Category: Bisnis.com Tekno

  • iPhone 17 Resmi Meluncur di RI, Fans Apple Semangat Unboxing Tengah Malam

    iPhone 17 Resmi Meluncur di RI, Fans Apple Semangat Unboxing Tengah Malam

    Bisnis.com, JAKARTA – Seri terbaru iPhone yakni iPhone 17, iPhone 17 Pro, iPhone 17 Pro Max, dan iPhone Air resmi diluncurkan di Indonesia pada Jumat 17 Oktober 2025 tepat pukul 00.01 WIB 

    Berdasarkan pantauan Antara, sejumlah toko resmi Apple Premium Reseller dipadati pembeli yang telah melakukan pre-order sejak 10 Oktober, Salah satunya iBox, yang menggelar acara peluncuran dan unboxing seri iPhone 17 dengan para pembeli pertamanya di Senayan City, Jakarta Selatan.

    Ratna Ayu Kharisma menjadi pembeli pertama iPhone 17 di iBox Indonesia. Pengusaha di bidang marine supplier ini mendapatkan unit iPhone 17 Pro Max 1TB warna oranye seharga lebih dari Rp30 juta.

    Tak tanggung-tanggung, Ratna sudah mengantre sejak 16 Oktober pukul 03.00 WIB dini hari dan akhirnya mendapat ponsel iPhone impiannya pada 17 Oktober setelah pukul 00:01 WIB.

    “Senang banget karena memang aku suka produk iPhone dan setiap tahun aku selalu ganti,” kata dia usai unboxing produk iPhone 17. 

    Antusiasme tinggi juga terlihat dari puluhan orang pertama lainnya yang ikut membuka kemasan lini terbaru iPhone tersebut.

    Salah satu pembeli pertama lain, Agam, mengaku senang dengan gawai barunya tersebut, yakni iPhone 17 Pro Max. Ia mengaku telah menabung kurang lebih tiga bulan untuk mengganti perangkat lamanya iPhone 11 yang ia beli pada tahun 2019.

    “Sudah lumayan lama juga tidak ganti, sudah butuh daily drive baru untuk menunjang kerjaan juga yang butuh kamera video compact yang bagus,” kata dia.

    Pembeli pertama lain Dina, berseri-seri ketika pertama kali memegang langsung iPhone Pro Max idamannya. Bahkan ia datang pada acara peluncuran mengenakan gaun berwarna oranye yang sama persis dengan iPhone-nya.

    “Senang sekali, kebetulan dibelikan suami, dan saya memang sangat suka dengan bentuk dan desain iPhone 17 Pro Max ini,” kata Dina.

    iPhone 17, iPhone Air, iPhone 17 Pro, dan iPhone 17 Pro Max secara resmi akan tersedia di toko offline ataupun online pada Jumat 17 Oktober 2025 di iBox dan reseller Apple resmi lainnya.

    Menyoal spesifikasi memang seri iPhone 17 mengalami peningkatan klaim Apple, termasuk daya tahan baterai, sistem kamera Dual Fusion 48 MP, fitur Center Stage di kamera depan, serta upgrade refresh rate (ProMotion) hingga 120Hz.

    Pada model Air, pengganti dari Plus di seri iPhone 17 juga menghadirkan desain tipis dan bobot ringan. Pada iPhone 17 Pro dan 17 Pro Max juga mengalami peningkatan performa dengan dibenamkan chip baru A19 Pro.

    Harga iPhone 17 Series di Indonesia

    Berikut ini daftar harga iPhone 17 series yang dijual di iBox:

    iPhone 17

    256GB Rp17.249.000
    512GB RP21.999.000

    iPhone 17 Air

    256GB Rp21.249.000
    512GB Rp25.999.000
    1TB Rp30.249.000

    iPhone 17 Pro

    256GB Rp23.749.000
    512GB Rp28.249.000
    1TB Rp32.999.000

    iPhone 17 Pro Max

    256GB Rp25.749.000
    512GB Rp30.249.000
    1TB Rp34.999.000
    2TB Rp43.999.000

  • Ekosistem Masih Hijau, Butuh Berapa Tahun untuk Matang?

    Ekosistem Masih Hijau, Butuh Berapa Tahun untuk Matang?

