, Kemenkes bersama pemerintah daerah melakukan pengobatan massal, memperkuat intervensi gizi, dan memberikan perhatian khusus kepada balita dan ibu hamil melalui pemberian makanan tambahan (PMT), vitamin, dan pemantauan kesehatan. Edukasi terkait etika batuk, penggunaan masker, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga diperluas.

    Tim kesehatan juga melakukan pengambilan sampel tambahan untuk memastikan tidak ada patogen lain yang beredar, mengingat variasi gejala dan temuan multipatogen sebelumnya.

    Sebagai langkah jangka panjang, Kemenkes bersama pemerintah daerah mulai menyusun perbaikan lingkungan, termasuk pembuatan tempat pembuangan sampah, kerja bakti pembersihan area rawan nyamuk, hingga pemisahan area memasak dan area tidur di rumah warga. Media KIE untuk sekolah terpencil juga disiapkan untuk edukasi berkelanjutan.

    Apa Itu ‘Flu Babi’?

    Dikutip dari Cleveland Clinic, flu babi atau swine flu (H1N1) adalah infeksi yang disebabkan oleh salah satu jenis virus influenza. Disebut ‘flu babi’ atau swine flu karena virus ini mirip dengan virus flu yang menginfeksi babi. Pada babi, virus ini menyebabkan penyakit pernapasan yang menyerang paru-paru. Flu babi (H1N1) pada manusia juga merupakan infeksi saluran pernapasan.

    Pada April 2009, para peneliti menemukan strain baru virus H1N1. Virus ini pertama kali terdeteksi di Amerika Serikat. Dalam waktu singkat, virus tersebut menyebar dengan cepat ke seluruh AS dan ke berbagai negara di dunia karena merupakan tipe virus flu yang benar-benar baru.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setelah menghadapi tekanan dari para produsen industri daging dan sejumlah pemerintah yang khawatir, pada hari Kamis (30/4/2009) menyatakan bahwa mereka akan menyebut strain virus baru yang mematikan itu sebagai influenza A (H1N1), bukan swine flu.

    “Mulai hari ini, WHO akan menyebut virus influenza baru ini sebagai ‘influenza A (H1N1)’,” tulis WHO di situs resminya, dikutip berita Reuters 2009.

    Dikutip dari WHO, sebelum pandemi H1N1 pada tahun 2009, virus influenza A (H1N1) ini belum pernah diidentifikasi sebagai penyebab infeksi pada manusia. Analisis genetik menunjukkan virus tersebut berasal dari virus influenza hewan dan tidak berkaitan dengan virus influenza musiman H1N1 yang sudah beredar di masyarakat sejak tahun 1977.

    Setelah laporan awal mengenai wabah influenza di Amerika Utara pada April 2009, virus influenza baru ini menyebar dengan sangat cepat ke seluruh dunia. Ketika WHO menetapkan status pandemi pada Juni 2009, sebanyak 74 negara dan wilayah telah melaporkan infeksi yang terkonfirmasi melalui laboratorium.

    Berbeda dari pola flu musiman pada umumnya, virus baru ini menyebabkan lonjakan kasus yang tinggi selama musim panas di belahan Bumi utara, dan bahkan lebih tinggi lagi saat memasuki cuaca yang lebih dingin. Virus tersebut juga menimbulkan pola kesakitan dan kematian yang tidak biasa untuk infeksi influenza.

    WHO kemudian menyatakan pandemi telah berakhir pada Agustus 2010. Namun, H1N1 tetap dapat menginfeksi dan menulari orang. Saat ini H1N1 menjadi salah satu virus flu musiman yang masih dapat menyebabkan penyakit, rawat inap, bahkan kematian.

    Senada, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan H1N1pdm09 adalah virus penyebab pandemi 2009 dan menjadi pandemi pertama yang dinyatakan WHO setelah pemberlakuan International Health Regulations (IHR) 2005.

    “Awalnya disebut swine flu atau flu babi, tetapi kemudian diketahui penularannya tidak terbatas, sehingga istilah flu babi sebaiknya tidak digunakan lagi,” beber Prof Tjandra kepada detikcom Selasa (26/11/2025).

