Category: Bisnis.com Tekno

  • Ketika Rugi Tanggung Jawab Siapa?

    Ketika Rugi Tanggung Jawab Siapa?

    Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah perlu mengeluarkan aturan yang tegas jika ingin melibatkan Danantara dalam merger Gojek-Grab, mengingat terdapat dana publik yang dikelola oleh badan tersebut. Regulasi akan mengatur mengenai hak dan kewajiban Danantara.  

    Pakar kebijakan publik Trubus Rahardiansyah menilai keterlibatan Danantara membutuhkan landasan regulasi yang jelas dan pengawasan ketat. Dia menyoroti dana Danantara berasal dari hasil efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sehingga tetap merupakan dana publik. 

    Karena itu, keterlibatan badan tersebut dalam aksi korporasi seperti merger Grab–GoTo berpotensi mengalihkan manfaat dana publik kepada entitas privat. Dia juga menyoroti risiko keuangan negara apabila investasi tersebut mengalami kerugian.

    “Ketika rugi, loss, itu siapa, dana publik siapa yang bertanggung jawab kan?” kata Trubus kepada Bisnis pada Senin (17/11/2025).

    Trubus menambahkan, negara pada prinsipnya tidak boleh berkompetisi dengan rakyatnya dalam mencari keuntungan, sehingga motif investasi pemerintah harus benar-benar berlandaskan kemanfaatan publik. 

    Ketika ditanya mengenai potensi monopoli pasar karena pangsa kedua perusahaan yang digabung dapat mencapai sekitar 90%, Trubus menyebut pemerintah cenderung melihat isu tersebut dari sudut pandang penyerapan tenaga kerja. 

    Namun dia mengingatkan model intervensi pemerintah dalam bisnis swasta harus dibatasi oleh aturan yang tegas dan transparan. 

    Sebagai perbandingan, Trubus menyinggung persoalan tata kelola proyek Kereta Cepat Whoosh yang sempat disorot KPK terkait transaksi lahan negara. 

    Menurutnya, contoh tersebut menunjukkan perlunya regulasi yang jelas agar pemanfaatan aset negara dalam proyek bisnis tidak menimbulkan kerancuan. 

    “Ini kan juga harus ada kejelasan, untuk bisa optimal menurut saya ini perlu aturan regulasi yang betul-betul rigid, transparan, terbuka, dan partisipatif,” ujarnya.

    Sebelumnya, Menteri Sekretariat Negara Indonesia Prasetyo Hadi mengungkapkan pembahasan rancangan peraturan presiden (perpres) tentang ojek daring kini memasuki tahap penyempurnaan bersama berbagai kementerian dan lembaga.  

    Regulasi itu akan mencakup pengaturan pembagian komisi mitra pengemudi serta skema penggabungan dua perusahaan aplikasi, Grab dan GoTo. Prasetyo menyebut adanya rencana penggabungan antara kedua perusahaan tersebut. “Rencana begitu,” kata Prasetyo di Istana Merdeka, Jakarta, akhir pekan lalu (7/11/2025). 

    Saat ditanya tentang kemungkinan keterlibatan Danantara, Prasetyo memberi isyarat adanya peran lembaga tersebut. Menurutnya, rencana penggabungan Grab dan GoTo masih berada pada tahap penjajakan untuk menentukan bentuk yang paling tepat.

    Beberapa opsi yang tengah dikaji mencakup skema merger maupun akuisisi. “Ya ini lagi dicari skemanya,” ujarnya.

    Prasetyo juga menekankan pembahasan penggabungan bukan bertujuan menciptakan monopoli, melainkan menjaga keberlanjutan industri transportasi daring.  Menurut dia, ekosistem ojol memiliki kontribusi besar bagi ekonomi rakyat melalui penciptaan lapangan kerja dan perputaran layanan. 

    “Karena bagaimanapun perusahaan ini adalah pelayanan yang di situ tercipta tenaga kerja, saudara-saudara kita yang menjadi mitra itu jumlahnya cukup besar, dan sekarang kita tersadar bahwa ojol adalah pahlawan ekonomi, menggerakkan ekonomi. Jadi tujuan utamanya arahnya ke situ,” kata Prasetyo.

  • Registrasi Kartu SIM dengan NIK Kerap Disalahgunakan untuk Penipuan-Spam

    Registrasi Kartu SIM dengan NIK Kerap Disalahgunakan untuk Penipuan-Spam

    Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membuka konsultasi publik terkait Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi Melalui Jaringan Bergerak Seluler. Regulasi disusun untuk mengurangi penipuan dan spam imbas lemahnya pendaftaran. 

    Regulasi baru ini disusun sebagai bagian dari program kerja Komdigi tahun anggaran 2025 dan ditujukan untuk memperbarui mekanisme registrasi pelanggan yang selama ini dinilai rawan penyalahgunaan identitas.

    Selama bertahun-tahun, proses registrasi kartu seluler mengacu pada ketentuan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021 yang mewajibkan penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (KK). 