    Bisnis.com, JAKARTA — Ekosistem menjadi sorotan dalam pemanfaatan pita frekuensi 1,4 GHz, yang belum lama dimenangkan oleh PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) dan PT Eka Mas Republik, anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA).

    Global System for Mobile Communications Association (GSMA), asosiasi yang mewadahi operator telekomunikasi di seluruh dunia, mengungkap tantangan utama dalam pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz berkaitan dengan kesiapan ekosistem pendukung yang masih minim.

    Di berbagai belahan dunia, pita frekuensi paling populer yang lebih dulu diadopsi secara masif adalah 3,5 GHz, diikuti dengan 2,6 GHz dan 2,1 GHz. Pita-pita ini mendapat sambutan luas karena didukung oleh rantai pasok global yang matang dan biaya produksi perangkat yang efisien karena skala adopsi yang besar.

    Sebaliknya, pita 1,4 GHz hanya digunakan secara sporadis di beberapa wilayah dunia, sehingga keberadaan perangkat, chip, dan dukungan teknis lainnya masih relatif terbatas. 
    Sependapat dengan GSMA, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) M. Tesar Sandikapura mengatakan tantangan utama pengembangan frekuensi 1,4 GHz di Indonesia terletak pada belum terbentuknya ekosistem perangkat dan pasar, karena Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang menggunakannya untuk layanan komersial.

    “Kondisi ini akan membuat ketersediaan chipset, perangkat, dan dukungan vendor global masih terbatas, sehingga biaya investasi dan waktu adopsi berpotensi tinggi,” kata Tesar kepada Bisnis, Kamis (16/10/2025).

    Tesar menambahkan untuk membangun ekosistem, seluruh pemangku kepentingan perlu bekerja sama.

    Dia menambahkan dengan kolaborasi lintas sektor, dukungan pemerintah, serta keterlibatan vendor global, ekosistem ini dapat berkembang dalam 2–3 tahun “Namun tanpa arah kebijakan dan koordinasi yang kuat, pembentukannya bisa melambat hingga 5–7 tahun,” kata Tesar.

    Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward mengatakan jika kedua pemenang bekerja sama, cukup 2 tahun untuk membangun ekosistem di pita 1,4 GHz. Apalagi teknologi Broadband Wireless Acces (BWA), menurutnya, bukanlah hal yang sulit untuk dibentuk.

    Adapun ekosistem 1,4 GHz nantinya harus meliputi kesiapan di vendor, operator, pengguna, dan pemerintah. Dia menjelaskan karena proses akan lelang 1.4 GHz bukan dadakan maka sudah ada beberapa vendor 1,4 GHz dan sudah diujicobakan dengan hasil layak sesuai dengan internet 100 Mbps.

    “BWA akan mempercepat penetrasi layanan. User pasti ada, hanya pasti banyak saingan karena ada ISP lain. Dukungan pemerintah pasti ada mendukung kesuksesan ekosistem,” kata Ian.

    Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan ketika operator berminat dan berani menawar angka yang besar dalam lelang, itu artinya operator tersebut sudah menyiapkan strategi dan langkah ke depannya, yang bahkan  berani berkomitmen menjual layanan 100 Mbps sekitar Rp100.000-Rp150.000.

    Dia menekankan bahwa Indonesia ini unik. Di negara lain sukses, di Indonesia belum tentu. Di luar negeri gagal, di Indonesia sukses.

    “Waktu 3G, di Eropa banyak mengembalikan izin, eh di Indonesia sukses malah minta nambah frekuensi beberapa kali. Di negara lain Blackberry tidak laku, di Indonesia sempat laris laksana kacang goreng Jadi kita tunggu saja. Sebab, masyarakat pasti menanti tarif internet yang terjangkau dan ngebut sampai 100 Mbps. Ini baru bisa dilihat 2-3 tahun ke depan apakah akan mature atau gagal,” kata Heru.

  • WIFI Diuntungkan Hanya Bangun di Jawa dan Papua

    WIFI Diuntungkan Hanya Bangun di Jawa dan Papua

    Bisnis.com, JAKARTA — Akademisi menilai PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) diuntungkan dengan memegang lisensi regional pada frekuensi 1,4 GHz. WIFI tidak perlu menggelar jaringan secara nasional dan cukup bangun di Pulau Jawa, Maluku, dan Papua.

