Category: Bisnis.com Tekno

  • Penunjukkan Wamen jadi Komisaris Dinilai Rentan Konflik Kepentingan

    Penunjukkan Wamen jadi Komisaris Dinilai Rentan Konflik Kepentingan

    Bisnis.com, Jakarta — Penunjukkan sejumlah wakil menteri aktif sebagai komisaris di perusahaan dinilai rentan menimbulkan konflik kepentingan.

    Pengamat Hukum Tata Negara, Refly Harun menilai bahwa dirinya mengenal baik Nezar Patria ketika aktif sebagai aktivis di PRD dan jurnalis.

    Namun pada akhirnya Refly menyayangkan sikap Nezar Patria yang menerima jabatan rangkap sebagai Komisaris Utama Indosat dan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital.

    “Padahal dia dulu tuh pejuang, tapi ketika dia masuk lingkaran kekuasaan ternyata sama saja, tidak punya etika,” tuturnya kepada Bisnis di Jakarta, Jumat (30/5/2025).

    Refly mengemukakan bahwa jabatan wakil menteri tidak pantas menjadi komisaris di perusahaan BUMN, apalagi di perusahaan swasta. 

    “Nanti pasti bakal ada konflik of interest,” katanya.

    Menurut Refly, Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan bahwa jabatan wakil menteri sama dengan jabatan seorang menteri, sehingga tidak boleh merangkap jabatan.

    “Itu kan sudah ada putusan MK, pernah ada yang uji materi itu dulu. Jadinya wakil menteri itu dilarang rangkap jabatan,” ujar Refly.

    Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT) mengangkat Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, sebagai Komisaris Utama perseroan.

    Nezar menggantikan posisi Halim Alamsyah yang sebelumnya menjabat Komisaris Utama sejak RUPSLB 2021, saat Indosat mulai melakukan merger menjadi Indosat Ooredoo Hutchison.

    Presiden Direktur & CEO ISAT, Vikram Sinha, menyampaikan bahwa perseroan akan tetap fokus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham serta mempercepat transformasi menjadi perusahaan berbasis teknologi AI.

    “Komitmen kami adalah memberikan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” kata Vikram dalam keterangan resmi, Rabu (28/5/2025).

    Selain Nezar, sejumlah wakil menteri juga ditetapkan mengisi jabatan sebagai komisaris. Terdapat Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono dan Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Ahmad Riza Patria.

    Keduanya terpilih usai PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) melakukan perubahan susuran redaksi dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang berlangsung, Rabu (28/5/2025). 

    Vice President Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel Saki H. Bramono mengatakan Diaz Hendropriyono ditetapkan oleh para pemegang saham sebagai Komisaris Utama Telkomsel. Diaz merupakan Wakil Menteri Lingkungan Hidup.

    “PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (Telkom Indonesia) dan Singapore Telecom Mobile, Pte. Ltd. (Singtel) selaku pemegang saham Telkomsel telah menetapkan Diaz FM Hendropriyono diangkat sebagai Komisaris Utama,” kata Saki dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (29/5/2025).

    Telkomsel juga mengangkat Ahmad Riza Patria sebagai komisaris. Pria yang disapa Ariza itu juga menjabat sebagai Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.

    Selain Ariza, Irfan Wahid dan Rico Rustombi juga diangkat sebagai Komisaris. Lalu, Chandra A. Setiawan didapuk sebagai komisaris independen.

    Selain perombakan susunan komisaris, Telkomsel juga menetapkan Stanislaus Susatyo ditetapkan sebagai Direktur Sales.

    “Penetapan susunan baru Komisaris dan Direksi Telkomsel sejalan dengan strategi Telkomsel untuk ikut serta berperan dalam Majukan Indonesia melalui akselerasi pengembangan layanan mobile dan fixed broadband,” terangnya.

  • Grammarly Raih Pendanaan Rp16,3 Triliun dari General Catalyst, Fokus Ekspansi

    Grammarly Raih Pendanaan Rp16,3 Triliun dari General Catalyst, Fokus Ekspansi

    Bisnis.com, JAKARTA —  Grammarly, startup asisten penulisan digital yang telah berusia 14 tahun, baru saja mengamankan komitmen pendanaan sebesar US$1 miliar atau sebesar Rp16,33 triliun dari General Catalyst, yang akan digunakan untuk memperkuat upaya penjualan dan pemasaran, serta melakukan akuisisi strategis pada masa depan.

    Berbeda dari putaran pendanaan ventura tradisional, General Catalyst tidak memperoleh saham di Grammarly sebagai imbalan atas investasinya. Sebaliknya, Grammarly akan mengembalikan modal tersebut melalui pembayaran berbasis pendapatan, yakni persentase tetap yang telah ditentukan dari pendapatan yang dihasilkan berkat penggunaan dana General Catalyst.

    Pendanaan ini berasal dari Customer Value Fund (CVF) milik General Catalyst, sebuah dana khusus yang dirancang untuk membantu startup tahap akhir dengan arus pendapatan berulang yang stabil. 

