Category: Bisnis.com Tekno

  • Mengenal Internet Rakyat Rp100.000 dan Cara Daftarnya

    Mengenal Internet Rakyat Rp100.000 dan Cara Daftarnya

    Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia akan memiliki internet rumah dengan harga murah tanpa serat optik atau fixed wireless access (FWA) 5G yang diberi nama Internet Rakyat. Langkah ini bertujuan untuk menghadirkan layanan data yang inklusif dan dapat digunakan oleh siapapun. 

    “Ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah deklarasi yang kuat akan visi, komitmen, dan tindakan bersama menuju Indonesia yang berdaya digital,” kata Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dilansir dari Antara, Kamis (20/11/2025).

    Internet Rakyat hadir setelah penandatanganan kontrak komersial antara SURGE melalui PT Telemedia Komunikasi Pratama, OREX SAI Jepang, dan distributor lokal.

    Nezar menegaskan kolaborasi penyediaan layanan internet cepat menjadi terobosan nyata untuk mempercepat akses digital di seluruh Indonesia.

    Teknologi yang diadopsi dalam proyek ini berbasis Fixed Wireless Access (FWA) 5G di frekuensi 1,4 GHz. Teknologi ini memungkinkan layanan internet berkecepatan tinggi tanpa perlu menunggu pembangunan jaringan fiber optik yang selama ini menjadi kendala utama di banyak wilayah.

    “Ini bukan hanya tentang menghubungkan orang. Ini tentang menyediakan akses berkecepatan tinggi yang terjangkau. Teknologi ini dirancang untuk melewati proses pemasangan fiber optik bagi semua orang yang tradisional, mahal, dan memakan waktu,” ujar Nezar.

    Sementara itu dilansir dari lama resmi, Telemedia membanderol layanan Internet Rakyat dengan harga Rp100.000 dengan kecepatan 100 Mbps untuk 30 hari. Harga tersebut penyesuaian dari harga sebelumnya yaitu Rp29.000 untuk 7 hari, Rp49.000 untuk 14 hari dan Rp79.000 untuk 30 hari.

    Cara Mendaftar Internet Rakyat

    Layanan Internet Rakyat tersedia di Jawa, Maluku, dan Papua. Bagi masyarakat ingin menggunakan layanan ini harus mendaftar terlebih dahulu dengan cara:

    -Kunjungi laman resmi: https://internetrakyat.id/register

    -Isi data diri seperti nama, email, nomor HP, serta data domisili lengkap (provinsi, kota, kecamatan, desa).

    -Tentukan lokasi domisili pada peta yang tersedia dan kirim formulir pra-registrasi.

    Selamat mencoba!

  • Cara Gunakan Satu Nomor WhatsApp di Banyak Smartphone, iOS dan Android

    Cara Gunakan Satu Nomor WhatsApp di Banyak Smartphone, iOS dan Android

    Bisnis.com, JAKARTA—WhatsApp  mendukung penggunaan satu akun pada beberapa perangkat ponsel sekaligus. Melalui perluasan fitur multi-device, pengguna dapat mengaktifkan satu nomor WhatsApp di beberapa ponsel secara resmi, tanpa harus mengandalkan metode kloning aplikasi pihak ketiga.

    WhatsApp menyebut perangkat tambahan tetap dapat mengirim dan menerima pesan meski ponsel utama tidak terhubung ke internet. Namun, akun akan otomatis keluar dari seluruh perangkat jika ponsel utama tidak aktif dalam waktu tertentu.

    Sebelum menyambungkan perangkat tambahan, pastikan aplikasi WhatsApp telah terpasang pada ponsel sekunder, seluruh perangkat menggunakan versi terbaru, serta ponsel sekunder terhubung ke jaringan Wi-Fi atau data seluler.

    Cara Menghubungkan WhatsApp ke Ponsel Kedua: 

        1.    Instal dan buka WhatsApp di ponsel sekunder, lalu ketuk Agree and Continue.

        2.    Ketuk ikon tiga titik di kanan atas.

        3.    Pilih Link a device.

        4.    Di ponsel utama, buka Settings → Linked Devices.

        5.    Ketuk Link a Device lalu lakukan verifikasi biometrik.

        6.    Pindai kode QR yang muncul di ponsel sekunder. 

    Setelah terhubung, satu akun dapat digunakan hingga empat perangkat dengan enkripsi ujung ke ujung. Seluruh perangkat bekerja secara mandiri dan tidak bergantung pada koneksi internet ponsel utama.

    Meskipun fitur ini telah dirilis, opsi Link a Device belum sepenuhnya tersedia di iOS. WhatsApp disebut akan menambahkan opsi tersebut langsung pada halaman masuk dalam waktu dekat. Sementara menunggu pembaruan, pengguna iPhone dapat menggunakan WhatsApp Web sebagai alternatif.