    Ia menambahkan, sebagian besar virus H1N1 yang beredar saat ini merupakan H1N1pdm09 dan sudah tergolong influenza musiman. Selain itu, virus H3N2 juga tengah memicu peningkatan kasus flu di berbagai negara.

    Mengapa ‘ Flu Babi’ Bisa Picu Kematian?

    Dihubungi terpisah, Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan virus tersebut kini telah berubah menjadi bagian dari influenza musiman dan terus bersirkulasi secara global. Aktivitas influenza, kata Dicky, berubah-ubah setiap musim sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara rutin memantau pergerakannya dan menentukan komposisi vaksin flu tahunan. H1N1 sendiri sering masuk dalam komposisi vaksin.

    Adapun infeksi ini dapat berujung fatal karena dipengaruhi oleh faktor host, yaitu kondisi tubuh anak. Menurut Dicky, anak kecil memiliki sistem imun yang masih berkembang. Bila disertai malnutrisi atau imunisasi yang tidak lengkap, kerentanan mereka terhadap infeksi berat akan semakin meningkat.

    Faktor lingkungan juga berperan besar, seperti paparan asap kayu bakar, ventilasi rumah yang buruk, kepadatan hunian, hingga sanitasi yang tidak memadai.

    “Ini kalau di epidemiologi itu ya faktor host, faktor agentnya, faktor lingkungan. Dan terutama ada koinfeksi bakteri atau virus yang meningkatkan risiko pneumonia berat dan kematian,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (26/11/2025).

    “Nah ini yang laporan lapangan kan menunjukkan kombinasi faktor risiko ini. Selain itu pada anak kecil cadangan fisiologisnya rendah sehingga cepat sekali dekompensasi,” lanjutnya.

    Sementara itu, Dicky juga menjelaskan gejala yang perlu diwaspadai pada kasus influenza meliputi demam mendadak, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan rasa lemas.

    Pada anak-anak, gejala tambahan seperti mual dan muntah dapat muncul. Pada bayi dan balita, tanda-tandanya kadang tidak khas, tetapi dapat terlihat dari menurunnya nafsu makan, menjadi lebih rewel, atau munculnya gejala sesak napas.

    “Dan komplikasi yang menyebabkan kematian pada anak biasanya adalah Pneumonia Virus Primer atau Super Infeksi Bakteri, misalnya Streptococcus Pneumonia ataupun Haemophilus Influenza yang Non-typeable (NTHi),” tuturnya.

    Halaman 2 dari 4

    (suc/up)

  • Video: Kemenkes Ubah Rujukan RS Berlaku di 2026, Begini Skemanya

    Video: Kemenkes Ubah Rujukan RS Berlaku di 2026, Begini Skemanya

    Video: Kemenkes Ubah Rujukan RS Berlaku di 2026, Begini Skemanya

  • Cowok Sering ‘Skip’ Skincare ini? Dokter Kulit Wanti-wanti Risiko Kanker

    Cowok Sering ‘Skip’ Skincare ini? Dokter Kulit Wanti-wanti Risiko Kanker

    Jakarta

    Di tengah cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi, perawatan kulit bukan berarti tak lagi penting. Dokter spesialis kulit dr Agassi Suseno, SpDV, menegaskan penggunaan skincare tetap wajib meski cuaca tak seterik biasanya.

    Tidak perlu skincare berlapis, basic skincare disebutnya cukup untuk merawat kulit. Bukan hanya perkara estetik, tetapi ini menyangkut kesehatan kulit. dr Agassi menyesalkan rutinitas ini kerap diabaikan, utamanya bagi kelompok pria.

    Tidak sedikit pria yang menyepelekan penggunaan skincare. Padahal, dalam jangka panjang paparan sinar ultraviolet (UV) bisa memicu risiko kanker.

    “Basic skincare yang paling wajib itu ada dua, yaitu facial cleanser dan sunscreen,” kata dr Agassi di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

    “Kalau misalnya cuaca lagi nggak menentu, misalnya mendung atau apa, bukan berarti tidak perlu memakai sunscreen. Jadi tetap gunakan tabir surya,” lanjutnya.