    Dilansir dari Techcrunch, Jumat (30/5/2025) Strategi pendanaan alternatif dari CVF pada dasarnya “meminjamkan” modal yang dijamin oleh recurring revenue perusahaan, sehingga tidak menurunkan valuasi atau mengurangi kepemilikan pendiri dan investor awal.

    Bagi perusahaan seperti Grammarly, skema ini sangat menguntungkan karena bersifat nondilutive dan tidak mengubah valuasi perusahaan. Grammarly sendiri pernah mencapai valuasi US$13 miliar pada 2021, saat era suku bunga nol, namun menurut salah satu investornya, valuasi saat ini jauh lebih rendah.

    Pada Desember lalu, Grammarly mengakuisisi startup produktivitas Coda dan menunjuk CEO Coda, Shishir Mehrotra, sebagai CEO baru Grammarly. Langkah ini menandai transformasi Grammarly menjadi platform AI productivity yang lebih luas, dengan pendapatan tahunan yang kini telah melampaui US$700 juta.

    Customer Value Fund milik General Catalyst telah mendanai hampir 50 perusahaan, termasuk Lemonade di sektor insurtech dan Ro di bidang telehealth. Dana ini memiliki limited partner tersendiri dan tidak termasuk dalam penggalangan dana utama General Catalyst senilai $8 miliar baru-baru ini.

    Dengan pendanaan baru ini, Grammarly diproyeksikan akan semakin agresif dalam ekspansi pasar dan akuisisi, memperkuat posisinya sebagai pemimpin di bidang teknologi produktivitas berbasis AI.

  • Riady Foundation Andalkan STEM Indonesia Cerdas, Siapkan 10 Juta Siswa Kuasai AI

    Riady Foundation Andalkan STEM Indonesia Cerdas, Siapkan 10 Juta Siswa Kuasai AI

    Bisnis.com, JAKARTA — Riady Foundation menyiapkan inisiatif nasional bernama STEM Indonesia Cerdas, sebuah program kolaboratif lintas kementerian yang bertujuan merevolusi pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) serta kecerdasan buatan (AI) di seluruh Indonesia.

    Program ini didukung pendanaan sebesar Rp500 miliar dan mulai diimplementasikan pada kuartal III/2025, dengan target ambisius membekali 10 juta siswa Indonesia dengan fondasi kecakapan AI dan STEM.

    STEM Indonesia Cerdas digagas bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi Sainstek, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Kementerian Komunikasi dan Digital.

    Pada tahap awal, program ini melibatkan lebih dari 500 satuan pendidikan perintis, meliputi sekolah negeri, swasta, madrasah, dan pesantren di seluruh nusantara.

    Inisiator program sekaligus Direktur Eksekutif Riady Foundation  Stephanie Riady mengatakan program ini dirancang dengan pendekatan menyeluruh, menyediakan modul ajar inklusif, pelatihan guru, platform pembelajaran digital terbuka, serta sistem pemantauan dan evaluasi berbasis data.

    Kurikulum AI-STEM yang modular dan adaptif akan diterapkan agar dapat direplikasi secara nasional dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk di daerah tertinggal.

    “STEM Indonesia Cerdas adalah gerakan kolaboratif menjawab tantangan nyata: kesenjangan akses, kualitas, dan sumber daya dalam pendidikan STEM di Indonesia—terutama di daerah tertinggal dan pada madrasah yang selama ini belum banyak tersentuh. Kami ingin mengubah cara pandang terhadap sainstek dan matematika, ucapnya dikutip Jumat (30/5/2025).

    Dia juga mengatakan bahwa sains tidak harus rumit, teknologi tidak harus mahal, dan matematika tidak harus menakutkan. Justru sebaliknya, semua itu bisa dekat, terjangkau, relevan, dan menyenangkan bagi semua anak Indonesia.

    “Kita memulai langkah awal yang penting—bukan sekadar seremoni, tetapi titik tolak dari sebuah gerakan bersama. Kita sedang membangun jejaring nasional pembelajar, karena sains tumbuh dari percakapan lintas disiplin dan eksperimen bersama,” tambahnya.

    Ke depan menurutnya, komitmen senilai Rp500 miliar ini akan diarahkan untuk membangun infrastruktur pembelajaran AI-STEM yang mencakup penguatan kapasitas pengajar, teknologi pembelajaran, serta sistem tata kelola dan evaluasi yang dapat direplikasi secara nasional.

  • Kapasitas Satelit Terbatas, Daya Saing Digital RI Berpotensi Terhambat

    Kapasitas Satelit Terbatas, Daya Saing Digital RI Berpotensi Terhambat

    Bisnis.com, JAKARTA — Kapasitas satelit Geostationary Earth Orbit (GEO) yang terbatas menjadi salah satu tantangan yang harus dilewati  pemerintah jika ingin meningkatkan daya saing digital Indonesia. 

    Satelit menjadi opsi paling mudah dan cepat untuk memberi akses internet ke seluruh wilayah Indonesia dan meningkatkan  kemampuan digital masyarakat di rural.

