Category: Bisnis.com Tekno

  • Komdigi Buka Suara soal Nasib Seleksi 2,6 GHz dan Skema Beauty Contest

    Komdigi Buka Suara soal Nasib Seleksi 2,6 GHz dan Skema Beauty Contest

    Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) buka suara mengenai seleksi pita frekuensi 2,6 GHz yang tak sempat dibuka pada 2026. Regulator telekomunikasi juga memberi jawaban atas usulan skema beauty contest pada seleksi pita tengah tersebut. 

    Untuk diketahui, Komdigi sempat berencana membuka seleksi frekuensi 2,6 GHz pada akhir 2025. Namun, hal tersebut tak terlaksana hingga pergantian tahun. 

    Mengenai hal itu, Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto menjelaskan untuk menggelar seleksi frekuensi dibutuhkan beberapa persiapan, termasuk perhitungan harga dasar spektrum oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 

    Wayan mengatakan Komdigi saat ini terus mempersiapkan seleksi 2,6GHz dan mengkaji berbagai skema, termasuk skema beauty contest.  Wayan berharap seleksi 2,6 GHz dapat digelar secepatnya tahun ini.

    “Kami belum tahu apakah pakai beauty contest karena masih menunggu dokumen lelang,” kata Wayan kepada Bisnis, Senin (5/1/2025). 

    Sekadar informasi, skema beauty contest pada lelang frekuensi merupakan metode seleksi non-kompetitif berbasis penilaian kualitatif, bukan penawaran harga terendah seperti lelang konvensional.

    Dalam skema ini, pemerintah atau regulator seperti Komdigi mengundang peserta terpilih untuk mempresentasikan rencana bisnis, komitmen rollout jaringan, inovasi teknologi, dan kontribusi ekonomi nasional.

    Metode ini memprioritaskan operator berkualitas tinggi untuk percepatan coverage dan kualitas layanan, tetapi dikritik karena kurang transparan dan dikhawatirkan terjadi persengkongkolan dibanding lelang harga terbuka. Di Indonesia, beauty contest pernah diterapkan pada tender frekuensi 2,1 GHz untuk hindari perang harga antar operator.

    Pekerja memperbaiki jaringan telekomunikasi

    Sebelumnya, dalam Bisnis Indonesia Forum: Menanti Frekuensi Baru Demi Akselerasi Digital dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kantor Bisnis Indonesia, Selasa (23/12/2025), Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyarankan pemerintah untuk menerapkan skema beauty contest berbasis komitmen pembangunan, ketimbang lelang harga, dalam rencana pembukaan pita frekuensi 2,6 GHz dan 700 MHz untuk pengembangan jaringan 5G nasional.

    Direktur Eksekutif ATSI Marwan O. Baasir menilai beban regulatory charge yang ditanggung industri operator seluler di Indonesia sudah terlalu tinggi dan berpotensi menggerus kesehatan industri apabila skema lelang harga tetap dipertahankan. 

    Saat ini, rasio regulatory charge Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi industri telekomunikasi Indonesia tercatat di atas 12,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara ASEAN yang berada di bawah 5%, rasio global sekitar 7%, serta kawasan Asia Pasifik (APAC) sebesar 8,7%.

    Berdasarkan analisis internal ATSI, estimasi regulatory charge secara industri berpotensi melonjak hingga lebih dari 28% apabila seleksi pita frekuensi 700 MHz, 2,6 GHz, 3,5 GHz, dan 26 GHz masih menggunakan skema seleksi serta formula BHP yang sama seperti saat ini.

    “Itu bisa lebih di atas 12,2%, kalau skemanya masih seleksi dan BHP masih seperti sekarang. Masih lelang dan bukan beauty contest ya maka akan seperti itu,” kata Marwan 

    Marwan menambahkan, sejumlah negara telah mulai mengubah pendekatan dalam seleksi spektrum. Bahkan, Amerika Serikat (AS) disebut telah beralih ke pendekatan beauty contest. 

    Menurut ATSI, skema tersebut memungkinkan pemerintah menilai kesiapan serta komitmen operator dalam membangun jaringan, tidak semata-mata berdasarkan kemampuan membayar.

    “Beauty contest itu tiga kandidat yang ikut tiga kandidat yang menang. Namun harganya nanti ditentukan,” kata Marwan.

    Saat ini, operator seluler di Indonesia terdiri dari Telkomsel, XLSMART, dan Indosat. Marwan menyebutkan, total spektrum yang digunakan industri seluler baru mencapai sekitar 1.012 MHz, sehingga ruang untuk ekspansi jaringan 5G masih terbuka lebar.

    Dia menjelaskan, rencana pembukaan pita 700 MHz (low band) serta pita 2,6 GHz dan 3,5 GHz (mid band) perlu dikaji secara matang, terutama terkait kebutuhan bandwidth riil untuk layanan 5G. 

    Menurut ATSI, tambahan bandwidth tetap diperlukan, baik di low band maupun mid band, guna menjaga keseimbangan antara cakupan dan kapasitas jaringan.

    Berdasarkan studi GSMA, dalam periode 2024–2030, teknologi 5G diperkirakan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp650 triliun atau sekitar US$41 miliar. 

    Pada 2030, kontribusi 5G diproyeksikan mencapai 0,6% terhadap PDB atau sekitar Rp172 triliun.

    Namun demikian, Marwan menilai kontribusi tersebut masih bersifat makro dan belum sepenuhnya tercermin pada pendapatan operator seluler.