    Sunscreen berfungsi melindungi kulit dari paparan sinar matahari yang dapat menyebabkan kulit terbakar. “Sunscreen itu harus dipakai 30 menit sebelum keluar rumah karena membutuhkan waktu untuk menyerap di kulit,” lanjutnya.
    Tidak memakai sunscreen setiap hari disebutnya bisa membawa risiko serius. “Jika kulit sampai terbakar, risiko kanker kulit bisa meningkat 2 sampai 3 kali,” ujarnya.

    Sementara pembersih wajah penting untuk mengangkat sel kulit mati dan kotoran yang menumpuk sepanjang hari.

    Untuk kulit sensitif atau kering, dr Agassi menyarankan tambahan moisturizer agar skin barrier tetap terjaga.

    (elk/up)

  • BPJS Kesehatan Minta Masyarakat Mengadu Jika Terima Pelayanan Tak Sesuai

    BPJS Kesehatan Minta Masyarakat Mengadu Jika Terima Pelayanan Tak Sesuai

    Video: BPJS Kesehatan Minta Masyarakat Mengadu Jika Terima Pelayanan Tak Sesuai

    2,224 Views |

    Rabu, 26 Nov 2025 20:17 WIB

    Dwi Putri Aulia – 20DETIK

  • BMKG Minta 6 Wilayah Ini Siaga! Cuaca Ekstrem Terus Menguat

    BMKG Minta 6 Wilayah Ini Siaga! Cuaca Ekstrem Terus Menguat

    Jakarta

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta sejumlah wilayah di pulau Sumatera waspada menyusul perkembangan Bibit Siklon Tropis 95B di Selat Malaka yang telah berevolusi menjadi Siklon Tropis Senyar pada Rabu (26/11/2025) pukul 07.00 WIB. Berdasarkan pemantauan terbaru, sistem siklon tersebut bergerak menuju daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 kilometer per jam dan berpotensi menimbulkan hujan sangat lebat hingga ekstrem serta angin kencang.

    Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan suplai uap air dari perairan hangat Selat Malaka menyebabkan pertumbuhan awan konvektif yang intens di kawasan utara Sumatera. Saat ini, pusat Siklon Tropis Senyar berada pada posisi 5.0° LU dan 98.0° BT dengan tekanan minimum 998 hPa serta kecepatan angin maksimum mencapai 43 knot atau sekitar 80 kilometer per jam.

    “Dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis Senyar bergerak ke arah barat hingga barat daya dan masih berada di wilayah daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 4 knot. Dalam 48 jam ke depan, intensitasnya diperkirakan menurun menjadi depresi tropis,” beber Faisal dalam konferensi pers di Gedung Command Center MHEWS, Jakarta, Rabu (26/11/2025).

    BMKG menegaskan potensi cuaca ekstrem tetap harus diwaspadai. Bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir pesisir, tanah longsor, dan pohon tumbang berpotensi terjadi di wilayah:

    AcehSumatera UtaraRiauKepulauan RiauSumatera BaratWilayah sekitar Selat Malaka

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto ikut menjelaskan dampak siklon yang mencakup hujan sangat lebat hingga ekstrem di Aceh dan Sumut, serta hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah Sumbar dan Riau. Selain itu, angin kencang diperkirakan terjadi di Aceh, Sumut, Sumbar, Kepulauan Riau, dan Riau.

    Untuk sektor maritim, BMKG mencatat potensi gelombang:

    Kategori sedang (1,25-2,5 m) di Selat Malaka bagian tengah, Perairan Sumatera Utara, dan Perairan Rokan Hilir.

    Kategori tinggi (2,5-4,0 m) di Selat Malaka bagian utara, Perairan Aceh, hingga Samudra Hindia barat Aceh-Nias.

    Sementara Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menuturkan fenomena siklon tropis di sekitar Selat Malaka tergolong jarang terjadi karena Indonesia berada di dekat garis ekuator yang biasanya tidak mendukung pembentukan siklon.

    “Dalam lima tahun terakhir cukup banyak siklon tropis yang bergerak mendekati wilayah Indonesia dan memberikan dampak signifikan. Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tidak umum, apalagi jika melintasi daratan,” kata Andri.