    Berdasarkan data APJII tahun 2025, penetrasi internet di Pulau Jawa adalah 84,69% dan kontribusinya terhadap total pengguna internet nasional adalah 58,14%. Artinya, pasar Pulau Jawa cukup matang untuk mengadopsi layanan internet.

    Sementara itu Maluku dan Papua, merupakan wilayah dengan penetrasi internet terendah di Indonesia yaitu 69,26%. Adopsi digital di wilayah ini paling kecil dengan jumlah infrastruktur yang juga terbatas.

    Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward mengatakan dengan diperbolehkan berjualan di Jawa, WIFI diuntungkan karena Jawa paling layak secara bisnis untuk produk internet. 

    Dengan kondisi tersebut, biaya Rp400 miliar adalah nilai yang murah, yang dikeluarkan WIFI untuk menyewa pita 1,4 GHz di Pulau Jawa selama 10 tahun menurut Ian. 

    Dia juga mengatakan penggelaran jaringan di Papua tidak akan menjadi masalah bagi WIFI mengingat jaringan tulang punggung di Papua sudah tersedia.

    “Tidak masalah karena backbone optik sudah sampai ke Papua. Layanan minimal 100 Mbps tentu dengan backbone optik. Jadi sudah jelas bukan yang dilayani oleh satelit. Kewajiban tersebut tentu harus melihat kondisi lapangan,” kata Ian kepada Bisnis, Kamis (16/10/2025).

    Ian juga mengatakan bahwa dibandingkan 2×5 MHz di pita 2,1 GHz yang dimenangkan oleh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) pada 2022 lalu, biaya yang dikeluarkan oleh WIFI relatif lebih murah dengan pita yang lebih besar.

    WIFI mendapat 80 MHz di pita 1,4 GHz dengan biaya Rp400 miliar-an, sementara itu Telkomsel harus mengeluarkan Rp600 miliar demi 2×5 MHz. Namun perlu diingat, saat Telkomsel mendapat 2,1 GHz, smartphone masyarakat di seluruh Indonesia sudah siap untuk menangkap sinyal 2,1 GHz.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan tidak bisa dibandingkan apple to apple antara pita 1,4 GHz dengan 2,1 GHz.

    Pertama, memang frekuensi yang dialokasikan lebih besar. Namun, kedua, lelang menggunakan sistem regional, bukan nasional. Kemudian, di lelang 1,4 GHz ini banyak komitmen yang harus dijalankan sesuai dengan kepentingan nasional yang ditetapkan Komdigi seperti kecepatan 100 Mbps dan juga tarif lebih terjangkau

    “Frekuensi 1,4 GHz ini berbeda dengan konsep misal frekuensi yang dipakai 3G dulu, 4G atau 5G dimana dari MSC ke BTS hingga pengguna menggunakan nirkabel. Sementara untik 1,4 GHz ini, hybrid. Dimana 1,4 GHz hanya dipakai untuk jaringan akses ke pengguna, sementara dari backbone dan back haul pakai serat optik,” kata Heru.

    Heru menambahkan jika dalam mengukur  berdasarkan lebar frekuensi, memang 1,4 GHz lebih luas dan lebih murah. Pita 1,4 GHz juga memiliki jangkauan yang lebih luas ketimbang 2,1 GHz.

    “Jadi nanti pemenang 1,4GHz akan menyasar pasar residensial. Dimana jika sebelumnya ke rumah-rumah pakai serat optik yang mahal, maka nanti serap optik ke rumah-rumah atau biasa diistilahkan homepass menggunakan frekuensi 1,4 GHz. Dan pasar residensial akan sangat besar ke depannya,” kata Heru.

  • BSSN Amerika Serikat Peringatkan Ancaman Serius di Balik Peretasan F5

    BSSN Amerika Serikat Peringatkan Ancaman Serius di Balik Peretasan F5

    Bisnis.com, JAKARTA – Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat atau CISA mengeluarkan peringatan darurat kepada Federal Civilian Executive Branch (FCEB) agar segera melakukan pendataan dan penambalan (patch) pada produk F5 di sistem teknologi mereka.

    Mengutip Tech Radar, Kamis (16/10/2025), langkah ini diambil setelah perusahaan teknologi F5 mengalami kebocoran data serius akibat serangan siber.