    “Jadi 0,6 [kontribusi 5G] ini untuk operator-nya masih belum kelihatan, sebenarnya para operator melihat,“ katanya.

  • Laju Trafik Internet Nataru 2025 di Bawah Prediksi, Bencana Aceh-Sumatra Disorot

    Laju Trafik Internet Nataru 2025 di Bawah Prediksi, Bencana Aceh-Sumatra Disorot

    Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan trafik layanan data selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 tercatat lebih rendah dari proyeksi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). 

    Jika sebelumnya Komdigi memperkirakan lonjakan trafik dapat mencapai 30%, realisasi di lapangan menunjukkan peningkatan yang lebih moderat. PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatat kenaikan trafik sekitar 13%, sementara PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) sekitar 12% dibandingkan dengan hari biasa.

    Pengamat telekomunikasi Kamilov Sagala menilai faktor non-teknis turut berkontribusi signifikan terhadap lebih rendahnya realisasi trafik dibandingkan proyeksi awal. 

    Dia menyoroti dampak bencana alam yang terjadi di berbagai daerah selama periode Nataru, yang menyebabkan gangguan hingga kerusakan infrastruktur telekomunikasi.

    “Banyak infrastruktur yang tumbang, walaupun bisa diatasi tapi ya sudah terjadi ya masih repot gitu,” kata Kamilov kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).

    Menurut Kamilov, meskipun operator telekomunikasi telah menyiapkan jaringan untuk menghadapi lonjakan trafik selama musim liburan, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya berjalan sesuai ekspektasi akibat bencana alam yang meluas.

    Dia menjelaskan, bencana di berbagai wilayah, khususnya di Sumatera dan Aceh, menyebabkan kerusakan infrastruktur telekomunikasi yang membutuhkan waktu untuk diperbaiki. 

    Kondisi tersebut berdampak pada penurunan trafik data di sejumlah lokasi, meskipun tidak seluruh wilayah terdampak memiliki laporan yang lengkap.

    Kamilov menambahkan pada dasarnya seluruh operator telah siap menghadapi lonjakan trafik selama periode Natal dan Tahun Baru. 

    Namun, bencana yang terjadi di beberapa provinsi bahkan secara luas di Indonesia membuat kenaikan trafik tidak merata. Banyak titik yang sebelumnya diproyeksikan mengalami peningkatan justru tidak mencatat lonjakan sesuai harapan.

    Wilayah Jawa yang biasanya menjadi kontributor utama trafik data juga terdampak kondisi cuaca ekstrem.

    “Kalau di Jawa kan selain juga ada banjir, juga ada angin ribut dan segala macam. Itu salah satu penyebab trafik itu jadi tidak meningkat,” ujarnya.

    Selain faktor bencana, Kamilov juga menilai tren penggunaan layanan digital selama libur Nataru mengalami perubahan dibandingkan periode sebelumnya. 

    Menurutnya, masyarakat kini lebih banyak mengakses layanan berbasis gim, media sosial, dan layanan streaming video.

    “Kalau lihat dari sisi tren lanjutan trafik, ada perubahan ya dari libur natal dan tahun baru. Memang saya lihat dari perkembangannya ada masyarakat itu lebih cenderung fokus ke game ya, dan berikutnya media sosial dan streaming video,” ungkapnya.

    Sementara itu, Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Joseph Matheus Edward, menilai secara umum karakteristik trafik selama periode Nataru relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

    “Saat ini trafik operator seluler didominasi data atau internet periode natal dan tahun baru hampir sama dengan tahun lalu, hanya sekarang menggunakan layanan OTT,” katanya.

    Ian menjelaskan pengalaman operator seluler dalam menghadapi lonjakan trafik tahunan membuat kualitas layanan tetap terjaga, baik dari sisi jaringan maupun pengalaman pengguna. 

    Dia juga menyoroti adanya pengalihan trafik yang mengikuti pergerakan pengguna serta meningkatnya kebutuhan layanan digital yang menuntut kapasitas bandwidth besar, stabilitas tinggi, dan latensi rendah.

    “Tentu pengalihan trafik sesuai dengan pergerakan pengguna dan layanan yg memerlukan bandwidth yang semakin besar dan stabil, latency/delay yang rendah dan content yang mendekati pelanggan,” katanya.

  • Rerata Kecepatan Seluler 60 Mbps, Fixed Broadband 45 Mbps

    Rerata Kecepatan Seluler 60 Mbps, Fixed Broadband 45 Mbps

    Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menetapkan sejumlah target kinerja pada 2026, termasuk penguatan infrastruktur telekomunikasi, hingga kecepatan internet seluler dan fixed broadban.

    Target tersebut tercantum dalam Matriks Pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta sumber pendanaan lainnya yang sah untuk kegiatan dan proyek prioritas Komdigi periode 2025–2029.

    Pada 2026, peningkatan kualitas konektivitas internet menjadi salah satu sasaran utama. Untuk layanan internet bergerak (mobile broadband), pemerintah menargetkan kecepatan rata-rata 60 Mbps pada 2026, meningkat dari 50 Mbps pada 2025. Target tersebut selanjutnya ditetapkan naik menjadi 70 Mbps pada 2027, 80 Mbps pada 2028, dan mencapai 100 Mbps pada 2029.