    Metode ini memungkinkan akses pesan dari iPhone kedua, tetapi fitur terbatas tampilan antarmuka versi desktop, tidak mendukung panggilan suara/video, dan tidak memungkinkan unggah status.

    Langkah-langkah menggunakan WhatsApp Web di iPhone kedua:

        1.    Buka Safari di iPhone kedua dan akses situs WhatsApp Web.

        2.    Ketuk ikon AA lalu pilih Request Desktop Website.

        3.    Di iPhone utama, buka Settings → Linked Devices.

        4.    Pilih Link a Device dan pindai kode QR di layar iPhone kedua.

    Setelah terhubung, pesan dapat diakses melalui browser.

    Menambahkan WhatsApp Web ke Layar Utama iPhone

        1.    Buka WhatsApp Web di Safari dan pastikan sudah login.

        2.    Ketuk ikon Share.

        3.    Pilih Add to Home Screen.

        4.    Ketuk Add untuk konfirmasi.

  • Roblox Kini Batasi Fitur Chat untuk Lingungi Anak-anak dari Pengaruh Buruk

    Roblox Kini Batasi Fitur Chat untuk Lingungi Anak-anak dari Pengaruh Buruk

    Bisnis.com, JAKARTA – Roblox kini membatasi fitur chat atau pesan dari pengguna di bawah umur. Pihaknya meminta adanya pemeriksaan usia untuk bisa mengakses fitur chat tersebut.

    Selain itu, Roblox juga meminta pengguna untuk sukarela menjalani langkah verifikasi berupa “Estimasi Usia Wajah” untuk mengamankan akses mereka ke fitur komunikasi.

    “Selama minggu pertama bulan Desember, kami akan mulai memberlakukan persyaratan pemeriksaan usia di beberapa pasar tertentu, termasuk Australia, Selandia Baru, dan Belanda. Persyaratan tersebut akan diperluas ke seluruh dunia di mana pun fitur obrolan tersedia pada awal Januari,” tulis Roblox di situs resminya dikutip Kamis (20/11/2025).

    Pengetatan fitur chat ini dijalankan Roblox sebagai bagian dari perluasan langkah-langkah keamanannya.

    Hal ini juga disebabkan karena Roblox telah menghadapi kritik karena mengizinkan anak-anak mengakses konten yang tidak pantas dan berkomunikasi dengan orang dewasa.

    Bahkan Roblox sedang dituntut atas masalah keamanan anak di beberapa negara bagian AS, dikutip dari BBC.

    Peluncuran ini juga terjadi tepat sebelum larangan media sosial Australia untuk anak di bawah 16 tahun – pemerintah berada di bawah tekanan untuk memasukkan platform game seperti Roblox.

    Pada bulan Maret, CEO Roblox, Dave Baszucki, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan BBC bahwa perusahaan telah berupaya keras untuk menjaga keamanan anak-anak.

    Namun, ia juga mendesak orang tua untuk mengikuti naluri mereka sendiri.

    “Pesan pertama saya adalah, jika Anda tidak nyaman, jangan biarkan anak-anak Anda bermain Roblox. Kedengarannya agak berlawanan dengan intuisi, tetapi saya selalu percaya bahwa orang tua dapat membuat keputusan mereka sendiri,” katanya.

  • Meta Bakal Nonaktifkan Akun Facebook & Instagram Anak di Bawah 16 Tahun di Australia

    Meta Bakal Nonaktifkan Akun Facebook & Instagram Anak di Bawah 16 Tahun di Australia

    Bisnis.com, JAKARTA — Meta mulai mengirimkan pemberitahuan penonaktifan kepada pengguna Facebook dan Instagram berusia di bawah 16 tahun. 

    Langkah ini dilakukan menjelang penerapan aturan baru pemerintah Australia yang melarang anak di bawah usia tersebut menggunakan media sosial.

    Melansir TechCrunch, Kamis (20/11/2025), Meta akan menutup akses akun yang sudah ada ketika kebijakan mulai berlaku pada 10 Desember 2025. 

    Selain itu, mulai 4 Desember, pengguna baru berusia di bawah 16 tahun tidak lagi bisa membuat akun.

    Meta menyatakan akun yang dinonaktifkan akan tetap tersimpan dan dapat diakses kembali setelah pengguna berusia 16 tahun. Namun, tantangan terbesar bagi perusahaan adalah memverifikasi usia pengguna, mengingat banyak orang tidak memasukkan data umur secara akurat ketika mendaftar.

    Celah keamanan sekecil apa pun berpotensi membahayakan data pribadi pengguna, termasuk dokumen resmi yang tersimpan dalam sistem. Kasus kebocoran data verifikasi pernah terjadi sebelumnya. 

    Pada tahun lalu, 404 Media mengungkap AU10TIX, perusahaan penyedia layanan verifikasi identitas yang digunakan TikTok dan Uber meninggalkan kredensial administratif terbuka di internet selama lebih dari setahun, sehingga data sensitif pengguna dapat diakses pihak tidak berwenang.