    “Dalam implementasinya, registrasi pelanggan jasa telekomunikasi yang menggunakan data NIK dan Nomor KK banyak disalahgunakan dengan menggunakan identitas milik orang lain tanpa hak untuk tujuan kejahatan antara lain penyebaran hoaks, judi online, SMS spamming, dan penipuan,” tulis Komdigi dikutip dari laman resminya pada Senin (17/11/2025). 

    Oleh sebab itu, perlu dilakukan penyempurnaan terhadap ketentuan registrasi pelanggan jasa telekomunikasi agar mampu memastikan validitas data pelanggan jasa telekomunikasi dilakukan secara aman, efektif, dan efisien. 

    Nantinya RPM baru ini mengatur penggunaan data kependudukan biometrik, khususnya pengenalan wajah (face recognition), sebagai elemen wajib dalam proses registrasi pelanggan baru. 

    Komdigi menilai penerapan prinsip know your customer (KYC) melalui verifikasi biometrik diperlukan agar identitas yang digunakan untuk pendaftaran nomor seluler benar-benar valid. Meski dasar kewajiban KYC sudah tercantum dalam PM 5/2021, aturan teknis soal pemanfaatan biometrik sebelumnya belum diatur sehingga perlu dihadirkan regulasi yang lebih rinci.

    Dalam rancangan aturan tersebut, registrasi pelanggan prabayar maupun pascabayar bagi Warga Negara Indonesia (WNI) diwajibkan mencantumkan nomor MSISDN atau nomor pelanggan, NIK, serta data biometrik pengenalan wajah.

    Bagi calon pelanggan berusia di bawah 17 tahun yang belum memiliki KTP elektronik dan belum merekam biometrik, proses registrasi akan menggunakan NIK calon pelanggan serta data biometrik kepala keluarga sesuai Kartu Keluarga. 

    Aturan baru juga mencakup kewajiban registrasi untuk pengguna eSIM, yang tetap harus melewati verifikasi NIK dan face recognition. RPM ini turut memuat ketentuan mengenai keamanan data pelanggan, perlindungan nomor pelanggan, mekanisme pengawasan dan pengendalian, serta pengaturan masa transisi. 

    Komdigi menyiapkan penerapan bertahap: selama satu tahun sejak peraturan diundangkan, registrasi masih dapat memakai NIK dan KK, sementara penggunaan biometrik bersifat opsional. Setelah masa transisi berakhir, registrasi baru hanya bisa dilakukan dengan NIK dan biometrik wajah. 

    Pelanggan yang sudah terdaftar menggunakan NIK dan KK tidak diwajibkan melakukan registrasi ulang, meski dipersilakan jika ingin memperbarui datanya.

    Dengan ditetapkannya regulasi baru ini nantinya, sejumlah pasal terkait registrasi pelanggan dalam PM 5/2021 akan dicabut. 

    Komdigi menegaskan penyusunan aturan dilakukan sejalan dengan amanat Undang-Undang Administrasi Pemerintahan yang mewajibkan pemerintah melakukan sosialisasi dan membuka ruang masukan sebelum menetapkan keputusan.

    Kementerian kini mengundang pemangku kepentingan dan masyarakat umum untuk memberikan tanggapan terhadap RPM Registrasi Pelanggan mulai 17 hingga 26 November 2025. Masukan dapat disampaikan melalui email resmi Komdigi di kejasatel@mail.komdigi.go.id.

  • Ledakan Investasi Data Center AI Dorong Ketergantungan pada Energi Terbarukan

    Ledakan Investasi Data Center AI Dorong Ketergantungan pada Energi Terbarukan

    Bisnis.com, JAKARTA— Investasi global untuk pembangunan pusat data atau data center diperkirakan mencapai US$580 miliar atau sekitar Rp9,69 kuadriliun tahun ini, menurut laporan terbaru International Energy Agency (IEA). Investasi besar terjadi karena teknologi AI yang juga berdampak pada kebutuhan energi fosil dan terbarukan yang besar.

    Melansir laman TechCrunch pada Senin (17/11/2025) angka tersebut bahkan melampaui belanja untuk eksplorasi minyak baru yang nilainya US$40 miliar atau sekitar Rp668 triliun. 

    Di sisi lain, raksasa teknologi kini memasuki fase pembangunan pusat data dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

    OpenAI telah berkomitmen menggelontorkan US$1,4 triliun, setara sekitar Rp23,38 kuadriliun, untuk membangun infrastruktur pusat data baru. 

    Meta menyiapkan US$600 miliar atau sekitar Rp10,02 kuadriliun, sementara Anthropic merencanakan investasi US$50 miliar atau sekitar Rp835 triliun.

    Namun pertumbuhan yang masif ini tidak dapat dilepaskan dari tantangan ketersediaan energi. 

    Melansir laman FindArticle pada Senin  (17/11/2025) permintaan listrik untuk pusat data AI melonjak sangat cepat, sedangkan kapasitas energi terbarukan di banyak negara masih berjuang mengejar. 

    Secara resmi, perusahaan seperti Google, Microsoft, dan Meta mengklaim telah menyeimbangkan hampir seluruh konsumsi listrik tahunan mereka dengan pembelian energi terbarukan melalui kontrak jangka panjang atau sertifikat energi hijau. 