    Sementara itu, kecepatan rata-rata internet tetap (fixed broadband) ditargetkan mencapai 45 Mbps pada 2026, meningkat dibandingkan 37 Mbps pada 2025. Target ini kemudian dinaikkan menjadi 55 Mbps pada 2027, 70 Mbps pada 2028, dan mencapai 100 Mbps pada 2029.

    Di bidang layanan publik telekomunikasi, Komdigi menargetkan 100% penanganan pengajuan proses perizinan telekomunikasi dapat diselesaikan pada 2026. Target ini didukung dengan pemeliharaan dua unit aplikasi sistem perizinan telekomunikasi agar tetap beroperasi secara optimal.

    Pada aspek kebijakan spektrum frekuensi radio, Komdigi menargetkan penyusunan dua rekomendasi kebijakan penyediaan spektrum frekuensi radio untuk layanan broadband sepanjang 2026. Selain itu, layanan pengawasan dan pengendalian spektrum frekuensi radio ditargetkan tetap berjalan melalui satu layanan aktif.

    Dalam rangka perlindungan pengguna, pemerintah menargetkan penyelenggaraan satu layanan perlindungan pengguna perangkat telekomunikasi pada 2026. Di sisi lain, sistem monitoring frekuensi radio ditargetkan diperkuat melalui penyediaan 21 unit perangkat monitoring frekuensi radio.

    Di sektor pos dan logistik digital, Komdigi menargetkan peningkatan Integrated Index for Postal Development (2IPD) menjadi 65 poin pada 2026. Selain itu, pemerintah menargetkan fasilitasi digitalisasi bagi 20 badan usaha penyelenggara pos pada tahun ini.

    Untuk mendukung pemerataan akses internet, Komdigi menargetkan fasilitasi penerapan infrastruktur pasif bersama di 20 kabupaten/kota pada 2026. Pemerintah juga menargetkan penyediaan akses internet fixed broadband untuk 246 desa melalui dukungan konektivitas bagi koperasi desa Merah Putih.

    Di bidang layanan pendidikan, Komdigi menargetkan fasilitasi dukungan layanan jaringan hingga ke homepass untuk empat lembaga Sekolah Unggulan Garuda dan 100 lembaga sekolah rakyat pada 2026.

    Sementara itu, penguatan sistem pemantauan layanan telekomunikasi juga menjadi fokus pada tahun ini. Komdigi menargetkan pengembangan satu sistem informasi monitoring telekomunikasi, pengoperasian satu pusat monitoring telekomunikasi, serta pengadaan 24 unit perangkat pengukuran Quality of Service (QoS) sepanjang 2026.

  • Harga Smartphone Diramal Makin Mahal Imbas Pasokan Cip Seret

    Harga Smartphone Diramal Makin Mahal Imbas Pasokan Cip Seret

    Bisnis.com, JAKARTA — Kekurangan pasokan cip dan memori, terutama dynamic random-access memory (DRAM) di pasar global, diprediksi berdampak terhadap penjualan smartphone pada 2026. Paling nyata adalah adanya kenaikan harga terhadap sejumlah ponsel pintar.

    Analis Pasar Gawai dari Reasense Aryo Meidianto Aji menilai dampak kenaikan harga komponen tidak akan merata di seluruh segmen, dengan tekanan paling besar dirasakan pada ponsel entry level dan menengah.

    Menurutnya, lonjakan harga chipset dan memori sulit sepenuhnya diserap produsen di segmen bawah karena margin keuntungan yang tipis. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual sekitar 5%–15%. 

    “Di segmen premium, dampaknya relatif lebih kecil karena margin yang tinggi. Namun, mereka mungkin menggunakan momentum ini untuk menaikkan harga dengan alasan peningkatan teknologi, bukan hanya kenaikan komponen,” tuturnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

    Kendati demikian, terdapat faktor penyeimbang dari sisi manufaktur. Kematangan teknologi chipset 4 nanometer (nm) dan 3 nm berpeluang menurunkan biaya per unit. Namun, harga diperkirakan tetap berada di level tinggi apabila permintaan global terhadap cip masih kuat.

    Di tengah tekanan harga, Aryo melihat ruang ekspansi di pasar negara berkembang seperti Indonesia masih terbuka. Tingkat penetrasi smartphone dinilai belum jenuh, terutama di wilayah tier dua dan tiga serta kelompok usia yang lebih tua. 

    Akan tetapi, pola pertumbuhan akan bergeser dari pembeli pertama (first time buyer) ke konsumen yang melakukan peningkatan perangkat (upgrader). Banyak konsumen ingin naik kelas dari entry level ke mid range untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik. 

    Pangsa pasar feature phone juga masih ada dan konversi pengguna ini ke smartphone entry level akan menjadi faktor pendorong peningkatan volume penjualan.

    “Kuncinya adalah value for money. Ponsel dengan spesifikasi memadai di harga terjangkau akan tetap laku, sekalipun harganya naik sedikit dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Aryo.

    Tekanan daya beli diperkirakan berjalan beriringan dengan pergeseran segmen. Sebagian konsumen akan menunda pembelian atau melakukan riset lebih mendalam sebelum membeli. Di sisi lain, segmen menengah diproyeksikan menjadi ‘sweet spot’, karena menawarkan fitur mendekati flagship dengan harga jauh lebih terjangkau.