    Aturan baru pemerintah Australia yang melarang anak di bawah usia 16 tahun menggunakan media sosial merupakan turunan dari amandemen Online Safety Act yang disahkan pemerintah federal Australia pada 29 November 2024. 

    Aturan ini mewajibkan platform media sosial melakukan upaya yang dinilai memadai untuk menegakkan larangan, dengan risiko denda hingga 50 juta dolar Australia bagi perusahaan yang tidak mematuhi. 

    Perdana Menteri Anthony Albanese menyatakan kebijakan tersebut bertujuan mengurangi dampak buruk media sosial terhadap anak, mengembalikan masa kecil mereka, serta memberi ketenangan bagi orang tua.

    Dorongan regulasi ini didukung berbagai faktor. Pada Mei 2024, pemerintah membentuk Joint Parliamentary Select Committee untuk menyelidiki dampak media sosial terhadap masyarakat. 

    Pada periode yang sama, News Corp bersama gerakan 36months mengampanyekan peningkatan batas usia minimum menjadi 16 tahun dengan mengaitkan penggunaan media sosial pada peningkatan masalah kesehatan mental remaja. 

    Kampanye tersebut mendapat dukungan luas dari orang tua, politisi, pendidik, tenaga kesehatan, serta ditandatangani lebih dari 127.000 pendukung. Namun, kebijakan ini menuai penolakan dari 140 akademisi domestik dan internasional serta sejumlah organisasi kesehatan mental yang menilai larangan usia terlalu simplistis dan membutuhkan pendekatan regulasi yang lebih struktural. 

    Kelompok pegiat HAM juga menyatakan kebijakan tersebut berpotensi melanggar hak anak atas akses informasi dan privasi. Meski demikian, larangan ini mendapat dukungan bipartisan. Survei pada November 2024 menunjukkan 77% publik Australia mendukung kebijakan tersebut. 

    Menariknya, laporan akhir komite parlemen di bulan yang sama tidak merekomendasikan larangan usia, namun pemerintah tetap meloloskan aturan tersebut secara cepat dengan ruang konsultasi publik terbatas. Kebijakan ini akan berlaku penuh pada akhir 2025.

  • Dampak AI Terhadap Pertumbuhan dan Pekerjaan

    Dampak AI Terhadap Pertumbuhan dan Pekerjaan

    Bisnis.com, JAKARTA – Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang mulai bereksperimen dengan AI (kecerdasan buatan) dan bagaimana teknologi ini mungkin bisa meningkatkan keuntungan mereka, perdebatan mengenai dampak bagi para pekerja semakin memanas.

    Di Amerika Serikat, kesenjangan yang tampak jelas antara valuasi pasar saham dan menurunnya total lowongan pekerjaan (yang bukan pertanian) sudah memicu narasi media tentang hilangnya lapangan kerja yang didorong oleh teknologi.     

    Hampir setiap minggu selalu ada berita tentang perusahaan-perusahaan yang menggunakan AI untuk melakukan pekerjaan kerah putih, khususnya yang biasanya diisi oleh mereka yang baru lulus dan yang berada di jenjang karier yang lebih rendah.

    Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Komite Kesehatan, Pendidikan, Tenaga Kerja, dan Pensiun Senat AS pada awal bulan ini, AI dan otomasi bisa menghilangkan hampir 100 juta pekerjaan di AS pada satu dekade mendatang.

    Mereka yang menyuarakan ketakutan tersebut bahkan bisa merujuk ekonom terkemuka yang berargumentasi bahwa revolusi AI hanya akan mempunyai dampak moderat pada pertumbuhan produktivitas, tapi jelas akan berdampak negatif pada ketenagakerjaan, yang diakibatkan oleh otomasi banyak tugas dan pekerjaan.

    Kami tidak setuju dengan kedua pernyataan tersebut. Penelitian kami baru-baru ini menunjukkan bahwa situasinya jauh lebih rumit, dan tidak separah yang disiratkan oleh narasi-narasi pesimis ini. Sehubungan dengan pertumbuhan produktivitas, AI bisa beroperasi melalui dua saluran yang berbeda: otomasi tugas-tugas produksi barang dan jasa, dan otomasi tugas dalam produksi ide-ide baru.

    Ketika Erik Brynjolfsson dan rekan-rekan penulisnya meneliti dampak AI generatif pada agen-agen layanan pelanggan di perusahaan peranti lunak AS, mereka menemukan bahwa produktivitas di antara para pekerja yang memiliki akses ke asisten AI meningkat hampir 14% pada bulan pertama penggunaan, kemudian stabil di sekitar 25% lebih tinggi setelah tiga bulan.