    Namun kecocokan tahunan tersebut tidak serta-merta berarti pusat data mereka beroperasi sepanjang waktu dengan listrik bebas emisi. Data perusahaan menunjukkan pasokan energi bersih secara real-time baru berkisar antara 30 hingga 70%, tergantung wilayah dan musim.

    Di luar operator hyperscale, situasinya lebih beragam. Banyak pusat data colocation dan perusahaan belum memiliki strategi energi terbarukan jangka panjang, terutama di wilayah baru yang berkembang sebagai pusat pertumbuhan AI. 

    Dengan bauran energi global yang rata-rata hanya sepertiga berasal dari sumber rendah karbon, porsi energi terbarukan yang benar-benar digunakan pusat data AI kemungkinan jauh lebih kecil daripada klaim resmi yang disampaikan perusahaan teknologi. Sementara itu, permintaan korporasi terhadap energi bersih terus mencetak rekor baru. 

    Kontrak pembelian listrik kini semakin beralih ke model 24/7 bebas karbon, yang menggabungkan tenaga angin, surya, penyimpanan energi, panas bumi, hingga layanan jaringan. 

    Meski begitu, hambatan infrastruktur energi masih menjadi masalah utama. Antrean interkoneksi yang panjang dan keterbatasan jaringan transmisi membuat penyambungan proyek energi baru dapat memakan waktu bertahun-tahun. 

    Akibatnya, operator pusat data sering kali terpaksa memilih lokasi dengan pasokan listrik besar yang masih berbasis fosil, kecuali jika mereka berinvestasi pada sumber energi bersih di lokasi sejak awal.

    Proyeksi dari IEA menunjukkan pusat data hyperscale di pasar yang sudah matang kemungkinan akan mampu mempertahankan kecocokan tahunan mendekati 100% pada 2030. 

    Di wilayah dengan potensi angin, surya, atau hidro yang besar, tingkat pasokan energi bersih secara real-time dapat meningkat mendekati 50 hingga 80%. 

    Namun secara global, termasuk operator colocation dan pemain AI baru, tingkat kecocokan tahunan diperkirakan berada di kisaran 50 hingga 70%. Tanpa percepatan pembangunan transmisi dan penyimpanan energi, capaian real-time bisa jauh lebih rendah.

    Upaya mencari sumber energi bersih pun terus berkembang. Tenaga surya yang dipasang di area kampus pusat data hanya dapat memenuhi sebagian kecil kebutuhan, sehingga operator mengandalkan proyek angin dan surya skala besar yang dikombinasikan dengan penyimpanan energi jangka panjang. 

    Microsoft mulai menguji sel bahan bakar hidrogen sebagai pengganti generator diesel, sementara sejumlah utilitas menawarkan tarif listrik hijau yang menggabungkan proyek energi terbarukan dengan layanan penyimpanan. 

    Di beberapa wilayah, perpanjangan masa operasi pembangkit nuklir, peningkatan kapasitas, atau ekspansi tenaga panas bumi dapat menyediakan pasokan bersih yang stabil, meski reaktor modular kecil dinilai belum akan berkembang signifikan sebelum 2030.

    Perangkat lunak juga memainkan peran penting dalam mengoptimalkan konsumsi energi bersih. Pendekatan carbon-aware scheduling memungkinkan pelatihan model AI dipindahkan ke waktu-waktu ketika energi terbarukan sedang melimpah. Namun beban komputasi untuk inference yang berjalan 24 jam sehari tetap membutuhkan pasokan listrik bersih yang stabil.

    Secara keseluruhan, meski operator terbaik mampu menyeimbangkan hampir seluruh konsumsi tahunan mereka dengan pembelian energi terbarukan, porsi energi bebas karbon yang mengalir secara real-time masih berkisar 30 hingga 70%. Pada 2030, pusat data AI di lokasi yang paling ideal diperkirakan dapat mencapai pasokan energi bersih real-time mendekati 60 hingga 90%. 

    Namun rata-rata global kemungkinan hanya mencapai 50 hingga 70% secara tahunan dan jauh lebih rendah secara real-time jika dekarbonisasi jaringan listrik tidak berlangsung lebih cepat.  Selisih antara klaim tahunan dan realitas per jam hanya akan menyusut jika pengadaan, penyimpanan, transmisi, dan energi bersih perusahaan semuanya berkembang bersamaan.

  • Jaguar Land Rover Rugi Rp3,67 Triliun Imbas Serangan Siber, Operasional Terganggu

    Jaguar Land Rover Rugi Rp3,67 Triliun Imbas Serangan Siber, Operasional Terganggu

    Bisnis.com, JAKARTA — Jaguar Land Rover (JLR) melaporkan hasil keuangan untuk periode 1 Juli–30 September, dengan peringatan serangan siber yang menimpa perusahaan telah menelan biaya hingga US$220 juta setara dengan Rp3,67 triliun.

    Mengutip laporan BleepingComputer, Senin (17/11/2025), insiden siber itu pertama kali diumumkan pada 2 September 2025. Serangan tersebut memaksa produsen mobil asal Inggris itu menghentikan operasi di beberapa pabrik utama dan memulangkan para karyawannya.