    Selain itu, pasar ponsel refurbished dan pre-owned diperkirakan tumbuh seiring semakin terstrukturnya ekosistem, termasuk kehadiran garansi resmi. Segmen ini menarik bagi konsumen yang ingin perangkat kelas atas dengan harga lebih rendah sekaligus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan. 

    Pada segmen entry level, konsumen cenderung lebih realistis dengan fokus pada kualitas kamera utama, daya tahan baterai, dan performa harian.

    Untuk 2026, Aryo memproyeksikan pertumbuhan paling kuat justru terjadi di dua segmen yang tampak berlawanan. Segmen premium dengan harga di atas US$600 atau Rp10 jutaan tetap didorong oleh konsumen loyal yang memandang smartphone sebagai simbol gaya hidup dan investasi teknologi. 

    Inovasi seperti layar lipat dan kecerdasan buatan (AI) di perangkat menjadi pembenaran harga tinggi. Di sisi lain, segmen entry level high di kisaran US$150 atau Rp2 jutaan diperkirakan menjadi arena persaingan paling ketat karena menawarkan keseimbangan fitur dan harga.

    Sementara itu, Aryo mengatakan, kenaikan harga juga diperkirakan memperpanjang siklus penggantian perangkat. Dari rata-rata 18–24 bulan, periode tersebut bisa meluas menjadi 24–36 bulan. Dampaknya, volume penjualan unit berpotensi stagnan atau sedikit menurun, meski nilai pasar masih bisa tumbuh seiring kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP).

    Dalam situasi ini, inovasi dinilai menjadi pembenaran utama bagi konsumen. Aryo menyebut, fitur AI on device, efisiensi energi, serta konektivitas 5G diperkirakan menjadi daya tarik utama. AI generatif untuk fotografi dan produktivitas, janji baterai tahan seharian untuk pengguna berat, serta manfaat 5G yang bergeser ke latensi rendah dan stabilitas koneksi menjadi nilai tambah yang signifikan.

    “Kunci bagi semua pemain adalah memahami dengan sangat dalam segmen konsumen yang mereka targetkan dan memberikan nilai yang tidak sekadar pada spesifikasi di atas kertas saja,” tegasnya.

    Lebih lanjut, Aryo berpandangan bahwa kenaikan harga komponen juga membuka peluang sekaligus tantangan bagi merek baru dan pemain lokal. Daya tawar yang lebih lemah dalam pengadaan komponen menjadi hambatan, namun masih terdapat celah melalui strategi hiper-lokalisasi, penggarapan ceruk spesifik, serta kolaborasi dengan operator seluler.

    Di tengah harga yang meningkat, skema pembiayaan, bundling, dan program tukar tambah diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan pasar. Skema cicilan, bundel paket data jangka panjang, serta trade-in dinilai mampu menurunkan beban harga di muka sekaligus menjaga loyalitas konsumen.

    Adapun, analisis Counterpoint sebelumnya mencatat kemungkinan naiknya rata-rata harga jual smartphone (ASP) sekitar 6,9% secara tahunan akibat kelangkaan komponen. Direktur riset di Counterpoint MS Hwang mengatakan, untuk ponsel pintar entry level yang harganya di bawah US$200 (Rp3 jutaan), biaya produksi (bill of materials) telah meningkat 20% hingga 30% sejak awal tahun. Biaya produksi adalah biaya untuk memproduksi satu unit ponsel pintar.

    Sementara itu, segmen smartphone kelas menengah dan atas mengalami kenaikan biaya material sebesar 10% hingga 15%. “Harga memori bisa naik lagi sebesar 40% hingga kuartal kedua tahun 2026, yang mengakibatkan biaya BoM (bill of materials) meningkat antara 8% hingga lebih dari 15% di atas level tinggi saat ini,” ujarnya, dikutip Bisnis.

    Peningkatan biaya komponen ini diperkirakan tidak hanya memicu harga jual yang lebih tinggi, tetapi juga menekan permintaan global. Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone secara global bisa turun sekitar 2,1% pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya akibat tekanan harga tersebut. 

  • Trafik Data di Sulawesi dan Maluku Tertinggi pada Nataru 2025

    Trafik Data di Sulawesi dan Maluku Tertinggi pada Nataru 2025

    Bisnis.com, JAKARTA— PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mencatat Maluku dan Irian Jaya menjadi wilayah dengan pertumbuhan trafik layanan telekomunikasi tertinggi selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 di seluruh wilayah operasional perseroan.

    Direktur Utama Telkomsel Nugroho menyampaikan hampir seluruh produk layanan Telkomsel mencatatkan pertumbuhan trafik sepanjang periode Nataru, dengan wilayah Indonesia Timur menjadi kontributor tertinggi.

    “Kalau dari pantauan, dari tahun ke tahun, untuk periode Nataru ini kami catatkan produk yang positif dari sisi trafik hampir semuanya tumbuh. Yang paling tinggi di area 4, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya,” kata Nugroho.

    Nugroho menjelaskan wilayah Sumatra yang sebelumnya diperkirakan mencatat pertumbuhan paling rendah akibat bencana banjir dan tanah longsor justru tetap menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan pemantauan Telkomsel, trafik di wilayah tersebut masih tumbuh di atas 5%.

    Nugroho mengatakan kondisi tersebut menunjukkan proses pemulihan jaringan berlangsung relatif cepat.

    “Jadi walaupun terjadi beberapa gangguan, kami bisa pulih,” imbuhnya.