    Penelitian lain menemukan peningkatan produktivitas yang serupa di antara beragam kelompok pekerja yang berbasis pengetahuan, dengan pekerja yang memiliki produktivitas rendah mengalami dampak awal yang paling kuat, sehingga mengurangi ketimpangan di dalam perusahaan.           

    Beralih dari tingkat mikro ke makro, dalam sebuah makalah tahun 2024, kami (Aghion dan Bunel) mempertimbangkan dua alternatif untuk memperkirakan dampak AI terhadap potensi pertumbuhan selama dua dekade mendatang. Pendekatan pertama menganalisis persamaan antara revolusi AI dan revolusi teknologi di masa lalu, sementara yang kedua mengikuti kerangka kerja berbasis tugas menurut Daron Acemoglu, yang kami pertimbangkan berdasarkan data yang tersedia dari penelitian-penelitian empiris yang ada.     

    Berdasarkan pendekatan pertama, kami memperkirakan bahwa revolusi AI akan meningkatkan agregat pertumbuhan produktivitas sebesar 0.8-1.3 poin persentase per tahun selama satu dekade mendatang.

    Demikian pula dengan formula berbasis tugas dari Acemoglu, tapi dengan pembacaan literatur empiris terbaru dari kami sendiri, kami memperkirakan bahwa AI akan meningkatkan agregat pertumbuhan produktivitas antara 0.07 hingga 1.24 poin persentase per tahun, dengan perkiraan median sebesar 0.68. Sebagai perbandingan, Acemoglu hanya memproyeksikan peningkatan sebesar 0.07 poin persentase.       

    Selain itu, median estimasi kami sebaiknya dilihat sebagai batas bawah, karena tidak memperhitungkan potensi AI untuk melakukan otomasi produksi ide-ide. Di sisi lain, estimasi kami tidak memperkirakan potensi hambatan pertumbuhan, terutama kurangnya persaingan di berbagai segmen rantai nilai AI, yang sudah dikuasi oleh perusahaan-perusahaan raksasa revolusi digital.                               

    Bagaimana dampak AI terhadap ketenagakerjaan secara keseluruhan? Dalam sebuah penelitian data di tingkat perusahaan di Perancis yang dilakukan antara tahun 2018 dan 2020, kami menunjukkan bahwa adopsi AI berkorelasi positif dengan peningkatan total ketenagakerjaan dan penjualan di tingkat perusahaan.

    Temuan ini konsisten dengan studi terbaru tentang dampak otomasi di tingkat perusahaan terhadap permintaan tenaga kerja, dan hal ini mendukung pandangan bahwa adopsi AI mendorong peningkatan produktivitas dengan membantu perusahaan memperluas cakupan bisnis mereka.      

    Dampak produktivitas ini tampaknya lebih kuat dibandingkan potensi dampak penggantian AI (dimana AI mengambil alih tugas-tugas yang berkaitan dengan jenis pekerjaan dan pekerja tertentu, sehingga mengurangi permintaan tenaga kerja).

    Kami menemukan bahwa dampak AI terhadap permintaan tenaga kerja bersifat positif bahkan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sering kali digolongkan sebagai rentan terhadap otomasi, seperti akuntansi, telemarketing, dan pekerjaan kesekretariatan. Memang benar bahwa meskipun beberapa penggunaan AI (seperti untuk keamanan digital) menghasilkan pertumbuhan lapangan kerja, penggunaan lain (proses administrasi) cenderung mempunyai dampak negatif yang kecil.

    Tapi perbedaan-perbedaan ini tampaknya berasal dari berbagai penggunaan AI, dibandingkan dari karakteristik-karakteristik yang melekat pada pekerjaan-pekerjaan yang terkena dampak tersebut.     

    Secara keseluruhan, risiko utama bagi pekerja adalah mereka akan digantikan oleh pekerja di perusahaan lain yang menggunakan AI, dibandingkan digantikan langsung oleh AI. Memperlambat laju adopsi AI kemungkinan akan merugikan lapangan kerja domestik, karena banyak perusahaan yang akan berkompetisi secara internasional dengan perusahaan-perusahaan yang mengadopsi AI.   

    Meskipun interpretasi kami terhadap data menunjukkan bahwa AI bisa mendorong pertumbuhan dan lapangan kerja, mewujudkan potensi ini memerlukan reformasi kebijakan yang tepat. Misalnya, kebijakan persaingan harus memastikan bahwa perusahaan-perusahaan raksasa yang mendominasi segmen atas rantai nilai tidak menghambat masuknya inovator-inovator baru.

    Penelitian kami sendiri menunjukkan bahwa mereka yang mengadopsi AI sebagian besar adalah perusahaan yang berukuran lebih besar dan lebih produktif dibandingkan mereka yang tidak mengadopsi AI, hal ini menunjukkan bahwa mereka yang sudah berada di atas berada di posisi untuk menjadi pemenang terbesar dalam revolusi AI.     