    Data terbaru East Ventures melaporkan daya saing digital Indonesia meningkat lebih tinggi pada 2025 dibandingkan dengan 2025.   

    Laporan 2020 hingga 2025 menunjukkan peningkatan daya saing digital antarprovinsi yang konsisten, sebagaimana tercermin dari skor EV-DCI 2025 sebesar 38,8 atau naik 70 basis points (Bps). Lebih tinggi dibandingkan dengan 2024 yang naik 40 bps menjadi sebesar 38,1.    

    Salah satu faktor yang membuat daya saing digital meningkat karena kehadiran internet 4G di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

    Dalam menyalurkan internet ke 3T, pemerintah mengandalkan beragam teknologi salah satunya satelit GEO bernama Satelit Satria-1 yang mengorbit di ketinggian 36.000 kilometer di atas permukaan bumi. 

    Satelit multifungsi tersebut mengangkut kapasitas 150 Gbps dan menyuntikan internet ke lebih dari 30.000 titik di daerah rural. Karena kapasitas terbatas, maka makin banyak pengguna, kualitas layanan makin melambat.

    Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward menekankan pentingnya peningkatan bandwidth dan pemerataan infrastruktur digital sebagai kunci percepatan daya saing digital. . 

    Menurut perhitungannya, jika kapasitas bandwidth internet melalui Satria di Papua dapat digandakan, maka trafik internet akan meningkat minimal empat kali lipat. Efek domino dari peningkatan ini akan sangat besar, tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kemajuan manusia di bidang kemakmuran, kesehatan, dan pendidikan.

    Namun, jika kapasitas bandwidth tidak ditambah maka peningkatan daya saing masyarakat Indonesia di tengah era yang serba digital hanyalah angan-angan.

    “Untuk Papua, bandwidth harus ditambah, misalnya bandwidth satelit yang awalnya 2Mbps menjadi minimal 4 Mbps atau 8 Mbps, dan area yang dibuka harus lebih merata. Teresterialisasi hingga bandwidth menjadi minimal 10 kali lebih besar dan delay lebih rendah,” kata Ian kepada Bisnis, Jumat (30/5/2025).

    Ian mengatakan bahwa tantangan geografis dan keterbatasan bandwidth masih menjadi hambatan utama dalam meningkatkan daya saing. Pemerintah dan operator telekomunikasi seperti Telkomsel terus berupaya memperluas jaringan 4G dan menambah kapasitas bandwidth.

    Ian juga menekankan bahwa peningkatan bandwidth dan pemerataan infrastruktur tidak harus selalu mengandalkan dana APBN. Kolaborasi dengan operator telekomunikasi, khususnya BUMN, sangat memungkinkan dan bahkan sudah menjadi semangat bersama untuk membangun daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). 

    “Relokasi anggaran juga bisa dilakukan dengan prinsip efisiensi, memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan dampak sosial dan ekonomi yang terukur,” kata Ian. 

    Praktik kolaborasi ini sudah berjalan, di mana Telkomsel dan pemerintah daerah Papua Pegunungan, misalnya, bekerja sama untuk meningkatkan kualitas layanan internet 4G/LTE melalui sinergi dengan BAKTI Kominfo dan pemanfaatan Palapa Ring Timur. 

    Pemerintah juga terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital, seperti membangun lebih dari 1.700 titik konektivitas dan meresmikan AI Experience Center di Jayapura untuk mendukung literasi digital dan pengembangan SDM lokal. 

  • 30% Masyarakat Indonesia Tidak Percaya Berita Buatan AI

    30% Masyarakat Indonesia Tidak Percaya Berita Buatan AI

    Bisnis.com, JAKARTA – Survei terbaru dari YouGov menemukan indikasi tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap berita buatan Artificial Intelligence (AI) di Indonesia. Sebanyak 70% surveyor menyatakan mereka memercayai berita yang dihasilkan AI sama bahkan lebih dari news karya manusia.

    General Manager YouGov Indonesia Edward Hutasoit mengatakan persentase tersebut merupakan yang tertinggi di antara negara-negara surveyor lain.

    Dia menambahkan 77% responden lain menegaskan pentingnya transparansi. Terutama, dalam menyebut secara jelas jika konten dibuat oleh AI. Sementara 54% responden merasa regulasi saat ini sudah cukup, sisanya menilai perlunya pengawasan yang lebih ketat.

    “Di Indonesia, keseimbangan antara manfaat teknologi dan keterbukaan informasi akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik,” kata Edward dalam keterangan resminya pada Jumat (30/5/2025).

    Namun, secara keseluruhan survei tersebut melihat masyarakat Indonesia termasuk yang paling optimistis terhadap peran AI dalam kehidupan sehari-hari.

    Sebanyak 36% responden Indonesia menyatakan sikap positif terhadap meningkatnya peran AI — jauh lebih tinggi dibanding rata-rata 17 negara lain sebesar 24%.

    Lalu, 34% responden Indonesia juga mengaku berhati-hati terhadap peran AI dalam kehidupan mereka, angka ini jauh lebih tinggi dibanding Hong Kong (11%) maupun Singapura (27%), menunjukkan sikap yang terbuka namun tetap kritis.