    Lebih lanjut, Nugroho mengungkapkan lonjakan trafik tertinggi selama periode Nataru terjadi pada layanan video streaming dan media sosial. Trafik layanan video streaming tumbuh 20% atau mencapai 27 petabyte (PB), sementara trafik media sosial meningkat 13% menjadi 18 PB.

    Seiring dengan peningkatan trafik tersebut, Telkomsel menaruh perhatian pada kualitas layanan dan kecepatan penanganan keluhan pelanggan.

    “Jadi kami juga harus memastikan jika ada komplain, respons kami harus cepat,” ucapnya.

    Sebelumnya, Telkomsel mencatat peningkatan trafik layanan telekomunikasi secara keseluruhan selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Puncak payload trafik data tercatat sebesar 69,12 PB per 1 Januari 2026, meningkat 12,42% dibandingkan rata-rata hari biasa.

    Lonjakan signifikan juga terjadi pada layanan pesan singkat (SMS) yang meningkat 51,02% per 31 Desember 2025 dibandingkan hari normal. Sementara itu, trafik layanan suara (voice) mengalami kenaikan 1,37% dibandingkan rata-rata harian, dengan puncak terjadi per 22 Desember 2025.

    Peningkatan trafik turut tercatat pada sejumlah layanan digital dengan waktu puncak yang berbeda selama periode Nataru. Layanan video streaming mencatat trafik sebesar 27,12 PB per 28 Desember 2025 atau meningkat 20,13% dibandingkan hari biasa.

    Layanan media sosial mencapai trafik sebesar 17,31 PB per 1 Januari 2026 dengan pertumbuhan 13,87%. Adapun layanan komunikasi digital mencatat trafik sebesar 10,33 PB dengan lonjakan 21,31% per 31 Desember 2025.

    Selain itu, trafik e-commerce tercatat mencapai 1,46 PB per 24 Desember 2025 atau meningkat 13,15% dibandingkan hari normal. Layanan online gaming mencatat trafik sebesar 2,17 PB per 25 Desember 2025, meningkat 33,8% selama periode Nataru.

  • Ilmuwan Sebut 2026 Pembuktian Manfaat dan Monetisasi AI, Bukan Perbesar Skala

    Ilmuwan Sebut 2026 Pembuktian Manfaat dan Monetisasi AI, Bukan Perbesar Skala

    Bisnis.com, JAKARTA — Ilmuwan menekankan bahwa 2026 menjadi tahun pembuktian kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi wajib membuktikan bahwa teknologi baru yang mereka kembangkan bermanfaat dan menghasilkan uang. 

    AI tidak bisa terus menjadi lebih pintar hanya dengan dibuat lebih besar dan lebih mahal. Awalnya, banyak peneliti percaya bahwa jika data diperbanyak dan komputer dipercepat, AI pasti akan semakin pintar. Namun, ternyata pendekatan ini kurang tepat.

    Dilansir dari  TechCrunch Senin (05/01/2026), mantan kepala ilmuwan Meta AI, Yann LeCun sudah sejak lama menolak anggapan bahwa AI harus terus dibuat lebih besar dan menekankan bahwa yang lebih penting adalah merancang sistem AI yang lebih pintar dan efisien.

    Pada tahun 2012, para peneliti menunjukkan bahwa AI bisa belajar mengenali gambar dengan melihat jutaan contoh. Cara ini memang membutuhkan komputer yang sangat kuat, tetapi berhasil dan mendorong perkembangan AI selama bertahun-tahun. 

    Perkembangan ini mencapai puncaknya sekitar tahun 2020, ketika OpenAI merilis GPT-3. Model ini dibuat jauh lebih besar, dan hasilnya AI tiba-tiba bisa melakukan hal-hal seperti menulis kode dan berpikir logis tanpa diajari secara khusus. Sejak saat itu, banyak orang percaya bahwa semakin besar AI dibuat, semakin pintar hasilnya. Masa ini dikenal sebagai era penskalaan.

    Namun, masalah mulai muncul. Peneliti kini menyadari bahwa AI tidak lagi meningkat seperti dulu, sementara biaya yang diperlukan semakin mahal. Membuat AI lebih besar tidak lagi memberikan peningkatan signifikan. Oleh karena itu, industri AI diperkirakan akan kembali mencari desain dan metode baru agar AI bisa berkembang lebih baik.

    Manusia belajar dengan mengalami langsung bagaimana dunia bekerja, bukan hanya dari kata-kata. Sementara, AI yang ada sekarang sebenarnya tidak benar-benar memahami dunia, AI hanya menebak kata atau jawaban berikutnya.

    Karena itu, para peneliti mulai mengembangkan model dunia, yaitu AI yang belajar memahami ruang, gerakan, dan hubungan sebab-akibat agar bisa memprediksi dan bertindak lebih masuk akal. 

    Perkembangan ini diperkirakan akan semakin terlihat pada 2026, dengan banyak perusahaan dan peneliti besar mulai serius mengembangkannya. Dampak awalnya kemungkinan besar akan terlihat di video game dan dunia virtual, yang menjadi tempat aman untuk melatih AI sebelum digunakan di dunia nyata.

    Di saat yang sama, agen AI juga mulai benar-benar berguna karena kini bisa terhubung langsung ke sistem kerja nyata, sehingga tidak lagi sekadar demo, tetapi dapat membantu pekerjaan sehari-hari manusia.