    Untuk menghindari peningkatan konsentrasi pasar dan kekuatan pasar yang semakin mengakar, kita harus mendorong adopsi AI oleh perusahaan-perusahaan yang berukuran lebih kecil, yang bisa dicapai melalui kombinasi dari kebijakan persaingan dan kebijakan industri yang lebih sesuai yang meningkatkan akses terhadap data dan kekuatan komputasi.

    Untuk meningkatkan potensi ketenagakerjaan dari AI dan meminimalkan dampak-dampak negatif terhadap pekerja, maka akses yang luas terhadap pendidikan berkualitas tinggi, beserta program pelatihan dan kebijakan pasar tenaga kerja yang aktif, akan menjadi sangat penting.        

    Revolusi teknologi berikutnya sudah mulai berlangsung. Masa depan negara-negara dan perekonomian akan bergantung pada kemauan dan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan revolusi teknologi tersebut.              

  • Pendapatan Nvidia Tumbuh 62% Kuartal III/2025, Tembus Rp954,47 Triliun

    Pendapatan Nvidia Tumbuh 62% Kuartal III/2025, Tembus Rp954,47 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA — Nvidia meraih pendapatan US$57 miliar atau sekitar Rp954,47 triliun pada kuartal III/2025, naik 62% dibanding periode yang sama tahun lalu.

    Laba bersih berdasarkan laporan GAAP mencapai US$32 miliar atau sekitar Rp535,84 triliun, tumbuh 65% secara tahunan. Kinerja tersebut melampaui ekspektasi analis Wall Street.

    Lonjakan pendapatan terutama berasal dari bisnis pusat data yang menyumbang US$51,2 miliar atau sekitar Rp857,34 triliun, naik 25% dari kuartal sebelumnya dan meningkat 66% secara tahunan. Bisnis gaming menyumbang US$4,2 miliar atau sekitar Rp70,33 triliun, sedangkan sisanya berasal dari segmen visualisasi profesional dan otomotif.

    Chip GPU Blackwell yang diumumkan pada Maret dan kini menjadi produk unggulan mendorong peningkatan penjualan. CEO sekaligus pendiri Nvidia Jensen Huang menyebut penjualannya melebihi ekspektasi.

    “Penjualan Blackwell benar-benar luar biasa, dan GPU berbasis cloud sudah habis terjual,” kata Huang dikutip dari laman TechCrunch pada Kamis (20/11/2025).

    Dia menilai permintaan komputasi AI terus meningkat untuk pelatihan dan inferensi, serta ekosistem AI kini berkembang di berbagai negara dan industri.

    Sementara CFO Nvidia Colette Kress mengatakan pertumbuhan didorong percepatan komputasi, kemunculan model AI yang semakin kuat, serta aplikasi AI berbasis agen. Dia menyebut selama kuartal tersebut, Nvidia mengumumkan proyek infrastruktur dan pabrik AI dengan total kapasitas 5 juta GPU.

    Permintaan berasal dari berbagai sektor, mulai penyedia layanan cloud, lembaga pemerintah, perusahaan teknologi modern, hingga pusat superkomputer.

    Meski kuat di banyak lini, Nvidia mencatat kendala pada chip pusat data H20 yang hanya terkirim 50 juta unit akibat pembatasan penjualan ke China dan meningkatnya persaingan. Kress menyebut pesanan besar yang diantisipasi tidak terwujud karena tensi geopolitik.

    “Kami kecewa tidak bisa mengirim produk kompetitif dalam jumlah lebih besar ke China, namun tetap berkomitmen berdialog dengan pemerintah AS dan China,” ujarnya.

    Untuk kuartal IV, Nvidia memproyeksikan pendapatan US$65 miliar atau sekitar Rp1.088,43 triliun, mendorong saham perusahaan naik lebih dari 4% pada perdagangan setelah jam bursa.

  • Garena Raup Pendapatan Rp14 Triliun Kuartal III/2025, Tumbuh 51% Berkat Free Fire

    Garena Raup Pendapatan Rp14 Triliun Kuartal III/2025, Tumbuh 51% Berkat Free Fire

    Bisnis.com, JAKARTA — Sea Ltd, perusahaan teknologi asal Singapura, membukukan pendapatan sebesar US$840,7 juta atau Rp14,06 trilliun dari unit bisnis hiburan digital yang dikelola oleh Garena. 

    Nilai tersebut tumbuh 50,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu berkat akusisi pemain Free Fire serta keinginan kuat para pemain Free Fire untuk berbelanja di platform. 

    Dalam laporan investor relations, dikutip Kamis (20/11/2025), Manajemen Sea menyebut mengatakan Free Fire kembali mencatatkan rekor sebagai salah satu game mobile terbesar di dunia berkat performa luar biasa pada kuartal III/2025. 