    “Survei ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia optimistis terhadap peran AI dalam kehidupan mereka, dan juga termasuk yang paling nyaman dengan berbagai konten digital yang dihasilkan AI. Sikap terbuka ini memberikan peluang besar bagi pelaku bisnis, media, dan platform digital untuk menjangkau audiens yang digital-savvy dan berpikiran terbuka,” jelasnya.

    Namun, sambung Edward, di balik optimisme ada kekhawatiran yang tidak dapat diabaikan. Sekitar 48% konsumen Indonesia mengkhawatirkan hilangnya sentuhan manusia dalam konten yang dibuat AI, 46% khawatir soal privasi dan penggunaan data, dan 32% mencemaskan risiko misinformasi dan deepfake.

    Hal ini disebut mengindikasikan pentingnya penerapan prinsip transparansi dan etika yang kuat dalam penggunaan AI.

    Konsumen Indonesia juga termasuk yang paling terbuka dengan konten berbasis AI dalam berbagai format. Survei ini mencatat bahwa 58% responden Indonesia nyaman dengan gambar yang dihasilkan AI, dan 56% juga nyaman dengan konten video — lebih tinggi dibanding Hong Kong (51% gambar, 45% video) dan Singapura (37% gambar, 36% video).

    Keterbukaan ini meluas ke berbagai bentuk konten digital sehari-hari, seperti unggahan media sosial (54%); Artikel atau blog (51%); Email/newsletter (44%). Tidak hanya itu, hampir 50% konsumen Indonesia bersedia berinteraksi dengan influencer digital berbasis AI, lebih dari dua kali lipat rata-rata 17 negara yang disurvei (24%).

    “Hal ini mengindikasikan potensi besar bagi strategi komunikasi dan pemasaran berbasis AI di pasar Indonesia,” kata dia.

    Tingkat kenyamanan ini juga didukung oleh tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap berita buatan AI. Sebanyak 70% orang Indonesia menyatakan mereka mempercayai berita yang dihasilkan AI sama atau bahkan lebih besar dibanding berita buatan manusia — tertinggi di antara negara-negara yang disurvei.

    Kendati demikian, sebanyak 77% responden juga menegaskan pentingnya transparansi, terutama dalam menyebut secara jelas jika konten dibuat oleh AI. Sementara 54% responden merasa regulasi saat ini sudah cukup, sisanya menilai perlunya pengawasan yang lebih ketat.

     

  • Menanti Sentuhan AI dalam Optimalisasi Sumber Daya Papua

    Menanti Sentuhan AI dalam Optimalisasi Sumber Daya Papua

    Bisnis.com, JAKARTA – Kehadiran infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Papua dinilai perlu dimanfaatkan secara optimal agar tata kelola sumber daya alam (SDA) yang melimpah dapat memberi hasil yang maksimal. Di sisi lain, keberadaan pemerintah dan swasta di wilayah tersebut dilihat sebagai langkah menjaga kedaulatan digital RI di tengah gempuran dan ancaman kolonialisme AI.

    Pemerintah dan PT Indosat Tbk. (ISAT) pekan lalu meresmikan AI Experience di Papua, yang bertujuan mendorong pemerataan teknologi terkini di Tanah Air. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkirakan AI akan memberi kontribusi sebesar US$366 miliar bagi perekonomian Indonesia pada 2030.

    Komdigi juga menekankan pentingnya AI di Papua dalam pengelolaan sumber daya alam yang besar di wilayah ini.

    Senada, Ketua Bidang Industri IoT, AI, dan Big Data Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Teguh Prasetya mengatakan infrastruktur AI memiliki peran besar dalam mengelola dan mengoptimalkan sumber daya alam Indonesia Timur, termasuk Papua.

    Beberapa manfaat potensial AI di Papua, menurut Teguh antara lain untuk memantau dan mengelola sumber daya alam secara real-time melalui sensor dan drone yang didukung AI, sehingga mengurangi kerusakan lingkungan.

    Kemudian AI juga dapat digunakan untuk pengolahan data besar (big data) untuk meningkatkan efisiensi eksplorasi dan eksploitasi sumber daya seperti pertambangan, perikanan, dan kehutanan.

    “AI juga dapat membantu memprediksi dan mitigasi risiko terkait bencana alam yang sering terjadi di wilayah tersebut hingga pengembangan teknologi berbasis AI untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil sumber daya alam, seperti pengolahan hasil hutan atau pertanian secara otomatis dan berkelanjutan,” kata Teguh.

    Teguh juga mengatakan meski saat ini kesiapan industri dalam mengadopsi AI masih rendah, sebesar 19% menurut laporan Cisco pada 2025, dalam 3 tahun ke depan akan meningkat.

    Kesadaran dan pemahaman tentang manfaat AI yang makin meningkat di kalangan manajemen hingga ketersediaan sumber daya manusia yang terampil dalam teknologi AI, yang saat ini masih terbatas, menjadi faktor utama pendorong meningkatnya adopsi AI di Tanah Air oleh pelaku industri.