    Banyak orang khawatir bahwa AI yang bisa bekerja sendiri (agen AI) akan membuat manusia kehilangan pekerjaan. Namun, Katanforoosh dari Workera mengatakan hal itu tidak akan terjadi. 

     “2026 akan menjadi tahunnya manusia,” kata Katanforoosh . 

    Menurutnya, tahun 2026 justru akan menjadi tahun manusia  karena AI belum sepenuhnya bisa bekerja otomatis seperti yang dibayangkan. Alih-alih menggantikan manusia, AI akan lebih banyak digunakan untuk membantu manusia bekerja lebih efektif.  

    Katanforoosh memprediksi akan muncul banyak pekerjaan baru terkait AI, seperti mengatur tata kelola, keamanan, transparansi, dan manajemen data, sehingga tingkat pengangguran tetap rendah, di bawah 4%.

    Selain itu, perkembangan teknologi AI juga memungkinkan munculnya perangkat fisik cerdas, seperti robot, mobil otonom, drone, dan perangkat wearable (yang bisa dipakai di tubuh). 

    Agar semua perangkat ini bekerja lancar, perusahaan penyedia jaringan akan berusaha meningkatkan infrastruktur mereka. Jadi, tahun 2026 akan menjadi tahun di mana AI tidak hanya ada di layar komputer, tetapi mulai hadir di kehidupan sehari-hari lewat perangkat cerdas. (Nur Amalina)

  • Pedagang HP di Mal Tak Punya Pilihan, Harga Smartphone Dikatrol Pembeli Sepi

    Pedagang HP di Mal Tak Punya Pilihan, Harga Smartphone Dikatrol Pembeli Sepi

    Bisnis.com, JAKARTA — Pasar smartphone Indonesia memasuki 2026 dengan harga perangkat yang makin mahal imbas kelangkaan cip. Para pedagang HP ritel di pusat-pusat perbelanjaan elektronik melaporkan adanya penurunan penjualan sepanjang tahun lalu. 

    Berdasarkan pengakuan pedagang di lapangan, penjualan ponsel secara keseluruhan pada 2025 tercatat menurun jika dibandingkan dengan capaian penjualan pada 2024.

    Penurunan ini dirasakan cukup tajam, di mana tahun 2025 dianggap lebih berat bagi pelaku usaha dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini berdampak pada pendapatan yang makin ramping.

    Tekanan terhadap pasar ritel ini tidak datang secara tiba-tiba di awal tahun baru. Para pedagang mengungkapkan bahwa harga ponsel sebenarnya sudah mulai merangkak naik sejak akhir tahun lalu. 

    “Dari sebelum pergantian tahun sebetulnya harga HP sudah mulai naik,” kata Lili pedagang HP di Supermall Karawaci Tangerang ke Bisnis Senin (05/01/2026).

    Dia mengungkapkan fenomena ini terlihat pada berbagai merek besar seperti Oppo dan Vivo yang telah menaikkan harga jual produk mereka sebelum Desember.

    Pedagang ponsel juga mengakui tidak memiliki pilihan selain mengikuti arus kenaikan harga tersebut. 

    “Mau tidak mau harus ngikut (harga). Kalau dia naik ya naik,” tambahnya.

    Kenaikan harga di tingkat ritel lokal ini merupakan dampak langsung dari gejolak rantai pasok dunia. Melansir dari Bisnis, International Data Corporation (IDC) memperkirakan lonjakan harga smartphone tahun ini akibat kekurangan Random Access Memory (RAM) karena fokusnya pabrikan besar terhadap kecerdasan artifisial (AI). 

    Pasokan RAM yang biasanya dialokasikan untuk perangkat konsumen seperti ponsel, kini bergeser secara besar untuk mendukung pusat data AI yang membutuhkan daya pemrosesan tinggi.

    Lili menilai penyebab lesunya penjualan di pasar juga terpengaruh karena kondisi ekonomi Indonesia yang sedang melemah. 

    Hal ini secara langsung menggerus daya beli masyarakat terhadap barang mewah seperti smartphone. Menurutnya, pembelian kini lebih didasarkan pada kebutuhan mendesak, bukan lagi gaya hidup.

    Selain itu, dalam keterbatasan anggaran dan harga HP yang kian mahal, preferensi konsumen terbagi menjadi dua segmen yang jelas berdasarkan tingkat pemahaman teknologi mereka.

    Bagi masyarakat awam atau mereka yang membutuhkan ponsel untuk berdagang, spesifikasi utama yang dicari adalah kualitas kamera dan kapasitas RAM. 

    “Kebanyakan sih orang-orang intinya kamera sama RAM yang dibutuhkan mereka,”

    Kelompok itu cenderung mengabaikan detail teknis lainnya seperti chipset, asalkan kapasitas memori besar dan hasil foto yang bagus untuk disebarkan di sosial media.

    Sebaliknya, konsumen yang lebih mengerti teknologi, seperti pelajar atau gamers, memiliki prioritas yang berbeda. Mereka lebih fokus mencari prosesor yang mumpuni untuk mendukung kinerja berat dan bermain game, di samping kapasitas RAM yang memadai. 

    Namun, bagi pasar low entry, loyalitas terhadap merek atau brand masih mendominasi keputusan pembelian. Merek-merek ternama masih menjadi pilihan utama meskipun spesifikasinya standar.