    “Kesuksesan Free Fire didorong oleh sejumlah kampanye besar, seperti kolaborasi dengan serial Netflix Squid Game,” tulis manajemen. 

    Kolaborasi dengan Netflix menghadirkan tantangan Red Light, Green Light dan dimainkan lebih dari 300 juta kali selama kuartal ketiga. Selain itu, event Naruto Shippuden Chapter 2 berhasil melampaui kesuksesan chapter pertama, dengan storyline yang semakin imersif, yang disambut baik oleh komunitas pemain. 

    Kedua event tersebut mencatat skor kepuasan tertinggi selama dua tahun terakhir dan meningkatkan pendapatan Free Fire secara signifikan.

    “Garena optimistis mampu mencapai pertumbuhan booking di atas 30% secara tahunan pada 2025,” tulis manajemen. 

    Untuk dikutip booking merujuk pada indikator untuk menunjukkan estimasi total uang yang telah dikeluarkan oleh pelanggan selama periode tertentu untuk produk digital entertainment, baik yang sudah tercatat sebagai pendapatan ataupun yang masih tertunda pengakuannya secara akuntansi. 

    Dalam bisnis Garena Ini menjadipenting untuk analisis cash flow aktual, pertumbuhan, dan user engagement perusahaan media/game digital.

    Selain itu laporan juga memaparkan bahwa jumlah pengguna aktif kuartalan di segmen digital entertainment terus mencatat peningkatan sepanjang lima kuartal terakhir. 

    Pada kuartal III/2025, jumlah pengguna aktif melonjak menjadi 670,8 juta, tertinggi dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya yang sebanyak 664,8 juta dan 628,5 juta pada kuartal III/2024.

    Rasio pengguna yang melakukan pembayaran juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai 9,8 persen pada kuartal III/2025 atau naik 180 bps dibandingkan dengan kuartal III/2024 yang sebesar 8%. 

    ARPPU (Average Revenue Per Paying User) memperlihatkan tren positif, di mana pada kuartal III/2025 angka ARPPU naik menjadi US$12,8 lebih tinggi dari kuartal II/2025 yang sebesar US$10,7 dan dibandingkan periode tahun lalu yang stabil di kisaran US$11. 

  • Telkomsel Terapkan AI dalam Sistem Anti-Scam, Dukung Kebijakan Komdigi

    Telkomsel Terapkan AI dalam Sistem Anti-Scam, Dukung Kebijakan Komdigi

    Bisnis.com, JAKARTA— PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) telah menerapkan teknologi keamanan berbasis kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) guna menekan aktivitas penipuan digital, termasuk spoofing dan phishing. 

    Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang mendorong operator memperkuat perlindungan pelanggan.

    VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel Abdullah Fahmi mengatakan pihaknya menyambut baik kebijakan Komdigi yang mendorong penguatan sistem anti-scam berbasis teknologi, termasuk pemanfaatan AI. 

    “Kebijakan ini sejalan dengan komitmen Telkomsel untuk meningkatkan perlindungan pelanggan dan menjaga ekosistem digital,” kata Fahmi kepada Bisnis pada Kamis (20/11/2025). 

    Fahmi mengatakan selama ini Telkomsel telah menerapkan berbagai langkah penguatan keamanan jaringan dan layanan, seperti penggunaan sistem deteksi anomali berbasis AI, pemblokiran trafik yang berindikasi spoofing atau phishing, serta pemantauan pola panggilan dan SMS mencurigakan. 

    Untuk memperkuat aspek responsif, Fahmi bolam, Telkomsel juga menyediakan kanal pelaporan melalui Call Center 188, fitur Bantuan di aplikasi MyTelkomsel, email layanan pelanggan (cs@telkomsel.com), akun media sosial resmi Telkomsel, kanal pelayanan di GraPARI, serta menggunakan nomor SMS pengaduan khusus melalui sms ke 1166 dengan format: penipuan #nomor#isi sms penipuan. 

    “Sehingga pelanggan dapat dengan mudah menyampaikan laporan indikasi penipuan atau aktivitas digital mencurigakan untuk ditindaklanjuti,” katanya. 

    Selain itu, lanjut Fahmi, Telkomsel terus berkolaborasi dengan Komdigi dan pemangku kepentingan lain dalam program pencegahan dan pemblokiran konten ilegal, peningkatan literasi digital, serta pemantauan jaringan untuk mengantisipasi potensi penyalahgunaan perangkat ilegal seperti Base Transceiver Station (BTS) palsu. Termasuk kampanye edukasi publik soal judi online dan kejahatan siber.

    “Telkomsel mengintegrasikan pesan kampanye ini dengan program literasi digital seperti Internet BAIK dan inisiatif Telkomsel Jaga Data, untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap risiko kejahatan siber,” ungkap Fahmi.