    Dalam Emergency Directive (ED) 26-01, CISA mengungkapkan kelompok peretas yang diduga berafiliasi dengan negara berhasil mencuri sejumlah berkas sensitif, termasuk sebagian kode sumber dari produk BIG-IP milik F5, serta informasi terkait dengan kerentanan keamanan.

    Dengan data tersebut, pelaku disebut dapat menganalisis sistem F5 untuk menemukan celah keamanan baru (zero-day vulnerabilities) dan mengembangkan eksploit atau malware berbahaya.

    CISA menegaskan insiden ini menimbulkan ancaman dalam waktu dekat bagi jaringan pemerintah federal yang menggunakan produk F5. Risiko tersebut mencakup potensi pencurian kunci API, penyusupan data, hingga pengambilalihan penuh sistem target.

    Sebagai langkah mitigasi, lembaga federal diminta segera mengidentifikasi dan memperkuat keamanan semua perangkat F5, termasuk BIG-IP iSeries, rSeries, serta perangkat lain yang telah mencapai akhir masa dukungan.

    Pembaruan serupa juga diwajibkan untuk perangkat yang menjalankan BIG-IP (F5OS), BIG-UP (TMOS), Virtual Edition (VE), BIG-IP Next, BIG-IQ, serta BIG-IP Next for Kubernetes (BNK)/Cloud-Native Network Functions (CNF).

    “Langkah-langkah dalam direktif ini ditujukan untuk mengatasi risiko langsung dan mempersiapkan lembaga menghadapi potensi serangan lanjutan terhadap perangkat F5,” tulis CISA dalam pernyataannya dikutip Bisnis dari Tech Radar.

    Walaupun identitas pelaku belum terungkap, perusahaan F5 telah mengonfirmasi kebocoran tersebut melalui laporan resmi ke otoritas pasar modal AS (SEC).

    Menurut laporan CyberInsider, data yang dicuri mencakup berkas dari lingkungan pengembangan internal, sebagian kode sumber BIG-IP, serta informasi tentang kerentanan keamanan yang belum diperbaiki.

    Namun, F5 menegaskan bahwa tidak ada kerentanan kritis atau celah yang dapat dieksploitasi dari jarak jauh di antara berkas yang dicuri, dan hingga kini belum ditemukan bukti penyalahgunaan data tersebut di dunia maya.

  • Pacu Performa iPad Pro, MacBook Pro, dan Vision Pro

    Pacu Performa iPad Pro, MacBook Pro, dan Vision Pro

    Bisnis.com, JAKARTA – Apple resmi memperkenalkan chip terbarunya, M5, bersamaan dengan peluncuran lini perangkat anyar seperti iPad Pro, MacBook Pro, dan Vision Pro, pada Rabu (15/10/2025).

    Seluruh perangkat ini sudah dapat dipesan (preorder) di 31 negara dan akan mulai dikirim serta tersedia di toko mulai 22 Oktober 2025. Namun, belum ada informasi apakah Indonesia termasuk ke dalam daftar negara yang bisa melakukan preorder.

    Mengutip Tech Crunch, Chip M5 diklaim menghadirkan lompatan besar dalam hal performa kecerdasan buatan (AI) dan grafis dibandingkan pendahulunya. Apple menyebut M5 memiliki kinerja GPU puncak empat kali lipat dari chip M4.

    “Chip ini menandai lompatan besar berikutnya dalam performa AI untuk Apple Silicon,” ujar Senior Vice President Hardware Technologies Apple, Johny Srouji, dikutip dari Tech Crunch pada Kamis (16/10/2025).

    Untuk iPad Pro terbaru, Apple menjanjikan peningkatan hingga 3,5 kali lipat performa AI dibandingkan dengan model tahun lalu, dan 5,6 kali lebih cepat dari iPad Pro dengan chip M1.

    Perangkat ini juga dilengkapi modem C1X untuk koneksi seluler hingga 50% lebih cepat, serta chip N1 yang mendukung Wi-Fi, Bluetooth, dan Thread. Peningkatan lain termasuk kecepatan baca/tulis penyimpanan yang lebih tinggi dan kemampuan pengisian daya 50% hanya dalam 30 menit.