    “Investasi dalam infrastruktur dan teknologi pendukung, seperti jaringan 5G, GPU dan data center yang memadai. Regulasi , insentif dan kebijakan pemerintah, yang dapat mempercepat adopsi jika mendukung inovasi dan investasi teknologi, juga memberi andil besar,” kata Teguh.

    Teguh menekankan bahwa keberhasilan implementasi AI dalam konteks ini membutuhkan kebijakan yang kuat, pelatihan tenaga kerja lokal, serta kerjasama antara pemerintah, swasta, dan komunitas adat.

    “Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat membantu Indonesia Timur untuk mengelola sumber daya alamnya secara lebih berkelanjutan dan produktif,” kata Teguh. 

    Kolonialisme AI

    Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward menilai infrastruktur AI di Papua menjadi langkah baik yang diambil pemerintah untuk mencegah ‘penjajahan’ baru pada era AI, khususnya di Papua yang memiliki sumber daya besar.

    Dia mengatakan AI sebagai perangkat bantu pengolah sumber daya alam Papua harus mendapatkan masukan yang sesuai dengan kearifan lokal sehingga keluarannya  memberikan peran yang baik bagi masyarakat setempat, Indonesia maupun dunia.

    “Jangan sampai AI menjadikan kita terjajah oleh perangkat ataupun negara lain karena kita tidak belajar memahami cara kerja AI dengan tidak memasukan kearifan lokal Indonesia,” kata Ian.

    Dia mengatakan infrastruktur AI dapat menjadi ancaman bagi Papua jika dipakai pihak yang kepentingannya mengeksploitasi sumber daya alam Papua tanpa mempertimbangkan kemakmuran masyarakat setempat.

    Misal, pemanfaatan AI untuk pertambangan besar-besaran tanpa memasukan data kelestarian lingkungan dan kemakmuran rakyat setempat. Sebaiknya, tutur Ian, AI digunakan untuk persiapan melatih masyarakat Papua secara lebih bertahap untuk menjadi penggerak pertambangan.

    Pemetaan AI digunakan untuk memberikan pemahaman Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) pertambangan yang  lebih mudah bagi masyarakat Papua.

    Dia menjelaskan bahwa AI pun harus belajar, maka masukan data, keluaran yang diharapkan serta batasannya harus baik bagi kemajuan masyarakat setempat termasuk kelestarian alam.

    “Maka sebaiknya dari awal melibatkan masyarakat setempat. Sehingga masyarakat setempat memiliki kemampuan menjadi pemain AI, bukan dipermainkan. Kunci utama ya peningkatan pengetahuan STEM, pengalihan secara bertahap menjadi pemain AI,” kata Ian.

    Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama dengan  PT Indosat Tbk. (ISAT) resmi meluncurkan AI Experience Center (AIEC) di Jayapura, Papua, sebagai bagian dari komitmen untuk mendorong pemerataan transformasi digital dan penguatan talenta kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, khususnya di kawasan Timur yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap teknologi mutakhir.

    AIEC Papua menjadi fasilitas pusat AI kedua Indosat setelah Solo, dibangun melalui kolaborasi dengan mitra global seperti Huawei dan Wadhwani Foundation.

    Pusat ini menyediakan berbagai contoh kasus pemanfaatan AI, pelatihan dasar hingga lanjutan, serta uji coba penggunaan teknologi AI. Masyarakat luas, pelajar, hingga aparatur sipil negara dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk meningkatkan literasi dan keterampilan digital, membuka peluang baru, dan meningkatkan produktivitas.

    Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan kehadiran AI Experience Center menjadi bukti nyata komitmen negara dalam mendorong pemerataan pemahaman kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia, utamanya wilayah timur.

    AI Experience Center menjadi tonggak penting bagi Papua yang lebih digital dan inklusif, serta melahirkan talenta-talenta digital yang berdampak pada kemajuan Papua.

    “Kami sangat berharap pusat ini menjadi katalisator bagi lahirnya talenta-talenta digital baru di Papua. Ini penting sekali karena Papua dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan alam yang cukup subur dan indah,” kata Nezar dalam sambutannya pada acara Kitorang Bisa AI, mengutip Youtube Indosat Ooredoo Hutchison, Rabu (21/5/2025).

  • Mastel Minta Prabowo Lanjutkan Pembangunan 4G di 3T, Beri Dampak Nyata

    Mastel Minta Prabowo Lanjutkan Pembangunan 4G di 3T, Beri Dampak Nyata

    Bisnis.com, JAKARTA — Kehadiran infrastruktur digital yang dibangun sejak 10 tahun lalu mulai membuahkan hasil berupa peningkatan daya saing masyarakat di wilayah Indonesia Timur, termasuk Papua. Presiden Prabowo Subianto diminta untuk melanjutkan program yang dinilai cukup berhasil itu. 

    Provinsi di kawasan Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan mencatat lonjakan signifikan dalam daya saing digital berdasarkan laporan East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2025. Hadirnya infrastruktur 4G menjadi salah satu pendorong. 