    Dalam pernyataan susulan, JLR mengonfirmasi data perusahaan telah dicuri. Kelompok peretas Scattered Lapsus$ Hunters mengaku sebagai pelaku melalui kanal Telegram.

    Gangguan operasional terjadi selama beberapa pekan dan memperburuk kondisi keuangan JLR serta sejumlah pemasoknya, yang bahkan menghadapi tekanan likuiditas serius. 

    Untuk mencegah kondisi makin memburuk, pemerintah Inggris turun tangan pada 29 September 2025 dengan menyetujui jaminan pinjaman senilai  £1,5 miliar atau sekitar US$1,89 miliar, setara dengan Rp31,56 triliun guna memulihkan rantai pasok dan mempercepat dimulainya kembali produksi. 

    Operasional produksi akhirnya kembali berjalan secara bertahap mulai 8 Oktober 2025. Dampak dari serangan siber tersebut terlihat jelas pada laporan keuangan terbaru JLR. Gangguan produksi dan terhentinya penjualan membuat keuntungan perusahaan merosot tajam.

    “Kerugian sebelum pajak dan pos luar biasa mencapai £485 juta [US$611,1 juta / Rp10,21 triliun] pada kuartal II dan £134 juta [US$168,84 juta / Rp2,82 triliun] pada paruh pertama, turun dari laba £398 juta [US$501,48 juta / Rp8,37 triliun] dan £1,1 miliar [US$1,386 miliar / Rp23,15 triliun] pada periode yang sama tahun sebelumnya,” tulis perusahaan.

    Margin EBIT JLR juga anjlok menjadi -8,6% di kuartal II, dari sebelumnya 5,1%, dan -1,4% pada paruh pertama dari sebelumnya 7,1%. Perusahaan menyebut penurunan profitabilitas terutama disebabkan oleh serangan siber, dampak tarif AS, penurunan volume produksi dan penjualan, serta peningkatan biaya pemasaran.

    Bank of England dalam Monetary Policy Report yang dirilis pekan ini menyatakan bahwa pertumbuhan PDB Inggris pada kuartal III 2025 lebih lemah dari perkiraan, dengan serangan siber terhadap JLR menjadi salah satu faktor utamanya.

    Meski begitu, JLR menegaskan operasi perusahaan kini telah stabil. Proses distribusi grosir, logistik suku cadang, dan pembiayaan pemasok telah kembali normal sepenuhnya. JLR juga memastikan anggaran investasinya tidak akan dikurangi meskipun perusahaan baru saja menghadapi krisis besar. 

    Total investasi tetap diproyeksikan mencapai £18 miliar atau sekitar US$22,68 miliar, setara dengan Rp378,76 triliun dalam lima tahun mulai tahun fiskal 2024. 

  • Amazon Ganti Nama Project Kuiper jadi Leo, Harga Murah Bukan Prioritas

    Amazon Ganti Nama Project Kuiper jadi Leo, Harga Murah Bukan Prioritas

    Bisnis.com, JAKARTA— Amazon resmi mengganti nama program internet satelitnya. Proyek yang sebelumnya dikenal sebagai Project Kuiper kini diberi nama baru: Leo. Selain berubah nama, perusahaan juga tidak lagi berfokus menawarkan harga internet murah kepada pelanggannya.

    Melansir laman TechCrunch pada  Senin (17/11/2025) pergantian ini datang seiring  dengan perusahaan yang tampak menggeser fokusnya dari misi menyediakan internet terjangkau bagi wilayah “tidak terlayani” menjadi membidik kontrak-komersial berskala besar.

    Program satelit ini telah dikembangkan sejak 2019. Menurut Amazon, nama Project Kuiper sejak awal hanya bersifat sementara. Nama baru Leo merujuk pada lokasi jaringan satelit tersebut di low-Earth orbit, atau orbit rendah Bumi. 

    Sebelumnya, saat bersiap meluncurkan satelit perdana Kuiper pada awal tahun ini, Amazon menekankan proyek tersebut merupakan upaya memperluas akses broadband global. 

    Perusahaan bahkan menyebut misinya adalah menyediakan koneksi cepat dan terjangkau bagi komunitas yang belum mendapatkan layanan internet memadai.

    Namun, Amazon tampaknya mulai mengubah cara mereka menggambarkan layanan ini dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah menjalin kerja sama dengan Airbus dan JetBlue, sebuah langkah yang menempatkan Leo berhadapan langsung dengan Starlink milik SpaceX.

    Jejak perubahan ini terlihat jelas pada halaman FAQ. Versi arsip FAQ Project Kuiper yang dipublikasikan pada akhir 2024 menempatkan misi membantu komunitas yang tidak terlayani tepat di bagian atas. Kata affordability atau keterjangkauan muncul tiga kali, dan Amazon menyebut harga murah sebagai prinsip utama Project Kuiper.

    Dalam FAQ lama itu, Amazon bahkan membandingkan komitmennya menjaga harga rendah dengan produk-produk populer seperti Echo Dot dan Fire TV Stick: “Kami menerapkan pendekatan yang sama pada Project Kuiper.”