    Pengembangan iPad Pro diarahkan menjadi perangkat yang menyerupai laptop dengan dukungan sistem operasi iPadOS 26, yang membawa fitur tampilan jendela lebih intuitif, aplikasi Preview, dan folder khusus untuk manajemen file yang lebih efisien.

    Adapun, harga iPad Pro terbaru dimulai dari US$999 (sekitar Rp16,3 juta) untuk varian 11 inci dan US$1.299 (sekitar Rp21,2 juta) untuk 13 inci, tersedia dalam pilihan warna hitam dan perak.

    Sementara itu, MacBook Pro 14 inci hadir dengan performa grafis hingga 1,6 kali lebih cepat serta bandwidth memori meningkat menjadi 153Gbps dari 120Gbps pada M4. Penyimpanan internal juga mengalami peningkatan kecepatan, dengan daya tahan baterai mencapai 24 jam.

    MacBook Pro M5 dijual mulai US$1.599 (sekitar Rp26 juta), hadir dalam varian space black dan silver.

    Perangkat Vision Pro kini juga mengusung chip M5 menggantikan M2. Chip baru ini meningkatkan rendering tampilan sebesar 10%, mendukung refresh rate hingga 120Hz, dan mempercepat fitur berbasis AI hingga 50% lebih cepat.

    Selain itu, daya tahan baterai meningkat 30 menit, mencapai 2,5 jam untuk penggunaan umum dan 3 jam untuk menonton video. Versi terbaru ini juga hadir dengan Dual Knit Band baru untuk kenyamanan yang lebih baik, tersedia dalam ukuran kecil, sedang, dan besar. Harga tetap di US$3.499 (sekitar Rp57 juta).

  • WIFI Bayar Lebih Mahal daripada Telkomsel?

    WIFI Bayar Lebih Mahal daripada Telkomsel?

    Bisnis.com, JAKARTA — PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI), memenangkan lelang frekuensi 1,4 GHz untuk regional I yang terdiri dari Pulau Jawa, Maluku, dan Papua.

    WIFI memberi penawaran sebesar Rp403,7 miliar untuk mendapatkan wilayah tersebut. Bagaimana jika dibandingkan dengan lelang terakhir yaitu lelang pita 2,1 GHz pada 2022 yang dimenangkan oleh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel)?

    Diketahui, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengumumkan bahwa WIFI mendapatkan regional I dengan penawaran tertinggi yaitu Rp403,7 miliar. Mengalahkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang sebesar Rp399 miliar, dan Eka Mas yang sebesar Rp331 miliar.

    Dengan harga tersebut, WIFI nantinya dapat mengoperasikan pita selebar 80 MHz untuk melayani pelanggan internet tetap di Pulau Jawa, Maluku, dan Papua.

    Perusahaan bakal menerapkan teknologi broadband wireless access (BWA), sebuah teknologi nirkabel untuk internet di rumah/perusahaan, dalam memberikan layanan tersebut. Kesiapan ekosistem berdampak pada cepat atau lambatnya penyebaran layanan internet di 1,4 GHz.

    Adapun, menurut laporan GSMA, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengoperasikan 1,4 GHz untuk layanan internet. 

    Selain hak memberikan layanan, ada juga kewajiban yang menempel di WIFI, yaitu menyiapkan infrastruktur di ketiga wilayah tersebut. WIFI juga akan memikul beban baru yaitu membayar Rp403,7 miliar selama 10 tahun. Pada tahun pertama, WIFI harus membayar 2x dari biaya penawaran karena ada beban up front fee.

    Bagaimana kondisi 2022? 

    Saat memenangkan lelang frekuensi 2,1 GHz dengan pita diperebutkan sebesar 2×5 MHz, Telkomsel harus membayar sebesar Rp605,056 miliar. Berbeda dengan WIFI yang berlaku secara regional, spektrum frekuensi 2,1 GHz Telkomsel dapat digunakan di seluruh Indonesia. Tidak terbatas pada wilayah tertentu.

    Telkomsel juga tidak terlalu pusing dengan ekosistem, karena mayoritas pengguna smartphone di dunia telah memakai pita 2,1 GHz untuk berinternet.

    Sebagaimana diketahui, 2×5 MHz di pita frekuensi 2,1 GHz merupakan spektrum yang dikembalikan oleh Indosat Ooredoo pascamerger dengan Hutchison 3 Indonesia (Tri) pada 4 Januari 2022.