    BMKG meminta pemerintah daerah, masyarakat, serta pelaku sektor kelautan dan transportasi memperhatikan potensi gangguan akibat gelombang tinggi dan angin kencang.

    Faisal menegaskan informasi ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

    “Dengan prinsip awas, siaga, selamat, diharapkan peringatan dini BMKG dapat dimitigasi dengan baik demi meminimalkan kerusakan dan korban jiwa. Early warning harus diikuti early action menuju zero victim,” ujarnya.

    Halaman 2 dari 2

    (naf/naf)

  • Tewaskan 5 Anak di Riau, Mengapa ‘Flu Babi’ Bisa Mematikan?

    Tewaskan 5 Anak di Riau, Mengapa ‘Flu Babi’ Bisa Mematikan?

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan RI melaporkan lima anak di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, meninggal dunia akibat terinfeksi Influenza A/H1pdm09 dan Haemophilus influenzae. Influenza A/H1pdm09, yang sebelumnya dikenal sebagai flu babi, pernah menjadi wabah di berbagai negara pada tahun 2009 dan sejak itu menjadi bagian dari influenza musiman.

    Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki fasilitas kesehatan dasar yang sangat minim. Dusun Datai tidak memiliki MCK, tidak ada tempat pembuangan sampah, ventilasi rumah buruk, dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ISPA, terutama pada anak-anak.

    Selain faktor lingkungan, petugas juga menemukan banyak warga dengan gizi kurang serta cakupan imunisasi dasar yang rendah. Pemeriksaan laboratorium mengungkap adanya kombinasi infeksi Influenza A/H1pdm09, pertusis, adenovirus, dan bocavirus. Temuan ini memperkuat analisis bahwa status gizi dan kekebalan tubuh yang rendah membuat anak-anak di dusun tersebut lebih rentan mengalami penyakit berat hingga komplikasi.

    “Kami menemukan rumah padat, ventilasi minim, nyamuk banyak, dan warga hidup dalam paparan asap kayu bakar setiap hari. Situasi seperti ini membuat penyakit pernapasan lebih mudah menular, terutama pada balita,” ujar Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sumarjaya.

    Mengapa ‘Flu Babi’ Bisa Picu Kematian?

    Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan Influenza A/H1N1pdm09 merupakan subtipe virus influenza A yang pertama kali muncul sebagai virus baru dan menyebabkan pandemi pada 2009.

    Kini, virus tersebut telah berubah menjadi bagian dari influenza musiman dan terus bersirkulasi secara global. Aktivitas influenza, kata Dicky, berubah-ubah setiap musim sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara rutin memantau pergerakannya dan menentukan komposisi vaksin flu tahunan. H1N1 sendiri sering masuk dalam komposisi vaksin.

    Adapun infeksi ini dapat berujung fatal karena dipengaruhi oleh faktor host, yaitu kondisi tubuh anak. Menurut Dicky, anak kecil memiliki sistem imun yang masih berkembang. Bila disertai malnutrisi atau imunisasi yang tidak lengkap, kerentanan mereka terhadap infeksi berat akan semakin meningkat.

    Faktor lingkungan juga berperan besar, seperti paparan asap kayu bakar, ventilasi rumah yang buruk, kepadatan hunian, hingga sanitasi yang tidak memadai.

    “Ini kalau di epidemiologi itu ya faktor host, faktor agentnya, faktor lingkungan. Dan terutama ada koinfeksi bakteri atau virus yang meningkatkan risiko pneumonia berat dan kematian,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (26/11/2025).

    “Nah ini yang laporan lapangan kan menunjukkan kombinasi faktor risiko ini. Selain itu pada anak kecil cadangan fisiologisnya rendah sehingga cepat sekali dekompensasi,” lanjutnya.

    Sementara itu, Dicky juga menjelaskan gejala yang perlu diwaspadai pada kasus influenza meliputi demam mendadak, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan rasa lemas.