    Data terbaru menunjukkan bahwa wilayah-wilayah ini mulai mengejar ketertinggalan dan mempersempit kesenjangan digital dengan provinsi-provinsi utama di Indonesia.

    Papua menjadi sorotan utama dengan kenaikan skor EV-DCI dari 30,8 pada tahun 2024 menjadi 38,6 pada 2025. 

    Kenaikan ini membawa Papua naik 14 peringkat, dari posisi ke-34 ke posisi ke-20 dari 38 provinsi—menjadikannya provinsi dengan lonjakan peringkat tertinggi secara nasional.

    Dengan peningkatan positif tersebut, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sigit Puspito Wigati Jarot menilai daya saing digital di daerah terdepan, tertinggal, terluar (3T) yang meningkat berkat penetrasi 4G benar-benar dirasakan di lapangan.

    Sebab, tambahnya, infrastruktur jaringan 4G atau 5G merupakan fondasi sekaligus enabler yang sangat penting di era digital, sehingga perluasan infrastruktur jaringan harus dilanjutkan dengan pemanfaatan dan pemberdayaan.

    “Perluasan infrastruktur jaringan, harus dilanjutkan dengan pemanfaatan dan pemberdayaannya, sehingga perbaikan cakupan jaringan harus dirasakan dalam kehidupan nyata. Dampaknya juga nyata selain perbaikan secara angka statistik,” kata Sigit kepada Bisnis, Jumat (30/5/2025).

    Misalnya, dari perspektif masyarakat. Sigit menyorot generasi muda di daerah 3T yang dipandang tidak hanya merasakan dampak peningkatan kecepatan internet. Melainkan juga kesempatan dan peluang dari aktivitas digital lancar, berkualitas, produktif, serta inovatif.

    Dia menambahkan, hal ini berpotensi memberi jalan serta menciptakan permintaan terhadap kualitas broadband yang lebih baik. Setelah 4G, sambungnya, akan muncul perubahan pola pikir adopsi teknologi 5G atau yang lebih maju.

    “Semula sebagian mungkin masih skeptis, buat apa kecepatan tinggi teknologi tinggi? Namun ke depan, harapannya makin terbuka dengan kualitas jaringan yang lebih mendukung untuk transformasi digital,” kata Sigit.

    Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa Indonesia masih banyak tertinggal dalam hal peningkatan kolaborasi sebagai salah satu ciri-ciri era digital.

    Masyarakat pengguna – termasuk di daerah 3T – tidak bisa dilihat sebagai objek atau bahkan beban pembangunan. Melainkan juga sebagai komponen penting dalam ekosistem digital sehingga perlu diharapkan lebih kolaboratif dan terus dilibatkan dengan berbagai program stakeholder engagement.

  • Pendorong Transformasi Ekonomi Digital Nasional

    Pendorong Transformasi Ekonomi Digital Nasional

    Bisnis.com, JAKARTA – Trescon secara resmi mengumumkan penyelenggaraan World AI Show edisi global ke-45, yang akan berlangsung pada 8–9 Juli 2025 di J.W. Marriott, Jakarta, menempatkan Indonesia sebagai pusat inovasi kecerdasan buatan (AI) terdepan di kawasan Asia Tenggara.

    Seiring dengan proyeksi nilai ekonomi digital Indonesia yang akan melampaui US$130 miliar pada akhir tahun 2025, Indonesia dinilai siap memperkuat posisinya sebagai pusat teknologi utama di kawasan. World AI Show akan menjadi titik temu penting bagi pemimpin teknologi global, pembuat kebijakan, dan investor untuk menggali potensi transformasional AI di tengah lanskap digital Indonesia yang terus berkembang.

    “AI adalah teknologi yang terus berkembang dengan dampak global, dan implementasinya yang optimal masih terus dieksplorasi. Diskusi terbuka antara berbagai pemangku kepentingan sangat penting untuk membentuk masa depan teknologi ini secara bertanggung jawab. Pendekatan bijak terhadap adopsi AI sangat dibutuhkan agar perusahaan dapat memahami dan mengoptimalkan penggunaan teknologi ini. Acara seperti World AI Show menjadi wadah penting untuk berdialog, berkolaborasi, dan membahas tata kelola, keberlanjutan, serta adopsi AI yang etis dan aman,” ujar Vince Henry Iswara, CEO DANA Indonesia.

    World AI Show akan memperdalam pemahaman terhadap inisiatif “Making Indonesia 4.0”, yang secara strategis menempatkan AI sebagai landasan utama agenda transformasi digital nasional. Kerangka ini sejalan dengan visi ekonomi Indonesia yang lebih luas untuk mencapai kedaulatan teknologi dan kepemimpinan global dalam ekonomi digital canggih.