    Ketika proses lelang dibuka pada akhir Agustus 2022, tercatat ada tiga operator seluler yang mendaftarkan diri ikut serta dalam Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,1 GHz di antaranya Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat Ooredoo Hutchison.

    Hemat

    Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward mengatakan secara bisnis pembagian regional; khususnya regional 1 lebih menguntungkan karena kewajiban tidak harus membangun seluruh wilayah Indonesia.

    Secara belanja modal (Capex) dan ongkos operasional (Opex), kata Ian, lebih murah dan backbone optik di regional 1 sudah tersedia. 

    “Sehingga secara bisnis sangat layak. Melihat layanan internet, bukan hanya dari langganannya saja tetapi termasuk semua bisnis yang dapat ditumpangkan. Nilai lelang tersebut masih dianggap murah dan memperhatikan internet rakyat,” kata Ian.

  • BMKG Jelaskan Suhu Panas Terus Berlangsung di Indonesia, Kapan Hujan Turun?

    BMKG Jelaskan Suhu Panas Terus Berlangsung di Indonesia, Kapan Hujan Turun?

    Bisnis.com, JAKARTA – Suhu panas di beberapa wilayah di Indonesia terjadi pada beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa cuaca panas terjadi karena adanya gerak semu matahari dan Monsun Australia.

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto memprakirakan bahwa suhu panas ini masih akan berlanjut hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

    Adapun penyebab utama suhu panas ini adalah posisi gerak semu matahari yang pada bulan Oktober berada di selatan ekuator.

    Guswanto mengatakan bahwa faktor lainnya adalah penguatan angin timuran atau Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan hangat sehingga pembentukan awan minim serta radiasi matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal.

    “Posisi ini membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua, menerima penyinaran matahari yang lebih intens sehingga cuaca terasa lebih panas di banyak wilayah Indonesia,” dikutip dari siaran pers BMKG, Rabu (15/10).

    Lantas kapan hujan turun?

    Cuaca panas hingga 37 derajat membuat masyarakat bertanya-tanya kapan hujan akan turun di langit Indonesia.

    Padahal seharusnya pada bulan Oktober ini sudah mulai turun rintik-rintik hujan. BMKG kemudian
    memprakirakan potensi hujan lokal akibat aktivitas konvektif masih dapat terjadi pada sore hingga malam hari terutama di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua.

    Hal senada juga diungkapkan oleh Peneliti Bidang Klimatologi dan Perubahan Iklim BRIN, Erma Yulihastin.

    Ia menyebutkan bahwa pada sore hingga malam hari, hujan bisa terbentuk akibat konveksi termal dan lokal di berbagai wilayah Jawa, terutama bagian tengah dan timur.

    BRIN mengimbau masyarakat untuk memahami perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba, dari panas menyengat menjadi hujan yang didahului angin kencang.

    “Sehingga pada siang hari perlu perlindungan tabir surya untuk melindungi kulit, namun tetap juga waspada dengan hujan pada malam hari,” kata Erma saat dihubungi Bisnis pada Selasa (14/10/2025).

  • Pengamat Terkejut WIFI-DSSA Kalahkan Telkom (TLKM) pada Lelang Frekuensi 1,4 GHz

    Pengamat Terkejut WIFI-DSSA Kalahkan Telkom (TLKM) pada Lelang Frekuensi 1,4 GHz

    Bisnis.com, JAKARTA —  Pengamat Telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai hasil lelang pita frekuensi 1,4 GHz yang diumumkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) cukup mengejutkan. 

    Menurutnya, kemenangan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) melalui anak usahanya PT Telemedia Komunikasi Pratama di Regional 1, serta PT Eka Mas Republik, anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) atau MyRepublicbdi Regional 2 dan 3, menjadi momentum penting bagi dinamika industri telekomunikasi nasional.

    “Saya lihat hasil lelang frekuensi 1,4 GHz ini cukup mengejutkan. Surge melalui Telemedia Komunikasi Pratama menang di Regional 1, sementara MyRepublic lewat Eka Mas Republik sapu Regional 2 dan 3, dan Telkom justru kalah di semua lini,” kata Heru saat dihubungi Bisnis pada Rabu (15/10/2025). 