    Kini, seluruh bagian yang menyinggung biaya tersebut hilang dari FAQ Leo. Tidak ada lagi penyebutan mengenai keterjangkauan harga.

    FAQ terbaru hanya menyatakan Leo adalah jaringan satelit orbit rendah Bumi milik Amazon, dirancang untuk menyediakan internet cepat dan andal bagi pelanggan maupun komunitas yang berada di luar jangkauan jaringan yang ada. Meski masih menyinggung kesenjangan akses internet di wilayah terpencil, Amazon tak lagi secara eksplisit menempatkan komunitas tersebut sebagai fokus utama pengguna.

    Website baru Amazon Leo juga semakin menegaskan arah barunya. Alih-alih mencontohkan manfaat bagi wilayah terpencil, laman itu menonjolkan penggunaan untuk internet rumah dan keperluan komersial yakni mulai dari video call tanpa hambatan, streaming 4K, hingga kebutuhan internet keluarga. 

    Leo juga digambarkan sebagai layanan yang fleksibel, skalabel, dan siap untuk kebutuhan enterprise. Penyebutan soal penggunaan di wilayah rural kini hanya menjadi pelengkap, tanpa informasi mengenai harga.

    Meski demikian, pada Kamis lalu Amazon merilis video promosi nama baru Leo di X. Video itu menampilkan berbagai situasi di antaranya seorang anak mengerjakan PR, balap drifting profesional, petugas ambulans di jalanan terpencil, petani yang menggunakan tablet, hingga pasangan yang menari di laundromat. Di caption, Amazon menulis: “Nama baru, misi tetap sama.”

  • Cetak Sejarah! Voyager 1 Bakal Berjarak Satu Hari Cahaya dari Bumi, Usai Terbang 49 Tahun

    Cetak Sejarah! Voyager 1 Bakal Berjarak Satu Hari Cahaya dari Bumi, Usai Terbang 49 Tahun

    Bisnis.com, JAKARTA – Sejarah baru ditorehkan oleh NASA melalui wahananya Voyager 1 yang akan mencapai jarak satu hari cahaya dari bumi pada 15 November 2026. 

    Satu hari cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya melalui ruang hampa dalam 24 jam, yang dihitung sebagai 1,609×10^10 mil, atau sekitar 16,09 miliar mil.

    Misi Voyager 1 pada akhirnya akan berakhir ketika melampaui jangkauan komunikasi pada tahun 2036. Selain itu, sumber energinya hanya akan bertahan sementara, sehingga semua fungsinya akan berhenti sekitar waktu yang sama.

    Setelah ini terjadi, wahana antariksa akan terus melanjutkan lintasannya hingga dipengaruhi oleh kekuatan eksternal. Saat masih dalam jangkauan komunikasi, NASA memperbaiki sistem Voyager 1 pada jarak lebih dari 15 miliar mil.

    Saat ini, Voyager 1 milik NASA berada sekitar 15,67 miliar mil dari Bumi, sekitar 2,61 miliar mil lebih jauh daripada Voyager 2. Misi Voyager 1 telah mencapai beberapa tonggak sejarah, termasuk melintasi heliopause dan memasuki ruang antarbintang pada 25 Agustus 2012.

    Wahana antariksa akan berada satu hari cahaya dari Bumi, dibutuhkan satu hari penuh bagi sinyal untuk mencapainya gelombang radio bergerak dengan kecepatan cahaya dalam ruang hampa dan satu hari lagi bagi responsnya untuk kembali ke Bumi. Karena lintasan dan kecepatannya saat ini, kita dapat menentukan apa yang akhirnya akan terjadi pada Voyager 1, tetapi kita akan lama berlalu ketika sesuatu yang menarik terjadi.

    Meskipun Voyager 1 telah melewati heliopause menuju ruang antarbintang, ia masih perlu melewati Awan Oort. Voyager 1 diperkirakan akan mencapai titik terdekat Awan Oort dalam waktu sekitar tiga abad, tetapi mungkin membutuhkan waktu 30.000 tahun lagi untuk melewatinya sepenuhnya. Wahana ini kemudian akan menuju konstelasi Ophiuchus, dan pada tahun 40.272 M, ia akan menempuh jarak 1,7 tahun cahaya dari sebuah bintang di dalam konstelasi Ursa Minor.

    Voyager 1 sendiri diluncurkan pada tanggal 5 September 1977 untuk tujuan mempelajari planet-planet luar. Voyager 1 diluncurkan beberapa minggu setelah Voyager 2, dan kedua wahana tersebut telah terbang ke wilayah terluar Tata Surya, memecahkan rekor sebagai objek buatan manusia terjauh yang pernah dibuat.

    Misi ini telah berlangsung selama hampir setengah abad, dan selama kurun waktu tersebut, Voyager 1 telah mengirimkan segudang data kembali ke Bumi, mengungkap banyak hal tentang planet-planet luar dan sifat tata surya kita.