    Fokus Strategis

    World AI Show Indonesia akan menghadirkan diskusi tingkat tinggi mengenai penerapan AI dalam berbagai bidang utama, antara lain:

    Transformasi Perusahaan Berbasis AI – Kerangka kerja canggih untuk kecerdasan organisasi dan keunggulan operasional
    Sistem Kecerdasan Pengambilan Keputusan – Metodologi untuk mengubah data kompleks menjadi intelijen bisnis yang dapat ditindaklanjuti
    Penerapan AI Skala Enterprise – Peta jalan implementasi solusi AI yang memberikan hasil nyata
    Regulasi dan Tata Kelola Etis – Menjaga keseimbangan antara inovasi dan penerapan yang bertanggung jawab
    Integrasi Teknologi Perkotaan – Strategi berbasis data untuk pengembangan infrastruktur kota
    Kolaborasi Manusia dan Mesin – Meningkatkan kapabilitas tenaga kerja dengan sistem kecerdasan tambahan
    Arsitektur Data Tingkat Lanjut – Membangun fondasi kokoh untuk penerapan komputasi kognitif

    Platform Keterlibatan Unggul

    Program yang dikurasi secara mendalam ini akan mencakup:

    Executive Roundtables – Diskusi tertutup untuk memfasilitasi kemitraan strategis dan peluang investasi
    Workshop Teknis – Sesi mendalam yang dipandu oleh pakar AI terkemuka
    Investment Showcases – Presentasi dari startup AI Indonesia terpilih yang menjanjikan
    Forum Kebijakan – Dialog langsung dengan pembuat kebijakan yang merancang tata kelola AI nasional
    Networking Terstruktur – Kesempatan membangun koneksi strategis dengan para pemimpin industri

    Nilai Strategis

    World AI Show menjadi peluang strategis bagi:

    Pemimpin Teknologi – Menampilkan solusi terdepan kepada audiens enterprise yang sangat responsif
    Penyedia Solusi – Memperkuat posisi dalam ekosistem AI Indonesia yang berkembang pesat
    Investor – Mengakses peluang investasi yang telah melalui kurasi dalam pasar teknologi yang dinamis
    Eksekutif Perusahaan – Mengevaluasi solusi AI dengan potensi dampak bisnis nyata
    Institusi Akademik – Menjalin kemitraan riset dengan pelaku industri yang mendorong inovasi terapan

    “Edisi kelima World AI Show di Indonesia sekaligus ke-45 secara global mencerminkan tidak hanya konsistensi, tetapi juga meningkatnya relevansi Indonesia dalam lanskap AI kawasan. Dengan adanya prioritas nasional seperti Stranas KA dan Visi Indonesia 2045 yang mendorong adopsi AI, acara ini menghadirkan kepemimpinan dan keahlian yang dibutuhkan untuk mewujudkan ambisi tersebut menjadi aksi nyata lintas sektor,” ungkap Mithun Shetty, Wakil Ketua Trescon.

    Dengan menghadirkan para pemimpin pemikiran global, praktisi industri, regulator, hingga pelaku inovasi lokal dalam satu wadah kolaboratif, World AI Show Indonesia 2025 diharapkan menjadi momentum strategis dalam mempercepat transformasi digital nasional. Melalui diskusi, showcase teknologi, dan kemitraan lintas sektor, acara ini bukan hanya menjadi panggung inovasi, tetapi juga katalis konkret bagi Indonesia dalam membangun ekosistem kecerdasan buatan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

  • TikTok Tokopedia Kembali Diterpa Kabar PHK

    TikTok Tokopedia Kembali Diterpa Kabar PHK

    Bisnis.com, JAKARTA — Raksasa e-commerce Indonesia, Shopee dan Tokopedia TikTok Shop dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah kondisi ekonomi yang makin sulit. Tahun lalu, kedua perusahaan juga melakukan perampingan.

    Sepanjang 2024 hingga Mei 2025, Tokopedia tercatat melakukan satu kali gelombang PHK besar-besaran, yaitu pada Juni 2024.

    PHK ini dilakukan setelah proses merger antara Tokopedia dan TikTok Shop, dengan jumlah karyawan yang terdampak sekitar 450 orang atau sekitar 9% dari total pegawai gabungan setelah merger.

    Kabar PHK kembali terdengar tahun ini. Di sosial media, ByteDance sebagai induk TikTok dikabarkan melakukan perampingan dengan memangkas 80% pekerja dan hanya menyisakan ratusan pegawai di Indonesia. Hingga berita ini diturunkan, pihak TikTok dan Tokopedia belum memberi tanggapan.

    Saat ini ByteDance menggenggam 75% saham Tokopedia. ByteDance menggelontorkan dana hingga US$1,5 miliar atau sekitar Rp23 triliun untuk mengakuisisi Tokopedia guna memaksimalkan bisnis e-commerce TikTok Shop di Indonesia.

    ByteDance banyak bergantung dari TikTok. Pada 2024, pendapatan ByteDance tumbuh 29% secara tahunan atau menyentuh US$155 miliar. Lebih dari seperempat pendapatan disumbangkan dari bisnis penjualan internasional TikTok Shop.

    Adapun Indonesia menjadi negara pengguna TikTok terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat. Pada Juli 2024, Statistamelaporkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 157,6 juta pengguna, melampaui Amerika Serikat yang memiliki 120,5 juta pengguna.  