    Menghadapi tahun 2026, industri smartphone dunia diprediksi akan mengalami penurunan pengiriman sebesar 2,1%. Bagi pasar Indonesia, kombinasi antara harga komponen yang meroket akibat AI dan daya beli yang belum pulih sepenuhnya.  Tentunya hal ini menuntut ketahanan ekstra dari para pelaku ritel untuk tetap bertahan di tengah badai ekonomi teknologi ini. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Finlandia Temukan Teknologi untuk Kirim Listrik Tanpa Kabel, Seperti Wi-Fi

    Finlandia Temukan Teknologi untuk Kirim Listrik Tanpa Kabel, Seperti Wi-Fi

    Bisnis.com, JAKARTA — Para insinyur di Finlandia baru-baru ini berhasil menunjukkan sebuah teknologi yang cukup mengagumkan, mengirim listrik melalui udara tanpa kabel, colokan, atau kontak fisik apa pun. 

    Hal ini berarti, listrik bisa berpindah dari sumber energi ke perangkat hanya melalui udara, layaknya sinyal Wi-Fi yang kita gunakan sehari-hari,  tetapi bukan mengirim data, melainkan mengirim energi listrik yang bisa dipakai langsung oleh perangkat elektronik. 

    Dilansir dari Tech Times, Senin (5/1/2026) teknologi ini memanfaatkan medan elektromagnetik atau frekuensi radio yang dikendalikan secara presisi untuk mentransfer energi dari satu titik ke titik lain tanpa kabel. 

    Perangkat yang dilengkapi alat penerima khusus dapat menangkap energi tersebut selama berada dalam jangkauan medan energi itu. 

    Cara kerjanya mirip dengan teknologi wireless power transfer yang sudah ada sekarang seperti pengisian daya tanpa kabel (wireless charging) untuk ponsel  tapi versi terbaru ini bisa bekerja lebih jauh dari hanya beberapa sentimeter. 

    Pada teknologi lama, listrik hanya bisa ditransfer sangat dekat seperti mengisi daya telepon di atas pad charger. 

    Saat ini fokus pengujian teknologi ini adalah pada perangkat-perangkat kecil yang membutuhkan daya rendah, seperti sensor pintar, perangkat Internet of Things (IoT), telepon yang bisa terus menerima listrik tanpa perlu kabel atau baterai besar. 

    Jika berhasil dikembangkan lebih jauh, teknologi ini bisa menghilangkan baterai di banyak perangkat kecil, mengurangi limbah elektronik dan menyederhanakan cara kita mengisi daya gadget di rumah atau kantor karena perangkat akan menerima listrik secara otomatis saat berada di area energinya. 

    Teknologi transfer listrik nirkabel memiliki potensi besar untuk digunakan di tempat-tempat yang selama ini sulit atau tidak mungkin dipasang kabel. Misalnya, di lokasi terpencil di mana jaringan listrik biasa sulit dijangkau, di perangkat medis yang ditanam di dalam tubuh pasien, atau pada jaringan rumah pintar yang tidak mudah mencapai stopkontak biasa. 

    Dengan adanya listrik nirkabel, perangkat-perangkat seperti sensor, alat kesehatan, atau gadget rumah bisa terus mendapat daya tanpa perlu kabel panjang atau sering mengganti baterai, sehingga hidup menjadi lebih praktis dan efisien. 

    Meskipun uji coba awal menunjukkan bahwa listrik bisa dikirim melalui udara, teknologi ini belum siap digunakan secara luas di rumah atau di seluruh kota. 

    Masih ada beberapa tantangan penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu, seperti meningkatkan efisiensi energi agar tidak banyak terbuang ketika jarak antara pemancar dan penerima jauh, memperluas jarak jangkauan agar bisa mencakup ruang yang lebih besar, serta memastikan keamanan dan aturan penggunaan supaya teknologi ini aman bagi manusia, hewan, dan perangkat lain di kehidupan sehari-hari. (Nur Amalina)

  • Finlandia Temukan Teknologi untuk Kirim Listrik Tanpa Kabel, Seperti Wi-Fi

    Finlandia Temukan Teknologi untuk Kirim Listrik Tanpa Kabel, Seperti Wi-Fi

    Bisnis.com, JAKARTA — Para insinyur di Finlandia baru-baru ini berhasil menunjukkan sebuah teknologi yang cukup mengagumkan, mengirim listrik melalui udara tanpa kabel, colokan, atau kontak fisik apa pun. 

    Hal ini berarti, listrik bisa berpindah dari sumber energi ke perangkat hanya melalui udara, layaknya sinyal Wi-Fi yang kita gunakan sehari-hari,  tetapi bukan mengirim data, melainkan mengirim energi listrik yang bisa dipakai langsung oleh perangkat elektronik. 

    Dilansir dari Tech Times, Senin (5/1/2026) teknologi ini memanfaatkan medan elektromagnetik atau frekuensi radio yang dikendalikan secara presisi untuk mentransfer energi dari satu titik ke titik lain tanpa kabel. 

    Perangkat yang dilengkapi alat penerima khusus dapat menangkap energi tersebut selama berada dalam jangkauan medan energi itu. 

    Cara kerjanya mirip dengan teknologi wireless power transfer yang sudah ada sekarang seperti pengisian daya tanpa kabel (wireless charging) untuk ponsel  tapi versi terbaru ini bisa bekerja lebih jauh dari hanya beberapa sentimeter. 