    Kendati demikian, Fahmi mengakui bukan tanpa tantangan untuk memperkuat perlindungan pelanggan dari penipuan. Dia mengatakan tantangan utama adalah cepatnya evolusi modus penipuan. 

    Menurutnya pola spoofing, masking, phishing, hingga pemanfaatan perangkat ilegal seperti Fake BTS terus berubah sehingga sistem AI harus dapat diperbarui secara adaptif dan berkelanjutan untuk tetap efektif. Selain itu, penanganan harus lintas ekosistem.

    Pasalnya, aktivitas penipuan digital kini melibatkan banyak platform telekomunikasi, aplikasi pesan, hingga layanan finansial yang membuat integrasi data dan koordinasi lintas sektor menjadi kebutuhan penting agar deteksi dan penanganan bisa dilakukan secara komprehensif.

    Dengan pendekatan kolaboratif, Telkomsel menyatakan siap mendukung kebijakan pemerintah.

    “Dengan pendekatan yang kolaboratif dan berkelanjutan, Telkomsel siap mendukung implementasi kebijakan anti-scam pemerintah demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan pelanggan,” ungkapnya. 

    Diberitakan sebelumnya, Komdigi menegaskan maraknya penipuan digital menuntut penguatan teknologi anti-scam di industri telekomunikasi. Modus pelaku disebut berkembang dari spoofing dan masking hingga manipulasi nomor melalui celah teknis di jaringan.

    Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan penipuan kini tidak hanya terjadi via panggilan, tetapi lintas kanal komunikasi.

    “Saat ini, isu yang paling sering muncul adalah mengenai scam call atau panggilan penipuan. Penipuan ini terjadi melalui telepon, SMS, messenger service, surat elektronik, dan berbagai saluran lain. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mencegah hal ini?” kata Edwin dalam acara Ngopi Bareng di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Jumat (14/11/2025).

  • Data Center Menjamur di AS, Stabilitas Listrik saat Musim Dingin Terancam

    Data Center Menjamur di AS, Stabilitas Listrik saat Musim Dingin Terancam

    Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan pesat pusat data atau data center membuat konsumsi listrik di Amerika Serikat (AS) meningkat. Stabilitas jaringan listrik selama musim dingin terancam.

    Melansir Techcrunch.com, North American Electric Reliability Corporation (NERC) melaporkan bahwa permintaan listrik di seluruh Amerika Utara pada musim dingin ini diperkirakan meningkat sebesar 2,5% dibandingkan tahun lalu, mencapai total 20 gigawatt (GW).

    Peningkatan kebutuhan listrik tersebut dinilai signifikan, mengingat dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan permintaan di musim dingin biasanya ada di kisaran 1%.

    Dalam laporannya, Pusat data menjadi kontributor utama lonjakan konsumsi listrik tersebut. Terutama di wilayah Atlantik Tengah, AS Barat, dan AS Tenggara.

    “Wilayah tersebut merupakan area di mana banyak pengembangan pusat data terjadi,” jelas Mark Olson, manajer penilaian keandalan NERC, kepada E&E News, dikutip Kamis (20/11/3025).

    Laporan NERC secara khusus menyoroti ekspansi pusat data di Texas, menyebutnya berkontribusi pada berlanjutnya risiko kekurangan pasokan listrik.

    Hal itu lantas menimbulkan kekhawatiran bagi warga Texas, yang hampir lima tahun lalu mengalami pemadaman listrik besar-besaran akibat cuaca dingin ekstrem.

    Meski demikian, pada kesempatan berbeda, NERC menyatakan bahwa situasi di Texas tahun ini kemungkinan tidak akan seburuk Februari 2021. Hal ini sebagian berkat penambahan sejumlah besar sistem baterai ke jaringan listrik negara bagian tersebut. 

    Inovasi baterai tersebut dilaporkan dapat menyalurkan listrik jika pembangkit berbahan bakar gas tidak berfungsi optimal, dan mampu bereaksi lebih cepat terhadap gangguan kecil dibandingkan pembangkit yang memerlukan waktu lebih lama untuk beroperasi.

    Tantangan Konsumsi Konstan Data Center

    Meskipun demikian, Texas belum sepenuhnya aman. Sebagian besar baterai yang dipasang di Texas hanya dapat memasok listrik selama beberapa jam. Kapasitas ini ideal untuk mengatasi lonjakan permintaan jangka pendek, seperti saat malam hari ketika orang pulang kerja.

    Akan tetapi, NERC mencatat bahwa pusat data cenderung menarik listrik secara konsisten sepanjang hari. Jika gelombang dingin berkepanjangan melanda Texas, menjaga baterai tetap terisi cukup untuk memasok daya ke semua pelanggan, termasuk data center.

    Jika musim dingin kali ini berlalu tanpa badai signifikan, NERC memperkirakan tidak akan ada masalah pada jaringan listrik regional. Namun, organisasi tersebut mengingatkan bahwa dalam lima tahun terakhir, telah terjadi empat badai parah. 