    Wahana Voyager diluncurkan bersamaan dengan posisi planet yang tepat, memungkinkan bantuan gravitasi (yang dikenal sebagai manuver ketapel) untuk memindahkannya lebih jauh di luar angkasa. Hasilnya, Voyager 1 melaju dengan kecepatan sekitar 38.000 mil per jam. Meskipun kecepatan tersebut tak terbantahkan dan merupakan prestasi rekayasa manusia yang mengesankan, kecepatannya lebih lambat daripada kecepatan siput jika dibandingkan dengan kecepatan cahaya.

  • RI Kalah dari China dan Singapura soal Pengguna Transportasi Online 2025

    RI Kalah dari China dan Singapura soal Pengguna Transportasi Online 2025

    Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat Indonesia memiliki ketergantungan yang lebih rendah terhadap layanan transportasi online atau ride hailling. Meski secara jumlah masyarakat Indonesia sangat besar, faktanya persentase masyarakat yang memakai transportasi online masih kalah dari China.

    Mengutip laporan Data Indonesia, Senin (17/11/2025), sebanyak 27,2% pengguna internet global berusia 16 tahun ke atas menggunakan layanan transportasi online setiap pekan pada kuartal II/2025. 

    Singapura menjadi negara yang penduduknya paling banyak menggunakan transportasi online di dunia pada kuartal II/2025. Pasalnya, sebanyak 44,8% pengguna internet di Negeri Singa dilaporkan menggunakan layanan transportasi online setiap pekan. 

    Data Indonesia, yang mengutip laporan We Are Social dan Meltwater yang bertajuk The Digital 2026 Global Overview Report, menyebut pada  posisi kedua ditempati oleh Vietnam dengan persentase pengguna internet yang menggunakan transportasi online setiap pekan sebanyak 38,5%.

    Menariknya, China sebagai negara dengan jumlah pengguna internet mencapai 1,12 miliar memiliki persentase yang tinggi terkait penggunaan transportasi online. Ada 38,2% pengguna internet di China yang memakai layanan transportasi online Didi Chuxing hingga Meituan Dache tiap pekan.

    Lalu, sebanyak 36,2% pengguna internet di Meksiko menggunakan transportasi online tiap minggu. Ada pula 35,2% pengguna internet Afrika Selatan.

    Sementara itu Indonesia dengan total pengguna internet sekitar 239 juta, jumlah pemakai transportasi online ada 34,6% dari total pengguna internet setiap minggunya.

    Artinya, sekitar 82,6 juta masyarakat Indonesia menggunakan layanan Gojek, Grab, hingga Maxim setiap pekannya. Angka ini masih tertinggal dari China.

    Berikut daftar 15 negara dengan proporsi terbesar pengguna internet yang menggunakan transportasi online tiap pekan pada kuartal II/2025:

    1. Singapura: 44,8%
    2. Vietnam: 38,5%
    3. China: 38,2%
    4. Meksiko: 36,2%
    5.Afrika Selatan: 35,2%
    6. Indonesia: 34,6%
    7. Malaysia: 33,9%
    8. Kolombia: 33,7%
    9. India: 33,1%
    10. Chili: 30,1%
    11. Brasil: 29,1%
    12. Nigeria: 27,4%
    13. Uni Emirat Arab: 27,1%
    14. Hong Kong: 27%
    15. Thailand: 26,7%

  • Indonet (EDGE) Ungkap Penyebab Laba Turun 53% pada Kuartal III/2025

    Indonet (EDGE) Ungkap Penyebab Laba Turun 53% pada Kuartal III/2025

    Bisnis.com, JAKARTA — PT Indointernet Tbk (EDGE) atau Indonet menyampaikan penurunan laba yang cukup tajam pada kuartal III/2025 disebabkan oleh peralihan bisnis komputasi awan perusahaan dari pricipal menjadi agent. 

    Diketahui, Indonet mencatatkan penurunan laba periode berjalan sebesar 53% secara tahunan menjadi Rp81 miliar pada kuartal III/2025.

    Direktur, PT Indointernet Tbk Donauly Situmorang mengatakan penurunan tersebut terutama disebabkan oleh perubahan metode pencatatan akuntansi antara 2024 dan 2025, khususnya terkait penyesuaian pembukuan akibat perubahan perjanjian distribusi dengan penyedia komputasi awal global. 

    “Perubahan ini mengalihkan peran perusahaan dari “principal” menjadi “agent”, sehingga beban layanan cloud dicatat sebagai pengurang pendapatan atau kompensasi kepada pemasok,” kata Donauly kepada Bisnis, Senin (17/11/2025). 

    Dia menambahkan apabila dihitung pada basis yang setara, pendapatan perusahaan justru meningkat menjadi Rp785 miliar pada kuartal III/2025, dibandingkan Rp770 miliar pada kuartal III/2024.

    Kenaikan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan pada segmen data center, yang memberikan kontribusi sebesar Rp372 miliar yang mencerminkan peningkatan sebesar 25% dari periode yang sama tahun lalu. 

    Selain itu, segmen konektivitas juga melaporkan kontribusi yang substansial yaitu sebesar Rp200 miliar atau meningkat 19% year on year/YoY. 

    Adapun untuk menggenjot pendapatan di sisa 2025, kata Donauly, perusahaan akan memperluas portofolio layanan cloud dengan menjalin kemitraan bersama BytePlus Cloud, sehingga total kolaborasi strategis perusahaan menjadi dua penyedia cloud global terkemuka.