    Pada anak-anak, gejala tambahan seperti mual dan muntah dapat muncul. Pada bayi dan balita, tanda-tandanya kadang tidak khas, tetapi dapat terlihat dari menurunnya nafsu makan, menjadi lebih rewel, atau munculnya gejala sesak napas.

    “Dan komplikasi yang menyebabkan kematian pada anak biasanya adalah Pneumonia Virus Primer atau Super Infeksi Bakteri, misalnya Streptococcus Pneumonia ataupun Haemophilus Influenza yang Non-typeable (NTHi),” tuturnya.

    Halaman 2 dari 3

    (suc/up)

  • 8 Obat Tradisional Penurun Asam Urat dan Kolesterol, Ada Buah hingga Rempah

    8 Obat Tradisional Penurun Asam Urat dan Kolesterol, Ada Buah hingga Rempah

    Jakarta

    Asam urat dan kolesterol tinggi menjadi dua masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Kedua kondisi ini bisa muncul tanpa gejala awal yang jelas, tetapi membahayakan lantaran berpotensi berujung komplikasi bila dibiarkan.

    Tak heran banyak orang yang mencari obat tradisional atau alternatif yang dinilai lebih aman dan minim efek samping. Ada beberapa rempah hingga buah yang bisa dikonsumsi untuk membantu mengatasi asam urat dan kolesterol.

    Obat Tradisional Penurun Asam Urat

    Dari ceri hingga kembang sepatu, berikut beberapa obat asam urat alami yang bisa dikonsumsi.

    1. Ceri

    Menurut sebuah survei pada 2016, ceri, baik asam, manis, merah, maupun hitam, dalam bentuk ekstrak sebagai jus atau mentah menjadi pengobatan rumahan yang sangat populer dan berpotensi manjur bagi banyak orang.

    Dikutip dari laman Healthline, sebuah studi pada 2012 dan penelitian lain pada tahun yang sama menunjukkan ceri bisa berfungsi mencegah serangan asam urat. Penelitian ini merekomendasikan tiga porsi ceri dalam bentuk apa pun selama dua hari, yang dianggap paling efektif.

    2. Jahe

    Jahe merupakan makanan dan herba kuliner yang diresepkan untuk kondisi peradangan. Kemampuannya dalam membantu mengatasi asam urat telah terdokumentasi dengan baik.

    Sebuah studi menemukan jahe topikal mengurangi rasa sakit akibat asam urat. Selain itu, studi lainnya membuktikan subjek dengan kadar asam urat tinggi (hiperurisemia), berkurang berkat jahe. Subjek penelitian adalah tikus dan jahe yang dikonsumsi, bukan dioleskan.

    3. Air Hangat dengan Cuka Sari Apel, Lemon, dan Kunyit

    Cuka sari apel, air lemon, dan kunyit sering kali direkomendasikan untuk asam urat. Ketiganya bisa menjadi asupan yang nikmat.

    Meski begitu, belum ada penelitian kuat yang mendukung penggunaan cuka sari apel untuk asam urat. Namun, penelitian menunjukkan jus lemon dan kunyit bisa menurunkan asam urat.

    Campur perasan setengah buah lemon ke air hangat. Masukkan 2 sendok teh kunyit dan 1 sendok teh cuka sari apel. Sesuaikan selera. Minum 2-3 kali sehari.

    4. Kembang Sepatu

    Kembang sepatu merupakan obat herbal tradisional. Sebuah studi pada tikus menunjukkan bunga ini bisa menurunkan kadar asam urat.

    Obat Tradisional untuk Turunkan Kolesterol

    Untuk membantu mengatasi kolesterol, beberapa obat alami yang dapat dikonsumsi yaitu:

    1. Teh Hijau

    Teh hijau mengandung banyak katekin, antioksidan yang menurunkan kolesterol low-density lipoprotein LDL atau kolesterol jahat dan kolesterol total. Dikutip dari laman Times of India, sebuah studi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau secara teratur bisa meningkatkan kadar kolesterol dan menurunkan risiko penyakit jantung.

    Katekin mengontrol penyerapan kolesterol dan membantu hati membuang kolesterol.