    Pasalnya, badai semacam itu dapat memaksa operator jaringan untuk mengimpor listrik, meminta pelanggan besar (seperti industri atau pusat data) untuk membatasi penggunaan (curtailment), atau sebagai upaya terakhir, menerapkan pemadaman bergillir (rolling blackouts).

  • Belanja Pulsa Warga Pedesaan dan Perkotaan Menurun dalam 10 Tahun Terakhir

    Belanja Pulsa Warga Pedesaan dan Perkotaan Menurun dalam 10 Tahun Terakhir

    Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Indonesia untuk pulsa handphone menunjukkan tren menurun selama 10 tahun terakhir. Puncak belanja pulsa terjadi pada 2026.

    Dilansir dari DataIndonesia, Kamis (20/11/2025) rata-rata, pengeluaran pulsa handphone penduduk Indonesia sepanjang periode 2016-2025 tercatat sebesar Rp16.233 per kapita per bulan untuk wilayah perkotaan dan pedesaan.

    Secara rinci, rata-rata pengeluaran pulsa di wilayah perkotaan lebih besar dibandingkan dengan wilayah pedesaan, mencapai Rp19.706 per bulan, sedangkan di wilayah pedesaan sebesar Rp11.915 per bulan. Hal ini menandakan masyarakat di perkotaan lebih gencar dalam berbelanja pulsa.

    Pada 2025, rata-rata pengeluaran pulsa di wilayah perkotaan dan pedesaan tercatat sebesar Rp15.285 per kapita per bulan. Angkanya menurun 2,25% dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 2024 yang mencapai Rp15.637.

    Di wilayah perkotaan saja, pengeluaran pulsa tercatat sebesar Rp17.949 per bulan. Angkanya menurun 2,41% dari Rp18.393 pada 2024. Sementara itu, di wilayah pedesaan, pengeluaran untuk pulsa juga menurun sebesar 2,89%, dari Rp11.711 pada 2024 menjadi Rp11.372 pada 2025.

    Jika dibandingkan dengan 2016 atau 10 tahun yang lalu, pengeluaran pulsa penduduk Indonesia di wilayah perkotaan dan pedesaan masih tercatat menurun 31,1%, dari Rp22.182 menjadi Rp15.285 per kapita per bulan.

    Di wilayah perkotaan, pengeluaran untuk pulsa menurun 39,7%, dari Rp29.772 menjadi Rp17.949. Sementara di wilayah pedesaan turun 19,6%, dari Rp14.144 menjadi Rp11.372 per kapita per bulan.

    Selama periode tersebut, pengeluaran pulsa tertinggi di wilayah perkotaan tercatat pada 2016 sebesar Rp29.772, sedangkan terendah pada 2020 sebesar Rp16.372. Di wilayah pedesaan, pengeluaran tertinggi untuk pulsa juga tercatat pada 2016 sebesar Rp14.144, dan terendah juga terjadi pada 2020 sebesar Rp10.976.

    Adapun untuk wilayah perkotaan dan pedesaan, pengeluaran tertinggi terjadi pada 2016 sebesar Rp22.182, sedangkan terendah pada 2020 sebesar Rp13.995.

    Bagaimana ARPU Operator

    Telkom (TLKM), Indosat (ISAT) dan XLSMART (EXCL) kompak mencatatkan pertumbuhan ARPU pada kuartal III/2025. ARPU tertinggi masih dipegang oleh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Namun, Indosat dan XLSMART terus mendekat.

    Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) ini mempunyai ARPU mobile Rp43.400 khusus pada kuartal III/2025, naik 5,2% dari Rp41.300 pada kuartal sebelumnya. 

    Operator telekomunikasi lainnya, PT Indosat Tbk. (ISAT) dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) terus menempel Telkomsel pada kinerja ARPU.  

    Indosat mencatatkan perbaikan ARPU menjadi Rp39.000 pada kuartal III/2025, naik dari Rp38.000 pada kuartal III/2024. Khusus pada kuartal III/2025, ARPU Indosat untuk pertama kalinya menyentuh Rp40.000. 

    Infomemo Indosat menyebut ARPU seluler (blended) naik 3,5% QoQ sehingga rata-rata 9 bulan 2025 menjadi Rp39.000, naik 4% dibandingkan periode yang sama 2024. 

    Di sisi lain, EXCL melaporkan ARPU mobile blended sebesar Rp37.800 pada kuartal III/2025, turun secara tahunan dari Rp43.100 tetapi naik secara kuartalan dari Rp34.400. 

    Pascamerger, EXCL melaporkan pelanggan sebanyak 79,6 juta pada kuartal III/2025, naik 36% YoY dari posisi 58,6 juta. Namun, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, jumlah pelanggan EXCL itu turun 4% (QoQ).