    “Didukung oleh teknologi ByteDance, BytePlus menghadirkan wawasan berbasis AI, jaringan CDN global yang kuat dengan lebih dari 1.300 points of presence (PoP)” ujar Donauly.

    Content Delivery Network (CDN) adalah jaringan server yang tersebar secara global untuk mempercepat pengiriman konten digital seperti halaman web, gambar, video, dan file statis ke pengguna dengan mendistribusikan data dari server terdekat. 

    CDN berfungsi sebagai proxy antara server asal (origin server) dan pengguna akhir, mengurangi latensi dengan menyimpan salinan konten (cache) di berbagai lokasi strategis 

    Dia menjelaskan dengan kemitraan tambahan ini memungkinkan perusahaan untuk menghadirkan solusi cloud yang lebih terpersonalisasi dengan memanfaatkan keunggulan unik dari kedua penyedia tersebut. 

    Dengan Alibaba Cloud dan BytePlus, lanjutnya, perusahaan terus membentuk masa depan cloud enterprise di Indonesia menghadirkan kinerja, keamanan, dan kecerdasan melalui satu mitra terpercaya.

    “Ke depan, kami juga memperkirakan pertumbuhan positif dari dua pilar bisnis utama kami, jaringan (network) dan data center (DC)” kata Donauly. 

    Donauly mengatakan hingga akhir tahun, perusahaan menargetkan pertumbuhan yang solid di seluruh lini bisnis utama, termasuk layanan data center, konektivitas, dan cloud. 

    Fokus Indonet adalah memperkuat ekosistem infrastruktur digital yang terintegrasi untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan pelanggan terhadap layanan berbasis data, kecerdasan buatan (AI), serta inisiatif transformasi digital.

    “Sejauh ini, seluruh inisiatif tersebut berjalan sesuai rencana dan berada pada jalur yang tepat, baik dari sisi pengembangan infrastruktur maupun pertumbuhan pendapatan,” kata Donauly. 

  • Startup China Dapat Akses 2.300 GPU NVIDIA Lewat Indosat di Tengah Larangan AS

    Startup China Dapat Akses 2.300 GPU NVIDIA Lewat Indosat di Tengah Larangan AS

    Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan rintisan asal China, INF Tech, dikabarkan berhasil mengakses 2.300 GPU NVIDIA melalui PT Indosat Tbk. (ISAT) di tengah ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Negeri Tirai Bambu. 

    Diketahui, Presiden AS telah melarang NVIDIA menjual chip Blackwell terbaru mereka ke China. Namun, investigasi  Wall Street Journal menemukan bahwa perusahaan China masih dapat memperoleh chip tersebut dengan berbagai cara, termasuk melalui perusahaan yang berbasis di indonesia. 

    Dilansir dari Tom’s Hardware, Senin (17/11/2025) jejak transaksi ini dimulai di California, di mana Nvidia menjual chip terbarunya ke Aivres, mitra mereka yang membangun server AI dan bermarkas di AS. 

    Adapun Aivres diduga sebagian sahamnya dimiliki oleh Inspur, perusahaan teknologi China yang masuk daftar hitam pemerintah AS karena hubungannya dengan militer China. Meski demikian, Aivres tidak terikat oleh pembatasan ekspor asing selama mematuhi aturan ekspor AS, karena statusnya sebagai perusahaan domestik.

    Menurut laporan tersebut dari sana, Indosat membeli 32 rak server Nvidia GB200 dari Aivres. Setiap rak berisi 72 chip Blackwell, sehingga total mencapai 2.304 GPU. Nilai kesepakatan ini mencapai sekitar US$100 juta atau Rp1,67 triliun (kurs: Rp16.701). 

    Menurut sumber WSJ, saat Indosat membeli GPU tersebut, Aivres telah menemukan klien untuk Indosat, yaitu INF Tech, startup yang mengembangkan AI untuk aplikasi keuangan dan kesehatan. INF Tech didirikan oleh Qi Yuan, warga negara AS kelahiran China yang juga memimpin institut AI di Universitas Fudan. Perwakilan universitas tersebut hadir dalam negosiasi antara INF Tech dan Indosat, meskipun INF Tech yang menandatangani kontrak. Server-server tersebut telah terpasang di situs Indosat di Jakarta sejak Oktober 2025.

    Menanggapi hal ini, INF Tech menyatakan kepada WSJ bahwa mereka tidak melakukan penelitian dengan aplikasi militer dan mematuhi kontrol ekspor AS. 

    Sementara itu, CEO Indosat, Vikram Sinha, menegaskan bahwa perusahaan bekerja dengan perusahaan multinasional. “Setiap pelanggan di luar Indonesia melalui regulasi yang sama, baik perusahaan AS maupun China. Jika memenuhi semua regulasi, kami mendukungnya,” kata Vikram. 

    Tom’s Hardware melaporkan karena Indosat, INF Tech, dan Universitas Fudan tidak termasuk dalam Daftar Entitas AS, kesepakatan ini dianggap sah. Namun, hal ini memicu kekhawatiran di kalangan penentang akses perusahaan China ke perangkat keras AS. 