    2. Kayu Manis

    Kayu manis merupakan rempah dengan rasa aromatik yang banyak digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia. Berbagai penelitian menunjukkan kayu manis bisa menurunkan kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida.

    Polifenol dalam kayu manis merupakan antioksidan yang melawan peradangan dan kerusakan yang menyebabkan penyakit jantung.

    3. Kunyit

    Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang mengurangi peradangan. Kurkumin bisa menurunkan kolesterol dengan membantu hati berfungsi lebih baik dan dengan mengurangi peradangan yang bisa menyumbat arteri. Namun, perlu diketahui, suplemen kunyit hanya boleh dikonsumsi di bawah pengawasan dokter.

    4. Biji Ketumbar

    Biji ketumbar digunakan dalam masakan dan pengobatan. Sebuah studi menunjukkan bahwa air atau ekstrak biji ketumbar bisa membantu menurunkan kolesterol LDL dan meningkatkan high-density lipoprotein HDL atau kolesterol baik. Hal ini karena biji ketumbar mengandung antioksidan dan vitamin yang bisa membantu tubuh memproses lemak dan melindungi jantung.

    (elk/naf)

  • BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem dalam 24 Jam ke Depan di Wilayah Ini

    BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem dalam 24 Jam ke Depan di Wilayah Ini

    Jakarta

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan potensi cuaca ekstrem imbas perkembangan signifikan Bibit Siklon Tropis 95B yang terdeteksi sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, Selat Malaka. Sistem ini diketahui mengalami peningkatan intensitas dan memicu potensi hujan lebat hingga ekstrem serta angin kencang di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Riau, dan sekitarnya.

    Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut masyarakat di wilayah terdampak perlu waspada, mengingat sistem cuaca tersebut berpotensi membawa dampak signifikan dalam waktu dekat. BMKG tengah memantau pergerakan dan perkembangan 95B serta berkoordinasi dengan pemangku kebijakan terkait mitigasi risiko.

    “Pemerintah daerah siaga terhadap potensi dampak dari cuaca ekstrem seperti potensi banjir, banjir pesisir, dan pohon tumbang akibat angin kencang. Khusus bagi nelayan dan pelaku transportasi laut harus benar-benar memperhatikan kondisi gelombang tinggi yang berisiko menganggu keselamatan pelayaran. Keamanan dan keselamatan merupakan prioritas utama kita bersama,” beber Faisal, Rabu (26/11/2025).

    Potensi Meningkat dalam 24 Jam

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan berdasarkan analisis 26 November 2025 pukul 01.00 WIB, sistem masih berada di perairan timur Aceh dan memicu pertumbuhan awan hujan meluas. Kondisi ini meningkatkan potensi hujan lebat hingga ekstrem disertai angin kencang di wilayah pesisir Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau.

    “Peluang bibit ini berkembang menjadi siklon tropis cukup tinggi dalam 24 jam ke depan, mengingat teridentifikasi adanya peningkatan angin kencang hingga lebih dari 35 knot (65 km/jam). Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam waktu dekat,” kata Guswanto.

    Senada, Direktur Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menegaskan dalam 24 jam ke depan, 95B akan memberikan dampak langsung terhadap cuaca dan kondisi gelombang laut, terutama di sekitar Aceh dan Sumatra Utara. Berdasarkan hasil analisis, sistem ini diperkirakan menimbulkan hujan lebat hingga ekstrem di Aceh dan Sumatra Utara serta sebagian wilayah Sumatera Barat dan Riau, serta angin kencang di sebagian besar Sumatra bagian utara.

    Bibit Siklon Tropis 95B juga diperkirakan memicu gelombang tinggi antara 2,5 hingga 4 meter di Selat Malaka bagian tengah, perairan timur Sumatra Utara, dan Samudera Hindia barat Aceh hingga Nias. Sementara gelombang sedang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di Selat Malaka bagian utara, Perairan Rokan Hilir, dan Dumai Bangkalis.

    “BMKG melalui TCWC Jakarta akan terus melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh terhadap pergerakan sistem ini. BMKG menekankan pentingnya mengakses informasi resmi melalui kanal BMKG dan menghindari penyebaran informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” beber Andri.

    (naf/naf)