    Shopee

    Sementara itu sepanjang 2024 hingga Mei 2025, Shopee melakukan dua kali relokasi operasional ke Yogyakarta, wilayah dengan upah minimum yang lebih murah dibandingkan dengan di Jakarta. Bagi karyawan yang tidak bersedia, Shopee menawarkan opsi putus hubungan kerja.

    Pertama terjadi pada 2024, dikabarkan lebih dari 1.000 karyawan Shopee terdampak kebijakan efisiensi dan relokasi tim operasional. Berikutnya terjadi pada April – Mei 2025.

    Kabar yang beredar Shopee melakukan PHK. Namun, manajemen Shopee menegaskan bahwa yang terjadi adalah relokasi sebagian tim operasional ke Jawa Tengah, bukan PHK massal, meski tetap diakui bahwa ribuan karyawan telah terdampak kebijakan efisiensi selama dua tahun terakhir.

    “Saat itu, ada proses relokasi tim untuk menciptakan proses kerja yang lebih efisien karena sebagian tim operasional sudah ditempatkan di daerah tersebut sejak tahun lalu,” kata Deputy Director of Public Affairs Shopee Radynal Nataprawira dalam keterangannya kepada Bisnis, Rabu (28/5/2025).

  • Bisakah Google Veo 3 Mengubah Akhir Serial Netflix Game of Thrones?

    Bisakah Google Veo 3 Mengubah Akhir Serial Netflix Game of Thrones?

    Bisnis.com, JAKARTA — Google Veo 3, teknologi AI generasi terbaru yang mampu menciptakan video dengan tingkat realisme luar biasa, menjadi sorotan.

    Melalui akses awal di platform Flow, Veo 3 menawarkan pengalaman baru dalam pembuatan konten digital, mulai dari audio yang tersinkronisasi, hingga visual yang sangat sulit dibedakan dari rekaman asli. 

    Salah satu fitur paling menarik dari Google Veo 3 adalah kemampuannya untuk mewujudkan imajinasi pengguna, termasuk menghadirkan kembali serial TV favorit dengan akhir cerita yang diinginkan. Bisakah mengubah akhir sebuah cerita? 

    Dilansir dari PC Guide, Jumat (30/5/2025) Ide ini sempat viral di Reddit, ketika seorang pengguna bernama Enceladuus membagikan gagasan untuk menghidupkan ulang serial-serial lawas yang berakhir mengecewakan atau bahkan tidak selesai, seperti Firefly dan Stargate Universe, menggunakan Veo 3.

    Dengan Veo 3, para penggemar kini bisa menciptakan versi alternatif dari episode atau akhir cerita yang sesuai dengan harapan mereka. Misalnya, serial populer seperti Game of Thrones yang menuai kritik tajam pada musim terakhirnya, kini dapat “diperbaiki” oleh komunitas penggemar dengan bantuan AI ini.

    Sebelumnya, video hasil AI mudah dikenali dari detail yang aneh, seperti jari tangan yang terdistorsi atau wajah yang tidak proporsional. Namun, Veo 3 berhasil melampaui batasan tersebut. 

    Salah satu contoh video yang dihasilkan, dengan prompt “A medium shot, historical adventure setting: Warm lamplight illuminates a cartographer in a cluttered study, poring over an ancient, sprawling map spread across a large table…” Veo 3 dapat menghasilkan karya Veo 3 yang sangat realistis, hingga sulit dibedakan dari video sungguhan.

    Konten Kreator Terancam

    Meskipun teknologi ini membuka peluang besar bagi para kreator dan penggemar, tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan dampaknya terhadap profesi kreatif. Banyak pembuat konten dan profesional merasa terancam, karena AI seperti Veo 3 dapat menggantikan peran mereka dalam produksi video. 

    Sementara itu, Google menyadari potensi penyalahgunaan teknologi ini. Untuk itu, mereka menegaskan komitmen pada keamanan dan tanggung jawab dalam pengembangan Veo 3. 

    Setiap video yang dihasilkan akan diberi watermark digital menggunakan teknologi SynthID, sehingga mudah diidentifikasi sebagai konten buatan AI. Selain itu, Google melakukan evaluasi keamanan secara ketat, termasuk uji coba oleh tim internal dan pakar eksternal, serta pemeriksaan untuk mencegah pelanggaran privasi, hak cipta, dan bias.

    “Kami membangun Veo dengan tanggung jawab dan keselamatan sebagai prioritas utama. Kami memblokir permintaan dan hasil yang berbahaya, menguji fitur baru sebelum dirilis, dan melakukan evaluasi keamanan secara menyeluruh,” jelas Google dalam pernyataannya.

    Dengan kehadiran Veo 3, batas antara karya manusia dan AI semakin tipis. Teknologi ini memberi kesempatan bagi komunitas untuk berkreasi, memperbaiki, atau bahkan menghidupkan kembali karya-karya yang dicintai. Namun, di sisi lain, pengawasan dan regulasi tetap menjadi kunci agar inovasi ini tidak disalahgunakan.