    Mereka berargumen bahwa meskipun perusahaan-perusahaan ini tidak bekerja sama dengan Partai Komunis China (PKC) atau militer saat ini, pemerintah Beijing bisa memaksa kerjasama kapan saja. Aturan AI Diffusion dari pemerintahan Biden seharusnya mencegah hal ini, tetapi Presiden Trump tidak menerapkannya.

    Di sisi lain, Nvidia mendorong kontrol ekspor yang lebih longgar untuk mempertahankan kepemimpinan AS. 

    Juru bicara Nvidia menyatakan tim kepatuhan mereka telah mengevaluasi dan menyetujui mitra sebelum pengiriman chip. “Kami mendukung visi pemerintahan Trump untuk mengamankan kepemimpinan AI AS dan menciptakan lapangan kerja Amerika,” katanya. 

  • Logitech Akui Alami Peretasan, Data Penting Pelanggan hingga Karyawan Dicuri

    Logitech Akui Alami Peretasan, Data Penting Pelanggan hingga Karyawan Dicuri

    Bisnis.com, JAKARTA — Raksasa aksesori perangkat keras Logitech mengonfirmasi bahwa perusahaan mengalami pelanggaran data setelah serangan siber yang diklaim dilakukan kelompok pemerasan Clop. Data pelanggan, vendor, hingga karyawan berhasil dibobol.

    Dikutip dari Bleeping Computer, Sabtu (15/11/2025) kelompok peretas yang sama juga melancarkan serangan pencurian data melalui Oracle e-Business Suite pada Juli lalu.

    Dalam kasus serangan siber Logitech, manajemen telah melakukan pengajuan Formulir 8-K kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat hari ini. Pihaknya memastikan bahwa sejumlah data telah dicuri dalam insiden tersebut.

    “Logitech International S.A. (‘Logitech’) baru-baru ini mengalami insiden keamanan siber terkait eksfiltrasi data. Insiden tersebut tidak berdampak pada produk, operasi bisnis, maupun manufaktur Logitech,” tulis perusahaan tersebut dalam pernyataannya. 

    Setelah mendeteksi insiden, Logitech mengaku segera mengambil langkah investigasi dan penanganan dengan bantuan perusahaan keamanan siber eksternal terkemuka. 

    Namun, dia tak menampik bahwa data yang dicuri kemungkinan mencakup informasi terbatas milik karyawan dan konsumen, serta pelanggan dan pemasok. 

    Meski demikian, perusahaan memastikan bahwa peretas tidak mendapatkan akses ke data sensitif seperti nomor identitas nasional atau informasi kartu kredit, karena data tersebut tidak disimpan dalam sistem yang disusupi.

    Logitech juga menjelaskan bahwa pelanggaran terjadi akibat kerentanan zero-day pihak ketiga, yang langsung ditambal segera setelah perbaikan tersedia.

    Konfirmasi ini muncul setelah geng Clop minggu lalu menambahkan Logitech sebagai korban di situs kebocoran data mereka, dan mengaku telah membocorkan hampir 1,8 TB data yang dicuri.

    Meski Logitech tidak menyebutkan vendor perangkat lunak yang terkait, insiden ini sangat mungkin dipicu oleh kerentanan zero-day Oracle yang dieksploitasi Clop dalam serangan pencurian data pada Juli.

    Sebagai informasi, pada bulan lalu Mandiant dan Google melaporkan kampanye pemerasan baru yang menargetkan banyak perusahaan menggunakan klaim pencurian data dari Oracle E-Business Suite. 

    Perusahaan-perusahaan tersebut menerima email ancaman dari operasi ransomware Clop yang memperingatkan bahwa data mereka akan dibocorkan jika tebusan tidak dibayar.

    Tidak lama setelah itu, Oracle mengonfirmasi adanya celah zero-day bernomor CVE-2025-61882, dan merilis pembaruan darurat untuk menutup kerentanan tersebut.

    Riwayat Serangan Zero-Day Clop

    Kelompok Clop dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam mengeksploitasi zero-day untuk pencurian data besar-besaran. Pada 2020, serangan menyasar ke Accellion FTA hingga memengaruhi hampir 100 organisasi. 

    Pada 2021, kelompok tersebut mengenai SolarWinds Serv-U, dan setahun setelahnya menyadar ke GoAnywhere MFT hingga lebih dari 100 perusahaan terdampak. 

    Pada 2023, serangan serupa juga mengacaukan MOVEit Transfer yang berdampak pada 2.773 organisasi di seluruh dunia dan pada 2024 kelompok tersebut menyasar ke Dua zero-day Cleo (CVE-2024-50623 dan CVE-2024-55956). 

    Selain Logitech, organisasi yang juga terdampak serangan pencurian data Oracle E-Business Suite 2025 termasuk Harvard, Envoy Air, dan The Washington Post.

    Adapun, Logitech International S.A., perusahaan elektronik multinasional asal Swiss ini dikenal memproduksi beragam solusi perangkat keras dan perangkat lunak seperti periferal komputer, perangkat gaming, sistem kolaborasi video, produk audio, hingga perangkat rumah pintar.