    Heru mengatakan hasil tersebut isa jadi game changer buat industri telekomunikasi Indonesia, karena membuka peluang kompetisi lebih sehat di luar pemain besar seperti Telkom.  

    Dia menjelaskan, kemenangan kedua perusahaan ini berpotensi menciptakan persaingan yang lebih terbuka dan memperluas akses layanan broadband di Indonesia. 

    Dia menyoroti Surge memegang spektrum luas 80 MHz di zona Jawa, Papua, dan Maluku. Sementara MyRepublic 160 MHz di Sumatera, Bali, NT, Kalimantan, Sulawesi. 

    “Tapi ingat, masih ada masa sanggah sebelum resmi. Secara keseluruhan, ini positif untuk perluasan internet murah 100 Mbps ke daerah terpencil, tapi harus diawasi agar komitmen infrastruktur terpenuhi,” ujarnya.

    Heru menambahkan, baik Surge maupun MyRepublic memiliki kapasitas teknologi dan pengalaman yang kuat untuk mengembangkan jaringan pita lebar (Broadband Wireless Access/BWA) di wilayah yang dimenangkan. Heru mengatakan kedua perusahaan sudah membangun jaringan fiber optic masif, termasuk subsea cable dengan kapasitas mencapai 64 Tbps, serta fokus pada broadband untuk SME dan enterprise. 

    “Anak usahanya, Telemedia, spesialis wireless telecom, jadi mereka siap integrasikan 1,4 GHz untuk ekosistem BWA yang ekspansif, terutama di Regional 1,” tutur Heru.

    Sementara MyRepublic, lanjut Heru, bagian Sinarmas, sudah punya pengalaman jadi ISP fiber di Indonesia dengan 1 juta pelanggan. 

    “Mereka ekspansi cepat, tambah 3 juta homepasses tahun ini. Di Regional 2-3, mereka bisa bangun ekosistem kuat untuk layanan rumah tangga dan SME, fokus pada akses terjangkau dan TV berlangganan. Keduanya punya modal teknologi dan ekspansi, tapi tantangannya di komitmen buka jaringan ke operator lain. Regulator harus memantau agar cita-cita lelang 1,4 GHz ini dapat terwujud,” lanjutnya.

    Sementara itu, Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agung Harsoyo, menilai kemenangan perusahaan dalam lelang ini baru merupakan langkah awal dari tanggung jawab besar untuk membangun infrastruktur dan layanan sesuai komitmen yang telah ditetapkan. Menurutnya perlu pengawasa atau pengendalian dari Komdigi. 

    “Alangkah baiknya diumumkan ke publik. Diharapkan para pemenang lelang bukan hanya memenuhi komitmen pembangunan (target minimal). Informasi pemenuhan komitmen pembangunan ke publik sangat penting, sebagai bentuk akuntabilitas Komdigi dalam mengelola pita frekuensi yang merupakan sumber daya yang terbatas,” kata  Agung.

    Sebelumnya, Komdigi telah mengumumkan pemenang lelang harga pita frekuensi 1,4 GHz. PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI), menjadi pemenang untuk Regional I yang meliputi Pulau Jawa, Maluku, dan Papua, dengan penawaran tertinggi senilai Rp403,7 miliar.

    WIFI mengungguli PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dengan penawaran Rp399 miliar, dan PT Eka Mas Republik sebesar Rp331 miliar. Sementara itu, PT Eka Mas Republik memenangkan Regional II yang meliputi Sumatra, Bali, dan Nusa Tenggara dengan penawaran Rp300,8 miliar, lebih tinggi dari Telkom (Rp259 miliar) dan Telemedia (Rp136 miliar).

    Eka Mas juga memenangkan Regional III yang mencakup Kalimantan dan Sulawesi dengan harga penawaran Rp100 miliar, mengalahkan Telkom (Rp80 miliar) dan Telemedia (Rp64 miliar).

    Pada tahun pertama, para pemenang lelang diwajibkan membayar tiga kali nilai penawaran, kemudian membayar sesuai nilai penawaran selama sembilan tahun berikutnya. Komdigi menyampaikan bahwa peserta seleksi masih dapat menyampaikan sanggahan terhadap hasil seleksi paling lambat Jumat, 17 Oktober 2025 pukul 15.00 WIB.