    Pada teknologi lama, listrik hanya bisa ditransfer sangat dekat seperti mengisi daya telepon di atas pad charger. 

    Saat ini fokus pengujian teknologi ini adalah pada perangkat-perangkat kecil yang membutuhkan daya rendah, seperti sensor pintar, perangkat Internet of Things (IoT), telepon yang bisa terus menerima listrik tanpa perlu kabel atau baterai besar. 

    Jika berhasil dikembangkan lebih jauh, teknologi ini bisa menghilangkan baterai di banyak perangkat kecil, mengurangi limbah elektronik dan menyederhanakan cara kita mengisi daya gadget di rumah atau kantor karena perangkat akan menerima listrik secara otomatis saat berada di area energinya. 

    Teknologi transfer listrik nirkabel memiliki potensi besar untuk digunakan di tempat-tempat yang selama ini sulit atau tidak mungkin dipasang kabel. Misalnya, di lokasi terpencil di mana jaringan listrik biasa sulit dijangkau, di perangkat medis yang ditanam di dalam tubuh pasien, atau pada jaringan rumah pintar yang tidak mudah mencapai stopkontak biasa. 

    Dengan adanya listrik nirkabel, perangkat-perangkat seperti sensor, alat kesehatan, atau gadget rumah bisa terus mendapat daya tanpa perlu kabel panjang atau sering mengganti baterai, sehingga hidup menjadi lebih praktis dan efisien. 

    Meskipun uji coba awal menunjukkan bahwa listrik bisa dikirim melalui udara, teknologi ini belum siap digunakan secara luas di rumah atau di seluruh kota. 

    Masih ada beberapa tantangan penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu, seperti meningkatkan efisiensi energi agar tidak banyak terbuang ketika jarak antara pemancar dan penerima jauh, memperluas jarak jangkauan agar bisa mencakup ruang yang lebih besar, serta memastikan keamanan dan aturan penggunaan supaya teknologi ini aman bagi manusia, hewan, dan perangkat lain di kehidupan sehari-hari. (Nur Amalina)

  • Telkomsel Catat Lonjakan Trafik 12,4% Nataru 2025/2026, Ditopang Video Streaming

    Telkomsel Catat Lonjakan Trafik 12,4% Nataru 2025/2026, Ditopang Video Streaming

    Bisnis.com, JAKARTA— PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mencatat peningkatan trafik layanan telekomunikasi hingga dua digit selama periode libur Natal dan Tahun Baru (NARU) 2025/2026 dibandingkan dengan hari biasa. 

    Dalam data yang dipaparkan Direktur Utama Telkomsel Nugroho, Senin (5/1/2025), diketahui selama periode NARU, Telkomsel mencatat puncak payload trafik data sebesar 69,12 petabyte (PB) per 1 Januari 2026, meningkat 12,42% dibandingkan rata-rata hari biasa.

    Selain itu, layanan SMS mengalami lonjakan, dengan kenaikan 51,02% tertinggi per 31 Desember 2025 dibandingkan hari normal. Sementara itu, trafik suara (voice) mencapai lonjakan 1,37% dibandingkan rata-rata harian per 22 Desember 2025. 

    Peningkatan juga tercatat pada sejumlah layanan digital dengan waktu puncak yang berbeda-beda selama periode NARU. 

    Layanan video streaming mencatat trafik tertinggi sebesar 27,12 PB per 28 Desember 2025, atau meningkat 20,13% dibandingkan hari biasa.  Media sosial mencapai 17,31 PB per 1 Januari 2026, tumbuh 13,87%.

    Layanan komunikasi digital mencatat trafik sebesar 10,33 PB dengan lonjakan 21,31% per 31 Desember 2025.

    Sementara itu, trafik e-commerce mencapai 1,46 PB per 24 Desember 2025, meningkat 13,15%. Adapun online gaming mencatat trafik tertinggi sebesar 2,17 PB per 25 Desember 2025, atau naik 33,8% dibandingkan hari normal.

    Telkomsel telah mengoperasikan lebih dari 5.000 BTS 5G di 59 kota/kabupaten, serta jaringan 4G LTE dengan cakupan lebih dari 97% wilayah populasi Indonesia. Kesiapan jaringan turut didukung melalui Network Drive Test 4G dan 5G sepanjang lebih dari 18.000 kilometer, pengoperasian 38 unit Combat (Compact Mobile BTS), serta pendirian 15 Posko Siaga Network di titik strategis.

    Selama periode NARU, Telkomsel menetapkan 437 titik keramaian (Point of Interest/POI) sebagai fokus penguatan jaringan. Titik tersebut terdiri atas 291 POI area khusus keramaian, 58 POI sektor transportasi, 20 POI jalur mudik, serta 68 POI area residensial dan rumah ibadah. Penentuan POI dilakukan berdasarkan analisis machine learning terhadap pertumbuhan trafik dan potensi ekonomi.

    Dalam menjaga kualitas jaringan selama lonjakan trafik, Telkomsel mengandalkan sistem Autonomous Network berbasis End-to-End Artificial Intelligence (AI). Sistem ini memungkinkan deteksi dini gangguan, analisis dan diagnosis jaringan, hingga penyelesaian gangguan secara otomatis di seluruh titik keramaian.

    Pengelolaan jaringan tersebut didukung oleh SmartCare (SQM/OTT), INAP Fault Management, serta CSO (Self Optimization) guna memastikan layanan tetap optimal selama periode libur panjang.