    Apabila tidak ada sanggahan, proses seleksi akan dilanjutkan ke tahap penyampaian laporan hasil seleksi dan penetapan resmi pemenang oleh Menteri Komunikasi dan Digital.

  • Tagar #YouTubeDown Trending di X, YouTube Beri Solusi Ini

    Tagar #YouTubeDown Trending di X, YouTube Beri Solusi Ini

    Bisnis.com, JAKARTA – Platform video terbesar dunia, YouTube, dilaporkan mengalami gangguan secara massal pada Kamis (16/10/2025). Pihak YouTube pun memberikan solusi dengan cara menghapus aplikasi dan menginstalnya kembali.

    ”Jika Anda mengalami masalah dengan aplikasi ini, cobalah ini: hapus dan instal ulang, dan jangan lupa untuk menyalakan ulang perangkat Anda! Semoga ini bisa mengatasi masalah Anda. Jika tidak, beri tahu kami!” ungkap akun X @TeamYouTube.

    Menurut laman pemantau gangguan layanan internet Downdetector, ratusan ribu pengguna di berbagai negara melaporkan tidak dapat mengakses layanan tersebut.

    Berdasarkan data Downdetector, lebih dari 300.000 pengguna melaporkan masalah seperti layar hitam dan pesan ‘error’ saat mencoba membuka situs maupun aplikasi YouTube.

    Mengutip FOX, gangguan ini dengan cepat menjadi perbincangan di media sosial X (sebelumnya Twitter). Tagar #YouTubeDown bahkan sempat menduduki daftar trending topic global.

    Hingga laporan ini diterbitkan, YouTube belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab gangguan tersebut. Namun, sejumlah pengguna melaporkan layanan mulai kembali normal beberapa jam kemudian.

    Fenomena #YouTubeDown ini menambah daftar panjang platform digital besar yang sempat tumbang akibat lonjakan trafik atau gangguan sistem dalam beberapa bulan terakhir.

  • YouTube Eror, Pengguna Teriak Gak Bisa Nonton Video hingga Musik

    YouTube Eror, Pengguna Teriak Gak Bisa Nonton Video hingga Musik

    Bisnis.com, JAKARTA – Layanan platform video YouTube terpantau tidak dapat diakses pada pagi hari ini, Kamis (16/10/2025).

    Berdasarkan pantauan Bisnis pada pukul 06.58 WIB, terpantau halaman muka situs youtube.com masih dapat dibuka, namun ketika mengklik salah satu video, muncul pesan eror ”Anda sedang offline.”

    Seorang pengguna, Fahmi, mengatakan layanan video tidak dapat diakses sejak pukul 06.00 WIB. “Enggak bisa buka ,” terangnya kepada Bisnis.

    Situs Downdetector mencatat ada lonjakan hingga lebih dari 300.000 laporan pengguna yang tidak dapat mengakses Youtube sejak pukul 06.00 WIB.

    Platform streaming YouTube Music dan YouTube TV juga mengalami masalah yang sama. Lebih dari 4.800 pengguna mengaku mengalami kendala di YouTube Music, sementara lebih dari 2.300 pengguna menghadapi masalah di YouTube TV, menurut DownDetector.

    Secara keseluruhan, lebih dari 200.000 pengguna melaporkan gangguan YouTube pagi ini. Hingga kini, YouTube belum memberikan pernyataan resmi terkait masalah tersebut. Namun, akun dukungan YouTube di platform X terlihat aktif menanggapi keluhan para pengguna, meski belum menjelaskan penyebab gangguan.

    ”Jika Anda mengalami masalah dengan aplikasi ini, cobalah ini: hapus dan instal ulang, dan jangan lupa untuk menyalakan ulang perangkat Anda! Semoga ini bisa mengatasi masalah Anda. Jika tidak, beri tahu kami!” ungkap akun X @TeamYouTube.

    Sebagian besar laporan gangguan berasal dari wilayah Amerika Serikat. Data DownDetector menunjukkan gangguan terjadi di sejumlah kota besar, termasuk Seattle, San Francisco, Los Angeles, Phoenix, Chicago, New York, Washington, dan Detroit.

    Di Indonesia, DownDetector mencatat sebagian besar laporan gangguan terdapat di pulau Jawa, sedangkan sebagian sisanya terpusat di Sumatra Utara.